Featured Image

Shiboyugi V5 Chapter 1

Metoya Januari 18, 2026 Komentar

 

1. Teacher's Melancholy
(Kali ke-47,5)



(0/28)

 

Sore hari.

 

Di apartemen bobrok yang biasa, Yuuki terbangun.

 

(1/28)

 

Cahaya matahari terbenam yang masuk dari jendela menyinari kamar dengan warna kemerahan.

 

Itu adalah apartemen satu ruangan berukuran enam tatami. Perabot yang bisa disebut perabot hanyalah futon tempat Yuuki tidur, kulkas, dan meja. Meskipun cukup bersih, karena lantai dan dindingnya memang sudah tua, kesan kumuh tak bisa dihindari. Setiap kali bangun, Yuuki selalu merasa kaget karena menyadari dirinya tinggal di tempat seperti ini. Apartemen bobrok yang biasa.

 

Tidak—ada satu hal yang berbeda dari biasanya.

 

Yuuki menoleh ke samping.

 

Di dalam futon yang sama, seorang gadis yang sedikit lebih muda dari Yuuki sedang tidur. Seorang gadis yang memancarkan pesona memikat dari seluruh tubuhnya, bagaikan wanita cantik yang mampu meruntuhkan negara—namun, karena sekarang dia sedang tidur pulas, kesan itu tidak terlalu terasa. Ciri khasnya adalah rambut yang diikat dua cepol di belakang kepala, tetapi karena sedang tidur, rambutnya kini tergerai.

 

Namanya adalah Tamamo.

 

Meskipun Yuuki tidak mau mengakuinya, gadis itu adalah muridnya.

 

(2/28)

 

Hingga beberapa hari yang lalu, Yuuki memiliki segudang masalah.

 

Gim penuh gejolak di mana sebagian besar peserta dibunuh oleh satu pemain. Hilangnya penglihatan yang diketahui mulai menggerogoti mata kanan Yuuki. Tatapan dari teman-teman sekelas yang sering ia rasakan di sekolah. Rentetan masalah sebanyak ini baru terjadi lagi sejak <Dinding Tiga Puluh> itu, dan untuk menyelesaikannya, Yuuki harus sibuk wara-wiri.

 

Masalah pertama entah bagaimana berhasil diselesaikan. Masalah kedua pun sudah ada titik terang penanganannya. Tepat ketika Yuuki berpikir untuk mulai menangani masalah ketiga—masalah keempat yang tak terduga muncul.

 

Suatu malam, saat Yuuki pulang sekolah, seorang gadis berdiri di depan apartemennya.

 

Gadis yang cantik. Kata-kata seperti <indah> atau <jelita> lebih cocok untuknya daripada <imut> atau <manis>. Dia terlalu cantik hingga memancarkan aura yang membuat orang yang melihatnya merasa waspada. Jika diumpamakan, dia seperti wanita cantik peruntuh negara yang memikat raja hingga membuat keuangan negara hancur lebur, atau siluman yang memancing pria ke wilayahnya lalu memakan mereka mulai dari kepala, atau gadis selebriti yang jarang datang ke sekolah karena sibuk di dunia hiburan sehingga terasing dari kelasnya.

 

Dari hawa keberadaannya yang istimewa, Yuuki segera tahu bahwa dia adalah pemain. Namun, Yuuki tidak mengenali gadis itu. Bukan berarti Yuuki mengingat semua pemain yang pernah ditemuinya, tetapi ia yakin tidak akan melupakan penampilan yang begitu mencolok. Tanpa mengetahui identitas gadis itu, Yuuki berdiri mematung di depan apartemen.

 

Yang bergerak lebih dulu adalah gadis itu.

 

Dengan kaki rampingnya, dia berjalan mendekati Yuuki. Dengan suara indah yang serasi dengan penampilannya, dia berkata, "Selamat malam," lalu menundukkan kepala. Terlihat rambutnya diikat dua cepol di belakang kepala.

 

"......Halo," Yuuki membalas anggukan itu.

 

Gadis itu mengangkat kepalanya dan menggenggam tangan Yuuki. "Akhirnya aku menangkapmu," katanya.

 

"Nah, sekarang kamu akan memberikan Pelajaran 2, kan?"

 

"Ha?"

 

Gadis itu menatap lurus ke arah Yuuki.

 

Menatap balik padanya, Yuuki mendapatkan satu hipotesis. "Bohong, kan......?" kata Yuuki.

 

"Ano, boleh aku pastikan?"

 

"Silakan."

 

"Jangan-jangan, kamu...... Tamamo yang ikut serta dalam <Halloween Night>?"

 

Gadis itu tersenyum lebar. Senyuman itu menunjukkan jawabannya.

 

Tamamo. Pemain yang ditemui Yuuki pada gim keempat puluh limanya—<Halloween Night>. Waktu itu, dia adalah gadis bertubuh gemuk bulat yang sama sekali tidak memiliki kecantikan yang membuat orang menoleh. Jika bukan karena gaya rambut cepol dan kata <Pelajaran 2>, mustahil untuk menyadari bahwa mereka adalah orang yang sama.

 

Waktu interaksi dengannya di dalam gim tidak banyak. Hubungan mereka hanya sebatas Yuuki menolongnya saat dia diserang pemain lain. Namun, mungkin aksi pertolongan itu terlihat terlalu keren, Tamamo memohon agar dijadikan murid.

 

Karena saat itu Yuuki memiliki banyak kekhawatiran, ia tidak punya kelonggaran untuk mengambil murid. Tentu saja Yuuki menolak, tetapi Tamamo terus mendesak dengan gigih. Karena tidak ada pilihan lain, Yuuki berpura-pura menjadikannya murid dan memulai Pelajaran 1—<Lari Jarak Jauh>. Jika dia berlari sampai bentuk tubuh gemuknya itu membaik dan berhasil menangkap Yuuki, maka dia lulus. Dengan alasan seperti itu, Yuuki berhasil kabur dari Tamamo secara halus.

 

Namun, saat ini, Tamamo berada di depan mata Yuuki.

 

Dia telah menjadi langsing hingga membuat pangling, dan berhasil menangkap Yuuki.

 

Sesuai janji, Yuuki harus memberikan Pelajaran 2.

 

(3/28)

 

Untuk sementara, Yuuki membawa Tamamo masuk ke apartemen. Mereka tiba di kamar nomor 107, kamar Yuuki. Karena baru pulang sekolah, sambil menarik pita seragam pelaut yang dikenakannya, Yuuki menatap Tamamo.

 

"Aku mau ganti baju, jadi tunggu di sini."

 

Setelah berkata begitu, ia membuka pintu kamar 107. Melepas sepatu loafer-nya, ia naik ke genkan. Melangkah beberapa langkah ke dalam ruangan, ia membuka lemari yang tersedia di kamar. Saat tangannya memegang kerah seragam pelaut dan hendak melepasnya—

 

—ia merasakan hawa keberadaan di belakangnya.

 

Yuuki menoleh.

 

Tamamo berada tepat di belakangnya.

 

"............"

 

Yuuki melihat ke genkan. Ada alas kaki yang bukan miliknya. Kemudian, ia mengarahkan pandangan ke kedua kaki Tamamo yang berada di dalam ruangan, dan terakhir, ia menatap wajah Tamamo yang tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa meski telah menyusup masuk.

 

"......Rasanya aku tadi bilang tunggu di luar kamar, deh."

 

"Iya," jawab Tamamo.

 

"Apa? Kamu mau mengintip aku ganti baju......?"

 

"Apa boleh saya mengintip?"

 

"Jelas nggak boleh, lah."

 

Entah kenapa, sambil menatap mata Tamamo yang sedikit berbinar, Yuuki berkata.

 

"Saya tidak mau menunggu di genkan," kata Tamamo. "Tolong biarkan saya berada di dekat Anda sebisa mungkin."

 

"......Baiklah."

 

Yuuki mengalah. Agar tidak dilihat Tamamo, ia masuk ke dalam lemari bersama badannya dan menutup pintu. Ia mengambil baju olahraga yang tergantung di hanger dan mulai berganti pakaian di dalam kegelapan.

 

Sambil berganti pakaian, Yuuki memikirkan banyak hal. Meskipun sama sekali tidak berniat menjadikannya murid, karena sudah berjanji, ia tidak bisa ingkar. Apa yang harus dilakukan? Karena mengira sudah benar-benar berpisah, ia sama sekali tidak memikirkan materi bimbingan, dan karena ini pertama kalinya mengambil murid, ia tidak tahu harus berbuat apa. Bagaimana saat dirinya dulu? Apa bimbingan pertama yang ia terima dari gurunya—Hakushi? Karena sudah lama sekali, ingatannya agak samar. Mungkin sebaiknya ia bertanya kepada gurunya tentang cara mendidik murid. Ia sebenarnya tidak ingin meminjam tangan orang itu, tetapi jika demi murid dan bukan dirinya sendiri, ceritanya beda. Tepat saat Yuuki menyimpulkan untuk menghubunginya malam ini juga, ia selesai berganti pakaian. Yuuki keluar dari lemari.

 

Lalu—terdengar suara air.

 

"Apa......!?"

 

Sumber suara berasal dari dapur. Tamamo sedang mencuci piring. "A-a-apa yang kamu lakukan?" tanya Yuuki sambil berlari menghampirinya.

 

"Ah, Yuuki-san."

 

Sambil menggosok piring dengan spons, Tamamo menjawab.

 

"Sepertinya cucian menumpuk, jadi saya membereskannya...... apakah mengganggu?"

 

"Enggak...... bukan...... bukan mengganggu sih."

 

Yuuki melihat ke dapur. Sangat kotor. Selain peralatan makan yang dibiarkan begitu saja setelah dipakai, wadah bento toserba, gelas mi instan, sumpit sekali pakai, dan sendok plastik juga berserakan. Itu karena setelah dibilas air, semuanya dibiarkan begitu saja. Kapan terakhir kali ia mencuci piring? Meski mencari dalam ingatan, ia tidak bisa mengingatnya. Walaupun begitu, ini sudah tergolong bersih akhir-akhir ini. Dapur rumahnya pada masa kejayaan—sebelum <Candle Woods>—berada dalam kondisi di mana mencuci piring pun mustahil dilakukan.

 

Tentu saja, ia tidak membiarkannya kotor karena suka. Dicuci piringnya memang hal yang patut disyukuri, tetapi Yuuki merasa malu. Ini jauh lebih memalukan daripada diintip saat ganti baju. Mungkin karena ini adalah simbol gaya hidup yang sembrono.

 

"......Ngomong-ngomong, apa kamu melihat selain dapur?" tanya Yuuki.

 

"Selain dapur, maksud Anda......"

 

"Kamar mandi, atau toilet......"

 

"Tidak, saya belum melihatnya...... apakah kondisinya sama?"

 

"Mana mungkin. Nggak kok," Yuuki tertawa singkat. "Tapi, jangan masuk tanpa izinku ya. Soalnya ada...... plutonium dan semacamnya, jadi berbahaya."

 

(4/28)

 

Yuuki yang sudah berganti pakaian olahraga keluar rumah.

 

Ia memutuskan untuk jalan-jalan malam. Ini sudah menjadi rutinitas harian Yuuki selama lebih dari setahun. Berjalan di jalan raya yang dingin di tengah malam saat tidak ada siapa-siapa sangat menenangkan hati Yuuki. Bagi Yuuki yang hidup di dunia yang mempertaruhkan nyawa, itu adalah waktu yang sangat diperlukan untuk menjaga kewarasan mentalnya.

 

Namun, malam ini, Yuuki tidak bisa menghabiskan waktu dengan tenang.

 

Yuuki melirik ke samping dengan mata setengah terbuka.

 

Seperti tadi, ada sosok Tamamo yang tersenyum lebar.

 

Dia berjalan di samping Yuuki. Dia menempatkan diri pada posisi yang sangat pas, tepat di tepi jangkauan penglihatan Yuuki. Efek sinergi dari sosoknya yang terus terlihat dan tatapannya yang selalu terasa membuat Yuuki sama sekali tidak bisa tenang.

 

"Aa, anu......" kata Yuuki. "Tamamo-san, ya."

 

"Iya," jawab Tamamo dengan suara riang.

 

"Dilihat-lihat, kamu masih di bawah umur, kan. Nggak apa-apa keluyuran tengah malam begini? Keluarga atau orang lain nggak khawatir?"

 

"Tidak apa-apa. Karena tidak ada orang yang khawatir."

 

Nadanya tenang, tetapi mengandung makna tersirat. Ada hawa yang tidak membiarkan bantahan.

 

Yah, aku tidak akan tanya detailnya, pikir Yuuki. Karena dirinya pun mirip-mirip saja.

 

"......Menjadi murid sih boleh-boleh saja," Yuuki menggaruk kepala. "Maaf ya. Jujur saja, aku nggak tahu harus mulai mengajar dari mana. Karena aku nggak nyangka Tamamo bakal datang malam ini, jadi aku belum mikirin apa-apa. Aku mau menyusun rencana untuk Pelajaran 2 dan seterusnya, jadi latihannya mulai besok...... boleh begitu?"

 

"Saya mengerti."

 

"Karena itu, untuk hari ini, kamu pulang dulu saja......"

 

"Tidak. Untuk hari ini, setidaknya, tolong biarkan saya berada di dekat Anda."

 

Tamamo berkata sambil tersenyum. Meski tersenyum, ada hawa yang tidak bisa dibantah.

 

"............"

 

Yuuki diam.

 

Ia berjalan dalam diam menyusuri jalan malam. Di samping langkahnya, Tamamo mengikuti dengan kecepatan yang sama.

 

Yuuki mencoba berjalan agak cepat. Tamamo juga mengikuti dengan kecepatan yang sama persis. Sebaliknya, saat ia mencoba sedikit memperlambat kecepatan, Tamamo juga segera menyesuaikan kecepatannya. Tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh, ia menjaga jarak tertentu dengan akurat.

 

Kalaupun mau ikut, dia terlalu sensitif, pikir Yuuki. Saat menyusup ke kamar Yuuki tanpa izin juga begitu, sepertinya dia sangat tidak suka berpisah meski hanya sedikit. Apakah Pelajaran 1 tempo hari—saat Yuuki meninggalkannya kabur—masih membekas?

 

Kalau begitu aku merasa bersalah juga, pikir Yuuki, tapi tetap saja, diikuti orang lain bukanlah pengalaman yang menyenangkan. Ia tidak suka menempatkan orang lain di ruang pribadinya, juga tidak suka terus-menerus terpapar tatapan orang lain. Yuuki menerima Tamamo sebagai murid, tapi ia berharap bisa sendirian saat tidak ada keperluan.

 

"......Setiap hari, aku lari jarak jauh di jam segini."

 

Karena itu, ia berkata begitu.

 

"Aku lari satu putaran penuh di rute yang sudah ditentukan. Pemain juga butuh stamina, kan. Ini rutinitas untuk melatihnya."

 

Bohong besar. Bukan berarti tidak pernah lari, tapi biasanya ia hanya jalan-jalan santai di sekitar lingkungan. Rute yang ditentukan tentu saja tidak ada.

 

Namun, Tamamo sepertinya percaya. "Begitu ya. Hebat sekali," katanya dengan suara penuh kekaguman.

 

"Maaf bikin repot, tapi ikutlah."

 

"Baik."

 

"Kalau begitu—mulai!"

 

Bersamaan dengan ucapannya, Yuuki mulai berlari.

 

Karena ia memberi aba-aba start pada saat yang sengaja dibuat mengejutkan, Tamamo terlambat bereaksi. Tanpa peduli, Yuuki menaikkan kecepatan dan segera mencapai kecepatan puncak. Dalam waktu singkat di mana manusia bisa mempertahankan latihan anaerobik, Yuuki berbelok di tikungan dan menyembunyikan diri dari Tamamo.

 

Yuuki mempertahankan kecepatan yang ia turunkan saat berbelok. Itu adalah kecepatan terbaik untuk lari jarak jauh. Sambil menghirup udara malam yang dingin ke dalam tubuh, Yuuki berlari. Bagaikan hantu, ia berlari tanpa suara di jalan malam, menyelinap di celah antara pagar dan pagar untuk melintasi rumah warga, dan menaiki tanjakan yang mungkin tingginya dua puluh meter tanpa istirahat. Ia meluncur turun tangga dengan mendudukkan pantat di pegangan tangan, memanjat pagar yang terkunci untuk menyusup ke dalam, dan menyeberangi sungai yang mengalir deras dengan melompat di atas batu pijakan. Melalui jalur yang sudah tidak bisa disebut lari jarak jauh dan sama sekali tidak berniat membiarkan Tamamo mengejar—

 

Lalu, ia tiba di depan toserba.

 

Hah, hah, sambil terengah-engah, Yuuki mendengar detak jantungnya sendiri.

 

Sambil menyeka keringat di wajah dengan lengan baju olahraga, ia melihat ke toserba. Toserba langganan yang biasa digunakan Yuuki. Kali ini ia lelah karena melewati rute yang agak rumit—tapi itu adalah toserba biasa yang bisa dicapai dengan mudah dalam lima menit jalan kaki dari rumah Yuuki jika memilih rute yang tepat.

