Chapter 1: Salahkan Tuhan
“DENGARKAN,
SEMUA,” kata Bu Iyo. “Ada hal yang sangat penting yang perlu kita bicarakan.”
Sekejap saja,
suasana ramai khas pagi hari di kelas langsung hening. Bu Iyo adalah guru muda
dengan sikap terbuka—selalu tersenyum dan disukai semua orang karena
memperlakukan murid-muridnya seperti teman, bukan sekadar segerombolan anak
nakal yang harus dia awasi. Jadi, saat guru seperti dia masuk kelas dengan
ekspresi serius dan mengatakan ada pengumuman penting, itu sudah cukup untuk
membuat semua orang diam dan memperhatikan.
Aku mencoba
membayangkan hal penting apa yang akan disampaikannya. Ekspresi serius di
wajahnya jelas menunjukkan bahwa ini bukan soal dia akan menikah, pindah
sekolah, atau ditemukan puntung rokok lain di kamar mandi laki-laki. Lalu
tiba-tiba, seperti pencerahan, sebuah kemungkinan muncul di
pikiranku—kemungkinan yang rasanya cocok dengan raut wajahnya. Sebagian diriku
berharap aku benar, sementara sebagian lain lebih ingin aku salah total.
“Oke,” katanya
sambil menoleh ke arah pintu kelas. “Silakan masuk.”
Pintu geser
terbuka, dan seorang murid baru masuk ke kelas.
Di belakangku,
seseorang terengah. Aku bisa merasakan teman-teman sekelas benar-benar bingung.
Jujur saja, aku juga hampir tak percaya pada pandangan pertama—tapi anehnya,
aku mulai menerima kenyataan.
Jadi ternyata
kita nggak akan pura-pura ini nggak pernah terjadi, ya.
※※※
Kembali ke
sepuluh hari sebelumnya.
Waktu itu
pertengahan bulan Juni. Musim semi sudah lama berlalu, tapi panas musim panas
baru mulai terasa. Aku keluar rumah seperti biasa, dan udara pagi yang lembap
langsung terasa lengket di kulit saat aku menaiki sepeda dan mengayuh untuk
berangkat sekolah. Kurasa hujan semalam jadi penyebab udara makin lembap; bau
genangan yang belum kering masih menguar dari aspal. Di atas, langit biru
dipenuhi sisa awan kelabu yang tersisa, seperti debu kecil yang berceceran.
Setelah keluar
dari lingkungan perumahanku dan melewati deretan apartemen serupa, aku sampai
di hamparan sawah luas. Tanaman padi yang terendam bergoyang ditiup angin
sepoi-sepoi, bilah-bilah panjangnya seakan melambai padaku saat aku melaju
menyusuri jalan sempit yang membelah petak-petak sawah. Bau lumpur dan
rerumputan menyerbu hidungku, terbawa tiap hembusan angin yang menerpa wajahku.
Tsubakioka
adalah kota kecil terpencil yang tak dikenal siapa-siapa. Jalanannya yang
jarang disentuh perbaikan nyaris hanya dipakai oleh para lansia—mudah dikenali
dari stiker semanggi empat di mobil pickup kecil mereka—dan berita lokal isinya
tak jauh-jauh dari kolom obituari. Pusat kotanya yang dulu menawan sudah lama
sepi dan lusuh, hampir pantas disebut situs bersejarah yang terbengkalai.
Satu-satunya bangunan baru yang muncul selama bertahun-tahun adalah kantor
pusat layanan perawat rumahan.
Saat aku
melamun, bertanya-tanya dalam hati berapa lama lagi sebelum kota ini hanya
dihuni orang tua, sebuah mobil pickup melesat melewatiku dan menyemburkan
cipratan air kotor yang sempurna penuh ironi. Aku mengerang, tapi tak ada bahu
jalan untuk kuhindari, jadi yang bisa kulakukan hanya menonton lumpur itu
menyambar sepedaku dan mengotori tubuh bagian bawahku. Panik, aku cepat-cepat
menarik rem sepeda.
Aku mengecek
kerusakan—seluruh celana bagian kanan basah kuyup dari paha ke bawah.
Untungnya, tak banyak lumpur yang menempel dan bisa meninggalkan noda, tapi
tetap saja, tak mungkin ini akan kering sebelum aku sampai di sekolah. Aku
hanya bisa menatap kesal ke arah mobil pickup yang kabur begitu saja, seolah
pura-pura tak tahu.
Aku menghela
napas—dan tiba-tiba dari belakangku terdengar suara rem dan gesekan ban di
aspal. Aku menoleh dan melihat seorang siswa lain dengan seragam sama seperti
milikku berhenti dan memandangku penuh rasa kasihan. Itu Hasumi, teman
sekelasku. Rambutnya acak-acakan, menutupi sebagian matanya yang tampak
prihatin.
“Wah...
Kamiki,” katanya.
“Apa?”
jawabku.
“Kamu... basah
kuyup, bro.”
“Ya, makasih.
Aku sadar. Kamu ngomong seolah tadi nggak lihat semuanya.”
Aku jadi
bertanya-tanya, apa dia pura-pura kaget cuma buat bikin aku makin kesal. Tapi
yang jelas, aku benar-benar tak mau masuk sekolah dengan kondisi seperti habis
ngompol. Supaya bisa sedikit mengeringkan diri, aku memutuskan untuk menuntun
sepeda saja. Beberapa langkah kemudian, Hasumi tampaknya memutuskan hal yang
sama, karena dia mulai menuntun sepedanya di sampingku.
“Gila, awal
hari yang nyebelin banget,” katanya. “Tapi lucu juga sih, jujur aja.”
“Lucu apanya.
Kalau mau ketawa, tukeran celana aja sana. Aku sumpah, lubang-lubang jalan ini
harusnya udah lama dibenerin.”
“Pfft, ayolah.
Kamu juga tahu itu nggak bakal kejadian. Kayaknya jalan ini nggak disentuh
sejak kita masih SD. Kalau aku jadi kamu, nggak bakal berharap banyak.”
“Ya, aku
tahu... Beginilah nasib tinggal di pelosok sialan ini, ya.”
Aku pun
menyumpah dalam hati. Aku nggak pernah suka kota kelahiranku. Sama sekali.
Tsubakioka itu kota desa yang membosankan setengah mati, dan parahnya, nggak
bisa konsisten. Memang sih banyak lahan pertanian, tapi ada juga AEON Mall di
dekat sini, plus kawasan bisnis yang lumayan dekat stasiun. Tapi justru
setengah matang kayak begini bikin kesel. Kalau benar-benar di pedalaman,
setidaknya bisa menikmati udara bersih, pemandangan cantik, dan alam yang
menenangkan. Tapi Tsubakioka cuma ladang dan sawah sejauh mata memandang—bukan
“alam terbuka” yang indah. Udara nggak bersih-bersih amat, dan polusi cahaya
masih cukup bikin langit malam kehilangan bintang. Kota ini cuma muram dan
membosankan, tempat yang bikin orang merasa apes dan minder karena lahir di
sana. Itu sebabnya aku berniat pergi dari kota ini untuk selamanya setelah
lulus SMA.
Tepat saat aku
selesai meninjau kembali daftar panjang kekesalanku terhadap kota ini, kami
tiba di ujung jalan yang membelah sawah, dan gedung sekolah abu-abu tua sudah
terlihat—SMA Tsubakioka tercinta.
Aku dan Hasumi
masuk lewat pintu utama bersama-sama. Celanaku masih dingin di kulit, tapi
setidaknya sudah cukup kering dan tak mencolok lagi. Suasana di dalam gedung
yang ventilasinya buruk terasa sama lembapnya dengan di luar—dan kerumunan
siswa yang ramai juga nggak membantu. Hampir semua sudah pakai seragam musim
panas lengan pendek.
Kelihatannya
semua orang sedang terburu-buru, mungkin karena bel homeroom hampir berbunyi.
Aku juga harus segera ke kelas. Tapi saat aku sampai di rak sepatu kelas 2-A,
aku melihat seorang anak berambut terang yang familiar dan tanpa sadar
bersuara, “Ack.” Berusaha agar tak terlihat olehnya, aku pelan-pelan mengambil
sepatu dalamku—tapi malah keduanya jatuh dan berbunyi keras. Anak itu langsung
menoleh, dan pandangan kami bertemu.
“Pagi,
Sakuma,” katanya, suara seraknya terdengar ramah, senyumannya cukup sejuk untuk
mengusir kelembapan ini.
Itu Ushio
Tsukinoki, murid blasteran Jepang-Rusia yang dikenal sebagai salah satu cowok
paling ganteng di sekolah (lebih ke tipe cantik ketimbang gagah). Dia punya
tampang yang cocok jadi model atau aktor, kalau saja nasib nggak membawanya
lahir di kota sepi kayak gini. Selain itu, dia atlet andalan tim atletik
sekolah, sering ikut lomba tingkat regional, dan juga murid yang pintar.
Singkatnya, dia gambaran ideal anak SMA—dan yang paling mencolok, semua itu
nggak bikin dia jadi sombong. Dia tetap rendah hati dan ramah ke semua orang.
Tapi jujur, aku nggak suka berada di dekatnya.
“O-oh, ya.
Pagi,” kataku.
“Tunggu,
celanamu agak basah deh... Kamu jatuh di jalan ya?”
“Nggak, tadi
disiram air kotor sama sopir truk bego yang ngebut ngelewatin genangan…”
“Waduh, parah.
Mending ganti celana olahraga aja. Bisa masuk angin kalau basah terus.”
“Terima kasih,
tapi nggak usah. Ini juga sebentar lagi kering kok.”
“Yakin? Ya
udah kalau kamu bilang begitu.”
Di belakang
Ushio, aku lihat ada cewek yang melambaikan tangan ke arah kami. Rambutnya
pirang dikelabang dua, dan rok seragamnya cukup pendek buat bikin guru-guru
geleng kepala.
“Ngapain sih,
Ushio?! Cepetan—nanti telat!” teriaknya. Itu Arisa Nishizono, gadis mencolok
yang sepertinya menganggap aturan berpakaian sekolah cuma saran. Aku juga nggak
terlalu suka dekat-dekat dia, meskipun alasannya beda.
“Oke, bentar!”
balas Ushio, lalu menoleh ke arahku. “Ya udah, Sakuma... kita ngobrol lagi
nanti ya.”
Dia pergi
menyusul Arisa, dan mereka bergabung dengan beberapa siswa lain yang rupanya
sudah menunggu. Aku hanya menatap diam saat mereka tertawa dan ngobrol santai
menuju kelas.
“So,
hey—Kamiki,” suara di belakang menyapaku. Aku kaget, tapi ternyata itu cuma
Hasumi yang baru selesai ganti sepatu dalam. “Bener nggak sih, kamu sama
Tsukinoki itu dulunya deket banget?”
“Maksudmu, ya…
Kami lumayan dekat dulu. Kenapa?”
“Ah, nggak
apa-apa. Cuma keren aja lihat kalian masih keliatan akrab. Soalnya kalian
berdua sekarang kayak dua orang dari dunia berbeda, gitu.”
“Dunia
berbeda? Maksudmu apa sih? Dan FYI, kita udah nggak akrab lagi. Aku malah nggak
nyaman ada di dekat dia.”
“Oh ya? Kenapa
tuh?”
“Nggak ada
apa-apa sih. Aku cuma... Nggak tahu. Tiap kali ngobrol sama dia, rasanya aku
jadi pecundang total dibanding dia...”
“Waduh.
Kompleks banget itu, bro. Mending kamu cari bantuan deh—kecuali mau jadi
penyendiri seumur hidup.”
“Ah, diam deh.
Kamu juga bukan tipe sosialita.”
“Nggak, tapi
setidaknya aku punya lebih banyak teman dari kamu.”
Urgh.
Sayangnya, dia benar. Hasumi punya banyak teman di klub tenis meja (yang aku
kira adalah anak-anak dari kelas lain yang sering makan siang bareng dia).
Sementara aku nggak ikut kegiatan apa pun, jadi aku pun tak bisa melontarkan
balasan cerdas.
“Ya udahlah,
tapi jujur aja, aku paham sih,” tambah Hasumi, memberiku sedikit pelipur lara.
“Kalau aku dibanding-bandingin terus sama Tsukinoki juga mungkin ngerasa
pecundang. Anak itu kayaknya emang dari planet lain.”
“Kan? Makanya,
coba deh kamu temenan sama dia dari kecil, pasti ngerti perasaanku.”
Setelah ganti
sepatu, aku dan Hasumi masuk ke kelas 2-A.
“Baik,
semuanya! Silakan duduk.”
Dengan itu, Bu
Iyo berdiri di depan podium dan memulai homeroom pagi. Seperti biasa, ia
mengenakan celana bahan wanita yang rapi, kemeja formal yang disetrika tanpa
kerut sedikit pun, dan rambut panjang hitamnya diikat rapi di belakang.
Penampilannya benar-benar mencerminkan profesionalisme—dan senyumnya yang cerah
dengan deretan gigi rapi seakan menyempurnakan citra tersebut.
“Oke,
pertama-tama, kita mulai dengan beberapa pengumuman. Belakangan ini, jumlah
siswa yang datang ke UKS karena sakit perut meningkat cukup drastis. Kelembapan
musim ini mungkin salah satu penyebabnya, karena makanan jadi lebih cepat basi.
Jadi buat kalian yang bawa bekal dari rumah, harap lebih berhati-hati.
Untungnya, seperti banyak dari kalian, saya beli makan siang di toko sekolah,
jadi saya nggak terlalu khawatir soal itu. Oh, tapi bukan karena saya malas
masak sendiri di rumah, ya! Saya cuma—”
Aku membiarkan
suara Bu Iyo masuk dari satu telinga dan keluar lewat telinga lainnya,
sementara aku melirik ke arah Ushio yang duduk tegak dan memperhatikan dengan
serius semua yang Bu Iyo ucapkan—berbeda dari mayoritas kelas (termasuk aku),
yang lebih mirip kumpulan tubuh tak bernyawa bersandar di bangku masing-masing.
Melihat sikapnya sekarang, dengan postur anggun yang menjulang di antara kami,
dia memang kelihatan seperti berada di level yang berbeda—seperti dari planet
lain, seperti kata Hasumi.
Melihat dia
sekarang, rasanya sulit dipercaya kami dulu begitu dekat. Sahabat, bahkan. Kami
hampir setiap hari main bareng, bahkan sering menginap di rumah satu sama lain.
Dulu aku yakin kami akan tetap jadi sahabat seumur hidup.
Tapi
kenyataannya tidak begitu.
Setelah masuk
SMP, aku mulai menjauhi Ushio. Dia selalu jadi anak populer, atlet andalan, dan
punya wajah tampan. Sementara aku? Hanya cowok pemalu yang biasa-biasa saja dan
nggak punya kemampuan istimewa apa-apa. Semakin kami tumbuh dewasa, semakin
jelas kesenjangan kemampuan kami. Akibatnya, aku mulai merasa malu hanya karena
terlihat berada di dekatnya. Tapi itu bukan satu-satunya alasan kenapa aku
mulai menghindari Ushio. Semua bermula dari satu kejadian saat kelas dua SMP.
Waktu itu, aku
suka sama seorang cewek, dan kami lumayan dekat. Dia sering nyamperin aku di
sela jam pelajaran, dan kadang kami pulang bareng. Lama-lama, aku merasa cukup
yakin dia juga suka padaku, jadi aku nekat dan menyatakan perasaan.
“Maaf... Kamu
baik banget, tapi Ushio-kun yang aku... aku...”
Dia bahkan
belum selesai bicara, tapi aku langsung paham apa maksudnya—dan kenapa dia
berusaha dekat denganku sejak awal. Katanya cinta itu membutakan, dan meskipun
dulu aku kira itu cuma omongan basi orang tua, ternyata dalam kasusku benar
adanya. Kalau aku lebih rasional, aku pasti sudah menyadari lebih cepat dari
caranya dia sering nanya soal acara TV kesukaan Ushio, game apa yang dia punya,
dan sebagainya.
Malam itu, aku
cuma bisa meratapi nasib di kamar; itu pertama kalinya aku nembak cewek, jadi
rasanya benar-benar menyakitkan. Sejak hari itu, aku nggak pernah bicara lagi
dengan dia, dan makin sulit buat menatap Ushio—apalagi ngobrol sama dia.
Padahal, aku tahu dia nggak salah apa-apa. Cewek itu juga nggak berniat
menyakitiku, walaupun dia punya niat tersembunyi. Tapi satu-satunya yang
benar-benar menghianatiku adalah diriku sendiri—karena sudah membodohi diri
sendiri, dan itu yang paling menyakitkan.
Setiap kali
Ushio ngajak main, atau kerja kelompok, atau olahraga bareng, aku selalu nolak.
Nggak butuh waktu lama sebelum akhirnya dia lebih sering main sama
teman-temannya yang lebih rame dan supel, sementara aku jadi anak pendiam yang
kerjanya baca buku di pojok kelas.
Karena sekolah
SMA di daerah sini nggak banyak, nggak heran kalau akhirnya kami daftar dan
masuk sekolah yang sama. Tapi bahkan setelah itu, segalanya nggak berubah. Dia
tetap jadi murid paling populer, sementara aku cuma figuran—Siswa Random #1.
Tapi itu nggak masalah buatku; setidaknya sekarang aku tahu batasanku.
Ngomong-ngomong,
aku sempat dengar cewek yang nolak aku itu akhirnya nembak Ushio beberapa hari
kemudian—dan langsung ditolak juga. Memang agak perih dengarnya, tapi lama-lama
aku juga berhenti peduli. Setelah hari aku menyatakan perasaan, kami nggak
pernah ngobrol lagi, jadi aku pun nggak tahu sekarang dia sekolah di mana atau
sedang ngapain.
“…jadi makanya
kalian harus hati-hati sama ayam yang udah nggak segar, ya... Eh, tunggu. Aku
baru sadar—Natsuki belum datang ya hari ini?”
Kalimat
mendadak itu menyadarkanku kembali. Aku menoleh dari Ushio ke bangku Hoshihara,
dan benar saja, kosong. Baru saja Bu Iyo bertanya-tanya apakah dia terlambat,
pintu kelas mendadak terbuka lebar dan seorang murid perempuan masuk
tergesa-gesa.
“Hah! Aku
sempat juga!”
Rambutnya yang
agak bergelombang ikut bergoyang saat ia mendadak berhenti. Inilah Hoshihara
Natsuki yang tadi dikira absen. Napasnya ngos-ngosan, sepertinya dia lari
sampai sekolah.
Setelah
mengatur napas sebentar, dia menoleh ke Bu Iyo dan memberikan senyum malu-malu.
“Selamat pagi, Bu Iyo-chan!”
“Iya, pagi,”
jawab Bu Iyo. “Senang kamu bisa datang. Hampir saja aku tulis surat
keterlambatan. Kamu kesiangan, ya?”
“Ya, jadi
begini... Aku ketiduran di kereta dan kebablasan... Bangunnya kaget banget
deh.”
“‘Kaget’
mungkin bukan kata yang tepat. Ayolah, Natsuki. Kamu harus lebih hati-hati.”
“Siap, maaf!”
Dengan itu, Hoshihara melangkah ke mejanya sementara
teman-teman sekelas kami terkekeh di latar belakang. Seperti Ushio, dia adalah
salah satu anak paling populer di kelas. Kalau Ushio lebih seperti pemimpin
alami yang selalu menarik seluruh kelas untuk mengikutinya, maka Hoshihara
lebih seperti karakter komedi kesayangan yang bisa membuat semua orang tertawa
dan sering jadi bahan bercandaan. Memang dia sedikit ceroboh, tapi tetap manis.
Dia punya banyak teman dan bakat dalam membuat orang lain tersenyum. Namun,
bagi orang seperti aku yang sama sekali tersingkir secara sosial, dia seolah
berasal dari dunia yang benar-benar berbeda. Bahkan, seingatku, kami belum
pernah bertukar salam sekalipun.
Baru saja Hoshihara sampai di kursinya, Bu Iyo sadar bahwa
bel sebentar lagi akan berbunyi dan buru-buru menyelesaikan homeroom pagi
secepat mungkin.
※※※
Pelajaran pertama telah usai, dan kami hanya punya beberapa
menit untuk sampai ke Ruang Sains sebelum pelajaran kimia dimulai di jam kedua.
Di sekitarku, teman-teman sekelas mulai mengemasi buku dan alat tulis mereka
dan berdiri dari kursi satu per satu. Saat aku baru bersiap-siap untuk
beranjak, aku tak sengaja mendengar percakapan sekelompok lima atau enam murid
yang sedang mengobrol di tengah kelas.
“Aduh, sial. Aku lupa bawa buku teks lagi,” kata gadis di
tengah kelompok itu. Benar saja, itu Nishizono—dan seperti biasa, dia sangat
senang menyuarakan kekesalannya.
Sambil mengklik lidah dengan kesal, Hoshihara memberikan
solusi dengan senyum gugup. “K-kita kan satu kelompok, jadi kamu bisa baca
punyaku aja!”
“Serius? Wah, makasih, Natsuki! Kamu penyelamat banget!”
Hoshihara malu-malu menggaruk pipinya, berjalan ke mejanya,
membungkuk, dan mengintip ke dalam. Dia mengeluarkan buku-bukunya satu per
satu, tapi tak satupun adalah buku kimia yang sepertinya sedang dia cari.
Akhirnya, dia mengangkat kepala dan tertawa canggung.
“Eh, maaf… Sepertinya aku juga lupa bawa… Eh heh heh.”
“Dasar bego,” kata Nishizono sambil memutar mata. Untuk
sekali ini, aku tak bisa menahan senyum melihat ejekannya; timing komedinya
terlalu pas.
“Wah, sepertinya kita punya dua astronot hari ini,” celetuk
salah satu anak laki-laki dalam kelompok itu, sengaja memancing. “Gokil banget
sih ini.”
“Maaf?” Nishizono membalas dengan tatapan tajam. “Apa yang
lucu dari ini?”
“Y-ya, kamu bener. M-maaf,” jawab si cowok, langsung mundur
teratur. Aku tidak menyalahkannya. Kepribadiannya yang kasar dan tajam adalah
salah satu alasan utama kenapa aku selalu mencoba menghindarinya. Dia bahkan
tidak besar atau tinggi seperti pembully pada umumnya—bahkan sedikit lebih
pendek dari Hoshihara—tapi dari segi aura, dia jelas yang paling menyeramkan di
kelas. Saat aku melihat sekeliling dan menyadari semua teman sekelasku mulai
menciut agar tidak menarik perhatiannya, Ushio—yang sejak tadi diam di latar
belakang—akhirnya maju.
“Oke, gimana kalau begini: kalian berdua bisa baca dari
bukuku hari ini,” katanya. “Kita tinggal geser tempat duduk sedikit, nggak
masalah kan?”
Kedua gadis itu tampak senang dengan usul itu.
“Itu dia Ushio! Udah kuduga bisa ngandelin kamu!” kata
Nishizono.
“Wah, makasih, Ushio-kun!” kata Hoshihara.
“Ya, ya. Tapi jangan lupa bawa lagi, ya?” goda Ushio, dan
kedua gadis itu menjawab, “Okaaay,” meski nadanya kurang meyakinkan. Melihat
interaksi kecil itu, aku merasa sedikit tidak nyaman di dalam hati, lalu
berdiri untuk mengusir perasaan itu. Aku mengambil kotak pensil dan buku kimia,
menyelipkannya di bawah lengan, lalu langsung keluar dari kelas.
Andai saja aku bisa seperti mereka, pikirku sambil diliputi
rasa iri. Saat kulihat Ushio yang selalu dikelilingi teman dan disukai para
gadis, lalu membandingkannya dengan diriku sendiri yang berjalan sendirian
menuju Ruang Sains, aku tak bisa tidak bertanya-tanya kapan perbedaan antara
kami mulai muncul, padahal kami dulu teman dekat saat kecil. Mungkin ini karena
aku memang tidak mampu mengikuti. Aku tahu menganalisis terlalu dalam hal
seperti ini tidak ada gunanya, jadi aku mencoba menepisnya.
Saat itu, seorang murid tiba-tiba keluar dari kelas yang
kulalui dan menabrak bahuku. Sebelum aku bisa berkata apa-apa, kotak pensil
aluminiumnya jatuh dari lengan dan semua isinya tumpah ke lantai dengan suara
berisik.
“Waduh, maaf!” kata si penabrak sebelum lari pergi, meninggalkanku
berlutut mengumpulkan semua pena, penggaris, dan sebagainya sendirian.
“Jangan minta maaf kalau nggak mau bantu…” gerutuku. Mungkin
aku akan mengatakannya langsung kalau dia belum kabur. Ini benar-benar
memalukan: aku merangkak mengumpulkan alat tulis seperti koin yang tercecer
sementara orang lain hanya melihat sambil lewat. Setiap tawa yang terdengar di
lorong seakan ditujukan padaku, membuat wajahku memerah karena kesal.
Sial. Menyebalkan. Aku meraih penghapus yang menggelinding
agak jauh, tapi seseorang sudah lebih dulu mengambilnya. Aku menengadah dan
melihat Ushio berdiri di atasku dengan kotak pensil dan buku kimianya.
“Nih, aku bantuin,” katanya.
“M-makasih, aku berutang budi,” jawabku.
Ushio membungkuk dan mulai mengumpulkan penaku. Aku melihat
ke wajahnya; dia terlihat sangat santai—seolah ini bukan hal yang memalukan
sama sekali. Mungkin dia memang akan tetap tenang walaupun dia yang menjatuhkan
kotak pensil. Dia memang orang baik seperti itu—sampai aku merasa bersalah
sudah merepotkannya.
“Bukannya kamu harus nyusul Nishizono dan Hoshihara?”
tanyaku, tak tahan dengan keheningan.
“Hm? Maksudmu?”
“Maksudku, kamu kan tadi bilang bakal duduk bareng mereka
dan pakai buku kamu.”
“Oh, ya. Tapi Arisa kan piket hari ini, jadi dia harus
tunggu semua orang keluar dulu buat kunci kelas. Natsuki juga nungguin dia.”
“Oh… Gitu…”
“Nih.” Ushio menyerahkan penghapus dan penaku. Aku masukkan
kembali ke kotak pensil. Semuanya lengkap.
“Makasih banyak. Aku pergi dulu.” Tapi baru saja aku
melangkah, Ushio memanggilku.
“Eh, t-tunggu dulu!” katanya. “Tujuan kita sama, lho… Nggak
usah jalan sendirian juga.”
Pernyataannya masuk akal. Meskipun agak canggung jalan
bersebelahan dengannya, rasanya nggak enak juga kalau menolak setelah dia
menolongku.
“Kamu bener juga,” kataku. “Ayo.”
Ushio mengangguk semangat, dan kami berjalan ke Ruang Sains.
Sepanjang jalan aku merasa sedikit gelisah, tapi untungnya bisa melewati
obrolan ringan tanpa banyak bicara—kebanyakan Ushio yang bicara, dan aku cuma
kasih respon sederhana.
“Tapi ya, kayaknya Misao udah mulai masuk fase remajanya
nih,” katanya saat kami naik tangga. “Akhir-akhir ini lebih mudah tersinggung.”
Misao adalah adik perempuan Ushio. Kalau nggak salah,
sekarang dia kelas tiga SMP. Dalam ingatanku, dia selalu anak yang
sopan—lembut, berkulit cerah. Dulu sering main bareng aku dan Ushio waktu
kecil, tapi aku udah lama nggak lihat dia lagi. Aku sempat bertanya-tanya
kabarnya.
“Dia sering nyuruh aku cepetan mandi biar—Sakuma? Kamu
dengerin nggak?”
Ups. Tadi aku sempat melamun.
“Eh, iya, maaf. Kamu tadi ngomongin Misao-chan, kan. Aku
nggak kebayang dia jadi remaja pemberontak, jujur aja.”
“Ya? Tapi dia emang kalem sih kalau sama orang lain. Tapi
kalo di rumah, bisa galak banget.”
“Wah. Nggak nyangka.”
“Mau main ke rumah kapan-kapan? Kamu selalu aku sambut,
kok.”
“Hah?!” Aku kaget dan menoleh ke Ushio, tapi dia nggak
kelihatan bercanda. “Ah, nggak usah deh. Dia pasti sibuk belajar buat ujian
masuk SMA, kan? Nggak mau ganggu.”
“Kayaknya dia nggak masalah kok.”
“K-kamu yakin…?”
Aku bingung gimana harus menyikapi undangan itu. Aku nggak
biasa diundang ke rumah orang, tapi mungkin buat Ushio yang punya banyak teman,
ini hal biasa.
“Lagipula, kayaknya itu sekolah pilihannya juga, jadi
kemungkinan besar kalian bakal ketemu di kampus tahun depan, mau nggak mau,”
tambahnya.
“Oh, ya… Semoga dia keterima.”
“Amin,” kata Ushio, mengangguk.
Kami hampir sampai di Ruang Sains; cuma tiga menit dari
kelas, tapi hari ini terasa lebih lama dari biasanya. Tepat saat kami mendekati
pintu, dua anak cowok dari kelas kami—anggota geng anak-anak keren—muncul dan
salah satunya melihat ke arah kami.
“Oh, hey,” katanya. “Itu dia, Ushio. Ayo, kita ke mesin
minuman.”
Saat mereka mendekat, Ushio berhenti. Aku jalan beberapa
langkah lagi, lalu menoleh.
“Oke. Sampai ketemu nanti, ya,” kataku, dan Ushio
mengernyit.
“Kenapa kamu nggak ikut juga?”
“Nggak, nggak usah. Aku bakal canggung gabung sama mereka,
no offense.”
“Tapi—”
“Serius, nggak apa-apa. Nggak usah dipikirin.”
Aku melambaikan tangan sebelum dia bisa bilang apa-apa lagi
dan berjalan cepat ke Ruang Sains. Di tengah lorong, aku melewati dua cowok
tadi, tapi tak satu pun menoleh. Seolah-olah hanya Ushio yang terlihat di mata
mereka—aku tidak dianggap ada. Meskipun ini memperparah rasa rendah diriku,
entah kenapa aku tak terlalu peduli. Mungkin ini memang lebih baik; Ushio pasti
juga nggak mau kelihatan nongkrong bareng orang sepertiku, jadi mungkin aku
malah menolongnya.
Pelajaran hari itu selesai. Jam menunjukkan pukul 4 sore
saat guru matematika keluar kelas, dan langsung saja suara mulai terdengar di
seluruh kelas—ada yang mengeluh karena harus ikut kegiatan klub, ada yang
semangat ngajak karaoke. Dan aku? Aku nggak punya rencana apa-apa. Jadi aku
tinggal ambil barang-barang dan pulang. Saat aku keluar kelas dan menyusuri
lorong, aku melewati beberapa kelompok siswa yang sudah mengenakan seragam
olahraga atau jersey tim.
Sekolah Tsubakioka dikenal cukup unggul dalam bidang
olahraga. Terutama tim atletik, tapi tim baseball dan voli juga tak kalah
berprestasi. Mereka cukup sering tampil baik di kompetisi regional. Tapi aku
sendiri nggak pernah tertarik ikut kegiatan ekstrakurikuler. Aku pernah ikut
klub tenis di SMP, tapi aku nggak suka sistem senioritas dan persaingan
internalnya, jadi keluar setelah tahun pertama. Pengalaman itu bikin aku
kehilangan minat untuk ikut apa pun, sampai sekarang di tahun kedua SMA pun aku
belum pernah mencoba ikut klub lain.
Aku turun tangga menuju pintu utama sekolah. Di sana semua
siswa yang tidak ikut klub berkumpul untuk pulang. Setelah berganti sepatu, aku
berjalan ke tempat parkir sepeda. Matahari musim panas masih menyengat meskipun
sudah jam empat sore.
Aku berjalan memutari gedung menuju tempat parkir sepeda,
naik ke sepeda, dan mengayuh malas keluar dari sekolah. Begitu keluar gerbang,
aku mengganti gigi dan melaju menerobos angin panas yang lembap. Aku mengayuh
sampai lampu merah di perempatan memaksaku berhenti. Sambil menunggu lampu
hijau, aku melihat-lihat sekeliling tanpa sadar.
Saat melihat kelelawar beterbangan di atas sawah, aku
tiba-tiba tersadar—dan merasa mual. Aku meraba kantong kanan, lalu kiri.
Keduanya kosong. Aku lupa mengambil ponsel dari dalam meja.
“Ugh… Ya ampun, kenapa sih…”
Aku bersandar lemas ke setang sepeda. Padahal aku sudah
cukup jauh dari sekolah. Hari ini benar-benar sial (meskipun salahku sendiri).
Tapi tak ada pilihan lain; aku harus kembali. Ini hari Jumat, jadi besok libur.
Aku tak ingin melewati akhir pekan tanpa ponsel. Jadi aku pasrah dan berbalik
arah.
Aku berjalan sendirian
menyusuri lorong sekolah yang sepi. Di bagian gedung ini, saat menjelang sore
seperti sekarang, cahaya alami dari luar sudah jarang masuk, membuat suasana
agak redup. Jam sudah menunjukkan hampir pukul lima, jadi sepertinya aku
satu-satunya orang yang tersisa di sekolah yang tidak terlibat dalam kegiatan
ekstrakurikuler. Lorong-lorong begitu sunyi; jika aku mendengarkan dengan
seksama, aku masih bisa mendengar teriakan semangat dari tim sepak bola dan
suara kiai dari tim kendo yang sedang latihan—meski suara-suara itu terdengar
jauh dan teredam, seolah melewati selapis dinding tebal yang menyerap suara.
Aku menaiki tangga dan berjalan
menuju ruang kelas 2-A. Pintu masih terbuka setengah, dan cahaya matahari yang
masuk dari jendela membentuk bayangan persegi panjang di lantai lorong. Aku
menutupi mataku dari cahaya silau itu dan melangkah masuk, langsung menuju ke
mejaku.
Namun, sebelum aku sampai, aku
sadar kalau ternyata aku bukan satu-satunya orang di ruangan. Ada seorang gadis
yang duduk di dekat jendela—Natsuki Hoshihara—bersandar dengan kepala menempel
ke dinding sambil menatap ke luar jendela dengan ekspresi kosong, bahkan
sedikit murung. Dengan posisi kepalanya yang miring, aku bisa melihat
tengkuknya yang terbuka, sementara rambut keritingnya terjuntai malas ke satu
sisi. Sinar matahari sore menembus rambutnya, membuatnya tampak berkilau. Aku
tak bisa tidak terpukau oleh pemandangan yang tak terduga ini—melihat gadis
yang biasanya ceria tampak begitu tenang dan melankolis terasa begitu asing.
Tapi aku tak sempat menatap lama, karena tak lama kemudian dia sadar akan
kehadiranku (meski agak terlambat).
“Duh-HYAAAGH?!”
Dia melompat dari kursinya
beberapa sentimeter dan mengeluarkan suara melengking. Reaksinya yang begitu
berlebihan membuatku ikut terkejut dan mengeluarkan teriakan kecil.
“M-maaf!” seruku cepat, mencoba
menjelaskan. “Aku nggak bermaksud nakutin! Aku nggak tahu kamu ada di sini, dan
saat aku sadar pun rasanya aneh kalau tiba-tiba ngomong, jadi... Ya. Salahku.”
