Featured Image

ToshiOsa V1 C4

Metoya Januari 20, 2026 Komentar

Chapter 4: Si Master Cinta yang Introvert

 

──Keesokan harinya.

 

Sudut Pandang Miu

 

Aku Shibano Miu.

 

Hari ini adalah hari sekolah di tengah liburan musim panas, hari di mana aku bisa bertemu dengannya secara legal, jadi sejak pagi aku semangat sekali bersiap-siap menuju sekolah.

 

Begitu bangun, aku cek ponsel dulu biar melek.

 

Aroma manis dan gurih tercium dari arah ruang tamu yang menyatu dengan dapur, menuntunku menuju meja makan

 

Belakangan ini aku selalu sarapan masakan Kakak, dan sepertinya hari ini menunya pancake dan yogurt buah Aku benar-benar sayang Kakak yang sudah menyiapkan makanan kesukaanku sejak pagi.

 

Lalu, setelah selesai makan aku sikat gigi, cuci muka, lanjut skincare

 

Selesai pakai pelembap, aku oleskan sunscreen dengan teliti, lalu tepuk-tepuk bedak sedikit. Rapikan alis, oleskan lip balm warna pink tipis biar bibir lembap, dan makeup sekolah pun selesai.

 

Rambutku dikepang lalu diikat kuncir dua rendah (low twin tail). Karet rambut scrunchie berbulu yang imut adalah poin utamaku.

 

Pakai kaus kaki selutut (knee-high socks) putih... lalu pakai jaket jersey tipis, dan persiapan tempur selesai!

 

"Aku berangkaaaat"

 

Setiap ada jadwal sekolah, aku selalu mampir ke rumah dia dulu baru berangkat bareng.

 

Kenapa──karena dia itu rajanya telat.

 

Kalau nggak ada aku, mungkin sekarang dia masih tidur dan nilainya bisa jeblok.

 

Harusnya dia lebih berterima kasih padaku sih.

 

──Ceklek.

 

"Ah, Miu. Pagi~"

 

"Eh, tumben banget! Hari ini bisa bangun sendiri~!"

 

"Ah, kemarin begitu pulang dari laut aku langsung tidur sih~, bangun-bangun jam 6 pagi... habis mandi dan siap-siap tahu-tahu udah jam segini."

 

"Paham banget~, kemarin emang capek banget sih ya~. Tapi seru! Berasa banget kenangan musim panasnya"

 

"Morishita juga kayaknya seneng banget tuh, dia bilang pengen main bareng-bareng lagi kapan-kapan."

 

"Hmmm, kalau aku sih? Pengennya lebih banyak main sama Shintarou tahu..."

 

"Eh apa? Maksudnya gimana?"

 

"Bercanda kok! Cuma godain kamu aja~"

 

"Apaan sih... pagi-pagi udah semangat bener lu..."

 

"Hehe."

 

(Hmm... padahal itu suara hati lho...)

 

Meskipun interaksi seperti ini makin sering, Shintarou itu terlalu gak peka, dia sama sekali nggak sadar perasaanku. Yah, cuma teman masa kecil sih... mana mungkin dia mikir kalau aku suka sama Shintarou... sedikit pun nggak bakal terpikir kali ya.

 

Biarpun begitu... perasaan suka sama Shintarou ini juga baru tumbuh belakangan ini sih...

 

Hari di mana Kakak dan Shintarou bertemu kembali.

 

Aku ingat betul ada rasa ganjil yang jelas di hatiku.

 

Mereka berdua malu-malu tapi kelihatan senang banget bisa ketemu lagi setelah sekian lama, dan melihat itu aku merasa... seperti ditinggalkan.

 

Di sana, rasanya seolah ada dunia yang cuma milik mereka berdua yang nggak aku ketahui.

 

...Nggak mungkin lah ya, haha.

 

Mungkin... ini yang namanya cemburu. Secara logika aku tahu ini perasaan yang nggak baik, tapi walaupun kepala mengerti, bagaimana hati merasakannya itu beda cerita kalau belum dialami sendiri di tempat kejadian.

 

Hanya saja, setiap kali teringat wajah senang Shintarou waktu itu, jantungku terasa nyeri.

 

Rasanya Shintarou yang aku kenal bakal menghilang dari sisiku... kalau dibilang 'direbut Kakak' sih agak berlebihan ya... tapi kurang lebih rasanya seperti itu.

 

Jadi begitulah, sejak hari itu aku sadar kalau mungkin aku suka sama Shintarou.

 

"Kalau nggak cepet-cepet nanti telat lho~! Duluan ya~!"

 

(Fuh... hari ini sampai di sekolah dengan santai Tapi waktunya masih sisa banyak nih...)

 

Begitu masuk kelas, ada satu cewek yang langsung menyapaku seolah sudah menungguku... namanya Tachibana Sana.

 

Walau baru sekelas tahun ini... entah kenapa tiba-tiba dia nempel banget sama aku.

 

Dibilang 'nempel' mungkin agak kasar ya, tapi dia beneran melilitkan tangannya di lenganku terus, rasanya hampir setiap jam istirahat kami nempel terus. Yah, bukan berarti aku benci atau gimana, justru dia imut sih... tapi kadang pengen juga dia agak menjauh sedikit...? Ada kalanya aku mikir begitu.

