Featured Image

Shiboyugi V7 Chapter 2

Metoya Januari 23, 2026 Komentar
Metoya Translation

2. Lemon Squeezy (65.5th Time)



(0/23)

Game keenam puluh lima—<Haunted Residence>.

Di dalamnya, Yuuki mengalami sedikit kesulitan.

(1/23)

Seorang wanita berlumuran darah melompat keluar dari balik bayangan disertai jeritan.

"...hhe!"

Yuuki tersentak menahan napas.

Lalu—secara refleks ia melihat ke pergelangan tangan kirinya. Pada monitor yang terpasang di sana, ditampilkan berbagai angka vital Yuuki seperti detak jantung, suhu tubuh, dan tekanan darah. Kejutan barusan membuat semua angka itu kacau.

Selain itu, terdengar suara buzzer dari leher Yuuki.

Suara itu berasal dari kalung yang dipakainya. Tenanglah—Yuuki berkata pada dirinya sendiri. Menenangkan diri adalah keahliannya. Ia memiliki struktur mental di mana semakin gawat situasinya, justru hatinya semakin tenang. Angka-angka di monitor segera kembali normal, dan suara buzzer pun berhenti berbunyi.

"...Aman..."

Kata Yuuki sambil mengetuk kalungnya dengan kuku.

Karena kalung itu terbuat dari logam, terdengar suara tuktuk yang kering.

<Haunted Residence>—adalah game yang berlatar di rumah hantu. Wanita tadi—yang merupakan figuran dalam game ini dan kini telah menghilang entah ke mana—hanyalah satu dari sekian banyak jebakan yang disiapkan untuk mengejutkan orang. Hal itu sendiri tidak merenggut nyawa, tetapi sebagai gantinya, bom berbentuk kalung dipasang di leher para pemain.

Alat itu terus merekam kenaikan detak jantung, keringat, dan suara terkejut pemain. Jika terdeteksi melebihi batas tertentu—artinya jika pemain terlalu kaget—kalung akan meledak. Game Over.

"—Dasar menyedihkan."

Suara tegas ditujukan kepada Yuuki.

Saat menoleh ke arah suara itu, ada seorang pemain bertubuh raksasa seperti beruang. Wajahnya dicat dengan jahitan yang mengingatkan pada monster Frankenstein, dan pakaiannya pun diasosiasikan dengan monster yang sama. Itu adalah kostum game ini. Karena ini rumah hantu, maka mereka berpakaian seperti hantu.

Dia adalah Maguma.

Bagi Yuuki, dia adalah pemain yang sudah dikenalnya. Mereka pernah bersama dalam beberapa game seperti <Cloudy Beach>. Dia adalah sosok dengan gaya bermain yang individualis, tetapi game ini menggunakan sistem berpasangan dua orang, dan karena kalung Yuuki dan Maguma terhubung oleh rantai, mau tidak mau ia harus bergerak bersama Yuuki.

"Ayo, cepat jalan."

Maguma menarik Yuuki melalui rantai itu. "Uwah," seru Yuuki sambil terhuyung ke depan. Ngomong-ngomong, Yuuki berpakaian seperti kucing hantu (bakeneko).

Yuuki mengikuti langkah Maguma yang berjalan cepat menyusuri rumah hantu agar tidak tertinggal. Rantai yang menghubungkan kalung mereka hanya beberapa meter panjangnya, sehingga mereka tidak bisa berpisah lebih dari jarak itu. Artinya, jika kalung pasangan meledak, pihak satunya juga akan terkena dampaknya.

Jika pasangan adalah beban yang mudah gugup, taktik yang bisa dipikirkan adalah membunuh pasangan itu sebelum kalungnya meledak, memotong lehernya, dan beralih ke mode bermain solo. Karena Maguma yang individualis bisa saja memilih opsi itu kapan saja, hati Yuuki merasa waswas karena alasan yang tidak berhubungan dengan rumah hantu.

"Saya malu..."

Sambil berkata begitu, Yuuki melihat monitor di pergelangan tangannya. Ini hanyalah item bantuan dan tidak berhubungan dengan mekanisme kerja kalung.

"Orang aneh. Kita ini biasanya bertaruh nyawa dengan jebakan yang lebih berbahaya. Masa cuma sama hantu saja takut."

"Situasinya beda, tahu..." keluh Yuuki.

Meskipun dirinya sendiri berpenampilan seperti hantu—dan mencari makan dari game pembunuhan, Yuuki lemah terhadap horor. Ia sendiri merasa itu aneh, tetapi dibandingkan pedang atau tombak yang terbang yang terasa "berbahaya", zombie atau bola api arwah yang mendekat terasa "sepertinya berbahaya" dan itu justru terasa lebih menakutkan baginya. Mungkin karena hal itu memengaruhi imajinasi. Logikanya sama dengan novel yang terkadang terasa lebih nyata daripada film.

Saat mereka melangkah maju, hantu muncul lagi. Menembus lubang ventilasi di langit-langit, beberapa anak berwajah pucat turun. Mereka mendekati Yuuki dan rekannya dengan cepat, memperlihatkan wajah menyeramkan selama beberapa detik, lalu berlari pergi.

Meskipun tidak berteriak, Yuuki secara refleks memeluk Maguma, dan kemudian dilepaskan dengan satu kibasan tangan yang terlihat sangat terganggu dari Maguma.

"...Maguma-san sendiri, kenapa bisa tidak terpengaruh begitu?" tanya Yuuki. "Nyali Anda terlalu tebal."

"Entahlah. Mungkin karena dulu sudah terlatih?"

Maguma menjulurkan kedua tangannya ke depan, membuat gestur seperti memegang setang motor.

"Dulu sering melakukannya. Lari sekencang-kencangnya berdua menuju dinding, yang ngerem duluan dia yang kalah. Kalau soal nyali, aku tak akan kalah dari orang sembarangan."

"Hoo, chicken race ya. Dulu Anda bodoh ya, Maguma-san."

"...Kuharap kau bilangnya 'bandel'."

Maguma berkata dengan wajah tidak terima. Dilihat dari tubuh raksasanya, ia pasti menunggangi motor kesayangan yang ukurannya juga sangat besar. Yuuki membayangkan sosok itu di dalam kepalanya, dan—

"...Hmm?"

Entah kenapa, ia merasakan sesuatu yang mengganjal di hatinya.

Begitulah cara Yuuki menyelesaikan game keenam puluh limanya.

(2/23)

Yuuki yang telah kembali ke apartemen menyelesaikan rutinitas biasanya. Saat melihat jam di ponsel, sama seperti game ke-64, waktunya masih sempat untuk pergi ke sekolah. Kerja bagus, Tuan Agen, pikir Yuuki sambil berganti ke seragam pelaut dan membuka pintu kamar.

"—Woy! Ada orang nggak!"

Tiba-tiba—terdengar teriakan Ibu Pemilik kos.

"Lemon! Woy! Kalau ada di kamar, buka!"

Sambil berteriak, ia menggedor pintu dengan keras dung-dung.

Tak lama kemudian pintu terbuka, dan dari dalam kamar, seorang wanita berambut pirang keluar dengan wajah bingung.

Ramona Squire. Mahasiswi yang indekos. Dilihat dari penampilannya, ia jelas pelajar asing, tetapi tidak diketahui dari negara mana. Yuuki yang belum pernah keluar dari Jepang tidak memiliki keahlian untuk menebak kewarganegaraan orang. Karena ia kadang-kadang berbicara bahasa Inggris, hanya bisa diketahui bahwa ia berasal dari negara berbahasa Inggris.

"Ada apa, Ibu Pemilik...?" tanya Ramona.

"Uang air kali ini kamu bayar kebanyakan. Aku datang mau balikin."

Itu bukan nada bicara orang yang mau memberitahu hal seperti itu, kan, batin Yuuki dalam hati.

