Chapter 5: Segitiga Setan...!?
~Kembang Api dan Jiwaku yang Memudar~
Saat akhir bulan Agustus mulai
terasa──
Aku berencana pergi ke festival
kembang api bersama kakak-beradik teman masa kecilku... begitulah rencananya.
Tapi tentu saja, cerita ini tidak
akan berjalan damai begitu saja...
──Beberapa hari yang lalu.
Belakangan ini, seolah sudah menjadi
rutinitas harian, aku sering numpang makan malam di rumah kakak-beradik itu.
Hari itu pun aku berjalan menuju apartemen mereka seperti biasa.
Di tengah jalan, aku melihat sosok
yang sedang memeluk eco bag yang terlihat berat dari belakang... itu kan.
“Kak Momo!”
“Shin-chan!”
Benar, sang kakak, orang yang aku
kagumi. Sosoknya yang menoleh dan tersenyum padaku itu terlalu imut, rasanya
aku bisa mati di tempat.
“Habis belanja ya? Sini, aku bawakan
barangnya.”
Tanpa menunggu jawaban Kak Momo, aku
meraih eco bag dari tangannya.
Berat banget!
(G-gila berat banget... kok bisa dia
bawa barang seberat ini dengan santai...? Di lengan sekecil itu, dari mana
datangnya kekuatan itu...)
“Fufufu, makasih ya Shin-chan. Kamu
kuat banget ya♡”
Tidak, aku tidak akan bilang
"Kakak yang lebih kuat"... nggak mungkin lah.
“Jangan-jangan, hari ini menunya kari
ya?”
“Iya bener, kok tahu?♡”
Isi eco bag-nya adalah kentang,
bawang bombai, dan bumbu kari dalam jumlah yang tidak wajar. Pasti siapa pun,
bukan cuma aku, bakal tahu, tapi di sini mari kita biarkan dia memujiku.
Sejak saat itu, aku sudah
berkali-kali makan masakan Kak Momo, dan bisa dibilang perutku sudah
benar-benar ditaklukkannya.
Masakan andalannya adalah masakan
Jepang, tapi apa pun yang dia buat rasanya enak. Di antara semua itu, favoritku
tetap kari. Yah, kari itu menu standar yang rasanya tidak ada cowok yang tidak
suka sih... tapi kenapa kari jadi yang paling kusuka............ kalau kalian
melihat insiden yang akan terjadi mulai sekarang, kalian pasti paham...
“Ngomong-ngomong... orang tua
Shin-chan sehat? Sudah lama sekali nggak ketemu mereka...”
“Iya! Sehat banget kok! Kapan-kapan
mainlah ke rumahku. Kamarku berantakan sih...”
“Fufufu...♡ Aku penasaran banget lho sama kamarnya Shin-chan♪”
“Cuma ada game sama komik doang
sih... hehe.”
“Ah! Aku pernah denger dari Miu
kayaknya! Kalau nggak salah... game simulasi cinta apa gitu──”
“Aaaaaaah!! Apaan tuh! Aku nggak
ngerti ngomongin apaan!!”
Anak itu... dia cerita semuanya ke
Kak Momo ya...!
“Fufufu♡
Emangnya game yang seliar itu ya?♡”
“Nggak kok...! G, game biasa aja kok.”
“Gitu ya♪ Kalau gitu kapan-kapan, aku numpang main ah♪”
Uugh... dasar anak itu... aku jadi
harus sebisa mungkin mencegah Kak Momo datang ke rumah kan...!
Sambil mengobrol begitu, kami sampai
di apartemen.
“Aku pulang.”
“Aku pulang, eh bukan, permisi!”
Rumah kakak-beradik yang sudah sering
kudatangi ini, sekarang rasanya sudah familiar.
Waktu baru bertemu kembali, karena
sudah lama tidak tatap muka dengan Kak Momo, aku sempat tegang untuk beberapa
saat, tapi sekarang aku sudah bisa jauh lebih santai.
“Fufu, bilang "aku pulang"
juga boleh kok~. Kalau Shin-chan yang bilang♡”
(Eh? Miu nggak kelihatan di
mana-mana. Biasanya kalau aku ngobrol sama Kak Momo, dia langsung nyamber ikut
nimbrung...)
“Hari ini Miu nggak ada?”
“Aah! Miu-chan bilang mau balikin
komik yang dipinjam dari temannya, barusan banget dia pergi~♪ Katanya mau ngobrol sama temannya dulu jadi mungkin agak
telat pulangnya!”
“Hee... (Dia baca komik ternyata...)”
◆◇◆
Padahal aku sudah niat banget mau
bantu, tapi Kak Momo bilang, “Udah nggak apa-apa, Shin-chan kerjain PR musim
panas aja~”, jadi dengan terpaksa aku menggelar PR di ruang tamu sambil
sesekali buka YouTube sembari menunggu, dan kemudian...
Kak Momo berlari keluar ke ruang tamu
dengan celemek pink-nya sambil hampir menangis.
Mungkin dia habis bertarung di dapur,
wajah dan lehernya sedikit berkeringat.
“Ara... bikin kebanyakan lagi ya?”
Duh... Kak Momo menunjukkan ekspresi
menyesal atas kegagalannya sendiri.
Benar──hari ini adalah Hari Kari.
※Hari Kari, sesuai namanya, adalah hari di mana kari disajikan
untuk makan malam. Tapi... kakak perempuan yang satu ini. Kalau Kak Momo bikin
kari, entah kenapa dia selalu membuatnya dalam jumlah yang terlalu banyak.
Menurut pengakuannya, awalnya dia
mulai masak pakai panci ukuran biasa, tapi setiap kali mencicipi dia tambahkan
bumbu, lalu tambahkan air, lalu tambahkan bumbu lagi. Selagi mengulang proses
ini, pancinya hampir meluap, jadi dengan terpaksa dia pindahkan karinya ke
panci ukuran besar, tapi dia kembali terjebak dalam dilema mencicipi rasa.
Dan──saat dia sadar, kari buatan tangan dalam jumlah yang tak masuk akal pun
tercipta.
Waktu sebelumnya, kira-kira jadi
sekitar porsi dua puluh orang...
──Akan tetapi, bagian itulah yang
membuat Kak Momo sangat imut.
Walau berpenampilan cantik dan
menarik, kakak perempuan yang sekilas terlihat sempurna ini kadang menunjukkan
sisi cerobohnya (ponkotsu), dan inilah yang menggelitik hati laki-laki.
Ketidaksengajaannya itu justru
membuatnya makin memikat.
"Sini, sini," tanganku
ditarik dan dibawanya ke dapur.
Aroma rempah kari menggelitik hidung,
seketika tombol laparku menyala, dan nafsu makan meluap sekaligus. Tidak sampai
porsi dua puluh orang seperti sebelumnya, tapi dilihat sekilas saja sepertinya
ada porsi sepuluh orang.
“Lihat... padahal hari ini aku sudah
hati-hati... tapi kebanyakan lagi...!”
Dengan mata berkaca-kaca, Kak Momo
menatapku dengan ekspresi seolah minta tolong.
(Imutnya... kalau dimintai tolong
dengan sosok begini... rasanya aku ingin meledakkan akal sehat dan perutku
sekalian!! Yosh!)
