Chapter 4: Si Master Cinta yang
Introvert
──Keesokan harinya.
【Sudut Pandang Miu】
Aku Shibano Miu.
Hari ini adalah hari sekolah di
tengah liburan musim panas, hari di mana aku bisa bertemu dengannya secara
legal, jadi sejak pagi aku semangat sekali bersiap-siap menuju sekolah.
Begitu bangun, aku cek ponsel dulu
biar melek.
Aroma manis dan gurih tercium dari
arah ruang tamu yang menyatu dengan dapur, menuntunku menuju meja makan♪
Belakangan ini aku selalu sarapan
masakan Kakak, dan sepertinya hari ini menunya pancake dan yogurt buah♡ Aku benar-benar sayang Kakak yang sudah menyiapkan makanan
kesukaanku sejak pagi.
Lalu, setelah selesai makan aku sikat
gigi, cuci muka, lanjut skincare♪
Selesai pakai pelembap, aku oleskan
sunscreen dengan teliti, lalu tepuk-tepuk bedak sedikit. Rapikan alis, oleskan
lip balm warna pink tipis biar bibir lembap, dan makeup sekolah pun selesai.
Rambutku dikepang lalu diikat kuncir
dua rendah (low twin tail). Karet rambut scrunchie berbulu yang imut adalah
poin utamaku.
Pakai kaus kaki selutut (knee-high
socks) putih... lalu pakai jaket jersey tipis, dan persiapan tempur selesai!
"Aku berangkaaaat♪"
Setiap ada jadwal sekolah, aku selalu
mampir ke rumah dia dulu baru berangkat bareng.
Kenapa──karena dia itu rajanya telat.
Kalau nggak ada aku, mungkin sekarang
dia masih tidur dan nilainya bisa jeblok.
Harusnya dia lebih berterima kasih
padaku sih.
──Ceklek.
"Ah, Miu. Pagi~"
"Eh, tumben banget! Hari ini
bisa bangun sendiri~!"
"Ah, kemarin begitu pulang dari
laut aku langsung tidur sih~, bangun-bangun jam 6 pagi... habis mandi dan
siap-siap tahu-tahu udah jam segini."
"Paham banget~, kemarin emang capek
banget sih ya~. Tapi seru! Berasa banget kenangan musim panasnya♡"
"Morishita juga kayaknya seneng
banget tuh, dia bilang pengen main bareng-bareng lagi kapan-kapan."
"Hmmm, kalau aku sih? Pengennya
lebih banyak main sama Shintarou tahu..."
"Eh apa? Maksudnya gimana?"
"Bercanda kok! Cuma godain kamu
aja~"
"Apaan sih... pagi-pagi udah
semangat bener lu..."
"Hehe."
(Hmm... padahal itu suara hati
lho...)
Meskipun interaksi seperti ini makin
sering, Shintarou itu terlalu gak peka, dia sama sekali nggak sadar perasaanku.
Yah, cuma teman masa kecil sih... mana mungkin dia mikir kalau aku suka sama
Shintarou... sedikit pun nggak bakal terpikir kali ya.
Biarpun begitu... perasaan suka sama
Shintarou ini juga baru tumbuh belakangan ini sih...
Hari di mana Kakak dan Shintarou
bertemu kembali.
Aku ingat betul ada rasa ganjil yang
jelas di hatiku.
Mereka berdua malu-malu tapi
kelihatan senang banget bisa ketemu lagi setelah sekian lama, dan melihat itu
aku merasa... seperti ditinggalkan.
Di sana, rasanya seolah ada dunia
yang cuma milik mereka berdua yang nggak aku ketahui.
...Nggak mungkin lah ya, haha.
Mungkin... ini yang namanya cemburu.
Secara logika aku tahu ini perasaan yang nggak baik, tapi walaupun kepala
mengerti, bagaimana hati merasakannya itu beda cerita kalau belum dialami
sendiri di tempat kejadian.
Hanya saja, setiap kali teringat
wajah senang Shintarou waktu itu, jantungku terasa nyeri.
Rasanya Shintarou yang aku kenal
bakal menghilang dari sisiku... kalau dibilang 'direbut Kakak' sih agak
berlebihan ya... tapi kurang lebih rasanya seperti itu.
Jadi begitulah, sejak hari itu aku
sadar kalau mungkin aku suka sama Shintarou.
"Kalau nggak cepet-cepet nanti
telat lho~! Duluan ya~!"
(Fuh... hari ini sampai di sekolah
dengan santai♪ Tapi waktunya masih sisa banyak
nih...)
Begitu masuk kelas, ada satu cewek
yang langsung menyapaku seolah sudah menungguku... namanya Tachibana Sana.
Walau baru sekelas tahun ini... entah
kenapa tiba-tiba dia nempel banget sama aku.
Dibilang 'nempel' mungkin agak kasar
ya, tapi dia beneran melilitkan tangannya di lenganku terus, rasanya hampir
setiap jam istirahat kami nempel terus. Yah, bukan berarti aku benci atau
gimana, justru dia imut sih... tapi kadang pengen juga dia agak menjauh
sedikit...? Ada kalanya aku mikir begitu.