Biaya air di Apartemen Tochinoki menggunakan sistem membagi rata tagihan air seluruh gedung. Dua bulan sekali, Ibu Pemilik datang sendiri untuk menagih. Karena jumlahnya diberitahukan dan diserahkan di tempat, kesalahan memang mudah terjadi.

Ramona menerima uang receh dari Ibu Pemilik. "Ngomong-ngomong, Ibu Pemilik," kata Ramona.

"Saya, Ramona. Bukan Lemon..."

"Hah? Apa katamu?"

"Nothing..."

Setelah urusannya selesai, Ibu Pemilik berjalan pergi dengan langkah lebar kembali ke kamarnya sendiri. Ramona menghela napas, dan di situ, ia menyadari keberadaan Yuuki yang mengamati kejadian itu dari awal hingga akhir. Dengan posisi hanya mengeluarkan kepala dari dalam kamar, ia menyapa Yuuki yang juga sedang dalam posisi serupa, "Selamat malam."

"Selamat malam, Lemon-san."

Iseng-iseng Yuuki mencoba memanggil begitu.

Maka, Ramona membuat wajah terkejut sesaat, lalu,

"...Ramona, Yuuki-san!"

"Kalau bilang 'Lemon' ke orang, itu punya arti buruk. Artinya barang cacat, atau tidak berguna."

Hee, begitu ya, pikir Yuuki. Ia baru mendengarnya.

"Aah... Makanya Ramona-san bersikeras mengoreksinya?"

"Betul. Tapi, dia sama sekali tidak mau memperbaikinya..."

Kejadian barusan adalah contoh yang bagus—Ramona selalu dipanggil "Lemon" oleh Ibu Pemilik. Pelafalannya memang agak mirip. Meski setiap kali ia mengoreksi "Saya Ramona", Ibu Pemilik sama sekali tidak mau mendengar. Sepertinya dia berpikir Ramona atau Lemon tidak jauh beda.

"Semudah itu ya salah dengarnya? Perasaan pelafalannya tidak semirip itu..."

"Hmm... bagaimana ya. Coba Anda ucapkan bergantian?"

"Ramona, lemon, Ramona, lemon."

Maaf baginya, tapi memang agak mirip sih, pikir Yuuki. "Mirip ya," katanya jujur.

"Beda sama sekaliii."

Setelah itu, topik beralih ke perbedaan pelafalan L dan R. Yuuki juga tahu bahwa itu adalah salah satu kesulitan dalam belajar bahasa Inggris, dan Yuuki saat ini pun merasakan kesulitan yang mungkin dirasakan oleh banyak orang Jepang. Meski dijelaskan perbedaannya langsung oleh penutur asli, ia sama sekali tidak paham, dan akhirnya, "Maaf, sudah waktunya sekolah..." kata Yuuki melarikan diri dari tempat itu. Wajah Ramona yang tampak belum puas menusuk hati Yuuki.

(3/23)

Hari ini adalah hari pengembalian hasil ujian.

Hasil ujian akhir tahun yang diikuti beberapa hari lalu akan dikembalikan. Tidak ada pelajaran biasa, dan sekolah akan bubar segera setelah menerima lembar jawaban. Hari sekolah tanpa pelajaran itu adalah hal yang ajaib, ada rasa berdebar yang lebih daripada sekadar hari libur biasa. Sambil menikmati perasaan itu, Yuuki tiba di sekolah dan membuka pintu kelas.

Segera, sesuatu yang menarik perhatian melompat ke pandangannya.

"Gapapa?" "Maaf ya, gara-gara kami."

Yang berbicara bergantian adalah Amano Hiyori dan Amano Kazami. Pasangan kembar, dan teman sekelas Yuuki.

Orang yang mereka ajak bicara adalah Hitomi. Ia duduk bertopang dagu di kursi bagian belakang kelas. Di wajahnya terdapat warna merah di sana-sini—artinya penuh luka—dan pada setiap luka itu, si kembar Amano mencoba menempelkan plester luka. Di atas meja, kotak plester terbuka, dan sampah kertas pembungkus serta kertas pelapis berserakan.

Yuuki mendekati ketiga orang itu. "Halo," sapanya ringan, dan si kembar Amano langsung mundur dengan cepat. Sepertinya mereka takut pada Yuuki.

"Halo," jawab Hitomi.

"Ada apa? Luka itu."

"Habis berantem. Sama <Red Bear>."

"Ho...?" Banyak juga informasinya, pikir Yuuki sambil menjawab.

"Minggu lalu, kita pernah pulang bareng kan," Hitomi menambahkan. "Yang di tengah jalan ada kontak aneh, terus kita pisah."

"Ya."

"Pas aku susul, ternyata si kembar ini lagi diganggu."

Hitomi menunjuk si kembar Amano bergantian dengan jempolnya.

"Waktu itu sih berhasil kuusir... tapi mereka datang buat balas dendam. Hari ini, pas aku lagi jalan ke sekolah."

"Hee..." Yuuki duduk di kursi depan Hitomi. "Terus, kamu kalah?"

"Mana mungkin. Aku menang kok. Aku hajar semuanya. Tapi, lawannya ada lima orang sih... Ditambah lagi dua orang datang belakangan. Semuanya bawa senjata pula."

Itu sih musibah, pikir Yuuki. Biarpun mantan pemain, jumlah segitu agak berat.

Di negara ini belakangan, bisa dibilang budaya premanisme sedang mencapai puncaknya. Entah karena atmosfer stagnan yang menyelimuti seluruh negeri, atau karena kondisi sosial yang serba tegang, anak-anak muda yang frustrasi sering membentuk kelompok dan bertindak nakal. Mengemudi motor secara berbahaya, minum dan merokok di bawah umur serta narkoba, dan yang parah bisa sampai perampokan atau pemerasan—.

Tentu saja semua tindakan itu ilegal, tetapi tidak seperti Yakuza (sindikat kejahatan terorganisir), tidak ada hukum yang mengatur keberadaan kelompok itu sendiri, jadi meskipun terkadang ada yang ditangkap, kelompoknya sendiri tidak pernah dibubarkan. Belakangan ini sudah menjadi hal yang lumrah bahwa di setiap daerah ada satu kelompok yang mengakar.

Nama kelompok yang menguasai wilayah tempat tinggal Yuuki—Kota Harunire, adalah <Red Bear>. Ciri khasnya adalah anggotanya perempuan semua dan motor mereka seragam berwarna merah seperti cipratan darah. Jika mendengar suara knalpot tanpa peredam di sekitar sini, bisa dipastikan itu milik mereka. Orang daerah sini pasti tahu nama itu, dan semua orang di daerah ini, setidaknya dalam hal kebisingan motor, adalah korban mereka.

"Padahal seharusnya mereka bukan tipe komplotan yang melakukan balas dendam keroyokan begitu lho..." kata Hitomi.

"Oh ya?" tanya Yuuki. Ia tidak terlalu paham dunia preman.

"Iya. Kalaupun datang, harusnya mereka datang dengan jumlah yang sama kayak sebelumnya. Dulu tindakan mereka sedikit lebih berkelas."

"...Berkelas? Emangnya ada kelasnya? Preman."

"Ada dong. Sama-sama jahat, ada yang murni dan ada yang licik. Contohnya..."

Sesaat Hitomi melirik ke arah si kembar Amano, lalu memilih kata-katanya.

"...<Manajemen> tempat kamu bernaung itu juga punya kelas tersendiri yang aneh, kan? Sama kayak gitu."

"Ah..."

Yuuki mengeluarkan suara tanda paham. Yuuki sangat tahu bahwa organisasi ilegal hitam pekat seperti penyelenggara game pembunuhan itu, meski begitu, tidak melakukan kekerasan secara sembarangan, bahkan terkadang menunjukkan belas kasih.