“Serahkan padaku. Sebelum Miu pulang,
akan kuhabiskan semuanya. Biarpun tubuh ini hancur karenanya────”
◆◇◆
Begitulah, semangatku cuma bertahan
di awal. Saat masuk piring keempat... akhirnya aku mencapai batas.
“Ka, Kak Momo... ini batasnya... udah
nggak kuat...”
“Fufufu♡
Makan tiga piring itu kebanyakan lho~? Shin-chan beneran suka banget kari ya
ternyata♡”
(──!? Padahal ini terjadi karena
Kakak yang masak kebanyakan lho!?)
Tentu saja aku tidak bisa bilang
begitu... aku menyerah dengan patuh.
“Ah! Iya!”
“Hm? Ada apa lagi?”
“Besok kan, ada festival kembang api!
Kalau mau... gimana kalau kita pergi bareng...”
“Festival kembang api ya... Boleh
juga! Tapi apa nggak apa-apa sama aku? Teman perginya.”
“Tentu dong♡ Bisa nonton kembang api sama Shin-chan pasti bakal jadi
kenangan musim panas yang indah lho♪
Jadi, mau temenin aku kan...?”
“Dengan senang hati! Anoo, pakaiannya
gimana?”
“Hmm gimana ya, mumpung ada
kesempatan mungkin aku pakai yukata kali ya...? Karena mendadak, Shin-chan
pakai baju bebas aja nggak apa-apa kok!”
“Ah enggak, aku juga punya yukata
yang nganggur di lemari...! Kalau Kak Momo pakai yukata, aku juga pakai deh...”
“Eh beneran!? Berarti jadi kencan
yukata dong!? Waah♡ Nggak sabar deh♡”
“Pe, pergi berdua saja ke suatu
tempat begini, baru pertama kali ya...?”
“Iya...♡
Apalagi kencan pakai yukata... jangan-jangan nanti dikira pasangan beneran
lho...?♡”
“Pasangan............ pasangan!?”
“Bercanda kok, bercanda♡ Nggak usah kaget gitu dong~”
Kak Momo menggembungkan pipinya
(puku) lalu menusuk-nusuk lenganku.
Apa-apaan kemesraan ini... nggak
tahan woy.
Apalagi besok mungkin aku bisa
mengharapkan "sesuatu" yang lebih dari ini...
Kencan yukata berdua saja...
(Harapan dan bagian diriku yang lain
mulai mengembang niiiiihhh!!)
◆◇◆
────Harusnya begitu di hari H.
“Miu. Aku tanya terus terang. Kenapa
lu ada di sini juga?”
Di sana, entah dari mana dia mencium
rencananya, Miu sudah siap dengan yukata lengkap dan tatanan rambut sempurna,
berdiri di tempat janjian bersama Kak Momo yang memasang wajah agak merasa
bersalah.
“Haaah~? Tanya kenapa aku ada di
sini~? Aku yang harusnya nanya tahu!? Kalian mau kabur berdua lagi kan? Lu juga
seenaknya pakai yukata segala lagi~!”
“Y, yah Miu-chan...! Miu-chan kan
kemarin bilangnya mau pergi ke festival sama teman? Makanya itu lho..., soal
aku ngajak Shin-chan kan kemarin sudah kubilang...”
“Kakak diem dulu.”
“Ah...”
“Shintarou ngeselin banget sih~!”
(Nggak, nggak, kenapa jadi aku yang
salah woy...!! Nggak adil banget!! ...Itu berarti, kencan kembang api berdua
sama Kak Momo... lagi-lagi jadi bertiga seperti biasa... Yah mau gimana lagi.
Sementara ini, gimana caranya mengatasi situasi ini──)
“Ngomong-ngomong, Miu! Yukata pink
itu cocok banget sama lu! Rambut lu juga dikepang dan disanggul beda dari
biasanya, kelihatan fresh dan imut banget tahu!! Terus, terus, makeup lu hari
ini... disesuaikan sama yukata ya? Kelihatan natural dan seiso, aku suka yang kayak
gini!”
“Eh... b, begitu? Masa sih...? Kalau
dipuji segitu aku jadi bingung. Malu tahu...”
Padahal tadi mukanya merah padam
karena marah-marah, sekejap saja mood-nya langsung balik.
Miu menangkupkan kedua tangan di
pipinya, malu-malu sambil menggeliat.
Miu yang jujur, polos, dan meski
terdengar agak kasar, sangat simpel ini, cara memperbaiki mood-nya itu... sudah
tertanam sampai ke level selku.
Caranya adalah memujinya
habis-habisan sampai berlebihan.
Melihat interaksi kami, Kak Momo
tersenyum lebar sambil mengacungkan jempol ke arahku seolah berkata "Hebat
Shin-chan!".
Sementara itu, stasiun sudah dipenuhi
orang-orang ber-yukata yang sepertinya juga mau ke festival kembang api.
“Duh, kalau nggak cepet-cepet nanti
ketinggalan kereta lho! Habis ini bakal makin rame, bukan waktunya ribut di
sini tahu~! (nangis)”
“Nggak, nggak, kan lu yang mulai
dramanya!!”
“Geh... Shintarou belakangan ini
makin mirip Morishita-kun ya...”
“Hah? Maksudnya apa tuh.”
Kami berhasil naik kereta di tengah
kerumunan orang-orang ber-yukata yang berjalan berbondong-bondong, dan setelah
terguncang selama sekitar 20 menit, kami sampai di stasiun tujuan.
Di luar pintu peron, keramaian jauh
lebih padat dari sebelumnya.
Sejauh mata memandang, isinya orang
semua.
"JANGAN BERHENTI! BERBAHAYA JIKA
BERHENTI, HARAP TERUS MAJU KE DEPAN!"
Petugas keamanan berteriak
mengarahkan massa.
Dengan tongkat pemandu merah di
tangan, sambil bercucuran keringat, mereka berusaha keras menjaga keamanan di
tengah lautan manusia.
“Kalau terpisah di tempat kayak gini
bakal repot... Oke, aku punya ide bagus.”
Aku masuk menyelip di antara
kakak-beradik itu, lalu menyodorkan kedua lenganku ke depan mereka
masing-masing.
“Nih, pegang lenganku. Lebih baik
daripada terpisah kan.”
Miu dengan wajah kaget bilang “Eh,
serius?” sambil memegang lengan baju kananku pelan-pelan.
Kak Momo seolah berkata "Sudah
kuduga♪" sambil memeluk erat lengan kiriku dengan kuat.
Adik yang pemalu, dan kakak yang
agresif. Di sini pun perbedaan sifat kakak-beradik itu terlihat jelas dan
menarik.
“Hei~ lu tuh ya~, meluk dua cewek
cantik di kedua tangan mau ngapain coba~? Dilihatin orang tahu~”
“Fufufu♡
Nggak ada yang lihat kok, Miu-chan♡
Mumpung ada kesempatan, aku mau manja-manja sama kebaikan Shin-chan ah~♪”
──Mugyuuuu♡♡♡
(Uwoooo! Aku bisa merasakan
kehangatan lembut Kak Momo di lenganku...!)
