Chapter
6: Nonton Film di Akhir Musim Panas ~Nasib Asmara di Dalam Kegelapan~
Di akhir liburan musim panas, kami
diajak Miu, dan entah sejak kapan menjadi kebiasaan, "geng biasa"
kami ini berkumpul untuk nonton film bareng sekaligus mengadakan pesta rumahan.
──Ting-tong.
Di waktu jam ngemil sore,
masing-masing membawa camilan dan jus, kami berkumpul di rumah Miu.
“Iyaaa! Silakan masuk~♪”
““Permisi~!”“
“Selamat datang♡ Miu-chan sepertinya masih ganti baju, tapi sebentar lagi
pasti ke sini, jadi silakan masuk dan tunggu di ruang tamu ya?”
Kak Momo menyambut kami masuk ke
dalam.
(Ngomong-ngomong soal insiden di
festival musim panas... aku cuma kepikiran soal Miu, tapi awalnya kan
disebabkan oleh kontak fisik dengan Kak Momo ya? Tapi orang ini... apa dia
nggak ingat apa-apa ya? Santai banget kelihatannya... Yah, mungkin nggak perlu
khawatir yang nggak-nggak kali ya...)
Karena ini pertama kalinya main ke
rumah Miu, dua orang selain aku terlihat gelisah dan tak tenang, celingukan
melihat sekeliling.
“Morishita-kun, Sana-chan, duduk di
mana saja boleh kok! Anggap saja rumah sendiri dan santai saja ya.”
Kak Momo menyapa mereka berdua dengan
lembut.
“Lagipula, nonton film bareng-bareng
kelihatannya seru ya♪”
“Miu mengajak kami untuk membuat
kenangan di akhir liburan musim panas... jadi hari ini kami berkumpul! Ah,
kalau Kak Momo mau, bagaimana kalau ikut gabung juga? Makin banyak orang makin
seru kan.”
“Eh, aku...? Nanti ganggu lho...”
“Ganggu apanya!! Nggak mungkin ganggu
lah!!”
“Morishita-kun. Suaramu terlalu
keras. ...Iya♡ Benar yang dikatakan Miyata-kun♡ Kakaknya Miu-chan juga silakan bergabung♡”
Sepertinya semua setuju. Soalnya
semua orang suka sama Kak Momo...
Saat itu, Miu yang sepertinya baru
selesai ganti baju, muncul di ruang tamu.
“Bener banget! Kakak juga nonton film
bareng yuk~♪ Lagian dari awal memang begitu
rencananya kan...?”
“Masa~? Padahal aku tadinya mau pergi
lho... tapi ya sudah deh, boleh aku ikut gabung?”
“Oke sip! Gitu dong!”
“Morishita, lu kelihatan seneng
banget ya.”
“Jelas lah! Cewek itu makin banyak
makin bagus tahu!!”
“Oh gitu... dasar lu ya...”
──Begitulah, acara nonton film di
akhir musim panas pun dimulai.
“Tetep aja ya~! Kalau musim panas itu
ya itu! I-TU!”
“Apaan...? Jangan bilang mau nonton
yang aneh-aneh ya Morishita-kun.”
“A, aneh-aneh tuh maksudnya...?”
“Semacam... anime ecchi gitu?”
“Hauh!? Imejku di mata Miu-chan
pasti mesum banget ya!!”
“Haaah... sudah terlambat, Morishita.
Akui saja dengan jantan dan menyerah lah.”
“Fuh... ahaha.”
Diawali dengan Miu yang menyemburkan
tawa, Kak Momo pun ikut tertawa kecil.
Tachibana-san juga sepertinya merasa
lucu, dia menutupi mulut dengan kedua tangan dan bahunya bergetar menahan tawa.
Setelah puas tertawa, Miu menampilkan
daftar film dari situs streaming ke layar.
“Kalau gitu, mau nonton apa nih! Aku
sih pengen yang romance gitu ya~♪”
“Hmm, aku sih seri hero.”
“Aku film horor! Yang aku maksud
"ITU" tadi film horor tahu!!”
“Aku... ada anime yang
direkomendasikan♡”
“Hmm... bingung... Kakak! Kakak mau
nonton apa?”
“Eh! Aku...? Hmm, nggak ada yang
khusus sih ya...? Aku ikut yang mau ditonton kalian aja deh♪”
“Jawaban yang paling bikin bingung
tuh~”
“Hmm, gimana kalau kita tonton film
yang pengen ditonton Miu dulu sebagai pengusul acara? Dilihat dari waktunya
kayaknya bisa nonton dua film, jadi film kedua film horor karena musim panas
identik sama hantu... gimana...!”
