Featured Image

ToshiOsa V1 C1

Metoya Januari 19, 2026 Komentar

  

    Chapter 1: Hari Reuni

 

Sepulang sekolah di suatu hari bulan Juli, tepat saat liburan musim panas baru saja akan dimulai.

 

Aku, Miyata Shintarou, dimintai tolong untuk sebuah urusan yang merepotkan, dan kini aku sampai di sebuah apartemen di dekat stasiun yang tak jauh dari sekolah.

 

Orang yang menjadi tujuan urusanku ini adalah... teman sekelas sekaligus teman masa kecilku, Shibano Miu.

 

Kami selalu bersama sejak kecil, dari SD hingga SMP, dan sekarang kami bersekolah di SMA yang sama.

 

"...Ya ampun, bisa-bisanya dia lupa lembar cetakan untuk tugas hari ini? Yang benar saja..."

 

Sambil menggerutu dan memegang fail berisi lembar tugas itu, aku masuk ke dalam lif.

 

Walaupun mulut terus mengomel, aku jadi agak heran dengan diriku sendiri yang tetap datang mengantarkan barang pesanan ini dengan patuh.

 

Rasanya sejak dulu, aku tidak bisa menghilangkan perasaan kalau aku cuma dimanfaatkan olehnya.

 

Rumah Miu ada di lantai paling atas sebuah apartemen yang terbilang cukup mewah. Ibu kami adalah sahabat lama, dan hubungan keluarga kami pun masih sangat baik hingga kini. Gara-gara itu semua... tempat ini sudah seperti rumah kedua bagiku.

 

Lif naik perlahan dan berhenti di lantai 7. Diiringi bunyi denting yang pelan, pintu pun terbuka lambat-lambat.

 

Aku berjalan sedikit dan tiba di depan pintu unitnya, namun tepat saat aku mengulurkan tangan untuk memencet interkom seperti biasa────

 

"Hm... tidak terkunci...?"

 

Terlihat olehku pintunya sedikit terbuka.

 

"Oi, oi... membiarkan pintu tidak terkunci itu benar-benar terlalu ceroboh..."

 

Sambil bergumam begitu, perlahan aku meletakkan tangan di gagang pintu.

 

───Ceklek──

 

Bersamaan dengan suara pintu yang terbuka perlahan, gerakanku terhenti.

 

"Eh............? Kamu, kalau tidak salah..."

 

Suara yang terdengar dewasa namun masih menyisakan kesan imut... gaya bicara yang rasanya tidak asing di telinga. Mata yang besar, ekspresi yang lembut, atmosfer ini............

 

Jangan-jangan... orang ini──────

 

"Ano... jangan-jangan, Kak Momo... kah?"

 

Tidak, bukan jangan-jangan lagi. Pasti tidak salah.

 

Orang ini adalah kakak perempuan Miu yang sudah beberapa tahun tidak kutemui. Teman masa kecilku yang lebih tua...

 

Benar... Shibano Momo.

 

"Eh! Lama tidak ketemu...! Kamu Shin-chan... kan?"

 

(...Waah, dia jadi cantik banget...)

 

Di sini, pikiranku sempat berhenti sejenak.

 

"Benar dugaanku! Shin-chan ternyata~! Aku senang sekali~♡♡"

 

Sambil berkata begitu, dia memelukku erat dengan semangat yang sama seperti dulu.

 

Seingatku... sejauh memoriku bekerja, orang ini memang sangat suka melakukan kontak fisik.

 

Tidak peduli aku malu atau tidak, dia suka mengelus kepalaku atau memelukku... tapi yah, aku berhubungan dengan Kak Momo hanya sampai aku kelas 4 SD.

 

Waktu itu aku masih sangat kecil, dan karena tinggiku lebih pendek dari Kak Momo, aku benar-benar diperlakukan seperti anak kecil.

 

Pokoknya dia sangat perhatian. Saat aku dan Miu bertengkar, dia yang menengahi. Saat ada PR yang tidak kumengerti, dia mengajariku dengan lembut... Yah, mungkin karena dia lebih tua, di depanku dia benar-benar menunjukkan sosok kakak perempuan yang bisa diandalkan.

 

Omong-omong.