“Huhh, kamu bikin aku kaget…”
katanya, menghela napas lega. “Aku bener-bener nggak sadar ada orang lain di
sini. Aduh… Suara yang aku keluarkan tadi kayak dari kartun banget, ya? Haha…”
Untungnya dia nggak marah.
Malah terdengar agak malu-malu.
“Jadi, ada angin apa kamu ke
sini, Kamiki-kun?” tanyanya.
Aku sedikit terkejut; aku tak
menyangka dia mengingat namaku. “Aku ketinggalan ponsel. Jadi balik sebentar
buat ambil.”
“Ohhh, gitu. Iya, repot banget
kalau nggak bawa ponsel selama akhir pekan.”
Aku mengangguk, lalu pergi ke
mejaku—barisan belakang, kursi tengah. Aku merogoh ke dalam dan tanganku
menyentuh sesuatu yang keras dan berbentuk persegi panjang—bukan ponsel yang
kucari, tapi novel yang sedang kubaca. Aku memutuskan untuk membawanya juga agar
bisa diselesaikan selama akhir pekan, dan meletakkannya di atas meja. Melihat
itu, Hoshihara bangkit dan berjalan ke arahku.
“Itu buku apa?” tanyanya.
Aku sedikit kaget lagi—tak
menyangka dia tertarik pada buku—tapi tetap saja aku membuka sampul pelindungnya
dan menunjukkan sampul aslinya padanya.
“Oh, ya…” kataku. “Ini
sebenarnya cukup populer, sih. Serinya udah lumayan lama juga. Ini—”
“Ooh, hey! Of Moon and Men!
Selera bagus!”
Wah. Kejutan ketiga
berturut-turut. Aku sama sekali tak menyangka dia sudah kenal dengan buku ini. Of
Moon and Men adalah seri novel fantasi yang cukup terkenal, dan aku sedang
membaca buku ketiganya. Berlatar dunia alternatif, ceritanya tentang seorang
anak laki-laki dan gadis dari dua kerajaan yang sedang berperang dan terdampar
di pulau terpencil. Mereka harus bekerja sama untuk bertahan hidup dan perlahan
mulai saling memahami. Meskipun dunia dan latarnya cukup kompleks, gaya
penulisannya cukup ringan, dan aku selalu membeli buku terbarunya begitu
dirilis.
“Aku juga baca seri ini,” kata
Hoshihara. “Seru banget, ya?”
“Ya, pasti. Wah, aku nggak
nyangka kamu suka baca, Hoshihara.”
“Hey! Maksud kamu, kamu pikir
aku bodoh atau gimana?!”
Baru setelah dia manyun dan
mendekat ke wajahku aku sadar kalau ucapanku bisa terdengar menyinggung. Panik,
aku buru-buru minta maaf—meskipun sejujurnya, kedekatannya yang mendadak itu
yang membuatku paling gugup.
“M-maaf, aku nggak bermaksud
menilai kamu atau gimana. Maksudku cuma… kelihatannya bukan tipe kamu aja,
gitu… Eh, maksudku…!”
Sial. Rasanya aku malah makin
memperburuk keadaan. Benar saja, Hoshihara makin mendekat dan menatap tajam ke
arahku dari bawah. Aku merasa keringat dingin mulai menetes di tengkukku, dan
aku mencoba mencari alasan yang masuk akal untuk menyelamatkan diriku dari
situasi ini, tapi kemudian...
“Yah, kamu nggak sepenuhnya
salah, sih,” katanya sambil menjauh. “Aku tahu aku nggak terlihat seperti kutu
buku—aku juga nggak nganggep diriku kayak gitu. Maksudku, aku lebih sering baca
manga, sih… Tapi ya, waktu SMP dulu aku pernah nulis laporan buku soal Of
Moon and Men. Aku pilih buku itu secara acak karena masuk daftar pilihan.
Awalnya nggak tertarik sama sekali, tapi lama-lama jadi suka banget… Ini
satu-satunya seri buku yang aku ikutin terus.”
Oh begitu… Masuk akal juga.
Jadi kebetulan saja aku membaca salah satu dari sedikit buku yang dia sukai.
Tapi kalau dia memang suka, rasanya sayang juga kalau dia cuma baca satu seri.
“Kenapa nggak coba baca buku
lain juga?” tanyaku.
“Hah?” jawabnya.
“Penulisnya juga punya novel
lain yang keren, lho. Judulnya The Echidna’s Dream—temanya juga soal
perang, tapi ini novel satuan, bukan seri. Lebih ke arah fiksi ilmiah daripada
fantasi murni, sih. Jadi nggak tahu kamu suka atau nggak. Tapi ada bagian
semi-filosofis yang ditulis dengan cara yang ringan dan gampang dimengerti,
ditambah humor hitam yang bikin suasananya nggak terlalu berat. Jadi bukunya
nggak bikin stres, lebih kayak—”
Pada titik ini, aku sadar bahwa aku sedang
mengoceh secepat kilat, yang membuatku merasa sangat canggung. Aku menyesali
diriku sendiri karena terlalu bersemangat; pasti ini terdengar seperti ocehan
kutu buku yang menyebalkan baginya.
Namun dia kembali mengejutkanku: matanya berbinar,
bersinar dengan rasa ingin tahu. “Wah, Kamiki-kun! Kamu bisa jadi kayak...
reviewer buku atau semacamnya!”
“K-kau pikir begitu...?” Aku tergagap, lega karena
ternyata aku tidak membuatnya risih. Bahkan, dia tampaknya cukup tertarik.
“Iya, maksudku, aku juga sebenarnya pengin baca
lebih banyak. Cuma... banyak banget yang bisa dipilih, kan? Oh, hey! Aku punya
ide!” Hoshihara mengeluarkan ponsel lipat dari sakunya dan membukanya. “Sini,
kita tukeran kontak aja! Jadi nanti kamu bisa rekomendasiin buku-buku lain juga
ke aku!”
Wow. Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali
aku tukeran kontak dengan seseorang. Bisa dihitung dengan jari berapa kali
selama masa SMA aku pernah diminta melakukan itu.
“O-oke, ya. Boleh juga,” kataku, mencoba sebisa
mungkin menyembunyikan rasa gugupku, supaya tidak kelihatan kalau ini kejadian
langka bagiku. Aku merogoh ke dalam mejaku lagi, dan kali ini aku langsung
menemukannya. Aku mengeluarkan ponselku, membukanya, masuk ke menu kontak,
dan...
“Uhhh... Gimana sih caranya tukeran kontak lewat
wireless, lagi?”
“Apa? Kamu nggak tahu?”
“Lupa aja, kok. Soalnya aku jarang banget ngasih
nomorku, maaf ya.”
“Wah, serius? Terus... gimana caranya kamu punya
temen?”
Percaya deh, aku juga bertanya-tanya tiap hari.
“Ha ha. Iya, aku juga nggak tahu, sih...” kataku
sambil tertawa kecil. “Kayaknya emang aku nggak punya banyak temen aja, ha
ha...”
Baru setelah kata-kata itu keluar dari mulutku,
aku sadar mungkin aku seharusnya nggak ngomong begitu. Secara tidak langsung
menyebut diriku pecundang malah bikin kesannya aku sedang mencari simpati, yang
jelas-jelas menempatkan Hoshihara dalam posisi canggung karena kami bahkan
hampir tak saling kenal. Tapi dia hanya mengeluarkan gumaman singkat, lalu
meraih ponselku.
“Sini, aku lihat dulu.”
“Y-ya, oke,” jawabku sambil menyerahkannya.
Hoshihara mulai memencet-mencet tombol dengan cekatan seperti yang kau harapkan
dari gadis populer seusianya.
“Udah, beres!”
Dia mengembalikan ponselku, dan saat aku melihat
ke layar, ada satu entri baru yang ditambahkan ke daftar kontakku yang sepi:
Natsuki Hoshihara
Tulisannya hanya menggunakan font biasa seperti
entri lainnya, tapi entah kenapa kombinasi huruf yang satu ini tampak berkilau
di layar. Saat aku menoleh ke atas, aku melihat pemilik nama itu tersenyum
kepadaku dengan senyum cerah tanpa ragu.
“Kayaknya kamu baru aja dapet temen baru! Selamat
ya, Kamiki-kun!” Hoshihara menepuk tangan dua kali dengan lembut sebagai bentuk
selebrasi.
“Heh... Y-ya, m-makasih,” jawabku dengan gagap.
Entah karena rasa malu atau canggung secara umum, aku merasa wajahku mulai
memanas, dan ada perasaan hangat yang meledak di dadaku. Aku membalikkan badan,
berharap dia tidak menyadari kekakuanku, tapi untungnya dia tidak menyinggung
hal itu—atau mungkin terlalu sopan untuk mengomentarinya. Sebagai gantinya, dia
kembali ke mejanya, mengambil tasnya, lalu berjalan menuju pintu. Sebelum
keluar, dia menoleh dan melambaikan tangan.
“Oke deh, aku pulang duluan ya,” katanya. “Sampai
jumpa.”
“Iya, sampai jumpa...” balasku secara refleks.
Kelas kembali sunyi. Bahkan setelah Hoshihara
pergi, perasaan hangat aneh di dadaku belum juga hilang. Bahkan, aku bisa
merasakan detak jantungku semakin cepat, sampai rasanya hampir bisa kudengar.
Senyum Hoshihara terus terbayang dalam benakku; semua kata-kata yang kami
ucapkan tadi terus berulang-ulang dalam pikiranku. Ketika aku menyadari bahwa
aku dan dia ternyata punya kesamaan minat, dan bahwa nomornya sekarang sudah
tersimpan di ponselku, suhu tubuhku terus naik. Aku bisa bicara dengannya kapan
pun aku mau—dan hanya memikirkannya saja sudah membuat seluruh tubuhku
merinding oleh rasa bahagia. Kepalaku penuh dengan pikiran tentangnya. Aku
bahkan merasa ingin berteriak sekencang-kencangnya tanpa alasan apa pun.
Ya ampun.
Aku menggenggam dadaku, berharap bisa menenangkan
jantungku yang berdebar. Ini adalah perasaan yang kukenal; aku pernah
merasakannya sebelumnya, meskipun hanya sekali. Di bagian lain gedung, klub
orkestra mulai memainkan lagu pembuka yang megah—lagu yang terdengar seperti
awal dari petualangan besar. Dari luar, terdengar sorakan dan teriakan dari tim
baseball sekolah yang memuncak, lalu tiba-tiba hening—dan kemudian suara khas
pukulan logam bertemu karet dan gabus terdengar.
Sepertinya aku baru saja jatuh cinta.
Sepanjang perjalanan pulang, rasanya seperti aku
melayang di udara—berdiri tegak di atas pedal, tanpa sekalipun menyentuh jok. Begitu
sampai rumah, aku langsung menuju kamarku dan hampir saja menjatuhkan diri ke
tempat tidur. Jantungku masih berdebar kencang. Aku mengeluarkan ponsel dari
saku dan membuka daftar kontakku. Melihat nama “Natsuki Hoshihara” terdaftar di
antara yang lain, senyum bodoh muncul di wajahku, dan tubuhku bergetar karena
euforia.
“Selamat ya, Kamiki-kun!”
Suaranya masih terngiang di telingaku sementara
senyum cerahnya membayang dalam pikiranku. Aku membenamkan wajahku ke bantal,
menjerit pelan dan menendang-nendang kasur dengan riang, membuat ranjangku
berderit keras. Tapi itu tidak cukup untuk menenangkan diriku, dan karena tidak
ada pelampiasan lain untuk semua semangat ini, aku mulai mondar-mandir di
kamar. Tak lama kemudian, suara gedoran terdengar dari dinding kamar sebelah.
“Bisa nggak kamu diam dan mati aja?!”
Itu suara adikku, Ayaka, dengan nada sebal.
Meskipun menurutku agak keterlaluan untuk gadis kelas dua SMP mendoakan
kematian kakaknya hanya karena sedikit berisik, aku sepakat bahwa aku memang
harus tenang—jadi aku duduk di tepi tempat tidur dan menarik napas dalam-dalam
satu per satu sampai akhirnya aku merasa sedikit lebih tenang.
Hoshihara... Natsuki Hoshihara. Gadis ceria dan
penuh semangat yang baru satu kelas denganku sejak awal tahun kedua. Sampai
hari ini, aku cuma menganggap dia gadis ceria biasa, tapi setelah benar-benar
ngobrol dengannya satu lawan satu, aku sadar bahwa kesan awalku ternyata tidak
cukup menggambarkan dirinya. Ada sesuatu yang sangat memikat dari senyum
malu-malunya yang konyol dan reaksi berlebihan yang menggemaskan. Bagaimana
bisa aku tidak sadar bahwa semua itu justru sangat menarik, padahal kami sudah
satu kelas selama berbulan-bulan? Sekarang aku malah menantikan datangnya hari
sekolah. Bayangkan saja.
Oh, benar. Aku seharusnya mengirim pesan berisi
rekomendasi buku padanya, kan? Dia bilang dia bukan pembaca berat, jadi mungkin
aku harus pilih buku yang nggak terlalu tebal kalau-kalau dia nggak terlalu
suka, atau—
Aku menepuk dahiku.
“Nggak... Tenang, bodoh,” gumamku sambil mengusap
kening dan menggelengkan kepala.
Dia cuma ngasih kontaknya, kok. Kenapa aku sampai
terlalu bersemangat begini? Memang, ini mungkin hal besar buatku, tapi apa aku
sebodoh itu sampai berpikir ini juga hal besar bagi gadis populer sepertinya?
Apa aku belum belajar dari kejadian waktu SMP
dulu? Jelas-jelas aku membiarkan perasaanku membutakan diri terhadap kenyataan
lagi—hanya melihat apa yang ingin kulihat darinya, dan menafsirkan kata-kata
serta tindakannya dengan cara yang paling menguntungkan diriku. Aku harus mulai
berpikir logis. Objektif.
Maksudku, coba pikir—ini gadis imut, ramah banget,
dan manis luar biasa. Masa iya aku pikir aku cowok pertama di sekolah ini yang
naksir dia? Pasti banyak cowok lain yang juga tertarik pada Hoshihara. Bukan
berarti aku pernah dengar ada drama asmara seputar dia, tapi aku juga nggak
akan kaget kalau ternyata dia punya pacar. Kalaupun tidak, sangat mungkin dia
sudah naksir cowok lain, persis seperti gadis yang kusukai dulu di SMP.
Apa aku udah lupa pelajaran dari kekacauan waktu
itu? Jangan pernah salah mengira kebaikan atau senyum manis sebagai tanda
cinta; semua orang selalu punya tujuan masing-masing—dan biasanya, pada
akhirnya, tujuan itu tidak melibatkanmu.
...Oke. Aku mulai merasa akal sehatku kembali.
Untuk saat ini, strategi terbaik adalah bermain aman—anggap saja dia hanya
senang karena aku suka buku yang dia juga suka, dan bahwa dia membagikan
kontaknya cuma karena terbawa suasana. Jangan sampai aku menafsirkan isyarat
itu sebagai sesuatu yang lebih, apalagi sampai gila dan mencoba mengajaknya
kencan. Aku bersumpah pada diriku sendiri, saat itu juga, bahwa aku tidak akan
mengulangi kesalahan yang sama.
Namun tepat saat aku mulai benar-benar tenang,
ponselku bergetar di atas ranjang. Aku mengambilnya dan membukanya—ada satu
pesan baru. Dari Hoshihara.
Hei, cuma mau ngasih tahu kalau aku udah beli buku
yang kamu rekomendasiin—The Echidna’s Dream!
Mungkin aku bakal butuh waktu lama buat bacanya, soalnya aku baca agak
lambat, tapi aku pasti bakal kasih tahu kamu pendapatku begitu selesai!
Pesan itu disertai foto tangan yang sedang
memegang buku itu, diambil di kamar tidurnya. Nggak mungkin. Dia benar-benar
membeli buku itu di hari yang sama aku rekomendasikan?! Keadaan emosiku yang
sebelumnya langsung kembali dengan kekuatan penuh. Semua pertahananku runtuh.
Aku melompat kembali ke kasur dan menendang-nendang lebih keras lagi.
Seperti biasa, gedoran kembali terdengar dari
dinding sebelah.
“MATI AJA!”
Masih terasa agak keterlaluan sih.
Hoshihara dan aku saling bertukar beberapa pesan
setelah itu, tapi percakapannya berakhir dengan sendirinya. Aku terkejut betapa
besar energi mental yang dibutuhkan hanya untuk menyusun satu pesan yang
layak—dan betapa menyiksanya menunggu balasan! Berkali-kali aku duduk sambil
menghitung setiap menit dan detik antara satu pesan dan berikutnya, lalu
kepikiran balasan yang lebih cerdas, atau cara merangkai kalimat yang lebih
bagus, dan langsung merasa menyesal karena baru kepikiran setelah mengirim.
Tapi tetap saja, aku tidak bisa mengeluh; aku begitu gembira sampai-sampai
tanganku masih gemetar karena antusiasme bahkan lama setelah aku mengirim
balasan terakhir. Sampai-sampai Ayaka menyadarinya saat makan malam dan
bertanya kenapa aku “senyum-senyum kayak orang aneh.” Tapi dia memang sering
ngomong begitu tentang aku, jadi aku tidak terlalu peduli.
Meskipun saat itu sudah jam delapan malam, euforia
yang kurasakan belum juga reda. Aku terus gelisah sendiri, tidak bisa duduk
diam atau menenangkan diri. Jadi, daripada mondar-mandir di rumah dan dimarahi
Ayaka lagi, aku memutuskan lebih baik jalan-jalan keluar saja. Aku bilang ke
orang tuaku kalau aku mau keluar sebentar, lalu mengenakan sepatu dan pergi
menghirup udara malam.
Udara malam itu sejuk dan menyenangkan, jauh dari
lembapnya panas siang tadi. Angin sepoi-sepoi bertiup pelan di sepanjang jalan,
dan suara serangga musim panas menggelitik telingaku. Aku mulai
berjalan—menyusuri kompleks rumahku, lalu ke jalan besar, kemudian belok ke
arah sungai besar, dan akhirnya menuruni tanggul tinggi di sisinya.
Aku teringat saat dulu dataran banjir di tepi
sungai itu adalah tempat terbaik untuk melihat kunang-kunang saat aku masih
kecil—meskipun sekarang sudah berubah jadi tempat pembuangan liar. Perabotan
besar dan barang elektronik rusak berserakan di pinggir sungai, dan tak
terlihat satu kunang-kunang pun. Tapi harus kuakui, ada semacam keindahan
modern dalam sepeda-sepeda berkarat, televisi tabung yang pecah, dan sofa-sofa
penuh rumput liar—semuanya dibiarkan membusuk dan rusak di bawah langit
berbintang.
Aku mendongak ke langit; malam itu bulan setengah,
tapi cukup terang sehingga aku bisa melihat lekuk bagian gelapnya juga.
Bintang-bintang tampak berkelap-kelip di balik awan tipis yang bergerak cepat.
Malam yang menyenangkan untuk berjalan-jalan—dan angin sejuk di wajahku
membuatku tanpa sadar melangkah lebih cepat. Sebelum kusadari, aku sudah sangat
jauh dari rumah. Aku mengeluarkan ponsel untuk melihat waktu dan ternyata sudah
lewat jam sembilan malam.
Sudah mulai malam, pikirku. Lebih baik aku pulang.
“…Hm?”
Tepat ketika aku hendak berbalik, aku mendengar
suara aneh dari arah dekat. Suara itu seperti suara orang tersedu—tarikan napas
pendek dan terburu-buru dengan jeda panjang di antaranya.
Aku berhenti dan menoleh. Di bawah tanggul, di
sisi jalan menuju jalan raya, ada sebuah taman kecil. Di sana, aku melihat
siluet seseorang duduk di bangku taman. Punggungnya menghadap ke arahku, dan
kepalanya tertunduk, jadi aku tidak bisa melihat wajahnya—tapi dari lampu jalan
di dekatnya, aku bisa melihat bahwa orang itu mengenakan seragam pelajar
perempuan. Mungkin gadis seusiaku.
Sampai di titik itu, aku sudah cukup yakin apa
suara tadi. Dia pasti sedang mengalami masa sulit, atau kalau tidak, kenapa dia
duduk sendirian sambil menangis di taman gelap? Tapi di saat yang sama, ini
bukan situasi di mana bantuan dari orang asing sepertiku terasa diperlukan,
apalagi diinginkan, dan hal terakhir yang kuinginkan adalah membuatnya mengira
aku orang mencurigakan dengan maksud tersembunyi. Jadi sebaiknya aku pura-pura
tidak melihat dan pulang saja... Tapi entah kenapa, aku tidak bisa
melakukannya.
Kalau dilihat lebih dekat, seragam model sailor
yang dikenakannya mirip dengan seragam SMP Tsubakioka—sekolah tempat Ayaka
bersekolah sekarang, dan almamaterku juga. Entah kenapa, aku merasa semacam
keterikatan aneh dengan gadis itu, dan meskipun aku tahu bukan tugasku sebagai
alumni untuk memperhatikan semua murid setelahku, aku tetap saja merasa ingin
tahu masalah apa yang sedang ia alami dan ingin menolong.
Setelah beberapa saat ragu, aku menuruni tanggul
dan berjalan menuju taman. Aku mengitari jalan masuknya dan akhirnya bisa
melihat gadis itu dari depan—meskipun wajahnya masih terkubur di telapak
tangannya, jadi ekspresinya tak terlihat. Tapi ada satu hal yang langsung
menarik perhatianku: warna rambutnya yang terang mencolok.
Mungkin hanya karena lampu taman mempermainkan
pandanganku, tapi rambutnya tampak seperti warna pirang pucat transparan alami
yang biasanya menandakan keturunan non-Jepang. Kalau memang begitu,
satu-satunya yang terpikirkan adalah—
Ah, nggak mungkin. Itu nggak masuk akal, pikirku,
terkekeh pelan.
Dengan hati-hati, aku melangkah lebih dekat.
Semakin dekat, aku bisa melihat lebih jelas sosok gadis itu—dan akhirnya aku
menyadari ada yang aneh dengan seragamnya. Terlalu kecil, seolah dia mengenakan
baju yang ukurannya jauh lebih kecil darinya. Kain di sekitar bahunya tampak
tertarik dengan sangat ketat, dan ujung bawah blusnya terlalu pendek sampai
memperlihatkan perutnya dari pusar ke bawah. Dan entah kenapa, dia tidak
mengenakan sepatu atau bahkan kaus kaki. Sepertinya dia berjalan ke sana dengan
kaki telanjang.
Semakin dekat aku melangkah, semakin jantungku
berdetak cepat lagi, meskipun bukan karena kegembiraan seperti sebelumnya. Ini
lebih seperti rasa tidak nyaman—semacam kegugupan dan kecanggungan saat
menghadapi sesuatu yang sama sekali berbeda dari yang pernah kau kenal. Sesuatu
yang tak bisa sepenuhnya kau pahami. Tapi aku tidak bisa pergi begitu saja
sekarang. Aku harus tahu pasti.
Sekitar dua atau tiga meter dari bangku, sol
sepatuku bersentuhan keras dengan aspal—dan orang yang duduk di bangku itu
mendongak. Rambut pirang keperakan yang familiar itu berayun karena gerakan
tiba-tiba, lalu perlahan jatuh kembali. Dan saat itu juga, aku tahu bahwa aku
tidak bisa lagi pura-pura tidak tahu. Karena aku benar-benar tahu siapa orang
itu.
“…Ushio?”
Kami dulu adalah sahabat terbaik.
Ushio terlahir dengan rambut pirang keperakan
alami yang ia warisi dari ibunya yang berasal dari Rusia—dan warnanya begitu
terang hingga hampir tampak tembus cahaya. Sejauh yang kutahu, dia adalah
satu-satunya orang di seluruh Tsubakioka yang memiliki rambut seperti itu.
Ibunya meninggal saat kami masih di sekolah dasar, dan adik perempuannya,
Misao, mewarisi rambut hitam tebal milik ayah mereka. Tentu saja, dengan
kombinasi pemutih dan pewarna rambut yang tepat, siapa pun bisa saja meniru
warna rambut Ushio, jadi awalnya aku tidak mau langsung menyimpulkan—tapi
setelah kulihat wajahnya, aku bisa memastikan tanpa keraguan sedikit pun bahwa
orang yang duduk di depanku memang sahabat lamaku, Ushio.
Ushio menatapku seperti rusa yang tersorot lampu
mobil: terkejut, tapi tidak bisa bergerak atau bersuara. Ia hanya duduk di sana
sambil gemetar, kulitnya yang memang sudah pucat kini tampak seputih kertas.
Dari kemerahan dan bengkak di sekitar matanya, aku tahu pasti bahwa dia baru
saja menangis sejadi-jadinya. Kini iris matanya yang abu-abu pucat hanya
menatapku balik, bergetar tak percaya.
Kenapa dia
menangis? aku bertanya-tanya. Rasanya masuk akal jika itu ada hubungannya
dengan pakaian yang ia kenakan—meskipun aku bahkan tak bisa menebak kenapa dia
sedang berpakaian seperti perempuan saat itu. Apa dia memang sudah lama
tertarik dengan cross-dressing dan pandai menyembunyikannya? Mungkin saja
begitu. Tapi sekarang aku sudah melihatnya seperti ini, aku tidak bisa
pura-pura tidak tahu. Aku harus mengatakan sesuatu.
“U-Ushio…?
Itu kamu?” tanyaku ragu. “K-kenapa kamu berpakaian seperti itu?”
Matanya
langsung membelalak begitu cepat, aku sampai takut matanya bakal melompat
keluar dari rongganya. Mulutnya terbuka dan tertutup beberapa kali, tapi tak
satu pun kata keluar. Aku belum pernah melihatnya sebingung dan sepanik ini.
Dia
mencoba mengeluarkan alasan. “S-Sakuma, tidak, a-aku bisa jelaskan, aku cuma—”
Nada
suaranya yang biasanya tenang dan berat terdengar retak, membuatnya terlihat
sangat tertekan. Bahkan untuk menyusun satu kalimat pun dia kesulitan, dan tak
lama kemudian, satu-satunya yang keluar dari mulutnya hanyalah tarikan napas
berat. Setiap kali dia mencoba menjelaskan, jeda antar napasnya makin pendek,
dan tak lama kemudian dia benar-benar kesulitan bernapas, wajahnya menegang
menahan sakit, dan ia mencengkeram dadanya.
Ya Tuhan…
Dia kena serangan hiperventilasi!
“Ushio!
K-kamu nggak apa-apa?!” teriakku.
Tak lama
kemudian, dia terhuyung ke depan—lalu muntah. Aku hanya bisa terpaku, terkejut,
saat dia memuntahkan isi perutnya di trotoar taman, membentuk genangan besar
berisi cairan dan makanan yang belum tercerna. Bahkan setelah tubuhnya
mengeluarkan semua yang tersisa dari lambungnya, dia masih terus muntah kering
cukup lama. Saat akhirnya berhenti, aku melihat jejak liur panjang dan mengilap
menggantung dari mulutnya ke tanah, berkilau diterangi lampu jalan.
Meski aku
menyaksikannya sendiri, rasanya sulit dipercaya: sahabat masa kecilku, salah
satu cowok paling keren, pintar, dan tampan di kelas, baru saja muntah
habis-habisan di hadapanku sambil mengenakan seragam cewek. Bahkan setelah
muntahnya berhenti, aku tidak bisa berkata apa-apa—karena aku benar-benar tidak
tahu apa yang sebaiknya kukatakan dalam situasi seperti ini. Sementara itu,
Ushio hanya menundukkan kepala lemas untuk waktu yang cukup lama, seolah-olah
jiwanya baru saja meninggalkan tubuh. Lalu, setelah keheningan yang panjang dan
canggung, dia berdiri dengan langkah goyah dan lari seperti peluru yang
ditembakkan. Saat dia melewatiku, aku sempat menangkap sekilas wajahnya. Dia
menangis lagi.
Dan
begitulah, aku ditinggalkan sendirian di taman kosong itu, hanya ditemani
nyanyian serangga malam yang nyaring dan merdu. Aku tak bisa menghilangkan
perasaan bahwa entah bagaimana, aku baru saja melakukan kesalahan
besar—kesalahan yang tak bisa diperbaiki.
(…)
Begitu
sampai di rumah, aku langsung rebahan di tempat tidur. Semuanya masih terasa
tidak nyata—begitu tidak nyata, sampai-sampai aku sempat berpikir apakah aku
cuma sedang mimpi aneh. Setiap kali aku mengingat kejadian di taman malam itu,
muncul rasa aneh di mulutku—seperti rasa bersalah. Seolah aku telah melihat
sesuatu yang seharusnya tidak kulihat. Aku tahu ini bukan sepenuhnya salahku,
karena aku kebetulan ada di tempat itu pada saat yang sama, tapi tetap saja,
rasanya seperti tanggung jawabku. Seandainya aku tidak keluar rumah malam itu,
mungkin Ushio tidak akan mengalami hiperventilasi, dan tidak akan muntah
sejadi-jadinya.
Aku
mengeluarkan ponselku, membuka buku alamat, dan menggulir ke entri Ushio
Tsukinoki. Sekarang aku ingat, dia adalah kontak pertama yang pernah kumasukkan
saat tahun pertama SMA. Waktu itu dia mendatangiku saat aku sedang main-main
dengan ponsel, lalu mengajakku tukaran nomor.
Kalau aku
mau, aku bisa langsung mengirim pesan kepadanya sekarang, menanyakan apa yang sebenarnya
terjadi, atau menawarkan telinga jika dia butuh curhat. Tapi aku tak tahu
apakah menyinggung hal itu justru keputusan yang benar. Sesuatu dalam diriku
berkata bahwa Ushio tidak ingin dilihat seperti itu, mengenakan pakaian
perempuan. Kalau begitu, mungkin yang terbaik adalah melupakan semua yang
kulihat malam ini dan tak pernah membahasnya lagi.
“…Ya,
mungkin itu yang terbaik,” gumamku pada langit-langit kamar.
Aku
tiba-tiba teringat sesuatu yang pernah kubaca di buku lama: “Kalau petir
menyambar di gunung terpencil, dan tidak ada seorang pun di sekitar, apakah
guntur itu benar-benar berbunyi?” Jawaban dalam buku itu adalah tidak—karena
tidak ada yang mendengarnya, maka suara itu sama saja seperti tidak pernah ada.
Jika tidak
ada jejak dari suatu kejadian—baik dalam bentuk rekaman maupun ingatan
manusia—maka sangat mungkin untuk berpura-pura bahwa kejadian itu tak pernah
terjadi. Ini mirip dengan logika di balik pernyataan “selama tidak ketahuan,
itu bukan selingkuh.” Aku tidak ragu bahwa Ushio berharap kejadian tadi malam
tak pernah terjadi, jadi hal terbaik yang bisa kulakukan untuknya sekarang
adalah menghapusnya dari ingatanku sepenuhnya dan berharap dia juga bisa
melakukan hal yang sama. Dengan begitu, kami berdua tak perlu mengakui soal
cross-dressing maupun muntah-muntah itu.
Jadi, aku
memutuskan malam itu juga, saat bertemu dia di sekolah hari Senin nanti, aku
akan bersikap seolah semuanya normal-normal saja. Aku tidak akan
memperlakukannya secara berbeda. Dia akan kembali menjadi salah satu cowok
paling populer di kelas, dan aku akan kembali menjadi si penyendiri. Jelas itu
keputusan terbaik—untuk kami berdua.
Keputusanku
sudah bulat.
Sayangnya,
hari Senin itu Ushio tidak masuk sekolah. Guruku bilang dia menelepon dan
bilang sakit flu. Meskipun beberapa teman sekelas sempat menunjukkan rasa
khawatir (atau malah bercanda dan menyebut dia penakut), tidak ada yang
membahasnya lagi setelah jam pelajaran kedua. Hal ini membuatku percaya bahwa
aku satu-satunya orang di kelas yang tahu (mungkin) alasan sebenarnya dia tidak
masuk. Aku tidak menyalahkan dia mengambil waktu untuk memulihkan diri dari
kejadian memalukan seperti itu. Aku berharap itu hanya sementara, dan dia akan
kembali ke sekolah esok hari seolah tak terjadi apa-apa.
Namun,
esoknya Ushio tetap tidak datang.
Begitu
juga lusa.
Dan
hari-hari setelahnya pun dia tetap tak muncul…
Seiring
berjalannya hari, makin banyak teman sekelas yang benar-benar menunjukkan rasa
khawatir terhadap Ushio—terutama mereka yang termasuk dalam lingkaran dekatnya.
Setiap pagi, begitu mengetahui bahwa dia kembali absen, mereka langsung saling
melempar pandang cemas, berspekulasi dengan suara pelan tentang apa yang
mungkin terjadi padanya, apakah mungkin dia mengidap sesuatu yang lebih parah
dari flu, sambil mencatat bahwa dia juga tidak muncul di latihan atletik. Dalam
salah satu percakapan kelompok itu, aku sempat mendengar bahwa tak satu pun
dari mereka berhasil menghubungi Ushio, bahkan teman terdekatnya sekalipun.
Kabarnya, mereka bahkan sempat mencoba mengunjungi rumahnya setidaknya satu
kali, tapi ditolak masuk. Aku tak bisa menyalahkan mereka karena merasa
cemas—aku sendiri pun tidak tahu harus berbuat apa.
Haruskah
aku mengirim pesan? Meneleponnya? Mungkin datang ke rumahnya?
Tentu saja
aku khawatir. Membayangkan kemungkinan dia keluar dari sekolah dan tak pernah
menampakkan diri lagi membuat perutku terasa mual. Aku mulai menyalahkan diriku
sendiri karena sudah keluar rumah malam itu.
Namun
hari-hari terus berlalu, dan aku masih belum tahu harus berbuat apa.
Hingga
akhirnya, menjelang akhir bulan Juni, setelah Ushio absen lebih dari sepuluh
hari, Bu Iyo membuka sesi homeroom pagi kami dengan mengatakan bahwa ada
“sesuatu yang sangat penting” yang perlu kami bicarakan.
※※※
“Silakan
masuk,” kata Bu Iyo.
Suaranya
terdengar jelas di ruang kelas yang hening. Semua teman sekelasku menahan napas
saat pintu geser itu bergetar terbuka—dan seorang murid baru pun masuk.
Kelas
langsung menjadi gaduh. Dari berbagai sudut terdengar seruan bingung seperti
“Hah?” dan “Eh, apaan tuh?!” Sebagian siswa menatap dengan mata terbelalak
karena kaget, sebagian lagi mengernyit jijik, dan yang lain tersenyum kaku
seolah tidak yakin apakah ini semacam lelucon. Dari bangkuku di belakang kelas,
aku bisa melihat beragam reaksi atas kedatangan siswa baru ini—tapi hanya aku
yang benar-benar tahu, jauh di dalam hati, apa yang akan terjadi bahkan sebelum
pintu itu terbuka. Tetap saja, aku tak bisa menahan diri untuk menelan ludah
dan menatap tanpa kata seperti yang lain.
Siswa yang
kini berdiri di podium adalah Ushio Tsukinoki. Hanya saja, hari ini, dia
mengenakan seragam standar milik siswi SMA Tsubakioka.
Sejujurnya,
dengan kulitnya yang cerah dan tubuh ramping, seragam itu terlihat cukup alami
di tubuhnya—jauh lebih cocok dibandingkan dengan pakaian yang dia kenakan di
taman malam itu. Mataku langsung tertuju pada sepasang stoking hitam elegan
yang menjulur dari bawah roknya. Mengingat dia memang sudah punya penampilan
yang cukup feminin, aku mungkin saja mengira dia benar-benar perempuan kalau
tidak tahu siapa dia sebenarnya.