“Shintarou, makasih~! Emang bisa
diandalkan buat nengahin!”
Sejak kapan aku jadi penengah
begini...
Bagaimanapun juga, akhirnya film yang
mau ditonton sudah diputuskan, dan persiapan pesta rumahan yang ditunggu-tunggu
pun selesai. Di meja pendek (low table) yang pas di ruang tamu, kami menggelar
camilan yang dibawa, suasananya jadi "dapet" banget.
“Baiklah, pemutaran film akan
dimulai... Film yang akan kita tonton kali ini adalah... "Reuni ~Tak Bisa
Mengucap Selamat Tinggal~", karya inilah yang terpilih!”
Miu yang suasana hatinya lebih baik
dari biasanya, begitu selesai memperkenalkan film, dia langsung datang ke
sebelahku dan duduk bruk dengan semangat.
“Kamu nggak suka film horor kan? Biar
nggak takut, aku duduk di sebelahmu deh.”
“Hah... makasih.”
(A, apa-apaan dia... kalau mau duduk
di sebelahku bilang saja terus terang...)
Ngomong-ngomong, cewek itu emang suka
banget film percintaan ya... Buatku, film beginian tuh bikin malu kalau
ditonton... mungkin genre yang nggak bakal kusentuh kalau sendirian.
Paling-paling isinya cuma cowok
ganteng dan cewek cantik, dialog-dialog gombal (cheesy), dan bermesraan dengan
kata-kata manis yang bikin mual.
Tuh kan, sesuai dugaan... cowok-cowok
yang muncul semuanya ikemen (cowok ganteng).
Dari mulut Miu dan Kak Momo pun bocor
suara-suara terpesona.
Sementara itu Tachibana-san,
sepertinya tidak bisa menyembunyikan kekagumannya pada aktris yang imut di film
itu.............. ah, Morishita juga sama.
Ngomong-ngomong camilan ini enak
banget.
Saking fokusnya makan camilan
daripada nonton film, tanganku nggak berhenti ngambil makanan.
“...Hei kamu, suara kunyahanmu
berisik tahu.”
Miu melirik tajam ke arahku.
“Sori sori... nggak sengaja...”
Karena merasa tidak sopan kalau tidak
nonton, aku pun mengarahkan perhatian ke film.
Isi film itu sepertinya tentang
"Kisah cinta yang menggambarkan cinta segitiga rumit antara tiga teman
masa kecil".
(Tiga teman masa kecil... rasanya
frasa yang pernah kudengar di suatu tempat ya.)
"Hei, Ryu-kun... sebenarnya,
kamu suka sama aku atau Ayu-chan?"
"Yah, mana bisa... aku nggak
bisa milih..."
"Ryu-kun, mending kita jadian
aja yuk."
"Eh? Gimana ya... anu..."
(A-apa-apaan tokoh utama cowok ini!!
Lembek banget sih!! Ini mah bukan laki-laki! Pilih salah satu woy!)
“Rasanya... cowok ini, mirip lu nggak
sih? Miyata.”
“Hah!? Mirip apanya! Nggak mungkin
lah gue kayak gitu!”
“Hei... beneran berisik tahu! Ini
lagi adegan bagus!”
Miu memeluk tisu sambil sesenggukan
menangis.
──Di mana letak adegan yang bikin
nangis... aku nggak paham.
Sepertinya film ini ada dua bagian,
dan setelah sekitar satu setengah jam, ceritanya berakhir dengan tenang.
“Hei, nanti kita tonton lanjutannya
bareng-bareng lagi ya.”
Dengan mata berkaca-kaca Miu memohon
pada kami semua.
Jujur saja, aku sih sudah cukup.
Sebenarnya aku nggak terlalu ingat
ceritanya, tapi kalau bilang begitu pasti bakal dimarahi, jadi mulutku terkunci
rapat.
“Miu-chan nangisnya kebanyakan tuh~♡ Hidungnya jadi merah, imut♡”
“Hmpfh. Apaan sih! Kakak juga nangis
kan~!”
Sambil membuang ingus dengan suara
keras, pertengkaran kakak-beradik tetap tidak terlewatkan.
Pemandangan yang sudah biasa.
“Beneran deh, kalian berdua akur dan
imut yaa♡ Pertengkaran kakak-beradik perempuan ternyata kayak gini yaa♡ Fuhfuhfu.”
“Morishita-kun, kamu terlalu banyak
bermimpi. Pertengkaran kakak-beradik perempuan yang sesungguhnya itu tidak
layak ditonton. Momen saat memperebutkan satu hal, itu bagaikan pertarungan
antara binatang buas dan binatang buas. Hidup atau mati.”