“Sebentar dong~! Kakak curang banget
sih! Eh, curang di sini maksudnya itu──bukan dalam artian aneh lho... hmph”
──Gyuuut♡♡
(──!? Apa!? Miu!? Kamu juga...!?)
Meskipun aku menyodorkan lengan agar
kami tidak terpisah di tengah keramaian, bagaimana pemandangan ini terlihat di
mata orang lain ya?
Tiga bersaudara... agak maksa sih.
Teman...? Kalaupun iya, teman macam apa ini...
Yah, bagaimanapun juga, diapit oleh
gadis-gadis cantik tidak terasa buruk.
Justru situasi ini bisa dibilang
sebagai hadiah.
Kami terus berjalan membelah lautan
manusia untuk beberapa saat, hingga akhirnya pemandangan terbuka lebar.
Lampion warna-warni merah dan kuning
menjadi penanda, dan seolah dituntun olehnya, kami melangkah masuk ke jalanan
yang penuh dengan kedai kaki lima (yatai).
Hawa panas dari kerumunan orang
bercampur dengan uap dari pelat besi panggangan, membuatku merasakan udara
hangat yang lembap di kulit.
Aroma saus yakisoba yang dipanggang
gurih, bau manis kue castella, dan crepe.
Suara tawa yang ramai dan teriakan
lantang "Silakan mampir!" dari para penjual──── nuansa festival
ini... rasanya seperti musim panas telah tiba, aku cukup menyukainya.
“Ah! Ada permen apel (ringo ame)!”
“Waah♡
Permen stroberi juga ada ya♡”
“Aku mau makan castella sama crepe
juga!”
“Iya iya♡ Es serut juga harus makan ya~♡”
(Baru sampai sudah heboh ngomongin
makanan... dasar cewek ya, yang keluar cuma nama-nama makanan manis, imut
banget. Padahal aku pengen takoyaki atau sate daging... yah, simpan dulu deh
cerita itu──)
“A, anu──. Karena kita sudah sampai
di lokasi, bagaimana kalau pegangan tangannya dilepas dulu............ a, agak
panas soalnya...”
Sambil menunjukkan kedua lenganku
yang digenggam erat, aku bertanya pada mereka berdua.
Arus manusia juga sudah mulai tenang,
sepertinya tidak perlu bergandengan lagi sampai begini.
“Ah, nggak sadar, maaf.”
Setelah berkata begitu, Miu memasang
wajah kaget dan malu, lalu buru-buru menjauh dariku.
Kak Momo masih tetap melilit di
lenganku tanpa berubah.
“Kakak juga lepasin dong. Shintarou
kelihatan kepanasan tuh.”
Melihat Kak Momo yang tak kunjung
melepaskan, Miu yang tak tahan melihatnya langsung menegur.
“Cih. Padahal aku pengen nempel terus
lho~”
Kak Momo terlihat sedikit ngambek.
(Yah, jujur saja aku sih nggak
masalah mau dilepas atau nggak... haha...)
“Ngomong-ngomong, mau makan apa?
Mumpung di sini aku mau makan jajanan khas festival~!”
“Gimana ya... aku beli crepe aja kali
ya, agak lapar nih.”
“Kalau gitu aku mau beli permen
stroberi di sana! Kakak gimana?”
“Hmm, aku juga sama kayak Shin-chan
deh, beli crepe aja♪ Miu-chan bisa beli sendiri kan??”
“Bisa dong! Kan bukan anak kecil
lagi, gampang itu mah♪ Kalau gitu nanti kumpul di sini ya
kalau sudah beli~!”
Miu berjalan dengan semangat menuju
kedai permen apel.
Aku dan Kak Momo mengantre di kedai
crepe.
Sepertinya kedai ini populer, sudah
ada sekitar sepuluh orang yang mengantre.
“Shin-chan itu, tiap tahun datang ke
festival kembang api?”
“Ah, lumayan sering sih. Tiap tahun
sama teman-teman.”
“Hee~... Pernah datang sama pacar...?”
“Wah, nggak pernah. Malu sih
bilangnya... tapi datang sama perempuan mungkin baru hari ini.”
“Gitu yaa♪ Kalau gitu aku jadi makin senang bisa datang bareng kamu♡ Ayo kita buat kenangan musim panas sebelum pulang ya♡”
“...Iya!”
Tak terasa, giliran kami pun tiba.
Aneh rasanya, sepanjang apa pun waktu
tunggunya, rasanya jadi sangat berbeda tergantung dengan siapa kita
menghabiskannya.
Saat kami berhasil mendapatkan crepe,
Miu pun kembali di waktu yang pas.
“Hei, lihat deh~♡ Permen stroberi itu namanya imut, bentuknya juga imut kan~♪ Aku suka banget lihat permukaan permen yang mengkilap begini♡ Aaaah rasanya jadi beneran suasana festival banget nih~♡ Semangatku naik~♡”
Miu memamerkan permen stroberinya
pada kami dengan senang.
Sisi ininya terlihat polos dan imut.
Padahal biasanya image-nya sombong dan nyebelin...
“Lho? Miu-chan...?”
Tiba-tiba Miu disapa oleh suara
perempuan yang rasanya pernah kudengar.
Apa ya perasaan ini... suara tinggi
dan manis yang seolah keluar dari anime...
“Eh! Sana kan~! Ngapain sendirian di
sini~!”
(Tuh kan...!! Suara ini,
Tachibana-san...)
“Miu-chan, dan Kakaknya Miu-chan...!!
Sa, salam kenal... nama saya Sana. Saya sudah sering dengar cerita tentang
Kakak dari Miu-chan sebelumnya.... Tidak menyangka bisa bertemu di tempat
seperti ini!”
“Waa~♡
Sana-chan salam kenal ya! Terima kasih selalu berteman baik dengan Miu ya...♡ Seperti ceritanya, kamu imut banget sampai aku kaget lho♪”
“Iya kan~? Sana itu beneran imut tahu♪ Sana juga pakai yukata hari ini~! Yukata biru pastel, imut
banget!”
“Hehe...♡ Miu-chan dan Kakak juga, sangat cantik.”
“Fufu♡
Sana-chan pinter banget mujinya sih~♪”
Yah begitulah... pertemuan para gadis
dimulai dengan mengabaikanku, maaf banget nih menyela tapi──
“Anoo, kalian nggak lupa eksistensiku
kan??”
Jiiiii........ (menatap)
(A, apa tatapan ini...)
“Ara, Miyata-kun. Kamu bareng mereka
ternyata.”
(Hah!? Serius!? Jarak sedekat ini aku
bahkan nggak masuk ke pandangan mata Tachibana-san...!?)
“Eh? Eeeto... yah, sebenarnya aku
sudah ada di sini dari awal sih~?”
“Terus, Sana. Kenapa kamu sendirian?”
Seolah memotong suaraku, Miu bertanya
pada Tachibana-san.
(Benar juga, pakai yukata lengkap
begini, mustahil kalau dia datang sendirian...)
“Tidak... tadi saya bersama
sepupu-sepupu saya, tapi saat sadar kami sudah terpisah... Saya sudah coba
telepon dari tadi, tapi sepertinya baterai di sana habis...”
“Kenapa bisa begitu!! Sana yang
seimut ini jalan sendirian di tempat begini bahaya tahu! Kalau digoda cowok
gimana!”
