Futsutsuka na Akujo dewa Gozaimasu ga: Suuguu Chouso Torikae Den Chapter 3

Juli 03, 2026 | Metoya

Chapter 3: Reirin, Pindah ke Surga

Nah, ketika Reirin yang telah menyelesaikan Penghakiman Singa sedang memikirkan apa yang harus dilakukannya sekarang, seorang wanita muda dengan rambut cokelat kemerahan yang mencolok datang, lalu tanpa ekspresi memanggilnya "Nona Keigetsu".

Pakaian warna oranye kemerahan tanpa corak... Dia dari keluarga Shu, ya.

Setiap dayang istana diharuskan mengenakan pakaian dengan warna yang sesuai dengan Lima Elemen dari keluarga yang mereka layani. Semakin tinggi kedudukannya, semakin pekat warnanya. Karena itu, gadis berwajah muram yang mengenakan warna oranye kemerahan pucat dan kusam ini mungkin adalah dayang istana tingkat rendah yang bertugas mencuci atau memasak. Mungkin dia khawatir melihat "Shu Keigetsu" yang tak kunjung bergerak dari taman, dan datang untuk memintanya kembali ke kamar.

Namun,

"Atas perintah Selir Mulia, saya ditugaskan untuk membantu kepindahan Anda. Saya ingin kamar Anda sudah siap sebelum senja. Mohon segera bergegas."

Wanita itu mengucapkan kata-kata yang tidak terduga, membuat Reirin mengerjapkan matanya.

"Kepindahan?"

"...Selir Mulia berkata bahwa meskipun Anda tidak bersalah, beliau tidak bisa memperlakukan orang yang telah menyebabkan keributan di pelataran dalam seperti ini dengan cara yang sama seperti sebelumnya."

Tebakan Reirin, pangkat kamarnya mungkin akan diturunkan, atau dia akan dikurung di tempat semacam ruang renungan.

"Eum..."

Istana dipisahkan dengan sangat ketat agar tidak ada campur tangan dari klan lain. Reirin sempat merasa ragu apakah dia, yang berasal dari klan Kou, boleh masuk ke istana klan Shu. Namun, tak lama kemudian, dia mengangguk dengan ragu-ragu.

"Begitu, ya. Saya mohon bantuannya."

Para Gadis menuntut ilmu di Istana Gadis pada siang hari, namun menghabiskan pagi, sore, dan hari libur di kamar yang diberikan kepada mereka di istana klan masing-masing. Singkatnya, jika dia tidak tinggal di salah satu istana, dia tidak akan punya tempat untuk tidur. Jika dia muncul di Istana Kouki dalam situasi seperti ini, kemungkinan besar Tousetsu akan melemparinya dengan pangsit beracun sambil memaki, "Dasar tikus got kotor!"

Untuk saat ini, mari kita temui Selir Mulia Shu dan jelaskan situasinya padanya.

Dayang istana itu menatap tajam pada Reirin yang berbicara dengan sopan, namun kemudian, seolah mengubah pikirannya, dia berkata "Ke sebelah sini," dan mulai berjalan melewati taman.

"Terima kasih. Eum, nama Anda adalah..."

"...Lili."

Ada sedikit jeda sebelum ia menjawab.

Karena dia berjalan di depan, Reirin hanya bisa melihat punggungnya, namun dari suaranya yang rendah dan seolah menahan emosi, Reirin bisa merasakan permusuhan yang tak terlukiskan.

"Selama setahun ini, saya telah mengabdi di sisi Anda dengan sekuat tenaga, tapi bagi Anda, mungkin saya hanya sekadar orang lewat."

Ucapan yang ditambahkan dengan pelan seolah tak bisa ditahan itu, membuat Reirin memegangi kepalanya dalam hati.

Rupanya, wanita ini bukanlah dayang istana tingkat rendah, melainkan pelayan pribadi—seseorang yang namanya seharusnya ia ingat.

Namun, yang lebih mengkhawatirkan adalah Lili juga langsung menyimpulkan, "Ah, lagipula Anda pasti tidak ingat, kan."

E-eum, kau boleh sedikit lebih curiga dan berpikir 'Beraninya kau tidak mengingatku, jangan-jangan kau ini palsu, ya?!' loh! Jangan menyerah di situ!

Reirin ingin mengguncang bahunya dan menyemangatinya, tapi bagaimanapun juga, ia berada dalam posisi di mana bahkan menyebut nama "Shu Keigetsu" saja ia tak bisa.

Ugh... Meskipun aku bertemu dengan Selir Mulia Shu, bagaimana caraku menjelaskan situasinya?

Keigetsu mengatakan bahwa perihal pertukaran tubuh itu bukan "tidak bisa dibicarakan", melainkan "tidak bisa diekspresikan". Saat berada di penjara, Reirin mencoba menulis nama "Reirin" di telapak tangannya menggunakan jarinya, tetapi bahkan tangannya pun tak bisa bergerak. Tampaknya ia dibuat tidak bisa menulis kata-kata apa pun yang berhubungan dengan pertukaran tersebut.

Tidak bisa bicara, tidak bisa menulis. Kalau begitu... eumm, menulis dengan pantat, ya...

Reirin mempertimbangkannya dengan serius, tapi dia merasa tidak ada orang yang bersedia menatap pantatnya dengan sabar sampai penjelasan rumit ini selesai, jadi dia membatalkan ide itu. Dan kemungkinan besar, meski mencoba menulis dengan pantat, gerakannya akan tetap dibatasi oleh sihir pembungkam mulut.

Mereka melewati gerbang yang dicat merah terang, melangkah di atas hamparan kerikil putih yang menyilaukan mata. Patung kuda gagah berwarna-warni mencolok, Shuku, tampak mengawasi dari atas gerbang. Istana ini dipenuhi dengan desain-desain meriah dan kuat yang sesuai untuk mereka yang menguasai Wilayah Selatan dan telah lama memuja api.

Tepat setelah melewati gerbang, di bawah atap lengkung terbesar, terdapat kamar Selir Mulia Shu, sang pemilik istana ini. Akan tetapi, Lili tidak menuju ke sana, dan berjalan dalam diam melewati jalan setapak kecil yang menyerupai celah.

"Lili. Anu, apakah kita tidak perlu menyapa Selir Mulia Shu?"

"...Selir Mulia telah memberikan pemberitahuan agar Anda segera dikurung tanpa menyebarkan aib di dalam istana."

Apakah itu berarti beliau tidak ingin melihat wajah Gadis yang dicurigai sebagai seorang penjahat?

Tidak mungkin... Padahal, ikatan antara selir dan Gadis di pelataran dalam seharusnya sama eratnya dengan ibu dan anak.

Reirin terkejut mendengar isi pemberitahuan tersebut.

Seandainya ini adalah Permaisuri—Kou Kenshuu, tidak peduli kecurigaan apa pun yang ditujukan kepada Reirin, hal pertama yang akan dilakukannya pasti adalah mendengarkan ceritanya. Tentu saja, jika Reirin benar-benar melakukan kejahatan, beliau sendiri yang akan menghukumnya. Pada dasarnya, orang-orang klan Kou itu jujur, menghargai ikatan yang kuat, dan jika ada anggota keluarga yang melakukan kejahatan, mereka akan mengambil tanggung jawab, bahkan jika itu berarti membunuhnya dengan tangan mereka sendiri.

Jangan-jangan, Selir Mulia Shu sebenarnya adalah orang yang berhati dingin...

Reirin membatin, tetapi kesan itu sangat tidak sesuai dengan bayangan semua orang tentang Selir Mulia Shu—mata yang menurun lembut dan senyumnya yang damai. Selain itu, saat baru masuk Istana Gadis, Reirin pernah melihat Selir Mulia secara langsung memindahkan serangga dari pepohonan di taman dengan tangannya sendiri. Menatap serangga saja dengan penuh kasih, Reirin merasa beliau tak mungkin orang yang berhati dingin.

Jika demikian... itu berarti Nona Keigetsu benar-benar dikucilkan di Istana Shuku ini, ya.

Masa depan Reirin tampaknya dipenuhi dengan berbagai rintangan.

Tiba-tiba, para dayang istana menatap rendah ke arah Reirin dan yang lainnya yang sedang melangkah di atas hamparan kerikil putih dari koridor.