 

"Miu-chan, selamat pagi"

 

"Sana~! Pagi A-ano, maaf nih baru datang langsung ngomong gini, tapi kalau nempel gitu agak panas lho...? Apalagi aku baru sampai dan masih keringetan, kalau bisa agak jauhan dikit, bakal ngebantu banget nih...?"

 

"Aku sama sekali nggak masalah kok! Jangan dipikirin Aku seneng banget bisa ketemu Miu-chan Hari ini bakal jadi hari yang indah deh"

 

"A, ah beneran...? Syukurlah kalau gitu~ hehe..."

 

"Ngomong-ngomong... Miu-chan, liburan musim panas ngapain aja?"

 

"Hmm? Kemarin aku pergi ke laut lho~, ah, sama dia tuh yang di sana~"

 

"Dia...? Aah, Miyata-kun ya."

 

Sana yang tadi senyum-senyum, langsung berubah ekspresinya begitu aku sebut nama Shintarou.

 

──Benar, Sana sepertinya nggak suka sama Shintarou. Atau lebih tepatnya... mungkin benci.

 

Aku nggak tahu alasannya kenapa, tapi setiap kali ngomongin Shintarou, ekspresinya berubah sedikit.

 

Wajahnya yang jadi cemberut (mueh) itu agak lucu sih.

 

"Jangan-jangan, kalian pergi ke laut berdua saja?"

 

"Mana mungkin! Ada Kakak juga kok~, bahkan Morishita-kun juga ikut!"

 

"Hee............"

 

"Hn!? Manggil!? Miu-chan! Barusan manggil aku kan!?"

 

Entah dia nguping atau gimana, Morishita-kun langsung nyamber dengan respon cepat.

 

Dia emang agak aneh ya. Tapi kalau bareng dia seru dan asyik sih...

 

"Kalian ngumpul ngapain nih~! Ikutan dong~"

 

"Waw. Saya nggak manggil Miyata-kun kok! Tolong pergi sana."

 

Sana menatap Shintarou dengan mata tajam (jitome) penuh kewaspadaan.

 

"Eeh!? Tachibana-san~, kok sama aku doang dingin banget sih~!"

 

"Pokoknya gitu!! Lagian, saya nggak bermaksud dingin kok."

 

"Ahaha, lucu. Kamu dibenci sama Sana tahu~"

 

"Kenaaaapa~? Padahal aku nggak ngapa-ngapain lho~!"

 

Yah begitulah............ Aku dan Sana, Shintarou dan Morishita-kun. Geng biasa di sekolah kira-kira begini...

 

Karena isinya orang-orang ribut, kehidupan sekolah jadi nggak membosankan dan rasanya lumayan memuaskan.

 

"Oh iya, Miu-chan. Sekarang ada waktu nggak? Saya diminta tolong sama guru..."

 

"Hmm? Boleh~ aku bantu apa aja kok."

 

"Beneran? Saya suka banget sisi Miu-chan yang baik hati begitu"

 

"Ahaha... berlebihan deh... terus, mau ngapain?"

 

"Ini."

 

Sambil bilang "yoisho", Sana mengangkat tumpukan buku di meja yang kelihatannya berat.

 

"Aku bawain setengah ya."

 

"Eh, Miu-chan... Terima kasih banyak."

 

(Sana kelihatan seneng banget... matanya berbinar-binar, imut Aku berbuat baik nih~)

 

Lalu kami berdua meninggalkan kelas menuju perpustakaan, tempat tujuan tugas tersebut.

 

Sepertinya guru minta tolong untuk mengembalikan beberapa buku ke perpustakaan.

 

"Ngomong-ngomong, kenapa Sana benci sama Shintarou?"

 

"Eh... enggak kok... bukan benci atau gimana... Cuma..."

 

"...Cuma?"

 

"Jaraknya sama Miu-chan itu terlalu dekat, dilihat dari sisiku dia itu sangat sok akrab (narenareshii). Sama cewek tuh nggak ada sopan santunnya (delicacy) sama sekali, kurang peka juga..."

 

"...Fufu. Ahaha haha."

 

"...Eh?"

 

"Tapi Shintarou emang gitu lho? Kami kan teman masa kecil sejak bayi haha. Makanya mungkin jaraknya agak dekat, atau kelihatan sok akrab kali ya...?"

 

"Eh... gitu ya... Malunya... sepertinya saya salah paham... anu, saya pikir kalian itu pacaran atau semacam hubungan yang dekat kayak gitu..."

 

"Lucu banget haha. Nggak mungkin lah!"

 

"Apaan... syukurlah"

 

Sana memelukku dengan senyum paling lebar yang pernah kulihat darinya.

 

"Waah, bahaya lho! Hampir aja bukunya jatuh tahu~!"

 

"Hehe Saya seneng banget sekarang"

 

Nggak tahu kenapa, tapi sepertinya salah pahamnya sudah lurus, syukurlah... (?)

 

Tapi, sepertinya dia nggak sadar kalau aku suka sama Shintarou.