“Bener tuh... cowok buaya darat
banyak berkeliaran soalnya...”
“Maksudnya orang seperti Miyata-kun?”
“Woi. Beda dong! Aku kan
mengkhawatirkanmu tahu~! Sialan!!”
“Hmm~ kalau gitu aku temenin Sana
deh! Kita cari sepupumu yuk! Boleh kan? Kakak gimana?”
“Aku sih nggak masalah...”
“Kalau gitu oke! Kalau Sana sudah
ketemu sama sepupunya nanti aku balik lagi ke sini~! Nanti aku telepon ya!”
“Miu-chan... apa tidak apa-apa?
Bersama saya... padahal ini festival yang ditunggu-tunggu...”
“Ngomong apa sih~! Jelas nggak
apa-apa dong~? Ayo Sana~! Sekalian kita cari sambil keliling kedai makanan♪”
“Uuh............ baik”
Dari pertemuan tak sengaja dengan
Tachibana-san, pembicaraan bergulir cepat, dan bagaikan badai yang berlalu,
kedua gadis itu menghilang ke dalam kerumunan festival.
“Fuh... benar-benar seperti badai...
Dan begitulah... jadinya kita berduaan deh.”
“Fufu♡
Kamu nggak suka? Berduaan sama aku~”
“Mana mungkin nggak suka, kan awalnya
memang rencananya pergi ke festival kembang api berdua.”
“Iya juga sih♪ Rasanya tadi agak rusuh ya, kita cari tempat yang tenang
buat santai yuk.”
“Boleh juga, es krim di crepe-nya
juga sebentar lagi leleh...”
Bagaimanapun juga, rencana
menghabiskan festival kembang api berdua kembali seperti semula, jadi mari kita
nikmati saja...
Kami menenangkan diri dan mencari
tempat untuk duduk berdua.
Agak jauh dari sana ada tepian sungai,
meski sedikit miring, kami menemukan ruang berumput yang terbuka dan bisa
diduduki. Di sana sudah mulai ramai dengan keluarga dan pasangan yang
duduk-duduk.
Matahari mulai terbenam, dan seluruh
area diwarnai warna jingga kemerahan.
Tepian sungai di kala senja rasanya
syahdu (emo) banget ya. Pantas saja para pasangan berkumpul di sini...
(Tapi... kembang apinya masih agak
lama lagi kan ya...? Ngobrolin apa ya sampai saat itu.)
“Ah iya, Shin-chan ingat nggak
hal-hal waktu kita kecil? Misalnya, kita main apa~, atau ngobrolin apa~ gitu.”
“Ah, hm? Ingat samar-samar sih.”
“Kalau diingat-ingat banget nggak
ingat ya...?”
“Nggak, nggak gitu juga kok.
Ngomong-ngomong... aku belum pernah bilang ini, tapi kalau dipikir sekarang,
aku ingat jelas soal Kak Momo lho. Waktu hari reuni itu juga, padahal sudah
lama banget nggak ketemu, tapi aku langsung sadar "Ah, orang ini Kak
Momo".”
“Aku juga langsung tahu lho♡ Yah walaupun, aku sering dengar cerita tentang Shin-chan
dari Miu sih...”
“Anak itu, nggak ngomong yang
aneh-aneh kan...!?”
“Nggak kok♡ Yah, paling cuma dibilangin "hati-hati dia mesum",
gitu aja sih♪ Fufu.”
“Tuh kan dibilangin yang aneh-aneh~!”
Sudah kuduga sih... tapi dibilang
mesum itu rasanya nggak terima deh.
Anak itu... seenaknya ngomong
sembarangan pas orangnya nggak ada...
“Ngomong-ngomong... kalau nggak
keberatan aku tanya, Kak Momo sekarang sendirian? Maksudnya──... punya pacar
nggak?”
(Tunggu, bisa-bisanya aku nanya
begitu tiba-tiba!! Tapi yah, ini hal yang bikin penasaran dari dulu sih...
kesempatan nanya begini jarang ada. Tapi apa terlalu agresif ya...?)
“Hm? Sekarang nggak ada lho? Setahun
ini nggak ada kayaknya. Kalau ada, aku nggak mungkin menghabiskan waktu berdua
sama Shin-chan kayak gini dong.”
“Be, benar juga... Tapi, kalau
bilangnya "sekarang", berarti dulu punya pacar kan?”
(Aah... saking semangatnya aku malah
ngomong aneh. Sial! Aku yang sekarang pasti kelihatan kayak cowok ribet...)
“Fufu♡
Kamu sepenasaran itu sama masa laluku?”
“Nggak kok! Cuma nanya iseng aja,
lagian aku bisa bayangin lah kalau Kakak punya pacar, itu hal yang wajar!
Justru aneh kalau nggak punya! Nggak mungkin ada cowok di dunia ini yang
membiarkan wanita secantik dan sebaik ini sendirian... eh...”
“Apaan tuh♡ Kamu muji aku banget nih~♡
Jadi seneng deh♡”
“Bukan, ini fakta kok!!”
Tipe kejadian di mana ngomong
sendiri, terus malu sendiri belakangan.
Rasanya pengen menghilang saja dari
sini.
“Shin-chan sendiri, punya pacar?”
“Wah, aku nggak punya! Lagian kalau
aku punya pacar, nggak boleh dong datang ke festival kembang api sama cewek
lain. Cowok yang nggak bisa menghargai satu pacarnya itu nggak bisa dimaafkan.”
“Humm............ kalau soal itu kamu
cukup serius ya...”
“I, itu hal yang wajar!!”
“Aku suka lho, orang yang bisa
menghargai dan memberikan banyak cinta seperti itu♪”
“Benarkah? Berarti, aku sudah sedikit
mendekati tipe idaman Kak Momo dong...?”
“Siaapaa tahu~, gimana ya~?♡♡”
Sambil berkata begitu, Kak Momo
menusuk-nusuk pipiku.
Apa-apaan sifat genit (azatoi) ini...
terlalu imut woy.
Aku bisa merasakan ketenangan wanita
yang lebih tua, tapi pada dasarnya aura genit/manja orang ini tidak berubah
dari dulu.
Pasti dia cuma menggodaku, tapi
bukannya merasa risih──aku malah merasa nyaman dan jadi ketagihan.
“Ah... saking asyiknya ngobrol jadi
gelap ya.”
“Benar juga, sebentar lagi kembang
apinya mulai.”
Tanpa sadar di sekeliling kami sudah
penuh dengan orang-orang yang menunggu kembang api.
Karena terlalu asyik ngobrol dengan
Kak Momo, aku sama sekali tidak sadar... matahari sudah tenggelam sepenuhnya,
dan lampu-lampu kedai menerangi sekitarnya dengan hangat.
Suasana syahdu tadi berubah, kini di
dalam kegelapan yang pas, aku merasa seolah ada ruang khusus hanya untuk kami
berdua di sana.
"Mulai sekarang, Drone Show akan
dimulai."
“Eh? Ada drone show juga ternyata...!”
Kak Momo berseru senang. Matanya
berbinar-binar sampai terlihat jelas di dalam kegelapan, membuatku yang ada di
sebelahnya jadi sedikit berdebar.
Di langit malam musim panas, cahaya
kecil warna-warni terbang ke atas.