 

Kenapa ini disebut pertemuan kembali setelah sekian lama, alasannya adalah──

 

Dulu, Kak Momo masuk ke sekolah khusus putri terpadu SMP-SMA, dan begitu masuk SMP, dia tinggal di rumah kakek-neneknya. Mungkin dia menjalani hari-hari yang sangat sibuk dengan belajar dan kegiatan klub.

 

Bahkan Miu saja jarang bertemu Kak Momo, jadi wajar kalau aku yang bukan keluarganya tidak pernah bertatap muka dengannya. Tanpa sadar, hubungan kami jadi merenggang begitu saja... begitulah ceritanya.

 

Nah, mari kembali ke topik utama.

 

Detik ini juga, sesuatu yang besar dan empuk sedang ditekan kuat-kuat ke lengan kananku.

 

Aku minta maaf sekali meski ini adalah pertemuan kembali setelah sekian lama, tapi aku yang sekarang adalah laki-laki remaja yang sedang masa puber...

 

Tidak perlu dilihat pun aku tahu, sensasi di lengan ini adalah milik Kak Momo...

 

"Ah, ano... i-ini..."

 

Sambil berkata begitu, aku menunjuk dada yang menempel di lenganku untuk melihat reaksinya.

 

"Ah, maaf! Aku tidak menyangka kamu masih ingat padaku... aku jadi terlalu senang sampai memelukmu... Maaf ya? Kaget ya? Maaf yaa."

 

Benar sekali.

 

Karena kejadian yang terlalu mendadak, jantungku berdegup kencang seolah mau lompat keluar dari mulut.

 

Ini kejutan terbesar tahun ini.

 

Tentu saja... sosok yang ada di depan mataku sekarang tidak cukup hanya dideskripsikan dengan kata-kata "kakak perempuan yang lebih tua" dari masa lalu.

 

Kulit putih yang seakan tembus pandang, jari-jari lentik dengan kuku pendek berwarna pink beige, rambut bob hitam berkilau yang terawat indah dan tak berubah sejak dulu, serta bibir pink tipis yang tampak kenyal dan basah.

 

Rajutan tanpa lengan berwarna putih yang mempertegas lekuk tubuhnya dengan indah, dipadukan dengan rok ketat berwarna biru langit...

 

Dan juga, aroma manis seperti parfum yang tercium samar-samar.

 

Segala hal itu tampak jauh lebih cantik... dan luar biasa memikat dibandingkan "Kak Momo masa lalu" yang ada dalam ingatanku.

 

──Bahaya. Tanpa sadar aku lupa berkata-kata dan malah menatapnya lekat-lekat...

 

"............Jiii."

 

Tiba-tiba aku merasakan tatapan dingin, lalu aku menoleh dari pintu masuk ke arah lorong.

 

Di sana, Miu yang masih mengenakan seragam sedang menatapku dengan wajah heran.

 

"Kamu tuh ya... mungkin kamu sendiri enggak sadar, tapi muka mupeng-mu itu kelihatan banget tahu. Parah banget malah."

 

"Eh...!? A-apaan sih omonganmu...!"

 

Dengan panik aku membuang muka──── tapi terlambat. Sudah ketahuan sepenuhnya.

 

Gawat. Kalau aku terus-terusan terpesona begini, Miu bakal memandangku dengan tatapan aneh.

 

Tapi aku tidak bisa melawan naluri, dan tanpa sadar aku kembali penasaran lalu curi-curi pandang lagi.

 

Bagaimana ini. Aku sama sekali tidak bisa mengalihkan pandangan. Kamu pasti pernah setidaknya sekali secara refleks menatap wanita cantik yang berpapasan di jalan, kan? Kalau diumpamakan, rasanya seperti itu.

 

(...Tapi serius, dia cantik banget sampai bikin gila. Malah aneh kalau enggak dilihat...)

 

"Fufufu"

 

Kak Momo menutupi mulutnya dengan tangan dan tertawa kecil.

 

Saat kupikir dia tersenyum lembut, dia berbisik pelan di telingaku seolah sedang mengembuskan napas.

 

"Shin-chan itu ya... dari dulu sampai sekarang tetap imut banget, deh♡♡♡"

 

Kupikir dia mau bilang apa... ternyata kata-kata itu membuat jantungku melonjak.

