4. Red Queen's Hypothesis
(0/7)
Permintaan itu dibuat oleh salah seorang petugas kepolisian yang bertugas di Kota Harunire.
Dia memiliki rasa keadilan yang kuat. Terlalu kuat, hingga dia sendiri menyadari bahwa rasa keadilannya itu sudah menyimpang jauh dari rata-rata orang di dunia ini. Dia beranggapan bahwa menghakimi kejahatan yang tidak bisa ditangkap oleh hukum dengan menggunakan jalan belakang adalah hal yang diperbolehkan. Kelompok preman yang meresahkan kota kami---dia tahu bahwa akar dari segala kejahatan itu adalah wanita tersebut. Dia harus disingkirkan. Dengan cara apa pun.
Meskipun itu berarti harus memesan jasa pembunuh bayaran.
Orang pertama yang mentransfer uang ke situs web itu adalah seorang ibu rumah tangga biasa.
Dia mendengar keberadaan situs itu dari teman sesama ibu-ibu di lingkungan sekitar. Konon itu adalah situs untuk memesan pembunuh bayaran, dan saat ini sedang menggalang dana dari para penyumbang untuk membiayai pembunuhan pemimpin <Red Bear>. Dipikir bagaimana pun itu pasti situs penipuan, dan temannya itu pun menceritakannya dalam konteks bercanda, tapi sang ibu rumah tangga berpikir, <Siapa tahu>. Dia benar-benar sudah muak dengan kebisingan <Red Bear> di tengah malam. Jika dengan itu suara bising tersebut bisa hilang---. Ibu rumah tangga itu terhubung ke situs yang hanya bisa diakses menggunakan peramban khusus tersebut, lalu mentransfer uang dalam jumlah kecil yang masih bisa dia relakan untuk cerita yang belum tentu benar itu.
Di lain waktu, ada juga anggota <Red Bear> sendiri yang mentransfer uang.
Anggota itu sangat membenci wanita yang kembali ke tim setahun yang lalu itu. Dia menyebarkan aturan seenaknya, mengendalikan tim seolah-olah itu miliknya sendiri---. Menjijikkan. Saat itulah, dia mendengar rumor tentang situs web tersebut. Kebenarannya meragukan, tapi dia tidak peduli. Asalkan wanita itu bisa lenyap, apa pun akan dia lakukan.
Orang yang melakukan transfer terakhir hingga mencapai target dana adalah Amano Hiyori.
Dia belum pernah merasakan perasaan sekejam ini. Dia ingin menjatuhkan hukuman langit kepada organisasi yang telah melukai temannya itu. Saat itulah dia mendengar rumor tentang situs web tersebut, dan ketika dia mengunjunginya, permintaan itu hampir mencapai kesepakatan. Hiyori memasukkan seluruh tabungan yang telah dia kumpulkan sedikit demi sedikit untuk membeli komputer dengan GPU bagus ke dalam situs itu.
Matilah kau.
(1/7)
Kouen, kini seorang diri.
(2/7)
Pertikaian telah berakhir. Perang telah usai.
Semua orang, tekad mereka telah mematahkan satu sama lain.
Kouen turun ke lantai satu hotel. Kepada anggota <Red Bear> yang tergeletak penuh luka namun masih sadar, dia berkata, "Kalian semua, lakukanlah sesuka kalian." Dia memerintahkan agar jika anggota lain sadar, sampaikan kata-kata yang sama kepada mereka. Dia tidak mengatakan---akan membubarkan <Red Bear>, tapi dengan sendirinya hal itu akan terjadi. Semuanya pasti sudah jera sampai ke tulang sumsum.
Kouen keluar dari hotel, melajukan motor yang diparkir di bekas tempat parkir, dan beranjak pulang.
Di tengah perjalanan---kata-kata terakhir wanita hantu itu berulang di dalam otaknya.
Kalau mau yang beneran, datanglah ke dunia Game---.
Kouen mengerti apa maksudnya. Kouen pernah mendengar selentingan rumor tentang <Game>---kabarnya di dunia bawah ada pertunjukan di mana gadis-gadis muda bertaruh nyawa dalam permainan pembunuhan. Wanita hantu itu pasti salah satu pemainnya.
Kalau di sana---apakah kali ini aku bisa melakukannya dengan baik?
