Featured Image

ToshiOsa V1 C5

Metoya Januari 20, 2026 Komentar

 

Chapter 5: Segitiga Setan...!? ~Kembang Api dan Jiwaku yang Memudar~

 

Saat akhir bulan Agustus mulai terasa──

 

Aku berencana pergi ke festival kembang api bersama kakak-beradik teman masa kecilku... begitulah rencananya.

 

Tapi tentu saja, cerita ini tidak akan berjalan damai begitu saja...

 

──Beberapa hari yang lalu.

 

Belakangan ini, seolah sudah menjadi rutinitas harian, aku sering numpang makan malam di rumah kakak-beradik itu. Hari itu pun aku berjalan menuju apartemen mereka seperti biasa.

 

Di tengah jalan, aku melihat sosok yang sedang memeluk eco bag yang terlihat berat dari belakang... itu kan.

 

“Kak Momo!”

 

“Shin-chan!”

 

Benar, sang kakak, orang yang aku kagumi. Sosoknya yang menoleh dan tersenyum padaku itu terlalu imut, rasanya aku bisa mati di tempat.

 

“Habis belanja ya? Sini, aku bawakan barangnya.”

 

Tanpa menunggu jawaban Kak Momo, aku meraih eco bag dari tangannya.

 

Berat banget!

 

(G-gila berat banget... kok bisa dia bawa barang seberat ini dengan santai...? Di lengan sekecil itu, dari mana datangnya kekuatan itu...)

 

“Fufufu, makasih ya Shin-chan. Kamu kuat banget ya

 

Tidak, aku tidak akan bilang "Kakak yang lebih kuat"... nggak mungkin lah.

 

“Jangan-jangan, hari ini menunya kari ya?”

 

“Iya bener, kok tahu?

 

Isi eco bag-nya adalah kentang, bawang bombai, dan bumbu kari dalam jumlah yang tidak wajar. Pasti siapa pun, bukan cuma aku, bakal tahu, tapi di sini mari kita biarkan dia memujiku.

 

Sejak saat itu, aku sudah berkali-kali makan masakan Kak Momo, dan bisa dibilang perutku sudah benar-benar ditaklukkannya.

 

Masakan andalannya adalah masakan Jepang, tapi apa pun yang dia buat rasanya enak. Di antara semua itu, favoritku tetap kari. Yah, kari itu menu standar yang rasanya tidak ada cowok yang tidak suka sih... tapi kenapa kari jadi yang paling kusuka............ kalau kalian melihat insiden yang akan terjadi mulai sekarang, kalian pasti paham...

 

“Ngomong-ngomong... orang tua Shin-chan sehat? Sudah lama sekali nggak ketemu mereka...”

 

“Iya! Sehat banget kok! Kapan-kapan mainlah ke rumahku. Kamarku berantakan sih...”

 

“Fufufu... Aku penasaran banget lho sama kamarnya Shin-chan

 

“Cuma ada game sama komik doang sih... hehe.”

 

“Ah! Aku pernah denger dari Miu kayaknya! Kalau nggak salah... game simulasi cinta apa gitu──”

 

“Aaaaaaah!! Apaan tuh! Aku nggak ngerti ngomongin apaan!!”

 

Anak itu... dia cerita semuanya ke Kak Momo ya...!

 

“Fufufu Emangnya game yang seliar itu ya?

 

“Nggak kok...! G, game biasa aja kok.”

 

“Gitu ya Kalau gitu kapan-kapan, aku numpang main ah

 

Uugh... dasar anak itu... aku jadi harus sebisa mungkin mencegah Kak Momo datang ke rumah kan...!

 

Sambil mengobrol begitu, kami sampai di apartemen.

 

“Aku pulang.”

 

“Aku pulang, eh bukan, permisi!”

 

Rumah kakak-beradik yang sudah sering kudatangi ini, sekarang rasanya sudah familiar.

 

Waktu baru bertemu kembali, karena sudah lama tidak tatap muka dengan Kak Momo, aku sempat tegang untuk beberapa saat, tapi sekarang aku sudah bisa jauh lebih santai.

 

“Fufu, bilang "aku pulang" juga boleh kok~. Kalau Shin-chan yang bilang

 

(Eh? Miu nggak kelihatan di mana-mana. Biasanya kalau aku ngobrol sama Kak Momo, dia langsung nyamber ikut nimbrung...)

 

“Hari ini Miu nggak ada?”

 

“Aah! Miu-chan bilang mau balikin komik yang dipinjam dari temannya, barusan banget dia pergi~ Katanya mau ngobrol sama temannya dulu jadi mungkin agak telat pulangnya!”

 

“Hee... (Dia baca komik ternyata...)”

 

◆◇◆

 

Padahal aku sudah niat banget mau bantu, tapi Kak Momo bilang, “Udah nggak apa-apa, Shin-chan kerjain PR musim panas aja~”, jadi dengan terpaksa aku menggelar PR di ruang tamu sambil sesekali buka YouTube sembari menunggu, dan kemudian...

 

Kak Momo berlari keluar ke ruang tamu dengan celemek pink-nya sambil hampir menangis.

 

Mungkin dia habis bertarung di dapur, wajah dan lehernya sedikit berkeringat.

 

“Ara... bikin kebanyakan lagi ya?”

 

Duh... Kak Momo menunjukkan ekspresi menyesal atas kegagalannya sendiri.

 

Benar──hari ini adalah Hari Kari.

 

Hari Kari, sesuai namanya, adalah hari di mana kari disajikan untuk makan malam. Tapi... kakak perempuan yang satu ini. Kalau Kak Momo bikin kari, entah kenapa dia selalu membuatnya dalam jumlah yang terlalu banyak.

 

Menurut pengakuannya, awalnya dia mulai masak pakai panci ukuran biasa, tapi setiap kali mencicipi dia tambahkan bumbu, lalu tambahkan air, lalu tambahkan bumbu lagi. Selagi mengulang proses ini, pancinya hampir meluap, jadi dengan terpaksa dia pindahkan karinya ke panci ukuran besar, tapi dia kembali terjebak dalam dilema mencicipi rasa. Dan──saat dia sadar, kari buatan tangan dalam jumlah yang tak masuk akal pun tercipta.

 

Waktu sebelumnya, kira-kira jadi sekitar porsi dua puluh orang...

 

──Akan tetapi, bagian itulah yang membuat Kak Momo sangat imut.

 

Walau berpenampilan cantik dan menarik, kakak perempuan yang sekilas terlihat sempurna ini kadang menunjukkan sisi cerobohnya (ponkotsu), dan inilah yang menggelitik hati laki-laki.

 

Ketidaksengajaannya itu justru membuatnya makin memikat.

 

"Sini, sini," tanganku ditarik dan dibawanya ke dapur.

 

Aroma rempah kari menggelitik hidung, seketika tombol laparku menyala, dan nafsu makan meluap sekaligus. Tidak sampai porsi dua puluh orang seperti sebelumnya, tapi dilihat sekilas saja sepertinya ada porsi sepuluh orang.

 

“Lihat... padahal hari ini aku sudah hati-hati... tapi kebanyakan lagi...!”

 

Dengan mata berkaca-kaca, Kak Momo menatapku dengan ekspresi seolah minta tolong.

 

(Imutnya... kalau dimintai tolong dengan sosok begini... rasanya aku ingin meledakkan akal sehat dan perutku sekalian!! Yosh!)