 

"I! I-i-imut apanya...!"

 

Melihat suaraku yang sampai pecah saking malunya, Miu kembali berkomentar dengan wajah heran.

 

"Tunggu deh... kalian berdua lagi ngomongin apa sih! Pakai bisik-bisik segala... ajak aku juga dong!"

 

"Bu-bukan apa-apa kok...!"

 

"Hadeh, kamu benar-benar jadi aneh gitu. Dasar bodoh!"

 

"Be-berisik......"

 

Dan sekali lagi, otakku berhenti bekerja. Aku mati-matian menahan hasrat untuk kabur saat ini juga.

 

Di hadapanku ada "Kak Momo" yang langsung menggodaku padahal kami baru saja bertemu lagi.

 

Di sebelahnya ada "Miu" yang cemberut karena tidak bisa ikut dalam obrolan.

 

(Waduh... situasi macam apa ini... aku harus bagaimana!?)

 

"Ni-nih, lembar cetakan tugas yang kamu minta."

 

Pokoknya demi mengalihkan topik pembicaraan, aku menyodorkan benda yang menjadi tujuanku datang ke sini pada Miu.

 

"Hm? Aaah! Makasih ya~ Bener-bener membantu~"

 

Fuh... syukurlah aku selamat...

 

"Ah, iya Kalau mau, kamu makan di sini saja? Kalau kamu tidak keberatan dengan masakanku sih..."

 

Kak Momo tiba-tiba melontarkan ajakan itu dengan santai.

 

(Eh... serius...? Kesempatan makan masakan rumah buatan orang secantik ini... jangan-jangan tidak akan pernah datang dua kali seumur hidup!?)

 

"I-itu merepotkan Kakak! Ah, tapi... kalau boleh..."

 

Sebenarnya, aku sudah menyiapkan alasan untuk menolak. Tentu saja, aku tidak setebal muka itu.

 

Tapi... kenyataannya, aku yang gampangan ini malah mengangguk secara alami begitu melihat senyuman Kak Momo.

 

Sebaiknya aku mengabari Ibu dulu...

 

Aku mengeluarkan ponsel dan mengetik pesan.

 

Pesan itu langsung dibaca, dan balasan yang menyuruhku agar bersikap sopan pun masuk.

 

"Shintarou? Jangan bengong di situ dong, ayo masuk!"

 

Kata Miu sambil melongok ke wajahku.

 

"Ah, etto... iya juga... Permisi."

 

"Apa sih, kok kaku banget, aneh deh~"

 

"Kalau gitu aku ganti baju dulu ya," kata Miu sebelum menghilang ke dalam kamarnya.

 

Biasanya aku tidak akan gugup, tapi fakta bahwa Kak Momo ada di depan mataku membuatku sangat canggung, aku benar-benar jadi pendiam seperti patung.

 

Setelah dipersilakan masuk ke ruang tengah, aku pun menuju sofa.

 

"Oke deh Kalau begitu~ saatnya siap-siap~ Sepertinya isi kulkas tidak banyak sih... tapi seingatku ada daging...?"

 

Sambil berkata begitu dia bangkit, lalu berjalan ke dapur dan mengambil celemek berwarna merah muda dari rak. Aku yang tadinya hanya melihat sepintas, kembali terpaku menatap sosoknya.

 

(...Ce-celemek!? Ini curang banget enggak sih...!?)

 

Tubuh indahnya yang seolah tak tertampung oleh celemek sederhana itu.

 

Tali yang diikat kencang di pinggang. Lekuk tubuh yang dipertegas karenanya membuatku jujur saja... bingung harus melihat ke mana.

 

Di tengah situasi itu────

 

"Yah~ simpulnya ruwet nih..."

 

Ujar Kak Momo dengan nada bingung sambil mengutak-atik tali celemek di punggungnya.

 

"Hei... boleh tolong lepaskan ikatannya...?"

 

"Eh, aku?"

 

"Iya dong Tentu saja"

 

Tanpa menunggu jawabanku, Kak Momo langsung duduk di sampingku.

 

(Eh!? Bohong...!? De-dekat banget!!)

 

Kak Momo duduk tanpa ragu tepat di sebelahku yang tadi duduk sendirian di sofa.

