Featured Image

ToshiOsa V1 C2

Metoya Januari 20, 2026 Komentar

   Chapter 2: Suasana yang Mulai Berubah ~Lintasan Handuk Mandi~

 

Celah gorden yang diterobos cahaya pagi yang silau.

 

Kicauan burung kecil memberitahukan dimulainya hari ini.

 

────Akan tetapi, pagi yang anggun seperti itu tidak ada dalam kamus hidupku...

 

Kringgg-ringgg-ringgg.

 

“Nghhh... masih bisa tidur lima menit lagi...”

 

Sambil memikirkan hal itu, aku meraih ponsel untuk mengeceknya, dan terlihatlah deretan alarm yang disetel setiap lima menit sekali berbaris rapi.

 

“Gawaaat!!!!”

 

Akhirnya menyadari betapa gawatnya situasi ini, aku menendang selimut dan berlari menuju kamar mandi seolah pantatku sedang terbakar.

 

“Kemarin gara-gara ketiduran begitu saja, aku jadi lupa mandi! Sial banget~! Kalau terlambat lagi, aku pasti bakal dimarahi dia lagi nih... hmm~ apa pasrah saja ya?”

 

Mengandalkan momentum, aku mencuci seluruh tubuh dengan kilat dan segera meninggalkan kamar mandi secepat mungkin.

 

“Fuh~~, mandi pagi memang enak banget ya! Mata jadi melek! Rasanya segar sekali!!”

 

Aku membuka pintu dengan suara blam. Di dalam kamar yang sunyi, kasur yang masih berantakan bekas bangun tidur. Dan, duduk manis di depan meja belajarku sambil memiringkan kepala dengan heran, ada Miu.

 

“Ap...... Haaaaah~~~!?”

 

“......Honyah?”

 

Yang saling berhadapan adalah, dia yang berwajah bengong dan bodoh............ serta aku yang hanya memakai sehelai handuk mandi.

 

“Tu-tunggu duluuu!? Kamu bodoh ya!? D-dasar mesum~~~!!!”

 

“Hah!? Me-mesum!? Tiba-tiba ngomong apa sih!? Ini kamarku!! Aku!! Cuma masuk ke kamarku sendiri, kan~!?”

 

“Kenapa juga kamu masuk sambil telanjang begitu!!”

 

“Enggak, enggak, aneh banget!! Telanjang atau apa kek, namanya juga habis mandi ya wajar dong!! Lagian, mana terpikir olehku kalau kamu ada di kamar!!!”

 

“Tunggu!! Jangan mendekat! Dasar! Mesum!!”

 

“Hnaaaaaaah~~~!?”

 

Di tengah adu mulut yang memercikkan api itu── insiden tiba-tiba terjadi.

 

Tiba-tiba, handuk mandi yang melilit pinggangku... melrosot jatuh begitu saja.

 

“Eh────”

 

Tanganku seketika membelah udara mencoba menangkap handuk itu. Tapi jelas tidak akan sempat.

 

Saat itu juga──── segalanya terlihat seperti slow motion.

 

Rasanya seperti melihat kilas balik kehidupan.

 

Napas, waktu, segalanya berhenti. Apakah hidupku berakhir sampai di sini────

 

────Sreeet.

 

“GYAAAAAAAAAAAAAAA~~!!”

 

“AAAAaaaaaa~~!?”

 

“DASAR SUPER MESUM~~~!!!”

 

──Bugh!!

 

Tas sekolah yang digenggam Miu menghantam perutku dengan telak dan mengeluarkan suara tumpul.

 

Di atas kepalaku yang terkapar di lantai dengan bunyi gedebuk, Miu berdiri tegak bak raksasa penjaga kuil.

 

Ekspresi dingin yang tak terlihat seperti orang yang baru saja mengayunkan tas sekuat tenaga... justru aku yang karena saking kagetnya, waktu serasa berhenti lagi sejenak.

 

“Guh... tu-tunggu, sakit banget woy~~!!”

 

“Apanya yang sakit! Masuk sambil telanjang itu bener-benar nggak bisa dipercaya tahu!? Coba posisikan dirimu jadi aku yang melihat "ITU" dong!!!!”

 

“Ka-re-na i-tu! Di sini! Itu kamarku tahu! ...Lagian, kamu... dari sudut pandang bawah begini celana dalammu kelihatan tahu. Hal-hal kayak gitu, harusnya kamu benar-benar lebih hati-hati. Kamu tuh nggak ngerti laki-laki sih.”

 

“Ha, haah!? Ngomong apa sih kamu!? Kamu tuh beneran sampah!! Mesum!! Super Mesum! Kamu beneran nggak punya sopan santun!!”

 

Anak ini... seenaknya melihat tubuh telanjangku tapi malah ngomong begitu, nggak banget kan!!