"Pasti mereka bakal datang lagi. Mungkin malah pas pulang hari ini. Apa aku pergi-pulang naik taksi dulu ya sementara."

Kepada Hitomi yang berkata dengan kesal, Yuuki memberikan komentar yang terkesan tidak peduli, "Repot juga ya."

"Bukan waktunya mengkhawatirkan orang lain tahu, kamu itu."

"Eh?"

Hitomi menunjuk ke belakang dengan jempolnya. Bukan ke si kembar Amano, tapi sepertinya menunjuk papan pengumuman di dinding belakang kelas. Di sana tertempel papan untuk memasang pengumuman, dan ada satu lembar cetakan baru. Meskipun hasil ujian belum dikembalikan, daftar peserta ujian ulang sudah diumumkan.

Nama Sorimachi Yuuki terpampang dengan sangat besar di sana.

(4/23)

Ramona keluar dari gedung.

(5/23)

Ia menoleh ke belakang.

Bangunan berdesain modern berdiri diterangi cahaya bulan.

Di samping pintu masuknya, terdapat papan nama kecil yang bertuliskan nama fasilitas tersebut. Kanji berderet lebih dari sepuluh huruf, dan Ramona tidak bisa membaca semuanya. Sudah setengah tahun ia di Jepang, kemampuan mendengar dan bicaranya sudah lumayan lancar, tapi soal Kanji ia masih payah. Nama Inggrisnya tentu saja ia ingat, tapi sebagai Bahasa Jepang, ia hanya bisa mengenali tiga huruf terakhir—bagian <Institut Penelitian>.

Berstatus sebagai mahasiswa, Ramona biasanya menggunakan laboratorium universitas, tetapi karena alasan penelitian, ia sering keluar masuk tempat ini. Jika sering keluar masuk, terkadang ada barang yang tertinggal. Dalam kasus kali ini, tas yang berisi laptop, buku pelajaran, dan segalanya. Ceroboh seperti biasa—Ramona menghela napas dengan perasaan seperti itu. Keluarga di kampung halamannya sering berkata bahwa fakta dia bisa lanjut sampai S3 dan melakukan penelitian di universitas luar negeri adalah satu keajaiban dari sejuta kemungkinan. Ia sendiri pun berpikir begitu.

Ramona menyampirkan tas di bahu dan beranjak pulang. Naik kereta, tiba di stasiun terdekat, dan saat berjalan beberapa saat,

Terdengar suara seseorang berlari mendekat dari belakang.

(6/23)

Yuuki berjalan dengan langkah gontai di jalan malam.

Ia dalam perjalanan pulang sekolah. Di dalam tas yang disampirkan di bahunya, terdapat lembaran-lembaran hasil ujian yang sudah dikembalikan. Barang bawaannya hanya bertambah itu saja dibandingkan saat berangkat, tapi langkah kaki Yuuki menjadi sangat berat.

"...Bahasa Inggris ya..."

Gumam Yuuki.

Untungnya, yang kena ujian ulang hanya Bahasa Inggris—tepatnya mata pelajaran Tafsir Bahasa Inggris. Kalau Bahasa Inggris, biasanya tipe pelajaran yang setidaknya kolom jawabannya bisa diisi, jadi ia sempat merasa bisa. Tapi ternyata gagal.

Rasanya nggak ngerti-ngerti, pikirnya. Bahasa Inggris bagi Yuuki berada dalam kondisi seperti tertutup kabut, khas mata pelajaran yang tidak dikuasai. Mendengarkan pelajaran pun tidak masuk sama sekali—rasanya tidak paham apa yang sedang dibicarakan—rasanya seperti berputar-putar di tempat yang sama selamanya—kondisi di mana ia bahkan memendam kecurigaan histeris bahwa otaknya mungkin tidak dilengkapi kemampuan untuk memahami ini.

Belakangan ini sarana belajar tidak terbatas pada pelajaran di kelas atau buku referensi, bisa juga memanfaatkan situs video atau situs web, dan Yuuki pun bukannya tidak menggunakan cara-cara itu, tapi tetap saja tidak ada hasilnya. Kemungkinan masalahnya ada di pihak Yuuki. Untuk mempelajari sesuatu, pertama-tama, pihak yang belajar harus berada dalam kondisi yang tepat. Itu adalah ajaran yang setidaknya diberikan oleh fasilitas bernama sekolah kepada semua muridnya.

Jadwal ujian ulang satu minggu lagi. Gawat nih—perasaan itu perlahan muncul. Baru saja berpikir bisnis pemainnya lancar, ternyata ada lubang jebakan seperti ini—. Fakta itu tampaknya cukup mengejutkan bagi Yuuki, sehingga langkah kakinya berat bagaikan anak budak yang dipaksa berjalan memikul beban yang tidak sesuai dengan ukuran tubuhnya.

Meski begitu ia tetap menggerakkan kaki, dan saat pulang dengan gontai—

"...Ah."

Suara itu bocor dari mulut Yuuki.

Di ujung jalan, ia menemukan sosok tampak belakang yang ia kenali.

Rambut pirang bergelombang. Pakaian norak. Sosok itu tak salah lagi adalah Ramona Squire.

Saat melihatnya, Yuuki mendapat ilham. Benar juga—kenapa tidak terpikirkan. Di dekatku ada penutur asli Bahasa Inggris. Kenapa tidak minta diajari dia saja? Kenapa sampai sekarang tidak terpikirkan? Apakah secara tidak sadar ia beranggapan bahwa Bahasa Inggris sebagai pendidikan sekolah dan Bahasa Inggris asli itu berbeda? Tidak—mungkin faktanya memang begitu, tapi Yuuki sekarang sedang buntu, dan ujian ulang tinggal seminggu lagi. Kalau ada cara yang bisa dicoba, harus dicoba apa saja.

Langkah kaki Yuuki menjadi ringan.

Ia hendak berlari cepat mendekati Ramona—

—Namun—sesaat lebih cepat dari itu.

Dari bayangan di depan, empat orang berpakaian serba hitam muncul dan berlari mendekati Ramona dari belakang.

(7/23)

Gerakan yang sangat cepat.

Lebih cepat daripada Ramona menyadari kehadiran mereka dan menoleh, sebuah kantong plastik hitam sudah diselubungkan ke kepalanya. Dengan begitu penglihatannya terampas, dan mungkin karena panik, ia menggerakkan kedua tangan ke depan dengan bingung. Memanfaatkan celah itu, keempat orang tersebut mengangkat tubuhnya dan membawanya pergi. Tidak sampai sepuluh detik sejak keempat orang itu dan Ramona menghilang ke gang belakang hingga lenyap dari pandangan Yuuki.

"Ap—"

Menyaksikan pemandangan itu, Yuuki,

"...Eh, kenapa...?"

Hanya bisa berkata begitu.

Baru saja menemukan Ramona, tiba-tiba diculik orang aneh—karena situasi bergerak silih berganti, otaknya tidak bisa mengikuti. Jika ini terjadi di dalam game, tentu saja ia tidak akan sebodoh itu hanya menonton dengan jari di mulut, tapi Yuuki di hari libur memang seperti ini.

Sekitar dua detik kemudian, otak Yuuki mulai berputar kencang. Pen—Penculikan? Tidak, kalau diambil paksa itu namanya abduksi ya—? Masa bodoh. Kenapa? Kenapa Ramona-san? Apalagi, kenapa harus di waktu seperti ini? Hanya ada ketidaktahuan, tapi bagaimanapun Yuuki mengejar Ramona. Sambil berlari masuk ke gang belakang, ia tidak lupa mengeluarkan ponsel untuk melapor ke polisi.

Begitu melewati gang, sebuah mobil penumpang yang memuat barang di atapnya baru saja hendak melaju pergi. Pasti milik komplotan empat orang tadi. Pelat nomor—Yuuki melihatnya, tapi segera berpikir itu tidak akan berguna. Mobil yang digunakan untuk kejahatan, kemungkinan besar pelat palsu. Tidak bisa jadi petunjuk. Yuuki mengarahkan pandangan sedikit ke atas, dan—

Secara spontan, ia mengayunkan tangan lebar-lebar.