“B, begitu ya...”
“Ya. Yah, walaupun pengetahuan itu
juga saya dapat dari anime sih.”
"Apaan tuh. Kayaknya kamu cocok
nih sama Tachibana-san."
"Hah!? ...Saya dengan
Morishita-kun!? Saya menolak keras."
"Kenapa sih~"
Melihat mereka yang sepertinya asyik
mengobrol sebagai sesama otaku, anehnya aku jadi yakin kalau dua orang ini
mungkin bisa cocok.
"Kalau gitu mari kita masuk ke
topik utama... film horornya~!"
Miu mulai bersiap-siap seolah sudah
menunggu momen ini.
"Nggak mau~ takut~!
Shin-chaaaan~"
Entah dari mana Kak Momo meluncur datang.
Dia duduk di sebelahku, memeluk
lenganku erat-erat, dan tidak mau lepas.
"Hei! Di situ! Tolong jangan
mesra-mesraan dong!?"
Peringatan langsung melayang dari
Miu, sang kapten pasukan penyerang.
"Habisnyaaa~♪ Aku nggak kuat sama hantu dan yang seram-seram sih~♡ Boleh kan di sebelah Shin-chan~?"
"A, aku sih nggak
masalah..."
"...Muu~"
Miu yang tadi suasana hatinya bagus,
sekarang menggembungkan pipinya sampai penuh dan memelototi kami.
(Sudah berapa kali kejadian kayak
gini sih!! Kan dibilangin bukan salahku!)
"Ah, iya! Mumpung nonton, gimana
kalau kamarnya digelapin total? Jendela dan gorden ditutup rapat semua."
"Morishita-kun tumben ngomong
bener~♪"
"Ehehe♡ Kalau gitu aku juga boleh duduk di sebelah Miu-chan?"
"Sebelah kiriku Shintarou,
kanannya Sana! Udah penuh~"
"Ya, yaaaah~!"
"Morishita-kun, kalau mau
silakan duduk di sebelah saya. Kalau takut mau bagaimana lagi."
Tumben sekali Tachibana-san baik pada
Morishita... sepertinya dia mulai membuka hati berkat obrolan otaku tadi.
Prediksiku jitu nih.
"Tachibana-san makasih! Ternyata
kamu orangnya sebaik ini... aku salah sangka."
"Sebaik ini katanya...? Tarik
ucapan saya! Sana pergi!"
"Ka-re-na i-tu! Morishita, lu
tuh kebanyakan omong tahu~!"
"Fufu♡ Semuanya tenang ya♡
Nah, sudah siap belum~?"
Waktu menunjukkan lewat jam 6
sore──── akhir musim panas sudah dekat, langit mulai diwarnai kegelapan senja.
Seluruh gorden di ruang tamu ditutup rapat, dan semua lampu dipadamkan.
"Gila, lebih gelap dari dugaan.
Suasananya dapet banget..."
"Bener, muka cuma kelihatan
samar-samar."
"Horor tipe begini nih yang
sosoknya nggak kelihatan tapi nakut-nakutin pakai suara, serem banget tahu.
Nggak tahu kapan datangnya soalnya."
"Paham banget~, tipe jumpscare
gitu paling nggak bisa deh~"
Oh begitu, Kak Momo nggak kuat kalau
dikagetin ya... Padahal aku yang sok santai ini juga mulai ketakutan nih. Tapi
di sini saatnya menunjukkan kejantanan. Walaupun... saking takutnya aku cuma
bisa nonton sambil menyipitkan mata.
Entah karena semua pada takut, tanpa
sadar kami jadi duduk menempel berdempetan seperti sate dango.
"──Uwah!! Kaget... ngapain
ngelihatin ke sini sih."
Wajah Miu yang diterangi cahaya TV
terlihat pucat kebiruan sedang menghadap ke arahku.
"Kenapa apanya, nggak apa-apa...
cuma penasaran kamu beneran nonton apa nggak, jadi aku lihatin mukamu
aja..."
"Nggak baik buat jantung tahu...
berhenti dong."
Momen tenang itu hanya
sesaat──akhirnya cerita menuju bagian akhir, dan saat itu pun tiba.
"Aaaahn!! Datang! Kayaknya bakal
dateng nih!! Tachibana-san toloooong!!"
"Tu, tunggu Morishita-kun!
Lepasin!"
"Gawat! Shintarou~!"
"Shin-chan sembunyiin
akuuu~"
(Woi woi!! Dipeluk dari dua sisi...
ini mah aku kegencet woy!!)
"Datanggg!"
"Aaaaaah!"