"Miu-chan, selamat pagi♪"
"Sana~! Pagi♪ A-ano, maaf nih baru datang langsung ngomong gini, tapi
kalau nempel gitu agak panas lho...? Apalagi aku baru sampai dan masih
keringetan, kalau bisa agak jauhan dikit, bakal ngebantu banget nih...?"
"Aku sama sekali nggak masalah
kok! Jangan dipikirin♪ Aku seneng banget bisa ketemu
Miu-chan♡ Hari ini bakal jadi hari yang indah deh♡"
"A, ah beneran...? Syukurlah
kalau gitu~ hehe..."
"Ngomong-ngomong... Miu-chan,
liburan musim panas ngapain aja?"
"Hmm? Kemarin aku pergi ke laut lho~,
ah, sama dia tuh yang di sana~"
"Dia...? Aah, Miyata-kun
ya."
Sana yang tadi senyum-senyum,
langsung berubah ekspresinya begitu aku sebut nama Shintarou.
──Benar, Sana sepertinya nggak suka
sama Shintarou. Atau lebih tepatnya... mungkin benci.
Aku nggak tahu alasannya kenapa, tapi
setiap kali ngomongin Shintarou, ekspresinya berubah sedikit.
Wajahnya yang jadi cemberut (mueh)
itu agak lucu sih.
"Jangan-jangan, kalian pergi ke
laut berdua saja?"
"Mana mungkin! Ada Kakak juga
kok~, bahkan Morishita-kun juga ikut!"
"Hee............"
"Hn!? Manggil!? Miu-chan!
Barusan manggil aku kan!?"
Entah dia nguping atau gimana,
Morishita-kun langsung nyamber dengan respon cepat.
Dia emang agak aneh ya. Tapi kalau
bareng dia seru dan asyik sih...♪
"Kalian ngumpul ngapain nih~!
Ikutan dong~"
"Waw. Saya nggak manggil
Miyata-kun kok! Tolong pergi sana."
Sana menatap Shintarou dengan mata
tajam (jitome) penuh kewaspadaan.
"Eeh!? Tachibana-san~, kok sama
aku doang dingin banget sih~!"
"Pokoknya gitu!! Lagian, saya
nggak bermaksud dingin kok."
"Ahaha, lucu. Kamu dibenci sama
Sana tahu~"
"Kenaaaapa~? Padahal aku nggak
ngapa-ngapain lho~!"
Yah begitulah............ Aku dan
Sana, Shintarou dan Morishita-kun. Geng biasa di sekolah kira-kira begini...
Karena isinya orang-orang ribut,
kehidupan sekolah jadi nggak membosankan dan rasanya lumayan memuaskan.
"Oh iya, Miu-chan. Sekarang ada
waktu nggak? Saya diminta tolong sama guru..."
"Hmm? Boleh~ aku bantu apa aja
kok."
"Beneran?♡ Saya suka banget sisi Miu-chan yang baik hati begitu♡"
"Ahaha... berlebihan deh...
terus, mau ngapain?"
"Ini."
Sambil bilang "yoisho",
Sana mengangkat tumpukan buku di meja yang kelihatannya berat.
"Aku bawain setengah ya."
"Eh, Miu-chan... Terima kasih
banyak."
(Sana kelihatan seneng banget...
matanya berbinar-binar, imut♪ Aku berbuat baik nih~)
Lalu kami berdua meninggalkan kelas
menuju perpustakaan, tempat tujuan tugas tersebut.
Sepertinya guru minta tolong untuk
mengembalikan beberapa buku ke perpustakaan.
"Ngomong-ngomong, kenapa Sana
benci sama Shintarou?"
"Eh... enggak kok... bukan benci
atau gimana... Cuma..."
"...Cuma?"
"Jaraknya sama Miu-chan itu
terlalu dekat, dilihat dari sisiku dia itu sangat sok akrab (narenareshii).
Sama cewek tuh nggak ada sopan santunnya (delicacy) sama sekali, kurang peka
juga..."
"...Fufu. Ahaha haha."
"...Eh?"
"Tapi Shintarou emang gitu lho?
Kami kan teman masa kecil sejak bayi haha. Makanya mungkin jaraknya agak dekat,
atau kelihatan sok akrab kali ya...?"
"Eh... gitu ya... Malunya...
sepertinya saya salah paham... anu, saya pikir kalian itu pacaran atau semacam
hubungan yang dekat kayak gitu..."
"Lucu banget haha. Nggak mungkin
lah!"
"Apaan... syukurlah♪"
Sana memelukku dengan senyum paling
lebar yang pernah kulihat darinya.
"Waah, bahaya lho! Hampir aja
bukunya jatuh tahu~!"
"Hehe♡ Saya seneng banget sekarang♪"
Nggak tahu kenapa, tapi sepertinya
salah pahamnya sudah lurus, syukurlah... (?)
Tapi, sepertinya dia nggak sadar
kalau aku suka sama Shintarou.
Aku juga nggak berniat cerita sendiri
sih.
"Fuh... akhirnya sampai juga
ya."
"Buku ini lumayan berat, capek
juga~"
Mungkin karena masih pagi, di
perpustakaan belum ada siapa-siapa.