 

Aku juga nggak berniat cerita sendiri sih.

 

"Fuh... akhirnya sampai juga ya."

 

"Buku ini lumayan berat, capek juga~"

 

Mungkin karena masih pagi, di perpustakaan belum ada siapa-siapa.

 

Cahaya matahari yang masuk dari jendela terasa nyaman, menyinari rak buku dan lantai kayu dengan berkilauan.

 

(Jarang ke perpustakaan, jadi nggak tahu apa ada di mana nih...)

 

"Buku ini, ditaruh di mana?"

 

"Ah, biar saya saja yang kembalikan, Miu-chan duduk istirahat saja."

 

"Gitu... terus, ini balikin ke mana?"

 

"Aah, etto... itu, di rak sebelah sana yang paling atas, tapi bahaya jadi biar saya saja..."

 

"Nggak apa-apa kok. Kalau soal saraf motorik aku lebih bagus kan~ Biar aku balikin ya."

 

Aku mengambil buku yang dipegang Sana, lalu menuju ke tempat rak buku itu berada.

 

Aku menarik bangku pijakan kayu ke dekat situ, dan naik dengan hati-hati.

 

"Miu-chan, hati-hati ya... pijakannya nggak rata soalnya..."

 

"Nggak apa-apa kok~! Nggak mungkin jatuh lah? Pijakan ini juga lumayan kokoh kok! Ya ampun, Sana beneran khawatir banget sih."

 

Setelah mengembalikan beberapa buku ke tempat semula, aku membalas senyumannya sambil melihat Sana dari atas bangku pijakan.

 

"Anu... satu lagi..."

 

"Hm?"

 

"Dari tadi, celana dalam Miu-chan... sepertinya kelihatan lho..."

 

"Apaan sih haha. Kirain khawatirin apa! Malah curi-curi pandang celana dalamku, lucu banget haha."

 

Memang sih, aku tahu kalau naik bangku setinggi ini orang di bawah pasti bisa lihat isi rokku, tapi karena bukan lawan jenis, aku pikir nggak perlu dipikirin dan bersikap biasa saja. Ternyata diperhatikan lekat-lekat begitu, jadi agak lucu.

 

"A-apa tidak malu??"

 

"Sesama cewek ini? Nggak malu sama sekali kok~ Nih lihat Hari ini aku pakai renda putih lho~! Biasanya sih aku lebih suka yang sporty. Imut kan? Sana suka yang kayak gimana? Aku sih suka yang simpel!"

 

Sudah biasa bagiku pergi beli pakaian dalam bareng teman, atau saling pamer desain yang lucu sama Kakak, jadi aku tanpa ragu menyingkap rok dan memamerkan pakaian dalamku, membuat Sana kebingungan.

 

"Wa, saya... pink biasa... atau semacamnya......"

 

"Hee~ Sukanya yang tipe imut ya? Sesuai dugaan sih ...Eh, nggak apa-apa? Muka sama telingamu merah banget lho?"

 

"I-itu karena Miu-chan tiba-tiba... pamer celana dalam begitu!!"

 

Sana menggembungkan pipinya, agak sedikit marah.

 

Aku jadi ingin sedikit menggodanya, jadi aku cubit pipinya yang munyu.

 

"Sana itu mochi-mochi (kenyal), rasanya imut banget deh Kayak maskot karakter kecil yang puni-puni (empuk) gitu lho"

 

Sana itu, walau nggak sampai kayak adik sendiri, tapi keberadaannya nggak bisa dibenci dan entah kenapa bikin ingin melindungi.

 

        (Dilihat dari sesama cewek pun seimut ini. Cewek kayak gini nih yang pasti paling populer~)




"Tu-tunggu, Miu-chan, tolong lepaskan tanganmu..."

 

"Ups, maaf maaf haha. Habisnya enak banget sih dipegang~"

 

"Muh."

 

"Ahaha Kalau begitu ayo kita kembali ke kelas"

 

Sambil mengobrolkan hal-hal remeh kami kembali ke kelas, dan tepat saat itu bel berbunyi, menandakan apel pagi akan segera dimulai.

 

"Miu-chan."

 

Sana berbisik pelan padaku.

 

"Ada apa?"

 

"Sepulang sekolah nanti, mau main nggak?"

 

"Tumben banget...! Boleh! Mau main apa?"

 

"Rencananya hari ini saya mau memanggang pound cake... kalau Miu-chan mau, datanglah untuk memakannya"

 

"Eh~ Kue buatan sendiri, jadi pengen~"

 

Aku yang gampang terpancing oleh makanan manis langsung mengirimkan tanda OK pada Sana dengan mata berbinar-binar.

 

Wali kelas yang melihat semua itu dari meja guru menegur kami, "Sudah cukup, lanjutkan nanti saja," jadi kami berjanji dengan suara pelan, "Nanti lagi ya," dan homeroom pagi pun dimulai.

 

◆◇◆

 

Karena ini hari sekolah di tengah masa liburan, agendanya hanya pengumpulan tugas, pelajaran singkat, dan pengarahan tentang cara menghabiskan liburan musim panas, jadi kami sudah dipulangkan sebelum siang hari.

