Featured Image

ToshiOsa V1 C3

Metoya Januari 20, 2026 Komentar

Chapter 3: Laut, Baju Renang, dan Aku yang Terjepit di Antara Kakak Beradik yang Bimbang

 

Masuk liburan musim panas, aku sempat mengira hari-hariku bakal diisi dengan bermain game seharian... tapi sejak Kak Momo kembali, belakangan ini interaksiku dengan kakak-beradik itu jadi makin sering.

 

Beberapa kali aku main ke rumah mereka, ditraktir makan malam, dan menghabiskan hari-hari yang damai.

 

Dan hari ini, tumben sekali aku ada janji dengan Morishita.

 

Meski sebenarnya, kami hampir setiap hari bermain game online bersama sih...

 

──Kringgg-ringgg-ringgg.

 

Aku terbangun tepat saat alarm pertama berbunyi.

 

Biasanya aku selalu malas-malasan di pagi hari... tapi kalau ada janji, ceritanya beda.

 

Kubuka jendela dan kuhirup udara pagi dalam-dalam. Langit musim panas yang biru tanpa sehelai awan pun. Sempurna.

 

Tring

 

Woi! Udah bangun belum! Cepetan siap-siap~! Hari ini adalah hari ke pantai yang sudah kita tunggu-tunggu!!

 

...Benar, hari ini adalah hari kami pergi berenang di laut yang sudah kami rencanakan sejak lama.

 

Pesan dari Morishita yang terasa sangat bersemangat.

 

Tak perlu ditutupi lagi, hari ini dia berencana mencari pacar.

 

Istilahnya "nanpa" (menggoda cewek) gitu deh...

 

(Cowok yang belum pernah punya pacar beneran sepertinya, apa bisa ngajak ngobrol cewek asing...)

 

Yah, meski berpikir begitu, aku menduga Morishita bakal melakukan sesuatu yang konyol, jadi dalam hati aku sangat penasaran dan antusias.

 

Dengan sigap aku bersiap-siap dan bergegas keluar rumah, lalu bertemu Morishita di stasiun sesuai janjian, dan kami pun berangkat ke laut sesuai rencana.

 

Semakin dekat ke area pantai, suasana kota perlahan mulai diwarnai nuansa musim panas.

 

Aroma air laut samar-samar menggelitik hidung, dan saat semangat kami berdua mulai memuncak──

 

"Woi...!! Akhirnya sampai juga!! Lautan musim panas───!! Uwoooooh!!"

 

Di depan mata terbentang lautan biru yang berkilauan, langit biru yang cerah, payung pantai warna-warni di atas pasir putih... dan gadis-gadis yang berjalan mondar-mandir dengan pakaian renang mencolok yang membuat bingung harus melihat ke mana.

 

──Tapi, di luar dugaan, aku langsung kalah oleh hawa panas... begitu sampai, aku langsung tidak bisa menikmati semua itu.

 

"Panaaas... kulitku rasanya kayak kebakar..."

 

"Kuh!! Kanan, kiri, depan, belakang!! Penuh kakak-kakak berbikini...!! Gila woy!! Woi Shintarou, dengerin nggak sih."

 

"Ah, iya denger kok... Panasnya di luar dugaan... kalau gini terus aku bisa pingsan..."

 

"Haaah~!? Kamu serius? Kamu tuh ya~! Kebanyakan ngurung diri di rumah main game sih, makanya jadi lemah sama panas!!"

 

"Nggak... kalau soal itu kamu juga sama kali."

 

"Aku punya semangat dan tekad baja. Sama panas segini sih Aku nggak akan............ nggak mungkin deh, sorry bohong. Aku juga nggak kuat saking panasnya, nyerah."

 

"Iya kan... Kita istirahat di tempat teduh dulu yuk..."

 

"Ah... tempat teduh emang paling cocok buat kita..."

 

Tumben sekali pendapat kami sejalan, kami pun memutuskan untuk menggelinding masuk ke pondok pantai (umi no ie) yang ada di depan mata.

 

Kebetulan ada kursi kosong, jadi untuk sementara kami berhasil istirahat di tempat teduh. Terus... buat apa kita ke sini ya...