Tentu
saja, kami semua tahu siapa dia sebenarnya. Bagaimanapun juga, dia ganti baju
bersama kami para cowok sebelum pelajaran olahraga, dan dia termasuk dalam tim
atletik putra. Tampaknya bukan aku saja yang merasa bingung dan tak tahu harus
bereaksi seperti apa. Tapi pada akhirnya, Ushio sendirilah yang memecah
keheningan yang canggung itu:
“Maaf
karena tidak membalas pesan atau panggilan dari kalian selama aku tidak masuk,”
katanya, datar dan tanpa ekspresi, seolah sedang membacakan pidato yang telah
dia hafalkan. Berbeda dengan penampilannya, suaranya tidak berubah. “Aku yakin
ini pasti mengejutkan bagi kalian, tapi sebenarnya aku sudah lama
mempertanyakan identitasku sebagai laki-laki. Dan minggu lalu, aku sudah
membicarakannya dengan keluargaku, dan aku memutuskan untuk mencoba menjalani
hidup sebagai perempuan mulai sekarang. Aku harap kalian bisa mengerti dan
tetap menerimaku.”
Begitu
Ushio selesai berbicara, keheningan yang tak nyaman kembali menyelimuti kelas.
Akhirnya, seorang cowok yang duduk di barisan depan—yang memang dikenal suka
bicara seenaknya dan sering melontarkan komentar bodoh—mengangkat tangan.
“Eh, jadi…
Maksudnya kamu tuh sebenernya cewek dari awal?” tanyanya. “Harusnya aku panggil
kamu Ushio-chan, bukan Ushio-kun ya? Maaf ya, bro.”
Pertanyaan
sarkastis ini memecah keheningan dan membuat beberapa orang terkekeh pelan.
Ushio
mengerutkan kening sedikit tapi tetap mencoba menjawab dengan tulus. “…Terserah
sih, kamu bisa menganggapnya seperti itu kalau mau. Tapi aku nggak terlalu
masalah dipanggil pakai panggilan apa pun. Kamu boleh tetap manggil aku
‘Ushio-kun’ kalau mau.”
“Oke, tapi
kalau kamu mau ke toilet, kamu bakal pake kamar mandi cewek mulai sekarang?”
“Umm, ya…”
Ushio agak
terdiam mendengar pertanyaan itu, lalu menggigit bibirnya dan menunduk
canggung. Seorang cowok lain di kelas lalu ikut membuka mulut dengan nada
santai dan lesu.
“Jadi, eh…
Kamu cuma lagi bercanda, kan? Maksudku, nggak bermaksud menyinggung ya, tapi
suasananya jadi agak aneh sekarang, jadi susah ngebedain ini beneran atau
nggak. Aku sih respek sama totalitas kamu ngejalanin perannya, tapi ayolah,
bro.”
Cowok itu
menoleh ke teman-temannya seolah mencari dukungan.
“Aku juga
sempet ketipu sih.”
“Nggak, aku
tahu dari awal ini cuma lelucon.”
“Tapi
anehnya dia cocok juga sih pake seragam cewek.”
Satu per
satu, cowok-cowok di sekitar pembicara mulai menimpali komentar tentang
perubahan tak terduga dari Ushio—dan semuanya terdengar seperti ingin
mengatakan hal yang sama: “Oke, lucu sih, tapi mending akhiri aja bercandaannya
sekarang.” Tak ada nada jahat dari suara mereka; kalau pun ada, sepertinya
mereka sedang berusaha memberikan Ushio jalan keluar yang mudah. Seolah mereka
ingin menyelamatkan teman sekelas paling populer itu dari mempermalukan diri
sendiri lebih jauh.
Ushio
menggeleng pelan. “Ini bukan lelucon,” katanya dengan suara tenang namun tegas.
Teman-temannya terdiam, tak bisa berkata apa-apa, dan keheningan kembali
menyelimuti kelas. “Sama sekali bukan lelucon.” Dia mengulanginya, lambat dan
mantap, dengan ekspresi yang sungguh-sungguh.
Suasana di
ruangan seketika terasa membeku.
Aku bahkan
bisa mendengar suara guru yang sedang mengajar di kelas sebelah.
“Baiklah,
anak-anak! Sampai di sini dulu, ya!” kata Bu Iyo—yang dari tadi memperhatikan
dari pinggir ruangan—sambil bertepuk tangan dua kali dan kembali ke posisi
semula. “Silakan duduk, Ushio! Saya masih harus mengajar di sini. Siap-siap
untuk kuis kanji hari ini, ya!”
Meski nada
suaranya ceria, ini jelas menjadi pengingat yang tak menyenangkan, karena
teman-teman sekelasku langsung mengeluh dan dengan malas mengeluarkan buku
pelajaran Bahasa Jepang mereka. Ushio membungkuk sedikit kepada Bu Iyo, lalu
berjalan ke mejanya. Rasanya seperti ketenangan tiba-tiba sebelum badai datang.
Begitu
pelajaran pertama usai, banyak teman sekelas langsung berbondong-bondong
menghampiri Ushio, mengelilingi mejanya. Mereka menghujaninya dengan berbagai
pertanyaan lancang dan sok tahu: Apakah dia membeli sendiri seragam itu? Apakah
dia memang dari dulu ingin jadi perempuan? Apakah sekarang dia juga memakai
pakaian dalam wanita? Ushio, yang jelas tampak sedikit tidak nyaman, sebagian
besar menjawab dengan jawaban yang samar dan tidak tegas.
“Hari-hari
aneh, ya, Bro,” kata seseorang padaku. Aku menoleh dan melihat Hasumi berdiri
di samping mejaku sambil memandangi keramaian di sekitar Ushio.
“Ya,
sumpah,” jawabku. “Aku juga masih belum percaya.”
“Maksudmu
kamu gak pernah lihat tanda-tanda sebelumnya?”
“Enggak,
sama sekali. Maksudku, dia memang punya wajah yang agak feminin, dan aku ingat
dulu juga berpikir dia kelihatan agak kewanita-wanitaan waktu kecil… Tapi tetap
saja, dia selalu jadi laki-laki di pikiranku, dan selama ini juga selalu tampil
sebagai cowok di sekolah dan lainnya.”
“Gak
mungkin dia sebenarnya cewek dari dulu dan kamu gak sadar?”
“Enggak
lah. Maksudku, kayaknya enggak… Yah, aku rasa begitu.”
“Eh,
tunggu, jadi kamu juga gak yakin?”
Waktu
kupikir-pikir, secara teknis memang aku gak pernah benar-benar dapat konfirmasi
secara langsung. Bahkan waktu kami menginap di rumah masing-masing saat kecil,
kami selalu mandi terpisah, dan dia juga selalu absen di hari renang waktu SD.
Kalau tidak salah, dia dibebaskan karena katanya punya masalah kulit kronis,
jadi aku memang gak pernah lihat dia pakai baju renang.
T-tunggu
sebentar. Gimana kalau ternyata dia memang cewek dari dulu?
Tapi lalu
aku ingat—dulu waktu masih di kelas rendah SD, kami pernah ke toilet bareng,
dan aku cukup yakin ada beberapa kali kami berdiri sebelahan di urinal.
Bukannya aku intip atau gimana, tapi hal itu jelas gak mungkin terjadi kalau
dia sebenarnya dari jenis kelamin berbeda… kan?
Aduh,
sial… Sekarang aku malah mulai ragu sama ingatanku sendiri.
“Yah,
kayaknya kamu bener sih,” kata Hasumi. “Dia pasti cowok.”
“Kenapa
kamu yakin banget?” tanyaku.
“Coba
pikir, bro. Mereka nggak bakal izinin dia ikut kompetisi tingkat regional kalau
dia ngibulin soal jenis kelamin, kan?”
Oh. Iya
juga. Mengingat perbedaan kekuatan fisik rata-rata antara laki-laki dan
perempuan, wajar kalau tim olahraga yang tidak campuran punya aturan dan
prosedur untuk memastikan identitas biologis anggotanya. Lagi pula, aku tahu
seragam atletik biasanya cukup ketat, jadi juga gak gampang untuk
menyembunyikan sesuatu.
“Ya juga…
Benar,” kataku. “Jadi bisa dibilang dia—atau dia, maksudku sekarang—secara
fisik laki-laki, tapi jiwanya perempuan.”
“Yap. Tapi
aku harus bilang, ini semua kayaknya masuk akal sih.”
“Hah?
Maksud kamu gimana?” Pertanyaan ini cukup mengejutkanku.
“Coba lo
pikir sebentar. Nggak aneh kah kalau cowok kayak Tsukinoki, yang selalu populer
banget di kalangan cewek, tapi gak pernah sekalipun pacaran? Jadi kayaknya dia
udah mikirin ini dari lama.”
“Ohhh… Iya
juga…”
Aku harus
mengakui, aku cukup terkesan dengan cara Hasumi menyimpulkan hal-hal ini; mulai
dari soal seleksi regional, sekarang soal kehidupan asmara Ushio. Dia ada
benarnya. Sekeren dan setenar apapun Ushio, aku belum pernah dengar gosip apa
pun soal dia pacaran. Selama ini aku pikir itu karena dia punya standar yang
terlalu tinggi, atau mungkin dia suka sama seseorang yang gak ngebales
perasaannya, tapi bisa jadi memang dia gak tertarik sama cewek. Bukan berarti
jadi cewek artinya harus suka cowok, tentu saja, tapi itu tetap penjelasan yang
masuk akal.
Aku
melirik ke arah Ushio, yang masih dikerubungi seperti selebriti di konferensi
pers, dan mulai kelihatan lelah dengan semuanya.
“Aku akan
mencoba menjalani hidup sebagai perempuan mulai sekarang.”
Kata-kata
Ushio bergema di kepalaku seperti rekaman yang terus diputar ulang. Aku
teringat ekspresi di matanya saat dia berdiri di podium; ada keberanian di
sana, sesuatu yang terasa lebih dalam dari sekadar tekad. Dia bukan lagi orang
yang menangis tersedu-sedu di taman malam itu. Aku jadi penasaran, apa yang
memberinya kekuatan sebesar ini?
“Apa-apaan
sih ini sebenarnya?!”
Sebuah
teriakan marah terdengar dari arah pintu, dan jantungku hampir lompat keluar
dari dada. Ushio dan aku—dan seluruh kelas, sebenarnya—segera menoleh ke arah
pintu, di mana seorang siswa bertubuh tinggi dan berkulit gelap berdiri. Kalau
aku ingat dengan benar, namanya Fusuke Noi, dan dia anggota tim atletik. Aku
tahu itu karena aku ingat dia pernah berdiri di atas panggung bersama Ushio
saat upacara sekolah, menerima semacam penghargaan. Dia masuk ke kelas dengan
langkah berat dan langsung menghampiri meja Ushio.
“Hey,
Ushio. Kamu sekarang cuma lagi males-malesan, ya?!”
Cowok itu
tampak benar-benar marah. Kami semua diam dan menonton konfrontasi itu dengan
cemas.
“Itu bukan
maksudku,” kata Ushio dengan tenang, tetap duduk di kursinya sambil menatap ke
atas ke arah Noi yang berdiri mengintimidasinya.
“Terus
kenapa kamu gak pernah dateng latihan, hah? Katanya kamu kena flu, tapi
ternyata itu bohong. Kita punya seleksi regional sebentar lagi, kamu tahu kan…
Emang kamu udah gak peduli lagi, ya?”
“Aku udah
keluar dari tim.”
“APA?!”
Bisik-bisik
langsung menyebar di seluruh kelas. Jelas bukan hanya Noi yang terkejut
mendengar bahwa Ushio—yang bahkan sudah ikut regional sejak tahun
pertama—memutuskan untuk keluar dari tim atletik. Bahkan aku yang gak ngerti
apa-apa soal dunia olahraga pun tahu ini masalah besar. Seorang atlet sukses
keluar dari tim di tengah masa SMA-nya itu seperti membuang pencapaian terbesar
masa remaja—belum lagi status sosial dan rasa hormat yang biasanya
menyertainya.
Jelas,
Ushio tahu apa yang dia lakukan. Dia menatap Noi dengan ekspresi
sungguh-sungguh menyesal. “Maaf karena aku gak ngomong duluan sama kamu,”
katanya. “Tapi aku sudah mengambil keputusan. Aku udah kasih surat pengunduran
diri ke pelatih tadi pagi. Udah terlambat buat menarik kembali.”
“Sekarang kamu
bener-bener bikin aku kesel.”
Noi
mencengkeram kerah baju Ushio dan menariknya berdiri dari kursinya. Siswi di
meja sebelah langsung menjerit, dan salah satu cowok langsung berdiri untuk
melerai, tapi Ushio mengangkat tangan, memberi isyarat agar dia mundur. Ada
ketenangan dalam ekspresi Ushio saat dia menatap Noi—seolah sudah siap menerima
apa pun yang terjadi.
“Hantam
aja aku kalau kamu mau, Fusuke.”
“…Aku cuma
mau tanya satu hal terakhir,” kata Noi. “Dan aku mau kamu jawab jujur. Katanya kamu
bilang pengen jadi cewek mulai sekarang. Itu bener atau cuma becanda? Dan kamu
beneran keluar dari tim?”
Seluruh
kelas menahan napas. Ketegangannya terasa menyesakkan.
Lalu Ushio
menjawab. “Ya. Itu benar. Dan aku memang keluar.”
“Oke.
Berarti urusannya selesai,” kata Noi, melepas genggamannya.
Ushio
perlahan duduk kembali dan merapikan kerah bajunya yang berantakan.
“Kayaknya aku
salah menilai kamu,” kata Noi sebelum berbalik dan meninggalkan ruangan dengan
tenang. Setelah itu, tak satu pun dari kami mengucapkan sepatah kata pun.
Di tengah-tengah pelajaran kedua, aku mendapat
sedikit pencerahan. Tampaknya bukan hanya Bu Iyo, melainkan semua staf pengajar
sudah diberi tahu sebelumnya tentang niat Ushio untuk menjalani hidupnya
sebagai gadis mulai sekarang. Kalau belum, mestinya mereka akan berkata sesuatu
setidaknya ketika melihatnya memakai seragam itu hari ini—tapi tak satupun dari
mereka bereaksi.
Dugaan terkuatku adalah Ushio dan keluarganya
telah memberi tahu sekolah lebih dulu, dan para guru diperintah untuk tidak
berkomentar. Ya ampun, benar-benar persiapan yang matang. Ushio jelas serius
ingin melakukan transisi ini.
“Aduh, tapi aku benar-benar nggak paham…”
Aku mulai berpikir keras—meski berbisik pelan,
seolah tak ada yang bisa mendengar. Rasanya sia-sia saja bagi seseorang
yang—sebagai cowok—diberkati kecerdasan, daya tarik, dan penampilan yang bagus,
belum lagi kehebatan di bidang olahraga dan popularitas di kalangan cewek,
untuk berubah jadi gadis. Tapi aku tahu bagi Ushio, semua itu mungkin tak ada
artinya dibandingkan keinginannya.
“Iya, aku rasa memang nggak paham, sih,” gumamku
lagi.
“Hm? Apa, Kamiki-kun? Materi ini terlalu sulit
buatmu?”
Astaga! Entah bagaimana, guruku yang mengajar
Bahasa Inggris mendengar bisikanku dari ujung kelas. Suaraku segitu kerasnya,
ya? Gawat.
“Eh, nggak kok, maaf,” jawabku. “Tolong abaikan
saja. Aku baik-baik saja.”
“Kamu yakin? Baiklah, kalau begitu.”
Beberapa teman sekelas menoleh dan menatapku
heran. A-ayo, Sakuma. Kumpulin dirimu, bodoh. Aku sungguh harus lebih fokus.
Bukan cuma pelajaran Bahasa Inggris; aku juga gagal mencerna materi pelajaran
Jepang di jam pertama tadi. Kalau kupikirku mau gagal ujian akhir semester, aku
harus menghentikan pikiran tak perlu ini dan menyimak pelajaran sekarang.
Tiba-tiba aku tersadar: pelajaran berikutnya
adalah olah raga.
Setelah bel berbunyi dan guru Bahasa Inggris
meninggalkan kelas, aku mengamat-amat Ushio dari sudut mataku. Di sekolah kami,
cowok berganti baju di dalam kelas, sementara cewek turun ke ruang ganti. Lebih
dari setengah teman sekelasku yang cewek sudah pergi lebih dulu. Aku
bertanya-tanya apa yang akan dilakukan Ushio.
Secara realistis, aku mengira dia akan tetap
berganti bersama kami cowok, setidaknya untuk sementara. Namun jika dia
benar-benar ingin hidup sebagai gadis, pasti dia mau berganti bersama
teman-teman ceweknya… bukan? Tampaknya aku tak sendiri yang penasaran, karena
kudapati beberapa temanku mencuri pandang ke Ushio sambil bergosip. Akhirnya,
Ushio berdiri dan, dengan tracksuit sekolah di bawah lengannya, keluar dari
kelas.
“Serius?” gumam seseorang, dan aku berpikir hal
yang sama. Beberapa cowok, yang setengah-setengah ganti baju, mengintip dari
pintu. Aku menyusul.
Namun Ushio berjalan ke arah yang berlawanan dari
ruang ganti cewek, melewati tangga, lalu masuk ke ruang serba guna
terdekat—ruang kosong yang sedang tak dipakai siapa pun. Rupanya, ini akan jadi
ruang ganti pribadinya.
Melihat itu, teman-teman cowok di sekitarku
menghela napas—ada yang lega, ada yang kecewa—lalu kembali berganti baju sambil
melontarkan komentar tak sopan. Menyadari aku pun menjadi penonton yang
berfoya-foya, aku merasa jijik pada diri sendiri dan langsung menjauh dari
kerumunan. Saat kembali ke tempat duduk, kudengar percakapan di dekatku.
“Jadi, menurutmu dia beneran serius, nggak?” tanya
salah satu cowok.
“Pasti serius, Bro. Mana mungkin dia sampai
segitunya cuma buat bercanda.”
“Iya, ya… Apalagi semua guru udah tahu. Aku masih
nggak percaya.”
“Maksudku, aku sih selalu merasa dia agak feminin,
jujur saja… Jadi ya, nggak heran dia suka pakaian cewek.”
“Iya, sama. Ngomong-ngomong—menurutmu ini berarti
dia suka cowok juga, nggak?”
“Lho, nggak dong. Ayolah, jangan konyol.”
“Tapi coba pikir, Bro. Dia bilang dia
mempertanyakan gendernya cukup lama, kan? Kayaknya dia merasa sebagai perempuan
di dalam. Jadi, wajar kalau dia tertarik sama cowok juga, kan?”
“Mungkin, kalau dipikir-pikir… Terus gimana
rasanya berganti baju bareng deretan cowok setengah telanjang sampai sekarang?”
“Pasti dia ngerasa paling beruntung di dunia.”
“Kedengarannya masuk akal, ya.”
Mana masuk akal, bodoh.
Aku ingin menutup telinga agar tak mendengar
ocehan tolol mereka, tapi tak kulakukan. Sebodoh dan sekeji apa pun teori-teori
mereka, aku tetap mencuri dengar. Rasanya seperti nifak menonton tontonan
menyedihkan: tahu itu buruk tapi tak bisa berpaling. Mendengar mereka mengejek
Ushio membuatku marah dan muak pada diri sendiri karena tak membelanya, tapi
juga ada rasa lega aneh ketika orang lain jadi sasaran olok-olokan. Kabut emosi
aneh itu perlahan membesar, memenuhi dadaku dengan awan hitam ketidaknyamanan.
“Kalau dia suka cowok, berarti dia—”
“Nggak tahu maksudmu apa. Sebut saja, Bro.”
“Ah, masa, sih? Dia pasti tra—”
Akhirnya, akal sehat menang. Aku langsung berdiri,
meraih baju olahragaku, dan keluar kelas dengan marah. Dari sana, aku menuju
sendirian ke gimnasium. Orang-orang itu menyebalkan—apalagi kalau behave kayak
anak SD.
Sambil kesal dalam hati, aku teringat sebuah
kejadian bertahun-tahun lalu.
Waktu aku masih kelas dua atau tiga SD, tiap pagi
aku lewat sebuah rumah reyot satu lantai tempat dua pria paruh baya tinggal.
Salah satunya rambutnya menipis, yang satunya agak gemuk. Keduanya rutin
berolahraga radio setiap pagi di halaman, sehingga jadi bahan gosip anak-anak
komplek—tapi bukan gosip baik. Di Tsubakioka, mereka dijuluki paria—penyimpang
seksual pula.
Orang dewasa di kota mengingatkan kami agar
menjauh, jadi anak-anak menoleh atau menertawakan mereka. Normanya begitu, dan
saat itu aku tak pernah mempertanyakan. Kalau dengar cerita kakak-kakak iseng
melempar kaleng kosong di halaman atau melempari jendela mereka, reaksiku cuma
takjub takut.
Kedua pria itu rupanya sudah pindah entah ke mana,
tapi rumah reyot itu masih ada. Kini aku cukup dewasa untuk tahu mereka pasti
bukan “penyimpang”—mereka hanya apes tinggal di komunitas paling intoleran dan
reaktif di negeri ini, yang buru-buru menjudge siapapun berbeda. Bukan berarti
semua orang di sini tolol, dan aku bukan malaikat terbuka pikirannya… Tapi aku
tahu siapa musuh sebenarnya, dan itu bukan mereka, bukan juga Ushio.
Musuhnya adalah seluruh kota tolol ini, komunitas
kampungan ini.
Di pelajaran olah raga hari itu, cowok main bola
voli dan cewek main bulu tangkis. Ushio tidak ikut salah satunya. Meskipun dia
sudah berganti seragam olahraga, dia duduk di pinggir, sibuk mengerjakan
semacam tugas tertulis. Kadang aku mengintipnya diam-diam, tapi tak pernah
menangkap tatapannya.
Saat pelajaran selesai, nyaris tak ada waktu untuk
kembali ke kelas dan berganti sebelum bel istirahat berbunyi. Lalu, setelah
pelajaran matematika berjalan lancar, bel berbunyi dan jam makan siang tiba.
Biasanya, jam makan siang juga saat lima atau enam orang langsung berkumpul di
meja Ushio, tapi hari ini tak satu pun berani mendekat. Dari atmosfer kelas, tampak
semua memutuskan memperlakukannya bak wabah. Perasaan itu aneh; dua minggu
lalu, bayangan Ushio makan siang sendirian tak terpikirkan sama sekali.
“Kamu masih mikirin Tsukinoki, kan?” tanya Hasumi
sambil menaruh bekal di depanku, meminjam kursi di meja sebelah.
“Maksudnya, susah banget nggak mikirnya dengan
keadaan sekarang…” jawabku.
“Iya, teman macam apa itu? Segera ninggalin anak
malang ini begitu merasa aneh atau takut dicap keren.” Suaranya penuh cemoohan
saat membuka kotak bekalnya dan meraih sumpit.
Dia benar, tentu saja. Aku ingin mengangguk
setuju, tapi kemudian sadar aku termasuk “teman” yang membiarkan Ushio sejak
awal. Aku tak berhak menghakimi, dan itu pahit untuk diterima. Ingin
menyingkirkan rasa itu, aku mengeluarkan bekalku. Namun tiba-tiba, seorang
siswa bangkit dan berjalan ke meja Ushio.
“Lihat, Hasumi,” kataku. “Ternyata Ushio punya
satu teman baik juga.”
Hasumi berhenti mengunyah dan menoleh: Hoshihara
berdiri di samping meja Ushio.
“Hai, mau makan di meja kami?” tanya Hoshihara dengan
senyum ramah, memegang kotak bekalnya yang dibungkus serbet lucu. Setelah semua
ejekan hari ini, pemandangan itu menghangatkan hati. Begitulah Hoshihara:
selalu sedia menjadi teman, tak peduli pendapat orang. Aku benar-benar
mengagumi kebaikannya.
“Baiklah… Aku terima undangannya,” balas Ushio,
terdengar terkejut senang sambil bangkit membawa bekal.
Setelah mengikuti Hoshihara melintasi kelas, Ushio
duduk di “meja makan siang” yang sebenarnya empat meja disatukan, di mana tiga
gadis lainnya sudah menunggu: Arisa Nishizono, gadis berambut pendek dan
berkulit cokelat terang bernama Mashima, dan Shiina yang berambut panjang serta
berwibawa. Mereka empat anggota utama geng Nishizono. Saat Ushio melepaskan
tutup kotak bekalnya, Mashima jadi yang pertama membuka obrolan.
“Dengar-dengar kamu mundur dari tim lari, ya?
Benar?” tanyanya sambil mengacungkan setengah roti melon yang digigit. Rupanya
topik itu masih sensitif bagi Ushio, terlihat dari raut wajahnya sedikit kaku.
“…Iya, benar.”
“Nah, sebaiknya kamu ikut tim softball cewek, deh.
Kayaknya kamu jago jadi pinch hitter.”
Mata Ushio melebar. Aku juga cukup terkejut. Tak
kusangka Mashima sehip dan seinklusif itu. Aku tiba-tiba merasa bersalah karena
menilai dia hanya dari pergaulannya dengan Nishizono selama ini.
“Oh, tunggu,” lanjutnya. “Kayaknya mereka nggak
akan ngizinin kamu ikut turnamen, ya? Tapi kan kita nggak perlu tes fisik, jadi
mungkin bisa diselundupin…”
“Marine, santai,” potong Shiina, menghentikan
temannya sebelum terlalu heboh. (Marine itu julukan, nama aslinya Mashima Rin.
Aku pikir itu lucu dan kreatif.)
“Whaaat? Ah, ayolah. Kamu tahu Ushio mahir. Dulu
dia sering ikut lari estafet dan lomba sprint, kan? Dia bakal jadi mesin curi
base!”
Ushio tertawa pelan meski jelas merasa canggung.
“Aku hargai niatnya… tapi sepertinya aku tak akan lagi ikut olahraga.”
“Aduh, sayang sekali.”
“Ngomong-ngomong,” interupsi Shiina. “Boleh
koreksi kalau salah, tapi kamu pakai sedikit makeup, kan, Ushio?”
“Oh, iya… Ibu tiri bilang sebaiknya pakai, jadi
aku biarkan dia poles sedikit.”
“Nggak apa-apa kok. Nggak jelek di kamu.
Seragamnya juga oke.”
“Bener banget!” celetuk Hoshihara sambil mengunyah
nasi. “Aku pikir—”
“Nakki, hati-hati,” tegur Mashima. “Kamu meludah.”
Hoshihara menahan diri dan meneguk botol teh
plastiknya. Aku memperhatikan kerongkongannya bergerak saat meneguk, lalu dia
menghela napas puas.
“Shii-chan benar!” lanjut Hoshihara. “Kamu super
langsing, kulitmu mulus—seragam itu cocok banget! Jujur, kamu lebih keren pakai
rok daripada aku!”
“Haha… Makasih,” sahut Ushio. “Tapi itu
berlebihan.”
“Aku serius! Aku cuma cewek biasa!”
Meskipun Hoshihara agak berlebihan, Ushio tampak
tersentuh, terlihat dari wajahnya yang melunak. Meskipun isi obrolannya agak
tak biasa, dari tempatku duduk, sepertinya empat siswi SMA biasa yang asyik
ngobrol santai saat makan siang. Adegan yang menghangatkan hati.
Aku tak bisa menahan pikir, Wow. Mungkin aku
salah. Mungkin dia akan diterima.
Setelah pagi yang canggung dan pertemuan sulit
dengan Noi, aku khawatir suasana tegang akan terus berlanjut. Tapi tampaknya
aku berpikir berlebihan. Lagi pula, kalau bahkan gadis-gadis paling populer mau
menerimanya, pasti yang lain segera mengikuti—
“Kamu pikir, Arisa?” tanya Hoshihara. “Kamu setuju
seragamnya keren, kan?!”
Aku ingat satu anggota geng yang paling
menakutkan: Arisa Nishizono, murid paling diwaspadai sekelas, cowok atau cewek.
Sombong, kompetitif, dan punya prestasi akademik luar biasa. Meskipun rambutnya
pirang, sering tidur di kelas, dan ogah mengikuti aturan, bahkan guru tak berani
menegurnya karena dia salah satu yang terbaik di angkatannya. Dia seringkali
lebih unggul daripada Ushio, dan prestasinya patut diacungi jempol.
Apakah ratu kelas yang sok benar ini akan menerima
identitas baru Ushio tanpa protes? Masih tanda tanya, dan sampai jawabannya
keluar, sulit berkata bahwa masa sulit sudah berakhir. Namun sekarang Hoshihara
telah melempar bola ke lapangan Nishizono, aku hanya bisa menunggu dengan cemas
saat siang menghentikan gerak sumpitnya dan dia menoleh pada Ushio.
“Mm? Maaf, ada apa?” tanyanya. “Aku nggak dengar.”
“Ugh, perhatiin dong!” gerutu Hoshihara. “Kita
lagi ngomongin betapa keren seragammu, Ushio-kun. Setuju, kan?”
“Oh, iya… Ushio.”
Nishizono menatap Ushio seakan menilai. Obrolan
yang berlangsung sejak Ushio bergabung langsung terhenti saat keempatnya
menunggu jawaban Nishizono. Setelah hening yang canggung, akhirnya dia
menjawab:
“Iya, kelihatan bagus.”
Hoshihara tersenyum lebar. Senyum tipis muncul di
wajah Ushio—tampaknya lega mendengar itu.
“Lihat kan, kubilang kamu setuju!” seru Hoshihara.
“Tapi, Ushio emang cantik juga sih,” sambung
Nishizono. “Kalau makeupnya agak tebal, pasti lebih oke lagi.”
“Ooh, iya! Harus dicoba!” Hoshihara setuju.
“Dan mungkin outfit sehari-hari yang agak longgar,
supaya badanmu nggak terlalu terlihat.”
“Oh, ngerti… Seragam kan terbatas, tapi buat
pakaian santai itu ide bagus! Keren banget, kalian mikirnya jauh ke depan!”
“Hai, Ushio. Cerita dong.”
“Hm? Apa?” tanya Ushio pada Nishizono yang santai.
“Berapa lama lagi sampai kamu mau berhenti cross-dressing
ini?”
Ekspresi
cerah Hoshihara mendadak membeku. Ketegangan yang tiba-tiba begitu terasa; aku
bisa merasakannya di udara. Senyum lembut itu lenyap dari wajah Ushio.
“…Aku
tidak akan melakukannya,” ujarnya.
“Kenapa
tidak?”
“Karena
aku sudah memutuskan inilah yang ingin kulakukan mulai sekarang.”
“Apa
maksudmu? Kau kan selama ini hidup sebagai cowok, kan? Dan selalu saja
baik-baik saja—jadi kenapa tidak tetap begitu saja?”
“Karena
aku tidak bisa. Dan sebenarnya itu memang masalah—aku hanya tidak menyadarinya.
Selama ini aku menjalani hidup dengan salah. Tapi sekarang aku ingin menjalani
dengan benar.”
“Benar?
Kau menyebut ini ‘benar’? Berpura-pura jadi gadis terkurung di tubuh cowok atau
apa pun itu? Bagiku, itu terdengar sangat ‘salah’ secara objektif.”
“Kau
memang tidak—”
“Jangan
bilang aku tidak mengerti. Aku benar, dan kau tahu itu. Dan bukan berarti aku
melarangmu memakai baju cewek, lho. Kalau ingin sesekali pakai rok dan legging,
silakan saja. Tapi lakukan itu hanya untuk bercanda, atau di rumah sendiri.
Jangan jalan-jalan di kota begini—sungguh, tak ada orang yang mau melihatnya.
Baca situasinya. Tidakkah kau lihat betapa canggungnya semua orang dibuatnya?
Kau kan cowok selama hidupmu, dan sekarang kau minta kami memperlakukanmu
sebagai cewek? Itu egois. Dan tak bertanggung jawab.”
Nishizono
terdiam sejenak, menghela napas kecewa, lalu merilekskan wajahnya—seperti orang
tua yang berusaha menjelaskan pelan kepada anaknya mengapa ia salah.
“Jadi
tolong,” lanjutnya, “tolong kembalilah seperti semula sebelum besok. Kalau kau
terus begini, orang akan menganggap serius. Dan kau pasti tak mau dipandang
aneh ke mana pun kau pergi, kan? Sudahlah, hentikan saja sekarang selagi bisa
kau anggap lelucon.”
“Arisa,”
sahut Ushio dengan suara lebih lembap dan datar dari biasanya—memanggil
Nishizono dengan nada serius. Ia menatap Arisa dengan tatapan tegas yang hampir
mirip sinar mata menantang. “Ushio Tsukinoki yang lama sudah tidak ada lagi.
Jadi tolong, lupakan dia.”
Seketika
Nishizono mendengar itu, rona jengkel dan dendam seakan merona di wajahnya.
Kini ia menatap Ushio seakan melihat tumpukan kotoran menjijikkan atau musuh
bebuyutannya.
“Baiklah,
aku harus pergi. Ini menjijikkanku,” kata Nishizono sambil meraih bekalnya dan
bangkit. “Oh, dan yang aku bilang kau bagus tadi cuma basa-basi, jadi jangan
kira aku sungguh-sungguh.”
Setelah
melontarkan hinaan terakhir itu, Nishizono membelakangi Ushio dan duduk di meja
lain bersama sekelompok cewek, lalu langsung bergosip seolah tak terjadi
apa-apa. Kelas pun kembali riuh tawa dan obrolan; hanya di sekitar meja Ushio
suasana masih suram dan canggung.
※※※
Pelajaran
hari itu telah usai, artinya sekolah sudah selesai. Aku melihat Ushio diam-diam
merapikan barang-barangnya untuk pulang, wajar saja. Sekarang ia sudah keluar
dari tim lari, tak ada alasan untuk tetap di sekolah. Untuk pertama kalinya,
tak satu pun orang berani menawari jalan pulang bersamanya.
Aku
teringat kejadian beberapa jam sebelumnya.
Tak
lama setelah Nishizono pergi saat makan siang, Hoshihara berusaha membangkitkan
suasana dan menghidupkan percakapan. Namun usahanya sia-sia, dan ketegangan
canggung itu menempel di meja mereka sampai bel berbunyi. Ketika jam kelima
selesai, bahkan Hoshihara pun tak mencoba mendekati Ushio saat istirahat. Anak
paling populer di kelas resmi menjadi penyendiri. Bayangkan betapa
menyakitkannya itu—perutku terasa berdenyut. Dia bahkan tak berbuat apa-apa
yang pantas mendapat perlakuan seperti ini. Memang, aku mengerti perubahan
drastis butuh waktu untuk dibiasakan, tapi tak ada yang berhak menghakimi
Ushio—apalagi mengejeknya.
…Sial.
Aku jadi marah lagi.
Tapi
yang membuatku paling kesal bukan teman-temanku, melainkan diriku sendiri yang
terlalu pengecut untuk mendekati Ushio atau sekadar bicara. Memang, aku peduli
padanya, tapi simpati tanpa tindakan hanya sekadar kepedihan murah.