────Gsyannn. (bunyi pecahan/benturan)
"He? Apa? Apa ada kejutan
gitu...?"
Di saat yang sepertinya klimaks,
tiba-tiba TV mati total.
"Apa, apa, TV-nya mati
tuh!"
"Miu-chan tenang dulu...! Eh
kok... aneh... remotnya juga nggak bisa..."
"Tunggu, takut!! Kakak di mana!
Gelap banget nggak kelihatan apa-apa!"
"Aku di sini kok! Tuh! Miu-chan!
Ada di depanmu kan. Nggak takut kok... sini aku peluk ya..."
"Eh!? Kakak ngomong sama siapa!?
Kakak ulurin tangan tapi nggak ada siapa-siapa di depanku lho!?"
"...Eh? Terus yang ada di
sini... siapa............?"
"GYAAAAAAAAAA!!"
────Bagoooo!! (bunyi hantaman)
Apa itu!? Bunyi tumpul yang keras
banget!? Apa yang terjadi di tempat yang nggak kelihatan olehku!?
"Kakak nggak apa-apa!?"
"Nggak apa-apa! Nggak tahu apa
tapi aku jadi takut terus aku dorong sekuat tenaga...! Semuanya selamat?"
"Guhoo... Mo, Morishita di
sini... konfirmasi bertahan hidup... se... le... sai............ ugh."
"Morishita-kun!? Nggak
apa-apa!?"
"Kamu nggak apa-apa woy! Eh gelap
banget nggak kelihatan apa-apa sih!"
"Aku nggak apa-apa... yang lebih
penting Kakak... hangat... dan empuk... momen surga tadi takkan kulupakan...
jangan lupakan aku juga... ya... gh."
──Bruk.
"Yah, nggak tahu dia ada di mana
tapi biarin aja dia nggak apa-apa kok."
"Bener juga, Morishita-kun nggak
apa-apa kan?"
"Aah, tinggalkan aku
sendiri..."
──Bruk.
"Katanya gitu. Nyalain lampu
ruangan dulu deh."
"Oke── a, ara? Lampunya nggak
mau nyala... Ini kayaknya mati lampu deh."
Seriusan... bisa pas banget mati
lampu di momen begini.
Mati lampu pas lagi nonton film horor
itu kirain cuma ada di dunia anime.
"Tapi beneran serem ya tadi,
udah lama nggak merinding kayak gini."
Miu mulai bicara sambil menerangi
wajahnya sendiri dengan lampu HP. Ini malah bikin serem tahu.
"Saya juga saking kagetnya
sampai nggak bisa keluar suara... Film horor, sepertinya sudah cukup
deh..."
"Iya kan... Sana-chan takut ya?
Sini Kakak peluk... sini♡"
"Wa...♡ Hangatnya...♡ Mungkin saya mau nonton film horor
lagi deh♡"
Dasar anak polos.
Daya tampung Kak Momo yang bisa
menyelimuti segalanya itu terlalu hebat.
Ngomong-ngomong, bahkan Morishita pun
sempat dipeluk... tapi sampai sekarang yang belum dipeluk cuma aku seorang.
──Prak. (listrik nyala)
"Ah, TV nyala!"
"Apaan, cuma mati lampu sebentar
ternyata?"
"Sepertinya begitu~"
"Eh? Berarti lanjut yang tadi
dong?"
"Ah filmnya? Kayaknya iya?"
"Itu artinya... sebentar lagi
muncul dong..."
『VUOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOAAAAAAA!!』
""GYAAAAAAAAAAAAAA!!""
"Sialan! Kelakuannya parah
banget! Udah nakut-nakutin pas mati lampu, tiba-tiba TV nyala langsung
nakut-nakutin lagi!! Hantunya serem banget!"
Melihat Miu yang marah-marah sama
hantu karena saking takutnya, rasa takutku langsung hilang dan aku malah
tertawa.
"Hei, nggak usah marah-marah
gitu kali (tertawa)."
"Habisnyaaa~!! Jahat banget
tahu~"
"Nah nah, maaf mengganggu
kesenangannya, tapi kalian nggak melupakan eksistensiku kan...?"
"Ah, Morishita-kun. Lupa
banget."
"Miu-chaaan kok gitu
sih~!!"
Berkat Morishita yang sekarang jadi
pencair suasana (mood maker), atmosfer di situ jadi ceria kembali.
Bagaimanapun juga, acara nonton
filmnya lumayan seru.
Walau mati lampu di tengah jalan itu
di luar dugaan.
"Selanjutnya gimana? Kapan
kumpul lagi?"
"Eh, udah ngomongin yang
selanjutnya aja."