 

Setelah pulang ke rumah sebentar, aku berganti pakaian bebas dan bersiap-siap.

 

"Miu-chan, selamat datang kembali~ Ara~? Baru saja pulang kok... mau pergi lagi?"

 

Ada Kakak di ruang tamu. Sepertinya dia sedang duduk di sofa menonton drama. Kakak juga sepertinya tidak ada rencana apa-apa siang ini, jadi dia mendekatiku dengan wajah agak kesepian sambil bertanya mau ke mana.

 

"Ada teman sekelas yang akrab sama aku, namanya Sana, aku mau main ke rumahnya~"

 

"Begitu ya Ah! Kalau begitu bawa ini!"

 

Benda yang diserahkan padaku adalah sekotak aneka kue kering (cookies) dalam kemasan yang imut.

 

"Miu-chan suka kue kering dari toko kue ini kan? Tadi Kakak baru beli lho Mumpung ada kesempatan, makan bareng sama Sana-chan ya"

 

"Eeeh baik banget~, makasih Kakak~"

 

Kakak yang selalu memikirkanku seperti ini, biarpun cuma pergi sebentar, pasti membelikan sesuatu untukku. Dia ingat apa yang aku suka, dan memprioritaskan aku dibanding dirinya sendiri, tidak ada satu pun yang berubah sejak dulu... Karena dia terlalu memprioritaskanku, kadang aku jadi khawatir juga sih... tapi aku malah jadi cenderung manja padanya.

 

Masakan buatan Kakak, kue buatan Kakak, aku benar-benar sangat menyukainya.

 

"Kalau gitu, aku berangkat!"

 

"Hati-hati ya! Kalau pulangnya sampai gelap, kabari ya biar Kakak jemput?"

 

"Tenang aja kok~ Berangkaat!"

 

Aku berjalan ke stasiun terdekat seperti biasa. Sepertinya rumah Sana ada di dua stasiun dari sini.

 

Bagaimanapun juga, ini pertama kalinya aku main ke rumahnya. Mungkin karena aku sedikit gugup, tanpa sadar sambil melamun, tahu-tahu aku sudah sampai di stasiun tempat Sana menunggu.

 

"Miu-chan!"

 

Terdengar suara Sana.

 

"Nggak nyasar kan? Nggak apa-apa kan!?"

 

"Apaan sih! Nggak apa-apa kok! Haha. Naik kereta doang mah gampang kali~"

 

"Syukurlah~"

 

Sambil menghela napas lega, Sana menatapku dengan wajah tenang.

 

Gaun terusan (one piece) putih yang terlihat anggun (seiso), dengan luaran bahan sifon yang mengembang lembut. Tas kecil berwarna cokelat yang diselempangkan, dia menyambutku dengan pakaian imut yang 'Sana banget'.

 

(Ngomong-ngomong, rasanya baru pertama kali ini aku lihat baju bebasnya Sana...!)

 

Biasanya dia pakai seragam sekolah yang dilapisi summer knit tipis berwarna biru. Sepanas apa pun musim panas, dia bersikeras tidak melepas lengan panjangnya. Alasannya katanya karena tidak mau kulitnya terbakar matahari. Kalau dipikir-pikir, kulit Sana itu sangat putih dan bening sampai-sampai aku berpikir jangan-jangan dia bercahaya dari dalam. Rambut semi-long warna cokelat chestnut yang terlihat lembut, dirapikan dengan bando pita putih yang manis.

 

Sebenarnya bando ini. Itu kado ulang tahun dariku, dan begitu aku berikan di sekolah, dia langsung memakainya dengan senang hati di tempat itu juga. Sejak hari itu, tak pernah absen sehari pun, dia selalu memakainya setiap saat, sampai-sampai bando itu mulai jadi ciri khas Sana.

 

"Sana, waktu pakai baju bebas pun, bandonya dipakai ya...!"

 

"Tentu saja Ini kan barang berharga pemberian Miu-chan"

 

"Hehe, senangnya! Konon anak yang bisa menghargai barang, berarti bisa menghargai orang lain juga lho Sana pasti anak yang baik"

 

"Iya... Miu-chan adalah orang yang sangat berharga..."

 

Sifat Sana yang jujur dan lurus itu sangat imut, membuatku tanpa sadar tersenyum lebar.

 

Sana itu tidak bermuka dua, kalau suka bilang suka, kalau tidak ya tidak, karena dia tegas begitu makanya aku bisa bergaul dengannya tanpa perlu merasa sungkan.

 

Tanpa sadar, kami sudah melangkah masuk ke area perumahan yang tenang. Deretan rumah yang tampak baru berjajar di jalanan yang tertata rapi.

 

"Berapa jauh lagi...?"

 

"Sudah sampai Di sini."

 

"Eh... ini rumah Sana...?"

 

Simpel, tapi jelas sekali itu rumah orang kaya... Ngomong-ngomong kalau tidak salah ibunya Sana itu pengusaha atau apa gitu... waktu dibilang begitu sih aku nggak terlalu paham, tapi begitu melihat rumah megah di depan mata begini, rasanya jadi masuk akal.

 

"Silakan, Miu-chan."