 

“Serahkan padaku. Sebelum Miu pulang, akan kuhabiskan semuanya. Biarpun tubuh ini hancur karenanya────”

 

◆◇◆

 

Begitulah, semangatku cuma bertahan di awal. Saat masuk piring keempat... akhirnya aku mencapai batas.

 

“Ka, Kak Momo... ini batasnya... udah nggak kuat...”

 

“Fufufu Makan tiga piring itu kebanyakan lho~? Shin-chan beneran suka banget kari ya ternyata

 

(──!? Padahal ini terjadi karena Kakak yang masak kebanyakan lho!?)

 

Tentu saja aku tidak bisa bilang begitu... aku menyerah dengan patuh.

 

“Ah! Iya!”

 

“Hm? Ada apa lagi?”

 

“Besok kan, ada festival kembang api! Kalau mau... gimana kalau kita pergi bareng...”

 

“Festival kembang api ya... Boleh juga! Tapi apa nggak apa-apa sama aku? Teman perginya.”

 

“Tentu dong Bisa nonton kembang api sama Shin-chan pasti bakal jadi kenangan musim panas yang indah lho Jadi, mau temenin aku kan...?”

 

“Dengan senang hati! Anoo, pakaiannya gimana?”

 

“Hmm gimana ya, mumpung ada kesempatan mungkin aku pakai yukata kali ya...? Karena mendadak, Shin-chan pakai baju bebas aja nggak apa-apa kok!”

 

“Ah enggak, aku juga punya yukata yang nganggur di lemari...! Kalau Kak Momo pakai yukata, aku juga pakai deh...”

 

“Eh beneran!? Berarti jadi kencan yukata dong!? Waah Nggak sabar deh

 

“Pe, pergi berdua saja ke suatu tempat begini, baru pertama kali ya...?”

 

“Iya... Apalagi kencan pakai yukata... jangan-jangan nanti dikira pasangan beneran lho...?

 

“Pasangan............ pasangan!?”

 

“Bercanda kok, bercanda Nggak usah kaget gitu dong~”

 

Kak Momo menggembungkan pipinya (puku) lalu menusuk-nusuk lenganku.

 

Apa-apaan kemesraan ini... nggak tahan woy.

 

Apalagi besok mungkin aku bisa mengharapkan "sesuatu" yang lebih dari ini...

 

Kencan yukata berdua saja...

 

(Harapan dan bagian diriku yang lain mulai mengembang niiiiihhh!!)

 

◆◇◆

 

────Harusnya begitu di hari H.

 

“Miu. Aku tanya terus terang. Kenapa lu ada di sini juga?”

 

Di sana, entah dari mana dia mencium rencananya, Miu sudah siap dengan yukata lengkap dan tatanan rambut sempurna, berdiri di tempat janjian bersama Kak Momo yang memasang wajah agak merasa bersalah.

 

“Haaah~? Tanya kenapa aku ada di sini~? Aku yang harusnya nanya tahu!? Kalian mau kabur berdua lagi kan? Lu juga seenaknya pakai yukata segala lagi~!”

 

“Y, yah Miu-chan...! Miu-chan kan kemarin bilangnya mau pergi ke festival sama teman? Makanya itu lho..., soal aku ngajak Shin-chan kan kemarin sudah kubilang...”

 

“Kakak diem dulu.”

 

“Ah...”

 

“Shintarou ngeselin banget sih~!”

 

(Nggak, nggak, kenapa jadi aku yang salah woy...!! Nggak adil banget!! ...Itu berarti, kencan kembang api berdua sama Kak Momo... lagi-lagi jadi bertiga seperti biasa... Yah mau gimana lagi. Sementara ini, gimana caranya mengatasi situasi ini──)

 

“Ngomong-ngomong, Miu! Yukata pink itu cocok banget sama lu! Rambut lu juga dikepang dan disanggul beda dari biasanya, kelihatan fresh dan imut banget tahu!! Terus, terus, makeup lu hari ini... disesuaikan sama yukata ya? Kelihatan natural dan seiso, aku suka yang kayak gini!”

 

“Eh... b, begitu? Masa sih...? Kalau dipuji segitu aku jadi bingung. Malu tahu...”

 

Padahal tadi mukanya merah padam karena marah-marah, sekejap saja mood-nya langsung balik.

 

Miu menangkupkan kedua tangan di pipinya, malu-malu sambil menggeliat.

 

Miu yang jujur, polos, dan meski terdengar agak kasar, sangat simpel ini, cara memperbaiki mood-nya itu... sudah tertanam sampai ke level selku.

 

Caranya adalah memujinya habis-habisan sampai berlebihan.

 

Melihat interaksi kami, Kak Momo tersenyum lebar sambil mengacungkan jempol ke arahku seolah berkata "Hebat Shin-chan!".

 

Sementara itu, stasiun sudah dipenuhi orang-orang ber-yukata yang sepertinya juga mau ke festival kembang api.

 

“Duh, kalau nggak cepet-cepet nanti ketinggalan kereta lho! Habis ini bakal makin rame, bukan waktunya ribut di sini tahu~! (nangis)”

 

“Nggak, nggak, kan lu yang mulai dramanya!!”

 

“Geh... Shintarou belakangan ini makin mirip Morishita-kun ya...”

 

“Hah? Maksudnya apa tuh.”

 

Kami berhasil naik kereta di tengah kerumunan orang-orang ber-yukata yang berjalan berbondong-bondong, dan setelah terguncang selama sekitar 20 menit, kami sampai di stasiun tujuan.

 

Di luar pintu peron, keramaian jauh lebih padat dari sebelumnya.

 

Sejauh mata memandang, isinya orang semua.

 

"JANGAN BERHENTI! BERBAHAYA JIKA BERHENTI, HARAP TERUS MAJU KE DEPAN!"

 

Petugas keamanan berteriak mengarahkan massa.

 

Dengan tongkat pemandu merah di tangan, sambil bercucuran keringat, mereka berusaha keras menjaga keamanan di tengah lautan manusia.

 

“Kalau terpisah di tempat kayak gini bakal repot... Oke, aku punya ide bagus.”

 

Aku masuk menyelip di antara kakak-beradik itu, lalu menyodorkan kedua lenganku ke depan mereka masing-masing.

 

“Nih, pegang lenganku. Lebih baik daripada terpisah kan.”

 

Miu dengan wajah kaget bilang “Eh, serius?” sambil memegang lengan baju kananku pelan-pelan.

 

Kak Momo seolah berkata "Sudah kuduga" sambil memeluk erat lengan kiriku dengan kuat.

 

Adik yang pemalu, dan kakak yang agresif. Di sini pun perbedaan sifat kakak-beradik itu terlihat jelas dan menarik.

 

“Hei~ lu tuh ya~, meluk dua cewek cantik di kedua tangan mau ngapain coba~? Dilihatin orang tahu~”

 

“Fufufu Nggak ada yang lihat kok, Miu-chan Mumpung ada kesempatan, aku mau manja-manja sama kebaikan Shin-chan ah~




──Mugyuuuu♡♡♡

 

(Uwoooo! Aku bisa merasakan kehangatan lembut Kak Momo di lenganku...!)