(8/23)

Tiba-tiba, pandangan menjadi gelap.

Ia diselubungi kantong plastik atau semacamnya. Karena kejadiannya tiba-tiba, Ramona hanya bisa melakukan gerakan tak berarti dengan panik. Saat otaknya mulai bisa berpikir dengan tenang, ia sudah dibawa masuk ke dalam mobil—meski kedua matanya tertutup, ada banyak petunjuk yang memberitahu situasi seperti sensasi jok di punggung, suara pintu dibuka-tutup, bau yang khas, suara mesin, dan sebagainya. Tanpa perlu menebak pun ia tahu bahwa ia dilempar ke kursi belakang mobil dan diculik.

Menyedihkan, pikir Ramona. Ia hanya pasrah saja. Seharusnya melawan lebih keras. Ketidakberdayaannya begitu parah hingga bisa dianggap sebagai bukti yang merugikan di pengadilan. Sejak dulu ia memang begini. Jika terjadi sesuatu, tubuhnya kaku dan tidak bisa mengambil tindakan yang tepat. Dari sensasi jok, Ramona membaca bahwa mobil mulai melaju dan berakselerasi, dan baru pada saat itulah ia mencoba melepas penutup matanya, tetapi—

"—Jangan bergerak."

Suara terdengar dari dekat.

Sesuatu berbentuk silinder ditekan ke pelipis Ramona.

"Hei. Tahu kan ini apa? Mbak."

Tahu. Benda yang seharusnya tidak boleh dimiliki di Jepang.

"Kalau nggak mau ditembak, diam saja ya. Kami nggak bakal ngapa-ngapain kok."

Mana mungkin, pikirnya. Meski nada bicaranya tenang, aura kekerasannya sama sekali tidak tertutupi. Suara orang jahat. Mana mungkin mengikuti tuntutan orang jahat akan berakhir baik.

Meski begitu, ia tidak punya pilihan selain menurut. Ramona diam mematung. Ia tahu bahwa pemilik suara itu—dari jenis suaranya adalah wanita muda—mulai mengikat kedua tangan Ramona.

(9/23)

Yuuki berlari sekuat tenaga kembali ke Apartemen Tochinoki.

(10/23)

Bersamaan dengan melangkahkan kaki masuk ke apartemen, ia melempar tas sekolahnya.

Tas itu meluncur di lorong dan berhenti tepat di depan kamar 107. Kontrol yang luar biasa. Bagi Yuuki saat ini, atraksi semacam ini bukan hal sulit. Tidak ada waktu untuk memasukkan tas ke kamar, dan tidak ada keleluasaan untuk membawanya di bahu. Terpaksa dibiarkan di lorong. Apartemen bobrok ini tidak mungkin didatangi maling, jadi tidak masalah.

Setelah melakukan itu, Yuuki sendiri berlari di lorong, dan berhenti bukan di kamar 107—melainkan jauh sebelumnya, di kamar 103. Sebelum suara gesekan antara lantai lorong dan sepatu loafer-nya berhenti, Yuuki menekan tombol interkom dan membunyikan bel.

Tidak ada reaksi.

Yuuki segera memutuskan untuk menggunakan metode Ibu Pemilik. Menggedor pintu dengan keras dung-dung. Suara "Iya, iya, saya datang" segera terdengar dari dalam.

"...Ada apa sih, jam segini...?"

Sambil berkata begitu, seorang gadis keluar.

Tsuwabuki Akane. Orang yang diduga anggota kelompok preman lokal, <Red Bear>.

"...Lho, eh. Kamu."

Melihat Yuuki, Akane bereaksi kaget. Mungkin dia mengira Ibu Pemilik yang datang.

Yuuki meletakkan tangan di kedua bahu gadis itu. "Malam," sapanya basa-basi, lalu langsung menyampaikan tujuannya.

"Akane-san, punya motor kan? Bisa dikeluarkan sekarang?"

(11/23)

Mobil berhenti.

Menurut perasaan waktu Ramona, perjalanan memakan waktu sekitar tiga puluh menit. Sebenarnya mungkin lebih singkat. Karena waktu terasa lama saat ketakutan. Bagaimanapun, Ramona diturunkan dari mobil—dengan benda itu masih ditekan di punggungnya—dan disuruh berjalan. Masuk ke tempat yang sepertinya bangunan, lalu berjalan lagi beberapa saat. Karena matanya masih tertutup, ia segera kehilangan orientasi arah. Karena sempat naik tangga sekali, ia hanya tahu bahwa ia dibawa ke lantai dua.

Akhirnya, terdengar suara pintu dibuka, dan Ramona mungkin dibawa masuk ke sebuah ruangan. Ia merasakan udara yang dingin dan pengap. Sesuatu yang sepertinya kursi didorong ke belakang lututnya dan ia disuruh "Duduk", jadi ia duduk. Baru setelah diikat sana-sini dengan tali ke kursi hingga tak ada harapan untuk kabur, kantong plastik hitam yang menutupi kepala Ramona dilepas.

Sesuai dugaan, itu di dalam ruangan.

Ruangan beton yang pantas disebut—tempat untuk menculik orang. Tidak ada lampu di langit-langit, sebagai gantinya, beberapa lampu kecil seperti yang digunakan di tempat kemah bersinar di lantai. Remang-remang, tapi cukup terang untuk melihat seisi ruangan. Ada beberapa perabot seperti meja dan kursi, tapi sama sekali tidak terasa ada kehidupan. Mungkin bangunan terbengkalai. Sejauh mata Ramona memandang, tidak ada jendela di ruangan itu, dan tidak terlihat lubang ventilasi. Bahkan jika ia berteriak minta tolong sekuat tenaga, suaranya mungkin tidak akan terdengar.

—Kecuali oleh dua orang yang ada di depan mata Ramona ini.

"Kerja bagus."

Salah satu dari mereka berkata. Topi dan masker menutupi wajahnya kecuali bagian mata.

"Capek kan perjalanan jauh? Santai saja dulu."

Kata yang satunya lagi. Orang ini juga menyembunyikan wajahnya. Dari tinggi suaranya, bisa diketahui keduanya adalah wanita muda.

Ramona ingat ada suara empat orang berbicara di dalam mobil. Tapi di sini hanya ada dua orang. Ke mana dua orang sisanya pergi? Apakah berjaga di depan gedung?

"Penculikan... kah? Ini."

Bagaimanapun, Ramona bertanya. Untuk memastikan situasi yang dialaminya.

"Iya. Pen-cu-li-kan."

Para penculik itu terkikik menirukan pelafalan Ramona yang beraksen.

"Saya, tidak punya uang."

Kata Ramona.

Itu adalah frasa yang telah ia pertimbangkan selama di dalam mobil. Kalau penculikan, pasti tujuannya uang. Namun Ramona sama sekali tidak diberkati dengan hal bernama uang itu. Menculiknya tidak akan menghasilkan keuntungan. Ia harus menyampaikan itu.

"Lihat baju ini. Semuanya outlet... saya beli yang dijual murah. Saya mahasiswa miskin!"

Itu fakta. Semua yang dikenakannya—tidak, bahkan jika semua barang miliknya digabungkan, barang yang dibeli dengan harga asli pasti lebih sedikit. Ia juga tahu bahwa <Outlet> di Jepang digunakan dalam arti penjualan murah. Saking pahamnya, kata itu keluar secara spontan.

Namun—kedua penculik itu menunjukkan reaksi dingin. Tidak terkesan "oh begitu ya", juga tidak menertawakan kata-kata beraksen seperti tadi, mereka hanya bengong. Apa tidak tersampaikan?—pikir Ramona, lalu ia menambahkan kata-kata lagi.

