Featured Image

ToshiOsa V1 C6

Metoya Januari 20, 2026 Komentar

 

Chapter 6: Nonton Film di Akhir Musim Panas ~Nasib Asmara di Dalam Kegelapan~

 

 

Di akhir liburan musim panas, kami diajak Miu, dan entah sejak kapan menjadi kebiasaan, "geng biasa" kami ini berkumpul untuk nonton film bareng sekaligus mengadakan pesta rumahan.

 

──Ting-tong.

 

Di waktu jam ngemil sore, masing-masing membawa camilan dan jus, kami berkumpul di rumah Miu.

 

“Iyaaa! Silakan masuk~

 

““Permisi~!”“

 

“Selamat datang Miu-chan sepertinya masih ganti baju, tapi sebentar lagi pasti ke sini, jadi silakan masuk dan tunggu di ruang tamu ya?”

 

Kak Momo menyambut kami masuk ke dalam.

 

(Ngomong-ngomong soal insiden di festival musim panas... aku cuma kepikiran soal Miu, tapi awalnya kan disebabkan oleh kontak fisik dengan Kak Momo ya? Tapi orang ini... apa dia nggak ingat apa-apa ya? Santai banget kelihatannya... Yah, mungkin nggak perlu khawatir yang nggak-nggak kali ya...)

 

Karena ini pertama kalinya main ke rumah Miu, dua orang selain aku terlihat gelisah dan tak tenang, celingukan melihat sekeliling.

 

“Morishita-kun, Sana-chan, duduk di mana saja boleh kok! Anggap saja rumah sendiri dan santai saja ya.”

 

Kak Momo menyapa mereka berdua dengan lembut.

 

“Lagipula, nonton film bareng-bareng kelihatannya seru ya

 

“Miu mengajak kami untuk membuat kenangan di akhir liburan musim panas... jadi hari ini kami berkumpul! Ah, kalau Kak Momo mau, bagaimana kalau ikut gabung juga? Makin banyak orang makin seru kan.”

 

“Eh, aku...? Nanti ganggu lho...”

 

“Ganggu apanya!! Nggak mungkin ganggu lah!!”

 

“Morishita-kun. Suaramu terlalu keras. ...Iya Benar yang dikatakan Miyata-kun Kakaknya Miu-chan juga silakan bergabung

 

Sepertinya semua setuju. Soalnya semua orang suka sama Kak Momo...

 

Saat itu, Miu yang sepertinya baru selesai ganti baju, muncul di ruang tamu.

 

“Bener banget! Kakak juga nonton film bareng yuk~ Lagian dari awal memang begitu rencananya kan...?”

 

“Masa~? Padahal aku tadinya mau pergi lho... tapi ya sudah deh, boleh aku ikut gabung?”

 

“Oke sip! Gitu dong!”

 

“Morishita, lu kelihatan seneng banget ya.”

 

“Jelas lah! Cewek itu makin banyak makin bagus tahu!!”

 

“Oh gitu... dasar lu ya...”

 

──Begitulah, acara nonton film di akhir musim panas pun dimulai.

 

“Tetep aja ya~! Kalau musim panas itu ya itu! I-TU!”

 

“Apaan...? Jangan bilang mau nonton yang aneh-aneh ya Morishita-kun.”

 

“A, aneh-aneh tuh maksudnya...?”

 

“Semacam... anime ecchi gitu?”

 

“Hauh!? Imejku di mata Miu-chan pasti mesum banget ya!!”

 

“Haaah... sudah terlambat, Morishita. Akui saja dengan jantan dan menyerah lah.”

 

“Fuh... ahaha.”

 

Diawali dengan Miu yang menyemburkan tawa, Kak Momo pun ikut tertawa kecil.

 

Tachibana-san juga sepertinya merasa lucu, dia menutupi mulut dengan kedua tangan dan bahunya bergetar menahan tawa.

 

Setelah puas tertawa, Miu menampilkan daftar film dari situs streaming ke layar.