 

“Sebentar dong~! Kakak curang banget sih! Eh, curang di sini maksudnya itu──bukan dalam artian aneh lho... hmph”

 

──Gyuuut♡♡

 

(──!? Apa!? Miu!? Kamu juga...!?)

 

Meskipun aku menyodorkan lengan agar kami tidak terpisah di tengah keramaian, bagaimana pemandangan ini terlihat di mata orang lain ya?

 

Tiga bersaudara... agak maksa sih. Teman...? Kalaupun iya, teman macam apa ini...

 

Yah, bagaimanapun juga, diapit oleh gadis-gadis cantik tidak terasa buruk.

 

Justru situasi ini bisa dibilang sebagai hadiah.

 

Kami terus berjalan membelah lautan manusia untuk beberapa saat, hingga akhirnya pemandangan terbuka lebar.

 

Lampion warna-warni merah dan kuning menjadi penanda, dan seolah dituntun olehnya, kami melangkah masuk ke jalanan yang penuh dengan kedai kaki lima (yatai).

 

Hawa panas dari kerumunan orang bercampur dengan uap dari pelat besi panggangan, membuatku merasakan udara hangat yang lembap di kulit.

 

Aroma saus yakisoba yang dipanggang gurih, bau manis kue castella, dan crepe.

 

Suara tawa yang ramai dan teriakan lantang "Silakan mampir!" dari para penjual──── nuansa festival ini... rasanya seperti musim panas telah tiba, aku cukup menyukainya.

 

“Ah! Ada permen apel (ringo ame)!”

 

“Waah Permen stroberi juga ada ya

 

“Aku mau makan castella sama crepe juga!”

 

“Iya iya Es serut juga harus makan ya~

 

(Baru sampai sudah heboh ngomongin makanan... dasar cewek ya, yang keluar cuma nama-nama makanan manis, imut banget. Padahal aku pengen takoyaki atau sate daging... yah, simpan dulu deh cerita itu──)

 

“A, anu──. Karena kita sudah sampai di lokasi, bagaimana kalau pegangan tangannya dilepas dulu............ a, agak panas soalnya...”

 

Sambil menunjukkan kedua lenganku yang digenggam erat, aku bertanya pada mereka berdua.

 

Arus manusia juga sudah mulai tenang, sepertinya tidak perlu bergandengan lagi sampai begini.

 

“Ah, nggak sadar, maaf.”

 

Setelah berkata begitu, Miu memasang wajah kaget dan malu, lalu buru-buru menjauh dariku.

 

Kak Momo masih tetap melilit di lenganku tanpa berubah.

 

“Kakak juga lepasin dong. Shintarou kelihatan kepanasan tuh.”

 

Melihat Kak Momo yang tak kunjung melepaskan, Miu yang tak tahan melihatnya langsung menegur.

 

“Cih. Padahal aku pengen nempel terus lho~”

 

Kak Momo terlihat sedikit ngambek.

 

(Yah, jujur saja aku sih nggak masalah mau dilepas atau nggak... haha...)

 

“Ngomong-ngomong, mau makan apa? Mumpung di sini aku mau makan jajanan khas festival~!”

 

“Gimana ya... aku beli crepe aja kali ya, agak lapar nih.”

 

“Kalau gitu aku mau beli permen stroberi di sana! Kakak gimana?”

 

“Hmm, aku juga sama kayak Shin-chan deh, beli crepe aja Miu-chan bisa beli sendiri kan??”

 

“Bisa dong! Kan bukan anak kecil lagi, gampang itu mah Kalau gitu nanti kumpul di sini ya kalau sudah beli~!”

 

Miu berjalan dengan semangat menuju kedai permen apel.

 

Aku dan Kak Momo mengantre di kedai crepe.

 

Sepertinya kedai ini populer, sudah ada sekitar sepuluh orang yang mengantre.

 

“Shin-chan itu, tiap tahun datang ke festival kembang api?”

 

“Ah, lumayan sering sih. Tiap tahun sama teman-teman.”

 

“Hee~... Pernah datang sama pacar...?”

 

“Wah, nggak pernah. Malu sih bilangnya... tapi datang sama perempuan mungkin baru hari ini.”

 

“Gitu yaa Kalau gitu aku jadi makin senang bisa datang bareng kamu Ayo kita buat kenangan musim panas sebelum pulang ya

 

“...Iya!”

 

Tak terasa, giliran kami pun tiba.

 

Aneh rasanya, sepanjang apa pun waktu tunggunya, rasanya jadi sangat berbeda tergantung dengan siapa kita menghabiskannya.

 

Saat kami berhasil mendapatkan crepe, Miu pun kembali di waktu yang pas.

 

“Hei, lihat deh~ Permen stroberi itu namanya imut, bentuknya juga imut kan~ Aku suka banget lihat permukaan permen yang mengkilap begini Aaaah rasanya jadi beneran suasana festival banget nih~ Semangatku naik~

 

Miu memamerkan permen stroberinya pada kami dengan senang.

 

Sisi ininya terlihat polos dan imut. Padahal biasanya image-nya sombong dan nyebelin...

 

“Lho? Miu-chan...?”

 

Tiba-tiba Miu disapa oleh suara perempuan yang rasanya pernah kudengar.

 

Apa ya perasaan ini... suara tinggi dan manis yang seolah keluar dari anime...

 

“Eh! Sana kan~! Ngapain sendirian di sini~!”

 

(Tuh kan...!! Suara ini, Tachibana-san...)

 

“Miu-chan, dan Kakaknya Miu-chan...!! Sa, salam kenal... nama saya Sana. Saya sudah sering dengar cerita tentang Kakak dari Miu-chan sebelumnya.... Tidak menyangka bisa bertemu di tempat seperti ini!”

 

“Waa~ Sana-chan salam kenal ya! Terima kasih selalu berteman baik dengan Miu ya... Seperti ceritanya, kamu imut banget sampai aku kaget lho

 

“Iya kan~? Sana itu beneran imut tahu Sana juga pakai yukata hari ini~! Yukata biru pastel, imut banget!”

 

“Hehe... Miu-chan dan Kakak juga, sangat cantik.”

 

“Fufu Sana-chan pinter banget mujinya sih~

 

Yah begitulah... pertemuan para gadis dimulai dengan mengabaikanku, maaf banget nih menyela tapi──

 

“Anoo, kalian nggak lupa eksistensiku kan??”

 

Jiiiii........ (menatap)

 

(A, apa tatapan ini...)

 

“Ara, Miyata-kun. Kamu bareng mereka ternyata.”

 

(Hah!? Serius!? Jarak sedekat ini aku bahkan nggak masuk ke pandangan mata Tachibana-san...!?)

 

“Eh? Eeeto... yah, sebenarnya aku sudah ada di sini dari awal sih~?”

 

“Terus, Sana. Kenapa kamu sendirian?”

 

Seolah memotong suaraku, Miu bertanya pada Tachibana-san.

 

(Benar juga, pakai yukata lengkap begini, mustahil kalau dia datang sendirian...)

 

“Tidak... tadi saya bersama sepupu-sepupu saya, tapi saat sadar kami sudah terpisah... Saya sudah coba telepon dari tadi, tapi sepertinya baterai di sana habis...”

 

“Kenapa bisa begitu!! Sana yang seimut ini jalan sendirian di tempat begini bahaya tahu! Kalau digoda cowok gimana!”