Mereka memandang Reirin dengan tatapan jijik, menyembunyikan wajah mereka dengan lengan baju, atau tertawa mengejek secara sembunyi-sembunyi.

"Ugh, bau sekali."

"Benar, ya, jangan-jangan ada tikus yang merayap di dekat sini."

"Sepertinya ada dua ekor, tikus hitam dan tikus merah."

Meskipun Reirin telah menyebabkan keributan di pelataran dalam, perlakuan yang ia terima sangatlah buruk. Para dayang itu mengenakan pakaian warna merah timbal, yang hanya setingkat lebih tua dari pakaian Lili. Situasi di mana bahkan dayang istana tingkat menengah menunjukkan penghinaan yang terang-terangan kepada seorang Gadis membuat Reirin sangat khawatir.

Andai saja ini adalah Istana Kouki tempat Reirin tinggal, bahkan dayang istana tingkat atas yang mengenakan pakaian warna kuning rotan pun akan bersikap ramah padanya,

"Nona Reirin! Anda sudah sepuluh hari tidak demam, ya. Saya memetik bunga untuk merayakannya."

"Nona Reirin! Jika Anda pingsan lagi nanti, jadikan saya sebagai bantalannya, ya. Bantalan saya tebal dan pasti empuk."

Dan sebagainya, mereka akan menyapanya dengan akrab.

...Eh? Aku selama ini mengabaikannya karena itu terlalu biasa, tapi kalau dipikir-pikir lagi, itu juga sedikit tidak normal, kan?

Reirin tak menyadarinya karena tidak ada perbandingan, tapi kalau dipikir-pikir sekarang, para dayang istananya mungkin sangat terlalu protektif padanya. Terutama yang terakhir.

Aku selalu bangga dengan hatiku yang kuat, tapi sepertinya itu kurang tersampaikan, ya. Bukan, ini justru menandakan bahwa aku harus lebih mandiri sampai-sampai mereka bisa melihatnya sendiri. Bukannya apa-apa... aku ingin mencobanya, kan, hidup mandiri. Hidup mengurus diri sendiri, bagaikan mimpi.

Di Istana Kouki, jangankan diizinkan untuk bergantung pada para dayang, batuk sedikit saja sudah membuat para dayang datang berbondong-bondong sambil berteriak, "Gawat!". Tentu kesetiaan itu membuatnya senang, tetapi sejujurnya—tidak, dengan sangat sungguh-sungguh, Reirin selalu berharap bisa menjadi lebih mandiri.

Sejak zaman kuno, Klan Kou telah memuja dewa bumi dan telah sendirian bertanggung jawab atas reklamasi tanah di negara ini. Karena telah lama menghadapi tanah yang terjal dan mengerjakannya dengan sabar, mereka pada umumnya adalah orang yang sangat tekun, mengagungkan kerja keras, dan kebetulan, juga suka mencampuri urusan orang lain. Daripada dicintai, mereka lebih suka mencintai.

Sebagai salah satu anggotanya—bahkan, sebagai anggota keluarga utama dengan darah yang kuat, Reirin juga memiliki pemikiran yang cukup bersemangat. Sayangnya, karena penampilannya yang terlihat rapuh, yang mana jarang ditemukan di klan Kou, ia sering dianggap sebagai "pihak yang perlu dilindungi".

Sembari merenungkan apa arti dari kemandirian, Reirin tiba-tiba menyadari sekelilingnya menjadi sedikit remang-remang, dan langkah Lili yang berada di depannya terhenti.

"Kamar baru Anda ada di sebelah sini."

Reirin melebarkan matanya melihat ke arah yang ditunjuk Lili.

"...Di sini?"

Di sana, sebuah gudang bobrok yang pantas disebut bangunan terbengkalai berdiri, nyaris tenggelam di antara pepohonan besar.

Atapnya masih tersisa meski nyaris rubuh, namun dindingnya telah lapuk, plesterannya mengelupas, dan pilar kayunya yang membusuk terlihat dari luar. Di area yang tak bisa disebut jalan maupun taman itu, lumut dan rumput liar tumbuh lebat, dan aroma pepohonan yang pekat terasa begitu menyengat hingga membuat napas sesak.

"Awalnya tempat ini adalah gudang makanan. Namun, karena telah lama dibiarkan terbengkalai, tempat ini sekarang menjadi sarang serangga dan jamur."

Entah karena sinar matahari atau kelembapan, rumput liar di daerah ini konon sangat cepat tumbuh, dan karena kerepotan mengurusnya, mereka menyerah menggunakannya sebagai gudang makanan. Dinding yang membentang di belakangnya adalah batas dengan Istana Ranko yang dikuasai klan Ran. Dengan kata lain, ini bisa dibilang sebagai ujung dunia di Istana Shuku.

Pengasingan. Kata itu adalah yang paling tepat untuk menggambarkan situasi Reirin—tidak, "Shu Keigetsu" saat ini.

"...Saya akan tinggal di sini?"

Suara Reirin, yang menatap rumput yang tumbuh liar sesuka hati, terdengar parau dan sedikit bergetar.

"Tidak disangka, saya akan tinggal di tempat ini...?"

"——Benar, ini tempatmu."

Jawaban yang diberikan bernada kasar.

"Lili?"

Melihat Reirin terkejut, Lili tiba-tiba berbalik dan meninju dinding gudang seolah melampiaskan amarahnya.

"Ini semua salahmu! Karena kau gadis bodoh yang sombong, sewenang-wenang, dan mencoba menyakiti 'Kupu-kupu Yang Mulia', makanya kau dibuang ke tempat seperti ini!"

Nada bicaranya sangat kasar——sesuatu yang baru pertama kali didengar oleh Reirin. Ya, terdengar persis seperti cara bicara penduduk kota bawah.

Di saat Reirin terkejut oleh cara bicaranya alih-alih isinya, Lili, yang menyadari keterkejutan itu, tersenyum miring.

"Kenapa kau terkejut? Kau sendiri yang selalu merendahkanku karena aku ini anak dari penari rendahan. 'Sebagus apa pun kau berpura-pura, darah ibumu yang suka menggoda pria tidak akan pernah hilang'.... Kau dan para dayang istana klan Shu ini sendirilah yang telah menginjak-injak usahaku dengan kata-kata seperti itu, kan?! Lucu sekali melihatmu ketakutan saat orang lain menunjukkan sifat aslinya."

Sepasang mata yang menatap Reirin dengan tajam itu berwarna hampir seperti ambar. Rambut kemerahan yang pekat, mata dengan warna yang pucat. Cara bicara layaknya penduduk kota bawah. Sebagai seorang dayang istana, tak diragukan lagi bahwa dia terikat dengan Lima Klan, tapi Lili kemungkinan besar adalah anak yang dilahirkan dari hubungan antara seseorang dari klan Shu dan seorang penari imigran.

Reirin mengernyitkan alis, menyadari mengapa Lili mengenakan pakaian warna oranye kemerahan—warna tingkat paling rendah—meskipun ia adalah seorang pelayan pribadi. Entah bagaimana Lili menafsirkan reaksi itu, ia memukul dinding sekali lagi dengan penuh kemarahan.

"Terserah kalau kau mau jatuh miskin. Tapi jangan libatkan aku! Jika aku menyelesaikan masa baktiku, aku akan mendapatkan bayaran... Aku percaya hal itu, menahannya dalam diam, dan bekerja keras sampai ke titik ini. Tapi, disuruh mengurus wanita yang jatuh menjadi penjahat di rumah bobrok ini... Ini sama saja dengan menyuruhku mati!"

Pasti Selir Mulia Shu telah menarik kembali sejumlah besar dayang istana beserta kamar "Shu Keigetsu". Meskipun demikian, jika tidak ada satu pun dayang yang melayani sang Gadis, itu akan dianggap sebagai pengabaian tugas dari seorang selir. Oleh karena itu, Lili—yang memiliki posisi paling lemah di antara para dayang istana—dipilih sebagai kambing hitam. Begitulah situasinya.

Dengan mata yang masih menyisakan kepolosan kanak-kanak namun diwarnai kilatan tajam, Lili menunjuk ke arah Reirin.

"Dengar, ya. Karena sudah begini, aku tidak akan sungkan-sungkan lagi. Aku akan katakan ini dari awal. Aku tidak akan mengurusmu. Aku juga masih memiliki kamarku sendiri di tempat para dayang. Hanya kau yang akan tinggal di sini. Mencabut rumput liar, bersih-bersih, memasak, semuanya harus kau lakukan sendiri."