Cahaya matahari yang masuk dari
jendela terasa nyaman, menyinari rak buku dan lantai kayu dengan berkilauan.
(Jarang ke perpustakaan, jadi nggak
tahu apa ada di mana nih...)
"Buku ini, ditaruh di
mana?"
"Ah, biar saya saja yang
kembalikan, Miu-chan duduk istirahat saja."
"Gitu... terus, ini balikin ke
mana?"
"Aah, etto... itu, di rak
sebelah sana yang paling atas, tapi bahaya jadi biar saya saja..."
"Nggak apa-apa kok. Kalau soal
saraf motorik aku lebih bagus kan~♪
Biar aku balikin ya."
Aku mengambil buku yang dipegang
Sana, lalu menuju ke tempat rak buku itu berada.
Aku menarik bangku pijakan kayu ke
dekat situ, dan naik dengan hati-hati.
"Miu-chan, hati-hati ya...
pijakannya nggak rata soalnya..."
"Nggak apa-apa kok~! Nggak
mungkin jatuh lah? Pijakan ini juga lumayan kokoh kok! Ya ampun, Sana beneran
khawatir banget sih."
Setelah mengembalikan beberapa buku
ke tempat semula, aku membalas senyumannya sambil melihat Sana dari atas bangku
pijakan.
"Anu... satu lagi..."
"Hm?"
"Dari tadi, celana dalam
Miu-chan... sepertinya kelihatan lho..."
"Apaan sih haha. Kirain
khawatirin apa! Malah curi-curi pandang celana dalamku, lucu banget haha."
Memang sih, aku tahu kalau naik
bangku setinggi ini orang di bawah pasti bisa lihat isi rokku, tapi karena
bukan lawan jenis, aku pikir nggak perlu dipikirin dan bersikap biasa saja.
Ternyata diperhatikan lekat-lekat begitu, jadi agak lucu.
"A-apa tidak malu??"
"Sesama cewek ini? Nggak malu
sama sekali kok~♪ Nih lihat♡ Hari ini aku pakai renda putih lho~! Biasanya sih aku lebih
suka yang sporty. Imut kan? Sana suka yang kayak gimana? Aku sih suka yang
simpel!"
Sudah biasa bagiku pergi beli pakaian
dalam bareng teman, atau saling pamer desain yang lucu sama Kakak, jadi aku
tanpa ragu menyingkap rok dan memamerkan pakaian dalamku, membuat Sana
kebingungan.
"Wa, saya... pink biasa... atau
semacamnya......"
"Hee~♪ Sukanya yang tipe imut ya? Sesuai dugaan sih♡ ...Eh, nggak apa-apa? Muka sama telingamu merah banget
lho?"
"I-itu karena Miu-chan tiba-tiba...
pamer celana dalam begitu!!"
Sana menggembungkan pipinya, agak
sedikit marah.
Aku jadi ingin sedikit menggodanya,
jadi aku cubit pipinya yang munyu.
"Sana itu mochi-mochi (kenyal),
rasanya imut banget deh♡ Kayak maskot karakter kecil yang puni-puni
(empuk) gitu lho♡"
Sana itu, walau nggak sampai kayak
adik sendiri, tapi keberadaannya nggak bisa dibenci dan entah kenapa bikin
ingin melindungi.
(Dilihat dari sesama cewek pun seimut ini. Cewek kayak gini nih yang pasti paling populer~)
"Tu-tunggu, Miu-chan, tolong
lepaskan tanganmu..."
"Ups, maaf maaf haha. Habisnya
enak banget sih dipegang~"
"Muh."
"Ahaha♪ Kalau begitu ayo kita kembali ke kelas♪"
Sambil mengobrolkan hal-hal remeh
kami kembali ke kelas, dan tepat saat itu bel berbunyi, menandakan apel pagi
akan segera dimulai.
"Miu-chan."
Sana berbisik pelan padaku.
"Ada apa?"
"Sepulang sekolah nanti, mau
main nggak?"
"Tumben banget...! Boleh! Mau
main apa?"
"Rencananya hari ini saya mau
memanggang pound cake... kalau Miu-chan mau, datanglah untuk memakannya♪"
"Eh~♡ Kue buatan sendiri, jadi pengen~♡"
Aku yang gampang terpancing oleh
makanan manis langsung mengirimkan tanda OK pada Sana dengan mata
berbinar-binar.
Wali kelas yang melihat semua itu
dari meja guru menegur kami, "Sudah cukup, lanjutkan nanti saja,"
jadi kami berjanji dengan suara pelan, "Nanti lagi ya," dan homeroom
pagi pun dimulai.
◆◇◆
Karena ini hari sekolah di tengah
masa liburan, agendanya hanya pengumpulan tugas, pelajaran singkat, dan
pengarahan tentang cara menghabiskan liburan musim panas, jadi kami sudah
dipulangkan sebelum siang hari.
Setelah pulang ke rumah sebentar, aku
berganti pakaian bebas dan bersiap-siap.
"Miu-chan, selamat datang
kembali~♡ Ara~? Baru saja pulang kok... mau pergi lagi?"