 

“Kalau gitu, mau nonton apa nih! Aku sih pengen yang romance gitu ya~

 

“Hmm, aku sih seri hero.”

 

“Aku film horor! Yang aku maksud "ITU" tadi film horor tahu!!”

 

“Aku... ada anime yang direkomendasikan

 

“Hmm... bingung... Kakak! Kakak mau nonton apa?”

 

“Eh! Aku...? Hmm, nggak ada yang khusus sih ya...? Aku ikut yang mau ditonton kalian aja deh

 

“Jawaban yang paling bikin bingung tuh~”

 

“Hmm, gimana kalau kita tonton film yang pengen ditonton Miu dulu sebagai pengusul acara? Dilihat dari waktunya kayaknya bisa nonton dua film, jadi film kedua film horor karena musim panas identik sama hantu... gimana...!”

 

“Shintarou, makasih~! Emang bisa diandalkan buat nengahin!”

 

Sejak kapan aku jadi penengah begini...

 

Bagaimanapun juga, akhirnya film yang mau ditonton sudah diputuskan, dan persiapan pesta rumahan yang ditunggu-tunggu pun selesai. Di meja pendek (low table) yang pas di ruang tamu, kami menggelar camilan yang dibawa, suasananya jadi "dapet" banget.

 

“Baiklah, pemutaran film akan dimulai... Film yang akan kita tonton kali ini adalah... "Reuni ~Tak Bisa Mengucap Selamat Tinggal~", karya inilah yang terpilih!”

 

Miu yang suasana hatinya lebih baik dari biasanya, begitu selesai memperkenalkan film, dia langsung datang ke sebelahku dan duduk bruk dengan semangat.

 

“Kamu nggak suka film horor kan? Biar nggak takut, aku duduk di sebelahmu deh.”

 

“Hah... makasih.”

 

(A, apa-apaan dia... kalau mau duduk di sebelahku bilang saja terus terang...)

 

Ngomong-ngomong, cewek itu emang suka banget film percintaan ya... Buatku, film beginian tuh bikin malu kalau ditonton... mungkin genre yang nggak bakal kusentuh kalau sendirian.

 

Paling-paling isinya cuma cowok ganteng dan cewek cantik, dialog-dialog gombal (cheesy), dan bermesraan dengan kata-kata manis yang bikin mual.

 

Tuh kan, sesuai dugaan... cowok-cowok yang muncul semuanya ikemen (cowok ganteng).

 

Dari mulut Miu dan Kak Momo pun bocor suara-suara terpesona.

 

Sementara itu Tachibana-san, sepertinya tidak bisa menyembunyikan kekagumannya pada aktris yang imut di film itu.............. ah, Morishita juga sama.

 

Ngomong-ngomong camilan ini enak banget.

 

Saking fokusnya makan camilan daripada nonton film, tanganku nggak berhenti ngambil makanan.

 

“...Hei kamu, suara kunyahanmu berisik tahu.”

 

Miu melirik tajam ke arahku.

 

“Sori sori... nggak sengaja...”

 

Karena merasa tidak sopan kalau tidak nonton, aku pun mengarahkan perhatian ke film.

 

Isi film itu sepertinya tentang "Kisah cinta yang menggambarkan cinta segitiga rumit antara tiga teman masa kecil".

 

(Tiga teman masa kecil... rasanya frasa yang pernah kudengar di suatu tempat ya.)

 

"Hei, Ryu-kun... sebenarnya, kamu suka sama aku atau Ayu-chan?"

 

"Yah, mana bisa... aku nggak bisa milih..."

 

"Ryu-kun, mending kita jadian aja yuk."

 

"Eh? Gimana ya... anu..."

 

(A-apa-apaan tokoh utama cowok ini!! Lembek banget sih!! Ini mah bukan laki-laki! Pilih salah satu woy!)

 

“Rasanya... cowok ini, mirip lu nggak sih? Miyata.”