 

Aroma manis tercium lembut dari rambutnya, dan pita celemek itu kini berada tepat di depan mataku.

 

"Ayo dong, cepat~. Kalau begini terus kapan aku bisa mulai masaknya~?"

 

Dalam posisi membelakangi, dia menoleh sedikit sambil tersenyum. Sambil menggoyangkan pinggangnya ke kiri dan kanan, dia bicara padaku dengan suara manja.

 

(Woi... baju rajutan macam apa ini...!? Punggungnya kelihatan semua, kan──!!)

 

...Jujur, jantungku rasanya mau meledak. Jemariku yang gemetar menunjukkan betapa gugupnya aku.

 

Maaf kalau kasar, tapi ini be-nar-be-nar seksi. Aku sudah tidak kuat.

 

Bagi aku yang sama sekali tidak terbiasa dengan wanita, pertemuan kembali setelah sekian lama ini bukannya menjadi hadiah, malah membuatku tegang setengah mati... rasanya aku hampir gila.

 

────Tapi, aku tidak boleh kabur. Jadilah laki-laki, Shintarou────



 

"A-aku mulai ya..."

 

Sambil meraba simpul pita dengan ujung jari yang sedikit gemetar, aku mengurainya perlahan dengan tangan yang berkeringat. Tapi jarak ini terlalu dekat, aromanya, suhu tubuhnya, semuanya tersampaikan dengan begitu jelas...

 

Sambil memikirkan hal-hal seperti itu, tali yang kusut itu ternyata terurai dengan sangat mudah.

 

Kak Momo menatapku sambil tersenyum puas, "Makasih ya", dan lagi-lagi jantungku berdegup kencang.

 

(Fuh... syukurlah... sepertinya dia tidak sadar kalau aku gugup...)

 

"Shin-chan, kamu jago ya hal-hal beginian~? Rasanya... kayak punya pacar deh"

 

──────Hah? Kayak pacar...? Pacar ya...

 

──Tunggu!

 

"A-aku jadi pacar!!?"

 

Mendengar teriakanku yang refleks itu, Kak Momo tertawa kecil, "Fufufu."

 

Lalu entah kenapa, dia mendekatiku lebih rapat daripada tadi dan──

 

"Kalau seandainya... aku jadi pacarmu... kamu senang?"

 

"~~~~~~~!!?"

 

Sebenarnya orang ini bicara apa sih!?

 

Tiba-tiba bicara soal pacar... dari mana munculnya kata-kata itu...

 

Ah, tunggu dulu. Jangan-jangan, ini keahliannya dia...

 

"Bercanda kok Fufu Maaf, maaf, aku jadi teringat masa lalu Padahal baru ketemu lagi setelah sekian tahun, mungkin nggak baik ya kalau aku menggodamu kayak dulu... ya kan?"

 

Hah!! Benar dugaanku...!!

 

Dia tidak berubah sama sekali sejak dulu...!

 

Dia tipe orang yang bisa mengucapkan kata-kata memalukan dengan wajah datar, lalu menikmati reaksiku!!

 

Sial... aku hampir saja terbawa arus permainan Kak Momo.

 

Tapi aku juga sudah tumbuh dewasa. Gawat kalau dia menganggapku masih sama seperti dulu.

 

Sekaranglah saatnya menunjukkan ketenangan seorang pria dewasa (?)──

 

"Y-yah, nggak masalah sih...? Tapi, kalau tiba-tiba dibilang pacar... itu anu... kita perlu mengisi kekosongan waktu di antara kita sedikit demi sedikit dulu, atau semacamnya... anu..."

 

Saat aku sedang bergumam dengan sikap yang seolah tidak menolak itu, udara tajam dan menusuk tiba-tiba terasa dari arah belakangku.

 

────Jiiii......

 

(Glek... hawa keberadaan ini...)

 

Dengan takut-takut aku menoleh ke samping, dan di sana berdiri Miu, yang seharusnya tadi tidak ada di situ.

 

Apalagi... dia menatap ke arah sini dengan mata yang luar biasa curiga.

 

"Uwoh! Sejak kapan kamu di situ!"

 

"...Hei? Obrolan barusan itu apa? Suasana macam apa ini...??"

