Featured Image

Shiboyugi V5 Chapter 0

Metoya Januari 18, 2026 Komentar

 

0. Flickering Candle Flame




 

(0/6)

 

Merasakan terpaan angin yang bercampur pasir, Yuuki terbangun.

 

(1/6)

 

Itu adalah sebuah gubuk kayu. Di dalam gubuk yang seakan bisa roboh kapan saja itu, langit-langitnya sudah busuk, dindingnya penuh jamur, dan papan lantainya terkelupas di sana-sini. Ada dua jendela yang terpasang, namun keduanya rusak, menciptakan celah yang membiarkan angin berhembus masuk dengan leluasa. Pasir yang sepertinya terbawa oleh angin berserakan di atas lantai.

 

Di dalam gubuk itulah, Yuuki terbangun. Saat ia bangkit dan melihat dirinya sendiri, ia menyadari bahwa tubuhnya dibalut pakaian yang cukup memalukan.

 

Itu adalah kostum cowgirl.

 

Versi wanita dari koboi. Benda yang bertengger di kepalanya adalah topi ten-gallon yang bisa dibilang sebagai simbol kostum tersebut. Kemeja yang menutupi tubuh bagian atasnya diikat di bagian ujung, sehingga ukurannya menjadi pendek dan membuat perutnya terekspos. Ia mengenakan celana berbahan denim yang dipotong sangat pendek, serta sepatu bot western yang dilengkapi taji di tumitnya. Pada ikat pinggangnya, terpasang sebuah sarung pistol berisi sepucuk pistol.

 

Yuuki mencoba menarik pistol itu. Sebuah revolver. Saat ia mengutak-atiknya sedikit, silindernya terbuka. Ada enam peluru terisi penuh. Sepertinya hanya itu peluru yang ada; tidak peduli di bagian mana pun dari kostum cowgirl itu ia mencari, tidak ada amunisi cadangan. Ia ingin memastikan apakah pistol itu bisa menembak atau tidak, tetapi karena jumlah pelurunya mengkhawatirkan dan ia ingin menghindari suara gaduh, ia mengurungkan niatnya.

 

Membuka pintu yang sudah reot, Yuuki melangkah keluar.

 

Pemandangan kota bergaya western yang sangat cocok dengan kostumnya terhampar di sana. Bangunan berwarna cokelat, tanah berwarna cokelat. Warna langit pun terasa kusam. Tidak ada sosok manusia. Satu-satunya yang bergerak hanyalah rumput kering yang menggelinding, pemandangan wajib dalam film koboi.

 

Yuuki menatap kedua tangannya. Sambil membunyikan sepuluh ruas jarinya, ia mulai berjalan.

 

(2/6)

 

Sorimachi Yuuki adalah seorang pemain permainan pembunuhan.

 

Ia menyelesaikan permainan yang mempertaruhkan nyawa, dan hidup dari uang hadiahnya. Ia baru mengetahui bahwa hal semacam itu ada di dunia ini beberapa hari yang lalu. Permainan pertama adalah atletik pembunuhan dengan mengenakan pakaian olahraga sekolah. Permainan kedua adalah saling menendang jatuh pemain lain dari atas panggung dengan kostum idola. Yuuki berhasil menyelesaikan keduanya dengan baik, dan ini adalah permainan ketiganya.

 

Tampaknya aturan permainan selalu berbeda setiap kali. Seperti pada permainan pertama, ada kalanya panggung berbahaya yang menjadi <Musuh>, namun ada juga kasus di mana pemain lain yang menjadi musuh seperti pada permainan kedua.

 

Kali ini, sepertinya tipe yang kedua.

 

Pistol Yuuki menyemburkan api.

 

Sesaat kemudian, seorang gadis yang berada di depan Yuuki menyemburkan darah. <Proses Pengawetan>—berkat modifikasi tubuh yang kabarnya diterapkan pada semua pemain, darah berubah menjadi zat putih yang menggumpal seperti busa. Karena itu, cipratan darah tersebut tidak mengotori tubuh Yuuki, juga tidak merusak pemandangan kota western tersebut. Gadis yang dadanya tertembus peluru itu ambruk dan tidak pernah bangkit lagi. Ia tewas.

 

Itu adalah pemain lain. Ia mengenakan kostum cowgirl sama seperti Yuuki, tetapi gayanya berbeda. Dibandingkan milik Yuuki, pakaiannya lebih tertutup dan memberikan kesan rapi. Mungkin dia berperan sebagai <Sheriff>.