Ada Kakak di ruang tamu. Sepertinya
dia sedang duduk di sofa menonton drama. Kakak juga sepertinya tidak ada
rencana apa-apa siang ini, jadi dia mendekatiku dengan wajah agak kesepian
sambil bertanya mau ke mana.
"Ada teman sekelas yang akrab
sama aku, namanya Sana, aku mau main ke rumahnya~♪"
"Begitu ya♪ Ah! Kalau begitu bawa ini!"
Benda yang diserahkan padaku adalah
sekotak aneka kue kering (cookies) dalam kemasan yang imut.
"Miu-chan suka kue kering dari
toko kue ini kan? Tadi Kakak baru beli lho♪
Mumpung ada kesempatan, makan bareng sama Sana-chan ya♪"
"Eeeh baik banget~, makasih
Kakak~"
Kakak yang selalu memikirkanku
seperti ini, biarpun cuma pergi sebentar, pasti membelikan sesuatu untukku. Dia
ingat apa yang aku suka, dan memprioritaskan aku dibanding dirinya sendiri,
tidak ada satu pun yang berubah sejak dulu... Karena dia terlalu
memprioritaskanku, kadang aku jadi khawatir juga sih... tapi aku malah jadi
cenderung manja padanya.
Masakan buatan Kakak, kue buatan
Kakak, aku benar-benar sangat menyukainya.
"Kalau gitu, aku
berangkat!"
"Hati-hati ya! Kalau pulangnya
sampai gelap, kabari ya biar Kakak jemput?"
"Tenang aja kok~♪ Berangkaat!"
Aku berjalan ke stasiun terdekat
seperti biasa. Sepertinya rumah Sana ada di dua stasiun dari sini.
Bagaimanapun juga, ini pertama
kalinya aku main ke rumahnya. Mungkin karena aku sedikit gugup, tanpa sadar
sambil melamun, tahu-tahu aku sudah sampai di stasiun tempat Sana menunggu.
"Miu-chan!"
Terdengar suara Sana.
"Nggak nyasar kan? Nggak apa-apa
kan!?"
"Apaan sih! Nggak apa-apa kok!
Haha. Naik kereta doang mah gampang kali~♪"
"Syukurlah~"
Sambil menghela napas lega, Sana
menatapku dengan wajah tenang.
Gaun terusan (one piece) putih yang
terlihat anggun (seiso), dengan luaran bahan sifon yang mengembang lembut. Tas
kecil berwarna cokelat yang diselempangkan, dia menyambutku dengan pakaian imut
yang 'Sana banget'.
(Ngomong-ngomong, rasanya baru
pertama kali ini aku lihat baju bebasnya Sana...!)
Biasanya dia pakai seragam sekolah
yang dilapisi summer knit tipis berwarna biru. Sepanas apa pun musim panas, dia
bersikeras tidak melepas lengan panjangnya. Alasannya katanya karena tidak mau
kulitnya terbakar matahari. Kalau dipikir-pikir, kulit Sana itu sangat putih
dan bening sampai-sampai aku berpikir jangan-jangan dia bercahaya dari dalam.
Rambut semi-long warna cokelat chestnut yang terlihat lembut, dirapikan dengan
bando pita putih yang manis.
Sebenarnya bando ini. Itu kado ulang
tahun dariku, dan begitu aku berikan di sekolah, dia langsung memakainya dengan
senang hati di tempat itu juga. Sejak hari itu, tak pernah absen sehari pun,
dia selalu memakainya setiap saat, sampai-sampai bando itu mulai jadi ciri khas
Sana.
"Sana, waktu pakai baju bebas
pun, bandonya dipakai ya...!"
"Tentu saja♪ Ini kan barang berharga pemberian Miu-chan♪"
"Hehe, senangnya! Konon anak
yang bisa menghargai barang, berarti bisa menghargai orang lain juga lho♪ Sana pasti anak yang baik♪"
"Iya... Miu-chan adalah orang
yang sangat berharga...♪"
Sifat Sana yang jujur dan lurus itu
sangat imut, membuatku tanpa sadar tersenyum lebar.
Sana itu tidak bermuka dua, kalau
suka bilang suka, kalau tidak ya tidak, karena dia tegas begitu makanya aku
bisa bergaul dengannya tanpa perlu merasa sungkan.
Tanpa sadar, kami sudah melangkah
masuk ke area perumahan yang tenang. Deretan rumah yang tampak baru berjajar di
jalanan yang tertata rapi.
"Berapa jauh lagi...?"
"Sudah sampai♪ Di sini."
"Eh... ini rumah Sana...?"
Simpel, tapi jelas sekali itu rumah
orang kaya... Ngomong-ngomong kalau tidak salah ibunya Sana itu pengusaha atau
apa gitu... waktu dibilang begitu sih aku nggak terlalu paham, tapi begitu
melihat rumah megah di depan mata begini, rasanya jadi masuk akal.
"Silakan, Miu-chan."
Begitu pintu depan terbuka, aroma
manis kue panggang langsung tercium, mengingatkanku pada apa yang dibilang Sana
di sekolah tadi.