"Saya juga tidak punya kenalan orang kaya! Keluarga saya di kampung halaman, mereka juga miskin! Tidak ada gunanya!"

Mungkin kegugupannya itu terlihat lucu, kedua orang itu tersenyum simpul.

"Tenang, tenang," kata salah satunya.

"Kami nggak berniat merampok dompetmu kok. Nggak peduli juga kalau kamu miskin."

"Betul, betul," yang satunya setuju.

"Biarpun nggak punya dalam bentuk uang, kamu kan meluk telur emas, Mbak."

"...?"

"Mbak kan keluar masuk institut penelitian itu, kan?"

Giliran yang satunya bicara. Ramona belajar bahwa yang satu memanggilnya "Kamu" (Anta), dan yang satu lagi memanggilnya "Mbak" (Onee-san).

"Cukup kasih tahu kami... sedikit soal itu. Denah di dalamnya, atau eksperimen apa yang lagi dilakukan."

"Betul, betul. Bagian 'sedikit'-nya itu pun, ada orang yang mau bayar mahal. Pengetahuan yang Mbak punya itu nilainya lebih dari yang Mbak kira lho."

Si "Kamu" melirik ke sudut ruangan.

Di sana ada tas yang diletakkan. Tas milik Ramona. Barang yang dipakai sehari-hari seperti tas, sepatu, atau dompet adalah hal yang ajaib, perubahan sekecil apa pun bisa diketahui jika ada yang berbeda dari biasanya. Ia segera sadar bahwa penarik ritsleting berada di posisi yang berbeda dari biasanya. Sudah dibuka.

"Di tas ada laptop sama dokumen kan. Sekarang juga kamu pegang informasi internal, kan?"

Ramona tidak menjawab.

Kalau ditanya punya atau tidak, ia punya. Memang, data yang seharusnya tidak boleh bocor keluar ia masukkan ke direktori laptop yang tidak terlalu dalam, dan ada juga dokumen yang diprint. Soal itu, pasti sudah dilihat oleh mereka.

"............"

Ramona merasa merinding.

Bukan hanya—karena situasi ini. Seolah sudah memprediksi situasi ini, orang dari institut penelitian telah memberikan peringatan sebelumnya. Ia diinstruksikan untuk mengatakan ini jika ada yang mengontaknya.

"Saya punya kewajiban menjaga kerahasiaan."

Ramona melafalkan frasa itu.

"Saya tidak bisa memberitahu apa pun. Kalau memberitahu, saya akan dihukum."

Namun, para penculik tertawa meremehkan,

"Ya iyalah."

Kata mereka.

"Makanya kami minta. Kami minta dikasih tahu karena itu rahasia. Kalau tanya hal yang bukan rahasia nggak ada gunanya, kan?"

Saat itu, salah satu penculik mulai berjalan. Menghilang dari pandangan Ramona, lalu kembali lagi. Bersamaan dengan itu, terdengar suara sreet, sreet diseret di lantai beton, ada benda yang dibawa. Itu adalah tongkat pemukul (bat) logam.

"Bat logam itu ya—"

Sambil memegang tongkat di depan dada, wanita itu berkata.

"Kukira dalamnya kosong. Tapi katanya ada juga yang nggak kosong ya. Yang ini yang mana ya?"

"Coba pukul sesuatu kan ketahuan," jawab temannya.

Orang yang memegang tongkat melakukan ayunan kosong. Sepertinya tidak terbiasa mengayun, tubuhnya terbawa berat tongkat dan ia terjatuh. "Ngapain sih," kata temannya, lalu mereka tertawa bersama. Tawa dalam hubungan pertemanan.

"Katanya miskin? Kamu," kata penculik yang bangkit berdiri.

"Kalau gitu, kerja sama dong. Kalau dapat duit, nanti kami kasih sebagian sebagai biaya informasi."

"Saya punya kewajiban menjaga kerahasiaan," jawab Ramona.

"Gapapa kan. Bukan melukai orang lain ini."

Sambil berkata begitu, ia mengayunkan tongkat sekali lagi. Kali ini tidak jatuh.

"Aku nggak tahu detailnya sih. Tapi aku simpati sama nasibmu lho? Aku juga anak bungsu dari lima bersaudara, sampai umur lima belas tahun cuma pernah pakai baju bekas. Nggak usah sungkan, ambil aja yang bisa diambil. Ya kan?"

Jujur saja—.

Ramona tidak paham dia terlibat dalam apa. Mereka ingin mencuri informasi institut, tapi siapa? Untuk tujuan apa? Tidak jelas. Mungkin, kedua orang ini pun tidak terlalu paham. Mereka tidak terlihat seperti orang yang tahu banyak. Mungkin mereka hanya disuruh oleh "seseorang" yang identitasnya tidak diketahui.

Namun, setidaknya ia tahu bahwa ia terlibat dalam urusan yang harus disembunyikan. Hidup sebagai manusia selama dua puluh tahun lebih, ia punya beberapa pengalaman diajak dalam urusan semacam itu. Mulai dari pencurian barang bawaan, sampai obat-obatan mencurigakan. Dan, jawaban Ramona selalu sama.

"Tidak bisa. Saya tidak bisa membantu mencoba melakukan kejahatan."

Ramona melanjutkan.

"Saya dengar di Jepang ada pepatah 'Uang buruk tidak melekat di badan'. Artinya uang yang didapat dengan cara curang tidak akan terkumpul di dompet, kan. Jadi, melakukan hal seperti ini tidak ada artinya. ...Kejadian di sini, saya tidak akan cerita ke siapa pun. Jadi sudah, ayo berhenti!"

Ramona mengamati keadaan para penculik.

Mereka—keduanya, memancarkan aura hambar. Atmosfer seperti kehilangan semangat. Keheningan seperti minat yang hilang. Yang mana—keheningan yang bermakna apa? Selagi jantung Ramona berdebar kencang, salah satu penculik menghilang dari pandangan Ramona,

Dan tepat setelah itu, dari belakang, ia menerima hantaman ayunan tongkat.

(12/23)

Pandangannya berputar. Ia jatuh ke belakang.

Tidak ada rasa sakit. Mungkin kaki kursinya yang dipukul. Ramona terikat di kursi, jadi tidak mungkin bisa melakukan ukemi (teknik jatuh). Akibatnya, ia menerima guncangan benturan dengan lantai beton secara telak melalui sandaran kursi. Guncangan menjalar ke seluruh tubuh. Jantungnya, sesaat gagal mengukur ritme.

"Makasih ceramahnya."

Suara terdengar dari atas kepala. Terlihat penculik mengangkat tongkat pemukul.

"Tapi ya! Nggak ada gunanya! Kalau cuma dibilangin satu-dua hal bisa berubah, kami nggak bakal ada di situasi kayak gini dari awal!"

Di sela-sela kata-kata, tongkat diayunkan ke bawah. Ramona bersiap—untuk dipukuli habis-habisan, tapi yang dipukul bukanlah Ramona melainkan lantai di dekatnya. Dalam artian rasa sakit memang nihil, namun, setiap kali tongkat diayunkan, setiap kali menimbulkan suara benturan yang tidak mengenakkan dengan lantai beton, hati Ramona tergerogoti. Ia telah melakukannya—ia telah menyentuh amarah mereka.

"Paling juga kamu merendahkan kami kan, mahasiswa melarat! Biar kujelaskan ya, kesusahanmu itu kesusahan yang enak tahu! Levelnya beda sama kami! Bocah yang menganggap penjarangan atau pemangkasan ranting di dalam rumah kaca sebagai 'kesusahan'! Jangan bacot sok asik!"

"Woy, hentikan."

Tiba-tiba, suara temannya menghentikan.

"Jangan emosi. Lupa tujuannya?"

"...Aku tahu."