 

Secarik kertas yang dipegang gadis itu tertiup angin.

 

Salah satunya terbang ke arah Yuuki, jadi ia menangkapnya. Itu adalah poster buronan. Foto wajah Yuuki terpampang besar di sana, dengan tulisan <WANTED> di bagian atas, serta <DEAD OR ALIVE> dan jumlah hadiah di bagian bawahnya.

 

Sepertinya begitulah aturannya. Sebuah permainan tembak-menembak antara <Buronan> dan <Sheriff>. Yuuki dan para <Buronan> lainnya bisa menyelesaikan gim jika berhasil keluar dari kota ini dalam keadaan hidup. Sementara <Sheriff> menyelesaikan gim jika berhasil menangkap <Buronan> dan mengumpulkan sejumlah uang hadiah.

 

Yuuki melanjutkan permainan. Dengan berbagi informasi dengan pemain lain atau melakukan pengamatan sendiri, Yuuki memahami aturan yang lebih rinci. Jumlah pemain dalam gim ini sekitar seratus orang, dengan rasio <Buronan> berbanding <Sheriff> adalah delapan puluh banding dua puluh. Ada beberapa pos jaga tempat para <Sheriff> berkumpul di kota, dan <Buronan> yang tertangkap akan dibawa ke sana. Sesuai aturan <DEAD OR ALIVE>, kebanyakan dari mereka sudah menjadi mayat, tetapi <Buronan> yang dibawa hidup-hidup pun kabarnya akan dibunuh setelah permainan berakhir. Senjata yang dimiliki kedua kubu sama, tetapi bedanya, jika <Buronan> kehabisan peluru maka tamatlah riwayatnya, sedangkan <Sheriff> bisa mengisi ulang peluru di pos jaga. Selain itu, nilai buronan tidak tetap, poster buronan diperbarui seiring berjalannya waktu. Kabarnya nilai hadiah berubah berdasarkan informasi seperti berapa banyak pemain yang telah dibunuh atau seberapa dekat jaraknya dengan pintu keluar kota. Artinya, semakin tangguh pemain itu, semakin menggiurkan jika ditangkap. Entah harus senang atau sedih, nilai buronan Yuuki terus naik, sehingga ia harus menghadapi lebih banyak <Sheriff>.

 

Bagi Yuuki yang belum pernah keluar dari Pulau Honshu, apalagi Jepang, ia tidak punya pengalaman menggunakan senjata api. Namun, seperti pada permainan pertama dan kedua, entah bagaimana Yuuki melakukannya dengan baik. Ia mengalahkan <Sheriff> satu demi satu dan mendekati pintu keluar kota.

 

Namun, di sana, Yuuki menghentikan langkahnya.

 

Tidak, ia dipaksa berhenti. Yuuki menatap tajam ke depan. Di kejauhan terlihat sebuah gerbang lengkung bertuliskan <HORMONE TOWN>—nama dari permainan ini, <Kota Hormon>. Di seberangnya hanya ada tanah tandus. Kemungkinan besar, itulah pintu keluar kota. Di jalan menuju ke sana hanya berjajar bangunan-bangunan reot, dan secara kasat mata, tidak terlihat siapa pun.

 

Namun, Yuuki tahu. Di sana-sini, tersembunyi hawa keberadaan yang tak terhitung jumlahnya. Ada banyak gerombolan <Sheriff> yang bersembunyi di balik bayang-bayang bangunan, melakukan penyergapan di dekat pintu keluar.

 

"......Merepotkan."

 

Yuuki membetulkan letak topi ten-gallon-nya, lalu menyusup ke salah satu bangunan.

 

(3/6)

 

Sesuai dugaan, ada <Sheriff> yang berjaga di dalam. Tanpa ragu Yuuki mengarahkan pistol, membunuhnya, merampas pelurunya, lalu menyusup ke bangunan berikutnya. Ia juga membunuh <Sheriff> yang ada di sana. Ia membunuh lagi <Sheriff> di bangunan selanjutnya. Begitu seterusnya.