 

“Bener tuh... cowok buaya darat banyak berkeliaran soalnya...”

 

“Maksudnya orang seperti Miyata-kun?”

 

“Woi. Beda dong! Aku kan mengkhawatirkanmu tahu~! Sialan!!”

 

“Hmm~ kalau gitu aku temenin Sana deh! Kita cari sepupumu yuk! Boleh kan? Kakak gimana?”

 

“Aku sih nggak masalah...”

 

“Kalau gitu oke! Kalau Sana sudah ketemu sama sepupunya nanti aku balik lagi ke sini~! Nanti aku telepon ya!”

 

“Miu-chan... apa tidak apa-apa? Bersama saya... padahal ini festival yang ditunggu-tunggu...”

 

“Ngomong apa sih~! Jelas nggak apa-apa dong~? Ayo Sana~! Sekalian kita cari sambil keliling kedai makanan

 

“Uuh............ baik”

 

Dari pertemuan tak sengaja dengan Tachibana-san, pembicaraan bergulir cepat, dan bagaikan badai yang berlalu, kedua gadis itu menghilang ke dalam kerumunan festival.

 

“Fuh... benar-benar seperti badai... Dan begitulah... jadinya kita berduaan deh.”

 

“Fufu Kamu nggak suka? Berduaan sama aku~”

 

“Mana mungkin nggak suka, kan awalnya memang rencananya pergi ke festival kembang api berdua.”

 

“Iya juga sih Rasanya tadi agak rusuh ya, kita cari tempat yang tenang buat santai yuk.”

 

“Boleh juga, es krim di crepe-nya juga sebentar lagi leleh...”

 

Bagaimanapun juga, rencana menghabiskan festival kembang api berdua kembali seperti semula, jadi mari kita nikmati saja...

 

Kami menenangkan diri dan mencari tempat untuk duduk berdua.

 

Agak jauh dari sana ada tepian sungai, meski sedikit miring, kami menemukan ruang berumput yang terbuka dan bisa diduduki. Di sana sudah mulai ramai dengan keluarga dan pasangan yang duduk-duduk.

 

Matahari mulai terbenam, dan seluruh area diwarnai warna jingga kemerahan.

 

Tepian sungai di kala senja rasanya syahdu (emo) banget ya. Pantas saja para pasangan berkumpul di sini...

 

(Tapi... kembang apinya masih agak lama lagi kan ya...? Ngobrolin apa ya sampai saat itu.)

 

“Ah iya, Shin-chan ingat nggak hal-hal waktu kita kecil? Misalnya, kita main apa~, atau ngobrolin apa~ gitu.”

 

“Ah, hm? Ingat samar-samar sih.”

 

“Kalau diingat-ingat banget nggak ingat ya...?”

 

“Nggak, nggak gitu juga kok. Ngomong-ngomong... aku belum pernah bilang ini, tapi kalau dipikir sekarang, aku ingat jelas soal Kak Momo lho. Waktu hari reuni itu juga, padahal sudah lama banget nggak ketemu, tapi aku langsung sadar "Ah, orang ini Kak Momo".”

 

“Aku juga langsung tahu lho Yah walaupun, aku sering dengar cerita tentang Shin-chan dari Miu sih...”

 

“Anak itu, nggak ngomong yang aneh-aneh kan...!?”

 

“Nggak kok Yah, paling cuma dibilangin "hati-hati dia mesum", gitu aja sih Fufu.”

 

“Tuh kan dibilangin yang aneh-aneh~!”

 

Sudah kuduga sih... tapi dibilang mesum itu rasanya nggak terima deh.

 

Anak itu... seenaknya ngomong sembarangan pas orangnya nggak ada...

 

“Ngomong-ngomong... kalau nggak keberatan aku tanya, Kak Momo sekarang sendirian? Maksudnya──... punya pacar nggak?”

 

(Tunggu, bisa-bisanya aku nanya begitu tiba-tiba!! Tapi yah, ini hal yang bikin penasaran dari dulu sih... kesempatan nanya begini jarang ada. Tapi apa terlalu agresif ya...?)

 

“Hm? Sekarang nggak ada lho? Setahun ini nggak ada kayaknya. Kalau ada, aku nggak mungkin menghabiskan waktu berdua sama Shin-chan kayak gini dong.”

 

“Be, benar juga... Tapi, kalau bilangnya "sekarang", berarti dulu punya pacar kan?”

 

(Aah... saking semangatnya aku malah ngomong aneh. Sial! Aku yang sekarang pasti kelihatan kayak cowok ribet...)

 

“Fufu Kamu sepenasaran itu sama masa laluku?”

 

“Nggak kok! Cuma nanya iseng aja, lagian aku bisa bayangin lah kalau Kakak punya pacar, itu hal yang wajar! Justru aneh kalau nggak punya! Nggak mungkin ada cowok di dunia ini yang membiarkan wanita secantik dan sebaik ini sendirian... eh...”

 

“Apaan tuh Kamu muji aku banget nih~ Jadi seneng deh

 

“Bukan, ini fakta kok!!”

 

Tipe kejadian di mana ngomong sendiri, terus malu sendiri belakangan.

 

Rasanya pengen menghilang saja dari sini.

 

“Shin-chan sendiri, punya pacar?”

 

“Wah, aku nggak punya! Lagian kalau aku punya pacar, nggak boleh dong datang ke festival kembang api sama cewek lain. Cowok yang nggak bisa menghargai satu pacarnya itu nggak bisa dimaafkan.”

 

“Humm............ kalau soal itu kamu cukup serius ya...”

 

“I, itu hal yang wajar!!”

 

“Aku suka lho, orang yang bisa menghargai dan memberikan banyak cinta seperti itu

 

“Benarkah? Berarti, aku sudah sedikit mendekati tipe idaman Kak Momo dong...?”

 

“Siaapaa tahu~, gimana ya~?♡♡

 

Sambil berkata begitu, Kak Momo menusuk-nusuk pipiku.

 

Apa-apaan sifat genit (azatoi) ini... terlalu imut woy.

 

Aku bisa merasakan ketenangan wanita yang lebih tua, tapi pada dasarnya aura genit/manja orang ini tidak berubah dari dulu.

 

Pasti dia cuma menggodaku, tapi bukannya merasa risih──aku malah merasa nyaman dan jadi ketagihan.

 

“Ah... saking asyiknya ngobrol jadi gelap ya.”

 

“Benar juga, sebentar lagi kembang apinya mulai.”

 

Tanpa sadar di sekeliling kami sudah penuh dengan orang-orang yang menunggu kembang api.

 

Karena terlalu asyik ngobrol dengan Kak Momo, aku sama sekali tidak sadar... matahari sudah tenggelam sepenuhnya, dan lampu-lampu kedai menerangi sekitarnya dengan hangat.

 

Suasana syahdu tadi berubah, kini di dalam kegelapan yang pas, aku merasa seolah ada ruang khusus hanya untuk kami berdua di sana.

 

"Mulai sekarang, Drone Show akan dimulai."

 

“Eh? Ada drone show juga ternyata...!”

 

Kak Momo berseru senang. Matanya berbinar-binar sampai terlihat jelas di dalam kegelapan, membuatku yang ada di sebelahnya jadi sedikit berdebar.

 

Di langit malam musim panas, cahaya kecil warna-warni terbang ke atas.

