Featured Image

Tenten Kakumei V1 Prolog

Metoya Februari 13, 2026 Komentar
Metoya Translation
UPDATE TERBARU

Prolog


Kisah yang akan diceritakan mulai dari sini adalah tentang seorang putri dari suatu kerajaan. Sebuah kisah yang bermula ketika sang putri, yang mengagumi sihir, mendapatkan kembali ingatan kehidupan masa lalunya. Terkadang ia merepotkan orang lain, terkadang ia memikat mereka, sembari terus mengejar daya tarik dan kebenaran dari sihir. Inilah awal dari kisah semacam itu.

    * * *

Aku hanya menyukai kata "sihir". Karena sihir bisa membuat seseorang bahagia dan tersenyum. Aku mencintai keberadaan sihir itu sendiri. Justru karena itu adalah sesuatu yang selamanya tak tergapai dan tak bisa diwujudkan. Andai saja harapanku bisa terkabul, aku yakin aku ingin menjadi seorang penyihir. Tiba-tiba, karena suatu kejadian yang tak terduga, aku teringat akan "ingatan kehidupan masa lalu" tersebut. Namaku Anisphia Wynn Palettia. Putri pertama Kerajaan Palettia. Usiaku lima tahun, dan saat itu aku sedang menatap langit dengan tatapan kosong. Padahal kalau ada sihir, aku bisa terbang ke langit. Entah mengapa aku memikirkan hal itu, dan tepat pada saat itulah kejadiannya. Kenapa ya aku berpikir seperti itu? Saat memikirkan pertanyaan itu, ingatanku memulihkan kehidupan masa laluku, seolah teringat akan sesuatu yang telah lama terlupakan. Rasanya seperti kepingan-kepingan teka-teki yang saling menyatu. Seolah-olah aku menemukan sesuatu yang hilang dari keberadaan diriku sendiri. Mulai hari ini, aku menghadapi titik balik dalam hidupku. Ingatan kehidupan masa lalu yang bangkit kembali ini mau tidak mau harus kukatakan sangatlah ajaib. Pesawat terbang yang melintasi langit, jalanan yang dilapisi aspal, mobil-mobil yang melaju di jalanan tersebut, dan produk-produk peradaban lainnya yang merupakan hal biasa di kehidupan masa laluku, terlintas di benakku satu per satu. Bagi diriku, itu semua hanyalah sesuatu yang tak dikenal. Di dunia tempatku hidup sekarang, tidak ada pesawat terbang maupun mobil. Yang terbang di langit adalah burung dan monster, jalanannya pun tidak terbuat dari aspal, dan yang melaju bukanlah mobil melainkan kereta kuda. Bangsawan dulunya hanyalah keberadaan di dalam dongeng, tetapi kini aku adalah seorang putri dari keluarga kerajaan. Kemudian, aku memikirkan kembali ingatan yang muncul ke permukaan itu dan menghela napas.

"……Gawat juga,"

Aku benar-benar merasa gawat sampai-sampai mengucapkannya. Soalnya, sejak ingatan kehidupan masa laluku bangkit, pola pikir dan nilai-nilaiku menjadi lebih kental terpengaruh oleh kehidupan masa laluku dibandingkan dengan apa yang kubangun selama tumbuh sebagai "Anisphia". Kewajiban sebagai anggota kerajaan, atau kebanggaan sebagai bangsawan. Secara pengetahuan, aku memilikinya. Namun, rasa empatiku terhadap hal-hal itu memudar. Karena di kehidupan masa laluku, dunia tetap berputar meskipun tidak ada bangsawan. Jika aku berpikir seperti itu, rasa janggalnya menjadi sangat kuat dan tidak sejalan dengan diriku yang dibesarkan sebagai anggota kerajaan. Aku tahu bahwa yang aneh adalah diriku sendiri. Akan tetapi, diriku yang berpikir seperti inilah yang merupakan wujud yang benar bagiku, sehingga aku tidak ingin mengubahnya. Jika sudah begini, bangkitnya ingatan masa lalu sama sekali tidak ada bagus-bagusnya.

"Yah, biarlah!"

Aku berhenti memikirkannya dalam-dalam. Lagipula, aku baru berusia lima tahun. Nilai-nilai kehidupan bisa berubah tergantung waktu dan keadaan, serta berdasarkan pengalaman. Mungkin, semuanya akan baik-baik saja. Saat menengok ke belakang nanti, aku pasti akan berpikir bahwa diriku saat ini sangat optimis. Diriku yang optimis itu mengalihkan perhatian dari masalah yang akan datang, dan lebih berfokus untuk mewujudkan keinginan yang seolah sudah di depan mata.