 

Tentu saja, para <Sheriff> juga mencoba membalas, tetapi tidak ada satu pun peluru mereka yang mengenai Yuuki. Yuuki entah bagaimana bisa merasakan momen saat pelatuk ditarik, sehingga ia bisa menghindari peluru. Sepertinya dirinya memang cocok untuk permainan ini—. Sambil memikirkan kesan yang sama seperti pada permainan pertama dan kedua, Yuuki sampai di bangunan terakhir tanpa menderita satu luka pun.

 

Di balik pintu belakang yang ia buka, ada <Sheriff> terakhir.

 

Itu adalah pemain dengan rambut putih bergelombang dan tubuh yang ramping.

 

Seperti sebelumnya, Yuuki mengarahkan pistol ke pemain berambut putih itu.

 

Dalam kasus-kasus sebelumnya, reaksi lawan jika situasi ini terjadi hanya ada dua. Pertama, mereka mencoba mencabut pistol tetapi keburu ditembak kepalanya oleh Yuuki dan mati. Kedua, mereka panik dan mencoba menghindar. Dalam kasus itu, ada dua kemungkinan: berhasil menghindar atau tidak. Namun seandainya berhasil menghindar pun, jika Yuuki menarik pelatuk pistol sekali atau dua kali lagi, ia bisa mengirim mereka ke alam baka.

 

Akan tetapi, kali ini, pemain berambut putih itu mengambil pilihan ketiga.

 

Dia mencabut pistol lebih cepat daripada Yuuki, dan langsung menembakkannya.

 

"......Cih!"

 

Yuuki buru-buru mengambil tindakan menghindar.

 

Ia bersembunyi di balik pintu yang baru saja dibukanya, menghindari peluru.

 

Yuuki menutup pintu. Ia mulai bergerak menyusuri dinding luar bangunan. Masuk kembali dari sana adalah strategi yang buruk. Ia harus memutar ke pintu depan atau jendela, lalu membidik orang itu. Begitulah pikir Yuuki.

 

Strategi itu salah besar.

 

Peluru yang menembus dinding kayu menghantam kaki Yuuki.

 

Ia jatuh terjerembab ke depan dan dadanya menghantam tanah dengan keras, membuatnya sesak napas, yang ironisnya membuat ia tidak sempat berteriak kesakitan. Yuuki mengarahkan pandangannya ke pintu belakang. Tepat saat itu pintu terbuka, dan pemain berambut putih itu keluar.

 

Melihat sosok Yuuki yang terguling menyedihkan di tanah,

 

"Dasar bodoh," kata orang itu.

 

"Mana mungkin dinding reot begini bisa menahan peluru."

 

Benar sekali apa katanya. Yuuki entah kenapa berpikir bahwa jika ada tempat berlindung, ia akan aman. Karena begitulah yang terjadi di video game. Yuuki akhirnya sadar bahwa meski sama-sama 'gim', kenyataannya berbeda.

 

Yuuki mengarahkan pistolnya ke pemain berambut putih itu. Kali ini Yuuki lebih cepat. Peluru yang pantatnya dipukul oleh hammer pistol terbang mengarah ke wajah—

 

—Akan tetapi, orang itu menggeser kepalanya ke samping dan menghindarinya.

 

"Jangan mengincar kepala."

 

Pemain berambut putih itu berkata lagi.

 

"Gerak sedikit saja bisa dihindari. Kalau begitu caranya, kau hanya akan mengenai kroco."

 

Mata Yuuki terbelalak. Pemilik keahlian menghindari peluru, sama sepertiku. Siapa sebenarnya wanita ini?

 

Tidak ada waktu untuk menelaah pertanyaan itu. Pistol yang digenggam pemain berambut putih itu memuntahkan peluru secara beruntun. Semuanya mengenai Yuuki. Satu peluru di kaki yang satunya. Dua peluru di badan. Satu peluru masing-masing di tangan kiri dan bahu kiri. Pistol yang dipegang di tangan kiri terlempar jauh. Sesuai ucapannya sendiri, pemain berambut putih itu tidak mengincar kepala, sehingga Yuuki tidak menderita luka fatal, namun seluruh hasratnya untuk melawan telah direnggut tak tersisa.

 

Pemain berambut putih itu mendekati Yuuki yang sudah tidak bisa bergerak.