Orang yang memegang tongkat menghentikan tangannya. Yang satunya lagi menjambak rambut Ramona dan bertanya, "Dengan yang barusan, perasaanmu berubah?"

"Jadi mau bicara? Kalau nggak mau, bakal parah lho? Mbak."

"...Saya punya kewajiban menjaga kerahasiaan..." Ramona menjawab sebisanya.

"Aaah aaah kewajiban kerahasiaan ya, bawa sampai ke kuburan sana, goblok. Mbak, paham arti bawa sampai ke kuburan?"

Paham. Artinya merahasiakan sampai mati. Karena kata-kata itu sudah keluar, ia bisa membayangkan dengan cukup jelas apa yang akan terjadi selanjutnya.

Penculik melepaskan tangan dari rambut Ramona. Tak lama kemudian, terdengar suara ritsleting tas dibuka dan suara laptop dinyalakan. Suara dari tipe laptop milik Ramona. Di ruangan beton yang kosong, suara itu menggema dengan jelas.

"Sementara ini, kasih tahu password-nya?" tanyanya.

"............"

Ramona diam. Bahkan tidak mengatakan "Kewajiban kerahasiaan". Karena jika ia mencoba bicara, suaranya mungkin akan gemetar.

"Patahkan kakinya."

Perintah singkat diturunkan. Temannya yang satu lagi mengangkat tongkat tanpa suara.

Saat itu, ketakutan Ramona mencapai puncaknya.

Bagaikan melihat kilas balik kehidupan, berbagai pemikiran muncul seketika. Sebenarnya—sebenarnya sampai sejauh mana ini akan terjadi? Apakah tidak akan dibunuh? Dengar-dengar beratnya dosa pembunuhan dan penganiayaan itu beda jauh, makanya penjahat pun menghindari pembunuhan. Apakah kasus ini juga termasuk? Kalaupun iya, anggaplah jika bertahan akan dibebaskan, apakah aku sanggup menjalaninya? Menolak dengan tegas sih boleh saja, tapi darah sudah surut dari wajah. Kaki dipatahkan, bagian lain juga dipukuli parah, apakah masih bisa mempertahankan empat kata "Kewajiban menjaga kerahasiaan" di kepala? Seandainya bicara—lalu dibebaskan, apakah aku bisa tetap menjadi diriku yang sama mulai besok?

Ramona memejamkan mata erat-erat.

Setidaknya jangan menangis, pikirnya, sambil mempertemukan kelopak mata atas dan bawah dengan kuat—

—Sampai suara motor, terdengar samar-samar.

(13/23)

Benar-benar suara yang samar.

Apakah salah dengar—atau halusinasi pendengaran yang diciptakan oleh Ramona yang mencari pertolongan, pikirnya sesaat. Namun, seiring berjalannya waktu suara itu makin besar, dan seiring itu pula wajah para penculik makin terlihat curiga. Suara ini nyata.

Akhirnya, suara motor itu terputus tiba-tiba.

Bukan berlari pergi—sepertinya tidak. Pada saat suara laju mencapai volume maksimal, tiba-tiba menghilang. Berhenti. Kemungkinan besar, tepat di dekat bangunan terbengkalai ini.

"Woy."

Penculik yang memegang tongkat berkata pada temannya. Meski hanya satu kata, terkandung rasa waswas yang pekat di dalamnya.

Rekannya yang tampaknya memiliki kesadaran krisis yang sama menjawab, "Aku cek dulu."

"Kalau gawat aku kabari, siap-siap kabur kapan saja."

Setelah berkata begitu, ia meletakkan laptop di lantai dan keluar ruangan.

Penculik yang ditinggalkan menempelkan ujung tongkat ke tulang pipi Ramona dan berkata, "Hei."

"Kamu, jangan ngomong soal ini ke polisi ya. Belum dipukul sekali pun, tas juga masih utuh kan. Kalau ngomong, tahu sendiri kan."

Setelah mengucapkan ancaman yang terkesan 'sekadar formalitas', penculik itu mulai mengumpulkan lampu-lampu. Persiapan mundur.

Melihat itu, Ramona menghela napas selega-leganya, namun dengan sangat hati-hati agar tidak ketahuan.

(14/23)

Motor berhenti.

Yuuki dan Akane melepas helm.

(15/23)

Di depan mata mereka, berdiri bangunan terbengkalai.

Bangunan terbengkalai besar berlantai dua. Ada papan nama di bagian atas bangunan, dan meski sulit dibaca dalam kegelapan tengah malam, samar-samar bisa terbaca <Hotel>. Sepertinya dulunya fasilitas penginapan. Di sekitarnya tidak ada satu pun bangunan lain, hanya ada hutan hitam yang sunyi senyap menyeramkan dan jalan raya yang tak dilewati satu mobil pun. Tentu saja tidak ada tanda-tanda kehidupan manusia. Populasi hewan liar mungkin jauh lebih banyak daripada populasi manusia dalam radius sepuluh kilometer. Reruntuhan yang jauh dari pemukiman—. Lokasi yang sempurna untuk menyekap orang.

Di depan bangunan ada bekas tempat parkir, dan satu mobil terparkir di sana. Yuuki mengenali mobil itu. Karena gelap pelat nomornya tidak terbaca, tapi jenis mobil dan barang yang dimuat di roof rack (rak atap) sesuai ingatan. Mobil komplotan yang menculik Ramona.

Dan—penculik itu pun, ada tepat di dekatnya.

"Apa..."

Yang bereaksi kaget adalah gadis-gadis muda berpakaian serba hitam.

"Apaan lu!" "Lu, datang dari mana!"

Ada dua orang. Berturut-turut, mereka melontarkan bentakan pada Yuuki dan Akane. Penculiknya harusnya ada empat, tapi di sini hanya ada dua. Dua sisanya, mungkin ada di dalam hotel.

Yuuki mengabaikan bentakan mereka. Buru-buru turun dari motor,

"Aku pergi."

Katanya cepat pada rekannya.

"Dari sini aku pergi sendiri. Akane-san standby saja."

Yang memegang setang motor adalah—Tsuwabuki Akane. Meskipun tengah malam, dia mau mengantar sampai ke sini dengan motor.

"Eh—tapi..."

Sambil berkata begitu, Akane melihat ke arah dua orang serba hitam—dua penculik itu. Tapi Yuuki menegaskan "Tenang saja."

"Begini-begini, aku percaya diri sama ototku."

Yuuki berlari menuju hotel. Tentu saja, dua penculik itu berlari mendekat ke arahnya, dan salah satunya mencengkeram bahu Yuuki sambil berkata "Woy, jangan kacangin dong—", tapi,

Sesaat kemudian, gadis itu terbanting ke aspal bekas tempat parkir.

Yuuki yang melemparnya. Mungkin karena gerakannya terlalu cepat, penculik yang satunya lagi memasang wajah kaget—memanfaatkan celah itu, Yuuki menyerang dia juga. Menghantamkan lutut ke perut, menjatuhkannya ke tanah, lalu menginjak ulu hati mereka masing-masing.

"...!!"

Para penculik menggeliat kesakitan seperti ulat yang dipanggang di atas pelat besi.

Untuk sementara mereka tidak akan bisa bergerak karena sakit, dan meski sakitnya reda, semangat bertarung mereka tidak akan segera kembali. Dibiarkan di sini pun tidak masalah.

"Sisanya tolong ya!"

Kata Yuuki sambil melambaikan tangan pada Akane.

"B, baik..." jawab Akane dengan suara bercampur kagum dan takut, lalu, "...Ah, iya!"

"Yuuki-san, ini! Pakai ini!"

Akane melepas smartphone yang terpasang di holder motor dan melemparnya ke Yuuki.

"Penerangan! Kalau nggak ada bakal repot kan! Yuuki-san, nggak bawa hape sendiri kan?"