 

"Ah, ngomong-ngomong Morishita, kamu udah makan siang belum?"

 

"Ah, aku belum makan. Habisnya aku tidur sampai mepet waktu berangkat."

 

"Kamu seriusan. Aku aja bangun pas alarm pertama bunyi."

 

"Hee... Oh? Eh, lihat menunya tuh! Katanya ada yakisoba lho!! Mau makan nggak?"

 

"Lu ngalihin pembicaraan ya...? Hmm, aku sih udah makan siang~, mungkin beli es serut (kakigori) aja kali ya."

 

"Boleh juga tuh. Musim panas banget."

 

"Aku beliin punya lu sekalian, yakisoba kan?"

 

"Eh, serius? Ditraktir nih!?"

 

"Mana mungkin lah, sini duitnya! 700 yen!!"

 

"Cih~, titip ya~"

 

"Jagain tempat duduk oke~"

 

(Dasar... nggak bisa lengah sedikit pun sama dia...)

 

Karena sedang liburan musim panas, pondok pantai itu sangat ramai oleh pengunjung.

 

Banyak keluarga yang datang, suasananya terlihat akrab dan menyenangkan, membuat hatiku sedikit hangat melihatnya.

 

Mungkin karena sudah diprediksi bakal ramai, cara para pelayan menangani pelanggan sangat efisien dan profesional.

 

Aku diberi struk sebagai pengganti nomor antrean, dan hanya dalam beberapa menit setelah memesan, pesanan sudah ada di tangan.

 

Sambil membawa yakisoba dan es serut rasa Blue Hawaii, aku kembali ke tempat duduk... tapi, dari jauh pun aku bisa mengenalinya... wajah yang rasanya tak asing terlihat olehku.

 

"Ah~! Yahho~! Shintarou~!!"

 

"Shin-chan~ Sini sini~"

 

──Tuh kan!? Kak Momo dan Miu............!?

 

"Eeh!? Kok bisa ada di sini!?"

 

"Hm~? Kenapa apanya~, hari ini adalah hari kencan ke pantai berdua sama Kakak tahu~"

 

"Iya iya Kita lagi pengen makan es serut nih~ Pas mau beli, eh kebetulan! Morishita-kun menyapa kami Dia bilang teman sekelas Miu, jadi kami lagi ngobrol deh Iya kan~? Morishita-kun~"

 

Sambil berkata begitu, Kak Momo membungkuk ke depan di hadapan Morishita.

 

Dada yang terhimpit lengan itu jadi sangat menonjol... bikini yang tampak sesak itu seolah akan meledak kapan saja.

 

Kak Momo mengenakan bikini hitam polos dengan celana pendek denim.

 

Resleting celananya yang terbuka agak bikin penasaran sih... tapi mungkin memang begitu modelnya.

 

Meski dia memakai kemeja putih tipis sebagai luaran, keberadaan dadanya terlalu besar sampai tak bisa menutupi area kulitnya.

 

Berbanding terbalik dengan Kak Momo, Miu mengenakan kaos putih oversized di atas bikininya sampai lekuk tubuhnya tidak terlihat.

 

Karena Miu tidak terlalu terbuka, visual Kak Momo jadi makin mencolok...

 

Dahsyat sampai bingung harus melihat ke mana... godaan belahan dada yang terlalu dalam.

 

Sesuai dugaan... reaksi Morishita adalah...

 

"Uwoooh~ Wah... pemandangan yang indah sekali ya Lembah yang da~lam Jurang yang memikat Begitu kira-kira? Wah wah, saya bertekad ingin mengintipnya nih~"

 

Begitu buka mulut, Morishita langsung nyerocos tanpa henti. Sudah biasa.

 

Banyak omong = bukti kalau dia sudah sangat ngelunjak.

 

"...Ngomong apa sih lu... Apa otak lu kena panas...? Gak apa-apa lu?"

 

"Tuh kan, hari ini Morishita-kun juga on fire banget. Pilihan katanya tuh kayak gimana ya, Ota..."

 

"Fufufu Sehat itu hal yang bagus kok~"

 

"Ahehe Iya nih~ saking sehatnya saya jadi bingung~"

 

Aku dan Miu menatap Morishita dengan wajah heran (capek deh), tapi Kak Momo terlihat mendengarkan sambil tersenyum senang.