──Sepertinya tema kali ini adalah
"Cinta yang Bersemi Samar".
Diiringi BGM yang agak sedih dan
menyentuh, pertunjukan drone dimulai.
Awalnya kupikir cuma cahaya yang
terbang di udara, tapi ternyata ada alur ceritanya, membuatku tanpa sadar
terpaku menontonnya.
“Aku baru pertama kali lihat yang
begini, indah banget ya... Apalagi, bisa menciptakan ruang seindah ini dengan
latar belakang langit itu hebat banget...”
“Indah ya... banget. (Padahal yang
kulihat cuma Kak Momo sih...)”
Akhirnya BGM menuju klimaks dan
menciptakan suasana puncak, dua hati kecil bergoyang-goyang perlahan saling
mendekat, dan akhirnya menyatu menjadi satu.
(Entah kenapa, suasananya jadi bagus
banget nih... eh... woi pasangan itu!)
Pasangan di depan kami sedang
berciuman panas.
Pasti mereka orang-orang yang terbawa
suasana ini... seolah berada di dunia lain.
Sepertinya mereka cuma melihat satu
sama lain. Biarpun aku nggak mau lihat, kalau dilakukan seterang-terangan ini
di depan umum pasti kelihatan juga...
“Rasanya... kita yang jadi malu ya...♡”
Kak Momo sepertinya juga sadar,
sambil tertawa kecil dia berbisik lembut di telingaku.
(Dekat, dekat, dekat──!! Aku lebih
malu gara-gara bisikan itu daripada lihat mereka!! Suasana apa ini... kepalaku
jadi ikutan melayang rasanya...)
“Ki, kita pura-pura nggak lihat
aja...”
“Yah mau gimana lagi ya~, suasananya
romantis begini sih~♡”
Akhirnya pertunjukan drone selesai,
dan sekeliling menjadi hening sejenak.
Bersamaan dengan BGM ceria yang mulai
mengalun, bunga besar mekar di langit malam.
────Duarr! Duar duarr!
“......!”
Kembang api yang kulihat lagi setelah
satu tahun.
Di saat orang-orang di sekitar
terpaku menatap langit──── aku justru tidak bisa melepaskan pandangan dari Kak
Momo.
Setiap kali kembang api meluncur,
profil wajah samping Kak Momo yang diterangi cahaya terlihat begitu cantik,
begitu manis... aku terpesona melihat sosoknya.
(Terlalu cantik...)
“Hei~, kamu lihat kembang apinya
nggak~?”
Tiba-tiba ditegur, aku tersadar
kembali.
“Li, lihat kok! Aku lihat beneran...
a, anoo! Ngomong-ngomong tadi aku nggak sempat bilang, tapi──”
“Hm~? Apaa~?”
Kak Momo memiringkan kepala
menatapku.
Semuanya terlihat terlalu imut...
“Harusnya aku bilang ini pas ketemu
di stasiun, tapi karena Miu marah-marah aku jadi kehilangan momen buat
bilang... anu... Kak Momo dalam balutan yukata, beneran cantik banget! Biasanya
Kakak terlihat dewasa dan keren, tapi hari ini rambutnya diikat... auranya jadi
beda... pokoknya imut banget deh!”
──Benar, hari ini rambut bob hitam
Kak Momo diikat ke belakang, dan dirapikan dengan hiasan rambut putih berbentuk
bunga. Yukata putih dengan motif bunga biru muda yang mekar lembut. Tidak
terlihat mencolok, tapi memberikan kesan wanita dewasa yang bersih dan anggun.
“Tiba-tiba muji begitu... Kalau
dipuji blak-blakan begitu... rasanya mukaku jadi panas nih... uuh.”
Sambil tersenyum "hehe",
Kak Momo menunduk sambil mengipasi wajahnya yang memerah dengan tangan.
Jarang-jarang aku melihat dia malu
begini.
Kami menatap langit, dan terdiam
sejenak.
“............Apa musim panas tahun
depan, kita bisa datang bareng lagi ya?”
“──Eh?”
Kata-kata itu bergema dalam di
hatiku.
Bahkan suara ledakan kembang api pun
kalah, kepalaku penuh dengan kata-kata itu.
“Kalau Kak Momo menginginkannya,
tahun depan, dan musim panas berikutnya lagi... kita pasti bakal bersama.”
──Ini juga suara hatiku yang jujur.
Sebenarnya, kami tidak pacaran atau
semacamnya... tapi bersama Kak Momo rasanya tenang, dan ada perasaan ingin
membangun hubungan yang lebih jauh ke depan...
Mungkin ini bisa disebut cinta.
Tapi untuk meyakininya, rasanya
perasaanku masih terlalu mengambang.
Masih dengan wajah memerah, Kak Momo
menggeser duduknya perlahan mendekat ke arahku.
"Hei, Shin-chan... kamu
pernah... ciuman nggak?"
"Ciuman...!? Ah, enggak... aku
belum... pernah."
Di depan Miu aku sok kuat dan bilang
kalau ciuman sih pernah, tapi... kenyataannya, jangankan ciuman, pegangan
tangan saja belum pernah.
Sudah kelas 3 SMA tapi belum pernah
menyentuh perempuan dengan benar... mana mungkin aku bisa bilang begitu.
Tapi, entah kenapa di depan Kak Momo
aku tidak ingin berbohong, dan malah bisa mengatakan yang sebenarnya.
Apakah ini yang dinamakan daya tarik
kedewasaan (honyou ryoku)?
"Kalau gitu, Shin-chan mau coba
ciuman?"
"Eh, sama Kak Momo?"
──Kak Momo mengangguk pelan.
"............Ya, eh anu,
ya...?"
"Mau coba?"
(......!? Mau coba katanya!?)
Kak Momo mendekatkan wajahnya seolah
ingin mengintip wajahku, dengan ekspresi yang seakan berkata dia siap kapan
saja. Rambut lembutnya yang tertiup angin membelai pipiku. Rasanya geli dan
membuatku gelisah.
Aku tidak melawan, mencoba
menyerahkan diri pada arus situasi saat ini.
Perlahan jarak kami menipis, aku bisa
merasakan hembusan napas Kak Momo di ujung hidungku.
Aroma yang sangat manis, mungkin
karena crepe stroberi yang baru saja dimakannya.
Ditanya "Boleh kan?" oleh
Kak Momo, aku mengangguk pelan.
...Dalam jarak yang antara
bersentuhan dan tidak...
──Cup♡
(......Hm!?)
"Bercanda kok♡ Kita belum punya hubungan seperti itu kan♡?"
Kak Momo menggodaku dengan wajah yang
sedikit jahil.
Tempat yang dicium adalah...
benar──── pipiku.
(A-apa-apaan sikap yang bikin salah
paham ini...!! Tapi jarak sedekat ini... ini sih sudah sama saja kayak ciuman
beneran kan...? Enggak... karena bibir tidak bersentuhan... tidak bisa disebut
ciuman ya. Tapi tetap saja, gara-gara interaksi dengan Kak Momo ini aku jadi
uring-uringan dan rasanya mau meledak. Kepalaku jadi pusing. Gawat. Begini saja
tidak cukup... tapi melakukan hal seperti ini padahal tidak pacaran itu...)