Memang benar. Yuuki saat ini tidak membawa alat penerangan apa pun. Hanya pakaian yang melekat di badan.

"Makasih!"

Sambil mengangkat ponsel yang diterima, Yuuki menjawab.

"Tapi, tenang saja! Biarpun nggak kelihatan aku tahu kok!"

(16/23)

Sambil memasukkan ponsel pemberian Akane ke saku jaket jersey, Yuuki melangkah masuk ke hotel dengan percaya diri melalui pintu depan.

Sudah tengah malam, di daerah terpencil yang minim lampu jalan pula, begitu masuk ruangan kondisinya gelap gulita. Kalau orang modern pasti akan menggunakan fitur senter smartphone, dan karena itulah Akane memberikan ponselnya, tapi Yuuki tidak butuh. Tanpa mengandalkan penglihatan pun, ia bisa "mengenali" lingkungan sekitar berkat kemampuan yang mengintegrasikan pendengaran, penciuman, dan segala indra.

Omong-omong—seperti yang dibilang Akane, Yuuki tidak membawa ponsel.

Benda itu sekarang, ada di dalam roof rack mobil yang terparkir di depan.

Artinya, begini ceritanya. Saat kontak pertama dengan penculik waktu itu—saat mobil yang membawa Ramona hendak melaju pergi, Yuuki melemparkan ponselnya ke dalam roof rack. Karena banyak barang dimuat, ia berpikir jika dilempar dengan tepat, ponsel itu akan terbawa tanpa terjatuh. Demi rencana itu, ponsel Yuuki digunakan dengan cara yang berbeda dari menelepon polisi, dan sampai sekarang belum melapor.

Ponsel zaman sekarang itu canggih, kalau hilang bisa dicari lokasinya. Yuuki yang seumur hidup belum pernah kehilangan ponsel tidak tahu cara konkret mencarinya, tapi berbekal pengetahuan samar "seingatku ada fitur begitu", ia melaksanakannya—dan ternyata berhasil, ia melacak lokasinya dengan ponsel pinjaman dari Akane. Lalu menyusul dengan motor.

Yuuki bergerak maju di dalam reruntuhan.

Sudah diketahui dari luar, tapi tempat ini luas. Ada banyak ruangan, dan di mana Ramona berada, bahkan dengan ketajaman Yuuki pun sulit ditebak. Yuuki memutuskan untuk mengambil sedikit risiko. Ia menghirup udara sebanyak-banyaknya ke dada, lalu berteriak.

"Ramona-san! Kalau bisa jawab, tolong jawab!"

Hening sesaat. Lalu setelahnya,

"...Yuuki-san!? Yuuki-san kah!?"

Suara Ramona. Dari lantai dua. Kondisi bisa menjawab—artinya tidak sedang diperintahkan diam oleh penculik. Kemungkinan besar, mereka sudah tidak berada di ruangan yang sama. Mungkin mendengar suara motor Yuuki dan bersiap kabur. Tapi, dari mana? Mereka tidak datang ke arah pintu depan. Berarti ada pintu belakang di suatu tempat—?

—Dan, saat itu.

Yuuki teringat. Mobil yang terparkir tepat di depan reruntuhan.

Mobil itu—berada tepat di bawah jendela.

(17/23)

Suou melompat dari jendela lantai dua.

(18/23)

Ia mendarat di atap mobil yang ada tepat di bawahnya.

Barang-barang di roof rack meredam benturan, jadi tidak sakit. Memang barang-barang ini untuk tujuan ini juga. Jika menggunakan bangunan yang lebih dari dua lantai, mereka selalu memarkir mobil di bawah jendela untuk menambah satu jalan kabur. Kearifan untuk memulihkan keadaan dengan baik meski melakukan kesalahan.

Suou menoleh, melihat ke arah jendela lantai dua yang baru saja ia gunakan untuk kabur. Rekan Suou—namanya Sango—mengeluarkan kepalanya. Saat Suou mengintip ke luar reruntuhan, ternyata benar ada motor yang datang, jadi ia menghubungi lewat ponsel untuk mundur.

Suou turun dari roof rack dan masuk ke mobil. Dua orang yang keluar untuk berjaga—namanya Azuki dan Ebina—sudah masuk ke kursi belakang. Keduanya berwajah kesakitan. Apa dihajar orang yang naik motor itu—pikir Suou sambil duduk di kursi pengemudi, bersamaan dengan itu bodi mobil berguncang bum. Sango juga sudah melompat turun.

Saat itu, terdengar suara sesuatu jatuh dari roof rack.

Membentur tanah aspal bekas tempat parkir dan mengeluarkan suara klontang. Dari sudut pandang Suou di kursi pengemudi pun, identitas benda itu bisa dipastikan. Smartphone. Sango bodoh, menjatuhkan hape ya—awalnya ia mengira begitu, tapi,

"Bukan punyaku!"

Sambil masuk ke kursi penumpang, Sango berkata.

Sambil melempar lampu-lampu yang sudah diambil ke kursi belakang dengan suara berisik, ia menambahkan.

"Punya orang nggak dikenal! Mungkin, punya si motor itu!"

Mendengar itu, Suou melihat ke arah motor.

Karena lampu depannya menyala, ia bisa melihat keseluruhannya dengan jelas. Saat melihat dari jendela lantai dua ia tidak sadar, tapi kalau dilihat baik-baik, itu adalah bodi motor berwarna merah seperti cipratan darah yang merupakan simbol <Red Bear>. Pengendaranya sudah melepas helm jadi wajahnya bisa terlihat.

"...Dia."

Suara itu bocor dari mulut Suou.

Pengendara motor itu—adalah orang yang dikenalnya. Sama seperti jenis motornya, identitas orang ini juga baru ketahuan setelah dilihat dari dekat.

Membuka jendela pengemudi, Suou meneriakkan namanya.

"—Tsuwabuki! Ngapain lu di tempat ginian!! Hah!?"

Tsuwabuki Akane. Anggota <Red Bear> yang sama dengan Suou dan kawan-kawan.

Saat itu, semua terhubung di otak Suou. Ngomong-ngomong dia pernah bilang, "Tim belakangan ini busuk" atau semacamnya. Dia juga pernah mengkritik Suou dan yang lain secara terang-terangan. Jadi, dia datang untuk mengganggu. Sampai pakai trik murahan menyelipkan ponsel di roof rack.

"Itu kata-kata gue, goblok!" balas Akane.

"Kalian yang ngapain! Nglakuin hal nggak guna!"

Suou hendak membalas, tapi,

"Woy, bukan saatnya berantem."

Sango di kursi penumpang memukul-mukul lengan Suou. Bukan bahu, tapi memukul lengan yang memegang setir, artinya sekaligus permintaan "Jalanin mobilnya".

"Cih..." Suou berdecak lidah sambil menjalankan mobil. Menyeberangi bekas tempat parkir dan keluar ke jalan umum. Namun, di kaca spion terlihat motor merah tadi. Dikejar.

"Woy! Tunggu!"

Menempel tepat di samping kursi pengemudi, Akane berteriak. Karena jendela pengemudi masih terbuka, suaranya terdengar.

"Orang yang diculik, masih ada di sana kan!"

"Ada kok!" jawab Suou. "Nggak diapa-apain juga! Lu jangan-jangan lapor polisi ya!"

"Belum lapor! Mau gue laporin sekarang!?"

"Kalau lapor kubunuh lu! Nggak ada bukti yang ditinggal kok! Lapor juga percuma! Kalau sebut nama kami, beneran kubunuh lu! Paham kan!!"

Suou membanting setir ke kanan—ke arah motor. Akane menghindar sambil melambatkan motor. Melihat sosok motor yang mengecil di spion, Suou sekali lagi berdecak lidah dengan suara keras.

(19/23)

Demikianlah—insiden itu berakhir.

(20/23)

Tepatnya, berakhir tanpa menjadi insiden (kasus).