"Benar, karena di dunia ini ada 'sihir'!"

Di dunia ini, sihir bukanlah sekadar mantra dalam dongeng atau semacam khayalan, melainkan sesuatu yang benar-benar ada di dunia nyata. Orang yang mengendalikan api, orang yang mengendalikan air, orang yang mengendalikan angin, orang yang mengendalikan tanah. Aku tidak tahu logika maupun teorinya. Meski begitu, pemandangan yang tertinggal jelas dalam ingatanku itu telah merebut hatiku dan tak mau melepaskannya. Jika bisa menggunakan sihir, mungkin aku juga bisa terbang ke langit. Seandainya ada sihir seperti itu. Sekalinya berpikir, aku tak bisa berhenti. Imajinasiku melambung, dan dadaku berdebar kencang.

"Lebih cepat lebih baik."

Aku mengepalkan tangan sambil membulatkan tekad, lalu melesat keluar kamar dengan penuh semangat. Saat aku berlari kencang menyusuri lorong kastil kerajaan, aku berpapasan dengan para pelayan wanita di tikungan. Aku mengangguk pelan dan mencoba menerobos melewati mereka begitu saja.

"P-Putri!? Anda tidak boleh berlari di lorong!?"

Aku dihentikan dengan cara dipeluk dari belakang. Aku dengan mudah tertangkap dalam dekapan pelayan itu, lalu mencoba meronta-ronta dengan menggerakkan kakiku. Tapi yah, bagaimanapun juga ini hanyalah tenaga anak kecil. Jika pelayan itu mengerahkan tenaga agar tidak melepaskanku, tentu saja aku tidak bisa kabur. Aku menyerah dan melemaskan tubuh. Saat aku menoleh ke belakang, aku menyadari bahwa dia adalah pelayan yang kukenal.

"Oh, Ilia. Maaf, aku sedang buru-buru." "Walaupun begitu, berlari-lari di dalam kastil adalah perbuatan yang tidak pantas." "Uuuh, menyebalkan..."

Karena sepertinya mustahil untuk melarikan diri, aku segera menyerah. Melihat aku sudah tidak melawan, Ilia menurunkanku. Dia kemudian berjongkok untuk menyamakan pandangan matanya denganku.

"Tiba-tiba ada apa, Putri?" "Aku mau memohon langsung pada Ayahanda!" "M-Memohon langsung...?" "Aku mau memohon langsung agar bisa belajar sihir!" "...Haa, sihir?"

Melihatku yang berbicara sambil membusungkan dada, ekspresi Ilia berubah menjadi bingung, seolah ingin mengatakan, "Kenapa lagi ini."

"Ilia, aku ingin menggunakan sihir." "Memiliki keinginan adalah hal yang bagus. Namun, mengapa tiba-tiba ingin belajar sihir?" "Karena aku ingin terbang ke langit!" "Ya?" "Terbang ke langit!" "Dengan sihir?" "Pokoknya terbang!"

Ilia memasang wajah seolah berkata, "Apa sih yang sedang dibicarakan anak ini." Menurutku itu wajar saja. Karena sejauh yang kutahu, belum pernah ada preseden tentang seseorang yang ingin terbang ke langit menggunakan sihir.

"Itu hanyalah salah satu hal yang ingin kulakukan, yang penting aku bisa menggunakan sihir. Aku ingin bisa menggunakan sihir untuk menghukum orang jahat, atau menggunakannya demi rakyat." "Wah, wah. Impian yang sangat luar biasa. Namun, Yang Mulia juga sedang sibuk. Nanti akan saya sampaikan pada beliau, jadi bersediakah Anda untuk kembali ke kamar?" "Muu, mau bagaimana lagi. Demi Ilia, kali ini aku batal memohon langsung!" "Terima kasih, Putri."

Ilia mengelus dadanya lega karena hal ini tidak menjadi masalah yang merepotkan. Dadanya montok. Kalau dilihat baik-baik, wajahnya juga cantik dan proporsional. Apakah dia wanita cantik yang menarik perhatian karena dia pelayan yang mengabdi di kastil kerajaan? Nah, tidak ada yang bisa kulakukan setelah dibawa kembali ke kamar. Meski aku menelusuri ingatan sebagai Anisphia, semua pelajaranku hari ini sudah selesai. Kalau begitu, aku memutuskan untuk menggeledah kamarku sendiri. Hanya dengan membayangkannya saja, dadaku sudah berdebar penuh harap. Jika melihat kembali titik balik di kemudian hari, momen inilah yang bisa dibilang sebagai awal mula dari diriku, Anisphia. Aku akan menjadi! Seorang penyihir yang kuinginkan!