 

Yuuki melihat sekeliling. Di area yang diterangi lampu toserba, tidak ada sosok Tamamo.

 

"......Sudah kubuang, ya......"

 

Yuuki bergumam sendiri. Menggerakkan kakinya yang dipenuhi asam laktat, ia masuk ke toserba.

 

Lalu—terdengar langkah kaki yang bukan miliknya.

 

"......!?"

 

Kaget, ia menoleh.

 

Entah sejak kapan, Tamamo sudah ada di belakangnya.

 

"Aa....... Lama tidak bertemu, Yuuki-san," kata Tamamo. "Setiap hari, Anda menjalani latihan seberat ini, ya. Saya salut."

 

Pipi Tamamo memerah. Napasnya pun tersengal-sengal. Dia tampak sama lelahnya dengan Yuuki.

 

Tapi—dia berhasil mengejar.

 

Bukan hanya sekali tapi dua kali, Yuuki gagal melarikan diri darinya.

 

Setelah itu, untuk beberapa saat, keduanya menghabiskan waktu untuk mengatur napas. Yang pertama membuka mulut adalah Yuuki. "......Benar, kan?"

 

"Kalau jadi muridku, setiap hari bakal seberat ini lho. Gimana, jadi nggak mau, kan?"

 

"Tidak. Sama sekali tidak."

 

(5/28)

 

Setelah membeli es krim produk baru di toserba—dan mentraktir Tamamo satu—Yuuki keluar dari toko.

 

Setelah itu pun, Tamamo terus menempel dengan ketat.

 

Pulang langsung ke rumah dari toserba adalah prosedur biasanya, tapi malam ini Yuuki tidak melakukan itu. Ia tidak tahan kalau rumahnya dibersihkan lagi tanpa izin. Ia menghabiskan waktu dengan berlama-lama di warnet, bertahan dengan menu termurah di restoran rantai 24 jam, atau sekadar berkeliaran di jalan malam. Ia mencoba beberapa kali untuk berpisah saat Tamamo lengah—tapi semuanya berakhir gagal.

 

Sementara melakukan itu, langit mulai memutih.

 

Rasa kantuk mulai muncul di kepala Yuuki. Ia memutuskan untuk pulang dengan patuh. Setelah membersihkan keringat di pemandian umum yang buka pagi-pagi sekali, Yuuki menuju apartemen. Ia melihat pejalan kaki di sana-sini, seperti orang tua yang mengajak anjing jalan-jalan, pelajar yang mungkin ada latihan pagi klub, dan pekerja kantoran yang mengucek mata mengantuk. Bagi orang biasa, ini adalah awal hari, tapi bagi Yuuki yang nokturnal, ini adalah akhir hari yang sebentar lagi usai.

 

"Hari ini, kamu berencana tidur di mana?"

 

Yuuki bertanya pada Tamamo yang berjalan di sampingnya.

 

"Eh. ......Itu...... kalau boleh......"

 

Tamamo menjawab dengan malu-malu. Sepertinya dia agak segan untuk bilang minta menginap.

 

"Yah, menginap saja," kata Yuuki. "Di sekitar sini nggak ada hotel kok......"

 

Keduanya kembali ke kamar. Yuuki menarik futon dari lemari dan membentangkannya di lantai.

 

"Cuma ada buat satu orang, jadi pakai itu saja," kata Yuuki.

 

"Itu yang biasa kupakai, jadi maaf kalau agak kotor......"

 

"Ah, tidak, jangan begitu."

 

Lalu, Tamamo menjulurkan kedua tangannya ke depan dan menjawab.

 

"Mana mungkin saya membiarkan Yuuki-san tidak pakai...... Saya akan tidur di lantai."

 

Oho, pikir Yuuki. Tiba-tiba dia menunjukkan sikap pengertian.

 

Jika diperlakukan begitu, justru muncul sifat pembangkang dalam dirinya.

 

"Kalau mau, tidur berdua saja?"

 

Coba Yuuki katakan.

 

"Eh!? ......I-itu......"

 

Wajah Tamamo berubah warna. Yuuki merasakan adanya peluang untuk membalas. "Apa aku bilang sesuatu yang aneh?" Yuuki pura-pura bodoh.

 

"Futonnya cuma satu, jadi kalau mau hangat berdua ya cuma itu caranya menurutku."

 

"Bukan, anu, tapi."

 

Tamamo jadi panik. Yuuki mendorong bahunya pelan hingga ia jatuh terduduk di atas futon. Yuuki menyelimutinya dengan selimut, dan Yuuki sendiri juga masuk ke dalam futon bersama-sama.

 

Kondisi yang disebut orang sebagai tidur bersama (soine).

 

"Tu-tunggu Yuuki-san......!"

 

Tamamo mencoba keluar dari futon. Tapi, Yuuki menahan tubuhnya dengan kuat agar tidak kabur.

 

"Padahal bilang biarkan aku di sisimu, kok malah nggak mau?"

 

Yuuki mencoba menangkap kata-kata Tamamo tadi. Mungkin kehabisan kata-kata untuk membantah, Tamamo menunduk. Kulit putihnya memerah, terlihat jelas dia sedang malu. Manisnya, pikir Yuuki.

 

Setelah mendapat persetujuan Tamamo—atau lebih tepatnya setelah perlawanannya hilang—keduanya pun tidur. Mungkin karena ingin segera menghilangkan kesadaran, Tamamo memejamkan mata erat-erat dan diam. Yuuki mengamati gadis itu dengan saksama.

 

Sejatinya, ini futon untuk satu orang. Jika dua orang mau masuk, tubuh mereka harus sangat rapat. Jadi saat ini, Yuuki dan Tamamo berada dalam jarak sangat dekat yang bahkan jarang diizinkan kepada orang tua atau saudara. Wajah Tamamo terlihat begitu dekat hingga sehelai bulu matanya pun bisa dibedakan.

 

Yang mengejutkan, meskipun diamati sedekat itu, tidak ada satu pun cela pada kecantikan Tamamo. Tidak ada noda atau jerawat satu pun, semua bagian wajah berada di tempat yang seharusnya, serta mata dan hidung membentuk lengkungan yang tegas. Meskipun ada <Proses Pengawetan>, ini sudah di luar nalar, pikir Yuuki. Kecantikan yang mengandung sedikit rasa takut, seolah-olah hampir jatuh ke lembah ketidakwajaran (uncanny valley) meski berwujud manusia, seperti swafoto yang dibuat dengan memaksimalkan fitur pengeditan foto.

 

Saat mengamatinya, Yuuki entah kenapa jadi bersemangat. Bukan sekadar cantik, itulah elemen yang makin menggairahkan. Ini teori pribadi Yuuki, entah itu komik atau musik atau apa pun, ia percaya bahwa sesuatu menjadi benar-benar menarik justru karena ada sedikit rasa tidak nyamannya, bukan hanya sekadar enak dinikmati. Dengan membuat pengguna merasakan rasa aman dan ketegangan secara berulang, itu akan menuntun pada ekstasi. Karakteristik itu dimiliki oleh Tamamo. Yuuki benar-benar dibuat terpikat.

 

Lama-kelamaan, Yuuki memindahkan perasaannya ke dalam tindakan.

 

Ia melingkarkan tangan ke pinggang Tamamo dan memeluknya erat.

 

"......!?!?"

 

Rupanya rangsangan itu tak tertahankan lagi, Tamamo membuka mata dan meronta-ronta.

 

Namun, Yuuki tidak melepaskan pelukannya, malah sebaliknya, ia menikmati sensasi tubuh Tamamo yang timbul akibat rontaannya. Rasanya sangat enak. Rasa geli yang meremang seolah jiwa dan jiwa saling bergesekan lahir tanpa henti. Berpelukan dengan orang ternyata enak ya, Yuuki jadi tahu. Apalagi jika itu dengan murid yang manis, rasanya makin mantap.

 

Lama-kelamaan, Tamamo berhenti melawan. Dia menjadi tenang dalam pelukan Yuuki. Karena rangsangan gesekan hilang, perasaan Yuuki pun ikut sedikit tenang. Mengambil murid mungkin tidak buruk juga—sambil berpikir begitu, Yuuki memejamkan mata, membiarkan kesadarannya terurai.

 

—Dan, waktu kembali ke masa kini.

 

(6/28)

 

Yuuki terbangun.

 

Cahaya matahari terbenam yang masuk dari jendela menyinari kamar dengan warna kemerahan. Sudah sore. Yuuki mendudukkan badan, dan sambil mengucek mata yang masih mengantuk, ia menoleh ke samping.

 

Di futon yang sama, Tamamo sedang tidur pulas.

 

Jarak itu dekat. Kondisinya sama seperti tadi pagi. Rupanya, saat sedang bermesraan, mereka berdua ketiduran.

 

Yuuki menempelkan tangan di kepala. "......Pasangan bodoh aja," gumamnya.

 

(7/28)

 

Begitulah kehidupan guru-murid antara Yuuki dan Tamamo dimulai.

 

Hari-hari berikutnya pun, Tamamo bersikeras tidak mau pulang. Dia bilang <untuk hari ini setidaknya biarkan saya di dekat Anda>, tapi sepertinya itu tidak berarti dia akan pulang saat hari berganti esok. Seolah sebagai pengganti biaya sewa, Tamamo mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti bersih-bersih, mencuci, memasak, dan lain-lain. Itu termasuk membersihkan kamar mandi dan toilet yang enggan diperlihatkan Yuuki. Dia melakukannya sambil tersipu malu dan berkata <ara-ara>. Benar-benar memalukan.

 

Bukan hanya menyuruh Tamamo bekerja, Yuuki juga berusaha melakukan tugasnya sendiri—pekerjaan sebagai <Guru>. Detailnya akan dipikirkan setelah bertemu Guru Hakushi, tapi untuk sementara, ia memberikan pelajaran teori tentang gim. Klasifikasi tipe pelarian, tipe pertarungan, tipe bertahan hidup, alur sebelum dan sesudah gim, keberadaan orang-orang di industri sekitar, dan sebagainya. Bagi Tamamo yang pemula, itu saja sudah menjadi panen tersendiri.

 

Selain itu, ada satu lagi yang diberikan Yuuki. Futon. Karena tidak punya nyali untuk tidur bermesraan seperti itu setiap hari, ia membelikan futon untuk tamu.

 

Tidur berjajar membentuk huruf sama dengan (=), bukan huruf sungai (), sudah beberapa hari berlalu.

 

Meninggalkan Tamamo di apartemen—dengan susah payah membujuknya agar menunggu sendiri—Yuuki pergi keluar.

 

Tujuannya adalah kota daerah yang pernah ia datangi. Ia ada janji bertemu gurunya di bar sulap itu. Saat Yuuki tiba, Hakushi sudah duduk di kursi konter. Tanpa menggerakkan wajah, ia hanya mengarahkan pandangan ke arah Yuuki dan berkata, "Yo."

 

"Selamat malam."

 

Yuuki membalas salam dan duduk di kursi sebelahnya. Setelah berbasa-basi sebentar, menonton sulap bartender, dan mengosongkan gelas, mereka masuk ke topik utama.

 

"Sudah waktunya ambil murid, ya. Akhirnya kau juga," kata Hakushi. "Jadi, bagaimana hasilnya? Bakal jadi sesuatu nggak? Si Tamamo itu."

 

"Wah, itu belum bisa dibilang...... Sekarang saya masih cuma kasih pengetahuan soal gim saja."

 

"......Ho?"

 

"Terus, saya belikan futon."

 

Ngomong-ngomong, dalam beberapa hari ini, Yuuki sedang menangani masalah dengan teman sekelasnya. Itu juga salah satu alasan kenapa bimbingan Tamamo tidak maju.

 

"Santai sekali ya," kata Hakushi.

 

"Itu juga salah satu alasan saya datang ke sini...... Saya ingin tanya Guru. Pendidikan murid itu sebaiknya dijalankan seperti apa? Waktu zaman saya dulu, rasanya gimana ya?"

 

"Begitu ya, kalau tidak salah......"

 

Ingatan Hakushi sepertinya lebih bagus dari Yuuki. Yuuki diberitahu secara akurat tentang isi bimbingan yang pernah diterimanya. "Kira-kira begitu," Hakushi menutup pembicaraan.

 

"Tentu saja, tidak perlu mengikuti metode ini. Kalau kau punya pendapat sendiri, menerapkannya juga boleh. Karena dia muridmu, itu kebebasanmu."

 

"......Iya ya......" jawab Yuuki.

 

"Ada yang masih mengganjal?"

 

"Ah, bukan......"

 

Dari sikap Yuuki yang tergagap, Hakushi sepertinya membaca sesuatu.

 

"......Jangan-jangan, kau tidak ingin mengambil murid?"

 

Tanyanya.

 

"Aa, anu...... hmm, memang bentuknya tidak seperti yang diharapkan sih......"

 

Sambil menggunakan banyak kata seru seperti <aa> atau <yah>, Yuuki menyusun pikirannya.

 

"Entahlah, saya merasa bertanggung jawab. Mengajar orang itu. Apa yang saya katakan dan lakukan bakal berhubungan langsung dengan umur Tamamo, kan. Ini pertama kalinya situasi seperti itu terjadi di luar gim, jadi rasanya agak sulit diterima, begitu pikir saya......"

 

Seperti pada gim kedua puluh delapan—<Ghost House>, ini bukan pertama kalinya Yuuki membimbing orang lain. Kalau di dalam gim, ia tidak perlu merasa bertanggung jawab. Karena ia membebankan aturan pada dirinya sendiri untuk bersikap tidak bertanggung jawab apa pun yang terjadi. Namun jika menyangkut <Luar>—saat bukan sebagai pemain, ia jadi lemah. Rasa tanggung jawab sebagai orang biasa mengangkat kepalanya.

 

"Manfaatkan rasa tanggung jawab itu, dan tempa dia sebaik-baiknya," Hakushi memberikan argumen yang masuk akal.

 

"......Ngomong-ngomong, waktu menjadikan saya murid, gimana perasaan Guru? Guru itu."

 

"Kau waktu itu, orang yang nggak jelas hidup atau mati. Kupikir mati juga nggak masalah."

 

"Jahat."

 

"Yah, mumpung ada kesempatan, cobalah sekali-kali berhubungan serius dengan orang lain. Itu akan jadi pengalaman bagus buat pemain individualis sepertimu."

 

"Begitu ya......"

 

Yuuki menelungkup di meja. "Ngomong-ngomong," Hakushi pindah ke topik berikutnya.

 

"Kau sendiri juga katanya mau berguru pada orang lain dalam waktu dekat, ya."

 

Hal itu sudah disampaikan sebelumnya. Saat membuat janji temu dengan Hakushi, ia sudah melaporkan kabar terbarunya secara singkat.

 

"Ya," jawab Yuuki.

 

"Katanya ada orang yang jadi pemain dalam kondisi buta. Saya berencana menemuinya."

 

Yuuki menyentuh tulang pipi kanannya.

 

Mata kanan yang tertanam beberapa sentimeter di atasnya. Fakta bahwa mata itu mulai kehilangan fungsinya terungkap dalam pemeriksaan beberapa hari lalu. Ia berpikir ini tidak boleh dibiarkan, tapi untungnya, ia bisa diperkenalkan dengan pemain yang buta total oleh seorang gadis yang baru dikenalnya—Kokone. Tanggal pertemuan sudah ditentukan, tinggal pergi saja, pembicaraan sudah sampai tahap itu.

 

"Katanya pemain bernama Rinrin-san. Saya baru dengar namanya saja sih......"

 

"Fumu."

 

Hakushi menyentuh dagunya sendiri.

 

"Aku juga, pernah dengar nama itu."

 

"Ah, Anda tahu?"

 

"Tidak, tidak sampai taraf tahu. Cuma nama, dan fakta bahwa dia buta total......"

 

Di situ, kata-kata Hakushi terputus secara tidak wajar. Setelah jeda beberapa detik, ia berkata, "Oi."

 

"Ya."

 

"Kalau kau mau menemuinya...... mungkin sebaiknya bersiaplah."

 

"......?"

 

Apa maksudnya, Yuuki hendak bertanya, tapi karena Hakushi segera berdiri dan bersiap membayar, ia kehilangan kesempatan untuk bertanya.

 

Kebenaran dari kata-kata itu, nantinya akan Yuuki ketahui dengan tubuhnya sendiri.

 

(8/28)

 

Beberapa hari setelah bertemu Hakushi.

 

Yuuki membawa Tamamo menuju tempat pemain buta total itu.

 

Untuk pertama kali dalam hidupnya, Yuuki naik pesawat. Ia agak berdebar-debar apakah akan terjadi masalah, tapi entah senang atau sedih, mereka tiba di bandara dengan selamat. Dari sana ganti naik kapal, pergi ke pulau lain dulu, lalu ganti kapal lagi. Karena tidak ada jadwal rutin ke tujuan Yuuki, mereka perlu menyewa kapal pribadi. Untungnya, agen Yuuki katanya bisa mengemudikan kapal, jadi setelah diantar olehnya, Yuuki dan Tamamo turun di sana.

 

Itu adalah pulau terpencil.