 

Begitu pintu depan terbuka, aroma manis kue panggang langsung tercium, mengingatkanku pada apa yang dibilang Sana di sekolah tadi.

 

"Ah, Miu-chan... baru sadar ya? Fufu"

 

"Ini, aroma pound cake yang katanya mau Sana panggang hari ini kan? Manis dan wangi banget~ Belum makan aja udah bahagia rasanya"

 

Karena Kakak sering membuatkan kue, aku jadi suka banget sama aroma manis kue panggang yang memenuhi ruangan. Aroma favorit yang bikin perasaan jadi deg-degan bahagia seolah sedang berada di toko kue.

 

"Saya menyiapkannya agar pas matang saat Miu-chan tiba, jadi ini fresh from the oven lho"

 

"Nghhh~ Bahagia banget~ Sana makasih bangeet~"

 

Saat kami sedang heboh sendiri di pintu masuk──

 

"Selamat datang Jangan ngobrol di situ dong, ayo silakan masuk."

 

──Seorang wanita yang luar biasa anggun dan cantik muncul...

 

(Jangan-jangan... orang ini ibunya Sana...!?)

 

Rambut cokelat chestnut yang diikat satu, gaun terusan ketat, dan kalung mungil yang terlihat di lehernya yang jenjang dan ramping. Wajah yang proporsional, dengan riasan natural yang sangat cocok. Aura anggun dan feminin Sana itu sepertinya turunan langsung dari ibunya... Tapi ngomong-ngomong, dia terlalu cantik, sampai-sampai kalau dibilang kakaknya pun orang bakal percaya...

 

"Sana, Ibu berangkat kerja dulu ya, sisanya Ibu serahkan padamu Ibu pulang nanti malam ya."

 

"Ya Hati-hati di jalan!"

 

"Miu-chan juga, santai saja ya di sini."

 

"Eh, nama saya... Ah, terima kasih Tante! Permisi."

 

"Fufu Ibu selalu dengar cerita dari Sana, jadi Ibu tahu soal Miu-chan kok Terima kasih ya sudah berteman baik dengan Sana. Sana itu ya, setiap kali cerita soal Miu-chan..."

 

"I, Ibu! Sudah paham kan! Cepat berangkat sana!"

 

Sana mengantar ibunya dengan wajah agak malu. Atau lebih tepatnya, dia setengah memaksa mendorong ibunya keluar dari pintu depan.

 

Dan begitu aku dipersilakan masuk ke ruang tamu, aku reflek mematung.

 

────Luaaas!!

 

(Lebih dari dua kali lipat rumahku~!!)

 

Ruang tamu dengan langit-langit tinggi itu dilengkapi TV besar dan tanaman hias yang indah, interior ruangannya memiliki paduan warna lembut yang serasi secara keseluruhan, dilihat dari mana pun, simpel tapi stylish. Aku kagum banget sama rumah begini...

 

Aku duduk menunggu di sofa berwarna beige pucat. Bahkan bantal sofa yang ada di situ semuanya imut.

 

Saat aku melirik, terlihat sosok Sana yang sedang berhati-hati membawa cangkir dan piring di atas nampan. Entah kenapa... sosok Sana yang sangat "cewek banget" itu membuatku sedikit berdebar meski aku sesama perempuan.

 

"Maaf menunggu."

 

Sana kembali dengan senyum senang.

 

Cangkir teh yang manis, dan selembar irisan lemon mengapung di atas teh.

 

Di piring tersaji pound cake yang baru matang, lengkap dengan krim kocok (whipped cream) yang ditaruh dengan lembut di sampingnya, kelihatan enak banget...

 

"Saya tidak tahu apakah sesuai dengan selera Miu-chan atau tidak..."

 

Kata Sana dengan ekspresi agak cemas. Padahal kelihatannya seenak ini, nggak mungkin nggak enak lah.

 

Aku menyuapkan satu potong pound cake yang disodorkan itu ke mulutku dan────

 

"Nyam nyam... Mmmmh!? Enaaaak bangeeet tahu!!"

 

"Benarkah!? Syukurlah~~ (nangis)"

 

"Ini, matcha ya? Benar kan! Pound cake matcha~!"

 

"Iya Sepertinya dulu Miu-chan pernah bilang suka matcha... a-ah, terus! Waktu kita ke kafe bareng sebelumnya, saya ingat Miu-chan pesan frappe matcha, jadi..."

 

"Apaan sih seneng banget dengernya~ (nangis) Hal-hal remeh yang diingat begitu tuh rasanya penuh cinta tahu."

 

"Hehe... Saya tidak menyangka Miu-chan akan sesenang ini... Saya juga jadi senang Eh... a, araa? Sudah habis dimakan semua...? Fufu. Kalau mau, silakan makan punya saya juga."

 

Sana tertawa bahagia melihatku yang memompa pipi penuh dengan kue.

 

"Melihat sosok Miu-chan makan dengan lahap begitu, saya jadi bahagia Hari ini hari yang indah~"

 

"Ah, iya! Ini...! Kakak memberiku kue kering buat dimakan bareng! Sana juga silakan"

 

"Wah, senangnya Kapan-kapan saya ingin bertemu kakaknya Miu-chan juga."