 

──Sepertinya tema kali ini adalah "Cinta yang Bersemi Samar".

 

Diiringi BGM yang agak sedih dan menyentuh, pertunjukan drone dimulai.

 

Awalnya kupikir cuma cahaya yang terbang di udara, tapi ternyata ada alur ceritanya, membuatku tanpa sadar terpaku menontonnya.

 

“Aku baru pertama kali lihat yang begini, indah banget ya... Apalagi, bisa menciptakan ruang seindah ini dengan latar belakang langit itu hebat banget...”

 

“Indah ya... banget. (Padahal yang kulihat cuma Kak Momo sih...)”

 

Akhirnya BGM menuju klimaks dan menciptakan suasana puncak, dua hati kecil bergoyang-goyang perlahan saling mendekat, dan akhirnya menyatu menjadi satu.

 

(Entah kenapa, suasananya jadi bagus banget nih... eh... woi pasangan itu!)

 

Pasangan di depan kami sedang berciuman panas.

 

Pasti mereka orang-orang yang terbawa suasana ini... seolah berada di dunia lain.

 

Sepertinya mereka cuma melihat satu sama lain. Biarpun aku nggak mau lihat, kalau dilakukan seterang-terangan ini di depan umum pasti kelihatan juga...

 

“Rasanya... kita yang jadi malu ya...

 

Kak Momo sepertinya juga sadar, sambil tertawa kecil dia berbisik lembut di telingaku.

 

(Dekat, dekat, dekat──!! Aku lebih malu gara-gara bisikan itu daripada lihat mereka!! Suasana apa ini... kepalaku jadi ikutan melayang rasanya...)

 

“Ki, kita pura-pura nggak lihat aja...”

 

“Yah mau gimana lagi ya~, suasananya romantis begini sih~

 

Akhirnya pertunjukan drone selesai, dan sekeliling menjadi hening sejenak.

 

Bersamaan dengan BGM ceria yang mulai mengalun, bunga besar mekar di langit malam.

 

────Duarr! Duar duarr!

 

“......!”

 

Kembang api yang kulihat lagi setelah satu tahun.

 

Di saat orang-orang di sekitar terpaku menatap langit──── aku justru tidak bisa melepaskan pandangan dari Kak Momo.

 

Setiap kali kembang api meluncur, profil wajah samping Kak Momo yang diterangi cahaya terlihat begitu cantik, begitu manis... aku terpesona melihat sosoknya.

 

(Terlalu cantik...)

 

“Hei~, kamu lihat kembang apinya nggak~?”

 

Tiba-tiba ditegur, aku tersadar kembali.

 

“Li, lihat kok! Aku lihat beneran... a, anoo! Ngomong-ngomong tadi aku nggak sempat bilang, tapi──”

 

“Hm~? Apaa~?”

 

Kak Momo memiringkan kepala menatapku.

 

Semuanya terlihat terlalu imut...

 

“Harusnya aku bilang ini pas ketemu di stasiun, tapi karena Miu marah-marah aku jadi kehilangan momen buat bilang... anu... Kak Momo dalam balutan yukata, beneran cantik banget! Biasanya Kakak terlihat dewasa dan keren, tapi hari ini rambutnya diikat... auranya jadi beda... pokoknya imut banget deh!”

 

──Benar, hari ini rambut bob hitam Kak Momo diikat ke belakang, dan dirapikan dengan hiasan rambut putih berbentuk bunga. Yukata putih dengan motif bunga biru muda yang mekar lembut. Tidak terlihat mencolok, tapi memberikan kesan wanita dewasa yang bersih dan anggun.

 

“Tiba-tiba muji begitu... Kalau dipuji blak-blakan begitu... rasanya mukaku jadi panas nih... uuh.”

 

Sambil tersenyum "hehe", Kak Momo menunduk sambil mengipasi wajahnya yang memerah dengan tangan.

 

Jarang-jarang aku melihat dia malu begini.

 

Kami menatap langit, dan terdiam sejenak.

 

“............Apa musim panas tahun depan, kita bisa datang bareng lagi ya?”

 

“──Eh?”

 

Kata-kata itu bergema dalam di hatiku.

 

Bahkan suara ledakan kembang api pun kalah, kepalaku penuh dengan kata-kata itu.

 

“Kalau Kak Momo menginginkannya, tahun depan, dan musim panas berikutnya lagi... kita pasti bakal bersama.”

 

──Ini juga suara hatiku yang jujur.

 

Sebenarnya, kami tidak pacaran atau semacamnya... tapi bersama Kak Momo rasanya tenang, dan ada perasaan ingin membangun hubungan yang lebih jauh ke depan...

 

Mungkin ini bisa disebut cinta.

 

Tapi untuk meyakininya, rasanya perasaanku masih terlalu mengambang.

 

Masih dengan wajah memerah, Kak Momo menggeser duduknya perlahan mendekat ke arahku.




"Hei, Shin-chan... kamu pernah... ciuman nggak?"

 

"Ciuman...!? Ah, enggak... aku belum... pernah."

 

Di depan Miu aku sok kuat dan bilang kalau ciuman sih pernah, tapi... kenyataannya, jangankan ciuman, pegangan tangan saja belum pernah.

 

Sudah kelas 3 SMA tapi belum pernah menyentuh perempuan dengan benar... mana mungkin aku bisa bilang begitu.

 

Tapi, entah kenapa di depan Kak Momo aku tidak ingin berbohong, dan malah bisa mengatakan yang sebenarnya.

 

Apakah ini yang dinamakan daya tarik kedewasaan (honyou ryoku)?

 

"Kalau gitu, Shin-chan mau coba ciuman?"

 

"Eh, sama Kak Momo?"

 

──Kak Momo mengangguk pelan.

 

"............Ya, eh anu, ya...?"

 

"Mau coba?"

 

(......!? Mau coba katanya!?)

 

Kak Momo mendekatkan wajahnya seolah ingin mengintip wajahku, dengan ekspresi yang seakan berkata dia siap kapan saja. Rambut lembutnya yang tertiup angin membelai pipiku. Rasanya geli dan membuatku gelisah.

 

Aku tidak melawan, mencoba menyerahkan diri pada arus situasi saat ini.

 

Perlahan jarak kami menipis, aku bisa merasakan hembusan napas Kak Momo di ujung hidungku.

 

Aroma yang sangat manis, mungkin karena crepe stroberi yang baru saja dimakannya.

 

Ditanya "Boleh kan?" oleh Kak Momo, aku mengangguk pelan.

 

...Dalam jarak yang antara bersentuhan dan tidak...

 

──Cup

 

(......Hm!?)

 

"Bercanda kok Kita belum punya hubungan seperti itu kan?"

 

Kak Momo menggodaku dengan wajah yang sedikit jahil.

 

Tempat yang dicium adalah... benar──── pipiku.

 

(A-apa-apaan sikap yang bikin salah paham ini...!! Tapi jarak sedekat ini... ini sih sudah sama saja kayak ciuman beneran kan...? Enggak... karena bibir tidak bersentuhan... tidak bisa disebut ciuman ya. Tapi tetap saja, gara-gara interaksi dengan Kak Momo ini aku jadi uring-uringan dan rasanya mau meledak. Kepalaku jadi pusing. Gawat. Begini saja tidak cukup... tapi melakukan hal seperti ini padahal tidak pacaran itu...)