Sambil memikirkan hal itu, Kouen tiba di rumahnya.
Sebuah rumah tapak yang cukup luas. Sudah berapa lama dia tidak pulang? Karena dia menjalani hidup berpindah-pindah demi bisnis gelap <Red Bear>, tempat tidurnya tidak menentu, bisa di rumah anggota, hotel bisnis, atau hotel reruntuhan itu. Karena sudah terlalu lama, butuh waktu baginya untuk mengingat di mana dia menyimpan kuncinya. Dia memasukkan kunci yang diambil dari saku dada mantelnya ke pintu depan, memutarnya, dan melangkah masuk ke rumah yang sudah lama ditinggalkannya. Karena dia tinggal sendiri dan tidak memelihara hewan peliharaan, tidak ada yang menyambutnya.
Kouen berjalan menyusuri lorong menuju ruang tamu. Di tengah jalan, dia melewati wastafel.
Saat itulah.
Ada tekanan samar di leher Kouen.
(3/7)
Fuchidori yang bersembunyi di ruang wastafel, memastikan Kouen lewat, lalu keluar ke lorong.
Kemudian, dia mendekati Kouen dari belakang, melilitkan benang halus di lehernya, dan menjeratnya. Setelah dicekik selama sekitar sepuluh detik, Kouen kehilangan kesadaran dan ambruk di tempat.
Tak lama kemudian, Supporter datang dari ruang wastafel, dan setelah itu mereka melakukan prosedur seperti biasa. Melilitkan alat semacam tourniquet (pembebat) di leher target, menutupi seluruh tubuhnya dengan karung goni, lalu memanggulnya berdua dan membawanya ke mobil yang diparkir di luar. Supporter mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menghentikan stopwatch yang berjalan di layar.
"Uuno...... Lima menit dua detik," kata Supporter.
"Kali ini jarak ke mobil agak jauh sih," jawab Fuchidori.
Setelah memastikan mobil Supporter melaju pergi, Fuchidori kembali ke dalam rumah dan memeriksa sekitar lokasi kejadian. Memastikan tidak ada bukti yang tertinggal, dia menghela napas, "Fuh".
Pekerjaan selesai.
Pekerjaan kali ini agak merepotkan. Alamat target---Nanase Kouen---sudah diketahui, dan karena dia tinggal sendiri, mereka ingin melakukan eksekusi di sana, tapi hal itu tidak bisa dilakukan karena Kouen menjalani hidup tanpa pulang ke rumah sama sekali. Pola hidup sehari-harinya juga sangat tidak stabil, sehingga sulit untuk mengetahui kapan, di mana, dan apa yang sedang dia lakukan, membuat perencanaan menjadi sulit.
Akhirnya, mereka menyusun rencana untuk memasang alat pelacak pada target dan menunggu waktu yang tepat. Demi mengakhiri pertikaian dengan cepat, mereka juga menyerahkan ponsel yang terhubung dengan alat pelacak kepada pihak terkait. Akhirnya masalah selesai, dan untungnya target sepertinya menuju ke rumahnya, jadi mereka mendahuluinya, menyelinap masuk, dan melaksanakan pembunuhan.
Haa, Fuchidori menghela napas.
Target kali ini---Fuchidori mengenal Kouen. Dia juga bisa membayangkan alasan kenapa dia dibunuh. Aktivitas <Red Bear> belakangan ini memang sudah keterlaluan. Karena itulah, seseorang pasti mengajukan permintaan pembunuhan. Berpikir bahwa jika dia tidak ada, aktivitas organisasi tersebut akan mereda.
Tapi, bagaimanapun juga, membunuh itu---.
Ternyata tetap berat ya, pikir Fuchidori. Dia memikirkan banyak hal, tapi tidak semudah itu menemukan makna dalam pekerjaan ini. Namun demikian---meski terdengar seperti retorika, dia bisa memiliki makna dalam hal mencari makna itu sendiri. Dengan begitu saja, setidaknya dia sepertinya bisa melanjutkannya.
Untuk saat ini, masih bisa---.
(4/7)
Yuki merasakan hawa dingin.
(5/7)
Setelah pertikaian berakhir---Yuki diantar pulang ke Apartemen Tochinoki dengan membonceng motor Akane.