"Ah, Miu-chan... baru sadar ya?
Fufu♡"
"Ini, aroma pound cake yang katanya
mau Sana panggang hari ini kan? Manis dan wangi banget~♡ Belum makan aja udah bahagia rasanya♡"
Karena Kakak sering membuatkan kue,
aku jadi suka banget sama aroma manis kue panggang yang memenuhi ruangan. Aroma
favorit yang bikin perasaan jadi deg-degan bahagia seolah sedang berada di toko
kue.
"Saya menyiapkannya agar pas
matang saat Miu-chan tiba, jadi ini fresh from the oven lho♪"
"Nghhh~♡ Bahagia banget~♡
Sana makasih bangeet~♡"
Saat kami sedang heboh sendiri di
pintu masuk──
"Selamat datang♡ Jangan ngobrol di situ dong, ayo silakan masuk."
──Seorang wanita yang luar biasa
anggun dan cantik muncul...
(Jangan-jangan... orang ini ibunya
Sana...!?)
Rambut cokelat chestnut yang diikat
satu, gaun terusan ketat, dan kalung mungil yang terlihat di lehernya yang
jenjang dan ramping. Wajah yang proporsional, dengan riasan natural yang sangat
cocok. Aura anggun dan feminin Sana itu sepertinya turunan langsung dari
ibunya... Tapi ngomong-ngomong, dia terlalu cantik, sampai-sampai kalau
dibilang kakaknya pun orang bakal percaya...
"Sana, Ibu berangkat kerja dulu
ya, sisanya Ibu serahkan padamu♪ Ibu pulang nanti malam ya."
"Ya♪ Hati-hati di jalan!"
"Miu-chan juga, santai saja ya
di sini."
"Eh, nama saya... Ah, terima
kasih Tante! Permisi."
"Fufu♡ Ibu selalu dengar cerita dari Sana, jadi Ibu tahu soal
Miu-chan kok♪ Terima kasih ya sudah berteman baik
dengan Sana. Sana itu ya, setiap kali cerita soal Miu-chan..."
"I, Ibu! Sudah paham kan! Cepat
berangkat sana!"
Sana mengantar ibunya dengan wajah
agak malu. Atau lebih tepatnya, dia setengah memaksa mendorong ibunya keluar
dari pintu depan.
Dan begitu aku dipersilakan masuk ke
ruang tamu, aku reflek mematung.
────Luaaas!!
(Lebih dari dua kali lipat
rumahku~!!)
Ruang tamu dengan langit-langit
tinggi itu dilengkapi TV besar dan tanaman hias yang indah, interior ruangannya
memiliki paduan warna lembut yang serasi secara keseluruhan, dilihat dari mana
pun, simpel tapi stylish. Aku kagum banget sama rumah begini...
Aku duduk menunggu di sofa berwarna
beige pucat. Bahkan bantal sofa yang ada di situ semuanya imut.
Saat aku melirik, terlihat sosok Sana
yang sedang berhati-hati membawa cangkir dan piring di atas nampan. Entah
kenapa... sosok Sana yang sangat "cewek banget" itu membuatku sedikit
berdebar meski aku sesama perempuan.
"Maaf menunggu."
Sana kembali dengan senyum senang.
Cangkir teh yang manis, dan selembar
irisan lemon mengapung di atas teh.
Di piring tersaji pound cake yang
baru matang, lengkap dengan krim kocok (whipped cream) yang ditaruh dengan
lembut di sampingnya, kelihatan enak banget...
"Saya tidak tahu apakah sesuai
dengan selera Miu-chan atau tidak..."
Kata Sana dengan ekspresi agak cemas.
Padahal kelihatannya seenak ini, nggak mungkin nggak enak lah.
Aku menyuapkan satu potong pound cake
yang disodorkan itu ke mulutku dan────
"Nyam nyam... Mmmmh!? Enaaaak bangeeet
tahu!!♡"
"Benarkah!? Syukurlah~~♡ (nangis)"
"Ini, matcha ya? Benar kan!
Pound cake matcha~!"
"Iya♡ Sepertinya dulu Miu-chan pernah bilang suka matcha... a-ah,
terus! Waktu kita ke kafe bareng sebelumnya, saya ingat Miu-chan pesan frappe
matcha, jadi..."
"Apaan sih seneng banget
dengernya~♡ (nangis) Hal-hal remeh yang diingat
begitu tuh rasanya penuh cinta tahu."
"Hehe...♡ Saya tidak menyangka Miu-chan akan sesenang ini... Saya juga
jadi senang♪ Eh... a, araa? Sudah habis dimakan
semua...? Fufu. Kalau mau, silakan makan punya saya juga."
Sana tertawa bahagia melihatku yang
memompa pipi penuh dengan kue.
"Melihat sosok Miu-chan makan
dengan lahap begitu, saya jadi bahagia♪
Hari ini hari yang indah~♪"
"Ah, iya! Ini...! Kakak
memberiku kue kering buat dimakan bareng! Sana juga silakan♪"
"Wah, senangnya♪ Kapan-kapan saya ingin bertemu kakaknya Miu-chan juga."