 

"Bibir Kak Momo, rasanya lembut banget. Terbaik. Aku tidak menyesal."

 

"Hah...?"

 

"Kak Momo agresif banget ya...? Padahal wajahnya imut begitu, tapi tindakannya dewasa banget... Aroma manis stroberi yang tadi dimakan sama napas Kak Momo bikin aku rasanya mau meleleh."

 

"Ngh, uuuh..."

 

"Kak Momo yang salah lho, pakai cium pipiku segala. Aku, sudah nggak bisa tahan la────"

 

"Tu-tunggu duluuu!!"

 

Dengan cepat, Kak Momo menegakkan badannya.

 

Dia membuat tanda silang dengan jari di depan mulutnya... sepertinya dia sedang pasang pertahanan.

 

Omong-omong, orang ini kalau dipuji, dia bakal langsung salah tingkah dan malu...

 

Seingatku, Miu juga mirip begini.

 

Aku kembali menyadari kalau kakak-beradik itu memang mirip.

 

"Ki-kita kan nggak pacaran... kalau lebih dari ini, kayaknya nggak boleh deh menurutku~..."

 

"Hehe! Kakak selalu menggodaku sih, jadi sesekali aku balas dendam dong~"

 

"Duh... Shin-chan bodoh."

 

(Guh... bahkan interaksi begini saja terasa nyaman...!! Apakah pasangan yang belum jadian (PDKT) juga menikmati hal seperti ini?)

 

Saat kami berdua sedang asyik sendiri, tanpa sadar kembang api sudah mencapai puncaknya (finale).

 

"Kita jadi kayak pasangan yang ciuman di depan mata kita tadi ya... (tertawa)"

 

"Iya... mungkin aku terbawa suasana di tempat itu... Duh aku kenapa sih, malu banget sampai nggak berani lihat wajah Shin-chan..."

 

"Se-segitunya!?"

 

"Kita balik ke tempat kedai yuk...!"

 

Aku mengikuti Kak Momo yang buru-buru pergi dari tempat itu.

 

Mungkin karena kami terlalu asyik sendiri dan mengabaikan kembang apinya di tengah jalan, entah kenapa terasa ada kecanggungan di antara kami.

 

"Ah, aku nemu barang bagus."

 

Begitu berkata demikian, Kak Momo berlari menuju sebuah kedai.

 

Karena festival kembang api sudah mau berakhir, keramaian yang tadi sudah jauh lebih tenang, dan orang-orang mulai terlihat jarang.

 

Sepertinya dia berhasil membeli barang yang diincarnya dengan mudah, Kak Momo kembali dengan berlari kecil.

 

Yang dipegangnya adalah──── alkohol...?

 

"Kak Momo... itu alkohol?"

 

"Eh, aah iya! Ini alkohol tapi katanya kadarnya nggak tinggi kok Penjualnya bilang ini hampir kayak jus! Tadi aku sudah tanya sama paman penjualnya kok~"

 

"Haaah... begitu ya."

 

(Benar juga, orang ini kan sudah dewasa legal. Wajar saja kalau orang dewasa minum alkohol...)

 

Di tempat itu juga, Kak Momo membuka kaleng chu-hi dengan bunyi pssh, lalu mulai meminumnya dengan cukup cepat, gok gok gok.

 

"Eh, tunggu! Minum secepat itu nggak apa-apa?"

 

Aku refleks bertanya. Soalnya aku sama sekali tidak tahu seberapa kuat Kak Momo terhadap alkohol.

 

"Nggak apa-apa kok! Aku kan sudah dewasa, lagian aku ingin segera menghilangkan rasa malu ini."

 

(Ingin menghilangkan rasa malu...? Maksudnya dia lari ke alkohol gara-gara aku...!?)

 

Paham, dia yang cium duluan... tapi karena malu dia meminjam kekuatan alkohol.

 

Padahal yang harusnya malu itu aku.

 

Kalau dia tersipu malu sampai segininya... aku jadi ikut salah tingkah.

 

(Lagipula kalau begini terus, jangan-jangan dia bakal mabuk berat dan nggak bisa pulang!? Apa harus kuhentikan──)

 

"Enggak, enggak, Kak Momo...? Kalau minum sebanyak itu nanti mabuk dan jadi gawat lho──..."

 

"Aaaa~! Akhirnya ketemu~! Aku sudah duga kalau tunggu di sini pasti bakal lewat~ Prediksiku tepat sasaran"

 

Miu memanggil dengan suara riang dan cukup keras, sepertinya energinya masih berlebih.

 

Biasanya Miu muncul di waktu yang aneh, tapi kali ini bisa dibilang timing-nya pas.

 

Sepertinya Miu menunggu bertiga di sini bersama Tachibana-san dan sepupunya Tachibana-san. Mereka sedang asyik mengobrol sambil memegang mainan khas festival yang berkelap-kelip.

 

"Tunggu deh! Kupikir Kakak minum apa! Padahal nggak kuat minum, emangnya nggak apa-apa~?"

 

"Fufu, Miu juga khawatirnya berlebihan ih~ Nggak apa-apa kok Sekali-kali minum alkohol nggak apa-apa kan~, lagi enak perasaan jadi beli aja"

 

(Hee... Kak Momo ternyata... lemah sama alkohol ya...)

 

"Yah kalau nggak apa-apa sih syukur deh~!"

 

◆◇◆

 

Cahaya kedai kaki lima mulai menjauh, kami sampai di stasiun dan pulang ke arah masing-masing.

 

"Sana, sampai ketemu di sekolah ya~!" Miu melambaikan tangan.

 

Tachibana-san menundukkan kepala ke arah kami sambil melambaikan tangan dengan wajah yang terlihat sedikit menyayangkan perpisahan.

 

"Kalau begitu, mari kita pulang juga~"

 

Sambil menikmati sisa-sisa suasana festival, kami menyerahkan diri pada guncangan kereta yang penuh sesak.

 

Bahkan stasiun terdekat kami yang biasanya tidak terlalu ramai, kini dipenuhi orang-orang yang pulang dari festival.

 

Dan── begitu melewati gerbang tiket, aku menyadari ada yang aneh dengan Kak Momo.

 

"Kak Momo...? Apa Kakak merasa tidak enak badan? Tumben diam saja..."

 

"Ngh... gara-gara guncangan kereta... sepertinya aku jadi makin, mabuk deh... rasanya melayang-layang~"

 

"Tuh kan! Makanya aku bilang juga apa!"

 

"Miu-chan maaf~ ayo pulang bareng Kakak~?"

 

(Kupikir kenapa diam... ternyata dia sudah berevolusi jadi pemabuk ya... Haaah. Sudah kuduga kan. Tapi, jelas ini tidak bisa dibiarkan begitu saja.)

 

"Miu, aku antar sampai rumah ya. Bahaya kalau cuma berdua di jalan malam."

 

"Eh boleh? Padahal udah malam lho..."

 

"Masih jam 9 kok, aman."

 

"Makasih..."

 

"Hoe? Shin-chan mau ikut ke rumah~? Hehe Senangnya"

 

"Muu~! Kakak! Sadar dong!"

 

Aku dan Miu berjalan sambil mengapit Kak Momo di tengah untuk menopangnya.

 

Sepertinya tidak sampai sempoyongan parah, tapi gawat kalau sampai menabrak tiang listrik...