"Bibir Kak Momo, rasanya lembut
banget. Terbaik. Aku tidak menyesal."
"Hah...?"
"Kak Momo agresif banget ya...?
Padahal wajahnya imut begitu, tapi tindakannya dewasa banget... Aroma manis
stroberi yang tadi dimakan sama napas Kak Momo bikin aku rasanya mau
meleleh."
"Ngh, uuuh..."
"Kak Momo yang salah lho, pakai
cium pipiku segala. Aku, sudah nggak bisa tahan la────"
"Tu-tunggu duluuu!!"
Dengan cepat, Kak Momo menegakkan
badannya.
Dia membuat tanda silang dengan jari
di depan mulutnya... sepertinya dia sedang pasang pertahanan.
Omong-omong, orang ini kalau dipuji,
dia bakal langsung salah tingkah dan malu...
Seingatku, Miu juga mirip begini.
Aku kembali menyadari kalau
kakak-beradik itu memang mirip.
"Ki-kita kan nggak pacaran...
kalau lebih dari ini, kayaknya nggak boleh deh menurutku~..."
"Hehe! Kakak selalu menggodaku
sih, jadi sesekali aku balas dendam dong~"
"Duh... Shin-chan bodoh."
(Guh... bahkan interaksi begini saja
terasa nyaman...!! Apakah pasangan yang belum jadian (PDKT) juga menikmati hal
seperti ini?)
Saat kami berdua sedang asyik
sendiri, tanpa sadar kembang api sudah mencapai puncaknya (finale).
"Kita jadi kayak pasangan yang
ciuman di depan mata kita tadi ya... (tertawa)"
"Iya... mungkin aku terbawa
suasana di tempat itu... Duh aku kenapa sih, malu banget sampai nggak berani
lihat wajah Shin-chan..."
"Se-segitunya!?"
"Kita balik ke tempat kedai
yuk...!"
Aku mengikuti Kak Momo yang buru-buru
pergi dari tempat itu.
Mungkin karena kami terlalu asyik
sendiri dan mengabaikan kembang apinya di tengah jalan, entah kenapa terasa ada
kecanggungan di antara kami.
"Ah, aku nemu barang
bagus."
Begitu berkata demikian, Kak Momo
berlari menuju sebuah kedai.
Karena festival kembang api sudah mau
berakhir, keramaian yang tadi sudah jauh lebih tenang, dan orang-orang mulai
terlihat jarang.
Sepertinya dia berhasil membeli
barang yang diincarnya dengan mudah, Kak Momo kembali dengan berlari kecil.
Yang dipegangnya adalah────
alkohol...?
"Kak Momo... itu alkohol?"
"Eh, aah iya! Ini alkohol tapi
katanya kadarnya nggak tinggi kok♪
Penjualnya bilang ini hampir kayak jus! Tadi aku sudah tanya sama paman
penjualnya kok~♪"
"Haaah... begitu ya."
(Benar juga, orang ini kan sudah
dewasa legal. Wajar saja kalau orang dewasa minum alkohol...)
Di tempat itu juga, Kak Momo membuka
kaleng chu-hi dengan bunyi pssh, lalu mulai meminumnya dengan cukup cepat, gok
gok gok.
"Eh, tunggu! Minum secepat itu
nggak apa-apa?"
Aku refleks bertanya. Soalnya aku
sama sekali tidak tahu seberapa kuat Kak Momo terhadap alkohol.
"Nggak apa-apa kok! Aku kan
sudah dewasa, lagian aku ingin segera menghilangkan rasa malu ini."
(Ingin menghilangkan rasa malu...?
Maksudnya dia lari ke alkohol gara-gara aku...!?)
Paham, dia yang cium duluan... tapi
karena malu dia meminjam kekuatan alkohol.
Padahal yang harusnya malu itu aku.
Kalau dia tersipu malu sampai
segininya... aku jadi ikut salah tingkah.
(Lagipula kalau begini terus,
jangan-jangan dia bakal mabuk berat dan nggak bisa pulang!? Apa harus
kuhentikan──)
"Enggak, enggak, Kak Momo...?
Kalau minum sebanyak itu nanti mabuk dan jadi gawat lho──..."
"Aaaa~! Akhirnya ketemu~! Aku
sudah duga kalau tunggu di sini pasti bakal lewat~♪ Prediksiku tepat sasaran♪"
Miu memanggil dengan suara riang dan
cukup keras, sepertinya energinya masih berlebih.
Biasanya Miu muncul di waktu yang
aneh, tapi kali ini bisa dibilang timing-nya pas.
Sepertinya Miu menunggu bertiga di
sini bersama Tachibana-san dan sepupunya Tachibana-san. Mereka sedang asyik
mengobrol sambil memegang mainan khas festival yang berkelap-kelip.
"Tunggu deh! Kupikir Kakak minum
apa! Padahal nggak kuat minum, emangnya nggak apa-apa~?"
"Fufu, Miu juga khawatirnya
berlebihan ih~ Nggak apa-apa kok♪
Sekali-kali minum alkohol nggak apa-apa kan~, lagi enak perasaan jadi beli aja♪"
(Hee... Kak Momo ternyata... lemah
sama alkohol ya...)
"Yah kalau nggak apa-apa sih
syukur deh~!"
◆◇◆
Cahaya kedai kaki lima mulai menjauh,
kami sampai di stasiun dan pulang ke arah masing-masing.
"Sana, sampai ketemu di sekolah
ya~!" Miu melambaikan tangan.
Tachibana-san menundukkan kepala ke
arah kami sambil melambaikan tangan dengan wajah yang terlihat sedikit
menyayangkan perpisahan.
"Kalau begitu, mari kita pulang
juga~"
Sambil menikmati sisa-sisa suasana
festival, kami menyerahkan diri pada guncangan kereta yang penuh sesak.
Bahkan stasiun terdekat kami yang
biasanya tidak terlalu ramai, kini dipenuhi orang-orang yang pulang dari
festival.
Dan── begitu melewati gerbang tiket,
aku menyadari ada yang aneh dengan Kak Momo.
"Kak Momo...? Apa Kakak merasa
tidak enak badan? Tumben diam saja..."
"Ngh... gara-gara guncangan
kereta... sepertinya aku jadi makin, mabuk deh... rasanya
melayang-layang~"
"Tuh kan! Makanya aku bilang
juga apa!"
"Miu-chan maaf~ ayo pulang
bareng Kakak~?"
(Kupikir kenapa diam... ternyata dia
sudah berevolusi jadi pemabuk ya... Haaah. Sudah kuduga kan. Tapi, jelas ini
tidak bisa dibiarkan begitu saja.)
"Miu, aku antar sampai rumah ya.
Bahaya kalau cuma berdua di jalan malam."
"Eh boleh? Padahal udah malam
lho..."
"Masih jam 9 kok, aman."
"Makasih..."
"Hoe? Shin-chan mau ikut ke
rumah~? Hehe♡ Senangnya♡"
"Muu~! Kakak! Sadar dong!"
Aku dan Miu berjalan sambil mengapit
Kak Momo di tengah untuk menopangnya.
Sepertinya tidak sampai sempoyongan
parah, tapi gawat kalau sampai menabrak tiang listrik...