"Habisnya~, lebih seru dari
dugaan sih♪ Ya kan Sana♪"
"Iya...♡"
"Tachibana-san itu, kalau lagi
ngomong sama Miu matanya kayak ada lope-lopenya ya."
"Ti, titi tidak begitu kok!
Kalau ngobrol sama Kakak juga, pasti wajah saya sama kok."
"Bener juga."
"Hmph. Jangan menatap wajah
orang terus-terusan dong. Morishita-kun."
"Geh!? Kenapa aku yang kena
sih~, kan yang ngomong Miyata~"
"Ahaha. Morishita-kun itu,
mungkin pas banget sama istilah 'yang kasihan itu imut' ya♪"
"Aku juga suka Morishita-kun
lho~♪ Lucu dan keren♡"
"Wah... diperebutkan begini saya
jadi bingung nih... dehehe."
Ugh... menjijikkan. Melihat sahabat
sendiri lembek begini, rasa malu sebagai sesama manusia (secondhand
embarrassment) jadi aktif.
"Kalau gitu, gimana kalau kita
pesta Halloween! Masing-masing pakai kostum terus pesta di rumah♪"
"Eh, berarti bisa lihat cosplay
Miu-chan!?"
"Aku jadi polisi wanita aja kali
ya~♡ Harus tangkap Morishita-kun nih♡"
"Uhoo...♡ Nggak tahan nih...♡"
Orang ini... sudah kayak lagi musim
kawin saja.
"Lu beneran berhenti deh. Jijik
tahu."
Aku yang sudah nggak tahan melihatnya
akhirnya nyeletuk.
"Kalau begitu, karena aku harus
segera pulang, aku permisi duluan ya."
"Waaah, Sana makasih ya udah
datang hari ini!"
"Ah! Aku pulang bareng Sana-chan
deh!? Katanya stasiun turunnya sama!"
"P, pulang bersama
Morishita-kun!? Y, yah bolehlah."
Morishita dipandang dengan tatapan
agak waspada. Sedikit lucu.
Dan, bagaimanapun juga mereka berdua
meninggalkan rumah ini dengan terlihat akrab.
Apa cuma aku yang merasa punggung
mereka berdua terlihat manis?
Ternyata mereka cocok kan? Pikirku
begitu.
◆◇◆
──Setelah mengantar Morishita dan
yang lain, aku membantu kakak-beradik itu membereskan sisa pesta.
"Fuh~, hari ini seru ya~"
"Aku juga seneng bisa ikutan♡ Semuanya anak baik, kalau nanti diajak lagi mungkin aku
bakal masakin makan malam sekalian deh♪"
"Eh, aku pengen banget makan
masakan Kak Momo lagi setelah sekian lama!!"
"Kalau buat Shin-chan, kapan aja
aku masakin lho? Kalau mau makan sekarang sebelum pulang juga boleh?"
"Ah, hari ini ada rencana makan
di luar sama orang tua..."
Sial... padahal pengen makan masakan
Kak Momo. Setidaknya melihat dia pakai celemek...
"Yah mau gimana lagi.
Kapan-kapan datang lagi ya♡"
"Ah! Iya Shintarou! Akhir pekan
bulan September, aku mau pergi liburan sama Kakak, kamu mau ikut nggak?"
Sambil bilang "dari dulu pengen
ngajak", Miu duduk di sebelahku di sofa.
"Liburan berdua kan...? Cowok
satu nyelip di antara dua cewek... agak gimana gitu nggak sih...?"
"Masa? Nggak ada yang peduli
kali?"
"Yah... gimana ya."
"Walau bilang liburan, tujuannya
penginapan onsen (pemandian air panas) lho♪
Penginapan yang dulu sering kita datangi bareng keluarga waktu kecil, ingat
nggak?"
"Ah, samar-samar sih tapi agak
ingat...!"
Memang ingat pernah pergi beberapa
kali. Rasanya nostalgia.
Sejak besar belum pernah pergi lagi
ya... kalau dibilang penasaran sih penasaran.
"Kalau gitu sudah putus ya kamu
ikut♡"
"──Eeeh!?"
"Udah diputusin kok! Tuh!
Reservasi buat tiga orang juga udah selesai~!"
Sambil berkata begitu dia menunjukkan
layar reservasi di HP-nya.
"Nggak sabar deh~♪"
Padahal aku belum bilang mau ikut
atau nggak. Kakak-beradik ini benar-benar terlalu maksa.
Lagipula... kamarnya gimana?
Jangan-jangan............ tiga orang
satu kamar...!?
(Uugh... lagi-lagi firasat bakal
terjadi sesuatu...)
Komentar
Tinggalkan Komentar