 

Tempat dengan nuansa berbeda dari pulau terpencil yang didatangi saat <Cloudy Beach>. Jika pulau itu adalah <resor wisata alam>, yang ini benar-benar seperti <pulau terpencil yang sudah tersentuh tangan manusia>. Di ujung pulau ada dermaga, jalannya beraspal, ada pagar batu khas pulau terpencil di kedua sisi jalan, tiang listrik dipasang dengan jarak teratur, dan kabel yang memanjang darinya membelah langit biru yang indah. Selain itu, terlihat juga bangunan di sana-sini.

 

Di dalam pulau seperti itulah, keduanya berjalan.

 

Keduanya masing-masing memanggul barang di bahu. Alur setelah bertemu Rinrin tidak jelas, tapi karena diprediksi akan tinggal di pulau ini untuk sementara waktu, mereka sudah bersiap seperti akan perjalanan kecil. Langkah kaki keduanya terasa berat seberat beban itu.

 

"......Wah, di luar jangkauan."

 

Melihat ponselnya, Yuuki berkata.

 

Dua huruf yang berarti larangan masuk ke masyarakat IT terpampang di layar. Ini bukan pertama kalinya ia melihat tampilan itu, tapi sebagian besar kasusnya adalah saat baru menyalakan ponsel atau sebelum memasukkan kartu SIM. Mungkin ini pertama kalinya ia melihat pemberitahuan di luar jangkauan dalam arti sebenarnya—berada di tempat yang tidak terjangkau sinyal.

 

"Saya juga."

 

Tamamo yang berjalan di samping juga melihat ponselnya dan berkata.

 

"Apakah benar ada orang yang tinggal di sini? Di sini......"

 

"Harusnya tempatnya benar sih."

 

Dari Kokone, ia hanya diberitahu lokasi pulau. Pulaunya tidak terlalu besar, kalau pergi pasti segera ketemu, katanya. Yuuki juga tidak terlalu khawatir soal bertemu, terlepas dari apa yang terjadi setelah bertemu.

 

Namun, ia mulai cemas. Benda buatan manusia terlihat di sana-sini, tapi tidak ada tanda-tanda manusia. Lagipula, jika diamati baik-baik, jalannya retak-retak, ada rumah warga yang sudah lapuk, entah kenapa terasa ada hawa kehancuran. Jangan-jangan, ada kesalahan?

 

Sambil cemas begitu, berjalan selama beberapa puluh menit.

 

Untungnya, ditemukan sesuatu yang membuat Yuuki lega.

 

Di atas pagar batu, tersangkut sebuah mantel. Karena Yuuki tidak paham soal pakaian, ia hanya berpikir itu mantel, tapi karena Tamamo mendeskripsikan "Punya wanita ya," ia jadi tahu kalau itu punya wanita.

 

"Mungkin, itu milik Rinrin-san."

 

Tamamo berkata, lalu mengarahkan pandangan ke seberang pagar batu.

 

Di sana, di seberang halaman, ada rumah warga. Atap genteng, rumah kayu satu lantai. Rumah Jepang yang penuh nuansa pedesaan. Menggunakan tanah seluas-luasnya yang tak terbayangkan di daerah perkotaan, rumah itu terbaring dengan nyamannya seolah sedang berjemur.

 

"Mungkin ditaruh sebagai tanda......"

 

Melihat rumah warga dan mantel itu bergantian, Yuuki berkata.

 

Mantel itu kondisinya bersih. Mungkin baru ditaruh kemarin atau hari ini. Mengingat itu tergantung di depan rumah, kemungkinan besar itu pesan bahwa ini adalah tempat tinggalnya.

 

Yuuki dan Tamamo mengunjungi rumah itu. Karena tidak ada interkom di pintu masuk, mereka mengetuk pintu. Suara "Yaa" terdengar pelan dari balik pintu. Setelah itu, bercampur dengan langkah kaki yang mendekat, suara rincing-rincing sampai ke telinga Yuuki. Suara apa ya, sambil berpikir begitu menunggu beberapa puluh detik, bersamaan dengan suara gararara khas saat membuka pintu rumah tua, dia muncul.

 

"Wah—selamat datang."

 

Seorang wanita dengan kesan Onee-san (kakak perempuan).

 

Karena dibilang teman Kirihara, ia membayangkan usianya sebaya dengannya, tapi ternyata lebih muda. Apakah benar-benar muda, atau awet muda. Dia memiliki aura lembut yang pas dideskripsikan sebagai <Onee-san>, dan di kedua telinganya terpasang anting yang ada loncengnya. Suara rincing-rincing tadi pasti berasal dari situ.

 

Dan—hal yang paling penting.

 

Kedua matanya tertutup.

 

Meskipun sudah menduga dari fakta itu, untuk memastikan, Yuuki bertanya. "Apakah Anda Rinrin-san?"

 

"Ya," jawab Rinrin. "Kamu, Yuuki-san?"

 

"Ya."

 

"—Gadis di sebelah itu, siapa?"

 

Rinrin menunjuk Tamamo dengan tangan.

 

Melihat gerakan itu, Tamamo menunjukkan ekspresi terkejut sesaat. Namun, segera menguasai diri, "Saya muridnya, Tamamo," dan membungkuk memberi salam.

 

"Hee...... Kamu mengambil murid ya."

 

"......Ano. Kenapa Anda bisa tahu?" tanya Yuuki. "Itu...... Anda tidak bisa melihat, kan? Padahal dia tidak bicara sepatah kata pun."

 

"Ya. Benar," jawab Rinrin. "Tapi, kalau cuma segitu, tanpa melihat pun aku tahu. ......Ayo, silakan masuk. Lanjutannya kita bicara di dalam."

 

Rinrin berkata begitu, lalu masuk ke dalam rumah. Yuuki dan Tamamo juga melakukannya. Seolah sudah memperhitungkan waktu yang pas saat keduanya melepas sepatu, merapikannya di genkan, dan naik ke lorong, Rinrin mulai berjalan. Keduanya mengikuti, bertiga berjalan di lorong.

 

"Terima kasih sudah jauh-jauh datang."

 

Sambil berjalan, Rinrin mengajak bicara.

 

"Gimana? Ponsel, nggak nyambung kan?"

 

"Ya, di luar jangkauan," jawab Yuuki.

 

"Maaf ya memanggil ke sini. Soalnya, tempat ini sangat diperlukan......"

 

"......? Rinrin-san, bukannya tinggal di pulau ini?"

 

Karena terdengar nuansa seperti itu, Yuuki mencoba bertanya.

 

"Mana mungkin," jawab Rinrin.

 

"Kamu pikir aku bisa tinggal sendirian di tempat terpencil begini? Apalagi manusia buta total."

 

Benar juga apa katanya. "......Yah, benar juga," jawab Yuuki.

 

"Aku minta kenalan untuk menyiapkan pulau ini. Untuk bersenang-senang dengan kalian......"

 

Yuuki membayangkan. Meskipun ada beberapa jejak campur tangan manusia di pulau ini, kemungkinan besar, pulau ini sudah menjadi tak berpenghuni. Itulah sebabnya ada suasana kehancuran di mana-mana.

 

Ngomong-ngomong—<bersenang-senang> ya. Cara bicara yang penuh makna tersirat. Apa yang akan kami lakukan mulai sekarang, pikir Yuuki.

 

"............"

 

Yuuki mengamati Rinrin yang berjalan di depan.

 

Pemain buta total—begitu yang ia dengar. Karena itulah Yuuki datang ke sini. Namun, sejauh ini, gerak-gerik Rinrin benar-benar seperti manusia yang <bisa melihat>. Menyadari keberadaan Tamamo yang tidak bersuara, dan dengan sopan menunggu keduanya melepas sepatu. Soal berjalan di lorong sekarang pun begitu. Tanpa tongkat ia berbelok di tikungan, dan menghindari rintangan.

 

Yuuki memusatkan perhatian pada telinga Rinrin.

 

Telinganya sendiri tertutup rambutnya, tapi ia bisa memastikan ada anting di kiri kanan dan lonceng yang menggantung darinya. Setiap kali dia melangkah, berbunyi rincing-rincing, memberikan rasa sejuk di lorong.

 

Lonceng itu—apakah memang begitu maksudnya.

 

"Rinrin-san," tanya Yuuki.

 

"Ada apa?"

 

"Lonceng itu, apa dipasang untuk mendengar pantulan suara?"

 

Ekolokasi, istilahnya.

 

Tindakan menelusuri lingkungan sekitar dengan memanfaatkan gema suara. Sudah umum diketahui bahwa kelelawar dan lumba-lumba memiliki kemampuan itu, dan pada manusia pun, kabarnya hal itu mungkin dilakukan dengan mendecakkan lidah atau mengetukkan tongkat ke tanah. Memasang lonceng di kedua telinga adalah kasus pertama yang didengar Yuuki, tapi, jika <buta total> bertemu <lonceng>, tidak sulit menduga keterkaitannya.

 

"Tepat sekali."

 

Menjentik lonceng di telinga kiri dengan jari, Rinrin menjawab.

 

"Sudah sepuluh tahunan aku pakai ini. Waktu kehilangan penglihatan, aku mikir gimana cara menggantikannya...... lalu, ting, ide muncul. Lagipula, cocok kan sama namaku?"

 

Ufufu, Rinrin tertawa.

 

Cara tertawa yang sering terlihat pada wanita muda, yang meresap ke saraf.

 

"Apa itu bisa dikuasai setelah dewasa?"

 

"Bukan hal yang mustahil kok. Meski butuh waktu lumayan."

 

Misteri gerak-gerik Rinrin. Soal itu, setidaknya sudah dapat jawabannya.

 

Meskipun begitu, itu saja hanya cukup untuk hidup sehari-hari, tapi kurang untuk beraktivitas sebagai pemain. Pasti masih ada sesuatu, pikir Yuuki.

 

"Kamu sendiri, mata kananmu itu, lagi sakit?"

 

Tiba-tiba, Rinrin bertanya. "Eh," Yuuki memberikan reaksi kaget karena benar-benar tidak menduganya.

 

"Langkah kaki saat melangkahkan kaki kanan lebih kecil dibanding yang kiri. Artinya kamu berhati-hati dengan sisi kanan. Digabungkan dengan fakta kamu mengunjungiku, aku pikir mata kananmu tidak bisa melihat, atau sedang melemah...... salah?"

 

Langkah kaki. Perbedaan sehalus itu bisa didengar ya—pikir Yuuki sesaat, tapi "......Enggak, enggak."

 

"Itu gertakan (bluff), kan. Anda sudah dengar tentang saya dari Kokone-san sebelumnya, kan?"

 

Kokone. Orang yang menghubungkan Yuuki dan Rinrin untuk mewujudkan kesempatan ini. Dia tahu mata kanan Yuuki sedang melemah, dan tentu saja, saat membuat janji dengan Rinrin dia pasti menceritakan hal itu. Tidak aneh jika Rinrin tahu tentang kondisi Yuuki.

 

Ufufu, Rinrin tertawa.

 

"Tepat sekali. Bagus kamu sadar."

 

"Jangan bohong yang nggak ada artinya dong."

 

"Gertakan juga teknik penting lho. Bagi manusia sepertiku, terutama ya......"

 

Sambil berbincang begitu, Yuuki dan lainnya diantar ke ruang tamu. Lantai berlapis tatami seluruhnya, dengan perabot sesuai format rumah Jepang berjejer. Sepertinya bersebelahan dengan luar ruangan, cahaya matahari masuk menyinari ruangan melalui shoji.

 

Rinrin duduk di bantal duduk dekat meja besar. Yuuki dan Tamamo juga melakukan hal yang sama. Mereka duduk berhadapan dipisahkan meja.

 

"Ayo segera masuk ke topik utama," kata Rinrin.

 

"Aku sudah dengar dari Kokone, tapi...... sekali lagi, aku pastikan ya. Kamu pemain sepertiku, dan akhir-akhir ini, penglihatan mata kananmu menurun."

 

"Ya."

 

"Lalu kamu mengunjungiku. Untuk mengetahui cara terus bertarung sebagai pemain tanpa mengandalkan penglihatan."

 

"Tepat sekali."

 

"Aku tidak akan tanya alasannya."

 

Rinrin meletakkan tangan di dadanya.

 

"Tanpa tanya pun, aku sangat bisa berempati dengan keadaanmu. Aku ingin membantu dengan sepenuh hati. Aku akan mendukungmu sekuat tenaga ya."

 

"......Mohon bantuannya."

 

Yuuki menjawab. Rasanya dia sangat diempati. Terasa emosi yang terlalu besar untuk ditujukan pada orang yang baru pertama ketemu, tapi karena beratnya masalah <penglihatan>, ditambah lagi kesamaan profesi sebagai pemain, mungkin kesadaran sesama kaum juga jadi lumayan besar.

 

"Aku sudah memikirkannya, macam-macam," lanjut Rinrin.

 

"Bagaimana cara menyampaikan teknikku dengan paling baik. Mengajar dengan kata-kata biasa juga bisa. Tapi, aku pikir itu saja tidak cukup. Kamu dan aku manusia yang berbeda. Meskipun menggunakan kata yang sama, belum tentu resonansinya sama......"

 

Ekspresinya puitis, tapi yah benar juga, pikir Yuuki.

 

"Makanya, aku putuskan pakai cara yang lebih agresif. Untungnya, aku dan kamu pemain. Kita tahu cara penyampaian yang lebih kuat dan akurat daripada kata-kata. Benar, kan?"

 

"Maksudnya apa?"

 

"Kalau kamu pemain juga, pasti sehari-hari melakukannya, kan? <Mencuri> teknik dari lawan yang bertarung bersama, atau lawan yang dilawan...... Kakak ini tidak jago mengajar, tapi soal pertarungan sungguhan (jissen) sampai sekarang masih percaya diri. Kita pakai itu saja."

 

"Maksudnya kita latih tanding (kumite) atau apa?" Yuuki mengutarakan tebakannya.

 

Lalu, Rinrin tiba-tiba menutup mulut dengan tangan. Dia menyemburkan tawa. Setelah menggeliat menahan tawa beberapa saat, "Kamu jago bercanda ya," jawabnya.

 

"Kalau cuma latih tanding, aku nggak akan panggil ke tempat seperti ini. <Pertarungan sungguhan> yang kukatakan, itu arti harfiah."

 

Aku jelaskan aturannya ya, lanjut Rinrin.

 

"Hmm...... kalau dalam istilah gim mungkin jadi tipe pelarian ya. Di suatu tempat di pulau ini, aku sembunyikan perahu motor elektrik dan kunci pintar (smart key). Kalau bisa kabur dari pulau ini menggunakan itu, gim selesai (game clear). Supaya tidak begitu, aku akan menghalangi kalian ya. Durasi gim tidak ditentukan. Tidak ada hal yang dilarang. Boleh pakai apa saja yang ada di pulau sesuka hati. Stok makanan, dan senjata (emono) juga sudah disembunyikan di sana-sini, jadi tolong dicari."

 

"......Senjata? Senjata itu apa?"

 

Kata yang tidak tenang. Yuuki bertanya.

 

"Ya. Aku juga kemarin, setelah sampai pulau sudah coba cari sebentar, tapi......"

 

Di tengah kalimat, Rinrin berdiri. Berjalan menuju lemari laci. Membuka laci dari benda antik yang lebih cocok ditulis dengan kanji <Tansu> daripada katakana <Tansu>, dia mengambil dua benda dan meletakkannya di meja.

 

"Misalnya, yang begini."

 

Tak bisa dipungkiri lagi, itu adalah senjata.

 

(9/28)

 

Satu pistol, dan satu pisau kupu-kupu (butterfly knife).

 

Bukan—mainan. Yuuki yang hidup di dunia yang kejam tahu betul, hanya dengan melihat, apakah itu asli atau palsu. Di negara ini kepemilikan tanpa alasan tidak diizinkan, senjata yang menyimpan kemampuan mematikan, yang sangat mudah merenggut nyawa manusia.

 

Rinrin mengambil pistol.

 

Menembak. Tentu saja, dia tidak serta-merta menembak Yuuki dan lainnya. Mungkin sebagai demonstrasi, sasarannya adalah fusuma (pintu geser) ruangan. Suara ledakan mesiu menggelegar empat kali berturut-turut dengan nyamannya, lalu lubang dengan jumlah yang sama terbuka di arah diagonal bawah pegangan pintu.

 

"............"

 

Yuuki terdiam seribu bahasa.

 

"Aku tidak tahu seberapa banyak yang disembunyikan."

 

Seolah bukan apa-apa, Rinrin melanjutkan.

 

"Tapi, cuma cari di rumah ini saja, sudah ketemu dua ya. Bisa dianggap masih banyak lagi di tempat lain. Kurasa tidak akan kesulitan soal senjata."

 

"Tu...... tunggu sebentar?"

 

Yuuki menyela. Tentu saja Rinrin tidak bisa melihat, tapi Yuuki tanpa sadar melakukan gerakan menjulurkan tangan untuk menghentikan.

 

"Eh, apa-apaan? Mulai sekarang kita, bakal saling bunuh?"

 

"Reaksinya kayak pemain pemula ya."

 

Ufufu, Rinrin tertawa. Apanya yang lucu woy, pikir Yuuki.