 

“Sudah ah! Jangan diam saja, cepat ganti baju!! Cepat siap-siap berangkat sana!!!”

 

“Ngh~!! Apaan sih, aaaaah~!!!”

 

◆◇◆

 

────Yah begitulah, meski sempat ada keributan seperti itu...

 

Langit pagi musim panas begitu biru dan cerah, dengan sinar matahari yang menyengat tanpa ampun.

 

Dari aspal, udara yang seperti fatamorgana naik berayun-ayun, dan suara jangkrik berbunyi nyaring seolah hendak menembus telinga.

 

“...Panas banget~!!”

 

Aku berjalan sambil melonggarkan dasi dan mengibas-ngibaskan kerah kemeja.

 

Keringat mulai merembes di punggung, dan rambutku yang masih basah menjadi sedikit ikal dan bergelombang.

 

Gara-gara buru-buru keluar rumah, aku bahkan tidak sempat mengeringkannya dengan benar.

 

“Sejak pagi sudah lari sekuat tenaga, dipukul pakai tas... ditambah lagi panas terik begini... apakah aku melakukan kesalahan?... Hei...”

 

Meski terus menggerutu, kakiku tak bisa berhenti.

 

Karena hampir terlambat, aku memperhitungkan waktu, mengincar momen saat lampu lalu lintas berubah dan berlari sekuat tenaga.

 

Di sebelahku, Miu yang juga berjalan sambil berkeringat hanya diam menatap ke depan.

 

Rambut panjang Miu sesekali menyentuh lenganku dengan lembut. Sejak kecil rambutnya memang panjang, dan kuncir duanya yang sering bergerak-gerak itu seolah memiliki kesadaran sendiri. Dulu aku sering menggodanya soal itu dan berakhir dimarahi Miu... Walau sudah SMA pun gaya rambutnya masih sama, tapi yang berbeda dari masa lalu adalah rambut itu kini berkilau dan terawat dengan baik, bahkan aku pun bisa menyadarinya. Bukan cuma rambut, penampilannya juga entah bagaimana, meski bikin kesal mengakuinya, aku paham kenapa para cowok menoleh padanya. Kalau tidak salah ada yang bilang dia itu “yang paling manis di kelas”.

 

Wajah Miu yang seperti itu, kini terlihat sedikit memerah dan panas. Entah karena cuaca panas, atau sisa kemarahan tadi──── aku tidak tahu.

 

“...Hei, yang tadi itu beneran kecelakaan kok. Aku nggak ada niat buruk──”

 

“Diam. Panas tahu, sekarang aku nggak ada tenaga buat ngobrol.”

 

“...Iya deh.”

 

Kami berdua mempercepat langkah menuju sekolah.

 

Angin yang berhembus pun terasa hangat, sama sekali tidak terasa sejuk sedikit pun.

 

◆◇◆

 

──Sreeet!

 

Pintu kelas dibuka dengan penuh semangat. Dengan seragam berantakan dan rambut acak-acakan, aku dan Miu meluncur masuk.

 

“Fuuuh... Hampir saja!!!”

 

Di depan meja guru, wali kelas mengecek jam, lalu menyipitkan mata melihat kami.

 

“...Yah, setidaknya kalian masih tepat waktu. Cepat duduk sana~”

 

“Baik...”

 

Dengan sempoyongan aku menuju kursiku. Miu yang duduk di sebelahku membuang muka sambil melipat tangan.

 

“...Sekali lagi, selamat pagi...”

 

“...Berisik.”

 

Jawaban yang ketus. Mulutnya masih cemberut.

 

“Eh tapi, emangnya aku yang salah ya soal itu...?”

 

“Beneran berisik. Diam dong, mesum.”

 

“Guh!!”

 

Dari kursi belakang terdengar suara cekikikan.

 

“Pagi-pagi sudah panas ya Pasangan teman masa kecil~♡♪

 

“Bukan! Bukan yang kayak gitu...!”

 

“Bukan tahu!!!”

 

Suara kami berdua tumpang tindih dan menggema ke seluruh kelas.

 

“...Oh? Ada apa, ada apa? Apa komedi romantis sekolah yang klise sudah dimulai~?”

 

“Ooh!! Ini adalah awal dari gejolak asmara nih!”

 

Teman-teman sekelas mulai ribut. Jujur saja, aku kurang suka dengan suasana seperti ini...

 

Sendirian, sambil menghela napas aku menelungkupkan wajah ke meja, dan Miu menatap punggungku dengan tatapan tajam yang samar.

 

“Beneran deh... kamu tuh selalu aja begini...”

 

Sambil terombang-ambing dalam sandiwara receh itu, pipinya merona lebih merah dari sebelumnya, namun aku masih belum menyadarinya.