 

"A-a-a-apaan!? Bukan apa-apa kok!?"

 

Aku langsung melompat bangun dari sofa. Tapi, sudah terlambat.

 

Tatapan Miu jauh lebih tajam dari biasanya.

 

Mulutnya tersenyum, tapi matanya sama sekali tidak tertawa.

 

"Hee~? Simpul celemek? Kayak pacar...? Hmmm..."

 

"Bu-bukan! Salah paham! Eh, bukan salah paham atau gimana sih! Aku cuma ngelepasin talinya aja kok──!!"

 

"Hmmm... gitu ya, gitu..."

 

Miu menyandarkan lengannya di sandaran tangan sofa dan terus menatapku lekat-lekat.

 

Matanya seperti petugas interogasi, tanpa berkedip sedikit pun.

 

Merasakan tatapan tajam itu, Kak Momo malah tertawa kecil lagi.

 

"Gimana ya... Shin-chan ternyata populer banget ya~"

 

"Po-populer!? Tolong deh, berhentilah menggoda saya..."

 

Melihatku yang menunduk dengan wajah merah padam, tawa kedua saudari itu bersahutan.

 

────Kenapa aku sekarang berada di tempat yang rasanya seperti medan tempur begini...?

 

◆◇◆

 

Sambil diselingi sandiwara konyol seperti itu... Kak Momo mulai menyiapkan makanan dengan cekatan.

 

Aku sempat bertanya apakah ada yang bisa kubantu, tapi dia bilang cukup duduk manis dan menunggu saja...

 

Begitulah, selagi kami berdiam diri sejenak, masakan pun selesai dalam sekejap mata.

 

"Jaaaan! Selesai~"

 

Kak Momo membawakan masakan dari dapur dengan wajah ceria dan penuh senyum.

 

Ayam karaage yang menggunung, salad yang penuh warna, dan sup miso panas dengan banyak isian.

 

Di meja makan tersaji menu rumahan yang klasik, tapi benar-benar jenis masakan yang "selera cowok banget".

 

Tepung yang garing, dan karaage yang sepertinya bakal memuncratkan sari daging yang juicy... dari tampilannya saja sudah bikin puas. Ini benar-benar merangsang nafsu makan.

 

"Uwooooh! Karaage~! Kelihatannya enak banget!"

 

Aroma sedap memenuhi ruangan sampai-sampai membuatku hampir berdiri tanpa sadar.

 

"Wah~, emang Kakak hebat deh Hari ini aku lagi pengen banget makan karaage~! Perutku sudah keroncongan banget~"

 

Sambil berkata begitu, Miu duduk di kursi dengan semangat yang juga meluap-luap.

 

"Kalau begitu, mari kita makan?"

 

""Selamat makan!""

 

Kami bertiga menyatukan tangan dan mengucapkan salam serempak.

 

Satu suapan, begitu karaage masuk ke mulutku────

 

"Mmmhh, enaak bangett~!!"

 

Setelah tekstur yang renyah, rasa sari daging yang juicy meluber memenuhi mulut... Bumbu dasar bawang putih dan kecap asin yang gurih meresap sempurna ke dalam dagingnya, dan aroma minyak yang keluar dari hidung benar-benar tak tertahankan...

 

Tanpa sadar aku menyendok nasi putih hangat yang pulen itu dan melahapnya banyak-banyak.

 

"Haf... hhh..."

 

Gawat, ini terlalu enak...

 

Setiap kali bercampur dengan sari daging yang meluap di mulut, rasa manis nasinya semakin terasa, ini benar-benar bikin nggak bisa berhenti makan...

 

"Kak Momo, ini beneran parah... rasanya bisa bikin cowok di seluruh dunia bertekuk lutut lho!"

 

"Fufufu Apaan sih~ Kalau kamu sesenang itu, rasanya sepadan deh aku masaknya~ Cowok itu emang suka banget karaage ya?"

 

"Iya! Ini bisa bikin nasi putih habis tak terbatas!"

 

──Di tengah suasana itu, tiba-tiba aku teringat sesuatu dan bertanya.

 

"Ngomong-ngomong... Tante dan Om mana? Hari ini kerja...?"