 

Inikah yang namanya ketenangan orang dewasa...?

 

"Hei~, es serutnya keburu cair lho~?"

 

"Ah, iya bener lupa."

 

"Punya Shintarou kan? Minta satu suap dong~?"

 

"Eh, boleh sih tapi satu suap aja lho."

 

"Aaa-in dong."

 

"Hah!? Makan sendiri sana~!"

 

"Boleh dong pelit banget~!"

 

"Kamu ini ya... kalau ngomong gitu nanti Morishita salah paham la..."

 

"Tuh kan!! Kalian berdua! Beneran punya hubungan kayak gitu kan ternyata~!!"

 

──Sial, terlambat.

 

Tapi... yang paling menggangguku adalah Kak Momo yang duduk di sebelah Morishita, terlihat memasang wajah sedikit sedih.

 

Dia tersenyum, tapi senyumnya terlihat sangat kaku.

 

Ngomong-ngomong, mungkin ini pertama kalinya aku memperlihatkan interaksiku dengan Miu yang seperti ini di depan Kak Momo.

 

(Rasanya jadi canggung... padahal nggak bermaksud begitu lho... tapi, memang hal kayak gini mungkin nggak baik. Kami juga bukan anak-anak lagi, sebaiknya hindari hal-hal begini kali ya...)

 

Tanpa mengetahui perasaanku yang sedang berpikir begitu...

 

Miu mendekatkan wajahnya ke es serut yang kupegang, lalu hap, melahap bagian puncak es yang menggunung itu.

 

"Mmm~ Dingin dan enaaak~ Minta satu suap lagi dong~"

 

"D-dibilangin nggak boleh! Udah habis jatahmu!"

 

"Boleh dong~! Lagian kamu nggak bakal bisa makan sebanyak ini kan~?"

 

Kali ini dia menyendok es serut dengan sendok dan memasukkannya ke mulut dengan lahap.

 

"Woi! Kebanyakan tahu!!"

 

"Ahaha Maaf maaf, oh iya! Kalau makan Blue Hawaii lidahnya bisa berubah warna kan ya...?"

 

"Eh, emang iya?"

 

"Gimana? Coba lihat sini~"

 

"Nggak ah, nggak usah..."

 

Aku tidak mau suasananya jadi makin canggung, jadi aku langsung menolak... tapi Miu tidak peduli, dia menjulurkan lidahnya bleee dan memamerkannya padaku.

 

"Nih~, gimana~? Jadi biru nggak~?"

 

"Ah, berubah, berubah, jadi biru tuh."

 

"Fuhehe Ternoda oleh warna Shintarou deh~"

 

"Haaah~?"

 

"...Eh kalian, kalau makan pakai sendok yang sama itu bukannya jadi ciuman tidak langsung ya...?"

 

(......!? Morishita sialan! Jangan ngomong yang nggak perlu woy!!)

 

"Apaan sih~? Shintarou kok mukanya kayak merasa bersalah gitu? Jangan-jangan mikir kotor ya~? Nggak kotor kok tahu~?"

 

Miu melontarkan protes yang salah sasaran.

 

(Uugh... bukan itu masalahnya... tapi kayaknya apapun yang terjadi nggak bakal berakhir baik... ah sudahlah... Aaargh!! Semuanya bikin repot~!!)

 

"Aku beli yakisoba juga deh! Liat punya Morishita jadi laper! Miu! Es serut ini buat kamu aja, aku traktir!"

 

"Heh, beneran~? Shintarou baik banget~ Lucky"

 

Miu yang tadi sempat cemberut dan menggembungkan pipi, langsung kembali ceria begitu aku menyerahkan es serut itu.

 

Fuh... sepertinya aku berhasil lolos kali ini.

 

Bisa menghindari penggunaan sendok bersama yang bakal jadi ciuman tidak langsung di situasi tadi itu pencapaian besar.

 

Berkat keberhasilanku menghindar, Miu tidak terluka, dan aku juga tidak perlu melihat wajah sedih Kak Momo. Ternyata aku cowok yang cukup cerdik juga ya.