Sekarang
kupikir, mungkin aku sebagian bertanggung jawab atas transisi Ushio yang
tiba-tiba ini. Barangkali pertemuan kita di taman malam itu memaksanya
bertindak. Kalau aku tak melihatnya seperti itu, mungkin ia akan menjelaskan
rahasianya dengan cara yang lebih tenang dan kurang dramatis. Tentu itu cuma
dugaan—tapi jika ada sedikit kemungkinan, aku merasa berkewajiban menebusnya.
Aku
berdiri, menggendong tas punggung, dan berjalan ke meja Ushio. Dia menyadari
kehadiranku sebelum aku sampai—begitu pula siswa lain yang masih di kelas.
Semua mata tertuju padaku saat aku berdiri di depannya, berusaha menahan keinginan
untuk mundur. Kubuat senyum paling alami yang bisa kupertontonkan.
“Hai…
Kalau mau, k-kita bisa… a-ayo pulang bareng, gimana?”
Aku
sangat jarang memberi ajakan santai seperti itu, jadi malah terbata-bata. Ushio
berkedip beberapa kali, kebingungan—lalu wajahnya melunak jadi senyum lembut,
dan ia mengangguk.
“Boleh,”
jawabnya. “Ayo pulang.”
Dengan
tas di pundak, Ushio bangkit, dan kami keluar kelas bersama. Aku bisa merasakan
setiap pasang mata menatap kami—tapi aku tak sekali pun menoleh ke belakang.
Udara
di luar mengandung kelembapan khas bulan Juni. Kami berjalan berdampingan,
mendorong sepeda di jalan sempit yang melintasi sawah. Ini jalan memutar yang
lebih sempit daripada rute lurus biasa kami, tapi jauh lebih nyaman untuk
pulang bersama karena jarang ada mobil lewat.
Saat
berjalan, aku mencuri pandang ke Ushio dari sudut mata. Ia bermata sipit dengan
kelopak ganda dan hidung tinggi. Rambut pirang keperakan bergoyang lembut
setiap langkah. Bulu matanya menghala ke bawah, tatapannya tertuju ke tanah.
Mataku kemudian tertuju pada tonjolan kecil pita suara di lehernya—barangkali
satu-satunya bagian yang masih terlihat maskulin, tapi itu salah biologi. Meski
begitu, kulitnya sangat cerah, dan legging hitam menonjolkan lekuk kakinya
sedemikian rupa hingga membuatku tergoda menyebutnya menawan. Bagiku, meski
baru saja menjadi seorang perempuan, ia tampak sangat pas.
“…Kau
menatap cukup lama, Sakuma,” katanya.
“Heh?
Oh! M-maaf!” kataku, gugup. Malu menyeruak saat ia menangkap tatapanku yang
menilai—apalagi karena aku jelas menilainya dari sudut pandang feminin.
“Kau
pikir aku aneh, ya?” tanyanya cemas, menunduk.
“Tidak
sama sekali!” jawabku. “Menurutku kau bisa lolos sebagai cewek, sungguh. Gak
tampak aneh—aku serius.”
“B-benarkah?
Ya… kalau kau bilang begitu…”
Rasa
lega menyeruak. Setelah hari penuh penilaian, aku tak ingin menambah beban
lagi.
“Kau
pasti lelah banget, ya?” kataku. “Kasihan sekali hari pertamamu…”
“Ya…
cukup melelahkan, jujur saja. Gak segitu capeknya waktu aku lari maraton dulu.”
“Setidaknya
malam ini kau bisa tidur nyenyak.”
Ushio
tertawa pelan. Itu kali pertama bertahun-tahun kudengar ia menurunkan topengnya
dan mengakui kelelahan. Kupikir itu bukti betapa brutalnya hari itu baginya,
membuatku merasa makin bersalah.
“Istirahat
saja sisa hari ini, ya?”
“Ya,
itu rencanaku,” jawabnya, mengangguk.
Lalu
tercipta hening sejenak.
Tanpa
sengaja, ingatan tentang Ushio yang duduk di bangku taman sepuluh hari lalu
melintas di benakku. Aku bertanya-tanya apa yang terjadi malam itu; selama
seminggu lebih aku penasaran. Tapi aku berusaha tak bertanya—sebab kurasa
sebaiknya kami berdua melupakan saja.
Saat
aku kebingungan mencari topik obrolan selanjutnya, mataku mengarah ke sawah.
Kuretakan bangau abu-abu berjalan perlahan, menyusuri lumpur sambil mematuk
serangga di sana-sini. Akhirnya, ia mengembangkan sayap lebar dan terbang. Saat
melihatnya pergi, kulihat dua jejak pesawat mengambang di langit biru.
“Sudah
lama sejak terakhir kita pulang bareng begini,” kataku tanpa pikir panjang.
“Iya,
memang,” jawab Ushio, menatap jauh ke depan. “Aku bahkan lupa kapan kita
berhenti. Mungkin waktu SMP, ya?”
“Iya.
Karena kita masing-masing ikut tim olahraga berbeda… Tapi kemudian… yah, kita
biarkan hal lain menghalangi juga.”
“Hal
lain” itu sepenuhnya salahku, dan aku merasa bersalah karena melabelinya
sebagai kesalahan bersama. Tapi Ushio sepertinya tak menghiraukannya.
“Banyak
yang berubah dalam beberapa tahun terakhir…” gumamnya lembut. “Jujur, aku
kadang berharap kita bisa tetap di SD selamanya.”
“Serius?
Aku malah gak sabar lulus SMA dan keluar dari kota kampung ini.”
“Iya,
kau sudah bilang begitu sejak kecil.”
“Maksudku,
siapa yang bisa nyalahin aku? Kota ini seperti penjara besar yang perlahan
tenggelam di sawah. Terlalu lama di sini, kau akan ikut terbenam seperti
makhluk lumpur itu.”
“Haha.
Metaforamu model apa itu?”
Mendengar
tawanya, aku senang sekaligus lega—meski setengah bercanda.
Saat
kami mendekati ujung jalan, sebuah kompleks apartemen tampak di kejauhan. Di
luar, lima atau enam cewek yang terlihat pelajar SMP Tsubakioka sedang
berbincang riang. Melihat itu, ekspresi Ushio kembali mendung, dan ia menghela
napas kecil.
“Ada
apa?” tanyaku.
“Maksudmu?”
“Maksudnya,
tadi kau menghela napas seperti ada beban.”
“Oh,
kau dengar? Maaf. Cuma tiba-tiba teringat kakakku, kurasa.”
“Ada
masalah antara kalian berdua?”
“Iya,
dia akhir-akhir ini enggan bicara denganku.”
Wow,
sungguh? Sulit membayangkan Misao bersikap begitu, tapi Ushio memang sempat
bilang kakaknya sedang pemberontakan remaja… Barangkali transisinya Ushio
membuatnya menjauh.
“Boleh
kutanya kenapa?”
Sesaat,
aku hampir melihat sesuatu melintas di wajah Ushio. Tapi cepat berlalu sebelum
aku yakin.
“Tentu.
Kurang nyaman memang, tapi kurasa akan kuceritakan juga suatu saat.”
“Benarkah?”
“Iya.
Soal apa yang terjadi sepuluh hari lalu.”
Aku
hampir terperangah. Apakah ia benar-benar akan menceritakan malam itu? Selama
ini aku sengaja menahan diri demi menghormatinya… tapi itu sama sekali tak
mengurangi rasa penasaranku. Kupendam napas, menanti kelanjutan—Ushio
memperlambat langkahnya, pertanda cerita ini akan panjang.
“Semuanya
bermula setelah aku pulang latihan hari itu.”
Saat
aku tiba di depan pintu, kira-kira jam tujuh malam, hanya ada Misao di rumah.
Ayahku memang sering pulang larut, jadi kupikir biasa saja, tapi aneh rasanya
Yuki-san belum pulang. Jadi kubertanya pada kakakku tentang keberadaan
Yuki-san—oh, ya, Yuki-san itu ibu tiriku. Ya, yang ayah nikahi lagi waktu kami
SMP.
Ketika
kutanya, Misao menyuruhku lihat di meja, dan kulihat ada selembar catatan—yang
kutahu sebelumnya. Itu dari Yuki-san, bilang ia bakal pulang larut karena minum
bersama rekan kerja, dan makan malam sudah di kulkas, jadi bisa dipanaskan
kapan saja lapar. Kukira, baiklah, aku mandi saja dulu, dan aku pun
melakukannya. Saat keluar, kulihat Misao sudah ganti baju dan bersiap pergi.
Kutanya
mau ke mana, dia menjawab ke warung dekat sini untuk belajar bersama teman. Waktu
itu mungkin sudah pukul delapan malam—cukup larut untuk cewek SMP berkeliaran
sendiri—jadi kuraih saran agar belajar di rumah saja, tapi dia tak mau.
“Oh,
dasar. Aku akan kembali sebelum jam sepuluh. Tenang saja,” katanya, lalu
buru-buru keluar. Kukira, ah, bukan gaya dia sama sekali… Tapi ya, katanya dia
lagi berada di fase pemberontakan remaja.
Setelah
itu, aku sendirian di rumah. Makan malam, lalu aku cuma nonton TV karena tidak
ada PR. Saat menonton acara spesial tentang sekolah menengah keren se-Indonesia,
ada segmen di mana seorang anak cewek tampil gitar di seragam sekolah sambil
nyanyi lagu anime.
Entah
kenapa, aku sedih melihat itu, berpikir: apa bedanya dia sama aku? Jawabannya
banyak, jelas, tapi tetap menyedihkan.
Lalu
aku terpikir—atau lebih tepatnya tergerak.
Aku
ingin tahu bagaimana seragam cewek itu terlihat di tubuhku. Aku belum pernah
merasakannya sebelumnya, dan sulit menahan keinginan. Aku naik ke atas,
jantungku berdebar, lalu masuk ke kamar kakakku untuk pertama kali
bertahun-tahun. Seragamnya tergantung di dinding, jadi tak perlu mencarinya.
Sesaat
aku terdiam memandangnya. Nalarku menolak, tapi kemudian keinginan menang.
Kuhapus seragam itu dari hanger. Ukurannya kecil, tapi aku masih bisa
memakainya. Bahkan kait rok berhasil terpasang. Aku tak pakai dasi leher karena
tak tahu cara mengikatnya.
Lalu
kuberbalik ke cermin, dan kupikir, “Eh, ini lumayan.” Seperti ada aliran
adrenalin atau dopamin—aku merasa cukup berani ingin mencoba memakai kaus kaki
panjang juga. Melihat kembali, barangkali aku sudah tak berpikir jernih, tapi
setidaknya masih tahu sopan santun: tak membuka laci lemari kakakku. Barangkali
dia tak suka kalau aku mengacak-acak laci… tapi dia juga pasti tak suka aku
masuk kamar dan mencoba pakaiannya, jadi aku merasa hipokrit.
Setelah
berpikir sejenak, aku ingat sempat melihat sepasang kaus kaki panjangnya yang
bersih di ruang tamu. Jadi aku keluar kamarnya, turun tangga, dan—oh, ya.
Mungkin kau ingat denah rumahku, tapi tangga ke lantai atas ada tepat di dekat
pintu masuk, jadi harus melalui situ untuk ke ruang tamu dari atas.
Nah,
saat itulah Misao pulang.
Aku
benar-benar kaget. Belum sampai tiga puluh menit sejak kakakku pergi. Kami
berdua terdiam, kaku, tak bisa bicara. Akhirnya dia berkata, “Apa-apaan ini?
Kenapa pakai seragamku?” Dan aku tak punya jawaban. Tak ada alasan yang bisa
membenarkan mencoba baju adikku. Jadi aku cuma diam sampai Misao… ya, marah
besar. Kata-katanya begitu pedas dan mematikan, aku susah percaya itu keluar
dari mulutnya.
Lalu
aku… kabur, kurasa. Langsung keluar lewat pintu depan tanpa alas kaki. Semakin
jauh aku lari, semakin menderita rasanya, hingga aku berlari kencang… dan tak
berhenti sampai tiba di taman. Dan kau sudah tahu apa yang terjadi di sana.
Setelah
itu, aku pulang, dan ayah serta Yuki-san ada di rumah. Kami mengadakan “rapat
darurat” keluarga kecil, membicarakan banyak hal, memutuskan langkah
selanjutnya, dan sepakat aku ambil cuti sekolah. Sejak itu, Misao tak bicara
atau mengakui kehadiranku. Meski kadang melempar pandangan dingin. Aku tak
menyalahkannya—semua ini kesalahanku.
Jadi
ya, begitulah. Cerita panjang, tapi kurang lebih segitu saja.
Ushio
menghela napas dan menenangkan diri. Sementara itu, pikiranku melayang ke
mana-mana. Aku sudah siap mendengar beban yang berat… tapi ternyata lebih parah
dari bayanganku, dan aku tak tahu harus bereaksi apa. Tentu saja aku tak boleh
menunjukkan kebingungan itu. Kukira dia terbuka begitu karena ingin berdamai
dengan masa lalu, bukan terus terpuruk memikirkannya. Mungkin dia berharap aku
akan menanggapinya santai, siapa tahu.
Tapi
aku tak tertawa. Pada akhirnya, yang bisa kulakukan hanyalah, “Wah, itu berat,”
lalu terdiam. Rasanya tak ada kata yang tak terdengar klise atau dangkal. Aku
tetap ingin mengatakan sesuatu yang lebih berarti, lalu terdiam—mulutku
ternganga seperti orang bodoh, berusaha namun gagal cari respons lebih baik.
“Aduh,”
kata Ushio sambil ketawa kecil menertawakan diri sendiri. “Ya sial. Kupikir
bicara ini bisa meringankan, tapi malah makin perih.”
Ia
berhenti, dan aku menyadari kami sudah sampai di kawasan perumahan. Di
persimpangan tiga jalan inilah jalannya berpisah: ke rumahnya atau jalanku.
“Maaf sudah jadi beban,” katanya padaku. “Apalagi setelah
kau baik hati mengajakku jalan pulang bareng.”
“Tidak apa-apa. Jangan dipikirkan. Lagipula, kan aku yang
ngajak…”
“Tenang saja. Seperti kubilang, aku memang berniat memberi
tahumu suatu hari nanti.” Ushio tersenyum tipis. Tampaknya ramah, bahkan tulus,
tapi aku tahu itu pasti dipaksakan.
“…Kau tidak perlu memaksakan diri, ya?”
“Jangan khawatir. Aku tidak,” jawabnya. Lalu dia melangkah
beberapa langkah maju. “Hei, Sakuma?”
Dia menoleh ke arahku, tapi aku benar-benar tak yakin apakah
dia menatapku atau menatap titik imajiner jauh di sana.
“Kau pikir aku benar-benar yang salah di sini? Atau
seharusnya aku menyalahkan—”
Ushio berhenti di tengah kalimat, lalu mendengus.
“Maaf, lupakan saja. Terima kasih sudah menemaniku pulang
hari ini. Dadah.”
Dia meloncat ke sepedanya, menyelipkan kaki bersocking ke
pedal, dan mengayuh pergi. Aku hanya berdiri di situ beberapa saat, tepat di
tengah persimpangan tiga jalan, menatapnya sampai hilang dari pandangan.
※※※
Aku tak bisa menghapus bayangan raut wajah Ushio yang sedih
dan kesepian saat kami berpisah dari pikiranku. Aku bertanya-tanya apakah ada
deretan kata yang bisa kubilang untuk menghindari hasil mengecewakan itu.
Bahkan setelah sampai di rumah, berganti pakaian, dan terkapar di kasur, aku
tetap tak bisa berhenti memikirkannya. Aku mungkin menghabiskan sekitar satu
jam memutar otak, tapi gagal menemukan satu pun jawaban yang pantas. Bukan
berarti seandainya kutemukan sekarang akan mengganti apa pun—sudah terlambat
untuk itu. Aku hanya terus bertanya-tanya.
Ternyata, Ushio jadi satu-satunya hal yang terlintas di
benakku sepanjang hari. Bagaimana mungkin seseorang yang kuanggap berasal dari
planet berbeda sampai detik terakhir bisa memenuhi begitu banyak ruang di
kepalaku? Aku sendiri tak tahu.
Aku memandangi langit-langit dan menghembuskan napas
sendu—ketika tiba-tiba pintu kamarku terbuka. Masuklah Ayaka, memakai setelan
olahraga sekolah jeleknya dari Tsubakioka SMP. Aku terlonjak kaget.
“Hei. Pinjam kamus elektronikmu,” pintanya.
“Berapa kali harus kukatakan jangan masuk seenaknya? Kau
benar-benar harus belajar ketuk pintu dulu.”
“Nah. Ngga mau.”
Apa susahnya ketuk dua atau tiga kali sebelum masuk? Suatu
hari, dia bakal masuk dan melihat sesuatu yang tak ada dari kami berdua ingin
dia lihat—aku tahu itu. Aku sempat ingin marah, tapi menahan diri. Setiap kali
aku teriak, dia langsung membalas dan menyerang semua titik lemahku satu per
satu. Dengan mata almond menghakimi dan potongan rambut sebahu, dia benar-benar
adik yang tajam. Aku tak punya kekuatan menentangnya.
“Ugh. Baiklah, deh. Kayaknya di salah satu laci ini…”
Aku berdiri, berjalan ke mejaku, lalu membuka setiap laci
satu per satu mencari kamus elektronik berukuran saku.
“…Eh, Ayaka,” kataku sambil menyusuri laci, tiba-tiba
penasaran. “Kalau temanmu membocorkan rahasia besar, apa yang akan kau
lakukan?”
“Tunggu. Sejak kapan kau punya teman?”
“Wow, itu nggak perlu, dan bukan inti pertanyaanku. Aku
tanya apa yang akan kau lakukan.”
“Ya, tergantung rahasianya, sih. Kamusnya udah ketemu?”
“Eh, jangan buru-buru… Oh, tunggu.”
Jari-jariku menyentuh barang yang kucari di laci ketiga
kabinet di bawah mejaku.
“Itu dia? Serahin,” kata Ayaka sambil mengulurkan telapak
tangan. Tapi aku tak mau menyerahkan kartu trufku begitu saja.
“Pelan, dong. Jawab dulu pertanyaanku. Baru kau dapat
kamusnya.”
“Apa? Aku gak punya waktu buat main-main.”
“Ayolah, plis?” pintaku, menyatukan tangan.
“Ugh…” gumamnya. “Rahasia macam apa? Yang memalukan? Atau
dia jahat?”
“Err, kurasa rahasia yang nggak mau diketahui banyak orang?”
“Bukankah itu setiap rahasia?”
Dia ada benarnya. Tapi rahasia “ketahuan pakai seragam adik”
masuk kategori apa? Hm…
“Mungkin rahasia yang memalukan, ya?”
“Nah, kalau begitu aku pasti bakal nyemangatin, ‘Santai aja,
itu terjadi pada semua orang kadang-kadang!’ atau semacamnya.”
“Mmm, aku rasa itu nggak cocok di kasus ini… Kayaknya nggak
bakal berhasil.”
“Agh, ini makin menyebalkan… Baiklah. Kenapa kau nggak kasih
salah satu rahasiamu? Biar imbang.”
“Aku rasa itu juga nggak tepat… Atau, tunggu. Apa itu…?”
Belum sempat kupikirkan lebih jauh, Ayaka sudah merampas
kamus elektronik dari tanganku.
“Oke, kurasa kau dapat cukup bahan,” katanya. “Dadah.”
Lalu dia keluar kamar, meninggalkanku merenungkan sarannya.
Tukar satu rahasia dengan rahasia lain untuk “imbang,” ya? Logikanya agak
goyah, tapi mungkin bisa berhasil.
“Hmmm… Rahasia apa ya yang bisa kubagi…?” gumamku.
Mataku menoleh ke rak bukuku—atau tepatnya, ke baliknya.
Tidak, aku tak bisa… Itu terlalu memalukan… Hrmmm, tapi di
sisi lain…
Aku ragu-ragu. Setelah berpikir sejenak, kuputuskan untuk
menyiapkan diri dan melakukannya. Ini bukan rahasia yang ingin kubagikan, tentu
saja—tapi kalau tidak memalukan, itu bukan rahasia, kan?
Baiklah, sudahlah. Tunjukkan saja dan selesaikan.
Tapi begitu aku mantap, ponselku bergetar di meja. Ada
panggilan masuk. Kuredam rasa penasaran dan menggapai ponsel—ternyata Hoshihara
yang menelpon.
“Wah?!”
Aku tercengang. Telepon dari cewek? Itu kejadian langka yang
membuatku panik. A-apa yang harus kulakukan…? Tunggu, apa yang kulakukan?!
Angkat saja, bodoh! Gemetar, kupencet tombol angkat.
“Y-ya, halo?” kataku.
“Hei! Ini Hoshihara! Maaf tiba-tiba nelpon. Sibuk?”
Meskipun lewat telepon, suaranya tetap ceria. Aku merasakan
hangat di dada lagi, dan sudut bibirku tersenyum lebar.
“Nggak kok, aku santai saja. Kenapa, ada apa?”
“Benarkah? Syukurlah. Jadi—aku sudah selesai baca buku yang
kau rekomendasikan! Tapi aku agak payah nulis pendapat lewat teks, jadi kupikir
telepon saja!”
“O-oh ya? Boleh, terserah. Apa pun…—”
Tiba-tiba terdengar dentuman keras di dinding. Astaga. Ayaka
marah. Tak mau ketahuan ucapan kasar lewat telepon, aku buru-buru meninggalkan
kamar, menuruni tangga, memakai sandal, lalu keluar pintu belakang. Seharusnya
aman sekarang.
“Halo? Kamiki-kun, kau masih di situ?”
“Iya, di sini, maaf. Cuma pindah sedikit. Adikku kesal kalau
aku nelpon di kamar.”
“Oh, aku tidak tahu kau punya adik! Keren, ha ha. Aku anak
tunggal, jadi kadang pengen punya saudara.”
“Percayalah, kau tak ingin punya dia. Rasanya dia tak bisa
sehari tanpa menyebutku menjijikkan atau nyebelin.”
“Whaaat?! Wah, itu kedengarannya parah…”
Kupikir dia berlebihan, karena hanya sekali saja aku
dimarahi. Waktu itu aku salah makan es krimnya, dan dia hanya melempar kotak tisu—setidaknya
barang yang tak merusak atau melukainya.
“Aku juga biasanya cemburu, sih. Karena orang tua aku kerja
terus, kan? Jadi setiap pulang sekolah nggak ada satu pun orang di rumah
bertahun-tahun. Sendiri banget, jujur.”
Aku bisa membayangkan. Aku juga mungkin kesepian tanpa
adikku, meski dia menakutkan. Mungkin rasa terasing ini membuat Hoshihara
begitu terbuka dan tak segan berteman dengan siapa saja.
“Oh, maaf! Jadi melantur mulu! Apa tadi?”
Hoshihara lalu bercerita panjang lebar tentang novel yang
kuberi tahu, The Echidna’s Dream. Aku sempat khawatir dia tidak suka, karena
beberapa aspek agak rumit, tapi ternyata dia menikmatinya. Dia mengulas tiap
adegan, memberi kesan jujur. Yang mengejutkan, dia pembaca teliti, mencatat
hal-hal kecil seperti “Kalung itu sama dengan yang di awal cerita, kan?” atau
“Mungkin dia cuma menirukan kata kakeknya,” bahkan menangkap banyak
foreshadowing. Analisis mendalamnya membuat dia terdengar seperti pembaca
berat.
“Nah, lain kali rekomendasiin lagi, ya! Aku pasti baca!”
“Tentu, aku tidak keberatan. Nanti bikin daftar dan kukirim
lewat teks.”
“Keren, makasih! Kau satu-satunya yang bisa aku ajak ngomong
hal gini, Kamiki-kun…”
Dari nadanya, dia tak bermaksud manis berlebihan, tapi aku
tetap senang sekali. Aku berusaha ingat cara merekam panggilan telepon.
“Ya, aku selalu bebas, jadi kapan pun mau telepon atau teks,
silakan,” kataku. “Karena, maksudku… kau juga satu-satunya yang bisa aku ajak
ngomong hal ini…”
Astaga. Baru keluar dari mulutku aku sadar betapa
memalukannya itu, tapi sudah terlanjur.
“Oke, sip!”
Aku lega dia tak mendengar kalimat itu; sulit kubayangkan
dia membiarkannya berlalu. Saat itu, lonceng enam malam bergema di kejauhan.
Kulihat langit senja membara makin memerah.
“Oke, aku akan kirim pesan lagi nanti.”
“Baik, eh, tunggu—”
“Hm?”
“Apa cuma imajinasiku, atau tadi kulihat kau jalan sama
Ushio pulang sekolah?”
Aku tersentak mendengar topik berubah drastis.
“Iya, itu aku… Kenapa?”
“Cuma penasaran, saja. Belum pernah kulihat kalian berdua
bareng.”
“Iya. Sekarang sih jarang, tapi aku khawatir dia… Oh,
maaf—mungkin perlu kujelaskan: dulu aku dan Ushio sahabatan.”
“Serius?!”
Aku menjauhkan ponsel dari telinga karena suaranya memuncak
dan memecah speaker kecil. Aku tidak menyangka dia akan terkejut begitu.
“Iya, dulu kita deket banget. Sekarang jarang bicara,
alasannya aku tak sebutkan, tapi… Aku khawatir sama kondisinya, jadi kukira
lebih baik menawarkan jalan bareng.”
“Begitu… Wah, kau teman baik, Kamiki-kun.”
“Nggak juga—”
“Serius! Menurutku itu luar biasa! Jujur, aku juga sempat
bingung mau gimana sama Ushio hari ini, meski dulu sering ngobrol sama dia,
jadi aku beranikan diri. Tapi setelah Arisa sempat marah-marah, aku merasa
bersalah karena yang ngajak dia dulu, jadi aku nggak berani lagi… Persahabatan memang
susah.”
Kupikir Hoshihara orang yang sangat pandai bersosialisasi,
tapi ternyata dia pun kadang kesulitan.
“…Iya, aku juga begitu—bingung harus gimana. Tapi kalau
tidak mencoba karena takut salah, ya… Itu jalan pintas, tapi tak akan ada
hasilnya. Aku rasa aku tak bisa hidup tenang kalau cuma diam saja, jadi kukira
sekarang waktu yang tepat untuk berdamai dan mencoba dekat lagi.” Aku menarik
napas, lalu melanjutkan, “Tapi kau jangan ambil nasehat persahabatan dari aku,
ya.”
“…Tidak, aku menghargainya. Seperti kubilang, kau teman yang
baik.”
“Kau yakin?” Rasanya senang mendapat pujian itu.
“Kau tahu, aku malah merasa lebih baik sekarang. Makasih,
Kamiki-kun! Senang bisa ngobrol.”
“Sama-sama. Dan terima kasih juga sudah cerita soal bukumu.
Senang mendengar kesanmu.”
“Kapan pun! Oke, aku mau ngintip inbox buat rekomendasimu.
Sampai nanti!”
“Iya, sampai nanti.”
Setelah itu, dia menutup telepon.
Aku berdiri sejenak, menikmati senja jingga yang indah.
Bukan hanya langit yang terlihat cantik; segalanya terasa lebih hidup setelah
ngobrol dengan Hoshihara. Aku ingin terus melakukan itu—dan sebagian diriku
sudah sibuk memikirkan hal-hal yang bisa kuberikan padanya selanjutnya. Tapi
suara hati yang lain memperingatkan agar aku tidak terlalu terbawa perasaan.
Aku tak tahu siapa yang harus kuturuti, tapi untuk saat ini aku tak peduli
berpikir berlebihan. Aku hanya ingin menikmati sisa kebahagiaan ini.
“Oke. Ayo masuk lagi.”
Aku harus memilih beberapa buku untuk direkomendasikan ke
Hoshihara. Dan juga mengambil rahasiaku yang akan kuberi Ushio besok.
※※※
Keesokan paginya, aku berangkat lebih awal dari biasanya.
Langit cerah biru saat aku mengayuh sepeda ke SMU Tsubakioka. Setelah masuk dan
berganti sepatu dalam, kulirik rak sepatu Ushio—kosong. Belum datang. Aku
berdiri di samping pintu masuk, bersandar di dinding, menunggu.
Ada sesuatu yang ingin kuberikan padanya. Jadi aku menunggu.
Pintu utama masih sepi, tapi dalam sepuluh menit lagi,
gerombolan murid akan membanjir lewat pintu ganda itu, dan setelah itu susah
berpikir. Aku berharap Ushio datang lebih dulu—tapi lima menit, sepuluh menit
berlalu, dia masih belum muncul. Bahkan setelah kerumunan reda, dia tak muncul
juga. Biasanya dia sudah masuk kelas sekarang. Aku bertanya-tanya apakah keluar
dari tim lari membuatnya bangun kesiangan.
“Hei, ngapain lo?”
“Whoa!” kataku, terkejut oleh sapaan dekat itu—ternyata
Hasumi. Dia selalu hebat menyergap orang, kupikir. “Astaga, jangan kagetin… Dan
ya, cuma nunggu Ushio.”
“Apa, Tsukinoki lagi? Waduh, itu nggak kayak lo banget.”
“Iya, gitu lah. Dia belum datang. Entah kesiangan.”
“…Jangan terlalu berharap, Bro.”
Dia meramalkan tanpa beban. Aku mendelik.
“Maksud lo apa?” tanyaku.
“Maksudku, semua orang memperlakukannya seperti kutu sosial.
Apalagi setelah insiden keji dengan Noi dan Nishizono kemarin. Kalau itu
terjadi padaku, bisa-bisa aku ogah sekolah besok. Atau selamanya.”
“Ayolah… Jangan gitu…”
Meski ingin menyangkal, ucapan Hasumi ada benarnya. Semua
interaksi negatif kemarin pasti menguras mental Ushio. Aku sendiri melihat
kerentanan itu saat kami pulang kemarin. Bahkan obrolan itu berakhir canggung.
Kalau aku Ushio, mungkin aku terlalu depresi untuk datang sekolah.
“Yah, cuma tebak-tebakan. Kau kan lebih tahu daripada aku
soal kalian berdua. Kalau mau nunggu Tsukinoki, silakan.”
“Iya, rencananya begitu… Sampai bel peringatan.”
Meski begitu, aku mulai cemas. Bukan karena Ushio tidak
datang, tapi aku akan merasa bersalah kalau dia bolos lagi. Aku sempat berpikir
meneleponnya—saat itulah Hoshihara masuk gedung. Dia cepat menatap kami dan
berlari mendekat.
“Nah, kalau bukan Kamiki-kun dan Hasumi-kun! Selamat pagi!”
sapanya ceria. Aku tak kuasa menahan senyum.
“Iya, hai.”
“Pagi, Hoshihara-san,” sapa Hasumi.
“Aduh, astaga!” kata Hoshihara sambil melihat jam di
dinding. “Maaf, aku lupa PR matematika, jadi mau nyicil dulu sebelum bel.
Sampai jumpa di kelas! Dadah!”
Nyaris terdengar whoosh saat dia melesat naik tangga,
meninggalkan aroma manis lembut. Pelajaran matematika di jam pertama; aku
penasaran apa dia sempat menyelesaikan PR.
“Oke, Bro,” kata Hasumi. “Aku juga mau naik.”
“Santai aja,” jawabku. Kulihat dia naik tangga.
Aku menoleh ke jam; kurang dari lima menit sebelum pelajaran
pagi. Aku tahu harus segera naik juga. Lagi pula, tak perlu aku beri rahasiaku
pada Ushio pagi-pagi; terburuknya, aku bisa mampir ke rumahnya pulang sekolah.
Menyadari ini mungkin sia-sia, aku berbalik menuju tangga.
Saat itu, aku menangkap kilau rambut pirang keperakan di sudut mata. Syukurlah,
dia memang datang hari ini. Lebih hebat lagi, dia masih pakai seragam cewek,
meski mendapat tatapan aneh, sikap kejam, dan pengucilan. Jelas dia tak berniat
mundur dari pilihan barunya, apa pun penilaian orang. Aku tak bisa menahan
kekaguman melihat kepercayaan dirinya saat dia melangkah melewati semua itu.
Aku berjalan kembali ke arahnya
dan melambaikan tangan kecil. Dia tampak agak kaget melihatku, tapi tetap
mengganti sepatunya dan berjalan menghampiriku.
“Pagi,” katanya. “Ada apa?
Nunggu siapa?”
Dia tampak sedikit tidak enak
badan. Kantung mata samar sudah tampak, dan suaranya terdengar lesu. Kupikir
dia masih kelelahan dari kemarin.
“Iya,” jawabku. “Sebenarnya aku
sudah nunggu kamu datang. Bawa sesuatu buatmu.”
“Buatku?”
Aku mengangguk, merogoh tas
punggungku, dan mengeluarkan tumpukan tebal kertas berukuran A4—lebih dari
seratus lembar. Kujulurkan ke Ushio.
“Apa ini?”
“Novel amatir yang kutulis
waktu SMP.”
“Novel?” katanya bingung sambil
menatap naskah itu di tangannya. “Err, baiklah… Mari kubaca… Catatan Ragna—”
“Hey, hey, hey! Nggak perlu
dibaca keras-keras. Masukin saja ke tas dulu, bisa kamu baca di rumah nanti.
Yah, kalau mau baca, maksudku.”
“Err… Maaf?”
“Ayo, jalan sambil ngobrol.
Kita takut telat masuk kelas.”
Kami berdua lalu bergegas menuju
tangga.
“Kenapa tiba-tiba ngasih ini ke
aku? Minta umpan balik, gitu?”
“Nggak, jujur saja aku nggak
pengin tahu pendapatmu. Ini, kayaknya, jelek banget…”
“Lalu kenapa kau ngasih?”
Kupikir sebaiknya aku jujur
saja. “Karena ini rahasia yang kupegang lama sekali.”
“Oke… Kenapa?”
“Begini, aku belum pernah
bilang ke siapa pun sebelumnya, tapi dulu aku pengin banget jadi novelis waktu
besar nanti. Sampai-sampai aku nulis satu buku penuh waktu SMP dan ikut lomba
Penulis Pemula. Tapi aku nggak lolos babak penyisihan, dan komentar juri
sungguh brutal. Sejak itu aku cuma bisa lihat tulisanku sebagai sampah total,
dan kupikir memalukan pernah merasa punya bakat jadi penulis… Makanya aku nggak
pernah beritahu siapa pun.”
Ushio mengangguk pelan.
“Kemarin,” lanjutku, “kau
cerita hal pribadi yang pasti membuatmu merasa sangat malu. Kupikir mungkin aku
bisa mengurangi rasa malumu dengan membocorkan rahasiaku sendiri, dan novel itu
yang pertama terlintas di kepala. Jadi sekarang kita imbang, dalam arti
tertentu.”
Sebenarnya itu ide Ayaka—meski
sekarang kupikir ada masalah kecil: apa untungnya bagi Ushio mengetahui ini?
Kenapa dia peduli aku pernah gagal jadi novelis? Dia cuma bisa menanggapi, “Oh,
oke.” Dan—lebih penting—di dunia mana menyerahkan sampah semacam itu membuat
kita ‘imbang’? Kalau pun berhasil, mungkin terasa seperti aku cuma membuang
beban emosional ke punggungnya.
Bagus. Sekarang aku malah ciut.
Apa dia bakal marah padaku…? Kulirik ekspresinya, dan dia menghela napas kesal.
“Otakmu memang kadang bekerja
dengan cara yang menarik, Sakuma.”
“Err… Haruskah kubilang itu
pujian?”