"Main aja ke rumah kapan pun
boleh kok. Kakak juga pasti senang."
Pound cake dan kue keringnya
dua-duanya enak, bikin puas banget. Sudah lewat jam makan siang, bisa makan
manisan buatan sendiri yang seenak ini di rumah saat perut mulai lapar, ini sih
kemewahan tingkat tinggi ya...
"Hah... beneran enak banget!
Puas banget♪ Terima kasih makanannya♪"
Sambil aku menghabiskan teh dan
bersantai sejenak, Sana membereskan semuanya dengan cekatan.
"Ah, makasih ya buat semuanya.
Ada yang bisa kubantu nggak?"
"Tidak usah♪ Beres-beresnya sudah selesai, Miu-chan santai saja♪"
"Hei, aku kayaknya pengen lihat
kamar Sana deh!"
"Ka, ka, kamar saya!?"
"Heem♪"
"Kamar saya ya... ini sedikit di
luar dugaan..."
"Eh, kenapa?"
"Hmm, apa pun yang ada di sana,
Miu-chan tidak akan kaget kan?"
"Yap, aku pede banget nggak
bakal kaget!"
(Jangan-jangan rencananya cuma ngeteh
di ruang tamu ya... apa aku salah ngomong...?)
"Kalau begitu mari kita ke
sana!"
Dengan ekspresi bulat tekad, Sana
bangkit dari sofa.
◆◇◆
Kami keluar dari ruang tamu dan
pindah ke lantai 2. Lalu,
Akhirnya tangannya memegang gagang
pintu, dan saat pintu itu terbuka────
"............!? A, apa
iniiiiiiiiiieeee!!"
"Aaaah~! Kan sudah bilang tidak
akan kaget!! Hueee~"
Kamar yang muncul di depan mata
ternyata... adalah apa yang disebut kamar Otaku.
Salah satu sisi dinding penuh
ditempeli poster gadis-gadis cantik yang agak ecchi (seksi), dan di lemari kaca
besar berjejer figure. Bukan cuma satu atau dua, sekilas saja ada lebih dari
sepuluh... Mulai dari karakter anime terkenal, sampai karakter mungil yang
lucu, bermacam-macam. Aku nggak tahu itu karakter apa, tapi boneka, gantungan
kunci, acrylic stand dari karakter yang sama berjejer padat memenuhi tempat.
Di meja yang ada di sudut ruangan terpasang
tiga monitor, rasanya suasananya pernah kulihat di suatu tempat...
(Ah, ini pemandangan yang sama kayak
di kamar Shintarou! Berarti, Sana juga main game ya...?)
Interiornya serba putih dan pink, dan
karena barangnya banyak banget sekilas mungkin terlihat berantakan, tapi
sepertinya setiap barang dirawat dengan baik, kebersihannya terjaga, rasanya
sangat... penuh cinta. Seluruh ruangan terasa segar tapi diselimuti aroma manis
yang lembut, kamar ini tak diragukan lagi adalah ruang penyembuhan yang penuh
dengan dedikasi Sana.
──Sementara itu, Sana...
Dengan wajah tegang, dia mengepalkan
kedua tangannya dan menatapku lekat-lekat.
(Pasti ini wajah ketakutan karena
mikir bakal dibilangin yang enggak-enggak... Imutnya haha. Kagetin dikit ah...)
"Sana... kamar
ini............"
"...Iya!! Saya mengerti! Kamar
otaku seperti ini, pasti menjiji──"
"Imuuuut bangeeet tahu!!"
"Hyaaa!?"
"Aku tuh beneran kagum sama
kamar yang isinya hal-hal yang disukai begini! Habisnya aku kan nggak terlalu
punya hobi, bisa dibilang agak kasar dan asal-asalan... nggak ngerti soal
interior juga... makanya aku makin kagum!!"
"Te, te terima kasih..."
Mungkin karena mendapat respon yang
tak terduga, Sana tersenyum malu dengan wajah lega (bengong).
"Rasanya... tidak menyangka...
ternyata bisa diterima..."
"Masa? Justru emang ada orang
yang nggak bisa nerima? Nggak ada yang lebih sedih daripada hobi kita nggak
dipahami orang lain, kan? Yah, mungkin tiap orang beda-beda sih, tapi aku suka
banget selera Sana! Aku jadi pengen tahu lebih banyak! Entah itu soal
karakter-karakter ini, atau soal Sana juga, aku pengen tahu lebih banyak!"
"...Uuh... hiks (nangis)"
"Lho, kenapa nangis!?"
"Habisnya... otaku seperti saya,
biasanya tidak dipahami orang umum, satu-satunya yang memahami saya cuma Ibu...
jadi saya senang sekali... hiks"
"Ahaha♡ Sana beneran imut ya♪"
"Hehe...♡"
Saat sedang mengobrol begitu, ada
sesuatu yang menarik perhatianku.
Sebuah furnitur besar seperti rak
berwarna putih bersih yang dipasang memenuhi salah satu sisi dinding.
Karena ada pintunya, sekilas tidak
kelihatan isinya apa.
"Sana, ini apaa? Di sini juga
isinya banyak goods (pernak-pernik)?"