 

"Apa yang dikagetkan? Kan sudah kubilang <pertarungan sungguhan>."

 

"Bukan, pertarungan sungguhan sih...... kukira lebih kayak simulasi perang...... Apa perlu sampai mendekati <gim> begini? Kalaupun pakai senjata, yang lebih, uh, aman gitu kan bisa."

 

"Itu lembek. Kalau mau dapat pertumbuhan dari pertarungan sungguhan, harus sedekat mungkin dengan gim asli. Kamu juga dididik begitu kan sama gurumu?"

 

"Nggak kok! Diajari biasa kok!"

 

Meskipun sangat tidak bisa dibilang diajari dengan lembut, tapi setidaknya, tidak seberbahaya ini. Harusnya tidak. Kayaknya tidak.

 

"Ara, begitu? Anak muda zaman sekarang lembek ya."

 

Rinrin mengambil pisau kupu-kupu, dan dengan gerakan tangan terampil membukanya kasha-kasha-kasha. Kalau preman jalanan yang melakukannya bukannya takut malah mengundang tawa, tapi kalau Onee-san beraura lembut, apalagi orang buta yang melakukannya, rasanya sangat menakutkan.

 

"Tapi, ini caraku. Tolong ikuti ya."

 

"............"

 

Yuuki, kembali terdiam seribu bahasa.

 

Waktu yang dibutuhkan untuk menerima kenyataan di depan mata, beberapa detik. Setelah itu, Yuuki menatap muridnya yang duduk di samping, Tamamo.

 

"Kalau begitu, mumpung masih sempat saya mau suruh Tamamo pulang saja," kata Yuuki. "Ada kapal yang dipakai untuk ke sini, jadi pakai itu......"

 

Agen Yuuki, bersama kapalnya, disuruh menunggu di dermaga. Karena tidak jelas akan tinggal berapa lama di pulau ini, dan bagaimana alurnya setelah bertemu Rinrin. Tanpa ikut gim Rinrin pun, Yuuki dan lainnya bisa kabur dari pulau ini menggunakan itu.

 

Akan tetapi, "Nggak boleh," kata Rinrin.

 

"Atau lebih tepatnya...... harus kubilang sudah terlambat. Kapal itu, sudah kusuruh pulang lho."

 

"Eh."

 

Rinrin membuka shoji. Melewati engawa (serambi), memakai sandal bakiak, dan keluar ke halaman. Meskipun tidak dibilang secara khusus <ikutlah>, Yuuki dan Tamamo juga melakukan hal yang sama.

 

Berjalan sebentar di halaman, mereka sampai di tempat yang bisa melihat sekeliling. Di sanalah Yuuki baru tahu bahwa rumah warga ini terletak di dataran tinggi. Jalan yang ditempuh Yuuki dan lainnya sampai ke sini, serta dermaga, bisa terlihat sekaligus dalam pandangan.

 

Di sana, astaga, tidak ada satu kapal pun.

 

"Agenmu itu, ya?" kata Rinrin.

 

"Kalau ada kapal lain yang berlabuh bakal mengganggu, jadi kusuruh pulang. Cara kabur dari pulau ini selain lewat <Gim>-ku sudah tidak ada ya."

 

"............"

 

Yuuki, terdiam seribu bahasa untuk ketiga kalinya.

 

Sampai ke rumah warga ini, Yuuki dan lainnya tidak bergerak tanpa mampir-mampir. Mereka maju mundur di persimpangan dan jalan buntu sambil mencari tempat Rinrin berada. Sementara Yuuki dan lainnya lambat begitu, Rinrin dari rumah warga ini langsung ke dermaga, menyuruh agen pergi dari pulau, lalu kembali lagi, begitulah kira-kira. Cekatan sekali.

 

"Anda serius?"

 

Yuuki berkata. Ia melihat pistol yang dipegang Rinrin. Entah tahu atau tidak tatapan itu, dia mengangkatnya dan berkata, "Aku tidak akan bawa barang begini kalau bercanda."

 

"Hal yang dilarang tidak ada, kan. Artinya...... Rinrin-san, kami boleh menganggap Anda akan menyerang dengan niat membunuh, kan?"

 

"Ya. Begitulah niatku."

 

"Maaf lancang...... Situasi di mana kami malah membuat Rinrin-san mati juga bisa terjadi. Anda juga sadar akan hal itu, kan?"

 

Menurut cerita Rinrin, simulasi gim ini bertipe pelarian. Tanpa membunuh Rinrin pun penyelesaian bisa dicapai. Yuuki juga tidak berniat membunuh di luar gim. Tapi, karena benda yang digunakan adalah benda itu, situasi seperti itu juga harus diperhitungkan.

 

Rinrin tertawa. "Tanya hal aneh ya," katanya.

 

"Wajar kan? Sejak hari jadi pemain, aku tidak terikat pada kehidupan."

 

Pada ucapan itu, Yuuki merasa ada yang janggal.

 

Merasakan sesuatu yang tidak masuk akal. Apa ya. Ingin rasanya memikirkannya pelan-pelan, tapi tak berselang lama, kata-kata Rinrin menyela.

 

"Kalau begitu, ayo mulai."

 

Berkata begitu, dia mengarahkan pistol ke langit. Arti dari gerakan itu, segera, diberitahukan oleh kata-katanya sendiri.

 

"Sa-tu."

 

Yuuki menoleh ke Tamamo.

 

Tamamo mengangguk. Keduanya berlari sekuat tenaga. Melepas sandal bakiak dengan kecepatan super kilat, kembali ke ruang tamu dari halaman, keluar kamar, dan berlari menembus lorong dengan kecepatan sepuluh kali lipat dari saat datang. Memakai sepatu dengan gerakan gedebak-gedebuk tanpa peduli sopan santun, dan bersamaan dengan mereka keluar dari rumah warga, tembakan pembuka berbunyi.

 

Untungnya bagi mereka berdua, hitungan Rinrin itu sampai sepuluh. Tepat sepuluh detik kemudian tembakan berbunyi, dan berkat kelonggaran itu mereka bisa lari sampai luar rumah. Untung bukan hitungan tiga atau lima detik pikir Yuuki, tapi, meski begitu, ia tidak merasa satu milimeter pun bahwa Onee-san itu berbelas kasih.

 

(10/28)

 

Setelah keluar dari rumah warga pun, keduanya berlari.

 

Lari, lari, lari, dan berlari. Berlari sekuat tenaga. Berlari dengan keseriusan yang tak tertandingi oleh <lari jarak jauh> kapan itu. Yuuki bersyukur dalam hati sudah mengecek kemampuan lari Tamamo waktu itu—bersyukur dia sudah kurus. Karena meski lari sekuat tenaga, ia tidak perlu khawatir meninggalkannya. Berlari di jalan retak, melompati pagar batu, membelah hutan, meski begitu keduanya terus berlari. Ketika napas mulai habis, pandangan kabur, pergerakan kedua kaki mulai tidak mulus, dan mulut terasa penuh rasa besi,

 

Di belakang, terdengar suara Tamamo jatuh.

 

"Ah, ......"

 

Khawatir dan menoleh, bersamaan dengan itu Yuuki juga jatuh. Keduanya jatuh berlutut di tengah jalan.

 

Karena tenaga sudah habis, sekali duduk, berdiri lagi adalah hal yang sangat sulit. Yuuki merangkak seperti anjing mendekati Tamamo dan bertanya, "Nggak apa-apa?"

 

"Lu-lutut saya, ketawa......"

 

Jawab Tamamo. Memang benar, tubuh bagian bawahnya gemetar buruburu. Tanda <sudah batasnya>.

 

"Biarin ketawa," ucap Yuuki padanya, lalu Yuuki mengawasi sekeliling. Jalan berlanjut di depan dan belakang, dan di kiri kanan, hutan belukar terbentang di seberang pagar batu. Di keempat arah mana pun, tanda-tanda Rinrin tidak ditemukan.

 

Sepertinya untuk sementara berhasil kabur. Bersama rambut yang menempel, Yuuki menyeka keringat di dahi.

 

"......Ah elah, bikin kesel aja......"

 

Sambil mencari oksigen, Yuuki mengeluh.

 

Tak disangka, bakal jadi begini. Bimbingan dari mantan pemain—ia sudah siap kalau itu tidak lembut, tapi ini sih di luar dugaan. Latar tempat yang hampir sama dengan gim asli—tidak, situasinya bisa dibilang lebih buruk. Di gim ini yang tidak melibatkan運営 (manajemen/admin), tidak ada dukungan medis setelah selesai. Manfaat <Proses Pengawetan> masih ada, tapi luka yang terjadi harus diurus sendiri. Soal itu, gimana caranya? Kalau minta agen apa bisa diurus? Apakah luka di luar gim juga bakal diurus manajemen? Rinrin sendiri gimana? Jangan-jangan seperti Hitomi atau Kirihara dulu, <Proses Pengawetan>-nya juga sudah hilang? Apakah Kokone tahu tentang simulasi gim ini? Kalau iya, pertemuan berikutnya bakal kulecehkan dia. Kalau sudah begini, apa gim ini kumasukkan saja dalam hitungan satu dari sembilan puluh sembilan kali—saat pikiran mulai beraroma pelarian dari kenyataan, Yuuki menggelengkan kepala, mengusir pikiran kacau.

 

"Maaf ya, jadi begini."

 

Lalu, ia menyapa Tamamo.

 

"Tidak, kalau saya, tidak apa-apa, kok......"

 

Jelas-jelas dengan nada sekarat yang tidak 'tidak apa-apa', Tamamo menjawab. Yuuki senang dia bilang begitu, tapi mungkin, dalam hati, dia berpikir <Nggak lucu woy>. Setidaknya Yuuki begitu. Kalau mati di gim sih mending, tapi mati karena kecelakaan saat latihan itu ogah.

 

Ngomong-ngomong, Yuuki teringat bahwa karena panik melarikan diri, ia meninggalkan barang bawaan di rumah warga tadi. Yuuki maupun Tamamo, hanya dengan pakaian yang melekat di badan. Secara teknis ada ponsel di saku, tapi saat coba cek sinyal lagi, tetap saja di luar jangkauan. Tidak bisa panggil bantuan.

 

"Ponsel Tamamo, nggak dukung telepon satelit, kan?"

 

Coba tanya sekadar memastikan, tapi dia menggeleng.

 

"Maaf, persiapannya buruk......"

 

Nggak kok, pikir Yuuki. Itu permintaan yang mustahil. Lagipula, Yuuki tidak tahu apakah smartphone bisa dipasangi fitur telepon satelit.

 

Karena rasa lelah di kedua kaki mulai hilang, Yuuki berdiri. Berpikir siapa tahu ada kesalahan dan sinyal masuk, ia mondar-mandir di sekitar, tapi yang ditemukan adalah benda yang bukan sinyal.

 

Di dalam hutan belukar, ia menemukan benda hitam.

 

Tongkat panjang ramping dengan panjang tak sampai satu meter. Kalau dilihat baik-baik sedikit melengkung, dan saat dipegang lumayan berat. Sebuah pemahaman segera turun ke benak Yuuki, jadi ia memberikan sedikit tenaga tarik pada tongkat itu.

 

Bilah pedang dengan pola gelombang menampakkan wujudnya.

 

Itu adalah katana.

 

"............"

 

Kachin, memasukkan kembali bilah pedang, Yuuki membulatkan tekad.

 

Kalau sudah begini, mau tak mau harus dilakukan.

 

Pemain buta total, Rinrin.

 

Akan kucuri teknik orang itu sebanyak-banyaknya.

 

(11/28)

 

Aturan yang dibilang Rinrin, dikonfirmasi ulang oleh Yuuki dan Tamamo.

 

Klasifikasinya, tipe pelarian. Kumpulkan perahu dan kunci yang disembunyikan di suatu tempat di pulau, dan jika berhasil kabur dari pulau ini, gim selesai. Rinrin akan menghalangi agar itu tidak terjadi. Tidak ada hal yang dilarang. Tentu saja membunuh juga OK. Rinrin menghancurkan perahu atau membuang kunci ke laut juga secara teori OK, tapi Yuuki menduga dia tidak akan melakukan itu. Karena pada tipe gim di mana <Pengganggu> muncul seperti ini, cara penyelesaian pada dasarnya tidak akan benar-benar hilang. Jika ini dibilang <Gim> dari <Pertarungan Sungguhan>, seharusnya dia mengikuti formatnya. Ia berharap begitu. Selain itu, selain perahu dan kunci, item juga disembunyikan di pulau. Baru saja berhasil menemukan sebilah katana. Mengingat itu ditemukan padahal tidak dicari, diperkirakan ada jumlah yang cukup banyak yang disiapkan. Bagian itu mungkin sesuai kata Rinrin.

 

Mendengar aturannya, ada satu hal yang langsung terpikir. Yaitu—.

 

"Terlalu luas, ya......"

 

Sambil berjalan di pulau bersama Tamamo, Yuuki berkata.

 

Bukan pulau besar. Kalau ada waktu seharian penuh, mungkin bisa keliling seluruh pulau. Secara luas tanah tidak terlalu luas, tapi, dilihat sebagai <Tempat Sembunyi>, ini terlalu luas. Kalau perahu sih mending, tapi kuncinya bisa disembunyikan di mana saja. Di dalam semak, di bawah lantai rumah warga, di atas tiang listrik, di bawah tanah. Menyuruh mencari benda kecil yang tingginya tak sampai sepuluh senti dari semua ini, mirip dengan mencari sebutir emas di padang pasir.

 

"Tanpa petunjuk apa pun...... itu agak terlalu kejam ya," Tamamo setuju.

 

Maksudnya apa ya, pikir Yuuki. Kalau meniru gim asli, harusnya ada peluang menang. Apakah kuncinya disembunyikan di tempat yang mudah dimengerti, ataukah petunjuk tempat sembunyi itu sendiri juga tersebar di seluruh pulau. Atau mungkin, berpikir bahwa ini bisa diselesaikan adalah kesalahan berpikir. Simulasi gim ini adalah untuk mengajarkan gaya bertarung Rinrin si pemain buta total. Kalau begitu, tidak aneh jika aturannya hanya hiasan.

 

"......Ah. Jangan-jangan......"

 

Tamamo berkata. Mengambil ponsel, ia mengoperasikan sesuatu dengan tuit-tuit. Menatap layar beberapa detik, "Ah, ternyata benar," wajahnya menjadi cerah.

 

"Lagi ngapain?" tanya Yuuki.

 

"Bluetooth."

 

Tamamo memperlihatkan layar ponsel ke Yuuki.

 

"Mungkin saja, memancarkan gelombang radio, pikir saya. Karena bendanya kunci."

 

Yuuki mengintip layar. Layar pengaturan Bluetooth ditampilkan. Tempat yang dibuka saat ingin menyambungkan secara nirkabel dengan perangkat sekitar seperti earphone atau komputer. Di pulau tak berpenghuni yang tak ada sinyal pun, ini berfungsi. Karena metode berkomunikasi langsung antar perangkat tanpa melalui stasiun pemancar, kondisi sinyal sekitar tidak berpengaruh.

 

Dan, di sana, ditunjukkan informasi yang menarik. Meskipun berada di pulau ini yang tidak ada penduduknya dan seharusnya tidak ada perangkat yang memancarkan sinyal, beberapa kandidat terdeteksi.

 

Namanya, dari atas—<Item 0037> <Item 0024> <Item 0118> <Item 0101>.

 

"Ini...... item kali ya."

 

"Sepertinya begitu. Mungkin dipasangi tag pencegah kehilangan atau semacamnya."

 

Yuuki melihat katana yang baru saja dipungut. Kalau diamati baik-baik, ada stiker di sarungnya. Ini pasti sumber sinyalnya.

 

Yuuki juga pernah dengar. Cerita tentang tag pencegah kehilangan yang bisa dipasangkan (pairing) dengan ponsel. Dipasang sebelumnya pada barang berharga seperti kunci, dan saat hilang, bisa memancarkan sinyal dari ponsel untuk membunyikan alarm, atau mengetahui keberadaannya dari aplikasi khusus. Tentu saja, Yuuki dan lainnya tidak melakukan pairing maupun instalasi aplikasi khusus, tapi meski begitu, sepertinya bisa menangkap sinyal sebagai perangkat yang tersedia.

 

Yang terdeteksi saat ini sepertinya hanya item biasa, tapi kemungkinan besar, perahu dan kunci yang jadi masalah juga dipasangi tag ini. Memanfaatkan fungsi komunikasi nirkabel ponsel seolah-olah dowsing. Itulah cara menaklukkan gim ini.

 

"......Ano, ngomong-ngomong," kata Tamamo. "Bukan hanya item, nama <Smartphone Yuuki> juga ditampilkan lho...... ini, ponsel Yuuki-san, kan?"

 

"Eh."

 

Yuuki memeriksa layar lagi. Benar saja, di ujung paling bawah perangkat yang terdeteksi, tertulis <Smartphone Yuuki>.

 

Itu ponsel Yuuki. Ia menggunakan nama pengaturan awal apa adanya, dan tidak punya kebiasaan mematikan Bluetooth secara rajin. Jika seseorang di sekitar membuka layar ini, otomatis, nama Yuuki akan terpampang besar-besar.