“Iya. Kau bisa dengar cerita
seberat yang kukatakan kemarin dan langsung mikir, ‘Wah, itu sama memalukannya
dengan novel jelek yang kutulis waktu itu!’ Lucu juga.”
“Err, maaf. Aku nggak bermaksud…
mengecilkan apa yang terjadi padamu.”
“Aku tahu. Aku nggak marah atau
apa. Cuma merasa sedikit konyol karena terlalu serius.” Dia tersenyum lembut.
“Makasih, Sakuma. Aku akan baca novelmu dengan teliti.”
“Iya, uh, silakan. Maksudku,
nggak perlu terlalu teliti juga, kok…”
Apakah rencanaku berhasil?
Sepertinya iya; setidaknya berhasil membuat Ushio tersenyum. Kalau setidaknya
ini bisa sedikit mencerahkan hatinya, kubilang itu sudah cukup—tidak bisa minta
lebih. Anehnya, rasanya seperti beban di dadaku ikut terangkat.
Bel masuk berbunyi tepat saat
kami tiba di kelas, jadi kami buru-buru ke tempat duduk.
Situasi di kelas hari itu tak
jauh berbeda dari kemarin. Tak ada satupun siswa yang berani mendekati Ushio,
dan dia juga tidak berusaha keluar dari isolasinya. Kecuali satu kali guru
memanggil namanya, memaksanya untuk bicara sebentar, hampir seperti dia tidak
ada. Aku sempat berpikir untuk memanggilnya beberapa kali di antara pelajaran,
tapi tidak pernah jadi. Melakukan itu di tengah kelas berarti menanggung
tatapan menilai dari semua teman—dan aku, yang biasanya menghindari perhatian,
sangat enggan jadi pusat perhatian. Bukan berarti aku berkewajiban bicara
padanya, tentu saja—aku cuma merasa dingin melihatnya duduk sendiri dalam
keheningan.
Kegelisahan ini berlanjut
sampai jam makan siang, saat aku membereskan mejaku dan melihat Hoshihara
berdiri dengan kotak bekalnya—berjalan menghampiri tempat Ushio duduk. Apa dia
mau ngajak lagi makan siang bareng, setelah kemarin sempat dapat penolakan? Ya,
namanya juga Hoshihara. Aku sekali lagi mengagumi ketabahannya—meski membuatku
merasa menyedihkan. Begitu Hoshihara sampai di meja Ushio dan mengulurkan
bekalnya, suasana langsung memburuk.
“Hai!” katanya. “Kalau mau, kau
bisa ikut—”
“Natsuki,” potong suara dingin
tanpa perasaan.
Itu Nishizono. Natsuki menoleh
ke arahnya—dikelilingi beberapa gadis lain, termasuk Mashima dan Shiina—yang
semuanya canggung menunduk. Entah Nishizono sadar kalau Hoshihara tengah
berbicara dengan Ushio atau tidak, kurasa dia tak peduli.
“Kami akan makan di kantin hari
ini,” lanjut Nishizono. “Kamu ikut, kan?”
Nadanya tenang tapi
memaksa—seakan membuat pernyataan, bukan pertanyaan, dan tidak mau mendengar
kata tidak. Hoshihara menoleh bolak-balik antara Nishizono dan Ushio. Ushio
menoleh ke pintu, menunduk pelan, seolah mempersilakan, “Pergilah makan dengan
temanmu.” Beberapa saat aku melihat Hoshihara menggenggam kotak bekalnya dengan
cemas. Namun lalu dia menegakkan diri dan menatap Nishizono.
“Aku rasa… aku akan tetap makan
di sini hari ini. Eh heh heh…” Tawanya terlihat sangat dipaksakan. Alis
Nishizono bergerak pelan, hampir tak terlihat, menandakan kekesalan. Matanya
menyipit, menatap tajam ke arah Hoshihara.
“Baiklah. Sesukamu saja,”
katanya, lalu keluar kelas.
Aku menyangka dia akan marah
lebih hebat, namun dia memilih mundur dengan cepat. Meski begitu, ada sesuatu
menakutkan dalam penarikan diri itu—bahkan lebih menakutkan daripada sikap
agresifnya biasa. Kupikir Hoshihara merasakannya juga; dia masih tampak gelisah
saat duduk di seberang Ushio.
“Kau yakin, ya?” tanya Ushio,
khawatir.
“Betul-betul yakin! Semuanya
baik-baik saja!” jawab Hoshihara ceria, meski jelas dia hanya menutupi
kegelisahan. Bahkan saat mereka makan, dia masih tampak tidak tenang. Mendukung
Ushio berarti mungkin bertentangan dengan Nishizono. Kalau sampai begitulah…
apa yang bisa kubantu? Atau lebih tepatnya, apa pun yang kulakukan terasa tak
akan menolong?
Begitu sekolah usai, ketegangan
di kelas meluruh. Saat aku bersiap pulang, aku menoleh ke arah Ushio—dan karena
dia juga menatapku, mata kami bertemu. Dia cepat menunduk, menyimpan buku di
tas, lalu bangkit dan meninggalkan ruang kelas.
Sepertinya hari ini kami tak
jalan pulang bersama.
Aku merasa kecewa sekaligus
lega. Kupikul tas kosongku, lalu keluar kelas pelan. Di pintu utama, kulihat
Ushio bersandar di dinding—persis seperti tadi pagi. Huh, kupikir dia sudah
pulang.
Merasa canggung melewatinya
pura-pura tak melihat, aku memanggil, “Ada apa?”
Ushio menoleh, wajahnya tegang.
“Err, nggak apa-apa. Jangan dipikirkan.”
“Oh. Baiklah.”
“…Aku mau pulang.”
Dia membelakangi, dan sebelum
aku sempat bertanya, terlintas di benakku: dia sudah menungguku, kan?
“Ushio!” seruku, dan dia
berbalik. Ajakan itu terasa canggung di lidah, tapi kuhimpun kata-kata itu
juga. “Mau jalan pulang bareng? Kalau belum ada rencana lain, maksudku.”
Mata Ushio melebar sejenak,
tapi dia mengangguk mantap. “Oh, oke. Kedengarannya bagus.”
Aku tidak yakin apakah dia cuma
basa-basi atau tidak, tapi rasanya seperti dia memaksakan satu gerakan agar tidak
menolak langsung. Apa pun itu, kami menuju rak sepatu, ganti sepatu luar, dan
berjalan ke pintu utama.
“Tunggu!” terdengar teriakan di
belakang.
Aku menoleh: itu Hoshihara. Apa
kami lupa sesuatu di kelas? Apakah dia datang membawanya?
Dia berlari menghampiri, masih
pakai sepatu dalam, dan dengan suara lembut bertanya, “Hei, um… Boleh nggak aku
ikut jalan pulang juga?”
Serius? Aku hampir berteriak.
Bayangkan—aku berjalan pulang dengan dia. Berusaha menahan kegirangan dan tetap
tenang, kudekati dan menjawab,
“Tentu saja. Semakin ramai
semakin seru. Kan, Ushio?”
“Pasti. Waktu cepat berlalu
kalau kau ikut, Natsuki.”
Wajah Hoshihara
berseri-seri—dia memang gampang dibaca. “Oke, ayo pergi!” katanya, lalu keluar,
masih pakai sepatu dalam. Setiap kepolosannya kini terasa sangat menggemaskan
bagiku. Astaga, aku menyadari. Aku benar-benar tergila-gila, ya?
Kami bertiga berjalan berderet,
Hoshihara di tengah, menyusuri jalan sempit di antara sawah yang sama seperti
kemarin. Jarak rumah Hoshihara sedikit lebih jauh, jadi biasanya dia naik
kereta dulu, baru sepedaan dari stasiun terdekat. Itu rute lumrah bagi siswa
SMU Tsubakioka, karena sekolah tak dekat stasiun, dan Hoshihara sering mengeluh
betapa merepotkannya.
“Ngomong-ngomong,” katanya
berganti topik, “katanya kalian sudah teman lama, ya?”
“Iya,” jawabku, lalu menoleh ke
Ushio. “Kurasa sejak… SD, ya?”
“Nggak, lebih awal dari itu,”
kata Ushio. “Kurasa kita ketemu waktu TK. Tapi baru mulai sering hang out pas
SD.”
“Wow…” Hoshihara terdengar
takjub. “Jadi kalian sudah kenal lebih dari sepuluh tahun, ya? Dulu kalian
kayak apa di SD?”
Itu pertanyaan luas. Kujajal
gali ingatan.
“Mmm… Aku rasa aku nggak jauh
berbeda dari sekarang, sejujurnya,” kataku. “Cuma anak polos dan membosankan.”
“Hah?” Ushio menatapku tak
percaya. “Bukan begitu sama sekali. Kau kan pemimpin geng bandel kecil kita
waktu itu.”
“Serius aku?”
“Iya. Kau suka berantem dengan
pembully atau nyelonong ke atap sekolah sampai ditegur guru… Kau memang
menonjol. Ingat itu?”
“Ohhh, iya, kalau
dipikir-pikir…”
Itu agak memalukan—meski
sebenarnya aku cuma sekali berdebat dengan satu pembully, dan pintu atap tidak
terkunci, jadi aku bisa keluar. Bukan berarti aku delinquent besar.
“Kau benar-benar berubah,
Sakuma… Tapi di banyak hal kau juga sama,” kata Ushio dengan ekspresi tenang
dan rendah hati.
“Hrm, oke,” kata Hoshihara.
Memiringkan kepala, dia bertanya, “Ushio-kun, waktu SD kamu gimana?”
“Justru aku yang boring dan
pendiam. Mental dan fisikku lemah, jadi sering nangis karena hal kecil.”
Aku ingat itu. Ushio dulu jauh
lebih penakut, transisi mentalnya mungkin mulai pas kelas empat atau lima SD.
“Wow, aku susah membayangkan
itu sekarang,” kata Hoshihara.
“Syukurlah kau nggak bisa
bayangkan,” kata Ushio, tersipu. “Aku benar-benar berusaha keras jadi seperti
sekarang.”
“Huh… Aku nggak tahu itu…”
Aku pun terkejut—selama ini
kupikir bakat karismatik Ushio alami. Tapi kupikir lagi, dia memang dulu
pendiam. Aku penasaran kenapa aku sempat menyangka begitu—mungkin karena lebih
mudah, demi kesederhanaan dan harga diriku sendiri, menyangka semata-mata
talenta.
“…Ngomong-ngomong, ada satu hal
yang bikin aku penasaran sejak kemarin,” kata Hoshihara, wajahnya mendadak
serius. Dia diam sesaat, lalu menarik napas panjang, “Apa kamu bakal mulai
ngomong kayak cewek juga sekarang? Pakai intonasi tinggi dan semacamnya? Atau
tetap pakai suara biasa?”
Aku menatapnya. Dia benar—aku
belum memikirkan itu, karena ada cewek yang suaranya rendah, tapi ini patut
dipertimbangkan kalau Ushio ingin meninggalkan bekas dirinya sepenuhnya dan
mengganti identitas.
“…Kayaknya terkesan setengah
hati, ya?” kata Ushio dengan ekspresi masam dan termenung.
“Oh, aku nggak bilang kamu
harus ubah suara atau apa! Atau bahkan harus! Apa pun yang terasa paling
natural buatmu adalah pilihan tepat, aku cuma penasaran…”
Saat Hoshihara mundur perlahan,
Ushio menggeleng pelan, lalu ekspresinya tenang dan lembut. “Yah,” katanya,
“aku merasa suaraku terlalu rendah dan serak kalau tiba-tiba pakai register
tinggi. Bakal terdengar aneh. Aku sempat coba latihan vokal sedikit, tapi nggak
berhasil… Baiklah. Aku memutuskan fokus ke penampilan saja.”
Dia tersenyum, tapi tidak
meyakinkan.
Hoshihara menatapnya khawatir,
lalu berkata, “Tapi… itu nggak masalah! Banyak seiyuu terkenal suaranya dalam
sama atau lebih dalam dari suaramu, Ushio-kun! Jadi aku rasa nggak aneh sama
sekali. Tapi…” Dia terdiam. “Mungkin soal sebenarnya: mana yang lebih kamu
pilih?”
Ushio mengerucutkan bibir,
tampak tidak nyaman. Obrolan terhenti, kami bertiga diam beberapa saat. Hoshihara
dan aku menunggu jawaban Ushio; ini bukan pertanyaan yang akan terdiam
selamanya, meski mungkin perlu waktu. Akhirnya, Ushio tampak menyerah pada
kejujuran.
“Ada bagian dari diriku yang
ingin coba, iya,” ujarnya. “Tapi aku belum siap berkomitmen. Aku takut… berubah
terlalu banyak terlalu cepat, kalau begitu.”
“Dimengerti,” kata Hoshihara
pelan.
Aku memahami keraguannya;
keberanian pakai baju cewek saja besar sekali. Membayangkan harus mengganti
cara bicara dan nada suara di atasnya pasti menegangkan. Aku ingin memberi
saran, tapi Hoshihara mendahuluiku.
“Oke, gimana kalau gini?!”
Hoshihara mengangkat suaranya bersemangat, mungkin ingin mengusir suasana
murung. “Kalau begitu, coba pakai suara lebih girly cuma di sekitar kita saja!
Jadi kamu bisa terbiasa di lingkungan nyaman, dan perlahan suaramu bakal
terdengar lebih feminin tanpa terasa! Aku yakin itu berhasil!”
Wajahnya berseri-seri seolah
baru mendapat pencerahan terbesar. Aku tentu tak keberatan, tapi pertanyaannya
apakah Ushio mau.
“Yah… Oke, mungkin akan
kucoba.” Ushio jelas ragu, tapi dia mengangguk senang.
“Bagus, bagus!” seru Hoshihara,
tersenyum lebar. “Oke, ayo dicoba sekarang juga?!”
“Eh, sekarang?” tanya Ushio.
“Iya!” Hoshihara mengangguk
tegas, tetapi aku merasa ini terlalu mendadak—dan ternyata…
“H-hai, kalian…” Ushio
tergagap, suaranya retak saat mencoba register tinggi dengan Hoshihara yang
menatap penuh semangat. Lalu: “Maaf. Kupikir aku akan tetap pakai suara biasa
untuk sekarang.”
Hoshihara buru-buru minta maaf.
“Baiklah, oke! Maaf ya! Nggak bermaksud memaksa!”
“Tenang, nggak perlu
buru-buru,” sambungku, mencoba meringankan tekanan. “Silakan pelan-pelan.”
“Y-ya! Tepat sekali!” kata
Hoshihara, mengangguk berulang.
Ushio tersenyum, seakan setuju.
Begitu obrolan mengalir manis, kami tiba di pertigaan ujung jalan sawah (hanya
beberapa puluh meter dari persimpangan tiga jalan tempat aku dan Ushio
berpisah).
Hoshihara berhenti. “Oke, aku
harus ke arah stasiun,” katanya sambil menoleh dan tersenyum kami. “Senang
ngobrol hari ini! Besok kita jalan pulang bareng lagi, ya?”
Sepetika aku benar-benar
bahagia. Begitu indah kalimat itu: “Kita jalan pulang bareng lagi besok.”
“Iya, tentu,” jawabku. “Seru
sekali.”
“Sampai ketemu, Natsuki,” kata
Ushio.
“Oke, sampai jumpa, kalian!”
Hoshihara meloncat ke sadel sepeda dan mengayuh… lalu berputar balik dan
kembali. Ada apa lagi? “Oh iya, aku lupa! Maaf, satu permintaan—boleh tolong…?”
Permintaan? Ushio dan aku
saling bertukar pandang.
Hoshihara melompat turun,
berbalik ke Ushio, dan bertanya, “Sebenarnya, apa kau keberatan kalau aku
memanggilmu Ushio-chan, bukan Ushio-kun?”
Sepetika Ushio tampak terpana.
Lalu dia terbatuk tertawa dan mengangguk. “Boleh,” katanya. “Panggil saja
suka-suka.”
“Yeay! Oke… Ushio-chan! Haha,
rasanya keren sekali! Oke, sampai jumpa benar kali ini, Ushio-chan. Dan
Kamiki-kun juga!”
Dengan itu, dia berputar dan
pulang. Rasanya beban di pundakku hilang—seolah suasana canggung dan murung
waktu aku dan Ushio berpisah kemarin hanyalah bayangan. Aku tak sabar menunggu
kami bertiga jalan pulang lagi.
“Oke, kita juga mending jalan.”
kataku, melangkah maju.
Tapi Ushio tidak mengikuti.
Penasaran, aku berhenti dan menoleh. Dia berdiri diam, menatapku.
“Apa, err… Bagaimana menurutmu
kalau aku mulai bicara lebih seperti cewek, Sakuma?” tanyanya mendadak.
Wajahnya serius. Aku tahu jawaban ini penting.
Aku menatapnya lagi. Rambut
pendek pirang keperakannya terlihat lembut bagai sutra, tergerai saat disentuh.
Kelopak ganda matanya dihiasi bulu mata panjang. Bahkan tanpa rok dan stocking,
kalau kupandang dia sebagai orang asing dan diberi tahu dia perempuan, aku
pasti percaya. Jujur, aku tidak berpikir bakal aneh kalau dia mulai memakai
pola bicara dan gestur lebih feminin.
"Aku rasa itu akan baik-baik saja," kataku, jujur
apa adanya.
"Begitu ya... Oke, makasih. Eh, maaf ya kalau
pertanyaannya aneh," kata Ushio, tiba-tiba malu-malu. Senyumnya yang manis
terasa begitu feminin sampai-sampai aku lupa kalau dia dulunya seorang
laki-laki.
※※※
Sekarang sudah pagi hari ketiga Ushio sekolah sejak
transisinya menjadi gadis. Langit cerah dan biru; sebelum berangkat aku sempat
mendengar ramalan cuaca di TV bilang peluang hujan nol persen. Bagi seseorang
yang bersepeda ke sekolah, itu ramalan yang menyenangkan. Saat aku tiba,
tinggal sekitar sepuluh menit sebelum pelajaran pertama dimulai—sedikit lebih
lambat dari biasanya karena disambut beberapa lampu merah beruntun.
Saat menaiki tangga dan berjalan menuruni koridor, kulihat
sekelompok murid dari kelas lain berkumpul di pintu Kelas 2-A, mengintip ke
dalam dan bergumam pelan satu sama lain. Perasaan buruk merayap di dalam
dada—aku pun mempercepat langkah dan masuk lewat pintu belakang. Hampir semua
teman sekelasku menatap ke depan dengan tatapan terpaku, dan aku mengikuti arah
pandang mereka.
Di papan tulis, tertulis dengan huruf raksasa beberapa kata
perundungan:
USHIO
TSUKINOKI SEORANG ****
MESUM
******
MENJIJIKAN
*****
Aku terdiam, merasakan dingin tajam menjalar di leher,
tubuhku bergetar oleh amarah dan kebingungan. Siapa yang tega menulis ini?
Di sudut kelas, kulihat Hoshihara tampak hampir menangis.
Saat mata kami bertemu, dia menggigit bibir dan menunduk. Murid lain entah
berbisik atau menahan tawa. Aku tidak tahan melihat mereka—ekspresi mereka
tidak akan membantuku mengungkap pelakunya.
Untungnya, Ushio belum tiba di kelas. Aku harus segera
menghapus coretan itu sebelum dia masuk. Dadah tas di kursiku, kusedak napas
dalam untuk mengumpulkan keberanian, lalu aku bergegas menyusuri lorong
antar-meja ke depan. Namun, di tengah jalan, seseorang mengulurkan kakinya dari
balik meja—tanpa sempat mengelak, aku tersandung dan terjatuh hingga lutut dan
telapak tangan terantuk lantai.
“Ouch!”
“Wah, pecundang. Hati-hati dong lain kali,” ejek seorang
gadis berambut pirang pendek, Arisa Nishizono, yang menatapku dari atas dengan
senyum mengejek, sikunya bertumpu di meja. Aku hampir menimpali, “Kau yang
mencekikku,” tapi kubiarkan saja. Kenapa Nishizono menghalangiku? Apa dia
sengaja mencegahku menghapus tulisan itu?
Tiba-tiba aku teringat pertemuan canggung dua hari lalu,
saat Nishizono bentrok dengan Ushio di kantin. Aku masih ingat tatapan benci di
matanya. Aku bangkit dan menatap Nishizono.
“Tunggu,” kataku, masih berdiri. “Tulisan di papan itu…
jangan-jangan—”
“Jangan bilang kau pikir itu aku?” potong Nishizono. “Itu
bukan aku. Jangan menuduh tanpa bukti.”
“Oh ya? Lalu kenapa kau mencekikku tadi?”
“Aku cuma mau meregangkan kaki. Kau yang nggak perhatiin dan
tersandung. Kenapa overreact amat?”
Aku tidak percayai omongannya, tapi benar juga, aku tak
punya bukti. Saat aku terdiam, Nishizono menyeringai, seolah baru saja mendapat
ide licik.
“Tunggu. Kalian berdua—kayaknya pacaran, ya?”
“Err, apa?”
“Kau kemarin pulang sekolah bareng Ushio, kan? Hari
sebelumnya juga… Ayolah, nggak usah pura-pura malu-malu. Kau naksir dia, kan?”
Tawa pelan menggeliat di kelas. Suara bisik itu menusuk
telingaku, darah memuncak ke kepala.
“Diam! Jelas bukan!” teriakku lebih keras dari yang kukira.
Sekejap wajah Nishizono membeku, lalu ia kembali menatapku
penuh kebencian. Saat kami saling menantang, perhatianku tertarik ke gerakan di
dekat pintu—Ushio. Sudah berapa lama dia berdiri di situ? Dan yang lebih
penting, apa dia mendengar semua itu?
Tanpa bicara, dia melangkah ke depan, menggenggam penghapus
papan, lalu menghapus semua kata hinaan tanpa pernah menatapku. Gemetar
sedikit, wajahnya pucat.
“Izinkan aku,” kataku, maju.
“…Tak perlu.”
“Hah?”
“Kau tak usah bantu. Dan jangan bicara denganku lagi.”
Aku terdiam, hancur. Dari semua yang kubayangkan, ini bukan
salah satunya. Malu untuk kembali ke tempat duduk, aku cuma berdiri di depan,
menunggu dia selesai. Setelah papan bersih, dia melempar penghapus seperti
sampah dan kembali duduk. Tiba-tiba bel berbunyi, dan Bu Iyo masuk, melihatku
berdiri di panggung kecil, rautnya bingung.
“Ada apa ini?”
Tak seorang pun—termasuk aku dan Ushio—memberitahu guru
tentang hinaan pagi itu. Namun pikiranku terusik terus. Saat pelajaran dimulai,
aku tak bisa menyimak satu pun materi. Otakku hanya berputar mengurai maksud di
balik ucapan Ushio.
Sekarang, setelah sedikit tenang, aku mengerti mengapa dia
tak mau kuajak bicara lagi. Dia bukan membenciku; dia mungkin ingin
melindungiku, menjaga jarak agar aku tidak kena amukan Nishizono. Ushio tidak
benar-benar membenciku, jadi aku harus percaya itulah maksudnya.
※※※
“Gila, Ushio lagi nggak ikutan olah raga hari ini juga.”
“Menurutmu aku bisa minta izin kalau pakai seragam cewek?”
“Boleh juga dicoba.”
“Aku bercanda, Dong. Nggak mau kelihatan kayak gitu.”
“Oke, serius nih: mau pacaran sama orang kayak gitu nggak?”
“Nggak banget. Nggak mungkin.”
“Iya, tetep cowok di bawahnya, meski kelihatan cewek…”
Seperti biasa, tiap jeda antar-pelajaran pasti terdengar
percakapan menghina tentang Ushio. Kupikir mereka bakal bosan setelah hari
pertama, tapi justru makin sering hari ini. Mungkin coretan di papan tulis
membuat orang merasa sah-sah saja mengejeknya. Meski begitu, Hoshihara tetap
berusaha mengajak Ushio makan siang lagi. Dia benar-benar lebih dewasanya
dibanding yang lain.
Melihat Hoshihara menyapa Ushio, aku merasa bersalah—hampir
membuatku mau menyaingi tindakannya. Namun ingatan pada kata-kata Ushio pagi
ini membuatku takut ditolak lagi.
Aku tak bisa terus begini.
…Aku akan ajak dia bicara setelah sekolah, kukira. Setelah
pelajaran usai, aku akan ajak dia pulang bersama lagi. Aku ingin melupakan
coretan pagi ini dan bicara akrab di perjalanan pulang. Kupikir itu yang
diinginkan Ushio juga.
Namun harapanku segera pupus. Begitu bel akhir berbunyi,
Ushio melesat keluar kelas paling cepat—seolah takut aku mendekat. Aku mengejarnya,
berharap dia menunggu di pintu utama seperti kemarin, tapi dia sudah lama pergi
saat aku tiba. Sepatu dalamnya sudah rapi di rak.
“Kenapa dia kabur, sih?” gumamku.
Apa dia benar-benar membenciku semalam? Bayangan itu
membuatku campur aduk marah dan khawatir. Bagaimana mungkin dia memperlakukanku
begini setelah kupercaya padanya dengan novel memalukanku? Terasa begitu kejam.
Ya sudah, aku pulang sendiri saja. Namun ketika aku akan
ganti sepatu, Hoshihara muncul dari belakang, terengah.
“W-wait, Ushio-chan mana?” tanyanya. Aku terkejut—dia sudah
konsisten memanggil “Ushio-chan,” meski Ushio tidak di dekatnya.
“Sudah pulang,” jawabku, menyesal. “Nggak sempat ngejar.”
“Aduh…” wajah Hoshihara murung. Melihatnya sedih, rasa
cemburu lama ke Ushio muncul lagi.
“Biarkan dia sendiri saja. Mungkin dia butuh waktu sendiri.
Pagi ini kan berat buat dia.”
“Iya, mungkin benar…”
Hoshihara berjalan ke rak sepatu, ganti sepatu luar, lalu
menendang-nendang tumitnya untuk mengendurkan pergelangan. Dia menatapku.
“Kau belum pulang juga?” tanyanya.
“Hah?” aku bingung. “Oh, iya, sebentar.”
Aku ganti sepatu dan mengikuti Hoshihara ke tempat sepeda.
Kami ambil sepeda masing-masing, lalu menuntunnya keluar kampus.
Matahari terik menyengat jalan setapak di antara sawah. Kemarin
kami bertiga jalan di sini, tapi hari ini hanya kami berdua. Kupikir mungkin
Hoshihara hanya mau menemani agar tidak terkesan jahat meninggalkanku. Sulit
menebak pikirannya, yang meredam kegembiraan skenario impian ini. Suasananya
sangat canggung. Hoshihara menunduk sepanjang jalan, tanpa kata. Suara rantai
sepeda kami berputar jadi satu-satunya pengisi keheningan. Lama-kelamaan,
perutku mual.
“Dengar, um…” mulainya. “Jangan pikirkan Ushio. Aku yakin
dia bukan nggak mau jalan sama kita. Semua orang perlu waktu sendiri sesekali.
Dia pagi ini kan habis hari berat. Dia bakal baik-baik saja—kita bertiga bisa
jalan bersama lagi besok, janji.”
Hoshihara mengangguk lemah—respon paling minimal.
“Eh, ngomong-ngomong—menurutmu bagaimana nilai ulangan kita
di Modern Jepang kemarin?” tanyaku, nekat. “Aku sih yakin, nih. Buku bacaan
buat hobi kan bikin kemampuan bahasa naik, ngerti maksudku?”
Kali ini dia bahkan tak mengangguk.
Astaga, kenapa? Tolong, katakan sesuatu… Atau aku salah
paham soal tawarannya mau pulang bareng? Ah, sial. Sekarang aku makin nggak
percaya diri… Jalan ini jadi terasa terlama sedunia. Kenapa juga kita jalan,
bukan nggowes? Harusnya kita gowes, tapi terlalu canggung buat nyebut itu
sekarang—dia bakal pikir aku ingin cepat-cepat pulang.
Saat aku memutar otak cari topik, kudengar isakan pelan di
samping. Kulirik—Hoshihara menangis.
“Whoa! Uh, hey… Kau baik-baik saja?” tanyaku, gugup.
“Maaf…” katanya sambil menyeka air mata. “Aku tiba-tiba
kepikiran lagi pagi ini.”
“Maksudmu… coretan di papan tulis?”
Dia mengangguk. “Pas aku masuk kelas, lihat coretan itu, aku
tahu seharusnya aku hapus… tapi aku takut, jadi aku nggak berani. Aku cuma diam
saja menatapnya. Pasti Ushio-chan kecewa sama aku… Dia pasti berharap aku yang
hapus, tapi dia terlalu baik buat mengatakannya.”
“Kupikir… mungkin begitu. Tapi menurutku kau sudah jadi
teman yang baik buatnya. Kau selalu berusaha memperhatikannya dan makan siang
bareng dia…”
“Awalnya sih memang untuk Ushio-chan. Tapi sekarang beda.”
“Hah?”
“Nih, sejak kemarin aku nolak ajakan Arisa, dia nggak mau
lagi bicara sama aku… Kalau aku nggak makan sama Ushio-chan, mungkin aku makan
sendirian. Jadi sekarang aku juga butuh waktu sama dia.”
Aku tak menyadari Hoshihara juga diasingkan—mungkin karena
aku terlalu fokus pada Ushio. Aku memang suka melihat ketegangan antara
Hoshihara dan Nishizono sejak kemarin, tapi tak kukira Hoshihara diabaikan
sepenuhnya. Pasti itu sangat menyakitkan.
“Yah… menurutku kau pantas diapresiasi karena membela Ushio.
Kebanyakan orang tak berani mengorbankan reputasi demi orang lain. Aku yakin
Ushio menghargainya.”
“Aku nggak tahu…”
“Percayalah, kamu bicara sama orang yang dulu sahabatnya.
Aku jamin dia sangat menghargai itu,” kataku sambil melemparkan senyum lebar.
Ini akhirnya membuat Hoshihara terkekeh pelan.
“…Makasih. Kau baik sekali, Kamiki-kun.”
“Nggak sebaik kamu.”
“Aduh, ini Hari Puji Natsuki apa?!” serunya malu sambil
menari-nari menirukan kipas di wajahnya. Aku melihat ujung telinganya memerah
di balik rambutnya. Hampir saja aku menghela napas lega—aku sempat mual karena
canggung, tapi sekarang kami telah nyambung. Hampir saja aku ingin memanfaatkan
kesempatan ini dan membawanya ke arah lebih lanjut.
Tiba-tiba Hoshihara berhenti. Aku ikut berhenti, menatapnya.
“Ada apa?” tanyaku.
Wajahnya memerah, dia menatapku seakan mau mengatakan
sesuatu.
“Um… Kamiki-kun? Boleh aku bicara sesuatu?” tanyanya.
“S-sure, apa?”
Jantungku berdebar keras. Lagi-lagi ada perasaan tenggelam.
“Oke, tapi aku mau bilang dulu… bisakah kau simpan ini
rahasia kita berdua saja?”
“Y-ya, tentu.”
Ludahku tercekat. Gugup, aku menelannya. Angin kencang
tiba-tiba berhembus dari timur, mengibarkan daun padi hijau di sawah. Ketika
angin reda, Hoshihara menarik napas dalam dan berkata:
“Aku dulu … naksir banget sama Ushio-kun.”
Perasaan tenggelam itu tepat sasaran. Kesadaranku seolah
terjun ke jurang tak bertepi, meninggalkanku berdiri kosong di tengah jalan.
Realitas makin menjauh saat pikiranku terperosok. Aku bersiap meremukkan
diri—namun tak terjadi. Tepat sebelum hilang sepenuhnya, aku menemukan pijakan
secercah harapan.
“Kau… dulu?” tanyaku pelan.
“Iya, lama sekali. Sampai hari dia umumkan transisinya…
T-tapi perasaanku itu sepertinya satu arah saja.”
Wajahnya kini benar-benar memerah saat menunduk. Hampir
kulihat uap mengepul dari kepalanya.
“Lalu sekarang bagaimana?”
“Sekarang, aku… aku belum tahu,” jawabnya.
“Belum tahu? Belum tahu artinya… apa, tepatnya?”
“Err… Duh, bagaimana ya…?”
Matanya berkedip-kedip mencari kata. Saat akhirnya dia
berbicara, langkahnya goyah seolah pusing.
“H-hey, kau baik-baik saja?” tanyaku.
“Maaf, aku… kepanasan saja…”
Dilihat lebih dekat, kulitnya berkilo lapis keringat.
Beberapa helai poni menempel di dahinya. Mungkin terlalu lama berdiri di terik
tanpa berteduh, ditambah topik berat, membuatnya pingsan.
“Ayo cari tempat yang adem,” tawarku.
“Oke…”
Aku lompat ke sadel sepeda, Hoshihara mengikutinya pelan.
Perasaan sepihak, ya…?
Kubendung napas, lalu mulai menggowes.
Jika kami bersepeda sekitar lima belas menit, bisa sampai
distrik komersial dekat stasiun—satu-satunya tempat di kota dengan banyak kafe
dan restoran cepat saji. Tapi melihat kondisi Hoshihara, aku ingin membawanya
secepatnya ke tempat teduh, jadi kami menuju kawasan perbelanjaan kota yang
lebih dekat. Melewati deretan toko tutup akibat mal AEON baru, kami menemukan
sebuah kafe mungil yang nyaman.
Pintu berderit saat kami masuk. Kami duduk di meja pojok,
saling berhadapan, dan memesan minuman. Wajah Hoshihara masih merah, tapi
keringatnya sudah mereda. Tak lama seorang nenek ramah membawa kopi es buatku
dan jus jeruk untuknya. Hoshihara meneguk setengah gelas sekaligus, lalu
menghela napas puas.
“Lebih enak?” tanyaku, dan dia menoleh sambil tersenyum
kecil.
“Haha, iya… Maaf ya. Kepanasan tadi.”
“Gak apa-apa. Nah, soal yang tadi…”
“Iya, aku akan cerita kronologinya.”
Aku menambahkan susu dan sirup ke kopiku, lalu mengaduk.
Kuangguk, siap mendengarkan.
“Baik,” dia memulai. “Jadi cuma untuk catatan, aku akan
memanggilnya Ushio-kun dan merujuk padanya sebagai laki-laki saat bicara
tentang perasaanku terhadap orang yang kukenal waktu itu, tapi ya… Seperti yang
kukatakan tadi, aku sempat naksir Ushio-kun… Kata kuncinya ‘pernah.’ Tapi
maksudku, dia selalu sangat populer di kalangan semua cewek di sekolah, jadi
aku tahu aku tidak punya banyak kesempatan, secara statistik. Aku berusaha
sekuat tenaga untuk melupakan dia.”
Es di gelasku berderak dan berdenting.
“Lalu ketika Ushio-kun—atau tepatnya Ushio-chan—mengumumkan
bahwa dia berencana menjalani hidupnya sebagai cewek mulai sekarang, kurasa
aku… agak lega, hampir? Seperti, duh, sekarang aku punya alasan sempurna untuk
melepas perasaan ini. Tapi kemudian saat aku mulai banyak bicara dengannya, aku
hanya… entahlah, rasanya seperti… Ugh, ini benar-benar susah diungkapkan.”
Aku meneguk kopiku yang dingin.
“Aku rasa aku punya dorongan kuat untuk, seperti… memeluknya
erat dalam pelukanku.”