"Eh..."

"Asal kau tahu saja, tak satupun dayang istana di istana ini yang mau membantumu. Kami semua, yang selama ini kau siksa, sangat gembira mengetahui kau jatuh miskin."

Seolah ingin mengubah suasana hatinya, Lili mengembuskan napas panjang dan segera berbalik.

"Kalau begitu, aku pergi. Oh ya, gara-gara kau, Istana Gadis akan ditutup selama tujuh hari untuk ritual penyucian, dan kau dihukum kurungan di sini. Selir Mulia Shu juga bilang kalau kau tidak perlu menghadiri Festival Pertengahan Tahun setelah masa penyucian selesai. Kau mengerti, kan? Itu artinya kau harus terus mendekam di sini. Karena waktumu masih panjang——silakan, nikmati waktumu."

Begitu ia memuntahkan kata-kata kasar itu.

Ditinggalkan sendiri, Reirin menatap punggung mungil Lili yang beranjak pergi dengan gesit, lalu berbalik kembali menghadap ke arah gudang.

"...Saya, tinggal di sini?"

Akhirnya ia bergumam pelan.

"Di tempat yang sangat luar biasa ini...!"

Tangannya yang secara tidak sadar menekan dadanya, bergetar pelan.

Bukan karena kesedihan——melainkan karena kebahagiaan.

Ya, benar. Sejak tadi, gadis itu merasa bingung dengan "keberuntungan" yang tiba-tiba jatuh dari langit ini.

"Hamparan rumput liar sejauh mata memandang!"

Reirin berlari kegirangan, merentangkan kedua tangannya, lalu menerjang masuk ke dalam rerumputan yang rimbun.

Tekstur kasar dan kuat dari rerumputan. Betapa memuaskannya mencabut rerumputan ini! Tidak disangka ia akan langsung diberikan kesempatan untuk memanfaatkan stamina fisik "Shu Keigetsu" ini secara maksimal.

"Tanah yang subur!"

Lalu, menyingkap rerumputan, ia menyentuh tanah.

Tanahnya lembab dan menopang begitu banyak tanaman, mengingatkannya pada kekayaan bumi layaknya seorang ibu.

"Dan——Kebebasan!"

Terakhir, ia berbalik melihat ke belakang.

Tak ada seorang pun lagi di jalan setapak itu. Yang ada hanyalah alam hijau yang rimbun dan ruang privat(gudang) yang menjamin ketenangan total. Begitu melimpah ruah dan luar biasa, waktu bebas tanpa perlu diawasi siapa pun.

Kyaaa! Kyaaa! Apakah aku sungguhan boleh tinggal di sini!? Bebas menumbuhkan tanaman obat, bereksperimen, lalu tidur sesukanya! Apakah aku diizinkan untuk hidup tanpa ada yang mengkhawatirkan porsi makanku, memeriksa raut wajahku, atau orang-orang yang bergegas masuk setiap kali aku batuk!?

Ia menutupi mulut dengan kedua tangannya seraya melompat-lompat kegirangan di tempatnya.

"Ah...! Aku tak perlu menahan suaraku lagi, ya!"

Kemudian ia menyadarinya, dan melepaskan tangannya.

Meskipun Reirin adalah seorang gadis remaja pada umumnya yang memiliki emosi naik-turun seperti halnya manusia biasa, namun jika ia bersuara keras, para dayang istana akan khawatir. Dan jika ia terlalu bersemangat, ia bisa saja pingsan. Jadi, telah menjadi kebiasaan baginya untuk menekan semua emosi itu sebisa mungkin.

Namun, dengan tubuh sehat ini dan di lingkungan yang bebas dari pandangan mata orang lain.

"Aku sudah tidak perlu, menahannya lagi, kan..."

Reirin mendesah lega.

Ia merasa sangat bahagia dari lubuk hatinya, bisa menghabiskan waktu dengan bebas——dan yang paling penting, tanpa membuat khawatir siapa pun.

"...Ups, tidak boleh. Nona Keigetsu membenciku dan menukar tubuh kami berdua. Jika aku merasa senang karenanya, itu berarti aku terlalu menginjak-injak niatnya."

Sebagai seseorang yang pada dasarnya ingin memenuhi harapan orang lain, ia tersentak, dan menggelengkan kepalanya dengan sungguh-sungguh.

Namun——.

"Tapi... Ahh. Taman ini, semuanya adalah milikku... Ufufu."

Pada detik berikutnya, matanya terpikat oleh alam liar di sekitarnya, menangkup kedua pipinya dengan wajah penuh ekstase.

Klan Kou adalah suku yang berasal dari bumi. Orang-orang yang bangga bisa berdiri dengan kaki mereka sendiri, dan mencintai rintangan.

Meskipun dalam hatinya Reirin mengatakan "Tidak boleh" dan menyadari "Bukan saatnya untuk bersenang-senang"——lingkungan di depannya terasa seperti sebuah kotak harta karun yang bersinar terang baginya.

Shin-u mengerutkan kening pada jalan setapak yang menjadi semakin suram semakin jauh mereka masuk.

(Di Istana Shuku yang memuja api cemerlang pun, rupanya ada tempat yang begitu suram, ya.)

Matanya menyipit saat melihat taman yang semakin tak terawat seiring menjauhnya mereka dari kamar Selir Mulia Shu.

Kini ia, ditemani hanya oleh kasim kepercayaannya, Bunkou, tengah berkunjung ke Istana Shuku untuk melakukan pemeriksaan.

Penghakiman Singa merupakan ritual yang sangat ketat, dan keputusannya bersifat mutlak. Shu Keigetsu, yang telah dinyatakan tidak bersalah, seharusnya diperlakukan setara dengan Gadis lainnya, dan main hakim sendiri sama sekali tidak diperbolehkan. Sebagai penjaga kedisiplinan pelataran dalam, Shin-u pergi ke tempat ini untuk memastikan tidak ada hukuman berlebihan yang dijatuhkan kepadanya.

"Tak perlu cemas, Tuan Kapten, di antara keempat selir, Selir Mulia Shu terkenal sebagai orang yang lembut dan baik hati. Lagipula, beliau jugalah yang mengangkat Shu Keigetsu sebagai Gadisnya. Jadi... bisakah kita berhenti memakai Segel Elang sembarangan untuk masuk ke istana selir tanpa izin?"

Kasim dan selir tidak selalu memiliki hubungan yang baik; terkadang mereka bersekongkol, lalu di saat berikutnya mereka saling menjelekkan dan menjegal satu sama lain hanya karena kesalahan kecil.

Di tengah situasi seperti itu, Bunkou takut akan pertikaian dengan Selir Mulia Shu—yang merupakan kaum moderat di antara keempat selir dan cukup jinak terhadap para kasim—dan merengek.

"Tapi kelembutan juga menandakan lemahnya kendali. Meskipun Selir Mulia Shu tidak menginginkannya, bukan tidak mungkin para dayang istana akan bertindak sembarangan."

"Kalau terjadi ya baru kita urus. Lagian, Tuan Kapten, sejak kapan Anda serajin ini? Tolong cepat kembali jadi Kapten seperti biasanya dong yang selalu kejam, ceroboh, dan menganggap segala hal di dunia ini membosankan."

"...Oh. Jadi begitu ya caramu melihatku selama ini."

"Tuh! Tuh, lihat! Tatapan melihat sampah itu! Tolong kerahkan juga tatapan itu untuk pekerjaan Anda dong."

Shin-u menatap rendah dengan dingin, tapi kasim bertubuh mungil itu berpura-pura menangis "Huhu" dan tidak berniat meralat ucapannya.

Bunkou mungkin mudah terbawa suasana dan cepat mencari jalan keluar yang santai, namun sebenarnya ia adalah orang yang cerdas dan kompeten. Shin-u menghela napas seraya membiarkannya, lalu mengalihkan perhatiannya kembali pada jalan di depannya.

Hamparan batu kerikil putih secara perlahan memudar, dan jalanan semakin dipenuhi rumput liar. Dengan rerumputan yang menjorok di kedua sisi, mereka berjalan melewati jalan sempit yang menyulitkan pergerakan, dan tak lama kemudian, sekelompok pepohonan yang sangat lebat serta sebuah bangunan gudang yang dinding plesterannya telah mengelupas, mulai terlihat di depan mata.