 

“Hah!? Mirip apanya! Nggak mungkin lah gue kayak gitu!”

 

“Hei... beneran berisik tahu! Ini lagi adegan bagus!”

 

Miu memeluk tisu sambil sesenggukan menangis.

 

──Di mana letak adegan yang bikin nangis... aku nggak paham.

 

Sepertinya film ini ada dua bagian, dan setelah sekitar satu setengah jam, ceritanya berakhir dengan tenang.

 

“Hei, nanti kita tonton lanjutannya bareng-bareng lagi ya.”

 

Dengan mata berkaca-kaca Miu memohon pada kami semua.

 

Jujur saja, aku sih sudah cukup.

 

Sebenarnya aku nggak terlalu ingat ceritanya, tapi kalau bilang begitu pasti bakal dimarahi, jadi mulutku terkunci rapat.

 

“Miu-chan nangisnya kebanyakan tuh~ Hidungnya jadi merah, imut

 

“Hmpfh. Apaan sih! Kakak juga nangis kan~!”

 

Sambil membuang ingus dengan suara keras, pertengkaran kakak-beradik tetap tidak terlewatkan.

 

Pemandangan yang sudah biasa.

 

“Beneran deh, kalian berdua akur dan imut yaa Pertengkaran kakak-beradik perempuan ternyata kayak gini yaa Fuhfuhfu.”

 

“Morishita-kun, kamu terlalu banyak bermimpi. Pertengkaran kakak-beradik perempuan yang sesungguhnya itu tidak layak ditonton. Momen saat memperebutkan satu hal, itu bagaikan pertarungan antara binatang buas dan binatang buas. Hidup atau mati.”

 

“B, begitu ya...”

 

“Ya. Yah, walaupun pengetahuan itu juga saya dapat dari anime sih.”



"Apaan tuh. Kayaknya kamu cocok nih sama Tachibana-san."

 

"Hah!? ...Saya dengan Morishita-kun!? Saya menolak keras."

 

"Kenapa sih~"

 

Melihat mereka yang sepertinya asyik mengobrol sebagai sesama otaku, anehnya aku jadi yakin kalau dua orang ini mungkin bisa cocok.

 

"Kalau gitu mari kita masuk ke topik utama... film horornya~!"

 

Miu mulai bersiap-siap seolah sudah menunggu momen ini.

 

"Nggak mau~ takut~! Shin-chaaaan~"

 

Entah dari mana Kak Momo meluncur datang.

 

Dia duduk di sebelahku, memeluk lenganku erat-erat, dan tidak mau lepas.

 

"Hei! Di situ! Tolong jangan mesra-mesraan dong!?"

 

Peringatan langsung melayang dari Miu, sang kapten pasukan penyerang.

 

"Habisnyaaa~ Aku nggak kuat sama hantu dan yang seram-seram sih~ Boleh kan di sebelah Shin-chan~?"

 

"A, aku sih nggak masalah..."

 

"...Muu~"

 

Miu yang tadi suasana hatinya bagus, sekarang menggembungkan pipinya sampai penuh dan memelototi kami.

 

(Sudah berapa kali kejadian kayak gini sih!! Kan dibilangin bukan salahku!)

 

"Ah, iya! Mumpung nonton, gimana kalau kamarnya digelapin total? Jendela dan gorden ditutup rapat semua."

 

"Morishita-kun tumben ngomong bener~"

 

"Ehehe Kalau gitu aku juga boleh duduk di sebelah Miu-chan?"

 

"Sebelah kiriku Shintarou, kanannya Sana! Udah penuh~"

 

"Ya, yaaaah~!"

 

"Morishita-kun, kalau mau silakan duduk di sebelah saya. Kalau takut mau bagaimana lagi."

 

Tumben sekali Tachibana-san baik pada Morishita... sepertinya dia mulai membuka hati berkat obrolan otaku tadi. Prediksiku jitu nih.

 

"Tachibana-san makasih! Ternyata kamu orangnya sebaik ini... aku salah sangka."