Kopi itu meluncur masuk ke tenggorokanku, dan aku tersedak.
Aku segera meraih serbet dan menekannya ke mulutku saat hampir terbatuk hebat.
“A-apakah kau baik-baik saja?!”
Aku batuk beberapa kali lagi dan mencoba membersihkan
tenggorokanku. “Ahem! Jadi, uh… Kau bermaksud masih punya perasaan padanya?”
tanyaku.
“Mmm, aku nggak tahu soal itu…”
“Kalau saat kau bilang ingin memeluknya, apakah maksudmu
sama seperti saat kau ingin memeluk cowok yang kau suka? Atau seperti, sebagai
salah satu teman cewekmu?”
“L-lihat, aku nggak tahu, oke?! Makanya aku minta nasihat
darimu!”
Aku harus mengakui, rasanya tidak enak ketika gebetanmu
berteriak padamu saat kau sudah dipaksa mendengarkan mereka bicara tentang
perasaan tak terbalas mereka pada orang lain. Namun, sulit untuk menolak
Hoshihara, jadi aku menyilangkan tangan di dada dan berusaha memikirkan
teka-tekinya sejujur mungkin.
Dia bilang ingin memeluk Ushio—artinya ini adalah keinginan aktif
yang dirasakannya. Tapi emosi atau situasi apa yang membuat seseorang ingin
memeluk orang lain? Murni dorongan nafsu saja? Tidak, itu tidak
mungkin—setidaknya bukan dalam kasus Hoshihara. Atau setidaknya aku ingin
percaya begitu. Tapi apa alasan lain? Ingin mendekap sesuatu yang polos dan
berharga, seperti bayi atau hewan kecil tak berdaya? Apa artinya itu?
“Okay, ini cuma hipotesis,” kataku, “tapi kurasa mungkin
yang kau rasakan adalah naluri keibuan, atau semacam dorongan alami untuk
melindunginya.”
“Naluri keibuan…?”
“Iya. Maksudku kau merasa kasihan pada Ushio dan cara dia
diperlakukan, dan yang ingin kau lakukan hanyalah menjaganya tetap aman dari
dunia luar.”
“Dan apakah itu… berbeda dari cinta, menurutmu?”
“Oof. Itu pertanyaan sulit.”
Kecenderunganku yang egois adalah mengatakan iya, itu murni
hasil sifat simpatik alaminya dan karenanya tidak ada hubungannya dengan cinta
romantis. Jika itu benar, artinya dia tak lagi punya perasaan untuk Ushio, dan
aku tak perlu khawatir bersaing memperebutkan kasih sayangnya. Tapi rasa
bersalah yang kurasakan saat memikirkan memberi tahu dia hal ini hanya demi
keuntunganku sendiri memaksaku untuk menggeleng dan mengangkat bahu saja.
“Kucoba katakan kau satu-satunya yang bisa menjawab itu.”
“Hmm…” Dia menatap ke meja cukup lama, tenggelam dalam
pikirannya. “Baiklah. Kurasa aku akan memikirkannya lebih lanjut, deh.”
“Kedengarannya seperti rencana. Tidak ada yang baik akan
terjadi jika terburu-buru hanya demi menemukan jawaban lebih cepat, menurutku.”
Ini nasihat yang cukup bermakna, harus kugakui. Meski
begitu, aku masih punya sekitar sepertiga kopiku yang dingin, jadi kurasa aku
akan menggali sedikit lebih dalam perasaannya terhadap Ushio.
“Jadi apa yang membuatmu jatuh hati pada Ushio dari awal?”
“Yah, banyak hal, sebenarnya… Tidak ada momen tertentu atau
apa. Kupikir dia memang selalu sangat baik, jadi aku merasa tertarik secara
alami saat kami terus bicara… Oh, dan aku suka melihat dia berlari. Dia selalu
terlihat begitu memesona, di lintasan…”
Wajahnya memerah, dan sudut bibirnya membentuk senyum tipis.
Dia benar-benar tampak seperti gadis muda yang sedang jatuh cinta; aku langsung
menyesal bertanya.
Dia suka melihat Ushio berlari, ya? Entahlah, apa itu
berarti dia dulu sering duduk menonton latihan lintasan atau melihat dari jauh…
Tidak, tunggu! Bagaimana dengan hari saat aku dan dia bertukar kontak, ketika
aku menemukannya di kelas selepas sekolah, menatap keluar jendela? Bisa jadi
dia sedang mengamati Ushio? Ugh, ya ampun… berharap aku tak menyadari
kemungkinan itu.
Aku menenggak sisa kopiku dalam satu tegukan untuk mencoba
memendam kesedihanku yang baru terkuak. Meski ada susu dan sirup, rasanya jauh
lebih pahit sekarang.
“Kau sudah berteman baik dengan Ushio-chan sejak kecil, kan,
Kamiki-kun?”
Bukan “sejak” tapi “ketika,” pikirku, tapi aku tak mau repot
memperbaikinya lagi, jadi aku hanya mengangguk dan menjawab iya.
“Kalau begitu kau pasti paling tahu dia, ya?”
“Aku nggak tahu soal itu. Mungkin kalau kau tanya soal masa
SD-nya, aku bisa cerita beberapa anekdot atau semacamnya.”
“Anekdot? Seperti apa?”
“Y-ya, seperti, uh… Mari kita lihat…” Aku menyilangkan
tangan sambil mencoba menelusuri ingatanku sejauh itu. “Oh iya, jadi kalau kau
pernah tanya padanya ‘Hei, kau bisa bicara bahasa Rusia?’ dia akan memberi
tatapan paling kotor yang bisa dibayangkan, haha.”
“Apa?! Hah, menarik!”
Mata Hoshihara berbinar-binar saat dia mendengarkan dengan
penuh perhatian—lalu, tiba-tiba, dia mengeluarkan ponsel dan mulai mengetik
cepat di keyboard kecilnya. Kupikir dia mungkin mencatat ini agar tak lupa.
Yah, dia memang antusias, pikirku dengan sinis. Tiba-tiba terdengar bunyi
“bonnng” keras dari jam tua di dinding. Ternyata sudah pukul enam.
“Kita harus pergi,” kataku.
Hoshihara menutup ponselnya dan menatap ke atas. “Iya,
sepertinya begitu,” ujarnya. “Terima kasih sudah mendengarkanku.”
“Sama-sama. Sama sekali tak masalah.”
“Kau benar-benar satu-satunya yang bisa kutemui untuk bicara
soal ini, Kamiki-kun,” katanya dengan tawa kecil yang manis. Aku benar-benar
tak yakin harus merasa senang atau tidak.
※※※
Esok paginya, setelah hatiku tercurah bersama Hoshihara,
hujan turun. Ini bagaikan vonis mati bagi kami yang bersepeda ke sekolah;
mencoba tetap naik dengan jas hujan berarti kita akan tercekam panas seperti
brokoli kukus saat sampai—rambut menempel di dahi, baju basah lengket di kulit
seperti wetsuit. Pokoknya waktu yang sangat buruk. Dan benar-benar itulah hari
ini.
Para siswa berhenti di depan pintu masuk untuk mengibaskan
payung dan melipat jaket mereka. Aku berdiri di salah satu sisi kerumunan,
menepuk-nepuk jas hujanku untuk mengeringkannya sebaik mungkin. Saat itu,
seorang siswa lain dengan payung—sepertinya cewek, dilihat dari rok—berlari
menghampiriku di bawah naungan pintu masuk. Saat dia merapikan payungnya, aku
terperanjat pelan. Itu Ushio. Dia jauh lebih kering dariku; rambutnya masih
halus dan kering, tak ada setetes keringat pun.
Saat kuingat kembali insiden di papan tulis kemarin, belum
lagi percakapanku dengan Hoshihara, aku merasakan pusaran emosi di dadaku.
Apakah lebih baik tidak menyapa dia sama sekali, atau setidaknya memberi salam
standar? Setelah ragu sejenak, aku memilih yang terakhir.
“Se-pa-giii,” kataku, tersendat. Ushio menoleh dan terkejut.
Rupanya dia bahkan tak menyadari itu aku di sampingnya.
“O-oh, Sakuma… Iya, hey. Pagi,” katanya kaku.
“Tidak naik sepeda hari ini?” tanyaku mencoba memulai
obrolan ringan.
“Tidak. Aku… tidak terlalu ingin basah. Jadi aku minta
diantar.”
“Ah, begitu. Andai saja aku bisa diantar ke sekolah waktu
hujan juga. Parah basahnya dan rasanya seperti keluar dari sauna.”
“…Iya.”
Ushio jelas tidak berenergi hari ini—namun dia juga tidak
tampak tenang atau lelah. Dia melirik waspada di sekitar, seolah khawatir ada
yang mengawasi. Dia melipat payungnya dan mengkliknya ke tempatnya, lalu hendak
masuk gedung—tapi aku memanggilnya sebelum dia pergi.
“Hei! Kau pikir kita bertiga bisa pulang bareng lagi hari
ini? Kurasa Hoshihara pasti senang.”
Ushio menoleh lagi padaku. “Aku juga dijemput pulang nanti,”
katanya.
“Oh. Kalau begitu adil juga, ya.”
“…Sakuma.”
Aku menahan diri saat dia tiba-tiba memanggil, menebak dari
tatapan iba di matanya bahwa aku tidak akan suka apa yang akan dia katakan.
“Kau tidak perlu memaksakan diri bicara denganku,” katanya.
“Aku tahu kau tidak ingin orang salah paham cuma karena kau nongkrong sama
aku.”
Beberapa saat, kata-kataku tersangkut di tenggorokan.
Beberapa detik kemudian, aku merasakan nyeri tajam menusuk dadaku, seperti
teriris kertas.
“Aku bukan memaksa—”
“Aku tidak mau membuat hidupmu makin sulit,” dia menyela.
Dia menampilkan senyum paling terpaksa yang pernah kulihat, lalu berjalan masuk
tanpa memberiku kesempatan membalas. Aku membenci diri sendiri karena tidak
membantah seketika.
Suasana murung dan tidak nyaman membayang sepanjang hari—dan
bukan hanya karena hujan. Suasana itu sangat dipengaruhi oleh sikap Arisa
Nishizono.
“Um, permisi?” tanya dia dengan suara keras waktu pelajaran
olahraga. “Kenapa Tsukinoki-san tidak pernah ikut lagi?”
“Jangan khawatir soal Tsukinoki,” jawab guru olahraga,
terlihat tidak nyaman.
“Kenapa yang lain tidak bisa juga skip seperti itu?”
Nishizono mendesak. Kemarahannya begitu terang-terangan menyasar Ushio sampai
Ushio hanya bisa menunduk dan menunggu perhatian tidak menyenangkan itu
berlalu. Dia terus melancarkan pelecehan di setiap jeda antarkelas.
“Nah, jadi apa jawaban soal pertanyaan celana dalam itu?
Satu dari kalian harusnya cek.”
“Apakah tidak melanggar aturan sekolah kalau cowok pakai
seragam cewek? Sungguh, ini ancaman terhadap moral dan kesopanan publik,
menurutku.”
“Dia mungkin senang baca manga aneh dewasa yang isinya dua
cowok berhubungan. Duh. Dasar freak.”
Awalnya celaan kasar Nishizono dibalas hanya dengan anggukan
gugup dan tawa canggung. Tapi seiring waktu, semakin banyak yang berhenti
pura-pura dan tanpa ragu mengekspresikan sentimen serupa.
Aku cukup yakin Nishizono satu-satunya yang punya masalah
pribadi dengan Ushio, dan yang lain hanya ikutan 'bercanda' karena itu cara
termudah mencairkan suasana canggung dan 'menghidupkan suasana.' Sungguh menyedihkan
melihat teman sekelas kami lebih memilih bersatu melakukan bully pada seseorang
daripada membiarkan keheningan sedikit pun. Namun aku sudah pernah mengenal
anak-anak seperti itu di SMP—seolah mereka alergi berat pada keheningan.
Bukan berarti aku tidak memahami dorongan itu. Tidak ada
yang suka keheningan canggung. Kalau ada sasaran mudah untuk jadi bahan
obrolan, kupahami kenapa mereka tergoda bersikap kejam, meski sebenarnya tidak
bermaksud begitu. Tapi itu tidak berarti aku setuju—komplisitas tetaplah
komplisitas.
Menariknya, aku perhatikan Mashima dan Shiina—dua anggota
inti geng kecil Nishizono yang awalnya mendukung Ushio—tidak ikut-ikutan bully,
meski juga tidak membela. Mereka hanya terdiam, jelas tidak nyaman menyaksikan
kekejaman lisan itu. Aku bahkan tidak melihat mereka bicara satu kata pun
dengan Hoshihara belakangan ini, apalagi Ushio.
Situasi di kelas makin memburuk perlahan tapi pasti. Saat
bel pulang, aku benar-benar kecewa. Aku tidak mood menemani pulang bareng
Hoshihara lagi, jadi aku mengayuh sepeda pulang sendirian.
※※※
Akhir pekan berlalu, lalu Senin tiba. Tepat satu minggu
sejak Ushio mulai menjalani hidupnya sebagai cewek secara terbuka. Hujan yang
berlanjut hingga Minggu akhirnya reda, langit cerah kembali.
Setelah pelajaran olahraga ketiga, aku dan anak-anak cowok
kembali ke Kelas 2-A, ganti baju olahraga menjadi seragam, lalu duduk bersiap
untuk pelajaran keempat. Tak lama kemudian, para cewek yang berganti dari ruang
ganti datang bergabung.
Saat bel masuk berbunyi, Ushio belum juga muncul. Ingatanku
tertuju pada laporan hariannya ke guru olahraga dan dia meninggalkan area gym,
jadi aku tak tahu kenapa dia butuh waktu lama. Baru setelah guru matematika
paruh baya masuk, naik ke podium, meletakkan buku pelajaran di lectern,
mencukur jenggot lima hari dan mengambil kapur, pintu kelas terbuka.
Ada Ushio di ambang pintu. Awalnya aku tidak sadar ada yang
aneh—lalu aku perhatikan dia hanya setengah ganti seragamnya. Dia masih pakai
celana olahraga, tapi mengenakan kemeja seragam. Wajahnya pucat dan lelah, dan
Napoleonya agak sesak.
“Maaf telat,” katanya.
Guru matematika menatapnya—lalu ke celana olahraganya.
Alisnya terangkat bingung, tapi ia tidak bertanya, hanya memberi peringatan
kecil sebelum mempersilakan dia duduk. Semua mata tertuju pada Ushio saat dia
berjalan ke mejanya dan duduk.
Ada apa, ya?
Tak ada yang membicarakannya waktu pelajaran, tapi aku yakin
semua teman sekelas bertanya hal yang sama. Dan benar saja, saat kelas usai dan
istirahat siang dimulai, ruangan bergemuruh bisik canggung—seolah semua
pertanyaan yang tertahan meledak.
“Menurut kalian apa yang terjadi?”
“Apakah dia menumpahkan sesuatu di rok?”
“Salah satu dari kita harus ke depan dan tanya.”
“Iya, ide bagus. Kenapa kamu nggak coba, jagoan?”
Spekulasi dan ejekan membahana di kelas saat Ushio dan
Hoshihara hanya duduk dan berusaha makan siang bersama seperti biasa. Hoshihara
juga jelas penasaran, tapi sengaja tidak menyinggungnya, tampak ragu apakah itu
topik sensitif.
Pintu tiba-tiba terbanting terbuka. Arisa Nishizono
melangkah masuk dengan gaya seperti kaisar pulang dari kampanye kemenangan. Dia
berjalan ke podium dan mengacungkan ‘buah karyanya’ di tangan kanan.
“Hei, guys, aku baru nemu ini—ada yang kenal?” tanyanya.
Saat itulah aku—dan mungkin mayoritas kelas—menyadari apa
yang sebenarnya terjadi.
Gantung di tangan Nishizono adalah rok seragam cewek.
“Kupikir ini milik seseorang di kelas ini,” lanjutnya. “Ada
yang berani ngaku? Ayo.”
Dia memutar-mutar rok itu dengan senyum sadis. Hampir pasti
rok itu milik Ushio, dilihat dari cara Nishizono memperlakukannya minggu lalu.
Dugaan terkuatku, Nishizono bohong bilang butuh ke kamar mandi waktu olahraga,
lalu diam-diam masuk ruang serbaguna tempat Ushio berganti, mencuri rok dari
sana. Dia hanya perlu membuka salah satu jendela dulu agar bisa masuk meski
Ushio sudah mengunci. Terlalu mudah.
Bagaimanapun, garis besarnya jelas, begitu pula pemilik
roknya. Namun tak ada yang maju menegur tindakannya. Mereka tahu Nishizono akan
membantah dan mungkin membalas mereka. Yang lebih buruk, mereka berisiko jadi
target kemarahannya. Inilah alasan Nishizono berani melakukan kejahatan
memalukan ini: dia tahu bisa lolos.
Aku mengepal tangan. Taktik licik dan pengecut ini membuatku
muak. Tapi aku tak bisa melakukan apa-apa. Sepuas apapun jantungku berdebar
kencang, aku tak berani bangkit dari kursi. Aku menatap Ushio, yang menunduk
seolah menahan rasa malu. Bahunya gemetar, seolah berusaha keras menahan
sesuatu yang ingin keluar.
“Hei. Ini milikmu, kan?” tanya Arisa sambil turun dari
podium dan berjalan ke meja Ushio. Dia mencondongkan kepala untuk menatap wajah
Ushio yang tertunduk. “Ayo. Cek saja dan bilang ini milikmu atau tidak. Kan
gampang?”
Ushio perlahan mengangkat wajah pucatnya dan menatap ke
bawah kepada pelaku intimidasi. “Iya,” katanya sambil mengangguk. “Rok ini—”
“Eh, tunggu, nggak mungkin ini milikmu, kan?” sela Nishizono
dingin bak pembunuh. “Maksudku, kamu kan cowok. Kenapa perlu pakai rok?”
Nishizono melepaskan rok itu ke lantai dan menginjaknya,
menekuk tumitnya seolah mengikis permen karet. Ushio melompat berdiri dengan
napas terengah. Dia menatap tajam ke Nishizono dari jarak kurang dari tiga
puluh sentimeter—cukup dekat untuk berkelahi. Namun Nishizono tidak gentar.
“Kenapa? Mau mara?” kata Nishizono.
“…Tolong geser kakimu sekarang juga,” ujar Ushio.
“Kenapa aku harus melakukannya?”
Ushio menggigit bibirnya dengan keras dan—dengan perubahan
sikap yang drastis—membuang amarah dari tatapannya, lalu menatap Nishizono
dengan mata penuh pinta.
“Karena rok itu… milikku. Itu adalah pakaian wanita pertama
yang pernah kumiliki, jadi… punya makna sangat besar bagiku.”
“Seberapa terikatnya sih kau sama rok bodoh itu? Kau pikir
kalau kau pakai baju cewek cukup lama, kau bakal tiba-tiba berubah jadi cewek
atau apa? Jijik,” ludah Nishizono dengan rasa jijik. “Kau tahu kau tidak akan
pernah jadi cewek sejati. Maksudku, apa kau nggak punya cermin? Mungkin dari
wajah sih kau bisa lolos—hampir saja—tapi aku cukup yakin ada beberapa
perbedaan mendasar antara cowok dan cewek yang tak akan pernah bisa kau
palsukan. Bukan?”
Ushio meringis mendengar fitnah paling keji itu, tapi dia
tetap diam. Reaksi itu sepertinya memancing saraf di Nishizono, yang kini
menatap Ushio dengan mata buas penuh darah seperti serigala yang siap menerkam.
“Jawab aku! Aku tahu kau masih punya satu di sana!”
teriaknya, lalu—sungguh tak percaya bagi kami semua di kelas—dia meraih dan
menggenggam bagian selangkangan Ushio. Seketika, setiap helaian rambut Ushio
merinding berdiri.
“Berhenti!” jerit Ushio, mendorong Nishizono sekuat tenaga.
Nishizono terjengkang ke belakang, menghantam lantai sambil menyeret meja dan
kursi bersamanya. Keheningan mencekam yang menyusul membuat rasanya seluruh
ruangan membeku, dan kami semua terdiam seolah menyaksikan sebuah pembunuhan—hanya
suara napas berat Ushio yang terdengar. Wajahnya mencerminkan kebencian dan
penyesalan.
Nishizono kini bergetar—bukan karena marah atau hendak
menangis. Justru suara pertama yang keluar dari bibirnya, yang terselubung di
balik poni panjangnya, adalah tawa polos tanpa rasa. Lalu, bak piring hitam
yang tergores, cekikikan itu berubah menjadi tawa gila. Dia terhuyung bangkit,
menyibakkan poni acaknya untuk menampakkan senyum bengkok di wajahnya.
“Nih lihat kau, benar-benar berani kasar padaku sekali-sekali…
Bagus! Teruskan! Lawan dan jadilah pria! Karena itu yang sebenarnya kau
adalah!”
“T-tidak, aku nggak… Aku cuma…” Ushio terbelalak dan
tersendat, menggoyangkan kepala seolah tak percaya pada apa yang baru saja
dilakukannya. Akhirnya, tampaknya dia tak tahan lagi di sana, lalu dia
menanggalkan roknya dari lantai dan berlari keluar kelas secepat mungkin. Saat
itulah aku tersadar.
Apa yang baru saja kulakukan? Tak ada—itulah jawabannya. Aku
tak melakukan apa-apa. Aku hanya duduk dan menyaksikan Ushio diserang secara
verbal dan fisik di depan seluruh kelas. Gelombang penyesalan menyapu seluruh
tubuhku.
Meskipun tahu sudah terlambat untuk membelanya, aku bangkit
dari kursi dan berlari mengejar Ushio ke lorong. Sambil berlari, aku memaki
diri sendiri karena jadi teman yang tak berguna. Aku sama sekali tidak
berpikir, hanya mencari alasan untuk tak bertindak karena takut balasan dari
Nishizono dan penolakan teman-teman. Aku hanya peduli menyelamatkan diri
sendiri, padahal Ushio telah berusaha mencegahku terkena serangan itu. Dia
teman baik, dan aku telah membiarkannya sendirian. Padahal dia jauh lebih butuh
teman sekarang.
“Sialan…!”
Andai saja aku bisa memutar waktu lima menit lalu dan
memukul diriku sendiri. Tapi aku tak akan mengulang kesalahan yang sama.
Aku mengejarnya menuruni tangga, melewati lorong, sampai ke
luar meski masih pakai sepatu dalam kelas—hingga akhirnya dia berhenti di
belakang gedung gym. Nafasku tersengal-sengal saat berhasil mengejarnya, dan
aku memperlambat langkah saat mendekat. Aku bangga karena berhasil mengejar
mantan bintang tim lari itu. Kupikir itu berkat respons ‘fight-or-flight’ atau
ledakan adrenalin, entah apa namanya. Di sana memang sepi, tapi aku masih bisa
mendengar gaduh siswa di dalam sekolah.
“Ushio,” sapaku.
Bahu kecilnya bergetar sebelum dia menoleh. Matanya sembap
dan berlinang air mata. Setiap kali dia mencoba menyeka, air mata itu terus
mengalir kembali. Hatiku perih; aku tak ingin melihatnya sedih lagi.
“Aku minta maaf, Ushio… Seharusnya aku bertindak. Aku
terlalu sibuk memikirkan diriku sendiri sampai pura-pura tak melihat betapa
buruknya Nishizono memperlakukanmu… Aku tahu itu bukan alasan. Tapi aku ingin
berubah mulai sekarang.”
Aku melangkah mendekat.
“Aku tak akan menoleh lagi. Apapun yang bisa kulakukan, akan
kulakukan untukmu. Aku ingin ada untukmu. Aku tak peduli kau cowok atau
cewek—gender tak ada hubungannya. Kau sahabat terbaikku, dan itu saja yang
penting.”
Wajahku memerah saat bicara. Rasanya seperti mabuk kejujuran
sendiri, dan aku tak bisa menahan diri tersipu atas ceramah kecil itu. Namun,
semua keluar dari hati.
Mendengar itu, Ushio mengeluarkan erangan antara isak
tangis—hingga akhirnya bukaan bendungannya pecah, dan dia menangis
terisak-isak.
“Tapi itu bukan satu-satunya yang penting…” katanya sambil
menggeleng tak terhibur.
“M-mengapa?” tanyaku, terkejut oleh jawaban tak terduga itu.
“Karena…”
Dengan air mata di mata, dia menatap mataku tajam.
“Karena aku suka padamu, Sakuma.”
Untuk sesaat, pikiranku kosong, tak mampu mengolah apa yang
baru kudengar. Dia menatapku sungguh-sungguh, mungkin ingin melihat
reaksiku—lalu putus harapan, menunduk dan berlari pergi. Seolah dia menyerah
pada sesuatu.
Aku hanya terdiam melihatnya menjauh. Jika kucoba
mengejarnya lagi—meski mampu menangkapnya—katanya pasti akan macet lagi di
kerongkongan. Emosiku masih berantakan, tak cukup jernih untuk berpikir atau
berbicara.
Tapi satu hal jelas bagiku:
Dia tak sekadar “suka” sebagai teman.
※※※
Ushio pulang lebih awal hari itu. Sepanjang sore, suasana
kelas sangat canggung. Paling mencolok, tak satu pun orang menyebut nama Ushio
lagi. Bahkan mereka yang brutal mengejeknya kini menghindar seolah dia tak
pernah ada.
Bahkan Nishizono pun ikut diam—meski dia tak tampak
menyesal. Mungkin dia tenang sekali waktu sekarang karena target kekesalannya
pergi, tapi dia pasti akan kembali mengobarkan kebencian saat Ushio kembali.
Akhirnya, sekolah usai. Aku membereskan tas dan keluar
kelas. Sepanjang kuliah sore, pikiranku dipenuhi ucapan Ushio saat makan siang.
Jujur saja, aku masih terguncang olehnya. Siapa pun pasti begitu setelah
mendapat pengakuan cinta dari teman lama yang baru saja kau anggap jenis
kelaminnya sama denganmu sampai baru-baru ini.
Tentu saja, sekarang Ushio sudah bukan cowok lagi. Tapi dia
juga tak terlahir sebagai cewek. Dan sebagai pria heteroseksual biasa yang
tertarik hanya pada lawan jenis, aku ragu bisa menerima perbedaan antara jenis
kelamin dan gender dalam konteks ketertarikan. Bukan berarti aku tak menyukai
Ushio—aku akui dia cukup imut dan cocok pakai baju cewek. Tapi apakah aku bisa
melihatnya sama seperti cewek lain? Instingku berkata tidak—aku tak bisa
menjalani hubungan dengannya.
Aku tak bisa menerima pengakuan cinta Ushio seperti yang
dimaksudkan. Tapi aku juga tak tega memberi jawaban tegas “tidak.”
Bayangkan saja, setelah melewati kesulitan besar,
dikelilingi prasangka dan intimidasi, kau memberanikan diri mengaku cinta—lalu
jawaban yang diterima adalah penolakan. Pasti menyakitkan sekali. Aku pasti
ingin mati kalau mengalaminya.
Aku tahu Ushio berhak atas jawaban jujur, tapi aku tak
sanggup dengan kejam menolaknya. Bukan saat dia menghadapi semuanya ini. Aku
harus memutuskan bagaimana bersikap padanya mulai sekarang—karena aku harus
berhadapan dengannya, betapapun canggungnya setelah pengakuan ini.
Bagaimanapun, aku sudah bertekad tak membiarkan rasa takut mengendalikan diriku
lagi. Itu pasti tak akan berubah.
“Ayolah… Semangat, Sakuma…” kataku sendiri sambil melangkah
keluar gerbang.
Masih saja kurasakan betapa rumitnya situasi ini: Ushio
menyukai Hoshihara, Hoshihara menyukai Ushio, aku menyukai Hoshihara, dan Ushio
menyukaiku. Segitiga cinta sempurna yang bisa digambar dengan panah muter-muter
seperti simbol daur ulang. Tak pernah kukira akan mengalami ini di dunia nyata.
Memang penuh kejutan aneh.
Saat merenungkan keadaan ini dengan pandangan agak terlepas,
aku sampai di tempat sepeda. Kuputus gembok dan menarik stang—tapi pedal sepeda
sebelah tersangkut, menjatuhkan satu sepeda. Domino jatuh ke sepeda berikutnya,
dan seterusnya…
“Ya ampun…” gumamku.
Akhirnya, delapan sepeda tumbang. Kupikir tak bisa
membiarkannya begitu saja, jadi aku berlutut dan mulai mengangkat satu per
satu. Untungnya, ada orang baik hati di ujung barisan yang menolong.
“Sudah,” kata Hoshihara, mengangkat sepeda paling jauh dari
arahku.
“Terima kasih. Aku berutang budi padamu.”
“Nggak apa-apa. Kan aku juga kebagian jatuh.”
“Oh, begitu. Maaf ya.”
Kami bekerja sama mengembalikan sepeda, dan ketika sepeda
terakhir berdiri, Hoshihara menatapku dengan mata tulus.
“Jadi, um… Boleh kita pulang bareng lagi?” tanyanya.
Kami berjalan di antara sawah, tanpa banyak bicara. Ini
ketiga kalinya kami pulang bersama, dan meski aku tak lagi tegang atau terlalu
bersemangat, rasanya tetap agak canggung. Mungkin karena Hoshihara terlihat pendiam
belakangan ini. Dia tampak sedih, kurasa karena kejadian di siang hari.
“…Ushio-chan benar-benar mengalami hari buruk, ya?” gumurnya
sambil menunduk. Kami saling bertukar pandang.
“Ya,” jawabku singkat.
“Waktu dia lari keluar kelas, kau cepat sekali
mengejarnya—benar kan?”
“Iya, entah bagaimana aku berhasil. Kami sempat bicara di
belakang gym.”
“Oh? Apa yang kau katakan?”
“Aku bilang dia sahabat terbaikku, dan aku akan berusaha
menjadi teman yang lebih baik mulai sekarang. Cuma itu.”
Tentunya aku tak menceritakan pengakuannya padaku. Bukan hal
yang pantas kusebar, apalagi pada orang yang mengaku suka pada Ushio.
“Kupikir kalian sudah sempat bicara baik-baik, ya.”
“Aku nggak akan bilang begitu. Bukan percakapan panjang.”
“…Kau tahu, aku sempat memikirkan semuanya sejak makan
siang,” katanya. Setelah jeda singkat tapi bermakna, dia melanjutkan, “Kupikir
aku harus minta maaf ke Ushio-chan. Karena jadi pasif dan hanya menonton dari
pinggir lapangan. Tapi aku putuskan, ya, aku akan berhenti peduli omongan orang
lain dan tetap jadi temannya.”
Saat dia bicara, matanya memandang jauh ke depan, menatap
jalan. Api tekad menyala di sana. Aku senang mendengarnya—tahu bahwa kami
sependapat. Kami akan berusaha semaksimal mungkin membantu Ushio keluar dari
kekacauan ini, daripada tenggelam dalam penyesalan. Aku tahu aku punya teman
dan panutan dalam diri Hoshihara—seberkas cahaya yang bisa kuandalkan.
“Bagus,” kataku. “Aku juga akan membantu.”
“Terima kasih, Kamiki-kun. Sebenarnya ada sesuatu yang ingin
kuceritakan. Boleh aku minta bantuanmu sekarang juga? Aku ingin kau menunjukkan
jalannya.”
“Menunjukkan jalannya? Ke mana? Sekarang?”
Dia mengangguk malu-malu. “Ya, aku ingin ke rumah
Ushio-chan.”
Kami berhenti di depan rumah dua lantai yang megah di sudut
perumahan Tsubakioka. Rumah itu milik Ushio. Aku merasakan keinginan kuat
Hoshihara untuk menjadi teman yang lebih baik, tapi aku tak menyangka dia ingin
langsung main ke rumahnya. Kalau dipikir-pikir, aku merasa semakin buruk karena
baru berniat berubah besok.
Kami memarkir sepeda dan mengambil tas. Aku bahkan lupa
sudah berapa lama sejak terakhir kali ke rumah Ushio. Aku mulai gugup,
mengingat pengakuan cintanya baru-baru ini. Pasti akan canggung, tapi kukira
dia tak akan mengangkat masalah itu dengan Hoshihara di sini… Meski begitu, aku
tetap khawatir.
“Oke,” kataku. “Aku akan tekan bel.”
“O-oke…!” jawab Hoshihara yang tampak lebih gugup dariku.
Wajahnya tegang dan bahunya kaku. Ke mana perasaan percaya dirinya hilang?
“Kau baik-baik saja?”
“Aha ha… Ya, cuma agak deg-degan. Belum pernah main ke rumah
cowok… Uh, bukan maksudku rumah cowok! Maksudku ‘rumah orang yang kusukai,’
gitu, oke?!”
“Iya.”
Dia benar-benar nggak perlu buru-buru jelasin seperti itu.
Aku tahu dia belum sepenuhnya meleburkan perasaan lama pada Ushio sebelum
transisi. Tapi itu normal—menyesuaikan diri tak semudah membalik saklar. Aku
menekan bel di samping pintu, dan tak sampai sepuluh detik kemudian suara
wanita terdengar lewat interkom.
“Iya, halo? Siapa itu?”
“Oh, uh, hai,” kataku. “Sakuma di sini. Aku salah satu teman
Ushio-san. Aku bersama teman sekelas lain, Hoshihara. Kami sedikit khawatir
bagaimana kabarnya, jadi mampir cek.”
“…Oke, tunggu sebentar.”
Suara terputus. Beberapa saat kemudian, pintu depan terbuka
memperlihatkan wanita berambut gelap di usia awal tiga puluhan. Tubuhnya tinggi
dan ramping, meski pakaian santainya—kaos putih longgar dan jeans—tetap
terlihat modis. Dia sangat menarik; Hoshihara sampai menghela napas kagum di
sampingku. Kupikir ini ibu tiri Ushio yang bernama Yuki.
“Maaf lama,” sapanya. “Kau pasti Sakuma-kun, ya?”
“Oh, iya. Itu aku,” jawabku, penasaran bagaimana dia tahu
namaku padahal baru pertama ketemu. Mungkin Ushio baru bilang sebentar lalu.
Dia tersenyum ramah. “Iya, aku lihat album foto lama. Kau
dan Ushio sudah kenal lama, ya? Makasih sudah datang mengecek.”
“Tidak, tidak. Sama sekali tidak perlu berterima kasih,”
jawabku sambil menoleh. Memang kami khawatir, tapi rasanya aneh menerima ucapan
terima kasih untuk itu.
“Nah, silakan masuk.”
Hoshihara dan aku membungkuk sebelum melangkah ke ruang
antar. Aroma khas rumah orang lain langsung menyeruak—campuran jejak keberadaan
Ushio dan keluarganya di dinding-dinding ini. Hampir terasa nostalgia,
mengingat sering main ke sini waktu kecil. Aku melepas sepatu dan hendak naik
ke lantai kayu, tapi tiba-tiba berhenti.
“Oh, sebelum masuk—ada yang ingin kukerjakan kalian, kalau
tak keberatan,” kata Yuki. Hoshihara dan aku saling pandang. Tanpa banyak
alasan menolak, kami mengangguk, dan Yuki tersenyum canggung. “Ushio… sedang
dibully di sekolah, kan?”