"Ah, etto... itu rak buku."
"Hee... boleh kulihat
isinya?"
"Iya♪ M, mungkin Miu-chan akan sedikit kaget..."
Sambil melirik Sana yang kembali
memasang wajah tegang, aku menyentuh benda yang disebut "rak buku"
itu.
Saat aku menggeser pintu yang agak
berat itu, di hadapanku────
"Gila... ini semua
komik...?"
"Iya♡ Bukan hanya komik, tapi juga ada novel dan sebagainya."
Hmph! Sana membusungkan dada dengan
bangga.
Banyaknya buku itu... dilihat sekilas
saja sepertinya ada lebih dari 1000 jilid... tidak, mungkin lebih... Aku dipenuhi
rasa antusias seperti sedang main ke Internet Cafe melihat pemandangan yang
baru pertama kali kulihat ini.
"Hei! Boleh aku lihat-lihat
sebentar? Sebenarnya aku juga baru-baru ini mulai baca komik cewek (shoujo
manga) lho! Pas coba nonton animenya ternyata lumayan seru, jadi ketagihan
lebih dari dugaan~♪ Walau nggak terlalu paham detailnya
sih."
"Benarkah itu!? Kalau tidak
keberatan, tanyakan apa saja pada saya♡ Ah,
tapi genre yang saya suka mungkin agak berat sebelah sih............
hmmm."
Saat aku melihat komik di rak satu
per satu sambil mendengarkan ocehan otaku Sana... tiba-tiba aku menyadari
sesuatu.
"Hei, Sana. Soal komik ini, yang
ini dan yang ini juga, apa temanya percintaan sesama perempuan? Ilustrasi
sampul dan suasananya kayaknya mengarah ke situ banget."
"Y, ya! Sebagian besar, atau
lebih tepatnya hampir semua... saya mengoleksi komik dan novel yang bertema
percintaan sesama perempuan! Makanya anu... seperti yang saya bilang tadi,
genrenya berat sebelah."
"Hee~♪ Genre yang belum pernah kusentuh nih♪ Tapi ilustrasi gadis di sampul ini, imut bangeet~! Wah! Anak
di komik yang ini juga keren, kayaknya tipeku deh~♡! Cewek ganteng (ikemen joshi) itu populer juga kan di
kalangan cewek! Kayak kakak kelas di klub gitu, aku suka banget yang kayak
gitu!"
"Begitu ya... suka cewek
ganteng...? Hmm hmm. Kebalikan dari penampilan saya ya... hmmm."
"Hm...? Ngomongin apa?"
"Ah tidak, ini bicara soal
survei."
"Aneh banget sih♪"
"Kembali ke topik, apa Miu-chan
tahu genre seperti ini disebut apa?"
"Eh nggak tahu! Cinta
cewek...?"
"Hehe♡ Istilah yang imut ya♪
Karya yang menggambarkan hubungan sesama perempuan seperti ini disebut dengan
istilah 'Yuri'! Jadi, komik dan novel yang saya miliki ini, disebut 'Komik
Yuri, Novel Yuri' dan sebagainya!"
"Hee~! Jadi belajar hal baru!
Bunga lili (yuri) itu kan cantik banget ya♡ Apa
asalnya dari situ ya...? Hei! Pintu yang sebelah sini boleh dibuka juga
nggak?"
"Awawa! Yang sebelah situ
mungkin agak terlalu cepat buat Miu-chan...! Gimana ya bilangnya..."
"Apaan sih~ dibilang terlalu
cepat itu maksudnya apa~? Mau bilang kalau aku masih bocah~? Muu—"
"Bukan... bukan begitu
maksudnya..."
"Kalau gitu boleh lihat
kan?"
"Saya sih tidak masalah... tapi
Miu-chan... Miu-chan itu anu..."
Karena Sana menahan-nahanku begitu,
aku jadi makin penasaran tak tertahankan.
Dengan rasa ingin tahu yang
meluap-luap, aku menggeser rak buku mengincar komik yang "tidur"
lebih dalam di sana.
Sebenarnya aku sudah menduga-duga
sih, tapi komik-komik yang seolah disembunyikan di bagian dalam itu jauh
melebihi imajinasiku──
"Terlalu ecchi (seksi)..."
Mataku terpaku pada komik-komik yang
suasananya beda banget sama yang tadi.
Baru lihat sampulnya saja sudah bikin
deg-degan, ilustrasi gadis-gadis cantik... Judul yang menggoda...
"Succubus Manis dan ××× Kental yang Meleleh" atau "Kisah Dibuat
Meleleh Sampai Lumer oleh Kakak Perempuan yang Lebih Tua" dan sebagainya,
rasa ingin tahu yang tak terbendung menuju dunia yang makin tak dikenal.
"Bo, boleh lihat nggak...
yang... kakak perempuan ini..."
"Waaah♡ Selera yang bagus♡
Itu, beneran terbaik lho♡ Silakan silakan♡ Silakan ambil dan baca saja♡"
Sana menyodorkan komik ke tanganku
dengan gaya bicara seperti pegawai toko buku.
Sana juga kelihatannya senang
banget...
Aku duduk bersandar di pinggir kasur
Sana.