 

Saat aku bertanya sambil mengunyah karaage, Kak Momo memanyunkan bibirnya sambil bilang, "Aaaa~...".

 

"Oh iya, Ibu dan Ayah ya, mereka nggak akan pulang ke rumah untuk sementara waktu~"

 

"Eh, gitu ya..."

 

Jawabannya jauh lebih santai dari dugaanku, membuatku sedikit waspada.

 

Tapi, Miu segera menyela sambil tertawa.

 

"Enggak-enggak, bukan cerita berat kok~?"

 

"Iya benar, ada urusan pekerjaan Ayah, semacam dinas luar kota jangka panjang gitu. Katanya Ibu juga ikut menemani ke sana."

 

"Ooh begitu... yang seperti itu, kelihatan akur ya, bagus deh."

 

"Iya kan Nah, karena agak gimana gitu kalau nggak ada siapa-siapa di rumah untuk waktu lama, makanya aku────"

 

"Betul! Sebagai gantinya, Kakak kembali ke rumah ini!"

 

Kak Momo menyeruput sup miso yang masih mengepul, lalu tersenyum manis padaku.

 

"Lagipula kampusku nggak terlalu jauh dari sini, jadi sesekali kembali ke rumah orang tua boleh juga lah ya~"

 

Sambil meresapi makna kata-kata itu perlahan-lahan, aku memasukkan satu karaage lagi ke mulut.

 

(Hmm hmm... berarti, untuk sementara waktu Kak Momo bakal ada di rumah ini...?)

 

Itu berarti............ bukankah ini situasi yang cukup gawat──!?

 

◆◇◆

 

"Terima kasih atas makanannya~!"

 

Suara kami bertiga kembali bersahutan, menandai berakhirnya waktu makan malam hari ini.

 

Perutku penuh sesak oleh karaage. Hatiku pun ikut terisi penuh, benar-benar puas.

 

"Fuh... beneran enak banget."

 

"Senangnya Kamu boleh datang makan ke sini kapan saja lho~"

 

(Seriusan... apa ada cerita seindah mimpi yang begitu menguntungkan begini...)

 

Kak Momo bangkit berdiri dan mulai merapikan peralatan makan.

 

Sosoknya yang bergerak cekatan dengan celemek itu benar-benar "kakak perempuan ideal".

 

(Kerjanya rapi. Gerakannya menunjukkan orang yang biasa mengerjakan pekerjaan rumah tangga, sepertinya persiapannya untuk jadi istri sudah sangat matang...)

 

Karena merasa tidak enak kalau diam saja, aku pun ikut membantu membawa beberapa mangkuk dan piring kosong ke dapur.

 

"Terima kasih makanannya! Tolong ini juga...!"

 

"A~h, makasih ya, sangat membantu~! Shin-chan benar-benar anak pintar ya~"

 

"A-anak pintar!? Anak pintar ya............ hehe."

 

Jelas sekali aku diperlakukan seperti anak kecil. Tapi rasanya nostalgia dan entah kenapa nyaman juga............

 

Lagipula reaksiku agak menjijikkan. Aku sadar itu.

 

Tapi kenyataannya, cowok mana yang tidak senang dibilang "Anak pintar ya" oleh "kakak perempuan idaman" yang cantik dan punya tubuh proporsional begini? Setidaknya efeknya luar biasa bagiku.

 

Sambil tersipu malu, aku meletakkan piring di pinggir wastafel.

 

Kak Momo langsung menyalakan keran dan mulai mencuci.

 

Syaaaaaaa──!!

 

Air mengalir deras, mungkin tekanannya terlalu kuat────

 

──Byuur!!!

 

"Uwaa!? Dingin...!!"

 

Apakah ini hukuman karena dalam hati aku punya pikiran kotor... Tiba-tiba air memercik dan menghantam kemejaku.

 

"Wah! Maaf!! Kamu nggak apa-apa!?"

 

"G-Gak a...pa-apa!! Cuma basah sedikit kok! Beneran nggak apa-apa!!"

 

Walau aku menjawab begitu, air sudah merembes basah mulai dari bagian perut sampai ke kerah kemeja.

 

Kain basah yang menempel lengket di kulit rasanya benar-benar tidak nyaman...

 

"Beneran maaf! Aku nggak nyangka tekanan airnya sekuat ini..."