 

Dia memang orang yang tegas dan bisa diandalkan, tapi sangat jarang dia melakukan kesalahan seperti ini. Yah, ini menunjukkan sisi manusiawinya, aku tidak benci kok. Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Insiden alkohol kali ini, kalau dia orang yang biasa minum mungkin tidak perlu terlalu dikhawatirkan, tapi Kak Momo sepertinya tipe yang jarang minum, ditambah lagi dia lemah alkohol... jelas harus dikhawatirkan.

 

Apartemen tempat tinggal Miu tidak terlalu jauh dari stasiun, jadi tak lama kemudian pintu masuk apartemen pun terlihat.

 

"Kak Momo, sudah sampai lho."

 

Miu membuka pintu dan mendudukkan Kak Momo di genkan (pintu masuk).

 

Perlahan dia melepaskan bakiak (geta) yang dipakai Kak Momo, lalu menarik tangannya untuk menuntunnya ke ruang tamu.

 

Melihat pemandangan yang familiar dan mencium aroma rumah Miu, akhirnya hatiku merasa lega.

 

Kak Momo sepertinya sudah rileks sepenuhnya, dia berbaring lemas (gudat) di ruang tamu.

 

Miu pergi ke kamarnya, sepertinya sedang ganti baju.

 

"Shin-chan...? Sini deh──"

 

(Ada apa ya? Apa mau ke toilet?)

 

"Iya, aku datang... eh, uwaah!!"

 

Tiba-tiba, lenganku ditarik dengan kekuatan yang cukup besar, keseimbanganku goyah dan aku jatuh ke lantai.

 

Kak Momo menindihku, menatapku dari atas.

 

Karena tertimpa berat badannya, aku tidak bisa banyak bergerak.

 

"Bahaya tahu! Tiba-tiba narik begitu, kalau cedera gimana...!"

 

Tapi, suaraku sepertinya tidak sampai padanya, Kak Momo tampak tidak peduli dan kembali mendekatkan jarak dengan agresif.

 

"Sosok Shin-chan pakai yukata... aku sukaaaaa banget."

 

"Heh...?"

 

"Hei, bagian dada yukatanya terbuka lebar begini... kamu lagi godain aku ya?"

 

"A, apa sih..."

 

"Hmm──...? Ah iya, sensasi ciuman tadi, masih ingat?"

 

"Eh, ah, tentu saja... walau cuma terasa di pipi, tapi aku merasakan kehangatan kulit Kakak dengan jelas..."

 

"Jujur, apa yang kamu pikirkan?"

 

"Aku gugup... tapi, rasanya jadi ingin lebih... aneh ya aku ngomong begini... haha."

 

"Kalau gitu, mau lanjutin............ di sini?"

 

Kak Momo menurunkan pandangannya ke bibirku sambil membisikkan godaan dengan suara pelan.

 

Lampu ruang tamu masih mati, hanya cahaya dari lorong yang sedikit menerangi kami.

 

Dibandingkan tadi, rambutnya sudah sangat berantakan, dan kakinya mengintip dari celah yukata yang terbuka.

 

Mau tak mau pahanya masuk ke pandanganku... tengkuk leher yang basah oleh keringat juga terlihat seksi...

 

Sementara aku berusaha mati-matian menjaga akal sehat, Kak Momo menelusurkan ujung jarinya di leherku. Entah kenapa dia mengelus jakunku dengan lembut menggunakan perut jarinya... lalu melanjutkannya sampai ke tulang selangka.

 

(Gawat... kalau begini terus akal sehatku bisa hila──)

 

"Ngh... sesak, Shin-chan, mau bantu aku lepasin yukatanya?"

 

"S, serius!? Boleh dilepasin!?"

 

Reaksiku saat ini sudah bisa dibilang refleks terkondisi.

 

"Di sini, tolong longgarkan obi (sabuk) ini..."

 

"Begini?"

 

"Iya, sudah melonggar... ah, tapi kalau lebih dari ini mungkin bakal kelihatan..."

 

"Kita berhenti saja!! Sisanya... tolong lakukan sendiri!!"

 

"Fufu Kamu malu? Padahal dulu kamu sudah lihat aku pakai pakaian dalam sampai bosan lho..."

 

"Itu benar, tapi situasinya sudah beda dengan dulu!! ...Segalanya."

 

"Hmmm, misalnya──... bagian ini?"

 

Kak Momo perlahan membuka bagian dadanya. Belahan dada yang tampak lembut itu terekspos.

 

Padahal waktu pakai baju renang di laut kemarin area yang terbuka lebih banyak... tapi kulit polos yang mengintip dari balik yukata, di mataku terlihat jauh lebih erotis dari biasanya.

 

"Tunggu, aku lupa... hari ini aku nggak pakai pakaian dalam lho."

 

"──HAAH!?"

 

"Bercanda kok Katanya dulu banyak orang yang nggak pakai pakaian dalam di balik yukata lho Tapi aku pakai kok? Lihat nih..."

 

Dia membukanya lebih lebar, dan terlihatlah renda berwarna giok (jade)... i, ini cukup berisiko.

 

"Aaaaa! Anu! Nggak usah dikasih lihat juga nggak apa-apa!"

 

"Shin-chan mesum~"

 

(............ugh!!)

 

Aku merasa tidak berniat macam-macam dan cuma ngobrol biasa, tapi... kalau dilihat dari samping pasti ini situasi yang luar biasa gawat. Situasi di mana sepertinya "sesuatu" akan terjadi kapan saja.

 

────Benar, sepertinya sesuatu akan terjadi.

 

Aku menyadari ada bayangan orang yang menimpa cahaya yang bocor dari lorong.

 

Tapi──saat itu semuanya sudah terlambat.

 

"Sebentar?"

 

──Bikku!! (tersentak)

 

Perasaan ini... sudah lama tidak kurasakan. Hawa membunuh yang tajam menusuk punggungku dari belakang.

 

Tapi ini hawa membunuh yang luar biasa tidak normal, belum pernah kualami sebelumnya.

 

"Shintarou, keluar."

 

"Eh?"

 

"Cepat menjauh dari Kakak!!"

 

"Tung...!"

 

"Bodoh! Shintarou bodoh! Cepat keluar sanaaa~!!"

 

Aku didorong keluar seolah diusir paksa ke pintu depan.

 

Biasanya dia marah sambil bercanda, tapi Miu hari ini memasang wajah seolah akan menangis kapan saja.

 

"Kenapa kamu selalu begini sih!? Nggak bisa ya sedikit saja mikirin perasaanku!? Dasar gak peka! Mesum! Egois, sampah! Aku benci kamu!!"

 

──Blam.

 

Dia melontarkan kata-kata dengan kemarahan yang bahkan tidak memberiku celah untuk bernapas, lalu membanting pintu dengan keras.

 

Sepatuku yang dilempar dari pintu masuk, menggelinding sia-sia di kakiku.

 

"Tunggu dulu, aku... cuma digodain sama Kak Momo kok...!!"

 

◆◇◆

 

Bahkan setelah pulang ke rumah, ekspresi Miu saat itu tidak bisa hilang dari kepalaku.

 

Biasanya dia bersikap ceria, tapi soal jarak antara aku dan Kak Momo... apa sebenarnya dia selama ini cuma sok kuat?

 

Samar-samar aku tahu dari dulu kalau dia itu cemburuan.