Begitu melihat sampul komik yang
diserahkan itu, rasanya seperti sedang melakukan hal yang tidak boleh
dilakukan... ketegangan aneh menjalar.
──Akhirnya saatnya melangkah ke dunia
yang tak dikenal...
Saat kucoba buka halamannya
pelan-pelan, muncul ilustrasi kakak perempuan yang sedang tidur menemani dengan
hanya memakai pakaian dalam.
(Dada kakak ini besar banget ya...
rambut hitam juga... rasanya suasananya mirip sama Kakakku...)
Percakapan sehari-hari mengalir, dan
tak lama kemudian adegan "itu" antara sesama perempuan muncul.
Setiap kali lanjut membaca, aku
merasa wajahku memanas... tapi tanganku tak bisa berhenti membalik halaman.
Melihatku yang seperti itu, Sana
tiba-tiba──
"I, iya! Hari ini sampai di sini
dulu!"
"Hah? Kenaapa~!? Aku masih baca
tahu~"
"Melihat Miu-chan baca komik
sambil wajah dan telinganya merah padam begitu, saya yang jadi malu sendiri
nih... Jika, jika ingin lihat saya pinjamkan, jadi bacalah di rumah...
Mumu."
"Di, dipinjamkan sih nggak
usah...! Kalau ketahuan Kakak lagi baca ini malu banget... Yang begini tuh ya,
justru makin seru kalau dibaca diam-diam di rumah teman tahu~♡"
"B, begitu ya..."
Lalu keheningan misterius berlanjut
sejenak, sampai Sana membuka mulut.
"Miu-chan, apa punya... orang
yang disukai?"
"Eh, tiba-tiba!? Hmm, gimana
ya... kalau disuruh bilang sih, kayaknya nggak ada..."
"Nggak ada... ya."
"Heem, kalau Sana?"
"Etto, saya? Bagaimana ya...
saya tidak tahu..."
"Maksudnya? Nggak tahu suka atau
enggak?"
"Hehe... yah, begitulah
kira-kira."
"Aneh banget sih~
(tertawa)"
Mungkin cuma perasaanku saja, tapi
aku merasa ekspresi Sana mendung sesaat.
"Ah iya, Miu-chan. Mau saya
ajarkan cara pendekatan (approach) ke orang yang disukai♡?"
"Cara pendekatan...? Enggak,
anu... nggak usah deh..."
"Fufu♡ Miu-chan, apa kamu malu? Sebenarnya begini-begini saya ini,
adalah master cinta yang cukup ahli lho♡
Walaupun yah, saya belum pernah pacaran sama siapa pun sih... jadi cuma sebutan
sendiri..."
Baru saja matanya membentuk simbol
hati kecil, wajahnya langsung berubah bangga tak terbayangkan dari ekspresi
suram tadi, dan tanpa menunggu jawabanku dia langsung mendekat.
"Saya, cuma pengetahuannya saja
yang melimpah♡ Mungkin berkat menonton anime dan
manga dalam jumlah banyak, walau belum pernah ngalamin, teknik-teknik
bermunculan satu per satu di kepala... Misalnya yang ini──"
Sana menempelkan tubuhnya padaku,
lalu menggenggam tangan kananku dan melakukan lover's hold (genggaman tangan
kekasih) dengan erat.
Lalu tangan kiriku yang satunya,
diletakkan perlahan di dada Sana.
"Miu-chan, suara detak jantung
saya... tersampaikan tidak? Saya ini lho, cuma bersama Miu-chan saja sudah berdebar
begini. Apa kamu merasakannya?"
Meski agak bingung dengan
agresivitasnya yang berlebihan, aku berpura-pura tenang dan menjawab sebisaku.
"Pa, paham... berdebar banget
ya."
"Syukurlah. Sebenarnya saya...
kepada Miu-chan............"
──Glek.
"Hehe♡ Hari ini sampai di sini dulu♡"
"Hah!? Malu tahu, nggak tahan!!
Ini terlalu memalukan!! Lagian apa lagi ngetren ya belajar cinta dari anime
atau game!?"
Meskipun kewalahan dengan akting Sana
yang bikin sesak napas, begitulah pelajaran praktik dari sang master cinta
gadungan berakhir.
"Ya, yah intinya, belajarnya
cukup dengan nonton anime gitu kan? Mungkin. Iya pasti begitu."
"Begitulah maksudnya♪ Kalau ingin tahu lanjutannya tanyakan saja kapan pun ya♡ Saya akan siapkan pelajaran khusus untuk Miu-chan♪"
Pelajaran khusus... dibilang begitu
aku jadi berpikir. Yang barusan saja sudah lumayan ekstrem, bakal muncul apa
lagi kalau lebih dari ini... Aku yang penuh rasa ingin tahu memang agak
penasaran sih, tapi instingku secara intuitif menahannya.
Dan, bahwa aku akhirnya terseret ke
dalam tempo permainan Sana seperti biasa, dan merasa ini agak "terlalu
berat"............ itu rahasia di antara kita saja.
【Sudut Pandang Miu】 Selesai
Komentar
Tinggalkan Komentar