"...Benarkah ada orang yang membuang seorang Gadis di tempat seperti ini?"

"Kesaksian dari dayang istana yang ditunjukkan Segel Elang menyatakan begitu. Eumm, apa ini perhitungan matang supaya dia bisa mendapat belas kasihan dengan sengaja membuat orang lain melihat kondisinya yang menyedihkan, atau karena para dayang yang terkenal sangat membenci Shu Keigetsu tiba-tiba menunjukkan taringnya begitu mangsanya lemah, ya."

"Apapun alasannya, ini terlalu berlebihan."

Meskipun masih ada cahaya yang masuk tidak seperti di penjara bawah tanah, bangunan itu hampir seluruhnya melapuk. Tanahnya lembap, dan saat Shin-u melihat serangga merayap perlahan tepat di sebelah sepatunya, tanpa sadar ia menginjak dan meremukkannya.

Rerumputan liar dan serangga. Dan melihat dari warna dinding yang menjijikkan itu, kemungkinan besar ada berbagai macam jenis jamur juga.

Sama sekali bukan lingkungan yang pantas dihuni oleh seorang wanita bangsawan.

Di dekat gudang, mungkin untuk menyambut kedatangan Shu Keigetsu, seorang wanita yang tampaknya adalah dayang istana berdiri membelakangi mereka, sibuk mencabut rumput liar, namun sepertinya hanya dia seorang diri yang melakukannya.

Duduk sendirian di rerumputan lebat, dengan keringat tipis membasahi punggung kurusnya, sesekali menyeka dahi... Pemandangan itu bahkan membuat Shin-u yang dikenal berdarah dingin pun mengernyitkan alisnya.

"Shu Keigetsu bukanlah penjahat. Dan ini bukanlah tempat yang pantas ditinggali manusia normal."

"Hmm."

Berbeda dengan Shin-u yang meneteskan belas kasihan, bibir Bunkou justru menyunggingkan senyum sinis sambil mengangkat bahu.

"Tuan Kapten tampaknya sangat bersimpati pada Shu Keigetsu, tapi yah, mau bagaimana lagi, kan?"

"Apa maksudmu?"

"Jujur saja, melihat pemandangan ini, saya lebih merasa kesal daripada kasihan."

Mata Bunkou yang setajam rubah itu menyimpan emosi yang dingin.

"Shu Keigetsu memang sudah dibebaskan dari tuduhan mendorong Nona Reirin, tapi bukan berarti semua kesalahannya yang lain dimaafkan begitu saja. Dia itu bodoh, sombong, dan tak pernah ragu menyiksa orang yang lebih lemah darinya. Dengan berlindung di balik aturan konyol bahwa kasim dilarang melukai Gadis... Anda tidak tahu, kan, seberapa besar penderitaan yang rekan-rekan saya rasakan karena difitnah atau dihukum olehnya?"

Ucapnya penuh amarah seraya menunjuk gadis yang sedang mencabuti rumput itu.

"Dan sekarang, gadis itu dipaksa membayar konsekuensi atas kebodohan majikannya. Sementara orang yang seharusnya dihukum kurungan, malah tidak kelihatan batang hidungnya. Saya berani bertaruh, mungkin saat ini dia sedang menjerit-jerit di kamarnya dan tidak mau keluar."

Dibandingkan Shin-u yang baru bertugas selama setengah tahun dengan gelar Kapten Mata Elang, Bunkou, yang hanyalah seorang kasim biasa dengan masa kerja yang lebih panjang, tampaknya memendam dendam yang mendalam pada Shu Keigetsu.

Namun, omelan Bunkou yang selanjutnya tiba-tiba terpotong.

"Biarkan saja dia. Tak peduli seberapa disiksa, itu karena perbuatannya sendiri. Dan lagi, kalau dia sampai melihat Anda, dia pasti akan langsung memasang wajah cari muka dan terus menempel..."

"Ara, Tuan Kapten Mata Elang! Dan, Tuan Bunkou?"

Wanita yang tadi sedang asyik mencabuti rumput tiba-tiba berbalik dan membungkuk hormat sambil tersenyum ramah.

"Semoga hari Anda menyenangkan. Ada urusan apa gerangan sehingga Anda berdua berkunjung hari ini?"

Melihat wajahnya, Shin-u dan Bunkou sama-sama membelalakkan mata.

"——Shu Keigetsu!?"

"Eh? Bukan... Ah, iya, benar...?"

Wanita yang baru saja dipanggil namanya itu, entah kenapa mulutnya sedikit terbuka-tutup, kemudian mengangguk samar.

Dengan kulit yang dihiasi sedikit bintik-bintik, serta ujung mata yang menukik tajam. Di hadapan mereka, seorang wanita yang menutupi kepalanya dengan kain layaknya seorang petani, tak peduli berapa kali pun dilihat, itu benar-benar adalah sosok "Shu Keigetsu", membuat keduanya tak dapat menyembunyikan keguncangan mereka.

"Apa yang sebenarnya kau lakukan di sini...?"

"Eh? Tentu saja seperti yang Anda lihat, saya sedang mencabut rumput..."

"Mencabut rumput."

Jawaban yang keluar begitu natural itu tanpa sadar membuat Shin-u mengulanginya.

Menyadari tatapan penuh keheranan dari pria itu, Keigetsu mengangkat kedua tangannya layaknya sedang beralasan.

"Anu, karena saya disuruh tinggal di sini, saya berpikir untuk merapikan tempat ini agar saya bisa tinggal dengan nyaman."

"...Lalu di mana dayang istana pribadimu?"

"Ehumm... Benar, ya, dia sedang keluar ada urusan."

Mendengar pertanyaan Shin-u dengan nada rendah, wanita itu menjawab dengan tatapan yang sedikit menghindar. Dugaan yang tepat, sepertinya ia memang telah ditelantarkan oleh pelayannya.

"Shu Keigetsu. Apakah kau memiliki hal yang ingin kau sampaikan?"

"Eh."

Mata Elang merupakan instansi yang bertanggung jawab atas kedisiplinan pelataran dalam. Apabila perlakuan yang tidak wajar sedang terjadi, kini giliran Shu Keigetsu yang bisa menggugat pihak keluarga Shu. Saat Shin-u mendorongnya, entah kenapa wanita itu terlihat panik sembari memegang sebelah pipinya.

"H-hal yang ingin saya sampaikan, ya? Mmm... Ada, sih. Tapi, sayang sekali taman ini... saya harus mencabut rumputnya... Ah iya, sebentar lagi juga sudah sore, lagipula kita juga tidak harus melakukannya hari ini, kan?"

"Ini masih lepas tengah hari."

"Ah... Maksud saya, saya tidak ingin merepotkan Anda berdua yang sibuk dengan masalah sepele ini sekarang. L-lihatlah, saya juga berpenampilan seperti ini, jadi jika sekiranya saya diberikan kesempatan untuk mengobrol dengan Anda sekalian, izinkan saya menjamu Anda dengan secangkir teh di lain waktu saat hari sudah berganti!"

"Secangkir teh."

Mendengar ucapannya ini, Bunkou sampai tidak bisa berkata-kata.

Kalau untuk Kapten Mata Elang masih mending, tapi seorang Gadis yang berniat menjamu kasim dengan secangkir teh, mungkin hanya bidadari surgawi bernama Kou Reirin. Sangat tidak terduga mendengar perkataan tersebut keluar dari mulut Shu Keigetsu, seorang Gadis yang terkenal sebagai wanita jahat di Istana Gadis.

"Benar. Jadi, eum, dalam satu hari... eh, beberapa bulan... ah tidak tidak, berikan saya waktu beberapa hari, setelah itu akan saya kabari lagi. Apakah Anda mengizinkan?"

"...Ya."

Meski Shin-u merasa wanita itu menyebutkan satuan waktu yang salah di pertengahan bicaranya, Shin-u tidak punya pilihan lain selain mengangguk setuju karena nada memohon yang begitu jelas.

Dari sudut pandang orang luar, diusir ke bangunan bobrok dan ditinggalkan oleh dayang pribadinya merupakan sebuah kondisi yang sangat mengenaskan. Namun, karena orang yang bersangkutan sama sekali tidak meminta bantuan, Shin-u juga tak memiliki alasan untuk bertindak lebih jauh.