 

◆◇◆

 

──Istirahat siang.

 

Karena liburan musim panas akan segera dimulai, para gadis di kelas sedang asyik membicarakan rencana musim panas mereka.

 

Meski AC bekerja seadanya, udara di dalam kelas terasa lembap dan membuat malas... Di tengah suasana itu, aku duduk berdampingan dengan Morishita menghadap meja, mengunyah roti manis.

 

Dia ini Morishita Ryou.

 

Awalnya cuma teman sekelas biasa, tapi tanpa sadar dia jadi teman yang paling lama bersamaku.

 

Hubungan di mana kami bisa saling mengerti tanpa perlu bicara banyak. Tapi kadang kalau dia menggodaku terlalu kelewatan, rasanya benar-benar menyebalkan. Yah, itulah yang namanya sahabat.

 

“Ngomong-ngomong, bahkan di dalam kelas pun panas banget... ini AC-nya nyala nggak sih? Di luar pasti kayak neraka kan!?”

 

“Katanya suhu luar lebih dari 37 derajat lho. Itu sih sudah nggak beda jauh sama air mandi panas.”

 

“Kalau menurut perasaanku sih sudah 42 derajat...”

 

“Yap. Sudah bukan lingkungan hidup manusia lagi. Justru hebat banget kita masih bisa hidup normal sekarang.”

 

“Iya bener. Keajaiban. Ini sih sudah keajaiban total.”

 

Saat kami tertawa karena obrolan yang tidak penting itu, tiba-tiba Morishita bertanya seolah teringat sesuatu.

 

“Oh iya~ kau sudah beli game baru itu?”

 

“Hmm? Aah~ game fighting itu?”

 

“Iya iya yang itu~”

 

“Beli, beli! Udah lumayan sering kumainkan kok. Kalau ada sistem rank-nya tuh~ jadi keasyikan main buat ngejar posisi atas.”

 

“Paham banget~! Wah~ jadi pengen cepat pulang terus main~ hari ini begadang buat grinding ah. Setidaknya pengen sampai rank Platinum. Rank kayak gini tuh, momen setelah rilis itu krusial banget.”

 

“Dasar no-life.”

 

“Biarin. Aku nggak mau kalah dari kau pokoknya.”

 

“Aku!? Hah... arah usahamu itu salah tahu...”

 

Saat tawa kecil pecah karena percakapan remeh itu, tiba-tiba──

 

“...Hei, game itu, yang lagi viral sekarang kan?”

 

Suara melayang dari kursi sebelah.

 

Sambil bertopang dagu, Miu yang sedari tadi mendengarkan percakapan kami, melirik ke arah sini.

 

“Ya, itu. Kenapa, tertarik?”

 

“Tertarik. Aku juga mau coba main! Game itu.”

 

““──Eh?”“

 

“Sepulang sekolah... boleh aku main ke rumahmu?”

 

Morishita menoleh ke arahku dengan kecepatan yang bisa membuatnya menyemburkan cola. Sedikit lucu.

 

“Hoeee!? Miu-chan, ke rumah lu!? Eh, itu berarti────”

 

““Itu berarti?”“

 

“Berduaan di kamar lembap yang AC-nya nggak dingin... Dua orang yang asyik main game kompetitif, jaraknya menyusut secara alami, dan tanpa sadar berada dalam jarak di mana kulit dan kulit bersentuhan... Tubuh yang berkeringat dan panas serta detak jantung yang anehnya mulai disadari── Dua orang yang tak tahan lagi dengan suasana itu seolah dituntun oleh Dewa, ci... ci........ ciuma-”

 

“Nggak, ngomong apa sih kau.”

 

“Morishita-kun itu agak punya bakat otaku ya.”

 

“Ngomongnya cepet banget, parah kau.”

 

“Morishita-kun kayaknya bisa nulis novel erotis deh.”

 

“Enggak, enggak, enggak, iya, iya, aku paham kok. Tujuannya game kan. Tujuannya game. Tuh kan! Katanya di rumah lu ada es krim juga!”

 

“Yah itu sih... nggak aneh kan kalau ada es krim di rumah... ngomong apa sih kau dari tadi.”

 

Morishita dengan wajah senyum-senyum jijik yang menyebalkan, semakin memprovokasi ke arah Miu.

 

“Tapi, tapi~i! Miu-chan bilang sendiri "Boleh main nggak?", itu lumayan langka nggak siiih~?”

 

“Duh berisik banget sih~. Kan dari dulu juga sudah biasa main ke rumahnya, sekarang sih nggak ada langka-langkanya lagi tahu!”

 

“Offu~! Di sini dia memasukkan daya tarik hak istimewa teman masa kecil~!”