Perutku tiba-tiba mual. Bagaimana kujawab? Haruskah aku
jujur, atau bilang tak ada apa-apa? Kupikir dia berharap opsi kedua, tapi aku
tak nyaman berbohong. Dia pasti sudah menduga, jadi kemungkinan ketahuan
tinggi.
Sebelum aku berpikir, Hoshihara mengambil alih dan menjawab.
“Ushio-chan… memang pernah diintimidasi oleh salah satu teman sekelas, iya.”
Dia memilih kejujuran, dan aku merasa agak salah membiarkannya menjawab. Tapi
sekarang rahasianya terkuak, aku mengangguk menguatkan.
Yuki merosotkan bahu dan menggaruk kepala canggung.
“Begitu…” gumamnya panjang. “Ya, kupikir begitu melihat situasinya. Aduh, ini
memang berat. Apalagi kalau masih anak-anak.”
“J-jangan khawatir!” seru Hoshihara. “Kami tak akan biarkan
itu terjadi lagi! Kamiki-kun dan aku sudah bertekad membela Ushio-chan mulai
sekarang!”
“Begitu ya?”
Kami berdua mengangguk seperti boneka. Yuki menyilangkan
tangan dan menatap kami sebelum tersenyum tipis.
“Oke, kurasa aku serahkan pada kalian dulu. Jaga dia ya.”
“Kami akan,” jawab kami serentak.
“Nah, silakan masuk,” kata Yuki, dan kami melangkah ke
dalam. “Ngomong-ngomong, Sakuma-kun—ingat, pernah ke rumah ini sebelumnya?”
“Aduh, iya. Lumayan sering waktu kecil.”
“Kupikir kau ingat di mana kamar Ushio?”
“Uhhh… Naik tangga, pintu pertama, bukan?”
“Iya, benar. Kau mungkin lebih hafal rumah ini daripada
aku.”
“Oh, tidak…”
Ini salah satu obrolan canggung dengan orangtua teman yang
bikin bingung. Aku perhatikan Hoshihara melirik aku sepanjang percakapan. Ada
sedikit cemburu di matanya, tapi apa mungkin dia benar-benar iri aku sering
main ke sini… ya?
“Maaf menahan kalian,” kata Yuki. “Silakan ke atas.”
Kami membungkuk lagi, lalu menaiki tangga. Pintu kamar Ushio
tepat di depan. Sesaat terasa seperti flashback ke akhir pekan acak saat SD.
Kalau Hoshihara tak ikut, mungkin aku ingin diam sedikit menikmati nostalgia
itu.
Aku mengetuk pintu. Ushio menjawab dari dalam, lalu aku
membukanya.
“…Hai, kalian,” ucapnya dengan lesu dari tempat dia duduk di atas ranjang, mengenakan hoodie dan celana pendek olahraga. Dia menatap kami dengan tatapan yang menunjukkan ketidaksenangan atau kejengkelan karena kedatangan kami tanpa pemberitahuan. Sekilas, aku menangkap pandangan yang sama seperti yang dia berikan padaku setelah pengakuannya di makan siang tadi, dan itu nyaris membuatku ciut nyali—tapi aku menahan semua perasaan itu dan tetap melangkah masuk ke kamar.
“Halo, kami masuk, ya,” kataku.
“M-maaf mengganggu,” tambah
Hoshihara dengan gugup.
Kamar Ushio tak banyak berubah
dari yang kuingat. Ruangannya rapi, dengan rak buku besar berisi berbagai manga
shonen populer. Punggung tiap jilid masih sempurna, menandakan dia tak sering
membacanya ulang, atau mungkin dia menangani buku-bukunya dengan sangat
hati-hati.
“Silakan duduk di mana saja,”
ujar Ushio. Aku meletakkan tas di samping ranjangnya dan duduk di lantai sesuai
instruksi. Hoshihara duduk di sebelahku. “Kalian ngobrol apa di bawah? Aku
dengar bel pintu, tapi kok kalian lama naik ke sini.”
“Iya,” jawabku. “Kami, uh…
ngobrol sedikit sama Yuki-san, lalu sama Misao-chan.”
“Oh, begitu. Jadi kalian sempat
ngobrol sama Misao, ya…?”
Ushio tak lagi bicara, menatap
kosong ke arah yang entah mana. Obrolan mati. Aku memberi isyarat dengan mata
ke Hoshihara, memintanya menyampaikan maksud kedatangan kami. Dia menelan
ludah, lalu menatap Ushio.
“Eh, hai, Ushio-chan… Aku
sebenarnya mau minta maaf.”
“Minta maaf? Untuk apa?”
“Aku… merasa bersalah karena
tidak melakukan apa-apa waktu makan siang tadi. Aku tahu itu pasti sangat sulit
buatmu, dan aku cuma duduk di situ melihat semuanya… Tapi mulai sekarang, aku
tidak akan diam saja dan mentolerir hal seperti itu. Aku janji. Itu saja
maksudku datang kemari—hanya mau kau tahu.”
Ushio mengangguk pelan dalam
diam, sambil mendengarkan sepatah kata pun dari Hoshihara. Ekspresinya sulit
kubaca—apakah dia tersentuh atau sekadar pura-pura mendengarkan.
“Kau sangat baik, Natsuki,”
ujar Ushio datar, senyum lembutnya tampak seolah apa yang diucapkan tak ada
hubungannya dengan dirinya.
“Aku benar-benar merasa
kesabaranku diuji di sekolah hari ini… Jujur saja, bikin aku rasanya tidak mau
kembali lagi.”
“Eh—?!” Hoshihara terkejut.
“Maksudku, mungkin aku
sebaiknya pindah sekolah saja. Mulai hidup baru di tempat di mana tak ada yang
kenal aku atau latar belakangku, dan aku bisa hidup sebagai cewek tanpa
dihakimi. Akhir-akhir ini kupikir itu mungkin opsi yang menarik.”
“T-tidak, kau tidak bisa!”
“Oh, iya? Kenapa tidak?”
Terdengar gerakan seprai saat
Ushio melompat turun dari ranjang dan duduk tepat di samping Hoshihara. Dia
melirik dari balik bulu mata ke mata Hoshihara; bahu mereka hampir bersentuhan.
Sebuah senyum malas terlukis di bibirnya—dan entah kenapa, sikapnya tampak
hampir menggoda saat dia mendekat seperti itu, sampai aku berpikir apakah Ushio
berniat menciumnya.
Hoshihara (wajar saja) membeku
dan memerah hingga telinga. Tegangan terasa hingga ke tempatku duduk, membuatku
sedikit berkeringat—atau lebih tepatnya sedikit merinding. Jelas aku tahu dia
tak akan benar-benar melakukan apa-apa, tapi menonton itu tetap bikin gugup.
Bagaimanapun, aku tak bisa campur tangan, jadi aku hanya duduk mematung.
Tiba-tiba, tanpa diduga, Ushio
memalingkan pandangannya dari Hoshihara dan menatapku, lalu terlihat kecewa.
Dia berdiri dan duduk di sisi meja rendah di tengah kamar, menghadap kami.
“Maaf, Natsuki. Aku cuma iseng.
Aku tidak akan pindah, tenang saja. Dan aku juga tidak akan berhenti ke
sekolah.”
“O-o-o-ke, bagus, ya!”
Hoshihara tergagap. “Syukurlah… Kau sempat membuatku panik sebentar tadi. Ha
ha…”
Aku juga menghela napas lega.
Semoga Ushio tidak lagi “bercanda” seperti itu—aku benar-benar tegang sebentar
tadi.
Terdengar ketukan pintu, dan
Ushio memberi izin. Masuklah Yuki membawa nampan hidangan.
“Silakan kalau mau ambil,”
katanya, meletakkan nampan cream puff dan tiga gelas jus apel di atas meja. Aku
teringat bahwa di rumahku, tamu tak pernah diberi kue-kue Barat semacam itu.
Begitu Yuki keluar, Ushio langsung mengambil cream puff dan memakannya.
“Kalian juga silakan,” ujarnya.
“Baiklah, kalau kau
mengundang…” kataku.
“A-aku ambil, ya!” kata
Hoshihara.
Lalu kami bertiga duduk makan
cream puff dalam hening. Aku tak tahu harus berkata apa. Momen itu sangat aneh.
Ushio yang pertama kali menghabiskan cream puff-nya; saat dia bangkit membuang
kertas pembungkus ke tempat sampah, aku melihat sesuatu.
“Hai, Ushio,” kataku. “Krimnya
nempel di hidungmu.”
“Hah?” Dia meraih wajahnya.
Begitu krim terkonfirmasi, dia buru-buru mencari tisu dan mengelapnya. Aku tak
bisa menahan tawa melihat kegelisahannya.
“Biasa saja, kan, makannya,”
godaku.
“O-oh, sudahlah. Itu bisa
terjadi pada siapa saja.”
Dia menatapku sinis,
merengek—sedikit malu di pipinya. Biasanya dia sangat hati-hati menghindari hal
“tidak keren” sekecil itu. Mungkin dia menurunkan kewaspadaan di kamarnya
sendiri. Sepertinya ini pertama kalinya aku melihatnya malu karena kesalahan
kecil sejak SD.
Aku memasukkan sisa cream puff
ke mulut dan mengunyah. Hoshihara masih memegang cream puff, tapi matanya
berkeliling melihat isi kamar Ushio.
“Kamarmu sepi barang, ya?”
katanya. Aku juga sering berpikir begitu—apalagi sekarang Ushio sudah
remaja—meski aku tak terlalu memerhatikannya. Mungkin memang ada alasannya.
“Iya, sering dibilang begitu,”
jawab Ushio, terkekeh canggung sambil menggaruk pipi. “Aku tidak terlalu
materialistis, bahkan waktu kecil.”
“Oh, wow. Menarik. Aku malah
selalu mikirin mau beli apa lagi, jadi kamarku penuh barang terus. Sampai ibu
teriak-teriak suruh bersihin dan buang sebagian.”
“Ha ha. Kayaknya itu memang
gaya kamu.”
Memang begitu, pikirku sambil
tersenyum membayangkan kamar Hoshihara yang berantakan penuh boneka maskot dan
bantal. Tiba-tiba Hoshihara terkejut dan berlari ke rak buku. Kutebak dia
melihat sesuatu menarik.
“Tunggu. Ini buku kenangan
SD-mu, kan?” tanyanya, menunjuk jilid merah di rak bawah. Benar, itu buku
kenangan kelulusan kami di SD West Tsubakioka.
“Iya,” jawab Ushio. “Mau
lihat?”
“Mau banget!” Hoshihara segera
menariknya, meletakkannya di meja, lalu membolak-balik halaman. “Lihat…
Tsukinoki, Tsukinoki… Aha! Ini dia! Ya ampun, dulu kau imut banget!”
Dia girang. Aku menengok
halaman foto murid per murid, diurut alfabetis, dan segera menemukan wajah
Ushio yang pirang. Itu foto dia waktu kami kelas enam—sejujurnya dia sudah
terlihat agak feminin sejak itu. Matanya besar dan rambutnya lebih panjang
daripada cowok SD biasa. Dia hampir tak pernah memotongnya sebentar.
“Kapan pertama kali kau merasa
sebenarnya kau ditakdirkan jadi cewek?” tanyaku, menanyakan hal yang terlintas
di pikiran.
“Susah dijawab,” kata Ushio
sambil menggeleng. “Kurasa perasaan itu selalu ada, setidaknya sejauh yang
kuingat, jadi aku tak yakin ada momen khusus.”
“Oh. Menarik.”
“Tapi kalau mau tahu kapan
pertama sadar ada sesuatu yang berbeda dariku dibanding teman lain, mungkin
waktu kelas tiga.”
Masuk akal. Waktu itu sekolah
mulai memisah anak per gender untuk aktivitas, ganti baju olahraga, dan
sebagainya. Ushio meneguk jus apelnya dan menatap langit-langit sejenak.
“Aku ingat waktu kelas kita mau
pentas ‘Cinderella’ di festival seni sekolah, dan kita putuskan peran: Pangeran
Tampan, Cinderella, peri ibu mertua, saudara tiri jahat… Entah kenapa, aku
pengen main Cinderella. Waktu guru tanya siapa yang mau, aku angkat tangan.”
Aku mengangguk diam. Hoshihara
juga meletakkan buku kenangan dan mendengarkan saksama.
“Guru tertawa dan bilang,
‘Maksudmu Pangeran Tampan, Tsukinoki-kun?’ Terus kelas tertawa. Aku ikut ketawa
biar ikut suasana, kupikir. Tapi itu momen menyadarkanku. ‘Oh, ya. Aneh juga
kalau aku mau main putri.’ Sejak itu aku benar-benar berusaha bertindak lebih
seperti ‘anak laki,’ biar tak ditertawakan lagi dan agar ibuku tak khawatir ada
yang salah.”
Ibu kandung Ushio sudah sakit
keras sejak kami kecil. Aku pernah menemaninya beberapa kali di rumah sakit.
Kami ngobrol tentang hal-hal di sekolah—obrolan anak-anak—dan dia mendengarkan
dengan senyum ibu yang hangat. Rasanya Ushio menyembunyikan keraguannya dan
berperan jadi anak laki keras demi tak menambah beban ibunya. Aku tak bisa
membayangkan kegelisahan batin yang dia rasakan.
“Wah… Sepertinya masa kecilmu
sulit juga, ya,” bisik Hoshihara.
“Oh, sebenarnya tidak terlalu
buruk,” kata Ushio sambil tersenyum menenangkan. “Setidaknya aku merasa tidak
menderita. Aku tak keberatan digrup dengan cowok, dan hobi serta seleraku tak
selalu feminin, walau aku selalu ingin jadi cewek. Bukankah banyak tomboy dan
cewek yang lebih suka celana daripada rok?”
Ushio terdiam, wajahnya
meredup.
“Tapi aku tidak suka harus
ganti baju sama cowok atau ke kamar kecil cowok… Apalagi budaya ‘pipis di
urinal bareng-bareng.’”
Aku terkejut. Dahulu aku
beberapa kali mengajak Ushio pipis bareng di SD. Entah dia ingat atau tidak…
tapi aku merasa harus minta maaf.
“Eh… maaf soal itu,” kataku.
“Oh, kau ingat,” kata Ushio.
“Tidak apa-apa. Aku tidak dendam sama kamu atau siapa pun. Itu cuma hal kecil,
kau tak mungkin tahu.”
Ternyata dia ingat. Syukurlah
aku minta maaf. Aku menghela nafas lega, lalu teringat satu pertanyaan lain
yang mengganjal.
“Hai, jadi, Ushio—” aku mulai,
tapi kemudian tersadar—pertanyaan itu mungkin cukup canggung. Aku menyesal
tidak memikirkannya dulu sebelum membuka mulut.
“Iya? Ada apa?” tanyanya.
“Er, maaf. Tidak penting.”
“Ayo, teruskan. Nanti aku
penasaran.”
Aku membuat lubang sendiri. Aku
merasa canggung kalau menolak, jadi kuhapalkan rasa malu dan berkata:
“Um, aku cuma penasaran toilet
mana yang kau pakai di sekolah belakangan ini…”
Aku ingat salah satu teman
menanyakan ini detik pertama Ushio mengaku cewek—dan dia sangat terganggu.
Sekarang dia masih terlihat tak nyaman membahasnya. Tapi tak seperti dulu, dia
sepertinya mau jawab.
“Aku tidak pakai.”
“Hah?!” Hoshihara dan aku
serempak terkejut.
“T-tunggu,” kata Hoshihara,
menaruh tangan di lantai dan mencondong ke Ushio. “Jadi kau tahan pipis
seharian?”
“…Iya, hampir selalu,” kata
Ushio. “Guru bilang aku boleh pakai toilet guru kalau mau, tapi rasanya aneh…”
“Kau tidak boleh begitu! Tidak
sehat!”
“Iya, kumengerti… Tapi aku
sebenarnya jarang pipis di sekolah, jadi tidak terlalu repot.”
“Tapi…” Hoshihara mengernyit
khawatir.
Akupun cemas. Memang tubuh bisa
dilatih menahan pipis, tapi menahan terlalu lama tidak baik—dan semua orang
kadang sangat perlu. Ini masalah serius. Tapi aku tak nyaman menasihati soal
toilet, karena itu urusan pribadi. Saat aku memikirkan cara membantu tanpa
terkesan menghakimi, Hoshihara ambil inisiatif.
“Oke, bagaimana kalau ini?”
katanya. “Kalau kau perlu ke toilet, aku temani.”
Aku seperti melihat tanda tanya
raksasa di kepalaku. Meski aku yakin Hoshihara tidak maksud masuk toilet bersama,
tawarannya tetap berani, mengingat ketidaknyamanan Ushio. Namun Ushio tak
kaget.
“Tidak perlu. Aku tidak perlu
teman seperti anak kecil yang nonton film horor…” katanya, sedikit tersinggung
tapi tampak terhibur. Hoshihara menangkap itu dan menunduk, menyesali sarannya.
“Tapi terima kasih, sungguh. Aku akan coba tidak menahan pipis kalau bisa.”
Ushio tersenyum lembut, dan
Hoshihara menatap balik dengan cerah.
“Oke, bagus! Rencana bagus!”
katanya.
Well, tampaknya beres… kan? Aku
tahu tak sesederhana itu. Namun jika obrolan ini membuat Ushio merasa lebih
nyaman di sekolah, aku senang membahasnya. Aku menengguk sisa jus apel dan
menatap jam di dinding. Sudah lewat lima sore.
“Kita harus segera pulang,”
saranku.
“Iya… Kamu benar.” Hoshihara
terdengar sedih saat bangkit dan mengembalikan buku kenangan ke rak.
“Aku akan turun sama kamu,”
ujar Ushio.
Hoshihara dan aku berdiri,
mengambil barang, dan turun ke pintu masuk untuk memakai sepatu. Sebelum pergi,
Hoshihara menoleh, menatap Ushio dengan mata penuh harap.
“Hari besok ke sekolah, ya? Aku
mau kita bertiga pulang bareng lagi.”
Ushio tersenyum. “Oke,” ucapnya
pelan sambil mengangguk.
Aku pamit dan berterima kasih
atas keramahan, lalu keluar pintu depan bersama Hoshihara. Di luar masih cerah
terik, matahari menyengat seperti anak manja ingin diperhatikan. Kami
menegakkan penyangga sepeda dan melanjutkan pulang.
“Phew… Senang kita melakukan
itu,” kata Hoshihara, menghela napas puas.
“Iya, setuju. Dia memang agak
murung, tapi sepertinya dia akan kembali besok. Bagus.”
“Iya. Mulai besok jadi teman
yang lebih baik. Kalau Arisa coba-coba lagi, aku akan menegurnya, tunggu saja!”
Aku tersenyum melihat
semangatnya, meski menyebut nama itu membuat perutku mual.
“Benar, Nishizono… Andai saja
ada yang bisa kita lakukan padanya.”
“Bukan main… Dia kan raja
antek-antek yang bikin Ushio-chan susah. Kalau kita bisa menghentikannya, pasti
semua teman lain ikut berhenti. Tapi dia keras kepala sekali.”
“Keras. Itu cocok untuknya.
Sulit menembus sikapnya, apalagi dia tak segan berkata pedas sesuai
keyakinannya. Aku ragu bisa menenangkannya.”
“Entah apa kelemahannya,”
gumamku.
“Arisa? Mmm… Dia sepertinya
nggak tahan makanan pedas.”
“Terus bagaimana itu membantu?
Aku bicara rahasia—cuci tangan kotor, gitu.”
“Hm, tunggu…” Wajah Hoshihara
menegang. “Well… sepertinya dia juga naksir Ushio-chan.”
Meskipun jeda panjang, fakta
itu mengejutkanku. Ini pertama kali kudengar.
“Kupikir itu alasan dia
nge-bully Ushio-chan kejam. Seakan mau menakut-nakuti dia balik jadi cowok…”
Aku hampir berkata pasti dia
tak akan sebodoh itu, tapi tak bisa menutup kemungkinan. Aku memahami rasa
kaget seseorang saat naksir orang lain yang tiba-tiba berubah gender. Banyak
yang mungkin langsung drop perasaan, tapi ada juga yang susah melepas, hingga
berusaha membujuk. Tampaknya Nishizono memilih membully.
Meski kutolak metodenya, aku
memahami kenapa dia kesulitan terima transisi Ushio. Tapi dia keterlaluan, dan
sikapnya tak bisa dibenarkan.
“Iya, itu bisa dibilang
kelemahan,” kataku. “Tapi aku tak yakin mau memanfaatkan itu.”
“Aku juga,” kata Hoshihara.
“Aku bahkan nggak mau menyebutnya…”
Tak peduli seburuk apa
Nishizono, aku tak enak memanfaatkan perasaan orang untuk blackmail. Untuk
sekarang, kubiarkan info itu tersimpan.
Kami tiba di persimpangan
berbentuk T.
“Oke, ini jalanku,” kataku.
“Oke,” jawab Hoshihara. “Sampai
besok.”
“Iya, sampai besok.”
Aku menunggang sepeda dan
pergi. Namun baru sepuluh meter, ponselku bergetar. Pesan baru. Aku berhenti,
mengeluarkan ponsel; sejak bertukar kontak dengan Hoshihara, aku tak sadar jadi
sering mengecek pesan langsung. Kupandangi layar.
“Hai, maaf. Ada yang mau
kukatakan. Bisa kembali sebentar?”
Dari Ushio.
Sejujurnya, aku agak was-was
kembali sendiri ke rumah Ushio. Entah apa yang mau diceritakannya—mungkin hal
soal pengakuannya di makan siang—dan aku belum menemukan jawaban tepat. Aku tak
tahu apa yang akan kulakukan kalau dia minta jawaban di situ juga; pikirannya
saja bikin perutku bergemuruh. Tapi aku sudah baca pesannya, jadi tak bisa
diabaikan.
Aku membalas, “Siap,” dan balik
arah. Kayuh perlahan sambil memikirkan cara menunda jawaban—tapi tak menemukan
alasan. Tak lama, aku sudah tiba kembali di depan rumah Ushio, benar-benar tak
siap untuk pembicaraan selanjutnya.
“Apa aku lakukan?” gumamku saat
turun, mengambil tas, dan melangkah ke pintu. Saat aku ragu menekan bel, pintu
depan terbuka sendiri, dan Yuki keluar membawa tas belanja. Kulihat dia hendak
pergi.
“Tunggu, Sakuma-kun?” katanya.
“Ada apa?”
“Iya, halo lagi. Tidak apa-apa.
Ushio baru saja menelepon kembali…”
“Oh, begitu. Dia masih di
kamar, silakan ke atas.”
Pintu terbuka lebar. Tak ada
jalan kembali. Kupundukkan kepala pada Yuki dan masuk. Setelah melepas sepatu,
aku naik tangga, menarik napas panjang di depan pintu kamar Ushio, dan
mengetuk. Mendengar suara “masuk,” aku memutar kenop dan masuk.
“Maaf tiba-tiba memanggilmu,”
katanya dari tempat di ranjang yang sama. Dia tampak tenang, tanpa ekspresi
khusus.
“Tidak apa-apa. Jadi… apa yang
mau kau katakan?” tanyaku, mencoba tenang meski keringat dingin mengalir dan
jantung berdebar. Ushio diam, menatapku. Lalu dia terkekeh pelan, mengendurkan
tegangan.
“Kau mau duduk?” sarannya.
“Hah? Oh, iya. Baiklah.”
“Kau terlihat gugup, Sakuma,”
kata Ushio, terdengar heran saat aku meletakkan tas dan berlutut di karpet.
“Tenang saja. Aku tak akan bicara sesuatu yang membuatmu lebih susah.”
“K-kau tidak akan?”
Menyadari duduk berlutut
terlalu formal, aku mengendurkan posisi. Ushio bangkit, berjalan ke mejanya,
dan membuka laci. Dengan punggung ke arahku, dia berkata:
“Aku sudah baca novelnya.”
“Hah?”
“Yang kau tulis waktu SMP.”
Butuh beberapa detik untuk
memproses itu dan teringat aku pernah meminjamkannya naskah lama. Pikiranku
masih kacau soal pengakuannya, jadi aku tak memikirkan ini. Ushio menarik
tumpukan kertas naskah dan membawakannya. Aku menerima dengan kedua tangan, dan
dia duduk di kursi putar.
“Aku cuma mau kasih kesan
umum,” katanya sambil menggaruk pipi.
“Dan itu sebabnya kau
memanggilku?”
Dia mengangguk, dan gelombang
lega menyapu tubuhku. Aku tak tahu harus bagaimana kalau dia mau membahas
perasaannya. Tapi lega itu cepat memudar, digantikan rasa gemetar—aku kenal
perasaan ini. Itu antisipasi. Ushio sudah membaca novelnya dan mau memberi
tanggapan. Ini pertama kalinya seseorang yang kukenal mau menilai tulisanku.
Mungkin dia tak suka, tapi aku tetap bersemangat menunggu ulasannya.
“Oh, jadi kau benar-benar
membacanya?” kataku, jantung berdegup kencang. “Jadi, uh… bagaimana?”
“Nah, aku tak tahu harus mulai
dari mana…” dia mulai, menunduk—mungkin canggung. “Untuk pembuka, aku terkesan
kau bisa menulis sebanyak itu. Menurutku, tulisanku paling panjang hanya lima
atau enam halaman. Tapi soal ceritanya, ya…” Dia melirik kepadaku sebelum
melanjutkan. “Kurasa ceritanya nggak cocok buatku…”
“Baik, jadi bukan seleramu,
ya…” jawabku, mencoba menahan wajah berkerut. “Boleh tanya apa yang nggak
klop?”
“…Pertama, aku nggak paham
mekanisme dunia hancur kalau teman masa kecil matinya. Kupikir penjelasan soal
mekanika kuantum atau apa itu kurang nendang… Mungkin itu cuma kurang pahamku.
Juga, aku lihat kau memperkenalkan banyak karakter tambahan sekaligus di tengah
cerita, jadi agak membingungkan. Sulit mengingat enam karakter baru tanpa
bertahap memperkenalnya—terlebih beberapa hanya muncul sekali lalu hilang. Oh
iya, ada satu hal kecil lagi…”
Ushio melanjutkan beberapa
menit kemudian, merinci setiap kelemahan prosa, inkonsistensi latar, dan
karakterisasi yang bisa dia ingat. Aku berhenti mendengarkan—atau lebih
tepatnya tak tahan mendengar kritiknya satu per satu. Memang ceritaku amatir,
tapi mendengar orang terdekat dengan presisi bedah menunjuk cacatnya lebih
menyakitkan daripada yang pernah kubayangkan. Terburuknya, aku setuju dengan
semua kritiknya, jadi tak bisa membela diri. Kupikir menyesal telah memintanya
menjelaskan apa yang tak dia suka.
“…oke, itu saja,” ujarnya
mengakhiri. “Eh, Sakuma? Kau okay?”
“Hah?” kataku. “Oh, iya… Maaf,
aku merasa agak deflated…”
“Hah—?!” Ushio terkejut panik.
“Maaf! Aku kelewatan, kan? Tapi aku bukan kritikus profesional, jadi anggap
saja ini cuma masukan.”
“Nggak apa-apa. Aku juga nggak
mau kau bohong bilang kau suka cuma buat menenangkanku… Terima kasih sudah
jujur. Aku menghargainya.”
Sebenarnya, hatiku terasa
remuk, tapi kuketahui tak ada baiknya mengaku tersakiti. Ushio menatap naskah
di pangkuanku, tampak ingin berkata lagi tapi tak tahu apa. Mungkin dia mencari
kenangan satu bagian cerita yang dia suka untuk ku puji dan tak menemukan.
Keheningan canggung memenuhi
ruangan. Aku berpikir mungkin lebih baik kalau dia menegasku soal pengakuannya
tadi. Aku perlu pulang secepatnya sebelum semakin canggung. Aku ambil
naskah—maaf, novel amatir—dan memasukkannya ke tas.
Tiba-tiba, jariku tertusuk
sakit.
“Aduh!”
Aku menarik tangan untuk
memeriksa; ujung jariku berdarah pelan. Sepertinya aku kena sobekan kertas yang
lumayan dalam.
“Ada apa?” tanya Ushio,
mencondong menatap.
“Nggak apa-apa, cuma robek kena
kertas,” kataku. “Kau ada tisu atau apa untuk mengelapnya?”
“Tunggu sebentar,” katanya,
bangkit dan mengeluarkan kotak plester dari meja. Dia mengambil satu dan memberikannya.
“Ini, pakai ini.”
“Oh, bagus… Makasih.”
Aku mengusap darah pakai tisu,
lalu mengambil plester. Kubuka kemasannya dan mencoba menempelkannya di bawah
jariku dengan tangan satunya, tapi susah menyelaraskannya dengan hanya dua
jari. Mungkin Ushio melihatku kesulitan, karena dia merebut plester dan
menyuruhku diam. Dia duduk di sampingku dan dengan lembut membalut jariku
dengan plester.
"Oke, sudah selesai,"
katanya, mengangguk puas dengan hasil kerjanya yang rapi.
"Wah," kataku.
"Tadi itu agak feminin." Kata-kata itu keluar begitu saja.
Mata Ushio membelalak.
Baru saat itulah aku sadar mungkin
aku telah mengatakan sesuatu yang menyinggung, dan aku mulai merasa cemas.
Mungkin seharusnya aku tidak menambahkan kata "agak" tadi... Ya,
pasti itu masalahnya. Maksudku, itu menyiratkan bahwa aku tidak menganggapnya
feminin kebanyakan waktu, kalau tidak, mengapa aku merasa perlu menunjukkannya?
Dan apa hubungannya cara membalut luka dengan menjadi laki-laki atau
perempuan?
"Ehm, maaf, aku hanya,
eh—"
Saat aku berusaha mencari alasan,
aku melihat perubahan sikap Ushio. Dia menunduk sedikit ke samping, menggigit
bibirnya dengan lembut. Ekspresinya terlihat penuh kerinduan. Daun telinganya
memerah samar, dan mata abu-abunya bergetar. Bagaimana aku harus menafsirkan
reaksi ini?
Sepertinya dia berusaha menahan
diri untuk tidak tersenyum, menangis, atau marah—tapi yang mana dari ketiganya,
aku tidak tahu. Aku bisa saja bertanya apa masalahnya dan langsung
mengetahuinya, tapi jika dia sedang kesal padaku, aku tidak ingin
memancingnya.
Saat aku duduk kebingungan, tidak
bisa memahami emosinya yang sebenarnya, Ushio mengangkat tangan untuk memainkan
poni rambutnya. "Um... T-terima kasih?"
Awalnya aku bertanya-tanya mengapa
dia mengatakannya dengan nada naik, tapi tidak lama kemudian aku menyadari apa
yang kudengar: dia merasa malu karena aku menyebutnya feminin. Untuk sesaat,
aku lega mengetahui bahwa dia tidak marah padaku, tapi kemudian aku merasa aneh
dan bingung. Berbagai emosi bertentangan berputar di kepalaku, meninggalkan
perasaan yang sangat aneh—tidak sepenuhnya menyenangkan maupun tidak
menyenangkan. Apakah aku senang karena dia berterima kasih atas komentarku?
Apakah aku terkejut dengan reaksinya yang tak terduga? Ataukah aku sedikit
bingung melihat sisi feminin Ushio yang semakin terlihat? Mungkin ketiganya berperan.
Tapi emosi terbesar yang kurasakan
bukanlah salah satu dari itu—melainkan sesuatu yang tidak bisa kujelaskan.
Rasanya seperti kekosongan, seperti angin dingin yang menerobos lubang besar di
dadaku. Apakah aku kecewa? Apakah aku merasa putus asa? Dan jika ya, tentang
apa?
Tiba-tiba, terdengar suara pintu
depan dibuka dari lantai bawah. Sepertinya Yuki sudah pulang.
"Aku harus pergi,"
kataku, lalu menggeser naskahku ke dalam tas—kali ini tanpa melukai diriku
sendiri—sebelum berdiri.
"Hm? Oh... Ya, oke,"
kata Ushio, juga bangkit dari lantai. Saat pandangan kami bertemu, dia sudah
kembali ke sikap tenangnya yang biasa. Tapi saat aku mengambil tas dan hendak
pergi, dia memanggilku untuk menunggu—dan ketika aku menoleh, dia kembali terlihat
cemas dan tidak percaya diri. "Kalau kau menulis novel lagi, kuharap kau
mau memperlihatkannya padaku juga. Aku tidak peduli genrenya."
"Ya, tentu," jawabku.
"Tidak tahu apakah aku akan ingin menulis lagi... tapi jika iya, aku akan
berusaha dapat penilaian lebih positif kali ini, hehe."
"Sudah kubilang aku minta
maaf!" Ushio protes, sikap tenangnya runtuh oleh candaanku.
Kami mengucapkan selamat tinggal,
dan aku turun tangga. Setelah memakai sepatu dan keluar, udara panas lembap
sore musim panas langsung menyergap. Langit barat dihiasi gradien indah saat
matahari terbenam. Aku naik sepeda dan mengayuh pulang.
Sambil menembus angin, aku
mengingat kembali perasaan membingungkan tadi di kamar Ushio dan mencoba
memahaminya. Dan kali ini, aku hampir kecewa betapa cepatnya aku menyadari
penyebab kegelisahan itu.
Ada pikiran yang membuatku kecewa,
dan merasa bersalah karenanya:
*Andai saja Ushio terlahir sebagai
perempuan, semuanya akan jauh lebih sederhana.*
Dia menarik, punya kepribadian
baik, teman lama yang menyukaiku. Dan jika dia bukan laki-laki secara biologis,
mungkin saja aku akan jatuh cinta padanya saat dia membalut jariku tadi. Tapi
meski mendukung transisinya, aku tidak bisa sepenuhnya menerima perbedaan
antara kelahirannya dan identitasnya. Dan itu menyedihkan.
Yang bisa kulakukan hanya meratapi
kenyataan pahit ini. Aku membenci kekuatan ilahi yang menempatkan Ushio dalam
tubuh yang salah. Andai jenis kelamin dan gendernya selaras, dia tidak perlu
berjuang keras menerima dirinya. Atau lebih buruk—berusaha meyakinkan diri
bahwa ini penyakit atau kekurangan mental yang harus "dilepaskan".
Andai dia terlahir perempuan,
mungkin aku bahkan... Ah, tidak ada gunanya memikirkannya. Aku mengangkat tubuh
dari sadel sepeda dan mengayuh lebih kencang. Sepenuh tenaga.
※※※
Malam itu, aku bermimpi. Aku
terkena flu, dan Ushio datang merawatku. Dalam mimpi ini, Ushio adalah
perempuan biasa—dia memiliki aroma lebih feminin dan lekuk dada di balik
bajunya. Aku merasa senang mengetahui dia benar-benar mengkhawatirkanku.
"Hei, Sakuma," katanya,
duduk di tempat tidurku. Senyum manis muncul di wajahnya—jenis senyum genit
yang hanya bisa dibuat perempuan ketika tahu mangsanya sudah di depan mata.
"Lihat aku. Benar-benar lihat aku."
Dia mulai melepas
seragamnya—melemparkan blus dan bra ke lantai—mempertontonkan tubuh
telanjangnya yang pucat. Tangannya yang dingin dan ramping menggenggam lenganku
dan menuntun tanganku menyentuh payudaranya. Ada kelembutan, kehangatan, dan
detak jantung di sana—yang justru membuat jantungku berdegup kencang. Saat dia
menoleh seolah meminta pendapatku, helai rambut yang menutupi telinganya
terlepas dan terjuntai. Lalu aku terbangun.