 

"Maaf lancang, tapi sepertinya lebih baik ganti nama. Karena tidak aman......"

 

"............"

 

Entah kenapa, jadi agak malu. "......Kalau bisa pulang hidup-hidup dari pertarungan ini, bakal kulakukan," Yuuki melucu.

 

Dan—saat itu.

 

Satu lagi perangkat terdeteksi oleh ponsel Tamamo.

 

Nama tampilannya—<Smartphone-ku>.

 

(12/28)

 

"......!"

 

Tamamo mengetuk layar dengan kecepatan yang hampir bisa disebut refleks tulang belakang. Mematikan Bluetooth.

 

"Ano, Yuuki-san juga—"

 

Tamamo berkata. "A, aa......" sambil menjawab, Yuuki mengambil ponsel.

 

Sambil membuka kunci layar, namun, Yuuki berpikir maksudnya apa. <Smartphone-ku>. Pasti ponsel Rinrin. Sama seperti Yuuki dan lainnya, orang itu juga memajukan gim menggunakan ponsel. Dari pengaturan nama <Smartphone-ku> saja, bisa diduga dia sudah memperhitungkan akan ditemukan oleh Yuuki dan lainnya. Tapi—gimana caranya? Kan orang itu, nggak bisa lihat? Gimana caranya mainin ponsel? Gimana caranya cari item?

 

Sudah sampai layar pengaturan Bluetooth. Saat jarinya menyentuh tombol di layar,

 

Hawa membunuh (Sakki).

 

Disusul, suara tembakan beberapa kali.

 

Secara refleks, Yuuki dan Tamamo tiarap di tempat. Sambil meringkuk kecil seperti kelinci musim dingin, Yuuki memastikan suara tembakan berbunyi delapan kali. Empat kali demonstrasi, satu kali tanda mulai, total tiga belas kali. Sepertinya sama dengan jumlah peluru yang terisi, suara tembakan tidak berlanjut lebih dari itu. Mungkin suara membuang pistol yang kehabisan peluru sampai ke telinga Yuuki melalui tanah.

 

"—Meleset ya."

 

Suara itu terdengar dari jauh.

 

"Nggak bisa nih. Kalau sudah lama, nggak semudah itu kena."

 

Selanjutnya, suara rincing-rincing lonceng juga, lama-lama terdengar.

 

Yuuki dan lainnya berdiri, menoleh ke arah suara. Yang berjalan dari ujung jalan adalah sosok dengan nuansa lembut yang memakai lonceng di kedua telinga—Rinrin.

 

Dia memegang smartphone di tangan kiri. Menggerakkan jari di atas layar, "Ara," katanya.

 

"Tamamo-san, mematikan nirkabelnya ya. Sudah sadar mekanisme gim ini? Hebat."

 

Sepertinya dia bisa mengenali informasi layar. "......Gim ini, pakai ponsel ya?" coba tanya Yuuki.

 

"Ya, benar," jawab Rinrin.

 

"Semua item dipasangi tag yang bisa dideteksi Bluetooth. Tergantung tempat sembunyinya ada juga yang sinyalnya susah sampai, tapi kalau mendekat kira-kira beberapa meter, pasti bisa tahu keberadaannya. Begitu juga dengan perahu dan kunci pintar yang memegang nasib gim. Berbeda dengan item lain, mereka diberi nama khusus, jadi kalau lihat coba dicari. ......Aa, dan juga, soal baterai jangan khawatir. Di antara item ada juga power bank kok, jadi pakailah itu."

 

Akan tetapi, lanjut Rinrin.

 

"Sama seperti kalian, aku juga pakai ponsel. Mencari item tentu saja, tapi juga seperti kali ini, memanfaatkannya untuk tahu keberadaan kalian. Saat ingin istirahat, atau saat ingin menyerangku dadakan, mematikannya adalah tindakan bijak."

 

"Rinrin-san, bisa pakai ponsel?"

 

Karena momennya pas untuk bertanya, Yuuki bertanya. "Ya," jawab Rinrin.

 

"Ponsel zaman sekarang praktis lho. Meski layar tak terlihat, begini—"

 

Rinrin mengoperasikan ponsel. Sepertinya menaikkan volume, suara terdengar sampai tempat Yuuki. <Bluetooth> <Perangkat sekitar> <Sedang memindai> <Pengaturan> <Tombol>—dengan cepat bertubi-tubi, suara sintesis yang sangat cepat berbunyi. Membacakan teks bagian yang diketuk Rinrin.

 

"Ada panduan suaranya. Memang sedikit nambah repot, tapi tidak masalah untuk pengoperasian. Kamu juga suatu saat mungkin bakal pakai, jadi ingatlah."

 

"......Jadi pelajaran."

 

Ufufu, Rinrin tertawa.

 

"Ngomong-ngomong, kamu nggak jago sama mesin ya? Yuuki-san."

 

Berkata begitu, dia mengetuk layar berkali-kali. Saat suara itu membacakan, Yuuki teringat ponselnya masih memancarkan sinyal. <Smartphone Yuuki> <Smartphone Yuuki> <Smartphone Yuuki> <Smartphone Yuuki> <Smartphone Yuuki> <Smartphone Yuuki>.

 

"He, hentikan."

 

Yuuki mematikan Bluetooth. Rinrin tertawa makin geli.

 

Dan—dengan ekspresi tetap seperti itu, dia mencabut pisau kupu-kupu dari saku.

 

"......!"

 

Yuuki buru-buru menyimpan ponsel.

 

Ganti memegang item yang baru dipungut tadi—katana, dan mencabut bilahnya. Saat sarung yang dibuang jatuh ke tanah dan mengeluarkan suara kering karankaran, Rinrin juga sudah selesai membuka pisaunya.

 

"Sudah nemu senjata ya," kata Rinrin.

 

"Pedang panjang...... bukan, katana ya? Benda yang sarungnya dibuang. Yang manapun itu, jangkauannya sepertinya lebih panjang dari punyaku."

 

Seperti biasa, dia meraba situasi pihak sini seolah-olah bisa melihat. Yuuki memberikan tenaga kuat pada kedua lengan yang memegang katana.

 

Sini katana, lawan pisau. Senjata panjang itu menguntungkan adalah prinsip dasar pertarungan, namun, saat ini, Yuuki tidak terlalu merasakan keunggulan. Ada rasa tidak nyaman dengan katana. Dulu, di gim bertema drama sejarah (jidaigeki), dia tidak becus pakai katana dan keempat anggota geraknya ditebas habis. Sejak itu, terekam di otak Yuuki sebagai pemimpin daftar senjata yang tak boleh dipakai. Ada masalah penglihatan mata kanan juga, kalau bisa, ia ingin menghindari pertarungan jarak dekat dengan lawan yang jago.

 

Tapi, dia bukan orang yang menghargai harapan naif seperti itu.

 

Rinrin berjalan pelan ke sini.

 

Satu langkah, lagi satu langkah. Bersamaan dengan itu, rin, rin, lonceng di kedua telinga berbunyi. Bunyi lonceng, langkah kaki Rinrin, dan napas Yuuki sendiri. Setiap kali ketiganya berulang, konsentrasi Yuuki makin dalam. Informasi tak perlu tersingkir dari kesadaran. Langit yang mataharinya mulai condong, hutan belukar yang bergoyang ditiup angin, benteng batu yang berjejer di kedua sisi jalan—bahkan hawa keberadaan Tamamo yang ada tepat di dekatnya pun tak terasa lagi, hanya jarak (maai) dengan Rinrin yang menjadi segalanya di dunia. Sejak memungut katana ini, dan sekarang makin jelas, garis jangkauan serang bisa dikenali dengan tajam. Saat Rinrin masuk ke dalamnya, dan hendak memulai langkah berikutnya,

 

Siap, ucapnya dalam hati.

 

Yuuki maju ke depan.

 

Mengikuti momentum itu, ia hendak menebas dari atas (Jodan).

 

Tapi—namun, seolah sudah memperhitungkannya, Rinrin juga maju ke depan.

 

Hanya dengan itu saja, jarak sudah digeser, dan Yuuki sadar tebasan ini tidak akan berjalan mulus, tapi lebih jauh lagi Rinrin merendahkan tubuh, memasang pisau secara horizontal, dan menempelkan tangan satunya ke perut pisau itu. Gerakan seperti membuat salib dengan pisau dan tangan pisau (shuto)—artinya jelas. Jika Yuuki melanjutkan tebasan ini dan mengayunkan pedang ke bawah, mata pisau itu akan tepat berada di posisi gagang katana. Tanpa susah payah menghentikan tebasan, itu akan menghancurkan jari Yuuki yang memegang katana.

 

Gawat, pikir Yuuki.

 

Tubuh bergerak berurutan dari bagian yang dekat dengan otak. Menarik leher, mengeraskan bahu, menendang tanah dengan kaki yang melangkah untuk memindahkan titik berat ke belakang, tapi tebasan itu sendiri tidak dihentikan. Menggambar lintasan bentuk bulan sabit yang setidaknya terlihat pantas, bertabrakan dengan pisau dengan suara gain yang menyedihkan. Karena tidak ada bobotnya, itu tidak membuat Rinrin kewalahan, dan dia menepis bilah pedang ke samping dan hendak melangkah masuk. Tapi, masa depan itu juga sudah diketahui Yuuki, jadi sambil mundur lebih jauh, ia mengayunkan katana ringan untuk menahan kaki Rinrin agar tetap di belakang garis tertentu.

 

Dan lagi, kembali ke jarak yang tadi.

 

"......hh."

 

Yuuki menghembuskan napas seolah memuntahkannya.

 

Lelah sekali. Padahal cuma beberapa detik, rasanya seluruh fungsi tubuh dipakai sampai ke ujung-ujung. Sampai ia mengarahkan kesadaran ke Rinrin di depan mata dan memastikan lagi kedua matanya tetap tertutup, Yuuki benar-benar lupa bahwa ini adalah adu pedang dengan manusia buta total.

 

Rinrin mengepal-buka tangan yang tidak memegang pisau. Sepertinya serangan barusan memberikan sedikit dampak (damage).

 

"Jago ya, Yuuki-san."

 

Katanya.

 

Anda juga, Yuuki tidak punya kelonggaran untuk membalas dengan kata-kata ringan.

 

"Situasinya sepertinya tidak bagus. Untuk sekarang aku permisi mundur dulu ya."

 

Berkata begitu, dia kururi, membalikkan punggung ke arah Yuuki.

 

Di depan musuh ceroboh sekali—pikir Yuuki sesaat, tapi segera sadar kritik itu tidak berlaku untuknya. Lagipula menghadap depan pun tak melihat. Bagi dia yang mengenali dunia dengan suara, belakang hanyalah berarti arah yang tangan dan kakinya susah memutar.

 

Sesuai deklarasi, dia berjalan pergi.

 

Teku-teku, seolah memamerkan diri.

 

Melihat sosok belakang itu, Yuuki berpikir. Haruskah dikejar? Situasi tidak bagus bagi Rinrin—artinya bagus bagi Yuuki. Bukankah ini saatnya memastikan kemenangan? Teknik pemain buta total. Bukankah harusnya dilihat lebih banyak lagi?

 

Namun, karena tidak bisa memutuskan, Yuuki menurunkan katana. Hanya melihat Rinrin berjalan pergi.

 

Sampai Tamamo bilang "Ayo kita juga pergi," ia tidak bisa melepaskan ketegangan tubuhnya.

 

(13/28)

 

Setelah itu.

 

Sampai matahari terbenam, Yuuki dan lainnya menjelajahi pulau.

 

Serangan Rinrin menakutkan, tapi mereka mencari item menggunakan ponsel. Senjata yang lebih mudah dipakai daripada katana, stok makanan seperti biskuit keras dan air, serta beberapa power bank berhasil didapatkan.

 

Lalu, ada kemajuan soal syarat penyelesaian yang utama. Perahu berhasil ditemukan. Di tepi laut pulau, terombang-ambing puka-puka dalam kondisi terikat tali ke batu karang. Sesuai kata Rinrin, tipe yang diaktifkan menggunakan kunci pintar. Nama tampilan perangkatnya <Ship 001>. Apakah kuncinya bakal ditampilkan <Key 001> atau semacamnya, sambil berpikir begitu, Yuuki dan lainnya mencari satu lagi, tapi lebih cepat daripada menemukannya, matahari sudah menghilang di balik cakrawala.

 

Malam telah tiba.

 

Bagi Yuuki yang menjalani hidup siang-malam terbalik, itu adalah waktu yang akrab. Namun, khusus malam ini, itu tidak lain hanyalah ketakutan.

 

Karena baru saja, ia menghadapi manusia yang lebih kuat di malam hari daripada dirinya.

 

(14/28)

 

Sepanjang siang, Yuuki dan lainnya tidak bertemu Rinrin.

 

<Smartphone-ku> muncul di ponsel mereka berdua, atau mendengar suara lonceng terjadi beberapa kali, tapi semuanya berakhir nyaris (near-miss). Tidak ada lagi bertatap muka dengannya dan beradu senjata.

 

Kenapa begitu? Fakta bahwa mereka berdua memilih lari adalah salah satu alasan, tapi fakta Rinrin tidak mengejar juga ada. Kenapa tidak mengejar? Seperti yang pernah dibilangnya, mungkin dia berpikir <situasi tidak bagus>. Kalau begitu, apa yang dia tunggu? Kondisi optimal apa yang baginya?

 

Jawabannya jelas. Sekarang, saat ini.

 

Waktu malam.

 

Pemain buta total, Rinrin. Malam adalah waktunya. Karena matanya tidak melihat, ada atau tidaknya cahaya sama sekali tidak memengaruhi gerakannya. Sebaliknya Yuuki dan lainnya—meskipun Yuuki membanggakan diri berteman lama dengan malam, performanya pasti turun dibanding siang hari. Situasi di mana mangsa melemah. Rinrin pasti menunggu itu—. Yuuki dan Tamamo memiliki pandangan yang sama sejak siang tadi.

 

Karena itu, bagaimana cara melewati malam menjadi tugas saat ini. Tidur itu di luar pembahasan. Karena kewaspadaan terhadap sekitar jadi lemah, melanjutkan pencarian juga berbahaya, berada di luar ruangan juga berbahaya. Oleh karena itu, diputuskan untuk menunggu di salah satu rumah warga yang terbengkalai di pulau. Tentu saja itu tempat yang pertama akan dicari Rinrin juga, tapi karena jumlah rumahnya lumayan banyak, dia tidak akan bisa mengelilingi semuanya dalam semalam, dan kalau tahu dia akan datang, bisa juga pasang perangkap dan menunggu. Lagipula, karena tidak bawa baju hangat yang layak, ada juga alasan tidak ingin menunggu di tempat yang tak terlindung hujan angin, tapi ya sudahlah.

 

Yuuki dan Tamamo menunggu fajar di salah satu kamar rumah warga.

 

Tentu saja, ponsel dimatikan total. Berdua membungkus diri dengan selimut kotor yang nyaris tidak bisa ditemukan di dalam rumah, memastikan kehangatan minimal. Bergantian tidur sebentar (nap), bersembunyi di kegelapan.

 

"Nggak dingin?"

 

"Dingin, tapi, tahan kok......"

 

Yuuki dan Tamamo, bicara kosyo-kosyo dengan suara kecil.

 

"Besok, kita cari sisi barat pulau. Kalau kecepatannya sama dengan hari ini, sampai siang harusnya bisa keliling semua."

 

"Iya ya......"

 

Dalam satu hari ini, sudah mencari kira-kira setengah pulau. Pulau kecil yang bisa dikelilingi dalam sehari penuh, tapi karena saat tiba di pulau sudah lewat tengah hari, tidak bisa mencakup seluruh area sampai matahari terbenam. Besok, berangkat bersama matahari terbit, pencarian bisa selesai sebelum tengah hari, itulah perhitungan Yuuki.

 

Meskipun, walau seluruh pulau dicari, belum tentu kuncinya ketemu sih—.

 

"Ngomong-ngomong, bagaimana dengan tujuan satu lagi?" tanya Tamamo.

 

"Dari taktik Rinrin-san, apakah ada yang didapat? Meskipun bentrokan sesungguhnya, masih nanti, rasanya."

 

Benar juga, pikir Yuuki. Sempat lupa, tapi itu tujuan utamanya.

 

"Gimana ya......"

 

Ada banyak yang dirasakan, tapi belum dirangkum dalam kata-kata. Menggunakan waktu sebentar untuk menyusun pikiran, "Setelah coba bertarung langsung, untuk sementara, ada satu yang kupikirkan."

 

"Ya."

 

"Meski nggak lihat, rasanya itu nggak terlalu jadi nilai minus."

 

"......Begitu kah?"

 

"He-eh. Meski nggak lihat, dia menutupinya dengan pendengaran sampai batas tertentu, kan. Nggak mungkin kan lari frontal sambil teriak weei terus pukul boko. Harus mendekat sambil waspada, siap menerima serangan balik yang lumayan. Sama seperti yang dilakukan pada orang yang bisa melihat."

 

Yuuki melanjutkan.

