Majo to Ryouken V2 Extra

Juli 05, 2026 | Metoya

 

Extra Chapter


Kastil Lowestein, "Sarang Singa" yang menjulang tinggi di Negara Kesatria Lowe, sedang menyambut pagi yang sibuk. Di tengah kabut pagi sebelum fajar menyingsing sepenuhnya, hampir sepuluh gerobak kuda dikumpulkan di pintu masuk pengiriman dapur. Barang-barang yang dibawa dari dapur oleh para juru masak dan pelayan, lalu dimuat satu per satu ke atas gerobak, adalah sejumlah besar bahan makanan, seperti peti-peti kayu berisi daging kering dan tong-tong bir ale.

Di belakang salah satu gerobak kuda tersebut, berdirilah tiga orang pelayan wanita.

"Sepertinya banyak pasokan sedang dikirim ke Campusfellow. Untuk memenuhi permintaan Amelia, ya. Kenapa juga Lowe harus mengirim makanan untuk tentara Amelia segala."

Seorang pelayan muda yang masih remaja mengerucutkan bibirnya dengan tidak puas. Ia adalah seorang gadis cantik bermata besar dan berbulu mata lentik, dengan rambut warna kastanye yang ikal menggulung ke dalam di atas bahunya. Seragam pelayan berwarna abu-abu yang panjang itu adalah bukti bahwa ia bekerja sebagai pelayan di Kastil Lowestein. Namanya adalah Canarea.

"Itu karena Lowe telah menjadi sekutu Amelia, bodoh. Kau ini memang selalu saja bodoh, ya."

Gadis yang menjawab dengan ketus di samping Canarea adalah Willa. Rambut hitamnya dikepang dreadlock, dan bibirnya tebal. Pelayan berkulit cokelat dengan mata sayu yang tampak mengantuk itu mengenakan seragam abu-abu yang sama dengan Canarea.

"Siapa yang kau sebut bodoh! Maksudku, kenapa kita harus membentuk aliansi segala dengan mereka!"

"Iya, iya, bawel. Tenanglah, nanti kita bisa ketahuan, tahu."

Willa menanggapi Canarea dengan sekenanya. Di belakang mereka berdua, berdirilah seorang pelayan bertubuh besar layaknya tong anggur, Daira. Wanita berusia akhir dua puluhan itu juga merupakan pembimbing bagi para pelayan muda ini. Ketiganya berdiri menghadap ke bagian belakang gerobak yang ditutupi terpal menyerupai tenda.

"Kalau mereka membutuhkan pasokan... invasi itu mungkin masih terus berlanjut, ya."

Daira mengerutkan kening, memasang wajah khawatir. Ia menatap peti kayu yang dimuat di atas gerobak.

"Kau masih tetap mau pergi? ……Cappuccino."

"……Terima kasih atas kekhawatiran Anda."

Di dalam peti kayu itu, seorang gadis sedang duduk dengan menekuk lututnya.

Rambut hitamnya dipotong rata di atas bahu, dengan sudut mata yang sedikit naik. Ada bintik-bintik di pipinya. Meminjam pakaian biasa dari Canarea, ia tampak seperti gadis kota dari keluarga yang lumayan berada, tetapi identitas aslinya adalah Cappuccino Mellow, seorang pelayan yang mengabdi pada Keluarga Grace, Tuan Tanah Kastil Campusfellow.

Tragedi di kapel yang terbakar──Cappuccino, yang selamat dari pembantaian oleh tiga orang Sorcerers dan para Kesatria Golden Lion, telah diselamatkan nyawanya oleh Daira dan para pelayan Kastil Lowestein lainnya.

Hari itu. Di koridor yang mengelilingi halaman tengah, sekujur tubuh Cappuccino dilalap api. Meskipun apinya segera dipadamkan, ia jatuh pingsan. Ia kemudian ditemukan oleh para pelayan kastil, lalu dibawa ke kamar pelayan secara diam-diam tanpa sepengetahuan para Kesatria Golden Lion dan para prajurit.

Orang-orang Campusfellow dikabarkan sebagai pemuja Witches yang berbahaya. Karena itulah Lowe bekerja sama dengan Kerajaan Amelia, memancing mereka ke kastil dan menumpas mereka. Namun, gadis dari negara musuh yang ditemukan oleh Daira dan pelayan lainnya sama sekali tidak terlihat seperti orang yang sangat berbahaya. Meski sedang pingsan, anak ini terus mengigau mencemaskan keselamatan putrinya, dia sama seperti kami──. Daira dan kawan-kawannya tidak tega menelantarkan pelayan dari negara musuh yang mengenakan seragam compang-camping itu.