Ramona yang diselamatkan tidak terluka sedikit pun, dan barang-barangnya tidak ada yang disentuh, jadi tidak ada motivasi untuk melapor. "Saya tidak akan melapor, jadi kalau mau lapor silakan dari Ramona-san," kata Yuuki. Karena ada ujian ulang Bahasa Inggris di depan mata, ia tidak mau membuang waktu. Mendengar itu Ramona pun berkata, "Tidak, tidak apa-apa." Terakhir, Akane yang membantu menemukan lokasi penculikan pun menunjukkan sikap bungkam, "Aku tidak bisa menjual teman." Maka kasus ini pun selesai.

Yuuki memutuskan untuk memenuhi tujuan awalnya—minta diajari Bahasa Inggris. Pergi ke kamar Ramona, menunjukkan hasil tes yang nilainya memalukan untuk diperlihatkan ke orang lain, lalu bertanya ini-itu.

"Bagian put food on the table ini... eeto, ungkapan yang sering dipakai ya..." kata Ramona.

"Idiom ya?" tanya Yuuki.

"Betul. Menaruh makanan di meja, artinya memberi makan keluarga, atau menafkahi."

"Ooh. Di Bahasa Jepang juga ada ungkapan begitu."

Sesi belajar berjalan lancar. Saat istirahat sejenak, "Anu, ngomong-ngomong Ramona-san," tanya Yuuki.

"Ya."

"Ramona-san di universitas melakukan penelitian apa?"

"Eh."

Mungkin karena menanyakan hal yang sama dengan penculik, Ramona terkejut. Yuuki sudah mendengar darinya bahwa informasi institut diminta sebagai ganti uang tebusan.

"Ah, anu..." buru-buru Yuuki menambahkan.

"Tentu saja, yang rahasia biarkan jadi rahasia. Kalau bisa dikasih tahu sekilas saja yang boleh diceritakan. Saya cuma penasaran, tema penelitian apa yang sampai ada orang mau menculik demi mendengarnya..."

Ramona menunduk dan berpikir keras. "Scab..." akhirnya ia bergumam.

"Saat terluka, darah membeku... dalam Bahasa Jepang disebut apa?"

"Koreng (Kasabuta)?"

"Ya, koreng. Koreng itu, dibuat supaya bisa terbentuk di luka yang lebih besar. Koreng bisa menghentikan luka kecil, tapi tidak bisa menghentikan luka besar, kan? Makanya dimasukkan zat khusus sebelumnya, supaya kemampuan perbaikannya jadi lebih tinggi. Penelitian tentang itu."

"Hee..." kata Yuuki.

Nggak terlalu paham sih, tapi mungkin penelitian bidang medis, pikirnya.

Saat ini, intuisi Yuuki tidak bekerja. Yuuki di hari libur memang agak lamban, ditambah lagi kepalanya penuh dengan ujian ulang, dan penjelasan Ramona juga dibuat samar,

Dan lagi—ia sama sekali tidak menyangka ada pihak yang terlibat (dengan dunia bawah) sedekat ini.

(21/23)

Waktu tertentu, tempat tertentu.

Supporter dan Fuchidori, hari ini pun telah menyelesaikan pekerjaan.

(22/23)

Seperti biasa mencekik target dari belakang, membuat pingsan, lalu berdua mengangkutnya ke mobil. Pada pekerjaan sebelumnya Supporter pergi membereskan mayat sendirian meninggalkan Fuchidori, tapi kali ini gadis itu juga ikut naik mobil. Karena pembunuhan dilakukan di waktu dan tempat yang sulit bagi Fuchidori untuk pulang sendirian.

Supporter melirik Fuchidori yang duduk di kursi penumpang, lalu melihat ke kaca spion tengah. Di jok belakang yang terpantul di sana, ada sosok target yang terbungkus karung goni. Sudah mati belum ya.

"Hari ini pun kerja yang rapi, Generasi Kedelapan (Hachidaime)."

Supporter menyapa Fuchidori di kursi penumpang.

"...Makasih," jawab Fuchidori.

"Hei. Rasanya aku sudah bilang berkali-kali."

"Apa?"

"Panggilan 'Generasi Kedelapan' itu, bisa diganti nggak?"

"Lalu, sebaiknya saya panggil bagaimana?"

"Biasa saja, Fuchidori atau Yayoi."

"Mustahil. Pewaris keluarga utama dipanggil sok akrab begitu. Panggilan di bawah Generasi Kedelapan tidak terpikirkan."

"............"

Muu, Fuchidori mengerutkan wajah.

Supporter menaikkan sudut bibir yang tidak terlihat oleh gadis itu. Ia tahu Fuchidori tidak suka, makanya kadang sengaja memanggilnya begitu.

Pekerjaan kali ini adalah permintaan dari <Manajemen> game. Targetnya orang militer. Katanya dia mengendus-endus salah satu teknologi rahasia Manajemen, <Perawatan Pengawet> (Preservation Treatment), jadi mengganggu dan minta dibereskan. Teknologi yang bisa menghentikan pendarahan dengan cepat seperti memasang koreng, tak peduli luka macam apa—memang itu adalah sesuatu yang sangat diinginkan oleh orang yang bertempur. Bisa dipikirkan banyak cara penggunaan yang kejam. Walaupun, Manajemen yang hanya tertarik pada <Game> tidak akan pernah mengizinkannya.

"Ah, ngomong-ngomong, soal satu permintaan lagi," kata Supporter.

"Sepertinya bakal dilaksanakan. Tadi pas saya cek situs, donasinya sudah mencapai target."

"Ya. Oke," jawab Fuchidori.

Bakal dilaksanakan—maksudnya adalah permintaan yang keberadaannya dilaporkan ke Fuchidori tempo hari. Permintaan yang menargetkan orang yang dikenal Fuchidori itu, pemohonnya adalah perorangan bukan organisasi, dan biayanya dikumpulkan dalam bentuk donasi—atau istilah zaman sekarang crowdfunding—di situs gelap. Karena kondisinya ada permintaan tapi bayaran belum lunas, urutannya jadi didahului oleh pekerjaan kali ini.

"Tapi, gimana ya..." Supporter menggaruk kepala. "Target kali ini, gaya hidupnya tidak teratur. Di mana eksekusinya ya."

Tingkat kesulitan penyusunan rencana pembunuhan sangat bergantung pada gaya hidup target. Seperti pegawai kantoran tempo hari, jika melewati rute yang sama setiap hari, itu mudah. Sebaliknya, kasus seperti target berikutnya, yang tidak diketahui sedang apa di mana dan bahkan jarang pulang ke rumah, penyusunan rencananya sangat sulit. Yah, harus bagaimana ya—.

Selagi membicarakan berbagai hal, mobil memasuki daerah pegunungan. Sebentar lagi sampai di poin pembuangan mayat.

"Hei," kata Fuchidori.

"Ya."

"Pekerjaan ini, menyenangkan?"

"Eh?"

Saat Supporter melirik Fuchidori, Fuchidori juga sedang menatap Supporter. Tatapan yang serius. Atmosfer yang menuntut jawaban serius.

"Gimana ya... Menyenangkan kok, lumayan," jawab Supporter.

"Bagian mananya?"

"Rasa deg-degan karena nggak boleh ketahuan itu. Mirip game tipe stealth, menarik kan?"

"...Tipe stealth itu apa?"

"Eh."

Begitu ya. Orang ini tidak pernah main game elektronik. Sambil menghadapi kesulitan menjelaskan satu genre game kepada orang yang tidak main game, Supporter mengemudikan mobil menyusuri jalan gunung.

Generasi Kedelapan juga gadis remaja. Mungkin ini masa-masanya memikirkan banyak hal, pikir Supporter.

(23/23)


Translator Note: -




Bagikan ke:

Komentar

Tinggalkan Komentar