 

"Nah, masalahnya, seberapa besar kewaspadaannya itu...... Ini yang nggak jelas. Soalnya, kita nggak bakal bisa paham perasaan orang yang melihat dunia dengan suara. Seberapa detail bisa dikenali, dari mana yang nggak bisa dikenali, nggak ada bayangan. Pasti akurasinya nggak sebaik mata, tapi seberapa nggak baiknya itu samar. Makanya, nggak gampang ambil posisi unggul."

 

Setidaknya, tidak diragukan lagi dia bisa mengenali sampai taraf yang cukup tinggi. Saat pertarungan siang tadi, Rinrin membaca waktu Yuuki mengayunkan Jodan dengan sempurna, bahkan menyesuaikan bilah pisau di lintasannya. Kalau sampai bisa begitu, terpaksa harus dihadapi dengan asumsi dia melihat sepenuhnya.

 

"Lagipula, secara parsial, ada bagian yang indranya lebih unggul daripada melihat dengan mata. Info cahaya cuma masuk dari depan, tapi kalau info suara bisa diterima dari segala arah."

 

Misalnya, pada pertarungan siang hari, Rinrin memperlihatkan punggung pada Yuuki. Bukti bahwa serangan mendadak dari belakang tidak menjadi serangan kejutan baginya.

 

"Kesimpulannya, dia punya kemampuan yang lebih dari cukup untuk menutupi apa yang seharusnya jadi minus. Sangat susah dihadapi."

 

"Peluang menangnya bagaimana? Apa ada cara penaklukan yang ketemu?"

 

"Untuk saat ini, satu saja."

 

Yuuki membuat bentuk pistol dengan tangan kanan.

 

"Kalau dibawa ke adu tembak, kupikir bisa ambil untung. Orang itu, nembak delapan kali, tapi nggak ada satu pun yang kena ke sini, kan? Meski ngeles bilang <karena sudah lama nggak kena> atau apa, itu pasti kelemahannya. Kalau dibawa ke baku tembak, kemungkinan menang tinggi."

 

Jika jarak menjauh, suara melemah. Jika target berjarak lebih dari tertentu, mungkin posisi akurat tidak bisa diketahui lagi. Tak disangka, dibanding jarak dekat, Rinrin lebih lemah di jarak menengah/jauh.

 

"Begitu ya," Tamamo mengangguk.

 

"Terus, ada hal lain yang mengganjal juga sih......"

 

"? Apa itu?"

 

"Nggak, itu, aku sendiri juga nggak paham. Rasanya ada yang nyangkut, tapi......"

 

Itu juga hal yang dirasakan sejak bertemu Rinrin. Pada situasi ini, pada keberadaan dirinya, merasakan sesuatu yang aneh. Merasa bahwa di ujung keraguan itu ada sesuatu yang menuntun pada kemenangan simulasi gim ini, karena itulah sepanjang hari ini, kadang-kadang Yuuki mengarahkan pikiran ke sana, tapi wujud aslinya tak kunjung diketahui.

 

Akhirnya, saat ini pun, tidak bisa sampai pada jawaban.

 

Suara rin, rin terdengar dari luar pintu.

 

(15/28)

 

Sepertinya bukan suara jangkrik.

 

Rinrin datang. Saat malam, jadi makin mudah dimengerti. Meski tidak selevel dia, pendengaran pihak sini juga jadi tajam.

 

Yuuki dan lainnya pasang telinga. Rin, rin, suara berlanjut dengan tempo tetap. Berjalan mengelilingi rumah—sepertinya. Mungkin sedang mencari tanda-tanda ada orang masuk.

 

Setelah satu putaran, suara lonceng terputus.

 

Dan, terdengar suara membuka fusuma.

 

Masuk. Dari engawa. Yuuki dan lainnya keluar dari selimut, mengambil pistol. Yuuki pakai pistol otomatis, Tamamo pakai revolver. Karena kelemahan Rinrin adalah adu tembak, strateginya menggunakan itu sebagai senjata utama, tapi selain itu, mereka membawa peralatan sebanyak mungkin dalam batas yang tidak mengganggu gerak.

 

Nah—pilihannya dua. Menyambut serangan, atau kabur. Siang tadi Yuuki menghindari pertempuran, tapi kali ini ia memutuskan memilih yang pertama. Meski ada kerugian waktu malam, di rumah warga ini keuntungan lokasi ada di pihak sini. Jika pikiran Yuuki benar, tanpa mengalahkan dia, simulasi gim ini tidak bisa diakhiri. Inilah saat penentuan, ia membulatkan tekad.

 

"Sekarang, kaburlah."

 

Yuuki menginstruksikan Tamamo.

 

"Diam-diam, menjauhlah dari rumah ini. Besok pagi, kita ketemu di depan perahu itu."

 

"Baik. Semoga berhasil, saya berdoa dari lubuk hati."

 

Tamamo memberi hormat, dan keluar ruangan dari arah berlawanan dengan suara lonceng. Karena menggunakan langkah senyap (shinobi-ashi), segera, langkah kaki maupun hawa keberadaannya tak terasa lagi.

 

Setelah membiarkan Tamamo kabur, Yuuki kembali pasang telinga. Suara lonceng masih terdengar. Suaranya lebih besar dari tadi, tahu kalau sedang mendekat ke ruangan ini.

 

Di antara item yang ditemukan Yuuki dan lainnya, ada juga kit perangkap. Busur silang (bowgun), perangkap beruang (torabasami), kawat, dan lain-lain, sudah dipasang semampu mungkin. Dari engawa sampai ruangan ini seharusnya dia melewati beberapa, tapi tidak menaruh banyak harapan. Kalau lawan bisa dikendalikan dengan segitu sih nggak bakal susah.

 

Oleh karena itu, Yuuki berpikir dengan premis bertarung dengan Rinrin. Satu langkah pertamanya, tindakan apa yang akan dilakukannya untuk membuka pertempuran, Yuuki sudah punya prediksi. Satu langkah pertama yang dilepaskan manusia yang tak melihat mata dalam pertarungan ruangan tertutup. Kemungkinan besar, itu. Tidak ada dasar tapi ada keyakinan. Yuuki percaya pada intuisi di saat seperti ini. Sebagaimana Rinrin menguasai cara melihat dunia dengan suara, Yuuki juga punya sistem kognitif yang ditempa dari pengalaman pemain selama ini.

 

Karena itu, saat suara lonceng mendekat ke ruangan, Yuuki menyembunyikan diri di balik lemari yang ada di ruangan. Menutup kedua mata dengan goggle yang juga ditemukan di pulau, dan menempelkan selimut yang dilapis-lapis dengan kuat ke kedua telinga. Pendengaran hampir hilang total, tapi dari getaran yang merambat melalui tatami, ia tahu fusuma ruangan terbuka sedikit, dan sesuatu dilemparkan masuk dari sana.

 

Tak lama kemudian, ruangan dipenuhi cahaya dan suara.

 

(16/28)

 

Melepas penutup telinga (earmuff), Rinrin menerobos masuk ke ruangan.

 

Sambil berlari, membuka pisau kupu-kupu. Fakta bahwa Yuuki bersembunyi di ruangan ini, dan bersembunyi di balik lemari sudah diketahui. Dengan satu serangan barusan—granat cahaya (flashbang) orientasinya pasti hilang, jadi jika pisau ditusukkan ke leher yang tak berdaya itu, pekerjaan Rinrin selesai—.

 

Seharusnya begitu.

 

Namun, karena hawa membunuh yang dirasakan dari dalam ruangan, peta masa depan terpaksa direvisi.

 

Rinrin kembali ke lorong. Sesaat setelah menyembunyikan diri di posisi yang tidak terjangkau garis tembak dari ruangan, ia mengenali suara tembakan dan peluru yang menembus fusuma. Jika gerakan menghindar terlambat sedikit saja, peluru itu pasti sudah menembus tubuh Rinrin.

 

Ufufu, Rinrin tertawa.

 

"Yuuki-san—bangun ya?"

 

Lalu, bertanya. Dengan jeda waktu sekitar satu tarikan napas,

 

"Sudah kuduga sih. Aku bertahan."

 

Balasan kembali.

 

Getaran buruburu menyerang tubuh Rinrin. Barang bawaan bergetar. Rinrin memasukkan tangan ke saku, memastikan sumber getaran adalah benda itu.

 

Kunci pintar (smart key).

 

Gantungan kunci berukuran hampir sama terpasang padanya. Tag yang dipasang pada item. Secara teknis, yang memancarkan getaran adalah yang ini. Dia hanya bergetar saat berhasil melakukan pairing dengan perangkat. Tentu saja, karena Rinrin tahu sendiri dia tidak melakukan operasi itu, pelakunya terbatas pada satu orang.

 

"Ternyata, sudah mengamankan kuncinya, ya."

 

Yuuki berkata. "Ya," jawab Rinrin.

 

Sedikit sebelum matahari terbenam, ia menemukannya tersangkut di tiang listrik. Membuang kunci ini ke laut atau menghancurkannya akan membuat gim tidak berbentuk jadi tidak baik, tapi mengamankan dan menambahkannya ke badan sendiri, itu masih dalam batas toleransi.

 

"Kalau tidak mengalahkanku, nggak bisa clear lho."

 

"......Sepertinya begitu."

 

Tanpa mendengar suara pun, tahu kalau dia mengarahkan pistol.

 

Rinrin membuat hatinya bergejolak. Situasi ini terus, sejak mendapat kontak dari Kokone terus, Rinrin bayangkan. Bertarung dengan anak muda yang punya masa depan dengan membuka seluruh kartu di tangan. Segala teknik dicuri dengan mudah oleh daya serap muda, dan, pada akhirnya—.

 

"Tamamo-san tidak ada ya?"

 

Rinrin mencoba tawar-menawar dengan kata-kata.

 

"Apa sembunyi di dalam lemari? Atau ada di ruangan lain? Apa yang direncanakan? Fufu, menantikan ya......"

 

"......? Ngomong apa sih?"

 

Namun, Yuuki menjawab begitu.

 

"Kalau dia, sudah kusuruh lari dari tadi."

 

"......Eh?"

 

"Pertarungan ini, demi saya pribadi. Dia tidak ada hubungannya...... Kalau menyeret dia dan bikin mati, gawat kan."

 

"............"

 

Oya-oya, pikir Rinrin.

 

Sedikit, jadi ilfeel. Sepertinya dia belum serius sampai dasar hati. Kalau diperlakukan begitu, pihak sini terpaksa harus mengambil langkah yang setimpal, kan.

 

"Disuruh lari? Karena tak ingin dia mati?" tanya Rinrin.

 

"......Ada yang aneh?" Yuuki balik bertanya.

 

"Bodoh ya, Yuuki-san."

 

Rinrin berkata sambil tertawa sinis.

 

"Kalau tak ingin dia mati, harus ditaruh di dekatmu dong, jangan dilepas."

 

Mengambil granat cahaya kedua, dan mencabut pinnya.

 

(17/28)

 

Suara granat cahaya kedua menggelinding di tatami terdengar.

 

Yuuki buru-buru mengambil posisi bertahan. Seolah waktu berjalan mundur, meletakkan pistol, menurunkan goggle, dan menutup kedua telinga dengan selimut.

 

Ledakan dan kilatan cahaya, seketika, menyerang Yuuki.

 

Sesaat berlalu. Sambil ganti memegang pistol dari selimut, Yuuki mencari kondisi di luar ruangan.

 

Namun—tanda-tanda Rinrin tidak ditemukan.

 

"Apa......!?"

 

Yuuki memasang telinga. Terdengar langkah kaki yang menjauh dan suara lonceng yang menjauh. Artinya Rinrin menjauh. Tapi, kenapa? Apa maksudnya? Padahal Yuuki ada di sini—.

 

Yuuki teringat percakapan beberapa detik lalu.

 

Rinrin, pergi mengejar Tamamo.

 

Fakta itu membuat kaki Yuuki melangkah ke luar ruangan. Mengejar langkah kaki Rinrin, berlari di lorong, keluar dari rumah warga. Pulau terpencil tengah malam yang tak ada satu pun lampu jalan—wilayah yang seharusnya dinilai berbahaya untuk berkeliaran melawan pemain buta total, Yuuki melangkahkan kaki ke sana.

 

Atau lebih tepatnya, terpaksa melangkah.

 

Sambil mengejar langkah kaki Rinrin yang terdengar dari arah halaman, Yuuki berpikir. Masa—nggak mungkin—mengincar Tamamo. Sebagai taktik bisa dimengerti. Kalau terbagi dua, teori dasarnya adalah pukul yang lemah dulu. Dibanding Yuuki yang menunggu di dalam ruangan, mengincar Tamamo di luar ruangan mungkin lebih mudah. Ada juga efek bisa menyeret Yuuki keluar ruangan demi melindungi muridnya. Langkah bagus yang bisa dapat berbagai keuntungan sekaligus.

 

Tapi, tidak disangka dia benar-benar memilih itu. Masih, di suatu tempat di hati, ada pikiran bahwa ini berbeda dengan gim sungguhan. Tamamo hanyalah pendamping Yuuki, posisi yang terseret, dan tentu saja, dianggap tidak termasuk dalam target Rinrin—. Mulai saat ini, Yuuki sadar. Dia serius. Tanpa campuran apa pun, ini pertarungan sungguhan.

 

Sambil memikirkan hal itu, Yuuki menuruni tangga yang dibuat di pinggir jalan.

 

Tangga sempit khas jalan pedesaan. Turun dengan kecepatan tinggi menggerakkan kedua kaki secara detail, dan beberapa anak tangga terakhir dilompati, mendarat di jalan satu tingkat di bawah.

 

Tapi—terlambat menyadari bahwa itu adalah kesalahan.

 

Dari dalam kegelapan, terdengar suara tembakan.

 

Secara refleks, Yuuki menekuk lutut. Situasi sama dengan siang hari. Rinrin yang memahami dunia dengan suara, tidak bisa membidik target jauh dengan akurat—.

 

Namun, hasilnya berbeda dengan siang hari.

 

Sekitar separuh dari jumlah tembakan beruntun, kena. Salah satunya sepertinya menembus kaki, membuat Yuuki sampai jatuh di tempat. "Gah, ah—" hampir berteriak, tapi ditahan mati-matian.

 

"Baik sekali ya, Yuuki-san."

 

Dari arah yang sama dengan datangnya peluru, terdengar suara.

 

Suara lonceng dan langkah kaki menyusul. Di jarak yang nyaris bisa dipastikan dengan mata telanjang Yuuki, sosok Rinrin terlihat.

 

"Tapi, tidak bagus ya. Aku tahu kamu khawatir sama muridmu, tapi <suara> itu setidaknya harus sebisa mungkin dihindari. Kalau bukan aku pun, posisimu ketahuan lho."

 

Begitu ya—Yuuki sadar. Jika suara menuruni tangga berhenti, momen itu, target berada di mulut tangga bawah. Tempat keberadaan dipastikan di satu titik. Hanya dengan arah suara informasinya kurang, tapi dari sifat suara, posisinya bisa diketahui.

 

<Suara> yang memastikan koordinat Yuuki. Rinrin mengincar itu.

 

Apakah pergi mengejar Tamamo itu gertakan untuk memancing suara ini? Atau, jika Yuuki tidak termakan pancingan, saat itu dia benar-benar berniat membunuh Tamamo? Yang manapun, langkah yang menguntungkan ke mana pun jatuhnya. Telak, kena dikerjai.

 

"Gimana ya enaknya," kata Rinrin.

 

"Meski dibilang <pertarungan sungguhan>, lanjut lebih dari ini mungkin bertentangan dengan tujuan awal ya. Kalau benar-benar dibunuh, nggak ada gunanya dilakukan sampai sejauh ini kan."

 

Pernyataan yang memperlihatkan secercah harapan, tapi "Tapi," lanjut Rinrin.

 

"Habis diperlihatkan yang barusan, jadi kerasa ingin bunuh saja sekalian, ya. Toh meski dibiarkan hidup, lambat laun hasilnya bakal sama saja......"

 

Buwari, hawa membunuh melayang, Yuuki merasakannya.

 

"Ya. Memang sebaiknya, kita bunuh saja ya."

 

Gawat, pikir Yuuki. Orang ini, benar-benar niat.

 

Berkat <Proses Pengawetan> darah berhenti. Masih bisa gerak, dan kalau cuma genggam pistol masih bisa. Tapi, dengan postur yang tidak bisa menopang rekoil ini, sulit untuk kena dengan telak. Meski menantang adu tembak, keunggulan sudah berbalik.

 

Meski begitu harus dilakukan, pikir Yuuki, dan hendak mengarahkan pistol tapi—.

 

Saat itu, dari arah yang bukan depan, suara tembakan menggelegar.

 

(18/28)

 

Ditembak, pikir Yuuki sesaat. Yuuki tersentak.

 

Tapi, berlawanan dengan kekhawatiran, tubuh tidak melaporkan rasa sakit. Bukan berarti—tidak kena. Memang, itu bukan satu tembakan yang mengincar Yuuki. Suara tembakan, dan cahaya moncong senjata, berasal dari dalam hutan belukar di pinggir jalan. Bukan dia yang menembak.

 

Tentu saja, bukan Yuuki yang menembak. Kalau begitu kandidat tersisa hanya satu orang.