Dia memang orang yang tegas dan bisa
diandalkan, tapi sangat jarang dia melakukan kesalahan seperti ini. Yah, ini
menunjukkan sisi manusiawinya, aku tidak benci kok. Tidak ada manusia yang
sempurna di dunia ini. Insiden alkohol kali ini, kalau dia orang yang biasa
minum mungkin tidak perlu terlalu dikhawatirkan, tapi Kak Momo sepertinya tipe
yang jarang minum, ditambah lagi dia lemah alkohol... jelas harus
dikhawatirkan.
Apartemen tempat tinggal Miu tidak
terlalu jauh dari stasiun, jadi tak lama kemudian pintu masuk apartemen pun
terlihat.
"Kak Momo, sudah sampai
lho."
Miu membuka pintu dan mendudukkan Kak
Momo di genkan (pintu masuk).
Perlahan dia melepaskan bakiak (geta)
yang dipakai Kak Momo, lalu menarik tangannya untuk menuntunnya ke ruang tamu.
Melihat pemandangan yang familiar dan
mencium aroma rumah Miu, akhirnya hatiku merasa lega.
Kak Momo sepertinya sudah rileks
sepenuhnya, dia berbaring lemas (gudat) di ruang tamu.
Miu pergi ke kamarnya, sepertinya
sedang ganti baju.
"Shin-chan...? Sini deh──"
(Ada apa ya? Apa mau ke toilet?)
"Iya, aku datang... eh,
uwaah!!"
Tiba-tiba, lenganku ditarik dengan
kekuatan yang cukup besar, keseimbanganku goyah dan aku jatuh ke lantai.
Kak Momo menindihku, menatapku dari
atas.
Karena tertimpa berat badannya, aku
tidak bisa banyak bergerak.
"Bahaya tahu! Tiba-tiba narik
begitu, kalau cedera gimana...!"
Tapi, suaraku sepertinya tidak sampai
padanya, Kak Momo tampak tidak peduli dan kembali mendekatkan jarak dengan
agresif.
"Sosok Shin-chan pakai yukata...
aku sukaaaaa banget."
"Heh...?"
"Hei, bagian dada yukatanya
terbuka lebar begini... kamu lagi godain aku ya?"
"A, apa sih..."
"Hmm──...? Ah iya, sensasi
ciuman tadi, masih ingat?"
"Eh, ah, tentu saja... walau
cuma terasa di pipi, tapi aku merasakan kehangatan kulit Kakak dengan
jelas..."
"Jujur, apa yang kamu
pikirkan?"
"Aku gugup... tapi, rasanya jadi
ingin lebih... aneh ya aku ngomong begini... haha."
"Kalau gitu, mau
lanjutin............ di sini?"
Kak Momo menurunkan pandangannya ke
bibirku sambil membisikkan godaan dengan suara pelan.
Lampu ruang tamu masih mati, hanya
cahaya dari lorong yang sedikit menerangi kami.
Dibandingkan tadi, rambutnya sudah
sangat berantakan, dan kakinya mengintip dari celah yukata yang terbuka.
Mau tak mau pahanya masuk ke
pandanganku... tengkuk leher yang basah oleh keringat juga terlihat seksi...
Sementara aku berusaha mati-matian
menjaga akal sehat, Kak Momo menelusurkan ujung jarinya di leherku. Entah
kenapa dia mengelus jakunku dengan lembut menggunakan perut jarinya... lalu
melanjutkannya sampai ke tulang selangka.
(Gawat... kalau begini terus akal
sehatku bisa hila──)
"Ngh... sesak, Shin-chan, mau
bantu aku lepasin yukatanya?"
"S, serius!? Boleh
dilepasin!?"
Reaksiku saat ini sudah bisa dibilang
refleks terkondisi.
"Di sini, tolong longgarkan obi
(sabuk) ini..."
"Begini?"
"Iya, sudah melonggar... ah,
tapi kalau lebih dari ini mungkin bakal kelihatan..."
"Kita berhenti saja!! Sisanya...
tolong lakukan sendiri!!"
"Fufu♡ Kamu malu? Padahal dulu kamu sudah lihat aku pakai pakaian
dalam sampai bosan lho..."
"Itu benar, tapi situasinya
sudah beda dengan dulu!! ...Segalanya."
"Hmmm, misalnya──... bagian
ini?"
Kak Momo perlahan membuka bagian
dadanya. Belahan dada yang tampak lembut itu terekspos.
Padahal waktu pakai baju renang di
laut kemarin area yang terbuka lebih banyak... tapi kulit polos yang mengintip
dari balik yukata, di mataku terlihat jauh lebih erotis dari biasanya.
"Tunggu, aku lupa... hari ini
aku nggak pakai pakaian dalam lho."
"──HAAH!?"
"Bercanda kok♡ Katanya dulu banyak orang yang nggak pakai pakaian dalam di
balik yukata lho♡ Tapi aku pakai kok? Lihat
nih..."
Dia membukanya lebih lebar, dan
terlihatlah renda berwarna giok (jade)... i, ini cukup berisiko.
"Aaaaa! Anu! Nggak usah dikasih
lihat juga nggak apa-apa!"
"Shin-chan mesum~♡"
(............ugh!!)
Aku merasa tidak berniat macam-macam
dan cuma ngobrol biasa, tapi... kalau dilihat dari samping pasti ini situasi
yang luar biasa gawat. Situasi di mana sepertinya "sesuatu" akan
terjadi kapan saja.
────Benar, sepertinya sesuatu akan
terjadi.
Aku menyadari ada bayangan orang yang
menimpa cahaya yang bocor dari lorong.
Tapi──saat itu semuanya sudah
terlambat.
"Sebentar?"
──Bikku!! (tersentak)
Perasaan ini... sudah lama tidak
kurasakan. Hawa membunuh yang tajam menusuk punggungku dari belakang.
Tapi ini hawa membunuh yang luar
biasa tidak normal, belum pernah kualami sebelumnya.
"Shintarou, keluar."
"Eh?"
"Cepat menjauh dari
Kakak!!"
"Tung...!"
"Bodoh! Shintarou bodoh! Cepat
keluar sanaaa~!!"
Aku didorong keluar seolah diusir
paksa ke pintu depan.
Biasanya dia marah sambil bercanda,
tapi Miu hari ini memasang wajah seolah akan menangis kapan saja.
"Kenapa kamu selalu begini sih!?
Nggak bisa ya sedikit saja mikirin perasaanku!? Dasar gak peka! Mesum! Egois,
sampah! Aku benci kamu!!"
──Blam.
Dia melontarkan kata-kata dengan
kemarahan yang bahkan tidak memberiku celah untuk bernapas, lalu membanting pintu
dengan keras.
Sepatuku yang dilempar dari pintu
masuk, menggelinding sia-sia di kakiku.
"Tunggu dulu, aku... cuma
digodain sama Kak Momo kok...!!"
◆◇◆
Bahkan setelah pulang ke rumah,
ekspresi Miu saat itu tidak bisa hilang dari kepalaku.
Biasanya dia bersikap ceria, tapi
soal jarak antara aku dan Kak Momo... apa sebenarnya dia selama ini cuma sok
kuat?
Samar-samar aku tahu dari dulu kalau
dia itu cemburuan.