Sebenarnya dia bisa saja langsung kembali ke kamar dan tidur nyenyak seperti yang dilakukan Akane, tapi Yuki pergi keluar untuk jalan-jalan malam. Meskipun tubuhnya babak belur dan kelelahan, karena tidak ada makanan satu pun di rumah, dia memutuskan untuk pergi ke toserba membeli makan malam.
"......Kh."
---Di tengah jalan, Yuki merasakan hawa dingin.
Jenis hawa dingin yang sama dengan yang dirasakannya tempo hari.
Pertikaian seharusnya sudah berakhir---apakah sisa-sisa anggota masih ada di suatu tempat dan melanjutkan pertempuran?
"............"
Yuki menajamkan telinganya ke sekitar.
Sudah tidak terdengar lagi. Suara motor itu. Wajar saja, karena seluruh anggota tim sudah bertarung habis-habisan dan dalam kondisi kelelahan.
Tapi besok, lusa, dan seterusnya, suara motor yang bising itu mungkin tidak akan terdengar lagi. Karena <Red Bear> sudah bubar---. Hal itu entah kenapa membuat Yuki merasakan ketidakkekalan. Saat suara itu ada, dia berpikir <Berisik banget sih>, tapi begitu berpikir tidak akan mendengarnya lagi, itu pun terasa sepi.
Kesepian karena segala sesuatu tidak ada yang abadi (Shogyo Mujo).
Ratu Merah pun, tidak bisa berlari selamanya.
Tidak ada yang tidak berubah. Tidak ada yang tidak berakhir---organisasi apa pun, maupun seseorang.
Yuki mengepal dan membuka tangan kirinya.
Bagaimana denganku? Berapa banyak tenaga yang tersisa? Berapa lama lagi aku bisa terus menjadi pemain (player)?
Saat sedang berjalan-jalan sambil memikirkan hal itu---
"Permisi,"
Seseorang memanggilnya dari belakang.
(6/7)
Yuki menoleh.
Trotoar di sepanjang jalan besar tempat Yuki berjalan---di sana, terpasang sebuah halte bus. Halte bus tua yang mungkin dipasang sekitar dua era zaman yang lalu.
Di sampingnya ada sebuah bangku. Ini juga bangku baja tua yang membuat orang berpikir sudah lama sekali sejak dipasang.
Waktu menunjukkan tengah malam. Tak perlu dikatakan lagi jam operasional sudah lewat, dan bus berikutnya baru akan datang besok pagi---namun, ada satu orang yang duduk di bangku itu. Menyandarkan kedua lengan di sandaran punggung, menyilangkan kedua kaki, mengambil sikap yang sangat angkuh, Yuki mengenali sosok itu.
Shirou.
Pemain berambut seperti serigala yang ditemuinya di Game tempo hari.
Tidak, tunggu---pikir Yuki. Saat dia melewati halte bus ini tadi, seharusnya tidak ada orang. Dari mana dan bagaimana dia muncul?
"---Kebetulan sekali ya. Bisa bertemu di tempat seperti ini."
Selagi Yuki kebingungan, Shirou melontarkan kalimat berikutnya.
Dia bangkit dari bangku, dan berjalan ke arah Yuki.
"Bagaimana? Mumpung ketemu, maukah kita mengobrol sebentar?"
"............"
Yuki tidak menjawab.
Tanpa menjawab, dia berjalan tanpa suara menuju Shirou. Dengan wajah serius, Yuki mendekati Shirou sampai jarak jangkauan tangan, lalu perlahan mengulurkan kedua tangannya ke depan dan---
Dia menyentuh-nyentuh dada Shirou.
Dia merasakan tekstur serat pakaian yang tampak mahal dan kehangatan kulit manusia.
"............"
"............"
"......Ada apa?"
Setelah hening beberapa saat, Shirou bertanya.
"Saya rasa dada saya tidak punya volume yang cukup untuk menyenangkan saat disentuh."
"Bukan...... aku ingin memastikan eksistensinya......"
Jawab Yuki.
Setidaknya, sepertinya bukan ilusi---kali ini.
(7/7)
Translator Note: -
Support the translator to keep the updates coming!
Buy Me a Coffee
Dukung Kami Di:
Komentar
Tinggalkan Komentar