 

Tapi ngomong-ngomong, belakangan ini tingkah laku kakak-beradik itu rasanya agak aneh...

 

Sejak hari kami main game di rumahku, rasanya jarakku dengan Miu jadi terlalu dekat... dan soal Kak Momo, meski tidak diungkapkan lewat kata-kata atau sikap yang gamblang, kalau diperlihatkan wajah sedih secara halus seperti tadi... rasanya aku jadi ikut kepikiran yang aneh-aneh. Bukan berarti ada sesuatu yang salah, atau perasaan suka atau gimana sih... tapi perempuan itu susah dimengerti ya.

 

(Oh, beruntung, kasirnya lagi sepi. Padahal tadi bilang mau beli yakisoba... tapi panas banget, es serut aja deh...)

 

"Ehm, pesan es serut satu. Rasa melon."

 

"Kalau begitu... aku rasa stroberi! Tolong jadikan satu tagihannya ya"

 

──Hm?

 

Entah sejak kapan, Kak Momo sudah ada di sebelahku.

 

Saat aku sadar, dia sudah membayar tagihanku sekalian dengan cepat, dan menerima es serutnya dengan lancar.

 

"Ah, uangnya..."

 

"Fufufu Nggak apa-apa kok Aku pikir tadi aku bikin kamu jadi nggak enak... jadi ini sekalian permintaan maaf, jangan dipikirin ya"

 

"Eh, bukan karena nggak enak kok... tapi, terima kasih."

 

"Iya sama-sama Ini punya Shin-chan Sudah berapa lama ya nggak makan es serut begini~"

 

Kak Momo terlihat sangat senang memegang es serutnya. Jujur saja, imut banget.

 

Dan juga──memang aura seorang kakak ya... saat dia bersikap peka seperti ini, rasanya sedikit... tidak, rasanya aku benar-benar diperlihatkan pesona wanita dewasa.

 

Di momen-momen biasa seperti ini, pasti tidak sedikit laki-laki yang bakal jatuh hati.

 

"Kalau begitu aku terima ya... selamat makan."

 

"Hei, Shin-chan... aaa~"

 

"...Eeeeh!?"

 

"Aku belum makan kok, jadi nggak masalah kan?"

 

"T-tapi..."

 

"Ayo dong Aaa~..."

 

"A, aaa~──"

 

(Tunggu tunggu tunggu!! Interaksi tadi... jangan-jangan dia masih dendam ya!?)

 

"Gimana? Rasa stroberi, enak?"

 

"E-enak kok! Manis... manis banget...!"

 

"Fufufu Syukurlah"

 

(Malu banget...!! Tapi... kalau sudah diberi, sopan santunnya harus membalas kan... masa nggak sih?)

 

"Anoo, ka-kalau Kakak mau, mau coba punya aku? Rasa melon sih..."

 

"Eh boleh~? Kalau begitu aku mau dong"

 

Kak Momo mendongak menatapku sambil membuka mulut kecilnya dan bilang "Aaa~".

 

Perbedaan tinggi kami sekitar 15-20 senti mungkin... Dengan wajah yang sedikit memerah karena panas, dan tatapan mata sayu yang menatapku dari bawah itu rasanya... jatidiriku bisa hilang... (?)

 

(Tunggu, ini dia nunggu disuapin kan...!? Jelas nggak bisa menghindar... lagian, bawa sendok ke mulut orang itu malu banget nggak sih!? Pasangan aja belum tentu begini kan!?)

 

Dengan tangan gemetar, aku menyuapkan es serut ke mulut Kak Momo.

 

Syukurlah dia menerimanya dengan mulus sehingga tidak terjadi insiden.

 

Kak Momo terlihat memasang wajah sangat puas.

 

Ini berarti... kami saling menyuapi pakai sendok masing-masing kan... itu artinya...

 

────Ciuman tidak langsung tak terhindarkan!?

 

Aku kena. Inikah keseriusan wanita dewasa. Bukan berarti aku tidak suka atau gimana, tapi rasanya aku benar-benar masuk perangkap, atau malah... jangan-jangan ini memang strategi untuk melakukan hal ini...!? Semuanya terasa terlalu mulus.

 

Perangkap yang... cerdik.