 

“Dibilangin juga~! Beneran bukan yang kayak gitu!”

 

“Cara ngomong "bukan yang kayak gitu" itu justru yang paling terasa "kayak gitu"-nya lhooo... kukuku.”

 

“............!”

 

Tanpa sadar wajahku memanas. Ini nih bagian buruknya dia.

 

“Yah! Terserah deh~! Pulang sekolah aku bakal main ke sana ya~, tolong perlihatkan permainanmu dengan jelaaas ya~”

 

“Permainan!? ...Hauh! Tuh kan pikiranmu ngeres begitu!!!”

 

“Ka-re-na-i-tu! Dibilangin bukan begitu!”

 

Karena agak kesal dengan betapa gigihnya dia, aku menggebrak meja dan berdiri. Brak.

 

Hening───......

 

Sialan... saking semangatnya, aku malah jadi pusat perhatian satu kelas.

 

“Ah... maaf...”

 

Miu tertawa kecil melihat aku yang buru-buru minta maaf.

 

“...Bodo~

 

Sambil menutupi mulut dengan tangan, dia bergumam pelan ke arahku.

 

...Interaksi seperti inilah yang mungkin bikin orang-orang di sekitar jadi salah paham.

 

◆◇◆

 

────Sepulang sekolah.

 

Setelah homeroom selesai, kami yang bertemu di depan gerbang sekolah, secara alami berjalan menuju rumahku.

 

Sambil mengobrol hal-hal remeh, tanpa sadar kami sudah ada di depan rumah.

 

“Ya, ya, silakan, masuk, masuk~”

 

“Permisi~”

 

Miu masuk ke dalam rumah dengan sikap terbiasa seperti biasanya.

 

Sepatu loafer cokelat tua ukuran kecil itu dirapikan dengan benar dan berjajar dengan sepatuku.

 

Padahal pemandangan yang sudah biasa kulihat, tapi entah kenapa terasa manis.

 

“Ah, iya, Ibu katanya pulang telat lagi hari ini, jadi sekarang cuma ada aku di rumah ini.”

 

“B-begitu... Yah, kalau kamu bilang canggung berduaan saja, aku boleh pulang kok~??”

 

“Nggak lah... haha. Kau pasti nggak niat pulang kan haha.”

 

Sambil saling melempar candaan begitu, Miu menapakkan kaki di anak tangga pertama.

 

“Hei... biasanya kan kamu yang naik duluan? Jangan-jangan kamu pura-pura nggak tertarik padahal mau ngintip celana dalamku ya?”

 

“...HAAH!? Mana mungkin lah! Lagian aku nggak tertarik sedikit pun sama celana dalammu!”

 

Sambil mengabaikan Miu, aku mampir ke ruang tamu dengan wajah heran, mengambil es krim rasa soda berbentuk batangan dari freezer.

 

Supaya tidak meleleh, aku berlari menaiki tangga dan membuka pintu kamar.

 

Tadi pagi aku keluar kamar dengan terburu-buru, jadi pemandangan yang lebih berantakan dari biasanya langsung terlihat.

 

...Dan, di kasur kamar yang bau cowok itu, Miu duduk dengan manis.

 

Dia membuka mulut dengan ekspresi yang entah kenapa terlihat agak sungkan.

 

“...Ngg, anu, rasanya sudah lama ya, kita main berdua begini... kan.”

 

“Hmm? Gitu ya??”

 

“Iya, pagi-pagi aku sering datang buat bangunin kamu sih, tapi kan nggak ada waktu buat santai-santai.”

 

“Ah, benar juga.”

 

Percakapan yang tak ada artinya. Tapi entah kenapa udaranya terasa berat.

 

Mungkin karena cuma berdua di rumah, rasanya jadi hening sekali.

 

“Nih, makan. Di luar panas banget, dinginkan badan dulu gih.”

 

“Wah~ peka banget~, makasih~”

 

Sambil berkata begitu, Miu menjilat es krim batangan yang kusodorkan.

 

Karena baru saja pulang, AC sama sekali belum bekerja.

 

Di kamar yang terasa lembap dan panas, aku memasukkan es krim rasa soda yang mulai meleleh perlahan ke dalam mulut.

 

Aku merasakan kulit yang lengket oleh keringat perlahan didinginkan dari dalam.

 

“Ah~ serasa hidup kembali~~~”

 

“Heh! Cepet banget makannya!”

 

“Masa sih? Segini mah masih kurang~”

 

“Kalau gitu, mau punya aku? Masih sisa satu gigitan nih.”

 

“Nggak... bekas mulutmu itu agak gimana gitu...”

 

“Apa sih, mau bilang kotor gitu...???”

 

“Yah mungkin itu juga, tapi bukan itu masalahnya...”