 

"Main aja ke rumah kapan pun boleh kok. Kakak juga pasti senang."

 

Pound cake dan kue keringnya dua-duanya enak, bikin puas banget. Sudah lewat jam makan siang, bisa makan manisan buatan sendiri yang seenak ini di rumah saat perut mulai lapar, ini sih kemewahan tingkat tinggi ya...

 

"Hah... beneran enak banget! Puas banget Terima kasih makanannya"

 

Sambil aku menghabiskan teh dan bersantai sejenak, Sana membereskan semuanya dengan cekatan.

 

"Ah, makasih ya buat semuanya. Ada yang bisa kubantu nggak?"

 

"Tidak usah Beres-beresnya sudah selesai, Miu-chan santai saja"

 

"Hei, aku kayaknya pengen lihat kamar Sana deh!"

 

"Ka, ka, kamar saya!?"

 

"Heem"

 

"Kamar saya ya... ini sedikit di luar dugaan..."

 

"Eh, kenapa?"

 

"Hmm, apa pun yang ada di sana, Miu-chan tidak akan kaget kan?"

 

"Yap, aku pede banget nggak bakal kaget!"

 

(Jangan-jangan rencananya cuma ngeteh di ruang tamu ya... apa aku salah ngomong...?)

 

"Kalau begitu mari kita ke sana!"

 

Dengan ekspresi bulat tekad, Sana bangkit dari sofa.

 

◆◇◆

 

Kami keluar dari ruang tamu dan pindah ke lantai 2. Lalu,

 

Akhirnya tangannya memegang gagang pintu, dan saat pintu itu terbuka────

 

"............!? A, apa iniiiiiiiiiieeee!!"

 

"Aaaah~! Kan sudah bilang tidak akan kaget!! Hueee~"

 

Kamar yang muncul di depan mata ternyata... adalah apa yang disebut kamar Otaku.

 

Salah satu sisi dinding penuh ditempeli poster gadis-gadis cantik yang agak ecchi (seksi), dan di lemari kaca besar berjejer figure. Bukan cuma satu atau dua, sekilas saja ada lebih dari sepuluh... Mulai dari karakter anime terkenal, sampai karakter mungil yang lucu, bermacam-macam. Aku nggak tahu itu karakter apa, tapi boneka, gantungan kunci, acrylic stand dari karakter yang sama berjejer padat memenuhi tempat.

 

Di meja yang ada di sudut ruangan terpasang tiga monitor, rasanya suasananya pernah kulihat di suatu tempat...

 

(Ah, ini pemandangan yang sama kayak di kamar Shintarou! Berarti, Sana juga main game ya...?)

 

Interiornya serba putih dan pink, dan karena barangnya banyak banget sekilas mungkin terlihat berantakan, tapi sepertinya setiap barang dirawat dengan baik, kebersihannya terjaga, rasanya sangat... penuh cinta. Seluruh ruangan terasa segar tapi diselimuti aroma manis yang lembut, kamar ini tak diragukan lagi adalah ruang penyembuhan yang penuh dengan dedikasi Sana.

 

──Sementara itu, Sana...

 

Dengan wajah tegang, dia mengepalkan kedua tangannya dan menatapku lekat-lekat.

 

(Pasti ini wajah ketakutan karena mikir bakal dibilangin yang enggak-enggak... Imutnya haha. Kagetin dikit ah...)

 

"Sana... kamar ini............"

 

"...Iya!! Saya mengerti! Kamar otaku seperti ini, pasti menjiji──"

 

"Imuuuut bangeeet tahu!!"

 

"Hyaaa!?"

 

"Aku tuh beneran kagum sama kamar yang isinya hal-hal yang disukai begini! Habisnya aku kan nggak terlalu punya hobi, bisa dibilang agak kasar dan asal-asalan... nggak ngerti soal interior juga... makanya aku makin kagum!!"

 

"Te, te terima kasih..."

 

Mungkin karena mendapat respon yang tak terduga, Sana tersenyum malu dengan wajah lega (bengong).

 

"Rasanya... tidak menyangka... ternyata bisa diterima..."

 

"Masa? Justru emang ada orang yang nggak bisa nerima? Nggak ada yang lebih sedih daripada hobi kita nggak dipahami orang lain, kan? Yah, mungkin tiap orang beda-beda sih, tapi aku suka banget selera Sana! Aku jadi pengen tahu lebih banyak! Entah itu soal karakter-karakter ini, atau soal Sana juga, aku pengen tahu lebih banyak!"

 

"...Uuh... hiks (nangis)"

 

"Lho, kenapa nangis!?"

 

"Habisnya... otaku seperti saya, biasanya tidak dipahami orang umum, satu-satunya yang memahami saya cuma Ibu... jadi saya senang sekali... hiks"

 

"Ahaha Sana beneran imut ya"

 

"Hehe..."

 

Saat sedang mengobrol begitu, ada sesuatu yang menarik perhatianku.

 

Sebuah furnitur besar seperti rak berwarna putih bersih yang dipasang memenuhi salah satu sisi dinding.

 

Karena ada pintunya, sekilas tidak kelihatan isinya apa.