 

Ditambah tembakan pertama, dia sudah menembakkan enam peluru. Revolver dengan kapasitas enam peluru itu sudah kosong. Karena lawannya adalah <Sheriff>, dia seharusnya punya peluru cadangan, tetapi orang itu tidak melakukan pengisian ulang (reload). Sebagai gantinya, dia mengeluarkan pistol lain dari sarungnya. Yuuki mengira dia pasti akan menembak, tetapi pemain berambut putih itu memegang pistolnya secara terbalik. Yuuki pernah melihat adegan itu di film. Itu gaya memukul orang dengan gagang pistol untuk membuat mereka pingsan.

 

Pemain berambut putih itu menginjak Yuuki dengan sepatu bot western-nya. Ia menatap Yuuki dengan mata yang begitu dingin, seolah tak percaya dia baru saja akan memukul seseorang.

 

"Siapa sebenarnya, kau ini......"

 

Dengan suara setengah mengerang, Yuuki berkata.

 

Sambil mengayunkan pistolnya ke bawah, pemain berambut putih itu menjawab singkat.

 

"Hakushi."

 

Kesadaran Yuuki tenggelam dalam kegelapan.

 

(4/6)

 

Yuuki terbangun karena guncangan yang hebat.

 

Ia segera sadar bahwa ini adalah bak kereta kuda. Lantai kayu dan kain terpal yang dipasang melengkung. Di depan terlihat seorang kusir dan dua ekor kuda yang sedang dikendalikan. Di dalam otak Yuuki yang perbendaharaan katanya lebih sedikit daripada kamus anak SD, hanya ada satu kata yang cocok untuk itu. Kereta kuda.

 

Bukan hanya Yuuki yang menumpang. Ada belasan orang lainnya. Dilihat dari pakaiannya, semuanya adalah <Sheriff>. Di antara mereka, ada juga pemain berambut putih tadi.

 

"Ah—"

 

Bersamaan dengan Yuuki mengeluarkan suara, pihak sana juga menoleh ke arah Yuuki.

 

"Sudah bangun?" kata pemain berambut putih itu.

 

"......Di mana ini?"

 

"Seperti yang kau lihat, di dalam kereta kuda."

 

Yuuki mengarahkan pandangan ke bagian belakang kereta. Kota tempat para pemain bertarung tadi—gerbang lengkung bertuliskan <HORMONE TOWN>—terlihat semakin menjauh.

 

Dia sudah keluar dari kota. Permainan sudah berakhir. Ia selamat, begitu pemahaman Yuuki.

 

—Meskipun ia tertangkap oleh <Sheriff>.

 

"Kenapa?" tanya Yuuki.

 

"Kau beruntung. Kau adalah orang yang selamat."

 

Pemain berambut putih itu—kalau tidak salah namanya Hakushi—menjawab.

 

"Gara-gara kau mengamuk habis-habisan, sudah tidak ada lagi <Sheriff> yang butuh uang hadiah. Jadi tidak perlu membunuh lagi."

 

Yuuki menyadari tatapan yang diarahkan kepadanya oleh para pemain di sekitarnya—para <Sheriff>. Meski itu terjadi dalam permainan, tatapan yang mereka tujukan pada seseorang yang dulunya musuh itu sama sekali tidak ramah.

 

"Kalian tidak membunuhku?" kata Yuuki.

 

"Kan sudah kubilang tidak perlu. Atau kau malah ingin dibunuh?"

 

Yuuki tidak menjawab. Keengganannya menjawab justru lebih fasih menggambarkan isi hati Yuuki. Perasaan jengkel dan tak tuntas, seperti kehilangan momen saat hendak melompat bungee jumping, memenuhi dadanya.

 

Entah menyadari atau tidak suasana hati Yuuki itu,

 

"Kau, siapa namamu?"

 

Hakushi bertanya.

 

"Hah?"

 

"Tidak dengar? Sebutkan namamu."

 

"......Sorimachi Yuuki."

 

"Nama pemain (player name)?"

 

"Yuuki."

 

"Diminta nama malah menyebutkan nama asli, berarti kau pemula ya. Sudah berapa kali?"

 

"Tiga kali. Memangnya kenapa?"

 

"Saat ini, apa kau sedang menerima bimbingan dari seseorang?"

 

Jawaban Yuuki terlambat. Butuh waktu baginya untuk menafsirkan makna tiga suku kata <bim-bing-an> yang muncul tiba-tiba itu di dalam otaknya.

 

"Apaan tuh. Bimbingan?" tanya Yuuki balik.

 

"Benar. Di dunia ini, itu adalah hal yang umum dilakukan."