 

“Lucu deh. Apa, apa? Maksudnya ciuman tidak langsung? Hmmm Kamu mikirin hal kayak gitu ya~?

 

“Kamu ini ya...”

 

“Rasanya, agak nggak nyangka deh

 

Sambil berkata begitu dan melahap sisa es krimnya, dia duduk di kursi kerjaku dan memutarnya, kuit.

 

“...Eh?”

 

“──Hm? Kenapa?”

 

“PC-nya nyala terus tuh. Harusnya dimatiin dong~? Eh...”

 

Begitu tangan Miu menyentuh mouse dengan ringan, monitor milikku yang dalam mode sleep terbangun dan hidup kembali.

 

“Tu-tunggu..., kamu... apa-apaan ini...”

 

“TIDAAAAKK!! Tunggu!! ITU!!”

 

Di layar monitor 27 inci itu, muncul tampilan layar start yang "sedikit nakal" dengan deretan karakter gadis cantik berpenampilan rapi hingga kakak perempuan berdada montok dan seksi.

 

Dengan font imut yang didominasi warna merah muda, di tengahnya terpampang judul besar-besar──

 

"~Akademi Harem Love-Love yang Memabukkan!? Hati Kamu Milik Siapa~"

 

Ya ampun, bisa-bisanya aku, si aku ini, melakukan kesalahan fatal begini dan membiarkan kelemahanku dipegang...

 

“Hee~? Game simulasi kencan gadis cantik?”

 

“Bu-bukan!! Ini gimana ya bilangnya... be-benar! Versi percobaan! Aku tertipu sama game yang muncul di iklan~ wah~ beneran deh bikin repot~”

 

“Hmmm, salah ya... Terus, ditinggal begitu saja di layar judul?”

 

“Iya, iya! Akhirnya nggak lanjut dari layar ini kok! Aku juga nggak tahu isinya! Namanya juga lupa dimatiin! Haha.”

 

“Hmm-hmm begitu ya, ...ini save data-nya...? Ah, sudah masuk putaran ketiga...”

 

“Heh!! Dibilangin jangan dilihat!!!”

 

“Ahaha Shintarou tuh~ sukanya yang begini yaaa~?

 

Miu tersenyum menyeringai jahil.

 

Wajahku yang sudah merah padam ini tidak punya celah lagi untuk melawan.

 

Sejak lahir sampai sekarang, aku menjalani hidup sebagai otaku dengan sangat hati-hati agar tidak diketahui siapa pun. Tak disangka malah begini jadinya.

 

Aku tidak akan pernah membenci diriku sendiri lebih dari ini karena "kurangnya kewaspadaan dalam membereskan jejak".

 

Yah, percuma ngomong apa pun sekarang, sudah jelas aku bakal diledek, jadi di sini aku akan bersikap jantan...

 

Jantan... dan mencoba untuk pasrah saja.

 

“Cih... ah iya benar... ini adalah impian laki-laki!! Ini adalah game simulasi terbaik di mana kamu bisa merasakan situasi tertinggi yang diidamkan setiap pria!!!!!”

 

“Hmm hmm hmm, begitu, jadi intinya, kamu punya hasrat ingin melakukan hal-hal seperti ini ya?”

 

“Nghh... bu-bukan, bukan begitu juga...! Tapi dibilang bukan begitu juga nggak sepenuhnya salah sih. Ennggh...”

 

Sambil cekikikan, Miu memutar kursinya setengah putaran lagi, kuit.

 

“Nggak usah panik gitu dong~ Aku nggak lagi menyalahkanmu kok~”

 

“Ka-kalau gitu berhenti meledekku...”

 

“Habisnya, lucu sih Padahal biasanya pasang wajah cool~? Tapi giliran soal beginian panik banget

 

“Ya iyalah... game beginian kan, biasanya bikin cewek ilfil.”

 

“Hmm? Gimana ya, aku kan tipe yang tertarik sama apa saja...? Tapi yah, mungkin aku agak paham! Game simulasi begini? Ada juga sih rasa ingin coba memainkannya.”

 

“Eh? Benarkah?”

 

“Iya, cinta di dunia nyata kan, nggak mungkin berjalan semulus ini. ...Kalau cuma dengan satu pilihan saja tingkat kesukaan bisa naik dengan mudah, pasti enak banget ya, aku tulus mikir begitu lho...”

 

“...Miu?”

 

“Fufu, bercanda kok. Canda, kamu kan cowok yang jauh dari kata asmara ya~”

 

Setelah memperlihatkan ekspresi yang sedikit kesepian, dia langsung memasang senyum cerah seolah baru menyadari sesuatu.

 

Aku ingin mengatakan sesuatu, tapi kata-kata yang pas tidak keluar.

 

“Ng-ngomong-ngomong, janjinya mau main game berdua kan~!”