 

"Sebaik ini katanya...? Tarik ucapan saya! Sana pergi!"

 

"Ka-re-na i-tu! Morishita, lu tuh kebanyakan omong tahu~!"

 

"Fufu Semuanya tenang ya Nah, sudah siap belum~?"

 

Waktu menunjukkan lewat jam 6 sore──── akhir musim panas sudah dekat, langit mulai diwarnai kegelapan senja. Seluruh gorden di ruang tamu ditutup rapat, dan semua lampu dipadamkan.

 

"Gila, lebih gelap dari dugaan. Suasananya dapet banget..."

 

"Bener, muka cuma kelihatan samar-samar."

 

"Horor tipe begini nih yang sosoknya nggak kelihatan tapi nakut-nakutin pakai suara, serem banget tahu. Nggak tahu kapan datangnya soalnya."

 

"Paham banget~, tipe jumpscare gitu paling nggak bisa deh~"

 

Oh begitu, Kak Momo nggak kuat kalau dikagetin ya... Padahal aku yang sok santai ini juga mulai ketakutan nih. Tapi di sini saatnya menunjukkan kejantanan. Walaupun... saking takutnya aku cuma bisa nonton sambil menyipitkan mata.

 

Entah karena semua pada takut, tanpa sadar kami jadi duduk menempel berdempetan seperti sate dango.

 

"──Uwah!! Kaget... ngapain ngelihatin ke sini sih."

 

Wajah Miu yang diterangi cahaya TV terlihat pucat kebiruan sedang menghadap ke arahku.

 

"Kenapa apanya, nggak apa-apa... cuma penasaran kamu beneran nonton apa nggak, jadi aku lihatin mukamu aja..."

 

"Nggak baik buat jantung tahu... berhenti dong."

 

Momen tenang itu hanya sesaat──akhirnya cerita menuju bagian akhir, dan saat itu pun tiba.

 

"Aaaahn!! Datang! Kayaknya bakal dateng nih!! Tachibana-san toloooong!!"

 

"Tu, tunggu Morishita-kun! Lepasin!"

 

"Gawat! Shintarou~!"

 

"Shin-chan sembunyiin akuuu~"

 

(Woi woi!! Dipeluk dari dua sisi... ini mah aku kegencet woy!!)

 

"Datanggg!"

 

"Aaaaaah!"

 

────Gsyannn. (bunyi pecahan/benturan)

 

"He? Apa? Apa ada kejutan gitu...?"

 

Di saat yang sepertinya klimaks, tiba-tiba TV mati total.

 

"Apa, apa, TV-nya mati tuh!"

 

"Miu-chan tenang dulu...! Eh kok... aneh... remotnya juga nggak bisa..."

 

"Tunggu, takut!! Kakak di mana! Gelap banget nggak kelihatan apa-apa!"

 

"Aku di sini kok! Tuh! Miu-chan! Ada di depanmu kan. Nggak takut kok... sini aku peluk ya..."

 

"Eh!? Kakak ngomong sama siapa!? Kakak ulurin tangan tapi nggak ada siapa-siapa di depanku lho!?"

 

"...Eh? Terus yang ada di sini... siapa............?"

 

"GYAAAAAAAAAA!!"

 

────Bagoooo!! (bunyi hantaman)

 

Apa itu!? Bunyi tumpul yang keras banget!? Apa yang terjadi di tempat yang nggak kelihatan olehku!?

 

"Kakak nggak apa-apa!?"

 

"Nggak apa-apa! Nggak tahu apa tapi aku jadi takut terus aku dorong sekuat tenaga...! Semuanya selamat?"

 

"Guhoo... Mo, Morishita di sini... konfirmasi bertahan hidup... se... le... sai............ ugh."

 

"Morishita-kun!? Nggak apa-apa!?"

 

"Kamu nggak apa-apa woy! Eh gelap banget nggak kelihatan apa-apa sih!"