 

"Jangan bergerak!"

 

Suara Tamamo bergema di kegelapan.

 

"Buang senjata! Segera pergi dari sini!"

 

Gerak atau nggak gerak nih yang mana, pikir Yuuki. Pasti, dia tidak terbiasa dengan situasi begini. Meski begitu, Yuuki paham apa yang coba dilakukannya, dan bersyukur.

 

Bantuan datang. Mendengar suara tembakan, dia kembali.

 

Di dalam kegelapan, bayangan Rinrin bergerak. Mungkin mengarahkan senjata. Tapi—dia tidak menembak. Sepertinya tidak bisa menentukan posisi Tamamo dengan jelas. Pada pertarungan siang hari Rinrin menembak membabi buta dalam kondisi itu, tapi jika waktu malam, melakukan hal yang sama itu berbahaya. Karena cahaya mesiu akibat tembakan akan memberitahukan keberadaan diri sendiri.

 

Lama-kelamaan, hawa keberadaan menghilang dari depan Yuuki.

 

Rinrin, pergi.

 

"......Yuuki-san!"

 

Hal itu sepertinya dirasakan juga oleh Tamamo, dia memanggil nama Yuuki. Terdengar langkah kaki yang hendak berlari ke sini, tapi,

 

"Jangan datang!"

 

Yuuki berusaha keras mengeraskan suara.

 

"Aku yang akan, ke sana......"

 

Berkata begitu, ke arah yang diperkirakan ada Tamamo—arah terlihatnya pembakaran mesiu, Yuuki merangkak. Bukan harga diri sebagai guru yang membuatnya begitu, tapi karena waspada terhadap Rinrin. Mempertimbangkan kemungkinan dia masih menahan napas di sekitar.

 

Melewati pagar batu, Yuuki masuk ke hutan belukar. Salah satu kakinya sakit, tapi menopang berat badan dengan pohon-pohon, entah bagaimana bisa maju. Segera bisa bergabung dengan Tamamo. Melihat sosok Yuuki dari dekat, dan sepertinya memahami lukanya, Tamamo bertanya "......Kondisi lukanya?"

 

"Nggak sampai nggak bisa gerak kok......" jawab Yuuki.

 

Sambil dipinjami bahu oleh Tamamo, Yuuki bergerak. Keluar dari hutan, berjalan di jalan raya, pokoknya lari jauh. Memanfaatkan indra yang menjadi tajam berkat rasa sakit untuk mencari sekitar, tapi hawa keberadaan Rinrin maupun suara lonceng tak terdeteksi. Untuk sementara sepertinya dia mundur. Karena Yuuki dan lainnya waspada agar tidak mengeluarkan <suara> yang bermasalah, mungkin tidak mudah untuk menyerang.

 

Yuuki menatap Tamamo. Dalam kondisi dipinjami bahu, yang terlihat adalah wajah sampingnya. Wajah sampingnya juga manis. Ada gunanya juga datang menolong. Tidak—hasilnya malah sebaliknya jadi ditolong, mungkin tidak bisa dibilang fakta, tapi setidaknya fakta dia mengkhawatirkan Yuuki dan melompat keluar dari rumah warga itu benar. Meskipun baru sebentar jadi murid, dirinya sendiri kaget, ternyata dia menganggapnya cukup berharga.

 

Ternyata menganggap begitu.

 

Jadi kacau, pikirnya. Situasinya jelas gim, tapi bukan gim sungguhan. Tidak bisa menurunkan keputusan sebagai pemain. Kalau ini sungguhan, pilihan membuang Tamamo pun bisa diambil, tapi Yuuki yang sekarang tidak mungkin melakukannya.

 

Baik sekali ya, Yuuki-san.

 

Kata-kata Rinrin, masih tersisa di telinga sekarang.

 

Sesuai yang ditunjukkan. Terlepas dari soal Tamamo, dirinya masih belum serius. Mungkin bukan sikap orang yang mau belajar. Teknik pemain buta total—kalau serius ingin menguasai, mungkin harus lebih serius lagi.

 

Bahkan mengasumsikan situasi kehilangan nyawa sendiri, kata Rinrin.

 

Kalau begitu, Yuuki juga harus menghadapi dengan semangat yang setimpal—.

 

"......Hm?"

 

Dan, di situ.

 

Di dalam otak Yuuki, terasa seperti ada percikan api.

 

Terhubung. Entah itu sinapsis atau neuron, sensasi bagian tertentu di otak menyala berurutan. Hal yang membuat Yuuki bingung belakangan ini, wujud asli dari hal yang mengganjal di hati, ketahuan.

 

Segera, dijadikan kata-kata. "Ngomong-ngomong, orang itu, kenapa pensiun?"

 

"Eh?"

 

Tamamo melihat ke sini. "Orang itu, mantan pemain, kan?" Yuuki menambahkan penjelasan.

 

"Saat ini, sudah bukan pemain lagi. Kenapa dia berhenti ya, pikirku......"

 

"Itu, karena...... penglihatannya......"

 

Sampai situ, Tamamo sepertinya juga sadar.

 

Ya. Itu tidak mungkin jadi penyebab pensiun. Gara-gara ada kekurangan yang mudah dimengerti yaitu penglihatan, entah kenapa itu terhubung dengan fakta pensiun, tapi kalau dipikir baik-baik orang itu, setelah kehilangan penglihatan pun masih lanjut jadi pemain. Alasan mundur dari garis depan, ada di tempat lain.

 

"Kelihatannya bukan orang yang bakal berhenti karena hal sepele sih......" kata Yuuki.

 

Seperti Hitomi atau Kirihara, dan guru Yuuki si Hakushi, orang yang pensiun dari pemain tidaklah jarang. Ada yang terpaksa karena luka, ada juga yang mundur karena takut menghadapi <Dinding Tiga Puluh>. Pemain seperti Yuuki yang memutuskan <lanjut sampai mati> justru minoritas. Di dunia gila pun, mereka kelompok yang gila luar biasa.

 

Dan menurut pandangan Yuuki, Rinrin pasti manusia golongan itu. Sifat pemain dari tulang sumsum. Tipe orang yang khas <lanjut sampai mati>. Karena meski mata tak melihat pun lanjut, kecuali ada alasan yang sangat besar, tidak mungkin berhenti.

 

Tapi, kenyataannya Rinrin berhenti.

 

Menunjukkan tubuh yang gagal mati itu pada Yuuki dan lainnya.

 

Apa artinya? Kasus yang mungkin terjadi apa?

 

"......Jangan-jangan."

 

Yuuki, bergumam.

 

Di dalam hati, merasakan respons yang pasti.

 

(19/28)

 

Di rumah warga yang terbengkalai di pinggir pulau.

 

Di salah satu rumah itu, Penyuplai (Choutatsuya) sedang menunggu.

 

(20/28)

 

Pekerjaan pria itu disebut Penyuplai.

 

Dunia gim yang menjadikan kesedihan gadis-gadis sebagai tontonan—ia berada di industri sekitarnya. Sama seperti pengrajin tubuh buatan (gitai), atau tukang tato seperti Kirihara, salah satu orang yang mengincar dompet pemain.

 

Pekerjaannya, sesuai namanya, adalah <Menyuplai> barang yang diminta. Dari buah di luar musim, sampai kartu keluarga baru, jenis barang tidak masalah adalah nilai jual pria itu, tapi karena posisinya, sering diminta barang ilegal. Dalam kasus ini, kliennya adalah mantan pemain sekaligus kenalan lama si Penyuplai, Rinrin. Barang yang diminta adalah pulau terpencil untuk mewujudkan simulasi gim, dan berbagai item untuk disebar di sana. Dan—keberadaan Penyuplai sebagai <Kolaborator> yang membantu Rinrin.

 

Karena itu, Penyuplai sendiri juga berada di pulau ini yang menjadi panggung simulasi gim.

 

Menunggu di salah satu rumah warga terbengkalai di pinggir pulau.

 

Ruangan yang remang-remang. Lampu tidak menyala, dan jumlah cahaya yang masuk dari fusuma yang sedikit terbuka juga sedikit. Karena saat ini sebelum matahari terbit. Namun demikian, sosok Penyuplai yang duduk di tatami diterangi dengan terang. Monitor yang ditaruh di depan pria itu adalah sumber cahayanya.

 

Di monitor, gambar pulau terpampang. Menerima gambar kamera secara real-time, dan seharusnya pemandangan remang sebelum fajar yang terlihat, tapi karena koreksi mode penglihatan malam (night vision), terlihat seolah siang hari. Dari bagian atas monitor dua antena berdiri tegak. Tipe yang berkomunikasi nirkabel dengan kamera secara mandiri tanpa butuh jaringan internet.

 

Gambar itu, saat ini pun bergerak. Karena kameranya bergerak. Dipasang dalam bentuk kamuflase di kancing baju Rinrin, mengirimkan gambar yang dilihatnya—atau lebih tepatnya—gambar yang seharusnya bisa dilihat jika penglihatan Rinrin normal, kepada Penyuplai tanpa henti. Karena ukurannya kecil, tidak akan ketahuan kecuali diamati dari dekat, dan mencurigai adanya kamera itu sendiri sulit. Karena bagi Rinrin yang harusnya tak bisa melihat, barang seperti kamera tidak cocok dengan citranya.

 

Kamera pengawas, dan <Penonton> yang menonton gambar melaluinya—keberadaan yang wajar dalam <Gim>, tapi dalam simulasi gim ini memegang peran berbeda. Untuk mewujudkan <Gertakan> yang diinginkan Rinrin, untuk membantu kebohongan besar yang dilakukannya, Penyuplai dan segalanya ada di sini.

 

Pemain buta total, Rinrin.

 

Siapa yang bakal mengira?

 

Bahwa dia, bukan hanya tidak melihat, tapi telinganya pun tidak mendengar.

 

(21/28)

 

Secara teknis, bukan sama sekali tidak mendengar.

 

Jika begitu, kebohongan besar ini pun tak bisa dilaksanakan. Telinga kiri memang tuli total, tapi telinga kanan, dengan bantuan alat bantu dengar, mendapatkan pendengaran tingkat tertentu. Hanya saja, kemampuan yang mutlak diperlukan untuk beraktivitas sebagai pemain—kemampuan menelusuri lingkungan sekitar dari pantulan suara, sudah tidak bisa diharapkan lagi.

 

Rinrin kehilangan pendengaran kira-kira setahun setelah kehilangan penglihatan.

 

Saat di mana namanya mulai dikenal sebagai pemain buta total. Pada titik itu, registrasi pemainnya dihapus. Ya wajar saja. Mata tak melihat, telinga tak mendengar, manusia begitu diikutkan gim buat apa? Admin yang merupakan ujung tombak organisasi tak manusiawi pun, sepertinya punya akal sehat segitu. Rinrin sendiri sepertinya ingin lanjut, tapi pihak admin tidak lagi mengizinkan partisipasi. Yang tersisa hanyalah manusia yang bukan cuma penglihatan dan pendengaran, tapi cita-cita pemainnya pun dirampas, seorang diri.

 

Karena latar belakang itu, dia mengenali dunia dengan cara yang sama sekali berbeda dari masa aktifnya. Secara spesifik, menerima pemandangan depan dengan kamera kecil yang dipasang di kancing baju Rinrin. Gambar diterima dulu oleh Penyuplai, lalu mengirim instruksi satu per satu ke transceiver yang disimpan di saku Rinrin. Transceiver itu terhubung nirkabel dengan earphone berfitur alat bantu dengar yang terpasang di telinga kanan Rinrin, jadi kata-kata Penyuplai sampai ke telinganya. Meski sama-sama suara, yang didengarnya bukan <pantulan suara> tapi <kata-kata>. Seolah membaca novel, Rinrin memahami dunia dengan informasi kata-kata.

 

Tidak—<Memahami> mungkin kata yang terlalu bagus. Dibandingkan melihat dan mendengar langsung, penyampaian informasi lewat kata-kata sangat tidak praktis. Kenyataannya, rentetan situasi berbahaya yang bisa berakhir kapan saja. Dengan rambut Rinrin keberadaan alat bantu dengar bisa disembunyikan, tapi siang hari saat saling tebas dengan Yuuki, dia hanya bisa menyampaikan fakta dia pegang katana dan perkiraan jarak (maai), dan setelah itu Rinrin pergi sambil memperlihatkan punggung adalah gertakan total. Kalau diserang dari belakang, pasti kalah dengan mudah. Pertarungan kedua tengah malam pun, menghindari perangkap yang dipasang di rumah warga hampir semuanya berkat intuisinya, dan pura-pura mengejar Tamamo adalah kebohongan besar total, serta bisa lari jarak jauh tanpa jatuh atau nabrak itu perbuatan ajaib. Informasi yang terlalu kurang, ditutupi dengan intuisi zaman pemain dan nyali gila. Itulah, kebenaran dari dia yang mengaku pemain buta total.

 

Singkatnya, semuanya hiasan belaka.

 

Tentu saja, bukan berbohong besar ini dengan niat jahat. Jika melihat satu kebenaran dalam perilaku Rinrin, itu adalah niat hati untuk mewariskan seluruh tekniknya pada Yuuki. Mereproduksi teknik masa aktif secara semu, sekaligus memamerkan tata cara gertakan yang wajib bagi pemain dengan kekurangan (handicap). Tak diragukan lagi, dia melakukannya dengan serius.

 

Secara harfiah, melakukannya dengan niat mati.

 

Saat dapat kontak dari Rinrin setelah sekian lama, Penyuplai sangat kaget. Karena dia yang seharusnya jadi cangkang kosong sejak berhenti jadi pemain, jadi ceria seolah kembali ke masa lalu. Saat tanya detail, sepertinya dia diminta mewariskan tekniknya pada pemain yang punya masalah penglihatan sama dengannya—Yuuki. Sepertinya belum ketemu, tapi Rinrin menunjukkan empati kuat pada Yuuki. Ingin melakukan tanpa kompromi, jadi tolong bantu, katanya dengan berapi-api.

 

Mungkin niatnya mati, pikir Penyuplai samar-samar.

 

Mewariskan segalanya ke generasi penerus, dan setelah itu, minta dibunuh.

 

Itulah, satu-satunya harapan yang bisa ditemukannya saat ini.

 

Di dunia gim, itu adalah hal yang banyak dilakukan. Bukan hal aneh. Tokoh yang bertahan hidup bertahun-tahun—apalagi pemegang skill langka seperti Rinrin, membiarkan tekniknya punah adalah kerugian bagi dunia. Bagi dia yang mantan pemain, membuang nyawa dengan sukarela pun bukan apa-apa.

 

Tapi, ada yang aneh ya, pikir Penyuplai juga. Harapan sih harapan, tapi itu harapan jenis yang agak aneh bukan. Kalau diumpamakan, seperti budak yang tak tahan kerja paksa kejam, lalu nekat menerjang gerombolan sipir yang bawa senjata api—harapan jenis itu bukan. Bukankah itu harapan untuk jadi tenang. Bukankah itu harapan yang tinggal bertetangga dengan keputusasaan.

 

Ada yang ingin dikatakan, sebenarnya.

 

Tetapi, Penyuplai tidak menghentikan Rinrin. Sesuai permintaannya, menyiapkan panggung, dan saat ini sedang meminjamkan tangan padanya.

 

"......Bakal jadi gimana ya akhirnya......"

 

Tepat setelah Penyuplai bergumam pelan begitu.

 

Terdengar suara garagara pintu depan dibuka.

 

Seseorang masuk. Sambil membuat suara kasar penyusup berjalan di lorong, dan dan, dan, dan, dan, membuka fusuma satu per satu. Tindakan itu sampai ke ruangan tempat Penyuplai berada. Dengan kekuatan yang membuatnya memantul kembali sekitar dua puluh persen saat kena tembok, fusuma dibuka lebar.

 

Yang ada di sana—bukan Rinrin.

 

(22/28)

 

Rinrin, menabrak pagar batu.

 

(23/28)

 

"Op......la."

 

Tersandung ke depan. Rinrin berpegangan pada pagar batu menopang tubuh.

 

Sepertinya menabrak tikungan. Karena Rinrin sebenarnya tidak mendengar pantulan suara dan tidak melihat depan, kalau jalan hal seperti ini bisa terjadi.

 

Tapi, kenapa ya, pikir Rinrin. Biasanya, sebelum jadi begini Penyuplai akan kasih instruksi. Kamera rusak? Atau ketiduran karena capek? Karena jalan keliling semalaman, wajar saja. Bagi Rinrin dan pemain lain begadang semalam itu biasa, tapi Penyuplai orang biasa. Ketiduran tidak aneh.

 

Kalau begitu kubangunkan saja, pikirnya, Rinrin mengambil transceiver. Bukan cuma menerima instruksi dari sana, mengirim dari sini, tentu saja, sudah dibuat bisa.

 

"Halo," Rinrin memanggil Penyuplai.

 

Namun, tidak ada balasan.

 

"Hei. Tidur ya......?"

 

Memanggil lagi, tapi tidak ada balasan.

 

Apa boleh buat, pikir Rinrin. Dia memutuskan pergi langsung ke rumah warga tempat Penyuplai berada.