Aku hanya bisa menghela napas
panjang. Aku tidak tahu apakah aku lega atau kecewa dalam mimpi itu, tapi
jantungku masih berdebar kencang setelah terbangun. Ada yang salah denganku;
aku tidak pernah bermimpi seperti itu.
Aku bangkit dari kasur dan duduk.
Melalui celah tirai jendela, cahaya pagi mulai menyusup. Kuangkat tangan kanan
untuk menahan silau. Pembalut yang Ushio pasang di jariku sudah lepas semalam.
Lukanya masih sedikit perih jika ditekan, tapi sudah menutup dengan baik.
Kekuatan masa muda, kurasa.
Aku beranjak dari tempat tidur.
Saatnya bersiap ke sekolah.
Bayangan musim panas semakin
nyata. Sepanjang perjalanan, aku menggerutu pada matahari pagi yang semakin
terik, tapi langsung memaafkannya begitu masuk koridor ber-AC SMA Tsubakioka.
Setelah ganti sepatu, aku menyusuri keramaian pagi dan menuju Kelas 2-A.
Sesampainya di sana, hal pertama
yang kulakukan adalah melirik meja Ushio. Dia sudah ada di sana dengan buku dan
catatan bahasa Inggris terbuka, sambil asyik memainkan ponsel. Di sampingnya,
Nishizono sedang mengobrol dengan kelompoknya seperti biasa. Hoshihara belum
datang. Aku mengumpulkan keberanian dan berjalan ke meja Ushio. Begitu dia
menyadari kehadiranku, kuucapkan selamat pagi dengan suara paling natural yang
bisa kukeluarkan, cukup jelas untuk didengar seluruh kelas.
Beberapa teman sekelas (termasuk
Nishizono) menoleh. Suasana kelas tidak banyak berubah, tapi aku merasa mereka
menangkap maksudku untuk bersikap bersahabat dengan Ushio, dan itu cukup untuk
saat ini.
Ushio sendiri melonggarkan
bibirnya dan membalas salamku. Sekilas, bayangan Ushio dalam mimpiku tadi
muncul, dan tanpa sadar mataku turun ke dadanya untuk memastikan aku tidak
masih tertidur. Tapi tentu saja tidak ada payudara yang menonjol di dunia
nyata. Astaga, apa yang kulakukan ini?
"Sakuma?" Ushio
memiringkan kepalanya. Aku menggeleng pelan dan mengubur mimpi tadi di sudut
pikiran.
"Maaf, bukan apa-apa,"
kataku. "Kamu tidur nyenyak semalam?"
"Iya. Tidur lelap sekitar
sembilan jam."
"Bagus. Semoga tidak ngantuk
di kelas nanti."
"Ya. Aku tidak pernah datang
ke sekolah dalam keadaan lelah. Aku tidak sepertimu, bodoh."
Dia terkikik dan tersenyum malu.
Saat itu juga, dadaku terasa aneh, seperti ada kehangatan kecil yang tumbuh di
dalam—tapi tidak nyaman, seperti gigitan nyamuk yang tidak bisa digaruk.
"A-Aku akan taruh
barang-barangku dulu," kataku.
"Hm? Oh, oke."
Aku melewati mejanya menuju bangku
belakang. Perasaan aneh tadi cepat menghilang. Apa itu tadi? Rasanya hampir
mirip dengan perasaan senang saat bisa bicara dengan Hoshihara, tapi tentu saja
tidak mungkin.
Ngomong-ngomong soal Hoshihara,
dia masuk kelas tak lama setelah aku duduk. Dia langsung menyapa Ushio dengan
riang seperti biasa. Sekali lagi, semua orang menoleh. Hoshihara terlihat
sedikit tegang; ada kegelisahan di matanya, tapi tidak cukup untuk mengganggu
tekad barunya untuk tidak terpengaruh teman-teman.
Dia langsung mendatangi meja Ushio
dan mulai mengobrol tentang cuaca panas dan sebagainya. Sepertinya Hoshihara
sudah menjalankan rencana yang diceritakannya padaku kemarin—dan itu
mengingatkanku bahwa aku juga harus bertindak. Aku berdiri dan bergabung dengan
mereka; di tengah jalan, mataku bertemu tatapan penuh penghakiman Nishizono,
tapi aku cepat memalingkan muka.
Sejak saat itu, Hoshihara dan aku
akan mengobrol dengan Ushio setiap istirahat. Tidak peduli topiknya, yang
penting dia tidak lagi dikucilkan. Kami juga ingin selalu ada di dekatnya agar
Nishizono tidak berani mengganggunya lagi (meski dia masih mencoba menghina
kami beberapa kali, tapi kami selalu mengabaikannya). Jelas dia tidak senang
dengan keadaan baru ini. Awalnya dia hanya mendengus kesal, tapi lama-lama dia
mulai melampiaskan frustrasinya pada teman-temannya—menyuruh mereka
membelikannya minuman, memotong cerita mereka dengan komentar tidak lucu, dan
sebagainya. Dan sebagai akibatnya, suasana kelas mulai berubah terhadapnya.
Aku benar-benar menyadarinya saat
istirahat setelah pelajaran ketiga. Aku baru selesai di kamar mandi dan sedang
mencuci tangan ketika dua teman sekelas masuk sambil mengobrol.
"Aku tidak tahu. Kurasa dia
sudah keterlaluan kali ini," kata salah satu.
"Siapa, Nishizono? Ya, aku
setuju. Tidak percaya kelakuannya kemarin."
"Iya kan? Sudahlah, berhenti
saja. Mulai menjengkelkan. Siapa yang peduli?"
"Jangan-jangan dia cuma
iri?"
"Iri karena Tsukinoki lebih
cantik darinya? Itu baru lucu. Plot twist, ya?"
Mereka tertawa sebelum beralih
topik. Tapi dari nada bicara mereka, aku bisa merasakan mereka mulai tidak suka
pada Nishizono—dan mungkin bukan hanya mereka. Tidak ada orang berakal yang
menganggap tindakan mencuri rok Ushio kemarin bisa dibenarkan. Semua tahu dia
salah, dan meski aku tidak suka melihat musuh terjatuh, ini pertanda baik. Jika
Nishizono terus kehilangan dukungan, mungkin dia akan berhenti mengganggu
Ushio. Kuharap tren ini berlanjut tanpa insiden besar.
Pelajaran keempat berakhir, dan
waktu makan siang tiba. Hoshihara mengambil bekalnya dan mendatangi Ushio
seperti biasa. Nishizono biasanya kalem saat makan, jadi aku tidak perlu
terlalu waspada. Aku tetap di mejaku dan membuka kotak bekal. Tak lama, Hasumi
datang dan duduk di sampingku seperti biasa.
"Kamu tidak makan siang
dengan Tsukinoki juga?" tanyanya.
"Tidak. Lagi pula tidak
banyak yang bisa kami bicarakan bertiga. Selain itu, kalau aku makan dengan
Ushio, siapa yang akan makan denganmu?"
"Maksudku, aku bisa saja
duduk dengan teman-temanku yang lain..." jawab Hasumi, wajahnya kaku
karena nada merendahkan dalam suaraku.
"Oh... Ya, kamu
benar."
Kupikir aku sedang menjadi teman
yang perhatian. Ternyata tidak.
Hasumi membuka kotak makannya dan
mulai makan. "Ngomong-ngomong," katanya sambil menyuap nasi,
"kamu terlihat sangat akrab dengan Tsukinoki hari ini. Apa karena kasihan
dengan kejadian kemarin?"
"Kurang lebih. Maksudku, ada
hal lain juga, tapi ya, aku agak khawatir padanya."
"Huh. Aku agak terkejut,
jujur saja. Mengingat dulu kamu menghindarinya seperti wabah."
"Ya, banyak yang berubah
sejak saat itu."
Semuanya benar-benar berbeda
sekarang. Aneh jika dipikir: pertama, teman lamaku dan aku bertengkar, lalu
teman itu menjadi perempuan, lalu dia mengaku menyukaiku. Mustahil keadaan
tetap sama setelah rangkaian kejadian seperti itu. Siapa tahu apa yang akan
terjadi selanjutnya, pikirku sambil menyumpit sayuran di kotak makanku.
Lalu terdengar suara sesuatu jatuh
ke lantai.
"Apa—?! Arisa!"
Suara Hoshihara bergema di seluruh
ruang kelas. Aku melirik ke arah mereka dan melihat Nishizono berdiri di sana
dengan tangan terlipat.
"Itu... Itu kejam
sekali!" kata Hoshihara, suaranya gemetar. "Bagaimana bisa kau
melakukan hal seperti itu?"
Sementara itu, Ushio hanya duduk
dengan wajah lesu, menundukkan pandangannya. Aku menyenderkan badan untuk
melihat lebih jelas dan melihat kotak bekal Ushio terbalik di lantai dekat kaki
Nishizono.
"Ah, yang benar saja,"
kata Nishizono dengan acuh. "Aku tidak sengaja menyenggolnya. Itu
saja."
Dari pernyataannya saja, aku sudah
bisa membayangkan apa yang terjadi. Kemungkinan besar, dengan sengaja dia
menyenggol kotak makan Ushio saat lewat, tanpa berusaha menyembunyikan niat
jahatnya. Reaksi Hoshihara sudah cukup membuktikan bahwa ini bukan
kecelakaan.
Darahku mendidih. Aku ingin
marah—melontarkan kata-kata kasar sampai Nishizono minta maaf. Aku ingin
membela Ushio seperti yang sudah kurencanakan kemarin—tapi ragu. Bagaimana jika
memang benar tidak sengaja? Lagipula, apa gunanya kemarahan ini? Bukankah hanya
akan memperkeruh suasana? Keraguan-keraguan kecil ini akhirnya memaksaku
menahan amarah yang membara. Tapi kata-kata itu tetap mengganjal di tenggorokan.
"Yang lebih penting, kenapa
akhir-akhir ini kau selalu membela Ushio, Natsuki?" tanya Nishizono,
wajahnya jelas menunjukkan ketidaksukaan.
"Apa maksudmu 'kenapa'?
Karena Ushio-chan temanku, tentu saja."
"Maaf, apa kau bilang
'Ushio-chan'?!" Nishizono tertawa terbahak-bahak dengan nada merendahkan.
Setelah puas mengejek, dia menghela napas. Ekspresinya membeku saat berkata,
"Menjijikkan. Kau lebih bodoh dari yang kukira jika mendukung delusinya
seperti itu. Bagaimanapun juga, Ushio tetaplah laki-laki. Atau apa, dia akan
operasi? Memotong 'itu' begitu saja? Kalau tidak sampai segitunya, ini cuma
cross-dressing. Kau sedang bersenang-senang. Berpura-pura."
"Kau pikir ini 'menyenangkan'
bagiku?" Ushio mengangkat wajahnya, kesal tergambar jelas saat menatap
Nishizono. "Dan hal-hal yang kau sebutkan... Tidak semudah itu."
"Oh, begitu?" Nishizono
menjawab sambil memandang rendah Ushio. "Tapi bukan urusanku. Tapi izinkan
aku memberi nasihat, Natsuki, karena kita masih 'teman': sefeminin apa pun
Ushio berusaha terlihat, jangan pernah lengah di dekatnya."
Hoshihara mengerutkan kening.
Nishizono menyeringai jelek dan
melanjutkan, "Maksudku, dia kan laki-laki. Kalau kau lengah sedikit saja,
dia pasti akan memaksamu melakukan hal-hal mesum. Percayalah."
"Apa—?!"
Pipi Hoshihara memerah karena
implikasi seksual yang terang-terangan ini. Ini bukan hanya penghinaan bagi
mereka berdua, tapi juga upaya untuk meruntuhkan pilihan hidup Ushio. Aku masih
tidak percaya betapa cepatnya Nishizono berbalik pada dua orang yang dulunya
teman dekatnya. Amarah yang selama ini mendidih di perutku akhirnya meluap dan
nyaris meledak.
Dan akhirnya meledak.
"Sudah cukup,"
kataku.
Nishizono berbalik, tatapannya
dingin penuh kebencian. "Maaf? Kau bicara padaku? Suaramu kecil dan
menyedihkan sampai tidak kedengaran."
Aku berdiri dengan kaki gemetar
dan menatapnya. "Kubilang, sudah cukup. Apa mereka berdua mengganggumu?
Tidak. Kau hanya melampiaskan amarah karena tidak bisa menerima Ushio yang
baru."
"Maaf? Ini bukan urusanmu.
Dan ya, mereka menggangguku. Aku tidak suka Ushio mengacaukan suasana belajar
di kelas hanya karena ingin jadi korban supaya semua orang memujinya. Sungguh
memuakkan."
"Itu hanya perasaanmu. Ushio
tidak mengganggu siapa pun. Dia hanya ingin hidup normal seperti yang
lain."
"Normal? Gaya hidup
'normal'-nya itu mengganggu dan menjijikkan. Aku tidak mau tahu tentang fetish
atau orientasi seksualnya—tapi sekarang aku yang dianggap tidak sopan karena
menentangnya? Yang benar saja. Kalau tidak mau dihakimi, jangan memamerkan
kehidupan pribadimu di depan umum. Jika aku harus 'menerima' dia, maka dia juga
harus menerima ketidaknyamananku. Kenapa hanya Ushio yang dapat perlakuan
khusus? Standar ganda. Dan kau pikir aku yang diskriminatif?"
"Kau tidak pantas bicara
tentang diskriminasi. 'Pandangan berbeda' macam apa itu? Kau hanya melontarkan
hinaan. Pikirkan apa yang kau katakan. Pantaskah memperlakukan orang lain
seperti sampah hanya karena kau tidak memahaminya? Itu bukan 'pandangan yang
sama validnya'. Itu hanya kebodohanmu."
Aku hampir yakin mendengar suara
retakan dari arah Nishizono.
"Sudah kuduga," katanya.
"Kau memang suka Ushio, ya?"
"Apa? Kau bicara—"
"Itu sebabnya kau marah, kan?
Kau tidak tahan mendengar hal buruk tentang Ushio-chan kesayanganmu? Ih,
menjijikkan! Kalau mau jadi pahlawan, pergilah ke tempat lain."
Kepalaku seperti mau meledak. Ini
buruk—kalau aku terbawa emosi, Nishizono akan menang. Jadi kutahan amarahku dan
mendengus.
"Ya, baiklah," kataku.
"Langsung saja membuat tuduhan tidak berdasar ketika kau kalah. Berumur
lima tahunkah kau?"
"Oh ya? Kalau tidak berdasar,
mengapa tidak langsung membantahnya? Katakan saja bagaimana perasaanmu yang
sebenarnya pada Ushio."
“Bukan itu maksud kami—”
“Berhenti mengalihkan pembicaraan
dan jawab saja pertanyaannya.”
Sialan. Sial sekali. Aku tidak
tahan melihat betapa pandainya dia memancing emosiku dengan taktik usil semacam
ini. Sekarang aku berdiri di sana dengan semua mata menatapku, menunggu
jawaban—termasuk Hoshihara dan Ushio. Berusaha mengelak jelas bukan pilihan
tepat.
Aku tahu jawaban aman: bilang saja
aku tidak menyukainya seperti itu. Tapi untuk Ushio, jawaban itu juga berarti penolakan
tegas atas pengungkapannya: “Tidak.” Walau mungkin itu strategi terbaik untuk
berdebat dengan Nishizono, aku tahu semakin keras aku menyangkal, semakin besar
kemungkinan menyakiti perasaan Ushio. Di sisi lain, jika aku bilang memang
suka, maka—tidak. Bukan waktunya memilih jawaban berdasarkan bagaimana orang
lain bakal menerimanya. Aku harus berani dan jujur tentang perasaanku. Itu
satu-satunya pilihan benar.
“Ayo,” kata Nishizono. “Keluarkan
saja.”
“Aku tidak—”
“Maaf? Apa itu?”
“Aku tidak tahu, oke?! Aku tidak
tahu apakah aku punya perasaan padanya!” Aku nyaris berteriak. “Maksudku, ya,
dia memang imut, dan jujur saja aku suka gugup setiap bicara dengannya. Jelas
aku menyukainya sebagai teman, dan aku ingin melakukan apa pun agar dia tidak
terluka. Tapi apakah aku menyukainya lebih dalam…? Aku benar-benar tidak tahu,
maaf.”
“Oh, tolonglah. Berhenti jadi
orang plin-plan.”
“Percayalah, aku ingin bisa, tapi
aku belum punya semua jawaban! Mana mungkin aku bisa langsung menentukan perasaan
terhadap semua orang atas perintah, baik?! Lagipula, kalau kamu mau menuduh
perasaanku pada Ushio, aku juga bisa membicarakan beberapa hal tentang
perasaanmu, tapi kurasa kamu tidak mau ke situ!”
Aku menyesali perkataan terakhir
begitu terucap. Meski dia memulai, aku tahu ini buruk mencampur-adukkan gosip
tentangnya, dan dengan begitu aku menurunkan diriku ke levelnya. Wajah
Nishizono berubah merah padam oleh amarah. Saat dia menggeretakkan gigi, aku
bersiap untuk balasannya—meski tak kuduga dia meraih termos stainless steel di
meja Ushio. Tepat saat dia mengangkatnya dan mengayunkan lengan seolah hendak
melemparkannya, Ushio berdiri kaki dan meraih lengan Nishizono untuk
menahannya.
“Kau tidak boleh melakukan itu,
Arisa!” teriak Ushio sambil berusaha menarik lengan.
“Lepaskan!” Arisa menggelepar.
“Jangan sentuh aku, kalian gila!”
Dia gagal melepaskan diri dari
cengkeraman Ushio. Perbedaan kekuatan sangat jelas, tapi Arisa tetap menolak
meyerah. Dia mengibaskan tangan seperti orang kesurupan—hingga akhirnya termos
itu terlepas dan menghantam wajah Ushio. Nishizono mengerang kecil dan
menjatuhkannya, terdengar dentingan keras saat barang itu jatuh.
“Aduh…”
Ushio langsung melepaskan pegangan
dan jongkok, kedua tangan menutup wajahnya, berusaha keras menghentikan aliran
darah deras dari kedua lubang hidungnya.
“K-kau baik-baik saja?!” tanya
Hoshihara, segera bertindak. Dia mengeluarkan saputangan dari saku dan
berlutut, menekan perlahan di hidung Ushio. Kain itu berubah merah pekat
menahan darah—meski dari wajah Nishizono yang tiba-tiba pucat, kau hampir
mengira justru dia yang berdarah.
“T-tidak sengaja…” protes
Nishizono dengan suara gemetar. Dia pasti tahu tak ada yang percaya itu. Nyaris
seluruh teman sekelas kini menatapnya penuh kebencian, pandangan dingin
terpancar. Baru saat dia benar-benar sendirian dalam kebenciannya, tampak
seolah dia menyadari kesalahannya, meraih tangan Ushio dengan gerak
lembut—seperti ingin menolong.
Saat itulah suara perempuan
memecah keheningan kelas. “Hei, ada apa di sini?”
Aku berbalik melihat Bu Iyo
berdiri di pintu—senyum ramahnya hilang, berganti ekspresi serius.
“Aku dengar ada keributan,”
ujarnya.
Sepertinya sudah ada yang melapor
kepadanya—tepat saat dia sampai menyaksikan darah berserakan, bukan untuk
mencegahnya. Kenapa dia tidak muncul lima menit lalu?
Saat Bu Iyo akhirnya melangkah
masuk dan melihat Ushio terkulai, matanya terbelalak. “Apa yang terjadi di
sini?” tanyanya.
“Nishizono-san memukul
Tsukinoki-kun pakai termos metal itu,” jawab salah satu teman—salah seorang
gadis yang dulu teman dekat Nishizono.
Pengkhianatan ini tampaknya
mengguncang Nishizono, bibirnya bergetar kaget. “A-apa? Tidak, aku hanya—”
Bu Iyo menatap kilat ke arahnya,
lalu menoleh ke Ushio yang masih menahan saputangan di hidung. “Itu benar,
Ushio?”
Ushio menggeleng, terus menekan
saputangan. “Tidak… Hanya kecelakaan.”
Kalau mau, Ushio bisa saja
menimpakan semua kesalahan pada Nishizono, dan tidak satu pun teman sekelas
bakal membantah. Namun dia tidak melakukan itu. Bahkan setelah semua pelecehan,
dia tetap mencoba bersikap baik pada Nishizono.
Aku lantas berpikir, bagaimana
jika Ushio sebenarnya tahu Nishizono menyukainya? Apakah dia merasa bersalah
karena memutuskan menjadi perempuan? Apakah dia merasa menuntun perasaan
Nishizono? Aku bisa memahami kenapa dia mungkin merasa harus menahan semua
pelecehan ini.
Meski tak punya bukti, pikiran itu
saja sudah membuatku sedih. Tak seorang pun seharusnya menanggung pelecehan
demi sekadar hidup sesuai jati diri.
Bu Iyo menatap Ushio lagi, ekspresinya
serius dan penuh perhatian. Lalu matanya tertuju pada kotak bento terbalik di
lantai. Di wajahnya tergurat amarah sekaligus kasih sayang. “Bagaimana dengan
ini, Ushio?” tanya Bu Iyo sambil berlutut di sampingnya. “Kau mau bilang ini
juga ‘hanya kecelakaan’?”
Kotak bento itu jelas bukan
kecelakaan; Nishizono sengaja menjatuhkannya, semua tahu itu. Ushio ragu
sejenak, lalu mengangguk. Aku tak tahu apakah Bu Iyo percaya, tapi dia segera
bangkit.
“…Seseorang antarkan Tsukinoki-san
ke ruang perawat,” perintahnya. “Nishizono-san, ikut saya.”
“Tunggu, tidak… tapi aku—”
“Saya bilang ikut saya!”
Nishizono terperangah oleh nada
marahnya. Bahkan aku kaget—tak pernah melihat Bu Iyo murka. Kulihat dia keluar
kelas dengan langkah tegap, diikuti Nishizono seperti anjing yang dimarahi,
ekor tergulung. Sombongnya lenyap. Aku bahkan melihat sekilas air mata di
pipinya. Namun meski aku membencinya, melihat hukuman itu sama sekali tak
memberiku kepuasan.
“Ayo, kita ke ruang perawat,” kata
Hoshihara sambil mendampingi Ushio keluar. Begitu keduanya hilang, suasana
kelas terasa lega. Aku bertanya-tanya apakah ini akhir dari perseteruan kecil
Nishizono dan Ushio. Semoga begitu—meski aku merasa tertinggal begitu saja. Aku
menatap kotak bento terbalik di lantai, di mana tiga gadis tadi berdiri, dan
entah kenapa aku merasa iba pada baki plastik penuh nasi itu yang terlupakan.
Merasa tergerak, aku berlutut dan mulai membersihkannya.
Tak lama setelah itu, Ushio
kembali dari ruang perawat. Dia bisa kembali mengikuti pelajaran kelima.
Pendarahan hidungnya sudah berhenti—dan karena tak ada sumbat atau perban, aku
asumsikan lukanya tidak separah terlihat.
Nishizono, bagaimanapun, tidak
kembali. Setelah pulang sekolah, terdengar kabar dia di-“skors informal.”
Menurut seseorang, siswa tak dikenal melaporkan perilakunya pada Bu Iyo setelah
insiden rok kemarin, jadi dia sudah berada di ambang hukuman—dan hari ini
insiden di kantin menjadi pemicunya. Aku tak tahu kebenaran detailnya, tapi
terdengar masuk akal. Hukumannya terasa adil; aku tak bisa memusuhi Nishizono
sepenuhnya, tapi juga tak akan meremehkannya. Hanya berharap kekacauan ini
membuatnya introspeksi dan berubah.
Aku mulai membereskan barang untuk
pulang. Saat itu kulihat beberapa cowok berkerumun di sudut kelas, berbisik sambil
melempar pandang ke arah Ushio. Mereka jelas merencanakan sesuatu. Dan benar
saja, mereka akhirnya bergerak ke mejanya. Salah satu dari mereka—Utajima,
kalau aku tak salah ingat—pertama kali menyapa. Senyum puas terlukis di
wajahnya.
“Hai, Ushio,” sapanya. “Hari ini
sungguh panjang, ya? Hidungmu nggak patah, kan?”
Lihat itu—pertama kalinya aku
lihat cowok lain (selain aku) sengaja memanggil Ushio. Dia tampak terkejut,
tapi cepat kembali tenang.
“Aku baik-baik saja, terima
kasih,” jawabnya.
“Ah, jangan kaku. Kalau habis ini
nggak ada rencana, mau makan McD bareng kami?”
Mata Ushio melebar kaget oleh
ajakan tak terduga. Mataku juga.
“Kami sadar nggak banyak tahu
tentangmu dan situasimu,” lanjut Utajima, menggaruk kepala seolah malu. “Jadi
kupikir asyik kalau bisa ngobrol dan dengar ceritamu sambil makan kentang
goreng. Tapi kalau nggak mau, nggak apa-apa juga.”
Tunggu—apa mereka benar-benar
ingin berdamai? Ini definisi komunikasi sehat: berbicara dan mendengarkan
perspektif. Hangat rasanya di dadaku. Ushio tersenyum terharu, tapi menggeleng
lembut.
“Maaf, aku punya rencana lain,”
katanya. “Tapi terima kasih sudah mengundang.”
“Oh, oke. Nggak masalah. Mungkin
lain kali.”
Dengan itu, Utajima dan rombongan
pergi. Ushio menyampirkan tas di bahu, bangkit justru saat Hoshihara selesai
membereskan barang dan berlari menghampirinya. Keduanya bertukar kata, lalu
melangkah ke arahku. Aku berdiri menyambut.
“Siap pulang?” tanya Ushio.
“Iya,” jawabku sambil mengangguk.
Keluar kelas, tak ada lagi tatapan
aneh dari teman-teman.
Sudah lama rasanya kami bertiga
pulang bareng. Gemerincing rantai sepeda yang berputar serempak menenangkan
telingaku.
“Kita tinggal hadapi bulan ini,
lalu libur musim panas tiba!” kata Hoshihara. “Tidak sabar!”
Beberapa hari terakhir dia murung,
tapi hari ini cerah membara, mengalahkan terik matahari. Wajahnya memancarkan
kelegaan—mungkin karena yakin Nishizono takkan lagi mengganggu Ushio. Aku juga
turut gembira, walau gesekan optimisme semacam ini mungkin berlebihan.
“Iya,” kataku. “Tinggal hadapi
ujian akhir semester—”
Hoshihara berteriak ngeri. “Aduh…
Aku belum belajar sama sekali! Gimana kalau aku gagal dan harus ikut bimbel di
liburan?”
“Kau baik-baik saja. Aku juga
belum belajar.”
“Iya, mudah bagimu bilang begitu.
Kurang meyakinkan dari seseorang yang nilainya sudah lebih baik dari aku. Andai
aku bisa menghadap ujian tanpa belajar.”
Dia menatapku tajam; aku hanya
bisa cengar-cengir dan mengangkat bahu. Ushio tersenyum melihat canda kami.
“Oh ya,” kata Hoshihara tiba-tiba,
“gimana hidungmu, Ushio-chan? Darahnya banyak sekali tadi. Aku sempat panik.”
“Tidak terlalu parah,” jawab
Ushio. “Masih sakit kalau ditekan, tapi sepertinya tulang hidung tidak patah.”
“Benarkah? Semoga cepat sembuh,
ya…”
Ushio mengangguk malu-malu,
menghargai perhatian tapi tetap canggung. Sebenarnya, meski dihina
habis-habisan, dia belum pernah mengeluarkan kata buruk tentang Nishizono, ya?
Aku kagum pada kebaikannya. Atau mungkin dia memang merasa bersalah karena tak
bisa menjawab perasaan Nishizono, lalu menahan diri menanggung semua ini.
Bagaimanapun, Ushio terlalu baik untuk dirinya sendiri.
“Nah, ada yang ingin kutitahkan,”
kata Ushio, tiba-tiba berhenti. Hoshihara dan aku ikut berhenti, menatapnya.
“Sakuma? Natsuki? Aku cuma mau bilang aku sangat berterima kasih karena kalian
selalu datang dan membelaku… Itu sangat berarti. Terima kasih.”
“Tentu saja,” jawabku lega. “Kami
temanmu. Itu sudah sewajarnya.”
“Betul!” sambar Hoshihara. “Kami
selalu di sampingmu! Teruslah jadi dirimu sendiri!”
“Yah, makasih,” kata Ushio.
Dia melepas raut seriusnya dan
membalas seolah tidak tahu kenapa pantas kami membelanya—namun suaranya tulus,
wajahnya bahagia, cukup membuatku hangat di dalam. Kupikir aku senang di
sini—kami benar-benar teman. Hubungan ini terbangun dari ketulusan, kebaikan,
dan perhatian. Tak ada yang dibuat-buat, dan itu membuatku sangat bersyukur.
Kami melanjutkan perjalanan
pulang.
“Ngomong-ngomong soal marah,” kata
Hoshihara, “kau benar-benar berani tadi siang, Kamiki-kun. Belum pernah kulihat
ada yang berani membalas Arisa seperti itu.”
“Aha ha… Maaf ya, aku kelewat.”
“Tidak, aku maksud itu pujian! Kau
keren sekali tadi!”
“Se- serius?”
Suaraku bergetar. Wah, boost
kepercayaan diriku minggu ini. Sekarang seandainya ada yang tiba-tiba mencegat
dan mendorongku ke sawah, mungkin aku hanya teriak “Santai!” dan loncat ke
sana. Aku senang berani menegur Nishizono tadi. Keputusan itu terbayar tuntas.
“Suasana kelas pasti makin adem
sekarang,” lanjut Hoshihara. “Dan kurasa Arisa juga mulai sadar salahnya.”
“Semoga,” jawabku sambil tersenyum
tipis. Kami keluar dari jalan antara sawah dan menuju persimpangan biasa.
“Oke deh, sampai nanti!” kata
Hoshihara. “Besok aku serius belajar!”
Aku menahan godaan mengatakannya
bisa mulai malam ini juga, lalu aku dan Ushio melambaikan tangan. Dia mengayuh
sepeda, berdiri di pedal saat menghilang di tikungan.
Baiklah. Sekarang aku dan Ushio
pulang berdua, ada hal yang harus kubicarakan dengannya. Sejak insiden siang
tadi, aku menyiapkan mental untuk momen ini, dan tidak akan menghindar lagi.
“Ushio,” kataku, menahannya saat
dia hendak jalan. Dia berbalik menatapku, tenang. Mungkin dia sudah menunggu
aku membicarakannya. Aku menelan ludah, menyeka keringat di telapak tangan ke
celana panjang. “Mengenai perasaan yang kau sebut kemarin…”
“Iya?” jawabnya.
“Aku pikir aku berutang jawaban
padamu… Tapi sejujurnya, persis seperti yang kukatakan pada Nishizono tadi di
kelas. Menurutku, kau imut, dan kadang aku gugup saat bersama—tapi aku belum
yakin apakah itu berarti aku menyukaimu seperti kau menyukaiku. Jadi aku butuh
waktu lebih untuk memikirkannya. Janjiku, aku akan memberimu jawaban yang jelas
segera.”
“Kupaham.” Suaranya datar, seperti
menanggapi cerita ringan. Dia menambahkan, “Tidak apa-apa. Jangan khawatir.”
Jawaban itu membuatku bingung.
Maksudnya apa “tidak apa-apa”? Bahwa dia tidak keberatan menunggu? Atau suruh
kubiarkan semua? Kupikir pengakuan itu penting baginya, jadi berharap bukan
maksud kedua. Namun dari nada, terasa acuh tak acuh—seperti membalas ajakan
main bowling, bukan pengakuan hati. Aku perlu tahu persis maksudnya, dan
satu-satunya cara adalah bertanya langsung, meski berat.
“Eh, maaf, Ushio,” kataku. “Apa
maksudmu—”
“Kau tahu, ada yang ingin
kutanyakan juga, Sakuma,” sahutnya. Setelah jeda singkat, tanpa menunggu
jawabanku, dia lanjut.
“Kau suka sama Natsuki, kan?”
Aku terdiam.
Rasanya seperti ada yang mencubit
hatiku di tempat paling lembut, yang selama ini kucoba sembunyikan—lalu
meremasnya keras. Aku tak bisa mengiyakan atau membantah; tidak tahu harus jawab
apa. Namun kelihatan jelas itulah jawaban Ushio, karena dia tersenyum geli.
“Oh, ternyata benar.”
“Apa maksudmu? Aku tidak bilang
apa-apa.”
“Kau tidak perlu. Aku bisa tahu
dari wajahmu. Kau pikir aku belum pernah lihat ekspresi jatuh cinta?”
Ushio seakan tak memberi
kesempatan bicara.
“Dia memang imut, ya? Manis,
jujur… Aku paham kenapa kau suka. Oh, dan aku tidak sekadar bilang begitu demi
menyakitimu. Justru aku mendukungmu. Kalau ada yang bisa kulakukan, bilang
saja. Jadi tolong, lupakan saja aku pernah bilang suka padamu, ya?”
Kata-katanya terucap cepat, seolah
dikejar waktu. Mungkin refleks menutupi emosi lain yang akan muncul jika dia
berhenti.
“Lagipula, maksudku aku hanya
menyukaimu sebagai teman. Kau saja yang salah paham dan menangkap maksud lain.
Maksudku—tentu saja kau tidak mau ditaksir oleh cowok. Jijik, kan? Aku ngerti
itu. Jadi, yah, aku cuma… entahlah, suka…”
Kini Ushio tergagap, setetes air
mata menetes di pipinya. Dia mengusapnya, lalu melihat jari basah itu dan
tertawa getir.
“Haha… Aku payah sekali,” kata
Ushio. “Kenapa aku jadi bawel menangis? Padahal aku sudah… tahu jawabannya…”
“Ushio…” Aku melangkah mendekat,
tapi dia menggeleng dan menunduk.
“Tidak apa-apa… Aku baik-baik
saja…”
Tangan Ushio masuk saku
rok—mungkin mencari sapu tangan untuk menyeka air matanya. Tak sampai tiga
detik, dia menarik sapu tangan dari saku kanan, hampir menyeka wajahnya—tapi
tangan itu berhenti, hanya beberapa inci dari pipi. Itu sapu tangan yang
dipinjam dari Hoshihara tadi, bercak darah mengering. Kupikir dia menyimpannya
agar bisa dicuci sebelum mengembalikan. Namun aku tidak tahu apakah noda darah
itu yang membuatnya ragu atau karena itu milik Hoshihara. Seketika, aku jijik
pada diriku sendiri memikirkan hal itu.
Ushio tersenyum lemah dan perlahan
mengangkat wajahnya.
“Aku memang takkan pernah bisa
menyamai gadis sejati, ya?”
Dia tersenyum tipis—lebih tipis daripada lapisan
embun terakhir di tanah akhir musim dingin, tepat di ambang musim semi. Saat
kubayangkan betapa besar keikhlasan, betapa dalam hati pilu dan putus asa yang
pasti tersembunyi di balik tatapan paling lembut itu, dadaku terasa sesak. Aku
tak bisa menemukan satu kata pun yang tepat untuk diucapkan.
Dari kejauhan, kutahu serangga penggema itu sedang
bersenandung.
Musim panas akhirnya datang untuk menetap, dan ia
takkan pergi lagi.






Komentar
Tinggalkan Komentar