Waktu aku main berdua sama Kak Momo
pun dia sering marah bilang 『Kalian lupa eksistensiku ya!』, dan belakangan ini aku beberapa kali mendengar kata-kata 『Aku ditinggalin』.
Bagiku sih tidak ada niat begitu,
tapi memperlakukan kakak-beradik dengan adil itu susah... harus bagaimana ya...
Tapi, aku kan tidak pacaran dengan siapa pun, walau aku akrab dengan Kak Momo,
apa perlu dimarahi sampai segitunya?
Tidak, kesampingkan dulu alasannya,
mungkin sebaiknya aku minta maaf sepatah kata pada Miu.
Aku menatap layar ponsel sambil
mengetik pesan. Tapi, apa yang harus kukirim... jujur aku bingung setengah
mati.
"Soal yang tadi, maaf
ya..."
Tidak, tunggu dulu, aku minta maaf
soal apa?
"Kapan-kapan main lagi ke rumah
ya"
...Hmmm. Mengatakan hal yang biasanya
nggak dibilang malah bakal bikin makin aneh.
"Aah, sudahlah!!"
Aku terus mencari kata-kata yang
tepat, tapi akhirnya hari itu aku menutup ponsel tanpa mengirim apa pun.
──Keesokan paginya.
Aku mengecek ponsel untuk menghapus
rasa ganjil saat bangun tidur, tapi sesuai dugaan, tidak ada kabar dari siapa
pun.
(Canggung banget... rasanya jadi
malas pergi ke sekolah kalau begini...)
Meskipun berpikir begitu, waktu terus
berjalan tanpa ada kemajuan apa pun, dan liburan musim panas pun menuju
akhirnya.
◆◇◆
Di hari masuk sekolah, aku tidak
nafsu makan sejak pagi, dan meninggalkan rumah tanpa makan apa pun.
Seharusnya, setiap ada jadwal
sekolah, bisa dipastikan Miu akan datang ke rumahku. Dia berinisiatif begitu
demi mencegahku terlambat.
Tapi── hari ini, sosok Miu tidak ada
di mana pun.
Kebiasaan yang terus berlanjut
seperti hal yang wajar, tiba-tiba terputus begitu saja, membuatku merasakan
sedikit krisis.
Ini pasti dia masih marah, atau aku
sudah dibenci.
Dalam perjalanan ke sekolah,
langkahku terasa sangat berat. Panasnya cuaca mungkin berpengaruh sedikit...
tapi yang paling utama pasti karena masalah dengan Miu.
Sudah seminggu lebih sejak hari
festival musim panas.
Tidak pernah bertatap muka, tidak ada
satu pun kontak, pasti kami sama-sama merasa canggung...
Tapi, karena tidak mungkin
menghindari pertemuan, aku membayangkan dalam kepala bagaimana responsku saat
benar-benar bertemu Miu.
"Pagi, lama nggak ketemu
ya."
"Apa kabar?"
────Tidak, aneh. Kalau aku yang
biasanya, aku tidak akan sengaja bilang begitu ke Miu.
Kalau aku salah bicara, gimana kalau
dia masih marah? Lagian, apa aku benar-benar harus minta maaf... sampai
sekarang aku masih galau.
Seminggu ini, aku cuma mikir terus
sampai kepalaku dikuasai kecemasan. Terus berputar tanpa jawaban. Otakku
rasanya mau bug. Tapi, dalam seminggu ini, aku merasa jadi sadar betapa
besarnya keberadaan Miu bagiku. Apakah ini cuma perasaan terhadap teman masa
kecil, atau sesuatu yang lain, aku tidak tahu...
Hari di mana aku enggan pergi begini,
justru sampai di sekolah lebih cepat.
Padahal langkah kaki berat, tapi
tahu-tahu aku sudah melewati gerbang sekolah.
Begitu sampai sekolah, aku mencari
sosok Miu di mana-mana, di rak sepatu, lorong.
(Wah, ini bakal canggung banget...)
Sebisa mungkin aku berpura-pura
tenang, dan membuka pintu kelas.
──Sreeet.
(......A, ada......)
Miu sedang berdiri di depan meja
guru, mengobrol asyik dengan Tachibana-san seperti biasa.
(Canggung... ini nggak bisa
dihindari...)
Saat aku membulatkan tekad untuk
menyapanya──
"Aah~! Pagi Shintarou~♪"
"Heh? Aah, pagi...?"
Mendapat reaksi di luar dugaan, aku
menjawab dengan suara cengo (kebingungan).
"Apaan? Kok mukanya nggak puas
gitu sih~? Ah! Pasti kamu dendam ya gara-gara tadi pagi nggak aku
jemput~!"
"Nggak juga... bukan gitu
kok..."
"Hmm, terus apa dong? Ada yang
mau dibilang mungkin~"
"Apaan sih lu...!! ──Nggak,
udahlah."
Apa-apaan anak ini...!! Ini terlalu
santai nggak sih!? Jadi cuma aku doang yang galau dan mikirin ini
berhari-hari!? Aku jadi kelihatan kayak cowok menye-menye (menhera) aja!
"Hei, Shintarou hari ini agak
aneh lho~? Ah, emang biasanya aneh ya♪
Ahaha."
────!?
Nggak bisa dimaafkan...!! Padahal
sudah memperlihatkan wajah sedih begitu... dia pikir dengan perasaan seperti
apa aku menghabiskan waktu seminggu ini!
Tapi, kalau dilihat dari sisi lain,
berkat sifat Miu yang tidak pendendam (?) ini, aku jadi selamat dari masalah...
Mungkin ini ada bagusnya juga. Lagipula, ada kemungkinan juga dia cuma
berpura-pura ceria demi menjaga suasana... nggak, kalau Miu sih kayaknya nggak
mungkin begitu.
Apa pun itu, setidaknya aku lega
karena tidak memulai semester baru dengan kecanggungan──
"Woi Miyata, lu ngapain Miu-chan
lagi hah!?"
"Apaan sih Morishita... baru
ketemu kok langsung ngajak ribut."
"Aku nggak bakal maafin orang
yang nge-bully Miu-chan-ku tahu!"
"Duh~♡ Morishita-kun keren banget~♡
Tapi aku bukan milik Morishita-kun."
"Iya, Miu-chan adalah milik
saya. Para cowok harap diam."
"Iyaaa♡ Sana menang~♡ Aku miliknya Sana-chan kok~♪ Ah, ngomong-ngomong, liburan musim panas kan sudah mau
habis, gimana kalau kita bikin semacam home party buat kenang-kenangan?"
"Wah♡ Bagus tuh♡ Aku setuju dengan ide Miu-chan♡"
"Eh, itu aku boleh ikut
nggak?"
Morishita langsung menyela
pembicaraan.
"Tentu saja! Sekalian saja kita
main di rumahku yuk♪"
"R, rumah Miu-chan...!? Aku juga
boleh masuk nih!?"
Morishita yang kegirangan memajukan
badannya dan berteriak.
"Suara lu kegedean woy.
Dilihatin orang tuh..."
"Ma, maaf kelepasan..."
"Jadi gitu ya~♪ Pulang sekolah kumpul di rumahku oke♪"

Komentar
Tinggalkan Komentar