"Baiklah kalau begitu, sungguh tidak enak rasanya menahan Anda berdua lebih lama, jadi saya permisi dulu dan——"

"Tunggu."

Gadis itu segera mencoba untuk mengakhiri pembicaraan, namun Shin-u langsung mencegahnya.

"Ya?"

Saat wanita itu mengerjapkan mata, Shin-u dan Bunkou saling pandang.

Shu Keigetsu, orang yang selalu bersikap manis dan suka merayu tiap kali bertemu dengan orang yang memiliki posisi lebih tinggi, dan suka mengeluh keras-keras atas kesialan yang menimpanya.

Dan sekarang, dia berusaha mengusir Kapten Mata Elang yang rela meluangkan waktunya berkunjung kemari, itu benar-benar sangat tidak terduga.

"Itu... Anu. Apa ada sesuatu, yang sekiranya kau perlukan?"

"Sesuatu yang sekiranya saya perlukan?"

Wanita yang kedua pipi putihnya dipenuhi lumpur itu memiringkan kepalanya seolah baru saja mendengar kata yang tak terduga.

"Tidak, meminjam kekuatan Anda sekalian hanya akan menghilangkan sensasinya..."

"Sensasinya?"

"Saya salah bicara. Maksud saya, sungguh tidak sopan apabila saya sampai harus meminjam bantuan dari Anda."

Melihat kerutan curiga di dahi Shin-u, wanita itu menggeleng kuat-kuat dengan raut wajah kaku.

Pernyataan yang cukup bijaksana itu sama sekali tidak terdengar seperti ucapan yang akan keluar dari mulut Shu Keigetsu. Keduanya kembali saling pandang.

"Namun... jika saya boleh tak tahu malu dan mengandalkan kebaikan Anda."

Gadis itu tiba-tiba menawarkan sebuah permintaan dengan ragu-ragu.

Melihat tatapannya yang mengarah ke atas seolah sedang merayu, Bunkou memberikan lirikan penuh arti kepada Shin-u, yang bisa diartikan sebagai "Tuh kan, benar."

Sudah dia duga, serangkaian sikap patuh itu hanyalah kepalsuan belaka.

Mengikis kebencian pada lawannya, dan setelahnya ia akan meminta dayang istana, uang, atau memohon mediasi kepada Selir Mulia Shu——.

"Bolehkah saya meminta garam?"

"Garam?"

"Benar. Saya sangat beruntung karena tampaknya saya akan bisa menampung air hujan dan menemukan umbi-umbian di sini, tapi untuk memurnikan garam, rasanya agak mustahil kalau hanya dalam sehari semalam..."

Kali ini giliran Shin-u dan Bunkou yang kehabisan kata-kata.

Wanita yang merupakan simbol arogansi dan kemalasan yang ada di hadapan mereka saat ini, sebenarnya apa yang mau ia lakukan?

"...Garam dan minyak bumi, sumber api serta tempayan air, biasanya diberikan pada penjahat yang diasingkan. Mustahil benda-benda tersebut tidak diberikan kepada Anda yang tidak bersalah dan seorang Gadis."

"Eh! Semudah itukah mendapatkannya!?"

Bunkou menjawab singkat, dan wanita tersebut menutup mulutnya terkejut.

Mendengar reaksi bahwa diasingkan pun disebut "sangat mudah" olehnya, membuat Bunkou langsung menoleh ke arah Shin-u dan berbisik secara sembunyi-sembunyi padanya.

"...Ini benar-benar Shu Keigetsu, kan?"

"Sebenarnya, sedari pagi aku juga memikirkan hal yang sama."

Shin-u mengangguk misterius, sedikit menyipitkan matanya.

"Tidakkah kau merasa bahwa dia memiliki ketenangan dan kesopanan yang mirip dengan Kou Reirin?"

"Tolong jangan bercanda dengan muka seserius itu! Sang Kupu-Kupu Yang Mulia, Nona Reirin yang lembut dan rapuh mana mungkin memiliki pikiran sekasar membuat garam!"

Komentar yang tepat sasaran itu segera disangkal oleh Bunkou, yang sangat mengagumi Reirin.

Kenyataannya, karena Shin-u juga tak pernah membayangkan bahwa "Sang Kupu-kupu Yang Mulia" yang rapuh dan pendiam itu akan menunjukkan tingkah yang begitu tegar dan tidak biasa, ia langsung menarik kembali ucapannya.

"Kau benar. Dia juga mengaku bahwa dirinya berbeda dari sebelumnya. Kemungkinan, dia kehilangan akal sehat di penjara, atau merenungkan kesalahannya dengan sungguh-sungguh."

"Penjara bawah tanah benar-benar sehebat itu ya...?"

Bunkou bergumam pelan seraya menatap wanita bertudung petani di depannya dengan penuh waspada.

Melihat sikap bawahannya, yang selalu sinis kini benar-benar kehilangan taringnya, ujung bibir Shin-u tanpa sadar terangkat.

(Entah mengapa setiap berurusan dengan Shu Keigetsu, hal-hal lucu selalu terjadi.)

Dengan demikian ia baru saja mendapatkan poin langka atas kemenangan dari bawahannya yang pandai mengobrol itu.

"Nah, Bunkou. Ini merupakan keinginan dari Gadis yang sedang mencabuti rumput. Kau kalah taruhan hari ini, jadi pergilah membawakan garam, minyak, sebuah wadah air, serta sumber api untuknya."

Ucapnya.

Lili sangat frustasi.

(Sial. Sial, sial, sial!)

Bagaimana tidak, dia hanya butuh keranjang berisi bahan masakan, tetapi ia harus terus membungkuk selama kurang lebih setengah jam.

"Kumohon Kepala Juru Masak, aku akan memasaknya sendiri. Aku hanya minta jatah makanan milikku dan Nona Keigetsu, di atas keranjang ini, tak lebih dari itu."

"Tapi Lili. Meski kau bilang porsi untuk 2 orang, orang tersebut telah membawa rasa malu bagi klan Shu karena telah terjerumus ke dalam Penghakiman Singa, kau tahu? Meskipun ia adalah seorang Gadis, apa tidak masalah untuk menghitungnya sebagai 1 porsi saja? Jika tidak, kau hanya perlu porsi untuk dirimu seorang, tapi tidak mungkin dayang sepertimu memakan jatah Gadis yang kau layani, kan? Hasilnya, dengan kata lain satu bahan porsi pun sama sekali tidak dibutuhkan."

(Bukan gitu konsepnya!)

Kepala Juru Masak, seorang dayang istana senior yang bertanggung jawab atas hidangan dan masakan istana ini terus bersikap tidak jelas sedari tadi dan tidak menunjukkan niatan untuk memberikan makanan pada Lili sedikitpun. Dia juga merupakan salah satu orang yang dibentak dan didorong oleh Shu Keigetsu hingga memupuk perasaan benci padanya.

Namun pada saat yang bersamaan, ia juga menjauhi Lili karena merupakan keturunan seorang penari.

Jelas dari tatapan merendahkan di matanya bahwa pada kenyataannya Kepala Juru Masak tidak hanya enggan memberikan makanan kepada Keigetsu, tetapi juga kepada Lili.

(Sialan! Aku tahu ini akan terjadi saat aku diseret bersama wanita itu.)

Lili menggertakkan giginya erat dengan kepala yang menunduk dalam.

Penindasan terhadap dirinya telah dimulai sejak hari pertamanya datang sebagai dayang di Istana Gadis. Padahal seharusnya, Lili memakai pakaian berwarna merah timbal sebagai dayang menengah, tetapi yang diberikan padanya hanyalah pakaian oranye kemerahan tingkat rendah.

"Dayang istana kelas menengah ke atas terkadang harus berinteraksi dengan pejabat sipil di luar istana, tahu. Aku tidak akan membiarkan warga asing yang kata-katanya mungkin dipertanyakan yang merayu pria setiap kali melihatnya untuk menjadi wakil dari klan Shu."

Begitulah hinaan itu diucapkan.

(Ibuku bukan pelacur, ibuku penari luar biasa dengan sejuta bakat seni...!)