 

Apakah aku akan terus terbawa arus permainan Kak Momo tanpa kusadari... tanpa sadar... sampai tak bisa keluar lagi............

 

(Yah, nggak buruk juga sih. Heem.)

 

Jujur saja, hal-hal seperti ini kadang lebih seru kalau kita ikuti saja arusnya. Apalagi dipermainkan di atas telapak tangan kakak perempuan itu rasanya... cukup nyaman. Stimulasi yang pas, rasa aman khas orang yang lebih tua yang seolah menyelimuti, tapi juga perhatian yang tidak terlalu menganggapku anak kecil... terlalu sempurna.

 

"Kalau begitu, ayo kita kembali"

 

"Iya juga... aku sampai lupa sama mereka berdua..."

 

Begitu kami kembali ke tempat duduk, tak disangka mereka berdua sedang asyik membicarakan aku.

 

"Jadinya gitu~, hubunganku sama Shintarou memang sudah begitu sejak dulu~"

 

"Ooh gitu... ternyata memang ada nilai hubungan yang dalam ya...?"

 

"Apaan nih...? Nilai hubungan yang dalam itu. Ngomongin apa sih..."

 

Aku yang mengira bakal dimarahi karena lama, jadi lega karena ternyata mereka mengobrol dengan asyik sehingga tidak ada masalah.

 

Padahal dalam hati aku sudah ketar-ketir memikirkan alasan kalau ditanya kami ngapain saja berdua tadi.

 

Setelah itu kami menghabiskan es serut, dan akhirnya jadi menghabiskan waktu bersama di laut.

 

──Yah, dari awal aku sudah tahu bakal begini sih...

 

Kak Momo dan Miu yang persiapannya matang, menggelar alas pantai di atas pasir, menancapkan payung pantai kuat-kuat, dan dalam sekejap menciptakan ruang yang nyaman.

 

Dua orang cowok bergabung di tengah barang-barang rekreasi bernuansa girly itu rasanya agak bikin gerah sih... tapi mau bagaimana lagi. Anggap saja kami ini pengawal.

 

"Jaaan~ Aku bawa pelampung lho~! Bola pantai juga ada~ Mau main apa?"

 

"Mumpung sudah di laut, nggak ada pilihan lain selain nyebur ke laut kan! Ya nggak Miyata!"

 

"Hmm... yah, kalau aku sih nanti dulu deh... aku jaga barang-barang kalian aja di sini!"

 

"Eh~ apaan sih~, kalau gitu ayo Morishita-kun! Tarikin pelampungnya dong~"

 

"Eh!? Aku...!? Dengan senang hatiiii!"

 

Morishita pasti tidak menyangka bakal ditunjuk. Saking kagetnya, dia membelalakkan mata dan berlari menuju laut berdua dengan Miu.

 

"Mereka berdua semangat banget ya, bagus deh Lihatnya aja jadi senang"

 

"Di sekolah juga mereka kurang lebih begitu sih, bikin capek..."

 

"Ah, tapi Shin-chan beneran nggak apa-apa nggak ikut masuk ke laut?"

 

"Aku nggak apa-apa kok! Yah, datang ke laut aja rasanya udah puas... Kak Momo sendiri emangnya nggak apa-apa? Apa Kakak nemenin aku karena nggak enak...? Mau ke laut?"

 

"Bukan karena nggak enak kok...! Aku kan nggak bisa berenang, jadi rasanya nggak perlu sampai nyebur... yang bawa pelampung juga cuma Miu..."

 

"Kalau ada apa-apa pegangan sama aku aja! Mumpung di sini ayo masuk!"

 

"Beneran? Boleh juga ya Yah kalau di tempat dangkal mungkin nggak apa-apa"

 

Begitu berkata demikian, Kak Momo langsung mulai melepas kemeja putih tipis dan celana denimnya.

 

(Uwo... gawat... ini yang nggak boleh dilihat nih...)

 

Berjalan bersisian dengan wanita yang punya tubuh seindah ini, pasti bakal jadi pusat perhatian.

 

Benar saja, tatapan para pria di pantai langsung terpaku pada Kak Momo.