 

Sambil berkata begitu aku mematikan monitor.

 

“Eh? Kita mau main game simulasi kencan?”

 

“Bukanlah! Game fighting tahu!!”

 

“Ahaha. Iya paham kok~”

 

Udara yang tadi terasa agak berat kini mencair.

 

──Tapi, perasaan bergemuruh di dalam dada ini, pasti bukan cuma aku yang merasakannya...

 

◆◇◆

 

“Aaaah~! Kalah lagi~~”

 

Sambil berteriak kesal dengan wajah kusut, Miu hampir melempar stik kontrol, tapi aku buru-buru menangkapnya.

 

“Ka-re-na i-tu! Dibilangin jangan lempar stiknya! Ini mahal tahu!!!”

 

“Nggak mungkin kulempar lah! Tapi, tapi kan? Yang barusan itu curang! Mengalah sedikit napa sih...!! Pelit.”

 

Miu duduk plek di kasurku sambil merapikan seragamnya yang agak berantakan.

 

Mungkin karena terlalu bersemangat, ada sedikit keringat di lehernya, dan rambutnya mencuat di beberapa tempat. Apa dia mengacak-acak rambutnya pas main tadi? Benar-benar seperti anak kecil.

 

“Terlepas dari itu, kamu beneran payah ya main game... Yah tapi, dari sudut pandang cowok mungkin bagian itunya yang terlihat imut ya~”

 

“H-haah!? I-itu aku cuma ngalah supaya kalah kok...”

 

“Nggak usah sok kuat gitu deh haha.”

 

“Sama sekali nggak sok kuat kok!? Kamu ini agak ngelunjak ya... ngeselin.”

 

Sambil berkata begitu, Miu menggembungkan pipi dan memajukan wajahnya ke arahku sambil memonyongkan bibir "Nmuu~".

 

“...A-apaan sih.”

 

“Apa? Malu ya? Cuma didekatin wajah sedikit saja sampai telinganya merah banget tuh~

 

“Ja-jangan menggoda woy!!”

 

“Kenapa? Yang begini kan, kamu sudah biasa di game simulasi kencan gadis cantik andalanmu itu kan~?”

 

Sambil bicara begitu, akhirnya wajah Miu mendekat dengan cepat sampai nyaris menyentuh wajahku.

 

Jaraknya hanya beberapa sentimeter... atau malah, kalau salah sedikit saja ujung hidung kami bisa bersentuhan.

 

“...Fuuuh.”

 

Hembusan napas kecil Miu menerpa pipiku.

 

Terasa lembut dan hangat...

 

Apa ya... aku tidak merasa jijik, justru malah sedikit berdebar.

 

Aku sendiri kaget ternyata hanya dengan satu hembusan napas bisa terasa seperti ini, indra di pipiku jadi sangat tajam.

 

Gawat. Kata-kata tidak mau keluar.

 

Atau lebih tepatnya, kalau aku bicara aku takut bakal menghirup napas itu, jadi alih-alih membuka mulut, aku bahkan menahan napas.

 

(Sa-sampai kapan ini berlanjut? Adu tahan napas ini...)

 

Akhirnya karena tak tahan lagi menahan napas, aku mundur dengan cepat mengambil jarak.

 

Lalu──

 

“Yaaaah♡♡ Kamu kalaaah~♡♡♡

 

“...!?”




"Di game fighting aku memang kalah, tapi dalam adu tahan napas tadi aku yang menang lho~♡♡"

 

"Hah...? Apaan sih itu..."

 

"Habisnyaaa~ Mukamu merah banget tahu? Cuma dihembus sedikit saja sudah bereaksi, gampangan banget sih"

 

Miu melakukan pose kemenangan di atas kasur, lalu menatap wajahku dengan ekspresi bangga (smug face).

 

Jujur saja... aku kesal banget.

 

Wajahnya yang puas itu, kalau diumpamakan dalam anime, pasti dikelilingi bunga-bunga bermekaran dan efek kelap-kelip.

 

(Anak ini... benar-benar meremehkanku...!!)

 

Aku membulatkan tekad────untuk memberinya pelajaran.

 

(Fufufu... kamu sudah menekan tombolku... yaaa!!)

 

"Ya, ya... begitu ya..."

 

"...Hm? Apa? Begitu apanya...!?"

 

──Gabaa!!

 

Aku langsung menindih Miu, seolah mendorongnya ke kasur.

 

Benar, saatnya mempraktikkan "Game Simulasi Kencan" yang sudah diejek habis-habisan itu.

 

Hanya sekarang kesempatannya, semua pengetahuan yang kudapat dari game...

 

Akan kutumpahkan semua padanya!!

 

"...Eh! Tunggu! Apa-apaan sih!!"