 

"Sana, ini apaa? Di sini juga isinya banyak goods (pernak-pernik)?"

 

"Ah, etto... itu rak buku."

 

"Hee... boleh kulihat isinya?"

 

"Iya M, mungkin Miu-chan akan sedikit kaget..."

 

Sambil melirik Sana yang kembali memasang wajah tegang, aku menyentuh benda yang disebut "rak buku" itu.

 

Saat aku menggeser pintu yang agak berat itu, di hadapanku────

 

"Gila... ini semua komik...?"

 

"Iya Bukan hanya komik, tapi juga ada novel dan sebagainya."

 

Hmph! Sana membusungkan dada dengan bangga.

 

Banyaknya buku itu... dilihat sekilas saja sepertinya ada lebih dari 1000 jilid... tidak, mungkin lebih... Aku dipenuhi rasa antusias seperti sedang main ke Internet Cafe melihat pemandangan yang baru pertama kali kulihat ini.

 

"Hei! Boleh aku lihat-lihat sebentar? Sebenarnya aku juga baru-baru ini mulai baca komik cewek (shoujo manga) lho! Pas coba nonton animenya ternyata lumayan seru, jadi ketagihan lebih dari dugaan~ Walau nggak terlalu paham detailnya sih."

 

"Benarkah itu!? Kalau tidak keberatan, tanyakan apa saja pada saya Ah, tapi genre yang saya suka mungkin agak berat sebelah sih............ hmmm."

 

Saat aku melihat komik di rak satu per satu sambil mendengarkan ocehan otaku Sana... tiba-tiba aku menyadari sesuatu.

 

"Hei, Sana. Soal komik ini, yang ini dan yang ini juga, apa temanya percintaan sesama perempuan? Ilustrasi sampul dan suasananya kayaknya mengarah ke situ banget."

 

"Y, ya! Sebagian besar, atau lebih tepatnya hampir semua... saya mengoleksi komik dan novel yang bertema percintaan sesama perempuan! Makanya anu... seperti yang saya bilang tadi, genrenya berat sebelah."

 

"Hee~ Genre yang belum pernah kusentuh nih Tapi ilustrasi gadis di sampul ini, imut bangeet~! Wah! Anak di komik yang ini juga keren, kayaknya tipeku deh~! Cewek ganteng (ikemen joshi) itu populer juga kan di kalangan cewek! Kayak kakak kelas di klub gitu, aku suka banget yang kayak gitu!"

 

"Begitu ya... suka cewek ganteng...? Hmm hmm. Kebalikan dari penampilan saya ya... hmmm."

 

"Hm...? Ngomongin apa?"

 

"Ah tidak, ini bicara soal survei."

 

"Aneh banget sih"

 

"Kembali ke topik, apa Miu-chan tahu genre seperti ini disebut apa?"

 

"Eh nggak tahu! Cinta cewek...?"

 

"Hehe Istilah yang imut ya Karya yang menggambarkan hubungan sesama perempuan seperti ini disebut dengan istilah 'Yuri'! Jadi, komik dan novel yang saya miliki ini, disebut 'Komik Yuri, Novel Yuri' dan sebagainya!"

 

"Hee~! Jadi belajar hal baru! Bunga lili (yuri) itu kan cantik banget ya Apa asalnya dari situ ya...? Hei! Pintu yang sebelah sini boleh dibuka juga nggak?"

 

"Awawa! Yang sebelah situ mungkin agak terlalu cepat buat Miu-chan...! Gimana ya bilangnya..."

 

"Apaan sih~ dibilang terlalu cepat itu maksudnya apa~? Mau bilang kalau aku masih bocah~? Muu—"

 

"Bukan... bukan begitu maksudnya..."

 

"Kalau gitu boleh lihat kan?"

 

"Saya sih tidak masalah... tapi Miu-chan... Miu-chan itu anu..."

 

Karena Sana menahan-nahanku begitu, aku jadi makin penasaran tak tertahankan.

 

Dengan rasa ingin tahu yang meluap-luap, aku menggeser rak buku mengincar komik yang "tidur" lebih dalam di sana.

 

Sebenarnya aku sudah menduga-duga sih, tapi komik-komik yang seolah disembunyikan di bagian dalam itu jauh melebihi imajinasiku──

 

"Terlalu ecchi (seksi)..."

 

Mataku terpaku pada komik-komik yang suasananya beda banget sama yang tadi.

 

Baru lihat sampulnya saja sudah bikin deg-degan, ilustrasi gadis-gadis cantik... Judul yang menggoda... "Succubus Manis dan ××× Kental yang Meleleh" atau "Kisah Dibuat Meleleh Sampai Lumer oleh Kakak Perempuan yang Lebih Tua" dan sebagainya, rasa ingin tahu yang tak terbendung menuju dunia yang makin tak dikenal.

 

"Bo, boleh lihat nggak... yang... kakak perempuan ini..."

 

"Waaah Selera yang bagus Itu, beneran terbaik lho Silakan silakan Silakan ambil dan baca saja"

 

Sana menyodorkan komik ke tanganku dengan gaya bicara seperti pegawai toko buku.

 

Sana juga kelihatannya senang banget...

 

Aku duduk bersandar di pinggir kasur Sana.