 

"Dalam permainan yang mempertaruhkan nyawa?"

 

"Justru karena nyawa jadi taruhannya. Dunia gim terlalu keras untuk ditaklukkan secara otodidak."

 

Hakushi kembali menatap tajam ke arah Yuuki. "Jadi. Apa kau sedang dibimbing seseorang?"

 

"Mana mungkin."

 

"Begitu ya. Kalau begitu, akan kujadikan kau muridku."

 

Terdengar suara riuh. Deklarasi Hakushi sepertinya sangat mengejutkan, para <Sheriff> yang menumpang kereta itu semuanya tampak terkejut. Namun, Yuuki bisa menjamin dengan yakin bahwa yang paling terkejut adalah dirinya sendiri.

 

"Kau membutuhkannya," kata Hakushi. "Kau punya insting (sense). Tapi, bakat mentah saja tidak akan bertahan lama. Kau perlu menguasai pengetahuan dan teknik."

 

"Jangan putuskan sembarangan."

 

Di tengah keterkejutan yang belum reda, Yuuki berusaha membalas dengan kata-kata.

 

"Apaan sih kau. Ibuku?"

 

"Dengan sikap seperti itu, kau tidak akan berumur panjang."

 

"Gak butuh. Itu cuma ikut campur yang tidak perlu."

 

"Padahal barusan kau hampir mati? Kalau tidak ada keberuntungan, kau sudah mati."

 

"Bodo amat. Kalau mau umur panjang, aku tidak akan datang ke tempat seperti ini."

 

Hakushi memberi jeda. Ia tampak sedang memilih kata-kata. Yuuki bisa memprediksi apa yang akan diucapkan orang itu selanjutnya. Kalimat yang diucapkan manusia tipe ini dalam situasi seperti ini biasanya sudah ada pasarannya.

 

"Dulu aku juga berpikir tidak masalah mati kapan saja."

 

Benar saja, Hakushi melontarkan kalimat yang sudah diduga itu.

 

Meskipun sudah menduganya, kepala Yuuki terasa panas.

 

"Terus?" jawab Yuuki.

 

"Sekarang aku tidak berpikir begitu. Suatu hari nanti, mungkin hari seperti itu akan datang juga padamu. Karena itu, pelajarilah teknik agar kau bisa bertahan hidup lama."

 

"Hee. Begitu. Karena sosokku tumpang tindih dengan dirimu di masa lalu, jadi kau menyapaku, begitu?"

 

Yuuki berbicara dengan cepat.

 

"Ajari sopan santun ya. Kalau bicara dengan orang, lihatlah lawan bicaramu dengan benar. Jangan melihat bayangan masa lalumu di depan orang itu, lalu bicara lewat filter tersebut. Menjijikkan tahu, yang begitu itu."

 

Hakushi terdiam. Sepertinya bukan sedang memilih kata-kata, melainkan hanya diam saja.

 

"Benar juga," katanya kemudian.

 

"Kalau begitu, kuserahkan pada kehendak bebasmu. Jika kau ingin menjadi muridku—jika kau menginginkan peningkatan level lebih jauh—jika kau berharap ingin merasakan perasaan yang berbeda dari sekarang."

 

Hakushi menyerahkan sebuah memo yang dibuat dari potongan topi ten-gallon kepada Yuuki.

 

"Kapan saja tidak masalah. Datanglah ke alamat itu."

 

(5/6)

 

Pada akhirnya.

 

Menerima ajakan itu, Yuuki berguru kepada Hakushi.

 

Alasannya, ia sendiri tidak bisa menjelaskannya dengan baik. Apakah ia merasa kata-kata ajakan Hakushi menarik, atau sekadar iseng, atau ia berpikir ingin bertemu sekali lagi untuk menampar wajah orang itu, atau apakah dalam lubuk hatinya, ia merasa takut mati. Bagaimanapun, pertemuan itu mengubah takdir Yuuki secara besar-besaran. Membawanya menapaki jalan sebagai pemain, hingga mewarisi ambisi sembilan puluh sembilan kemenangan berturut-turut.

 

Sejak saat itu, waktu yang lama telah berlalu.

 

Sekarang, Yuuki-lah yang berada di sisi pengajar.

 

(6/6)



Previous Chapter | List Chapter | Next Chapter

Donasi: Trakteer



Bagikan ke:

Komentar

Tinggalkan Komentar