 

Baju renang yang simpel justru makin menonjolkan keindahan tubuhnya, dan setiap kali dia berjalan, dada yang berguncang itu hampir membuat mataku tercuri, tapi di sini aku harus bersikap gentleman dan menghadapinya dengan tenang...

 

"Oke Ayo kita pergi"

 

"A, ayo!"

 

Begitulah, sambil menundukkan pandangan sebisa mungkin agar tidak melihat yang tidak-tidak... aku menuntun tangan Kak Momo dan melangkah masuk ke air dangkal.

 

Air laut menyentuh ujung kaki, rasanya enak sekali.

 

Kak Momo yang awalnya kurang bersemangat, lama-lama mulai terbiasa dan berjalan sampai air setinggi pinggang.

 

"Shin-chan Dingin dan enak ya Ternyata keputusan yang tepat buat nyebur"

 

"Syukurlah! Hati-hati langkahnya ya, sandalnya gampang hanyut soalnya..."

 

"Iya Makasih Tapi ngomong-ngomong sudah berapa lama ya nggak ke laut~ Apalagi, main di laut bareng Shin-chan begini, beneran sudah berapa tahun ya? Dulu waktu kecil tiap musim panas pasti main ke sini kan."

 

"Bener juga, jadi nostalgia..."

 

Berbeda dengan masa itu, tubuh dan hati kami sudah jauh lebih dewasa, tapi meski waktu telah berlalu, bisa menghabiskan waktu yang mirip di tempat yang sama begini... rasanya emo banget.

 

"──Waah!"

 

Tiba-tiba, Kak Momo terdorong ombak yang agak kuat, kehilangan keseimbangan dan memelukku. Jujur saja ini sudah dalam prediksi. Adegan yang sering ada di manga atau anime.

 

Maka dengan sigap, aku menggenggam erat tangan Kak Momo dan menyeimbangkan posisinya.

 

Alur yang terlalu sempurna.

 

"Maaf ya Shin-chan, makasih sudah nangkep aku~"

 

──Nah, sampai di sini sih masih dalam prediksi, tapi Kak Momo yang tubuhnya terombang-ambing ringan setiap kali ombak datang bertubi-tubi.

 

        Setiap kali itu terjadi, jarak denganku menyusut, dan mungkin tanpa sadar, tubuhnya menempel rapat padaku... Sosoknya yang melingkarkan lengan erat-erat di pinggangku, berpegangan agar tidak hanyut itu... terlalu imut sampai rasanya aku mau gila.




Meski aku sudah berusaha tidak mempedulikannya, pemandangan dada Kak Momo yang menekan perutku tetap saja terlihat... Rambut basah dan kulit berkeringat... wajah yang memerah itu benar-benar terlalu seksi...

 

(Rasa lengket ini... gawat. Kalau begini terus aku yang bahaya. Apalagi kalau sampai dilihat Miu dan Morishita... bakal jadi masalah besar. Cuma itu yang harus kuhindari.)

 

"Hyaa!"

 

Tiba-tiba Kak Momo menjerit dan memelukku semakin erat.

 

"Ada apa, Kak?"

 

"...A-ada sesuatu yang menyentuh kakiku... dingin... a-apa ya..."

 

Entah dia benar-benar ketakutan atau tidak, dia semakin mempererat pelukannya dan sama sekali tidak mau lepas dariku. Melihat sosoknya itu, rasa ingin melindungi justru muncul mengalahkan pikiran kotor, dan aku memeluknya erat untuk menenangkannya.

 

"Ubur-ubur kali ya...? Padahal katanya di pantai ini nggak ada."

 

"M-mungkin..."

 

"Ki-kita sudah sampai di tempat yang agak dalam, kalau lebih jauh lagi bahaya, kita balik ke tempat dangkal yuk...!"

 

Aku menarik tangannya agak memaksa dan kami sampai di tempat dangkal, tapi Kak Momo masih tetap menempel padaku.

 

Begitu dia mendongak menatapku, dia bergumam pelan.

 

"Shin-chan, kamu sudah jadi cowok yang bisa diandalkan ya Tadi waktu kamu genggam tanganku erat-erat, aku jadi agak deg-degan lho..."

 

Bersamaan dengan kata-kata itu, Kak Momo menggenggam tanganku dengan kedua tangannya.