Ibu Lili berasal dari rombongan perjalanan keliling yang berkelana ke Kerajaan Ei, benua yang memiliki peradaban termegah. Ibunya pandai Tari Gasing dan menari layaknya kupu-kupu nan anggun, ibunya telah berhasil merebut hati seorang pria dari Klan Shu dengan tarian tersebut.

Akan tetapi, tak masuk akal apabila klan Shu membiarkan seorang warga asing menikahi seseorang dari lima klan terpandang, lantas ibunya pun hanya diakui sebagai gundik sang ayah dan tinggal di pinggiran ibu kota. Akan tetapi, istri sah sang ayah masih saja mendesak dengan melecehkan sang ibu, ibunya pun lalu meninggal tak lama setelah penderitaan itu. Ayah dari Lili begitu meratapi kematian ibunya dan tidak mengizinkan keluarga klan utamanya untuk merawat Lili, lantas Lili pun dikirim ke Istana Gadis sebagai dayang istana di bawah keluarga klan Shu.

Kediamannya di pinggiran ibu kota pun sudah disita, kalau dia berhasil melayani dengan baik selama 3 tahun, selama itu ia mendapat pangan yang layak, namun saat ini Lili telah membulatkan tekadnya untuk pergi ke Istana Gadis agar dapat bertahan hidup.

Namun apa yang terjadi padanya kini?

Keluarga klan Shu terkenal akan temperamen yang begitu meledak-ledak dan hanya Selir Mulia yang dikenal karena kelembutan dirinya, tapi entah apa itu karena kelemahan dirinya sehingga ia tidak mau mengecam segala penderitaan ini padahal ia tahu. Para Gadis begitu angkuh, dan dayang-dayangnya bersikap kurang ajar. Oleh karena itu, para wanita selalu mencari korban yang lebih lemah agar tidak menjadi sasaran mereka sendiri. Dan pada akhirnya yang menjadi korban adalah Lili.

(Aku tidak menjajakan tubuhku. Dan aku belum pernah sekalipun menggoda pria, aku adalah salah satu dari sekian banyak dayang di Kerajaan Ei ini...!)

Sebagai orang yang pekerja keras, Lili mengerahkan upaya maksimal agar dapat mempersiapkan diri melayani para anggota kerajaan. Kemampuan atletik ibunya telah membantunya untuk beradaptasi dengan cepat dan ia telah menuntaskan Buku Lima Klasik yang diberikan oleh sang ayah.

Akan tetapi, para wanita Istana Shuku ini terus menerus meledeknya "dasar jalang yang hanya bisa merayu pria" setiap kali mereka melihat surai merah yang dimilikinya dan belahan dadanya yang membusung tidak sesuai dengan usianya.

(Aku sangat kesal...)

Lili menyadari hanya ada musuh di sekitarnya saat ini. Kebanyakan dari perempuan tak berguna itu menertawakan penderitaan para pihak lemah dan mengolok sesuatu yang dianggap tidak masuk akal...

(Namun kini, aku harus mengamankan bahan masakan terlebih dahulu.)

Lili yang menjalani hidup susah di kota bawah tahu bahwa bahan makanan lebih penting dibanding sekadar harga diri.

Meskipun Lili menyentak dan mendamprat Keigetsu, kenyataannya tidak akan ada satu dayang pun yang akan memberikan sisa makanan padanya. Apabila ia tidak segera mendapatkannya, ia mungkin akan mati kelaparan, tidak peduli apakah ia berada di Istana Gadis atau Keigetsu sekalipun.

Sayangnya, doa keputusasaannya tak digubris, akhirnya sang Kepala Juru Masak pun pergi sambil berkata "Masih banyak yang harus kusiapkan untuk santap malam."

Lili terus meremas baju miliknya dan akhirnya menepis pikiran kasarnya itu.

"...Sialan."

Lili yang ditinggal sendirian di sebuah koridor pun menggumam pelan.

Tidak mungkin akan ada bala bantuan jika ia terus berada di Istana Shuku. Satu-satunya jalan adalah pergi ke istana klan lain dan berdoa memohon sedikit belas kasihan.

Dilihat dari kedekatannya dan karakteristik dari tetangga tersebut, ia rasa bertumpu pada Istana Kouki di wilayah barat cukup mumpuni, tetapi ia ragu rasanya klan Kou bersedia menolong dayang istana klan Shu di situasi seperti ini. Kalau begitu Istana Ranko di sebelah timur mungkin bisa.

Guna mencapai istana klan lain, sangat diwajibkan untuk berjalan melewati jalan di pusat menuju Istana Gadis. Menimbang bahwa pihak lain mungkin tidak menerima kedatangannya di dalam istana, "Sebaiknya lewat mana ya aku menyelinap." Batinnya mengeluh sembari berjalan menapaki koridor.

"Hei kamu."

Sejenak ketika ia hendak menginjakkan kakinya di dekat pintu masuk Istana Gadis, suara dari balik punggung menghentikannya.

Ia menoleh ke arah sumber suara, dan ia melihat seorang perempuan yang mengenakan pakaian berwarna sutra putih.

(Sutra putih... Untuk apa dayang istana tingkat atas dari Klan Kin berada di sini?)

Oleh karena perempuan itu menyembunyikan wajahnya di balik sebuah kipas bundar, identitasnya tidak dapat dikenali secara langsung, namun Lili yang sudah melihat seragam tinggi jabatannya dengan sigap segera berlutut di tanah.

"Adakah yang bisa hamba layani, Nyonya Besar Baju Sutra."

Meskipun ia tak mengetahui siapa orang yang ia panggil, sudah menjadi adat untuk memanggil mereka berdasarkan warna seragam yang dikenakan dan jabatannya.

Wanita berseragam putih ini hanya tertawa lembut di balik kipasnya.

"Aku akan memberitahukan niatanku memanggilmu sebelum senja tiba, hai Nona kecil, kamu ini, tertarik masuk ke Istana Kin, tidak?"

"Hah?"

Sebuah ajakan yang sama sekali tidak terpikirkan sebelumnya.

Selagi Lili terbungkam oleh keterkejutannya, lawan bicaranya itu perlahan menguraikan niatnya.

"Aku sudah mendengar hukuman apa yang akan dijalani oleh Shu Keigetsu, kamu, yang jadi pelayannya pasti ikut terseret, kan? Menjadi putri dari seorang penari bukanlah hal yang engkau inginkan... begitu pedih, rasanya. Nyonya saya tercinta, Kin Seika sangat prihatin mendengar kondisimu yang nahas."

Awalnya ia sangat sebal karena orang itu merendahkan martabat mendiang ibunya, namun tawaran itu begitu menggiurkan.

Melihat Lili yang tetap diam, wanita itu melanjutkannya dengan fasih.

"Jadi, dengan sebuah syarat aku akan memberikanmu seragam berwarna bulu tikus putih, kalau memang kau tidak memiliki sumpah setia pada klan Shu ini, iya kan?"

"Bulu tikus putih, Anda bilang...?"

Pakaian berwarna bulu tikus putih ini adalah lambang bahwa ia akan menjadi dayang istana tingkat menengah klan Kin. Sontak matanya pun membulat lebar mendengar tawaran yang begitu langka ini, dan tanpa basa-basi Lili pun mendesak ke pokok perbincangannya dan menanyainya berhati-hati.

"Lantas apa syarat tersebut, Nyonya?"

"Mudah saja, kau cukup menjadikan majikanmu, Shu Keigetsu bahan siksaan dan perundunganmu."

"Hah?"

Pernyataan yang tak terduga ini lagi-lagi membuat Lili menautkan alisnya. Kenapa seorang dayang dari klan lain malah ingin balas dendam seolah ingin membalaskan perlakuan buruk pada Kou Reirin?

Wanita itu tersenyum mencemooh padanya yang terlihat kebingungan, seraya mengeluarkan nada suaranya selembut rayuan kucing kepadanya yang tak dapat menangkap perkataannya "Baguslah kalau begitu,".

"Nona Kou Reirin merupakan 'Kupu-Kupu Yang Mulia'. Bahkan anak-anak pun dapat menyimpulkan seberapa sayangnya Yang Mulia padanya. Hanya saja, perilaku majikanmu yang mencelakai dirinya sungguh perilaku paling memalukan. Seandainya ia ingin memenangkan hati Yang Mulia, tentu yang terbaik ialah untuk meminta belas kasihan pada Nona Reirin, serta membuktikan kesetiaan padanya."