 

Rinrin menyimpan transceiver, ganti memegang tongkat polisi (baton). Tongkat logam yang jika dipanjangkan maksimal mencapai lebih dari enam puluh senti. Bukan digunakan sebagai senjata, tapi dibawa untuk digunakan sebagai pengganti tongkat jalan jika terjadi sesuatu. Karena panjangnya nanggung untuk jadi tongkat jalan, Rinrin merasakan ketidakpuasan sebatas kenanggungannya itu, tapi ia mulai bergerak sambil mengetuk tanah dengan baton.

 

Untungnya, Rinrin ingat dirinya ada di dekat rumah warga itu. Dua hari lalu, saat mendarat di pulau, dia sudah memasukkan topografinya ke kepala, dan selalu berusaha sadar ada di mana saat bergerak. Meski tanpa instruksi Penyuplai—asal tidak peduli waktu dan penampilan—bergerak sendiri bukan tidak mungkin.

 

Sekitar sepuluh menit, sampai di depan rumah warga.

 

Melewati pagar batu, melewati halaman, ke pintu masuk. Hendak memegang gagang pintu.

 

Namun, tangan Rinrin menggenggam udara.

 

Pintu, sudah terbuka.

 

"............"

 

Intuisi bekerja. Rinrin menghela napas, lalu berkata.

 

"......Ada ya? Yuuki-san."

 

Dari belakang, terdengar langkah kaki.

 

(24/28)

 

Penyebab pensiun Rinrin—sejak sampai pada pertanyaan itu, Yuuki dan Tamamo melanjutkan pencarian pulau. Kalau ada, pasti ada di dalam pulau, pikirnya.

 

Meskipun buta total, tokoh yang melanjutkan jadi pemain dengan memanfaatkan pendengaran. Jika tokoh itu pensiun, penyebabnya hanya mungkin hilangnya pendengaran. Karena secara fisik bersikap biasa, kesimpulannya pasti ada kolaborator yang memberi instruksi di balik layar. Karena tanah ini tak terjangkau sinyal, pasti ada di dalam pulau, begitu perkiraannya, dan mencari rumah warga satu per satu.

 

Benar saja, sebelum fajar Penyuplai ditemukan, dan berhasil merampas transceiver. Pada titik itu bisa saja lapor ke Rinrin, tapi memutuskan untuk menunggunya. Meskipun sudah mendengar seluruh keadaan dari Penyuplai, ia ingin memastikan kebenarannya dengan mata kepala sendiri.

 

Saat Rinrin datang menjadikan baton sebagai tongkat, Yuuki merasakan perasaan yang tak terlukiskan. Fakta bahwa Rinrin langsung menuju rumah warga tanpa sadar Yuuki duduk menunggu di pagar batu, membuat fakta itu makin jelas. Benar-benar orang ini—.

 

"......Selamat pagi, Rinrin-san."

 

Yuuki berkata. "Pagi," jawab Rinrin.

 

"Telinganya juga sakit ya, Rinrin-san."

 

"Ya," Rinrin mengakui, dan menyibak rambut yang menutupi telinga kanan. Lebih jauh lagi, karena dia memutar leher ke kiri, earphone tipe yang hampir tertanam di dalam telinga, akhirnya terlihat. Itu alat bantu dengarnya ya—.

 

"Sudah ketemu dia kan?" Sambil mengembalikan leher dan rambut, Rinrin berkata.

 

"Ya. Semua, keadaannya sudah kudengar."

 

Proses pendengaran, mekanisme yang menutupi, dan perasaan hatinya, semuanya.

 

"Sistem gim mencari item dengan sinyal itu dibuat untuk ini? Kalau dari luar bisa tahu ada tidaknya item, jadi nggak perlu cari sampai dalam rumah warga kan. Kalau memajukan gim dengan normal, keberadaan kolaborator nggak bakal ketahuan."

 

"Ya. Benar. Bukan aku tapi ide dia sih."

 

"......Selama ini, diperlihatkan yang palsu ya."

 

Tidak ada jawaban. Rinrin membuat senyuman. Sampai tak ada celah untuk dikritik, itu adalah, ekspresi pemain.

 

"Mau bilang curang?"

 

"Mana mungkin."

 

Menghadapi orang yang benar-benar mendengar, jauh lebih berat.

 

"Kemarin, Anda bilang <Gertakan juga teknik penting>. Saya paham betul artinya. Karena pihak sini tidak melihat, jadi pihak lawan juga dikasih buta ya......"

 

"Ungkapan bagus," kata Rinrin. "Dalam kasus ini <pura-pura mendengar>, tapi baik penglihatan maupun pendengaran, esensinya sama. Mencampur fakta dan fiksi bertubi-tubi, bikin nggak paham itu kuncinya."

 

"Jadi pelajaran."

 

"Ngomong-ngomong, dari tadi kenapa bentuk lampau ya. <Saya paham> <Jadi pelajaran>...... Tolong jangan bicara seolah sudah selesai dong?"

 

Dibilang hal tak terduga. "......Masih niat lanjut?" tanya Yuuki.

 

"Tentu saja. Selama kunci belum direbut dariku, gim belum selesai."

 

Rinrin membuang baton. Gantinya, memegang pistol.

 

"Penyuplai-san, sedang ditahan Tamamo," kata Yuuki. "Rinrin-san tidak bisa terima instruksi. Tidak ada peluang menang."

 

"Terus kenapa? Bukan alasan untuk berhenti."

 

"Sudah cukup, saya belajar banyak. Tidak ada arti melanjutkan lebih dari ini."

 

"Sudah dengar keadaannya dari dia kan? Kalau begitu, tahu kan harus ngapain."

 

"Saya tidak berniat membunuh Rinrin-san."

 

"Enak saja bicaranya."

 

Rinrin, satu langkah, mendekat ke sini.

 

"Sudah terima sepihak, tapi harapanku tidak dikabulkan ya."

 

"......Bukan, soalnya...... saya nggak dengar soal itu!"

 

"Apa yang diragukan? Kalau pemain, segini bukan apa-apa kan."

 

"Melakukan ini nggak ada artinya."

 

"Arti? Apa itu? Kamu juga, padahal berpikir mati kapan saja boleh......"

 

"Saya ingin melakukan yang terbaik, dan hasilnya mati. Bukan asal mati saja boleh! Saya tidak berniat membantu bunuh diri Rinrin-san!"

 

Setelah terucap, kelewatan, Yuuki sadar.

 

Tapi, Rinrin tidak menyalahkan salah ucap itu. Hanya tersenyum tipis. Tanpa merusak ekspresi itu, dia membalas kata-kata.

 

"Aku sudah tidak punya hak untuk melakukan yang terbaik lagi lho."

 

Dari saku baju, mengeluarkan kunci pintar.

 

"Kalau tetap tidak mau...... begini mungkin lebih mudah dimengerti?"

 

Rinrin mengangkat kunci dengan tangan kanan. Barang kunci gim ini, satu-satunya cara keluar dari pulau ini, dibawa ke atas wajah,

 

Dan, membuka mulut lebar-lebar.

 

"......!"

 

Tubuh Yuuki bergerak.

 

(25/28)

 

Sangat mengalir gerakannya sampai diri sendiri terpesona.

 

Hampir tanpa sadar, mencabut pistol, melepas pengaman, dan mengarahkannya ke Rinrin. Dua peluru terbang dalam sekejap. Satu menembus pergelangan tangan kanan Rinrin, satu lagi menembus tangan kanan Rinrin, dan kunci pintar yang terlepas dari daya genggam jatuh ke tanah.

 

Darah segar, menari di sekitar.

 

"Hh......"

 

Melihat itu, kesadaran Yuuki kembali ke dunia nyata.

 

Tubuh Rinrin yang sudah lama berhenti jadi pemain tidak diberi <Proses Pengawetan>. Darah tidak berubah jadi busa putih, juga tidak menghentikan pendarahan. Cairan merah, menetes bota-bota.

 

Rinrin menekan tangan kanan. Meski begitu, ufufu, dia tidak menghilangkan senyumannya.

 

"Sesaat hawanya jadi dingin ya, Yuuki-san. Pertahankan kondisi itu......"

 

Yuuki tidak menjawab. Terus mengarahkan moncong pistol ke Rinrin.

 

Dalam pertarungan semalam, Yuuki sakit di satu kaki. Jalan dua kaki susah. Mentang-mentang Rinrin tidak lihat, pergi sebentar ambil kunci lalu lari lagi, tidak bisa begitu. Inginnya melumpuhkan dia dulu sementara, baru pelan-pelan ambil kunci.

 

Tapi, melihat darah segar itu, tekad Yuuki tumpul. Kalau tubuh asli tanpa <Proses Pengawetan>, kalau ditembak kebanyakan bisa benar-benar membunuh. Meski profesinya banyak terlibat hidup mati orang, tak disangka, Yuuki tidak tahu standar luka fatal orang biasa. Sampai mana boleh dilakukan—.

 

Sementara Yuuki ragu, Rinrin bergerak.

 

Memegang pistol di tangan kiri yang tersisa, dan mengarahkannya ke Yuuki.

 

Bidikannya, entah kenapa, pas terarah ke Yuuki.

 

Di waktu yang entah lebih cepat atau lambat dari suara tembakan, Yuuki sembunyi di pagar batu. Memastikan tubuh sendiri. Tidak kena. Tidak ada luka tembak selain yang ditembak kemarin. Tapi, mungkin, ada keyakinan kalau tidak jongkok kepala pasti tertembus.

 

Sambil sembunyi di pagar batu, terdengar langkah kaki.

 

Rinrin datang ke sini. Karena satu tangan terluka jadi tidak pakai tongkat baton, langkah demi langkah, sepertinya maju dengan langkah hati-hati.

 

Yuuki bergerak diam. Memanjat pagar batu, mendarat di sisi halaman rumah warga. Tidak mengeluarkan suara—pikirnya. Setidaknya Rinrin tidak menembak. Menyesuaikan dengan langkah kaki Rinrin, Yuuki bergerak, mencoba mendekati Rinrin dari belakang.

 

Yuuki, sejenak, menatap pistol di tangan.

 

Sedikit, teringat masa lalu.

 

Memegangnya terbalik. Bukan grip, tapi memegang larasnya.

 

Seolah menunggu persiapan itu selesai, Rinrin berbalik.

 

Mungkin, sudah sadar Yuuki mendekat dari tadi, dan membiarkannya berenang sampai jarak yang bisa kena. Rinrin menetapkan bidikan. Mempertimbangkan posisi rendah Yuuki yang kakinya sakit, moncong pistol diberi sudut ke bawah dengan mantap.

 

Sambil berterima kasih atas keakuratan bidikan itu, seperti kucing Yuuki melompat.

 

Rasanya terlihat wajah sendiri terpantul di peluru.

 

Berkat Yuuki maju ke depan, jarak sedikit meleset. Peluru terbang tepat di belakang Yuuki. Tidak ada peluru kedua. Yuuki yang mendekat sampai jarak jangkauan tangan, menangkap lengan kiri Rinrin. Sambil membuang moncong pistol ke arah yang salah, tangan satunya lagi—tangan yang memegang pistol, diayunkan ke kepalanya.

 

Sesaat, Rinrin tertawa.

 

"—Jahat."

 

"Bilang saja sesukamu."

 

Dalam waktu nyata harusnya sekejap, tapi benar-benar ada interaksi itu.

 

Suara tumpul yang nyaris tak bergema, satu kali, berbunyi.

 

(26/28)

 

Hari di mana dirinya bukan pemain lagi, sampai sekarang pun Rinrin ingat.

 

Akibat efek samping suatu gim, pendengaran rusak. Bagi Rinrin yang sudah kehilangan penglihatan dan menjadikan pantulan suara sebagai info indra utama, itu kejadian fatal. Rinrin yang masih berniat lanjut jadi pemain, tapi Agen menolak. Bahkan menghapus registrasi pemain, dan mengusir Rinrin dari dunia gim.

 

"—Berani-beraninya ya."

 

Tentu saja, Rinrin menginterogasi Agen.

 

Mencengkeram kerah bajunya, menekannya ke dinding. Jika situasi ini reda tanpa kekerasan, justru terasa aneh.

 

"Tanpa permisi, seenaknya saja......"

 

"......Seenaknya apanya. Keputusan wajar, kan."

 

Meski menerima intimidasi Rinrin, Agen menjawab dengan tegas.

 

"Waktu penglihatan saya terima, tapi kali ini tidak bisa. Anda harus pensiun. Melanjutkan pemain lebih dari ini, cuma bunuh diri."

 

"Biarin saja. Sejak jadi pemain, aku nggak terikat sama hidup."

 

Meski Rinrin menyampaikan tekad, Agen menggelengkan kepala.

 

Jadi, Rinrin memutuskan menggunakan cara negosiasi khas pemain. Yaitu—mengancam kalau tidak diikutkan gim, bakal dikasih lihat pengalaman mengerikan. Jika Agen yang tahu betul sifat Rinrin, pasti paham itu bukan gertakan sambal.

 

Tapi, meski begitu, Agen menggelengkan kepala.

 

"Tolong, temukan cara hidup lain."

 

Katanya.

 

Nggak ada yang begitu, pikir Rinrin. Selain dunia ini, tak ada tempat bagiku.

 

Sejak itu, terus, rasanya seperti benang putus. Pijakan tidak pasti atau—tidak ada yang mendefinisikan diri sendiri atau—cuma nyawa berlanjut tapi tak terasa hidup. Termasuk nyawa sendiri yang terlanjur panjang, segalanya, terasa masa bodoh.

 

Tapi, bunuh diri sendiri juga ogah. Mati tidak takut, tapi semua yang dilakukan selama ini jadi nol itu menjengkelkan. Ingin diakui seseorang. Ingin, terhubung di suatu tempat.

 

Yang datang pada Rinrin seperti itu, adalah kesempatan kali ini.

 

Cuma ini, pikirnya. Pemain yang punya masalah penglihatan sama dengan Rinrin, Yuuki. Mewariskan teknik padanya, lalu minta dibunuh—.

 

Begitu rencananya.

 

Tapi, sepertinya, masih, belum diizinkan begitu.

 

(27/28)

 

Membawa Rinrin yang pingsan ke dalam rumah warga, Yuuki mendapatkan kunci pintar.

 

Membawa Penyuplai dan Tamamo, bertiga menuju tempat berbatu di mana perahu berada. Saat menembak tangan Rinrin, ada kekhawatiran diam-diam jangan-jangan kuncinya rusak, tapi untunglah perahunya bisa jalan jadi lega.

 

Pengemudi diputuskan si Penyuplai. Sekalian uji coba, dia diminta memindahkan perahu sampai dermaga, dan selama itu Yuuki dan Tamamo, sekali lagi, kembali ke rumah warga tempat pertama ketemu Rinrin. Mengambil barang bawaan masing-masing, dan pergi ke dermaga.

 

Lalu—Rinrin yang entah sejak kapan sudah sadar, sedang menunggu.

 

"Apa......!?"

 

Yuuki dan lainnya bersiap. Tapi, namun, Rinrin menunjukkan senyum tanpa permusuhan.

 

"Tenang saja. Aku sudah tidak berniat mendesak lagi."

 

"......Begitu ya."

 

Sepertinya dia sudah puas. Apa posisi kena gagang pistolnya pas ya, pikir Yuuki.

 

"Aku datang mengantar," kata Rinrin.

 

"Mengantar? Nggak ikut naik, Rinrin-san?"

 

Yuuki melihat perahu. Yuuki, Tamamo, Penyuplai, Rinrin, sepertinya kapasitasnya cukup untuk empat orang.

 

"Aku ingin menjaga format gim," jawab Rinrin.

 

"Kalau aku ikut naik dan pulang bareng, jadi hambar (ilfeel) kan? Setelah kalian pulang, aku minta dijemput lagi."

 

Begitu ya, pikir Yuuki.

 

Memasukkan barang, Yuuki dan lainnya pun naik perahu. "Kali ini, terima kasih banyak. Rinrin-san," Yuuki mengucapkan salam perpisahan.

 

"Sama-sama. ......Jadi, gimana? Cara bertarung tanpa mengandalkan mata, sudah dapat?"

 

"Ya. Entah bagaimana. Kalau ada yang tidak paham, boleh tanya lagi?"

 

"Ya. Kapan saja ayo kita saling bunuh."

 

"......Kalau bisa, tolong bicara saja."

 

Perahu melaju. Bersama sosok Rinrin yang melambaikan tangan, pulau semakin menjauh.

 

"......Orang yang berbahaya ya......"

 

Saat sosoknya sudah tak terlihat, Tamamo berkata.

 

"Iya ya......" Yuuki menyela dengan persetujuan, lalu,

 

"Ngomong-ngomong, Tamamo."

 

"Ya?"

 

"Soal Pelajaran 2 dan seterusnya—"

 

Mungkin teringat pengalaman dari kemarin sampai hari ini, Tamamo memasang wajah ketakutan.

 

"......Aku bakal mengajar dengan lebih lembut kok, tenang saja," kata Yuuki padanya.

 

(28/28)


Previous Chapter | List Chapter | Next Chapter

Donasi: Trakteer



Bagikan ke:

Komentar

Tinggalkan Komentar