 

Begitu melihat sampul komik yang diserahkan itu, rasanya seperti sedang melakukan hal yang tidak boleh dilakukan... ketegangan aneh menjalar.

 

──Akhirnya saatnya melangkah ke dunia yang tak dikenal...

 

Saat kucoba buka halamannya pelan-pelan, muncul ilustrasi kakak perempuan yang sedang tidur menemani dengan hanya memakai pakaian dalam.

 

(Dada kakak ini besar banget ya... rambut hitam juga... rasanya suasananya mirip sama Kakakku...)

 

Percakapan sehari-hari mengalir, dan tak lama kemudian adegan "itu" antara sesama perempuan muncul.

 

Setiap kali lanjut membaca, aku merasa wajahku memanas... tapi tanganku tak bisa berhenti membalik halaman.

 

Melihatku yang seperti itu, Sana tiba-tiba──

 

"I, iya! Hari ini sampai di sini dulu!"

 

"Hah? Kenaapa~!? Aku masih baca tahu~"

 

"Melihat Miu-chan baca komik sambil wajah dan telinganya merah padam begitu, saya yang jadi malu sendiri nih... Jika, jika ingin lihat saya pinjamkan, jadi bacalah di rumah... Mumu."

 

"Di, dipinjamkan sih nggak usah...! Kalau ketahuan Kakak lagi baca ini malu banget... Yang begini tuh ya, justru makin seru kalau dibaca diam-diam di rumah teman tahu~"

 

"B, begitu ya..."

 

Lalu keheningan misterius berlanjut sejenak, sampai Sana membuka mulut.

 

"Miu-chan, apa punya... orang yang disukai?"

 

"Eh, tiba-tiba!? Hmm, gimana ya... kalau disuruh bilang sih, kayaknya nggak ada..."

 

"Nggak ada... ya."

 

"Heem, kalau Sana?"

 

"Etto, saya? Bagaimana ya... saya tidak tahu..."

 

"Maksudnya? Nggak tahu suka atau enggak?"

 

"Hehe... yah, begitulah kira-kira."

 

"Aneh banget sih~ (tertawa)"

 

Mungkin cuma perasaanku saja, tapi aku merasa ekspresi Sana mendung sesaat.

 

"Ah iya, Miu-chan. Mau saya ajarkan cara pendekatan (approach) ke orang yang disukai?"

 

"Cara pendekatan...? Enggak, anu... nggak usah deh..."

 

"Fufu Miu-chan, apa kamu malu? Sebenarnya begini-begini saya ini, adalah master cinta yang cukup ahli lho Walaupun yah, saya belum pernah pacaran sama siapa pun sih... jadi cuma sebutan sendiri..."

 

Baru saja matanya membentuk simbol hati kecil, wajahnya langsung berubah bangga tak terbayangkan dari ekspresi suram tadi, dan tanpa menunggu jawabanku dia langsung mendekat.

 

"Saya, cuma pengetahuannya saja yang melimpah Mungkin berkat menonton anime dan manga dalam jumlah banyak, walau belum pernah ngalamin, teknik-teknik bermunculan satu per satu di kepala... Misalnya yang ini──"

 

Sana menempelkan tubuhnya padaku, lalu menggenggam tangan kananku dan melakukan lover's hold (genggaman tangan kekasih) dengan erat.

 

Lalu tangan kiriku yang satunya, diletakkan perlahan di dada Sana.

 

"Miu-chan, suara detak jantung saya... tersampaikan tidak? Saya ini lho, cuma bersama Miu-chan saja sudah berdebar begini. Apa kamu merasakannya?"

 

Meski agak bingung dengan agresivitasnya yang berlebihan, aku berpura-pura tenang dan menjawab sebisaku.

 

"Pa, paham... berdebar banget ya."

 

"Syukurlah. Sebenarnya saya... kepada Miu-chan............"

 

──Glek.

 

"Hehe Hari ini sampai di sini dulu"

 

"Hah!? Malu tahu, nggak tahan!! Ini terlalu memalukan!! Lagian apa lagi ngetren ya belajar cinta dari anime atau game!?"

 

Meskipun kewalahan dengan akting Sana yang bikin sesak napas, begitulah pelajaran praktik dari sang master cinta gadungan berakhir.

 

"Ya, yah intinya, belajarnya cukup dengan nonton anime gitu kan? Mungkin. Iya pasti begitu."

 

"Begitulah maksudnya Kalau ingin tahu lanjutannya tanyakan saja kapan pun ya Saya akan siapkan pelajaran khusus untuk Miu-chan"

 

Pelajaran khusus... dibilang begitu aku jadi berpikir. Yang barusan saja sudah lumayan ekstrem, bakal muncul apa lagi kalau lebih dari ini... Aku yang penuh rasa ingin tahu memang agak penasaran sih, tapi instingku secara intuitif menahannya.

 

Dan, bahwa aku akhirnya terseret ke dalam tempo permainan Sana seperti biasa, dan merasa ini agak "terlalu berat"............ itu rahasia di antara kita saja.

 

Sudut Pandang Miu Selesai


 




Bagikan ke:

Komentar

Tinggalkan Komentar