Oleh karena itu, cara ampuh untuk menghadirkan klan Kin pada pasukan garda depan Nona Reirin adalah dengan menindas Shu Keigetsu tanpa ampun.

Klan Kin sejak dulu melimpah ruah dalam mengelola hasil emas sesuai nama mereka, serta menjulang tinggi di dalam kancah perpolitikan Ekonomi Kerajaan Ei. Karena sudah berurat akar dalam dunia dagang, tak jarang dari mereka senang bersikap masuk akal dan praktikal.

Seluruh Gadis mengelukan kehebatan keterampilan sastra dan bela diri serta tubuh Gyoumei yang perkasa, namun bagi seorang Gadis dari keluarga klan Kin, pastinya, masuk akal dan bisa dimengerti dengan melakukan perhitungan matang demi mencabut kekuasaannya dan mengincar kedudukan kedua di Istana.

"Orang dari klan lain tak diizinkan memasuki Istana, dan Istana Gadis akan melakukan ruwat suci penangkal sihir selama sepekan penuh. Kita harus mendelegasikan ini pada salah seorang kerabat Shu Keigetsu dalam jangka waktu itu. Tapi—"

Wanita dalam balutan sutra putih itu tersenyum geli di balik rimbunnya kipas bundar,

"Bukankah sangat menjengkelkan jika dayang istana keluarga Shu beserta dayang Gadis klan lainnya mendapati kami dari pihak Kin lah yang memutarbalikkan situasi mereka setelah semua hal telah dipersiapkan?"

"...Apakah Kapten Mata Elang tidak akan bertindak kalau sampai terjadi sanksi berlebihan?"

"Kau mau omong kosong apa karena kaulah yang mendepak wanita gila itu ke gubuk kumuh. Nggak usah khawatir ya, kita bisa bungkam Kapten Mata Elang pakai kepingan uang receh, kok."

Niatnya itu begitu teguh.

Sambil menarik hiasan rambut, ditusukkannya benda tersebut pada Lili. Peniti berlapis perak serta sebuah permata mutiara besar bertakhta di sana. Sesuai konsep Lima Elemen, inilah jepit rambut klan Kin favorit yang dipuja sedari dulu.

"Namaku adalah Gayou dari pihak klan Kin, temui aku di lokasi dan waktu yang sama guna melaporkan keadaan Shu Keigetsu kepadaku sedari esok, dan sebagai kompensasinya kau akan menerima jepit rambut dariku. Lalu di hari ketujuhnya kuberikan gaun bulu tikus putih padamu."

Gayou menatap Lili yang tercenung seraya memberikan buntelan rami di saku lengan bajunya, "Mungkin kamu lebih suka sama yang satu ini," tanyanya.

Karung itu berisikan lebih dari 2 go (sekitar 300 gram) beras. Beras-beras di dalamnya begitu ranum dan putih jernih layaknya sutra putih bersih di bawah sinar terang mentari.

Perempuan tersebut terkekeh mengolok mendengar tegukan di ujung tenggorokan Lili, seraya meletakkan penitinya ke dalam karung sembari memaksa menyerahkannya pada Lili.

"Akan kuhidangkan dua porsi penuan esok hari, mau ambil atau tidak?"

"...Tentu saja."

Lili akhirnya mengambil buntelan itu.

Sambil berbalik badan ia tertawa penuh arti.

Lili merengkuh karungnya seraya menyaksikan rona perempuan yang telah lenyap di balik kemegahan Istana Gadis tersebut.

(Aku tidak melakukan kejahatan apa-apa...)

Sebab itulah jalan satu-satunya agar dapat menyambung nyawanya.

Omong-omong perihal perlakuan keji yang didapat Shu Keigetsu, para pengabdi klan Shu senantiasa melancarkan ini padanya meski tanpa diberi titah. Dirinya yang enggan memberi secercah pertolongan padanya pun bersikap sama, karena itulah Lili juga telah mengabaikan dan berhenti merawat perempuan satu itu. Baginya merundung perempuan tersebut setiap hari dan melaporkan kejahatannya bak obrolan di sore hari pada perawat dari pihak lain bukanlah apa-apa. Jikalau ada sebuah kompensasi seragam pelayan abu putih demi lepas dari kutukan Istana Shuku ini kenapa tidak?

Lili terengah guna membuang secuil rasa empatinya seraya tergesa-gesa berlari menuju rute jalannya sebelumnya.

Senja akan segera menyingsing, ia harus cepat-cepat memasak berasnya sebelum hari mulai petang.

(Wah aku sangat hoki tahu gimana cara memantik api sendirian, si wanita gila itu, mungkin sekarang sudah dibekap rumput liar dan dimakan kutu-kutu gatal sembari menangis histeris.)

Ucapnya di dalam benaknya penuh cemooh. Ia juga teringat dengan ucapan wanita itu bahwa tatapannya amat sangat buruk sembari didepak keluar menyusuri taman di musim dingin.

Cih, aku sangat puas rasanya jika nasi ini telah dimasak dengan sempurna lalu dilahap persis pada netranya. Coba suruh dia mendaratkan kepalanya di tanah sembari meminta maaf nanti barang sepotong baginya saja sudah lebih dari cukup.

"Tuh kan benar, kumpulkan seluruh dendam agar kupersembahkan jeritan yang sangat luar biasa ini demi mereka,"

Lili segera bergegas menuju gubuk reyot sembari menghunjam asa...

"Loh, ah sudah pulang! Lili ternyata sudah kembali, ya!"

Dugaan Lili buyar tidak berbekas semenjak kedatangannya pada menit pertama.

Tentu saja dikarenakan, harusnya wanita tersebut dirundung putus asa terhadap semak blukar dan gubuk reyot namun rupanya wanita itu menyapanya sembari tersenyum manis melepas topi petani yang digunakan.

"...Hah?"

"Aku sudah menuntaskan rebusan talasnya. Tambahannya ada di situ, aku juga menumis bunga lobak di situ yuk kita makan selagi hidangannya hangat."

"Hah!?"

Mengapa gerangan, Shu Keigetsu, yang semestinya tersedu-sedu, justru memamerkan kelihaiannya di meja makan?

"Lihat ini! Lihatlah sebentar Lili sayang! Lahan taman yang kita urus ini, sudah rapi separuh lebih lho."

Padahal tadi taman pekarangannya begitu berantakan di pagi hari, kini setengah dari tanaman liar telah dicabuti bersih.

Lebih parahnya lagi, pepohonan telah ditebang, serta potongan kayunya berderet berdasarkan proporsinya, serta tanah digarap layaknya lereng bukit kecil di perbukitan.

Wanita di sampingnya itu menepuk dada berbangga diri sembari menggamit jemari Lili ke perbukitan garapannya.

"Coba perhatikan Lili sayang, dikarenakan lahan ini tumpang tindih dari beragam spesies bibit dan anakan, jadi kutata menurut familinya dengan teliti lho. Nih coba perhatikan, dari ujung kirinya kutanam ketela, lalu kucai, kemudian labu dan sebelah sananya kutanam bunga lobak—"

"A-, ada apa sih denganmu ini!"

Lili serta merta mengibaskan genggaman lengannya seraya menyentak.

"Hey kau tunggu dulu sebentar! Sedang ada acara apa ini tiba-tiba begini?!"

"Hah?"

"Gimana bisa ketela dan labu keluar dari semak reyot ini! A-apa kau pakai ilmu sihir, hah!"

"Ya ampun Lili, mana mungkin sih aku menggunakan seni Tao semacam itu."

Meskipun menyangkalnya, dia meluncurkan senyum cekikikan, tersirat gelak tawa yang menghibur.

Lili melongo di kala rentetan cacian dan jeritan perempuan yang senantiasa menodai asanya itu, dan di kala tawa merdu seorang gadis mungil mekar penuh daya tarik dan bersemayam di depan matanya.

"Hanya secuil, sehelai keajaiban menaungi nasibku Lili lho sayang. Tempat ini lumbung persediaan pangan kan dulunya? Dikarenakan bibit dan benih yang ditelantarkan di tanah ini bisa subur lantaran kelembapan tanah yang memadai dan rona mentari yang melimpah, makanya tunas-tunasnya menampakkan diri diam-diam dari bumi lho."

"Hah!?"