 

Kak Momo buru-buru mematikan keran dan mendekat dengan wajah sangat bersalah.

 

"Tunggu sebentar ya! Aku ambilkan handuk sekarang!"

 

"E-eh, nggak usah, aku nggak apa-apa kok! Nggak perlu panik begitu..."

 

"Nggak boleh gitu dong~, maaf ya, sepertinya kamu harus ganti kemeja juga."

 

"Eh, nggak usah, tapi..."

 

"Kalau kamu mau pakai kaosku sih... sepertinya ada yang ukurannya besar...!"

 

Sambil berkata begitu, Kak Momo menatap lekat kemejaku yang basah.

 

────Tatapan kami bertemu.

 

Kak Momo... wajahnya benar-benar cantik ya. Bulu matanya panjang banget... pipinya juga mulus...

 

Dan, saat itu juga.

 

(A-apa ini udaranya...!?)

 

Bagian belakang kepalaku merinding, aku merasakan hawa tidak menyenangkan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

 

"...Hei, kalian tuh ya... dari tadi lagi ngapain sih?"

 

Itu Miu. Lagi-lagi dia sudah berada di belakangku tanpa kusadari.

 

Kali ini dia bahkan melipat tangan di dada, dengan ekspresi seolah-olah akan menyemburkan api dari mulutnya, dia memelototi aku seorang.

 

"A-apa maksudmu, kita nggak ngapa-ngapain kok..."

 

"Hmm, kalau begitu... kelihatannya akrab banget tuh?"

 

Melihat interaksi kami, Kak Momo sama sekali tidak terlihat merasa bersalah, dia malah tersenyum manis.

 

"Tadi itu lho, Kakak mau nyalakan air buat cuci piring... tapi airnya keluar terlalu kencang dan memantul ke piring... jadinya Shin-chan basah kuyup deh... Nah, karena itu Kakak mau pinjamkan baju biar dia nggak masuk angin"

 

Kata Kak Momo sambil menarik lenganku dan mencoba membawaku pergi dari situ.

 

Sementara aku... terjepit di antara tatapan mata Miu yang dingin... dan dinginnya kemeja yang basah kuyup.

 

(A-ano............ siapa saja, tolong, selamatkan aku sekarang juga...)

 

◆◇◆

 

"Shin-chan, ayo masuk!"

 

Berkata begitu, Kak Momo memandu aku masuk ke kamarnya.

 

Interior dengan warna-warna yang menenangkan, dan aroma manis yang samar tercium────

 

Begitu melangkah masuk, napasku jadi sedikit tertahan.

 

"Duduk sini dulu ya~, tunggu sebentar oke."

 

Kak Momo berjongkok di depan lemari pakaian, dan mulai mencari-cari baju dengan suara kresek-kresek.

 

Punggung yang terlihat dari sela sweter yang longgar, leher putih dan ramping yang mengintip dari balik rambut belakangnya yang tertata rapi, terlihat sangat seksi.

 

(Duh, rasanya aku ada di tempat yang sangat salah deh...)

 

Walaupun aku diajak masuk karena situasi... apa boleh aku masuk ke kamar perempuan segampang ini?

 

Bagaimana kalau aku melihat sesuatu yang tidak boleh dilihat?

 

Sebaiknya jangan berpikir yang aneh-aneh...

 

Saat aku mematung karena merasa segan, dia mengambil sehelai kaos dan menoleh ke belakang.

 

"Yang ini gimana? Lumayan besar sih, kayaknya muat..."

 

Benda yang diserahkan ke tanganku adalah kaos putih berukuran besar (oversized).

 

Bagian lehernya agak lebar, bahannya lembut dan ringan. Apa ini baju tidur...? Entah kenapa aku merasa seperti sedang mengintip kehidupan pribadinya secara lancang.

 

"T-terima kasih! Ini sepertinya muat!"

 

"Sip sip Kalau gitu, masalah selesai... kan? Ah, kemeja yang basah, biar dicuci di sini aja nggak apa-apa...?"

 

Ujarnya sambil mengangkat ringan kemejaku yang basah dan tersenyum lembut.

 

"Aku sudah bikin salah... sebagai permintaan maaf, izinkan aku traktir makan malam lagi ya?"