 

(Gawat... akal sehatku bisa beneran hilang nih.)

 

"Etto... istirahat sebentar yuk...!"

 

"Fufufu Iya, yuk"

 

Tanpa bisa menyembunyikan kegugupanku, kami kembali ke tempat tadi.

 

Di sekitar kami, Morishita dan Miu sedang asyik bermain bola pantai.

 

"Selamat datang kembali~! Habis dari mana sih~?"

 

"Ah, mumpung sudah di sini, tadi main ke laut sebentar."

 

"Hmmm... yah terserah deh! Morishita-kun ayo~! Tangkap ya~!"

 

"Sini maajus~!"

 

(Apaan, mereka berdua ternyata asyik sendiri...)

 

"Gimana? Mau di laut sampai sore?"

 

"Ah, gimana ya? Aku sih rasanya sudah cukup puas... lagian panas banget, kayaknya mau teler..."

 

Mungkin karena biasanya cuma mengurung diri main game di rumah, aku jadi jauh lebih lemah terhadap panas dari yang kuduga.

 

Morishita yang seharusnya menjalani hidup yang mirip denganku, entah kenapa hari ini misterius sekali dia bisa begitu bertenaga.

 

Yah, mungkin karena dia terlalu girang diajak main oleh Miu.

 

"Kalau mau... rebahan aja?"

 

Kak Momo menepuk-nepuk pahanya seolah berkata 'sini'.

 

"Kalau rebahan sebentar mungkin bisa tenang lho?"

 

"Ah, nggak usah, kalau bantal paha sih... malu banget lah... hehe. Tapi boleh deh rebahan..."

 

Kalau begitu pakai ini kata Kak Momo sambil melipat kemeja putih yang tadi dipakainya, dan membiarkanku menggunakannya sebagai bantal. Seberapa baik dan peka sih orang ini...

 

"Kalau terlalu memaksakan diri nanti malah sakit lho... ah iya Gimana kalau kita pergi ke tempat yang sejuk? Kita kabur berdua aja yuk... Bercanda~"

 

"Eh, berdua aja!?"

 

"Bercanda... kok..."

 

"Tuuunggguuu!! Kalian berdua di situ!! Dari tadi bisik-bisik terus! Pikir nggak ketahuan apa~!? Kabur berdua itu nggak bisa dimaafkan! Kedengaran semua tahu!!"

 

Miu tiba-tiba muncul entah dari mana. Mungkin dia pura-pura tidak sadar... ternyata dia mengawasi seperti biasa.

 

"Bukan, bukan, Shin-chan katanya agak kena heatstroke gitu."

 

"Eh, gitu ya. Kelihatannya nggak apa-apa? Kalau dipikir-pikir aku juga mulai capek sih~"

 

"Ngeeee! Tapi Miu-chan!? Janjinya mau masuk laut sekali lagi~!?"

 

"Ah, Morishita-kun maaf ya, Miu capek~, kamu pergi sendiri aja gih."

 

"Kenaaaapaaaa~!? Kok tiba-tiba jadi dingin gitu sih~ (nangis)"

 

"Hmm, kayaknya semuanya sudah pada capek... gimana kalau kita pulang sekarang?"

 

"Eeeh! Saya masih mau main sama Kakak dan Miu-chan~!! (nangis)"

 

"Morishita... lu memalukan tahu..."

 

"Be, berisik! Musim panasku baru saja dimulai tahu~!!"

 

Begitulah akhirnya kami (kecuali satu orang...) memutuskan untuk pulang sebelum benar-benar teler karena panas.

 

Yah, es serut sudah makan, masuk laut juga sudah, ciuman tidak langsung dengan Kak Momo juga sudah... eh, yang itu beda ya.

 

"Kalau begitu, karena kami bawa mobil, kita pisah di sini ya..."

 

"Terima kasih untuk hari ini...! Seru banget pokoknya."

 

"Wah... beneran seru banget! Kalau boleh lain kali main sama saya lagi yaaa~"

 

"Morishita-kun, seharian ini kamu lihatin payudara Kakak terus kan, nggak boleh tahu!"

 

"Eh!? Saya!? Maksudnya gimana!?"