"Ini sungguh-sungguh terjadi Lili sayang lho, benar-benar sepercik keajaiban dengan daya tahan benihnya... Bisa dibilang letaknya ini berbatasan langsung sama Istana Ranko lho sayang yang membawahi perkayuan, jadi kemungkinan ada sari pati dari tanaman dan tumbuhan lho! Semacam Eden yang indah lho sayang."

Lili menatap kawan perempuannya itu dengan takjub, melihatnya jongkok lalu menepuk-nepuk tanah tercinta tanpa hirau pada noda kotoran yang hinggap pada pakainya.

Lili tercengang-cengang seakan kehilangan kata-kata.

"Yang bener saja... kan semua sudah tahu kalau area ini dihuni dengan serangga dan bakteri menakutkan—"

"Tepat sekali lho! Bakterilah pelakunya Lili sayang lho! Bakteri Ustilago esculenta memberikan anugerah besar dan memberkatiku lho—"

Wajah kawan tersebut kian terlukis kecerahan, seketika ia meronta di sekitar kolam lumpur yang licin. Gadis itu kembali bersama gulma hijau bertangkai gemuk dalam satu rengkuhan tangannya.

"Mendekatlah Lili sayang lho! Lihatlah lho sayang, padi liar ini telah matang dengan paripurnanya menjadi padi-padian! Ini benar-benar menguntungkan, ya, bisa disantap langsung maupun dicelup ke tinta kosmetik, ya. Nah, kebetulan lho! Biar kumasakkan juga hari ini, lho."

Ini kali pertamanya bagi Lili tahu tentang bibit tertentu dari suatu gulma yang dijangkiti oleh sel Ustilago esculenta sanggup dimutasi jadi vegetasi dengan rasa yang mirip rebung lho. Sebagai penduduk kota bawah lho, kemampuan bertahan hidupnya patut diacungi jempol meskipun ia tak punya kapabilitas merawat dan memanen kebun sayuran itu sebelumnya.

"A-... i-... u..."

"Haha. Sayang sekali kesempatanku buat praktikkan ilmu menimbun yang kudapatkan cuma dari baca-baca doang di buku, lho. Begitu memuaskan, ini... oh tenaga yang menggebu-gebu..."

Iris netra perempuan tersebut mengilap, berbeda hal dengan ekspresinya yang selalu tertekuk saat ini ia senantiasa memberikan senyuman nakal, selagi ia periksa tangannya dari dekat dengan rasa bahagia.

Lantas, seperti menyadari sesuatu,

"Talas goreng!"

Sejenak ia melonjak seraya menatap ke hadapan Lili sembari berderu panik.

"Sini sini lho sayang. Ah mumpung hidangannya selagi hangat, nanti dingin talas gorengnya lho. Ini memang di luar akal sehat sih lho sayang karena aku melumuri talas dengan begitu gempita serta membedakinya pakai taburan garam semaunya yang aku impikan sejak dahulu dan memasukkannya rakus-rakus ke mulut. Nggak usah cemasin dada terasa begah. Yuhu, Lili sayang lho! Ayo impian kita bakal kesampaian!"

Sebuah tangan kokoh merengkuh lengannya mesra, tapi dari palung sanubarinya Lili belum mendapati akal bagaimana harus membalas.

"Terus, lalu bagaimana rencanamu mengangkut sekian bongkahan garam dan minyak dari tempat ini, hah...?"

"Aku dikasih lengkap bersama gerabah lho dari Kapten Mata Elang yang tampan rupawan. Untuk saat ini tidak mungkin bagiku guna memelas sejenak menaburi masakanku kalau dirasa perlu seandainya saja ada tangisan air mata dalam bumbu yang telah kusediakan namun... Ini memang sudah tekatku membalutnya bersama bumbu yang melimpah ruah sedari dahulu, alhasil perhitunganku sama sekali nggak nihil toh sayang."

"Gagasan konyol macam apa itu! Dari mananya hal menakjubkan itu kamu dapatkan!?"

Lili sontak melolong keras, kesulitan untuk menerka alur berpikir si perempuan yang begitu tak terduga dengan bumbunya.

Sulit bagi otaknya mencerna bahwa perempuan yang meronta itu lho adalah Shu Keigetsu.

(Ya Tuhan... apaan yang masuk dari diri orang satu ini, dia kok jadi layaknya berbeda sama sekali...)

Mungkin dirinya didera histeria, dirasuki makhluk astral di pelataran ini atau dirinya tengah berhalusinasi ria. Jika diperhitungkan lagi sih tidak akan terjadi karena energi yang dikerahkan saat itu rasanya lebih mengindikasikan poin yang terakhir. Terutama setelah disekap pada ruangan tersembunyi yang bahkan akal sehat saja sanggup pupus di selang beberapa jam bagi sebagian orang mungkin inilah alasan utamanya mengapa nalarnya putus.

"Kamu ini, bener-bener Shu Keigetsu, iya kan...? Kalau ada sesuatu yang kamu rencanakan diam-diam, sebaiknya kamu blak-blakan sekarang sebelum kena getahnya."

Menindaklanjuti ketegasannya untuk memastikan diri, perempuan di depannya menatap enggan dan memalingkan pandangannya dengan janggal lho.

"...Duhai Tuhan Alam Semesta ini. Kumohon hapuskan dosa lho atas keegoisanku dikarenakan aku ini menolak belas kasihan-Mu yang sudah ada tapi malah pengin sekali gigit sepotong goreng ketela ini lho."

Lalu merapal lho suatu ucapan tak berwujud dan menggumam dalam hening di kepalanya.

"Apa barusan bilang? Coba ulang—"

"Saat di malam Festival Tujuh Ganda lho berakhir dengan malapetaka, dari malam tersebut diriku menetas sebagai orang baru lho. Mungkin cuman segelintir informasi yang dapat kuucapkan untuk kau dengar di hari ini lho sayang."

Di saat Lili mengulurkan tangannya lho sembari melanjutkan lilitan selidiknya si wanita ini menyodorkan gorengan ketela ke ujung mulutnya dengan cekatan.

"Lihat ini, ya, Lili lho sayang. Aaaa"

"Afhuuuuh!"

Bongkahan ketela sebesar suapan itu sungguh begitu membakar mulut karena masih mendidih usai dari penggorengan lho. Sensasi renyah lapisan luarnya lho serta kehangatan empuk dari bongkahan ketela lho menyebar di rongga mulut saat menggerutunya pada gigitan awal lho. Rasa asin sekelebat menyerbu lidah dan gurihnya yang berkolaborasi padu pada tiap irisan kentang ini dan tanpa sadar Lili membelalakkan pupil lho.

"Aaaaghhhhh! Rr-rasanya gak main-main... ! Luar biasa lho ini dari yang kuprediksi... !"

Perempuan lho itu juga menghabiskan segigit ketela saat ia lho menggoyangkan tubuh gembira pada pipinya.

"Ya Tuhan betapa beruntung dan nikmatnya aku lho... Meski terengah-engah dalam wangi minyak saja aku tidak tersedak dan merasakan sesak dada lho sayang! Betapa tak terhingga kunyahan dan gigitan lho yang bisa kupenuhi... ! Belum, ini baru bisa lho dinikmati! Aku bisa menikmati ketela gorengku lho tercinta!"

Perempuan itu tampaknya benar-benar sangat menikmati makanan kesukaannya.

Lili melongo mengamati kawannya ini, perempuan merona dengan lelehan kristal di mata yang tak terbilang banyaknya menyetujui ucapan Lili tersebut.

(Lantas... fenomena gaib macam mana ini...)

Sampai kapanpun, kejanggalan dari musibah Shu Keigetsu ini mungkin tidak akan tertuntaskan.

Mungkin hanya ada segelintir kenyataan yang patut diandalkan bagi dia, hanyalah—.

(Apa iya... Sanggup nggak sih diriku bikin dia nangis pilu...?)

Sesimpel perintah dari perempuan sutra suci itu yang nampaknya dirasa mustahil guna menyiksa dan menaklukkan perempuan satu ini lho sayang.

"Kita bakal menggoreng kembang lobaknya lho nih sekarang! Nah Lili lho sayang bersemangatlah dong bersuara lho!"

Nasi dingin dan lauk yang tersaji di bawah heningnya hamparan rerumputan seolah meratapi kehampaannya sembari menghirup uap air tanpa ada satupun yang dapat dinikmati bersama.