 

"Aku nggak apa-apa... yang lebih penting Kakak... hangat... dan empuk... momen surga tadi takkan kulupakan... jangan lupakan aku juga... ya... gh."

 

──Bruk.

 

"Yah, nggak tahu dia ada di mana tapi biarin aja dia nggak apa-apa kok."

 

"Bener juga, Morishita-kun nggak apa-apa kan?"

 

"Aah, tinggalkan aku sendiri..."

 

──Bruk.

 

"Katanya gitu. Nyalain lampu ruangan dulu deh."

 

"Oke── a, ara? Lampunya nggak mau nyala... Ini kayaknya mati lampu deh."

 

Seriusan... bisa pas banget mati lampu di momen begini.

 

Mati lampu pas lagi nonton film horor itu kirain cuma ada di dunia anime.

 

"Tapi beneran serem ya tadi, udah lama nggak merinding kayak gini."

 

Miu mulai bicara sambil menerangi wajahnya sendiri dengan lampu HP. Ini malah bikin serem tahu.

 

"Saya juga saking kagetnya sampai nggak bisa keluar suara... Film horor, sepertinya sudah cukup deh..."

 

"Iya kan... Sana-chan takut ya? Sini Kakak peluk... sini"

 

"Wa... Hangatnya... Mungkin saya mau nonton film horor lagi deh"

 

Dasar anak polos.

 

Daya tampung Kak Momo yang bisa menyelimuti segalanya itu terlalu hebat.

 

Ngomong-ngomong, bahkan Morishita pun sempat dipeluk... tapi sampai sekarang yang belum dipeluk cuma aku seorang.

 

──Prak. (listrik nyala)

 

"Ah, TV nyala!"

 

"Apaan, cuma mati lampu sebentar ternyata?"

 

"Sepertinya begitu~"

 

"Eh? Berarti lanjut yang tadi dong?"

 

"Ah filmnya? Kayaknya iya?"

 

"Itu artinya... sebentar lagi muncul dong..."

 

VUOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOAAAAAAA!!

 

""GYAAAAAAAAAAAAAA!!""

 

"Sialan! Kelakuannya parah banget! Udah nakut-nakutin pas mati lampu, tiba-tiba TV nyala langsung nakut-nakutin lagi!! Hantunya serem banget!"

 

Melihat Miu yang marah-marah sama hantu karena saking takutnya, rasa takutku langsung hilang dan aku malah tertawa.

 

"Hei, nggak usah marah-marah gitu kali (tertawa)."

 

"Habisnyaaa~!! Jahat banget tahu~"

 

"Nah nah, maaf mengganggu kesenangannya, tapi kalian nggak melupakan eksistensiku kan...?"

 

"Ah, Morishita-kun. Lupa banget."

 

"Miu-chaaan kok gitu sih~!!"

 

Berkat Morishita yang sekarang jadi pencair suasana (mood maker), atmosfer di situ jadi ceria kembali.

 

Bagaimanapun juga, acara nonton filmnya lumayan seru.

 

Walau mati lampu di tengah jalan itu di luar dugaan.

 

"Selanjutnya gimana? Kapan kumpul lagi?"

 

"Eh, udah ngomongin yang selanjutnya aja."

 

"Habisnya~, lebih seru dari dugaan sih Ya kan Sana"

 

"Iya..."

 

"Tachibana-san itu, kalau lagi ngomong sama Miu matanya kayak ada lope-lopenya ya."

 

"Ti, titi tidak begitu kok! Kalau ngobrol sama Kakak juga, pasti wajah saya sama kok."

 

"Bener juga."

 

"Hmph. Jangan menatap wajah orang terus-terusan dong. Morishita-kun."

 

"Geh!? Kenapa aku yang kena sih~, kan yang ngomong Miyata~"

 

"Ahaha. Morishita-kun itu, mungkin pas banget sama istilah 'yang kasihan itu imut' ya"

 

"Aku juga suka Morishita-kun lho~ Lucu dan keren"

 

"Wah... diperebutkan begini saya jadi bingung nih... dehehe."