    * * *

Demikianlah, waktu berlalu sejak kebangkitan gadis itu. Kerajaan Palettia. Itu adalah negara besar yang berkembang karena sihir. Di Kerajaan Palettia ini, terdapat sebuah akademi yang dikelola oleh negara tempat para bangsawan dan anggota kerajaan bersekolah. Namanya adalah Akademi Bangsawan Nasional Palettia. Akademi ini juga mengundang siswa pertukaran dari negara lain, dan merupakan mikrokosmos dari komunitas kelas atas yang membentuk masyarakat kecil bernama akademi. Tentu saja, tempat ini juga memiliki fungsi sebagai lembaga pendidikan. Namun, tidak peduli seberapa keras mereka mencoba untuk mengabaikan perbedaan status dan mendorong pembelajaran dengan berfokus pada peningkatan nilai, bangsawan tetaplah bangsawan, dan anggota kerajaan tetaplah anggota kerajaan. Orang-orang akan berkumpul di sekitar mereka yang berstatus tinggi, sedangkan mereka yang berstatus rendah harus mendekat kepada mereka yang berstatus tinggi; jika tidak, merupakan hal yang umum bagi mereka untuk kehilangan posisi atau tempat di dalam akademi sejak awal. Meski begitu, jika orang tua campur tangan dalam perselisihan anak-anak mereka, ada risiko hal itu akan berkembang menjadi konflik baru. Oleh karena itu, sudah menjadi rahasia umum bahwa Akademi Bangsawan Nasional Palettia menjadi semacam ruang tertutup. Nah. Hari ini adalah hari yang menggembirakan bagi akademi. Ujian terakhir bagi para siswa tingkat akhir yang akan segera lulus telah usai, dan ini adalah pesta perayaan untuk saling mengapresiasi nilai dan usaha mereka selama ini. Musik yang anggun dimainkan oleh orkestra, dan para siswa sibuk bersosialisasi. Pesta yang gemerlap ini menyimpan berbagai niat tersembunyi, namun di permukaannya mereka menikmati momen yang mewah dan megah. ...Seharusnya begitu.

    * * *

"──Dengan ini aku nyatakan. Aku membatalkan pertunanganku dengan Euphyllia Magenta!"

Sebuah deklarasi yang lantang dan kuat bergema. Orang yang mengumumkan deklarasi itu adalah Putra Mahkota Kerajaan Palettia, Tuan Algard Von Palettia. Rambut emas keputihannya yang seolah mengingatkan pada cahaya matahari adalah warna yang konon sering muncul pada anggota kerajaan, sementara mata birunya yang memiliki rona lembut, justru menatap tajam ke arahku sambil menyembunyikan tekad yang kuat. Kata-kata yang meluncur dari mulut Tuan Algard adalah pengumuman pembatalan pertunangan. Hanya dengan satu deklarasi dari Tuan Algard, tempat pesta yang gemerlap ini dalam sekejap berubah dari tempat perayaan menjadi tempat penghakiman. Aku, Euphyllia Magenta, hanya bisa termangu dalam keadaan terkejut. Meskipun memalukan, aku membelalakkan mata, tidak bisa mengeluarkan suara, dan hanya bisa menggigit bibir. Aku semata-mata menatap Tuan Algard dengan perasaan tidak percaya. Aku adalah putri dari keluarga Adipati Magenta di Kerajaan Palettia. Oleh karena itu, aku telah bertahan hingga hari ini sebagai tunangan Tuan Algard yang merupakan calon raja berikutnya, dan sebagai calon ratu berikutnya. ...Meskipun begitu.

"...Tuan Algard. Mengapa, Anda membatalkan pertunangan kita?"

Kata-kata yang akhirnya berhasil kukeluarkan adalah pertanyaan untuk Tuan Algard. Memang memalukan sebagai seorang tunangan, tetapi aku sadar bahwa Tuan Algard tidak menyukaiku. Meskipun begitu, pernikahan kami telah ditetapkan oleh Raja. Ini adalah pertunangan yang diperlukan demi negara. Oleh karena itu, aku berpikir bahwa suatu saat nanti Tuan Algard pasti akan memahaminya. Begitulah pikirku. Sejujurnya, aku tidak memiliki perasaan cinta terhadap Tuan Algard yang kelak akan memikul kewajiban sebagai Raja, tetapi aku telah bersumpah pada diriku sendiri untuk menjadi pendukungnya. Aku yakin bahwa itulah peran yang harus kupenuhi di negara ini sebagai tunangan Tuan Algard.