 

"Fufufu Miu-chan jangan godain dia dong~, Morishita-kun juga ayo main lagi ya~"

 

"Ba, baiiiiik♡♡♡♡♡♡"

 

Akhirnya, Morishita seharian ini... benar-benar jadi cowok mesum yang lembek dan mupeng dari awal sampai akhir. Biarlah, itu khas dia banget.

 

Setelah berpisah dengan kakak-beradik itu, aku dan Morishita pulang naik kereta.

 

Iseng-iseng aku mencoba mengingat kejadian hari ini.

 

"Hari ini seru ya, walau jujur aja saking panasnya jadi nggak terlalu menikmati laut sih... kalau kamu gimana Morishita?"

 

"Aku sih bener-bener seru banget!! Lagian kakak-beradik itu gila banget kan... mungkin lu udah biasa lihat, tapi wajah dan bodi segitu tuh levelnya jarang ada di sekitar kita tahu. Miu-chan itu langsing, suara sama wajahnya imut banget, sifatnya juga ceria dan energik, terbaik kan? Kakaknya... nggak perlu dibilang lagi, payudaranya gede banget, gila. Wajahnya juga cantik, bahkan sama aku yang begini aja dia baik, itu mah bener-bener kakak perempuan idaman semua orang kan. Ucapan dan tindakannya yang bikin orang tenggelam dalam pesonanya, pasti semua cowok di dunia ini pernah jatuh hati sekali. Di hari di mana aku dibisikin Kita kabur berdua aja yuk...... aku, pasti bakal jadi pria sejati saat itu juga..."

 

"G-gitu ya... (ternyata dia denger juga ya)"

 

"Kamu tuh ya~, harus lebih sadar diri tahu. Hidup dikelilingi kakak-beradik kayak gitu cuma ada di dunia anime tahu? Hiduplah dengan lebih bersyukur sama lingkungan lu sekarang!! Asal kamu tahu ya! Ada cowok yang bahkan nggak bisa ngomong sama cewek secantik itu tahu!! Iya, kayak aku yang dulu."

 

"O, oke..."

 

"Tapi ngomong-ngomong... Miu-chan, manis banget ya."

 

"Apa? Manis gimana maksudnya?"

 

"Nggak tahu ya... rasanya... aku bener-bener deg-degan!! Seumur hidup aku, nggak pernah aku main berdua sama cewek kayak gini! 1 menit 1 detik rasanya berkilauan gitu."

 

Morishita mengenang waktu yang dia habiskan berdua dengan Miu dengan mata berbinar.

 

Seolah-olah dia sedang jatuh cinta.

 

"Yah, nanti kita main bareng-bareng lagi aja gimana? Lumayan seru juga kan."

 

"Eh, boleh nih!? Lu emang terbaik~! Emang sahabat sejati!!"

 

"Haha..."

 

Sambil mengobrol begitu, kami sampai di stasiun tujuanku.

 

Morishita turun satu stasiun lagi, jadi kami berpisah di sini.

 

"Sampai ketemu besok di sekolah ya~"

 

"Eh!! Besok sekolah ya!!"

 

"Iya lah... hari masuk sekolah kan..."

 

"Anjir untung diingetin, thanks ya~!"

 

"Yo, met istirahat~"

 

Sambil berjalan sendirian di kota sore hari saat matahari sudah terbenam sepenuhnya, kata-kata Morishita tadi tiba-tiba terlintas di kepalaku.

 

"Kakak-beradik itu gila banget kan... mungkin lu udah biasa lihat..."

 

──Hmm.

 

Memang sih, karena sering bertemu Miu, kata "biasa lihat" mungkin cocok... tapi kalau soal Kak Momo, aku pun masih sering gugup... biarpun teman masa kecil, situasinya beda dengan dulu.

 

Meski aku terus berhubungan dengan kakak-beradik itu tanpa pikir panjang, apakah keadaan ini akan terus berlanjut selamanya...? Atau lebih tepatnya, apa boleh aku melanjutkannya...

 

Saat ini, aku tidak tahu apa-apa.

 

Jujur saja, kalau sekarang rasanya menyenangkan, mungkin itu sudah cukup.





 

Bagikan ke:

Komentar

Tinggalkan Komentar