 

Ugh... menjijikkan. Melihat sahabat sendiri lembek begini, rasa malu sebagai sesama manusia (secondhand embarrassment) jadi aktif.

 

"Kalau gitu, gimana kalau kita pesta Halloween! Masing-masing pakai kostum terus pesta di rumah"

 

"Eh, berarti bisa lihat cosplay Miu-chan!?"

 

"Aku jadi polisi wanita aja kali ya~ Harus tangkap Morishita-kun nih"

 

"Uhoo... Nggak tahan nih..."

 

Orang ini... sudah kayak lagi musim kawin saja.

 

"Lu beneran berhenti deh. Jijik tahu."

 

Aku yang sudah nggak tahan melihatnya akhirnya nyeletuk.

 

"Kalau begitu, karena aku harus segera pulang, aku permisi duluan ya."

 

"Waaah, Sana makasih ya udah datang hari ini!"

 

"Ah! Aku pulang bareng Sana-chan deh!? Katanya stasiun turunnya sama!"

 

"P, pulang bersama Morishita-kun!? Y, yah bolehlah."

 

Morishita dipandang dengan tatapan agak waspada. Sedikit lucu.

 

Dan, bagaimanapun juga mereka berdua meninggalkan rumah ini dengan terlihat akrab.

 

Apa cuma aku yang merasa punggung mereka berdua terlihat manis?

 

Ternyata mereka cocok kan? Pikirku begitu.

 

◆◇◆

 

──Setelah mengantar Morishita dan yang lain, aku membantu kakak-beradik itu membereskan sisa pesta.

 

"Fuh~, hari ini seru ya~"

 

"Aku juga seneng bisa ikutan Semuanya anak baik, kalau nanti diajak lagi mungkin aku bakal masakin makan malam sekalian deh"

 

"Eh, aku pengen banget makan masakan Kak Momo lagi setelah sekian lama!!"

 

"Kalau buat Shin-chan, kapan aja aku masakin lho? Kalau mau makan sekarang sebelum pulang juga boleh?"

 

"Ah, hari ini ada rencana makan di luar sama orang tua..."

 

Sial... padahal pengen makan masakan Kak Momo. Setidaknya melihat dia pakai celemek...

 

"Yah mau gimana lagi. Kapan-kapan datang lagi ya"

 

"Ah! Iya Shintarou! Akhir pekan bulan September, aku mau pergi liburan sama Kakak, kamu mau ikut nggak?"

 

Sambil bilang "dari dulu pengen ngajak", Miu duduk di sebelahku di sofa.

 

"Liburan berdua kan...? Cowok satu nyelip di antara dua cewek... agak gimana gitu nggak sih...?"

 

"Masa? Nggak ada yang peduli kali?"

 

"Yah... gimana ya."

 

"Walau bilang liburan, tujuannya penginapan onsen (pemandian air panas) lho Penginapan yang dulu sering kita datangi bareng keluarga waktu kecil, ingat nggak?"

 

"Ah, samar-samar sih tapi agak ingat...!"

 

Memang ingat pernah pergi beberapa kali. Rasanya nostalgia.

 

Sejak besar belum pernah pergi lagi ya... kalau dibilang penasaran sih penasaran.

 

"Kalau gitu sudah putus ya kamu ikut"

 

"──Eeeh!?"

 

"Udah diputusin kok! Tuh! Reservasi buat tiga orang juga udah selesai~!"

 

Sambil berkata begitu dia menunjukkan layar reservasi di HP-nya.

 

"Nggak sabar deh~"

 

Padahal aku belum bilang mau ikut atau nggak. Kakak-beradik ini benar-benar terlalu maksa.

 

Lagipula... kamarnya gimana?

 

Jangan-jangan............ tiga orang satu kamar...!?

 

(Uugh... lagi-lagi firasat bakal terjadi sesuatu...)





Bagikan ke:

Komentar

Tinggalkan Komentar