 

Waktu aku main berdua sama Kak Momo pun dia sering marah bilang Kalian lupa eksistensiku ya!, dan belakangan ini aku beberapa kali mendengar kata-kata Aku ditinggalin.

 

Bagiku sih tidak ada niat begitu, tapi memperlakukan kakak-beradik dengan adil itu susah... harus bagaimana ya... Tapi, aku kan tidak pacaran dengan siapa pun, walau aku akrab dengan Kak Momo, apa perlu dimarahi sampai segitunya?

 

Tidak, kesampingkan dulu alasannya, mungkin sebaiknya aku minta maaf sepatah kata pada Miu.

 

Aku menatap layar ponsel sambil mengetik pesan. Tapi, apa yang harus kukirim... jujur aku bingung setengah mati.

 

"Soal yang tadi, maaf ya..."

 

Tidak, tunggu dulu, aku minta maaf soal apa?

 

"Kapan-kapan main lagi ke rumah ya"

 

...Hmmm. Mengatakan hal yang biasanya nggak dibilang malah bakal bikin makin aneh.

 

"Aah, sudahlah!!"

 

Aku terus mencari kata-kata yang tepat, tapi akhirnya hari itu aku menutup ponsel tanpa mengirim apa pun.

 

──Keesokan paginya.

 

Aku mengecek ponsel untuk menghapus rasa ganjil saat bangun tidur, tapi sesuai dugaan, tidak ada kabar dari siapa pun.

 

(Canggung banget... rasanya jadi malas pergi ke sekolah kalau begini...)

 

Meskipun berpikir begitu, waktu terus berjalan tanpa ada kemajuan apa pun, dan liburan musim panas pun menuju akhirnya.

 

◆◇◆

 

Di hari masuk sekolah, aku tidak nafsu makan sejak pagi, dan meninggalkan rumah tanpa makan apa pun.

 

Seharusnya, setiap ada jadwal sekolah, bisa dipastikan Miu akan datang ke rumahku. Dia berinisiatif begitu demi mencegahku terlambat.

 

Tapi── hari ini, sosok Miu tidak ada di mana pun.

 

Kebiasaan yang terus berlanjut seperti hal yang wajar, tiba-tiba terputus begitu saja, membuatku merasakan sedikit krisis.

 

Ini pasti dia masih marah, atau aku sudah dibenci.

 

Dalam perjalanan ke sekolah, langkahku terasa sangat berat. Panasnya cuaca mungkin berpengaruh sedikit... tapi yang paling utama pasti karena masalah dengan Miu.

 

Sudah seminggu lebih sejak hari festival musim panas.

 

Tidak pernah bertatap muka, tidak ada satu pun kontak, pasti kami sama-sama merasa canggung...

 

Tapi, karena tidak mungkin menghindari pertemuan, aku membayangkan dalam kepala bagaimana responsku saat benar-benar bertemu Miu.

 

"Pagi, lama nggak ketemu ya."

 

"Apa kabar?"

 

────Tidak, aneh. Kalau aku yang biasanya, aku tidak akan sengaja bilang begitu ke Miu.

 

Kalau aku salah bicara, gimana kalau dia masih marah? Lagian, apa aku benar-benar harus minta maaf... sampai sekarang aku masih galau.

 

Seminggu ini, aku cuma mikir terus sampai kepalaku dikuasai kecemasan. Terus berputar tanpa jawaban. Otakku rasanya mau bug. Tapi, dalam seminggu ini, aku merasa jadi sadar betapa besarnya keberadaan Miu bagiku. Apakah ini cuma perasaan terhadap teman masa kecil, atau sesuatu yang lain, aku tidak tahu...

 

Hari di mana aku enggan pergi begini, justru sampai di sekolah lebih cepat.

 

Padahal langkah kaki berat, tapi tahu-tahu aku sudah melewati gerbang sekolah.

 

Begitu sampai sekolah, aku mencari sosok Miu di mana-mana, di rak sepatu, lorong.

 

(Wah, ini bakal canggung banget...)

 

Sebisa mungkin aku berpura-pura tenang, dan membuka pintu kelas.

 

──Sreeet.

 

(......A, ada......)

 

Miu sedang berdiri di depan meja guru, mengobrol asyik dengan Tachibana-san seperti biasa.

 

(Canggung... ini nggak bisa dihindari...)

 

Saat aku membulatkan tekad untuk menyapanya──

 

"Aah~! Pagi Shintarou~"

 

"Heh? Aah, pagi...?"

 

Mendapat reaksi di luar dugaan, aku menjawab dengan suara cengo (kebingungan).

 

"Apaan? Kok mukanya nggak puas gitu sih~? Ah! Pasti kamu dendam ya gara-gara tadi pagi nggak aku jemput~!"

 

"Nggak juga... bukan gitu kok..."

 

"Hmm, terus apa dong? Ada yang mau dibilang mungkin~"

 

"Apaan sih lu...!! ──Nggak, udahlah."

 

Apa-apaan anak ini...!! Ini terlalu santai nggak sih!? Jadi cuma aku doang yang galau dan mikirin ini berhari-hari!? Aku jadi kelihatan kayak cowok menye-menye (menhera) aja!

 

"Hei, Shintarou hari ini agak aneh lho~? Ah, emang biasanya aneh ya Ahaha."

 

────!?

 

Nggak bisa dimaafkan...!! Padahal sudah memperlihatkan wajah sedih begitu... dia pikir dengan perasaan seperti apa aku menghabiskan waktu seminggu ini!

 

Tapi, kalau dilihat dari sisi lain, berkat sifat Miu yang tidak pendendam (?) ini, aku jadi selamat dari masalah... Mungkin ini ada bagusnya juga. Lagipula, ada kemungkinan juga dia cuma berpura-pura ceria demi menjaga suasana... nggak, kalau Miu sih kayaknya nggak mungkin begitu.

 

Apa pun itu, setidaknya aku lega karena tidak memulai semester baru dengan kecanggungan──

 

"Woi Miyata, lu ngapain Miu-chan lagi hah!?"

 

"Apaan sih Morishita... baru ketemu kok langsung ngajak ribut."

 

"Aku nggak bakal maafin orang yang nge-bully Miu-chan-ku tahu!"

 

"Duh~ Morishita-kun keren banget~ Tapi aku bukan milik Morishita-kun."

 

"Iya, Miu-chan adalah milik saya. Para cowok harap diam."

 

"Iyaaa Sana menang~ Aku miliknya Sana-chan kok~ Ah, ngomong-ngomong, liburan musim panas kan sudah mau habis, gimana kalau kita bikin semacam home party buat kenang-kenangan?"

 

"Wah Bagus tuh Aku setuju dengan ide Miu-chan"

 

"Eh, itu aku boleh ikut nggak?"

 

Morishita langsung menyela pembicaraan.

 

"Tentu saja! Sekalian saja kita main di rumahku yuk"

 

"R, rumah Miu-chan...!? Aku juga boleh masuk nih!?"

 

Morishita yang kegirangan memajukan badannya dan berteriak.

 

"Suara lu kegedean woy. Dilihatin orang tuh..."

 

"Ma, maaf kelepasan..."

 

"Jadi gitu ya~ Pulang sekolah kumpul di rumahku oke"



Bagikan ke:

Komentar

Tinggalkan Komentar