 

"Haha, apanya? Kamu sadar kan apa yang kamu lakukan? Biarpun teman masa kecil, ini kamar cowok tahu? Apalagi cowok seumuran yang bener-bener tertarik sama 'hal-hal begitu' lho~!!"

 

"Omonganmu bahaya banget tahu!! Minggir, berat! Sana ah~!"

 

(Bagus, bagus... aku merasakan responnya... sepertinya efektif...)

 

──Misi 1. "Buat dia malu dengan rayuan gombal."

 

"Kamu itu ya, kalau dilihat-lihat wajahmu manis juga..."

 

"Ha, haah!? Apaan sih tiba-tiba..."

 

"Rambutmu selalu rapi, merawat diri juga, bener-bener cewek banget... Padahal ada cewek semanis ini di dekatku, tapi aku... hebat juga ya bisa menahan diri sampai sekarang..."

 

"I-itu benar... terus berada di sampingmu kan? Harusnya kamu lebih bersyukur ada cewek se-ma-nis ini di sisimu."

 

Kaki Miu yang terapit di antara kakiku bergerak-gerak gelisah.

 

Setiap kali bergerak, aku bisa melihat kaus kaki selutut (knee-high socks) putih yang dipakainya melorot sedikit demi sedikit.

 

(Heh, tubuh memang jujur ya...)

 

──Misi 2. "Sedikit sentuhan fisik."

 

Mungkin sudah sekitar 2 menit berlalu sejak kami berbaring telentang di kasur.

 

Jujur saja, bagi perjaka sepertiku ini berat banget...

 

Biarpun teman masa kecil yang biasanya tidak kuanggap wanita, dia tetaplah perempuan...

 

Aku tidak tahu sampai kapan bisa mempertahankan posisi ini.

 

Saat melirik ke bawah, paha yang menyembul dari kaus kaki itu terlihat...

 

Dia yang diam saja tanpa perlawanan berarti saat kutindih ini, membuat perasaan misterius mulai tumbuh.

 

(Aku... kenapa melakukan hal ini ya... rasanya... malu banget woy!!)

 

Sisi "Berani" dan sisi "Pecundang" dalam diriku muncul bergantian.

 

Sisi Berani (Enggak, enggak... kan tujuannya buat kasih pelajaran ke Miu, jalankan misinya dong? Kalau berakhir di sini, nggak ada bedanya sama aku yang biasanya kan?)

 

Sisi Pecundang (Memang sih kalau begini terus bakal berakhir seperti biasa... tapi ini jijik banget nggak sih!? "Kalau dilihat-lihat wajahmu manis juga..." katamu!? Siapa sangka kata-kata itu keluar dari mulutku!? Mustahil. Misi ini berakhir di sini.)

 

Sisi Berani (Ya ampun... dasar perjaka... Hei, apa yang kamu pelajari dari Eroge? Langkah selanjutnya sentuhan fisik kan? Cuma sentuh tangan sedikit, apa susahnya!? Kamu sudah diejek habis-habisan, dan kamu sudah bertekad membalas kan! Sekarang saatnya memberinya pelajaran!! Lakukan!! Maju!! Sadarkan dia!!)

 

...Nnnaaaaaah!! Berisik, berisik!!

 

Masa bodoh lah~~~!!

 

"Hiaaaaattt~!!"

 

──Mugyu (remas)

 

Saat itu juga──aku menjadi pria sejati.

 

Harusnya aku menggenggam tangan Miu yang sedang telentang.

 

Tapi yang tergenggam di tangan itu adalah... milik Miu...

 

Punya Miu...

 

"Eh...!? T-tidaaaaaak!!"

 

"Hiiie!?"

 

"Cepat lepaskan tanganmu ituuuu!!"

 

──Bagoooo!!

 

"Sakiiit!! Nggak perlu memukul sekuat tenaga juga kali~!!"

 

"Dasar penjahat kelamin mesum!! Ambil kesempatan dalam kesempitan, ngapain pegang payudaraku hah!! Bodoh!"

 

"Bukan!! Itu beneran bukan sengaja!! Aku cuma mau pegang tangan! Tanganku tergelincir, dan mendarat di dadamu...... lagian punya kamu, lumayan besar juga ya. Aku kaget karena pas digenggam."

 

"Hah!? Jijik!! Beneran nggak mau!! Padahal belum pernah disentuh siapa-siapa tahu~! Kenapa harus kamu yang bukan pacarku yang menyentuhnya sih~!!"

 

"Yah, justru bagus kan? Aku yang pertama. Kita kan teman masa kecil, dulu juga pernah mandi bareng kan? Setidaknya bukan cowok aneh, jadi oke lah."

 

"Ugh... yah, kalau dibilang begitu sih mungkin iya..."