Keesokan harinya setelah tragedi itu, Cappuccino terbangun dan mengetahui tentang eksekusi Tuan Tanah Bud, serta jatuhnya Kastil Campusfellow. Hampir semua rekan-rekannya yang berkunjung ke Lowe sepertinya telah terbunuh. Namun, kabarnya hanya Putri Campusfellow yang berhasil dibawa ke luar kastil oleh sang pembunuh bayaran.

Bagi Cappuccino, itu adalah satu-satunya secercah harapan. Delirium dan Rollo masih hidup. Kalau begitu, ia harus menyusul mereka. Bagaimanapun, Cappuccino adalah pelayan yang mengabdi kepada Delirium.

Oleh karena itu, setelah menunggu staminanya pulih, ia memutuskan untuk kembali ke Campusfellow.

"Sekalipun sangat berbahaya, saya akan pergi. ……Karena Putri mungkin sedang menunggu saya."

Di tangannya, tergenggam cakar Direwolf yang diberikan oleh Rollo. Seolah ingin menghancurkan kegelisahannya, Cappuccino menggenggam erat jimat berharga itu dengan kedua tangannya.

Tak tega melihat ekspresinya yang cemas, Daira melangkah maju dan memeluk Cappuccino di dalam peti kayu itu. Didekap oleh dada Daira yang montok, Cappuccino mengerang, "Guuh."

"Campusfellow pasti akan menjadi sangat dingin setelah ini, kan? Berhati-hatilah agar tidak kedinginan, Cappuccino."

"Jaga dirimu, ya," ucap Willa yang berkulit cokelat, disusul oleh Canarea si rambut kastanye yang juga melangkah maju.

"Kalau kau tidak bisa menemukan Putrimu, kau boleh kembali ke kastil ini lagi. Nanti akan kupekerjakan."

"Jangan bicara yang tidak-tidak, deh.... Lagian, kau pikir kau ini siapa."

Ditatap dengan jengah oleh Willa, Canarea membusungkan dadanya dan membalas, "Canarea-sama, dong!" Keduanya selalu saja bertengkar setiap kali membuka mulut. Tanpa sadar, wajah Cappuccino mengukir senyuman.

"Terima kasih banyak. Meski hanya sebentar, kalian semua benar-benar telah merawat saya dengan baik. Saya pasti akan datang berkunjung lagi. Kalau bisa…… bersama dengan Putri juga."

Putri dari Campusfellow, yang kini telah menjadi negara musuh, mungkin akan sulit untuk menginjakkan kakinya lagi di Lowe. Namun, berharap suatu hari nanti hari seperti itu akan tiba, Daira mengangguk dengan kuat.

"Tentu, kami akan menunggunya."

"Kita berangkat!" ──Mendengar teriakan prajurit yang mengomandoi para kusir, ketiga pelayan itu buru-buru menutup peti kayu Cappuccino. Hampir sepuluh gerobak kuda membentuk barisan, dan tak lama kemudian pergi meninggalkan kastil.

Suara tapak kuda berbunyi pakara, pakara menggema di langit fajar, perlahan menjauh dan mengecil.

"……Dia sudah pergi, ya. Benar-benar keberanian yang luar biasa, kembali sendirian ke negara yang sedang berperang."

Ucap Willa, diikuti oleh Canarea yang juga bergumam dengan nada sedih.

"Dia anak yang baik. Rasanya aku rela menjadikannya pelayanku."

"Anak ini lupa ya kalau dirinya sendiri juga seorang pelayan……"

"Nah, sekarang giliran kita bersiap untuk tugas pagi. Ayo bergegas."

Daira memimpin keduanya, hendak kembali ke dalam kastil. Namun saat itu, seorang kepala pelayan menepuk tangan ke arah para pekerja dan meneriakkan sesuatu yang tak terduga, membuat mereka menghentikan langkah.

"Ayo! Selanjutnya gerobak yang menuju Campusfellow akan tiba, bersiaplah!"

"……Eh? Terus, yang barusan tadi ke mana?"

Daira menghentikan seorang juru masak yang lewat di dekatnya, dan mencoba bertanya.

"Gerobak kuda yang barusan? Tidak, itu bukan menuju Campusfellow, lho."

"Hei, Bakarea!"

Willa meninggikan suaranya, lalu menerjang dan mencengkeram Canarea.

"Kau tadi bilang kalau itu gerobak yang menuju Campusfellow, kan?!"

"B-b-bukan salahku! Bukannya juru masak entah siapa yang memberitahuku tadi yang salah?!"

"……Lalu, rombongan gerobak yang tadi itu pergi ke mana?"

"Ke Republik Inaterra."

Mendengar ucapan juru masak itu, wajah Daira memucat. Negara itu terletak di arah yang berlawanan dari Campusfellow. Padahal ia melepas kepergian gadis itu sambil berpesan agar tidak kedinginan.

Inaterra adalah sebuah negara tropis di selatan yang menghadap ke laut yang indah.