Padahal aku telah berusaha melakukannya dengan percaya akan hal itu, dan tidak memedulikannya meski diperlakukan dengan dingin.

"Aku telah memutuskan bahwa kau tidak pantas menjadi tunanganku. Berbagai tindakan kejam yang kau lakukan terhadap Lainie, jangan harap kau bisa mengelak!"

Lainie Cyan. Gadis yang dipanggil dengan nama itu berada di samping Tuan Algard. Dia adalah putri dari keluarga Baron Cyan, namun ia dibesarkan sebagai rakyat biasa hingga belum lama ini. Baron Cyan juga dulunya adalah rakyat biasa, seorang bangsawan baru yang diizinkan untuk menduduki kursi terbawah di jajaran bangsawan setelah mengumpulkan banyak jasa.

Apakah penampilannya itu harus dideskripsikan sebagai sangat manis? Rambut hitamnya yang berkilau tampak seperti warna langit malam, dan matanya yang sering menunduk memberikan kesan ramah dan menawan. Sederhana, tetapi tidak bisa mengalihkan pandangan darinya. Dan jika diperhatikan, orang akan menyadari kemanisannya itu. Aku tahu bahwa ia adalah seseorang yang menarik perhatian karena penampilan dan asal usulnya tersebut.

Alasan mengapa aku mengenalnya adalah karena ia merupakan nona muda yang diperhatikan oleh tunanganku, Tuan Algard. Pada dasarnya, pertunangan Tuan Algard adalah pernikahan politik yang diinginkan oleh Yang Mulia Raja. Entah karena hal itu, sama sepertiku, aku juga tidak pernah merasakan perasaan cinta dari Tuan Algard. Jika dikatakan bahwa kami hanya memiliki rasa kewajiban dan tanggung jawab untuk memikul negara ini, aku tidak bisa menyangkalnya.

Mungkin hubungan kami yang seperti itulah yang tidak baik. Putri Baron Cyan memiliki daya tarik yang tidak kumiliki.

Keramahannya, kelucuannya sebagai gadis yang manis, serta kesungguhannya yang membuat orang ingin selalu menjaganya, benar-benar bisa dikatakan sebagai kelebihannya.

Meskipun mulai beredar rumor bahwa Tuan Algard sering menjaga dan merawatnya, aku tidak menaruh rasa krisis apa pun. Karena asal usulnya itu, aku sering melihat putri Baron Cyan kesulitan membaur di akademi. Mungkin karena mengkhawatirkannya, Tuan Algard tampak sering menyapanya. Itu sendiri tidak masalah. Mana mungkin aku bisa menyalahkan perasaan peduli terhadap teman akademi?

Namun, meski begitu, aku dan Tuan Algard berstatus sebagai tunangan. Melihat kontaknya yang berlebihan dengan pria yang sudah bertunangan, aku pernah mengutarakan sedikit teguran. Interaksiku dengannya hanyalah sebatas itu. Oleh karena itu, aku sama sekali tidak tahu-menahu tentang berbagai tindakan kejam yang disebutkan oleh Tuan Algard.

"Jika yang Anda maksud adalah teguran terhadap Nona Lainie, saya sama sekali tidak memiliki niat untuk melukainya! Lagipula, mengapa membicarakan hal seperti ini, di tempat ini sekarang!?"

Aku justru merasa syok terhadap tindakan gegabah Tuan Algard. Pertunangan kami ditetapkan oleh negara. Ini bukanlah sesuatu yang bisa dibatalkan hanya dengan kehendak satu individu. Terlebih lagi, ini bukanlah hal yang pantas diumumkan di acara perayaan seperti ini. Sebab, para bangsawan yang akan menjadi bawahan juga berkumpul di pesta malam ini.

"Tuan Algard. Meskipun saya rasa tidak mungkin, tetapi apakah pembicaraan ini sudah mendapat persetujuan dari Yang Mulia?"

"Aku akan meminta persetujuan Ayahanda nanti."

"Kenapa Anda membatalkan pertunangan yang telah ditetapkan oleh orang tua hanya dengan keputusan Anda sendiri! Apakah Anda mengerti apa yang sedang Anda lakukan!?"