 

"Iya nih...!?"

 

"Muh... Jangan ngelunjak! Mulai hari ini namamu adalah Penjahat Kelamin Mesum!!"

 

"Iya, iya... panggil saja sesukamu......"

 

Sambil menenangkan Miu yang marah-marah, aku duduk kembali di kasur.

 

Mungkin karena waspada, Miu juga memperbaiki posisi duduknya sambil memberi jarak sedikit.

 

"Gara-gara begitu tuh, makanya kamu nggak punya pacar sampai sekarang."

 

"B-biarin aja sih...!!"

 

────Menusuk tepat di titik yang sakit. Itu lumayan ngena.

 

"Terus... gimana. Kesanmu setelah memegangnya."

 

"Eh? A, aah...? Gimana ya... jujur karena terlalu kaget aku nggak terlalu ingat... rasanya sih kegenggam, tapi entahlah nggak begitu paham."

 

"Hmph! Kesan yang membosankan~"

 

"Apaan sih."

 

Miu menatapku lekat-lekat. Aku bisa merasakan atmosfer kemarahannya tadi perlahan berubah. Dia yang tadi menjaga jarak, kini mendekat lagi padaku...

 

"...Kalau begitu, mau coba pegang? Punyaku..."

 

"Eh... pegang apanya!?"

 

"Makanyaaa, aku tanya mau coba pegang payudaraku nggak~!"

 

"S-serius!? Seriusan... eh, boleh?"

 

Eh!! Beneran boleh!?

 

"Hah? ............Bohonglah, ya kali."

 

──!?

 

"Apaan sih~!! Sifatmu yang begitu itu bener-bener nggak baik tahu! Kalau mainin perasaan perjaka, nanti dimarahin dunia lho!!"

 

"Hah!? Nggak mau denger itu dari cowok gak peka! Lagian... kamu ternyata masih perjaka ya..."

 

Tiba-tiba Miu menunduk malu.

 

"Wajarlah! Sekarang kan aku nggak punya pacar. Yah~ tapi kalau ciuman satu atau dua kali sih pernah lah~!"

 

"Ciuman satu atau dua kali...? Hmmm, gitu ya..."

 

"Kalau kamu?"

 

"...h. Aku... belum pernah apa-apa sih."

 

"He, hee~..."

 

(Gawat, aku salah nanya nih kayaknya...)

 

Di kamar yang mulai remang-remang, aku merasakan kelembapan udara perlahan meningkat.

 

Di luar jendela terdengar suara gagak dari kejauhan. Tanpa sadar hari sudah sore.

 

──Hm?

 

Miu yang wajahnya lebih merah dari tadi, membenamkan wajahnya sambil memeluk lutut.

 

Tersorot sinar matahari senja yang masuk dari jendela, dia terlihat semakin memerah.

 

Mungkin ini pertama kalinya aku melihat dia seperti ini...?

 

Ah benar, misi pertama... kalau tidak salah "membuatnya malu", kan?

 

...Bukankah ini berarti aku menang?

 

(Haha... ternyata aku bisa juga kalau niat!!)

 

Entah dari mana datangnya, aku merasa sangat percaya diri.

 

Walaupun bagi Miu, mungkin aku cuma cowok gak peka yang kasar...

 

──Tring

 

Pesan masuk ke ponsel Miu.

 

"Hm? Dari Kakak... Ah! Malam ini mau makan di luar! Aduh~ lupa banget. Kalau gitu aku pulang ya! So-soal hari ini... kita sama-sama lupakan saja!!"

 

"Oh...? O, oke... iya juga. Kalau gitu, kita bubar ya..."

 

Miu menyampirkan tas di bahunya, lalu berdiri sambil menggenggam tali tasnya erat-erat.

 

Rok yang kusut dan kuncir dua yang agak berantakan, mengingatkanku bahwa kami sudah bercanda cukup lama.

 

"Aku antar sampai rumah ya."

 

"Nggak usah, nggak apa-apa. Masih terang kok, lagian Kakak bakal jemput di dekat sini."

 

"Gitu ya, syukurlah kalau begitu."

 

"Heem. Tumben... kamu khawatirin aku?"

 

"Wajar dong, cewek jalan sendirian malam-malam itu bahaya. Biarpun itu kamu."

 

"Gitu ya... kalimat terakhirnya agak nggak perlu sih... tapi yah, makasih."

 

"Oh iya, kabari kalau sudah sampai rumah ya!"

 

"Apaan sih haha. Kayak pacar aja."

 

"Benar juga... aneh ya haha."

 

"Dah ya," ucap Miu dengan ekspresi yang terlihat agak malu-malu, lalu meninggalkan rumahku.





Bagikan ke:

Komentar

Tinggalkan Komentar