 

"Eh? Aah... iya!"

 

(Padahal nggak perlu dipikirin sampai minta maaf segala... itu artinya... sudah pasti kita bakal ketemu lagi dalam waktu dekat dong...)

 

Meski sedikit goyah, aku memasukkan lengan ke kaos pinjaman itu.

 

Terasa ringan dan lembut di kulit, dan──── aroma ini... entah kenapa, wangi samar tubuh Kak Momo tercium dari kaos ini.

 

Melihatku yang berganti pakaian dengan kaku, Kak Momo tiba-tiba menatapku lekat-lekat dan──

 

"Shin-chan, selama kita nggak ketemu kamu sudah benar-benar jadi dewasa ya Eh, maksudku... postur tubuhmu... padahal dulu tingginya sama kayak aku, tapi tahu-tahu sekarang sudah jauh lebih tinggi dari aku, suaramu juga jadi berat... gimana ya, bahumu lebar dan anu..."

 

Berbeda dari sikapnya tadi, kini dia bicara dengan malu-malu sambil pipi dan telinganya memerah.

 

(Suasana apa ini... aku jadi ikutan malu... gawat...)

 

Keheningan melanda sesaat, dan rasa canggung perlahan menyebar di antara kami berdua.

 

Karena tidak tahan dengan suasana itu, aku pun memberanikan diri untuk bicara duluan.

 

"Ah! Kalau gitu, aku pulang dulu ya! Sudah malam juga..."

 

Wajar saja, aku sampai di apartemen saat senja, tapi tanpa sadar malam sudah semakin larut.

 

"Ah, gitu...? Iya juga ya...! Makasih ya buat hari ini. Senang banget bisa ketemu lagi"

 

Kak Momo tersenyum lembut meski tampak agak menyayangkan kepergianku.

 

Miu yang ikut mengantar sampai pintu depan melambaikan tangan dengan ringan.

 

"Sampai ketemu besok, di tempat biasa ya, jangan telat lho~"

 

"O-oke. ...Sampai besok."

 

Begitulah, diantar oleh mereka berdua, aku meninggalkan lobi apartemen.

 

◆◇◆

 

────Malam.

 

Begitu sampai di kamar, aku melempar tas dan melompat ke kasur.

 

"Rasanya... hari ini gila banget."

 

Tanpa sadar aku bergumam sendirian.

 

Reuni dengan Kak Momo, makan malam karaage, insiden basah kuyup...

 

Dan ini── kaos putih pinjaman.

 

Tiba-tiba, sambil mengangkat bahu, aku membenamkan wajah ke bagian dada kaos itu.

 

(......Ah)

 

Di sana, ada aroma lembut yang samar.

 

Tidak terlalu manis, segar, dan baunya entah kenapa menenangkan.

 

Tanpa sadar aku hampir menghirupnya dalam-dalam...

 

(...Ini, bau sampo kali ya?)

 

Awalnya aku pikir begitu.

 

Karena wanginya sama seperti saat Kak Momo ada di sebelahku tadi.

 

Tapi... bukan, rasanya agak beda... apa ini bau bajunya...?

 

Aroma campuran pengharum ruangan dan pelembut pakaian yang meresap dari baju yang disimpan di lemari.

 

Bau lembut itu meresap ke seluruh bagian kaos.

 

Itu artinya, ini adalah udara yang biasa menemani Kak Momo di kamarnya sehari-hari...

 

Dan sekarang, aku sedang memakainya?

 

Aku tidak mau dianggap seperti orang mesum, jadi aku tidak bisa bilang keras-keras... tapi sebagai cowok yang punya fetis aroma, ini bikin jantung berdebar parah.

 

Konon aroma bisa memanggil ingatan.

 

Saat aku memejamkan mata... aku bahkan bisa merasakan kehadiran Kak Momo yang baru saja berada di sebelahku...

 

(...Rasanya jadi aneh begini...)

 

Sambil berpikir begitu, perlahan aku memejamkan mata.

 

Detak jantung mulai tenang, diselimuti rasa lelah yang nyaman dan aroma yang manis, aku pun terlelap menuju alam mimpi────




Bagikan ke:

Komentar

Tinggalkan Komentar