"Aku tidak akan membiarkan Ayahanda maupun Ibunda mengeluh! Aku akan menentukan jalanku sendiri dengan kehendakku!"

Mendengar bantahan Tuan Algard, aku hanya bisa menahan napas. Aku benar-benar bingung memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada Tuan Algard, hingga aku hanya bisa menggelengkan kepalaku.

"Itu baru berlaku asalkan ada batasan kesopanan yang dijaga! Tolong pertimbangkan kembali, Tuan Algard! Apakah Anda sudah menjadi sebegitu butanya!?"

"Berani-beraninya kau menyebutku buta!? Sadarlah bahwa yang buta itu kau, Euphyllia! Kau yang terus-menerus melakukan perbuatan memalukan karena menginginkan posisi ratu sama sekali tidak pantas menjadi ratu!"

"Makanya saya bilang, saya tidak tahu-menahu...!"

Aku meninggikan suaraku untuk membela diri, tetapi Tuan Algard membentak seolah memotong perkataanku. Matanya jelas-jelas dipenuhi dengan permusuhan terhadapku.

"Perundungan yang berlebihan terhadap Lainie, pencurian dan perusakan barang-barang miliknya, bahkan rencana pembunuhan! Semuanya telah diselidiki dan terbukti bahwa kaulah yang menarik benangnya dari balik layar!"

Mendengar kata-kata yang dilontarkan oleh Tuan Algard, dari lubuk hatiku aku sama sekali tidak mengerti apa maksudnya. Aku tidak melakukan hal seperti itu. Tepat saat aku hendak membantahnya.

"Saya bersaksi. Kami sering melihat berbagai perbuatan jahatnya terhadap Nona Lainie sehari-hari!"

Beberapa pria maju dan berbaris di samping Tuan Algard. Melihat sosok mereka yang berjejer, aku tanpa sadar menggertakkan gigiku.

"Tuan Navre Sprout, Tuan Moritz Chartreuse, bahkan Saran Mekhi...!"

Orang-orang yang berbaris itu adalah para putra dari tokoh-tokoh dengan posisi yang menarik perhatian di negara ini.

Tuan Navre Sprout adalah putra dari Komandan Ksatria Pengawal Kerajaan yang melindungi Ibukota Raja. Dia adalah orang yang patut disebut sebagai pemuda yang baik. Warna rambutnya hijau tua yang bisa terlihat hitam tergantung pada cahaya matahari, dan mata warna madunya kini menajam, menyipit seolah memelototiku.

Yang berdiri di sampingnya adalah pemuda yang tampak gelisah. Memiliki rambut perak bergelombang dan sepasang mata ungu dengan warna yang misterius, dia adalah Tuan Moritz Chartreuse. Putra dari keluarga Earl yang menjabat sebagai kepala "Kementerian Sihir", lembaga negara kita.

Dan pemuda yang berdiri selangkah di belakang mereka berdua, yang sangat tampan hingga membuat orang menghela napas kagum, adalah Saran Mekhi.

Dia memiliki rambut pirang dengan warna yang tenang dan mata cokelat kemerahan yang agak tertunduk. Meskipun ia bukan bangsawan, ia adalah putra dari sebuah perusahaan dagang yang memiliki pengaruh besar dan mendaftar sebagai siswa beasiswa khusus.

Semuanya adalah orang-orang yang menarik perhatian di akademi, membuatku menahan napas. Sambil hampir menggigit bibirku, aku menatap mereka dengan tajam.

Aku mengerti mengapa mereka mengikuti Tuan Algard. Mereka juga sering terlihat beraktivitas bersama putri Baron Cyan. Sampai di titik ini, barulah aku menyadari bahwa mereka ingin menjebakku dengan tuduhan merundung Nona Lainie.

"Lainie memang berasal dari kalangan rakyat biasa, jadi wajar jika perilakunya sebagai bangsawan masih belum matang. Namun, teguran Nona Euphyllia benar-benar sudah keterlaluan."

Dengan nada keras seolah didorong oleh kemarahan yang membela keadilan, Tuan Navre mengutukku.

"Ya, ya. Kami juga selama ini berpikir bahwa itu terlalu kejam untuk disebut sekadar teguran. Selain itu, kudengar kau memaksa para nona muda pengikutmu untuk melakukan pelecehan tanpa mengotori tanganmu sendiri!"

Tuan Moritz berbicara sambil menambahkan gerakan tubuh yang melebih-lebihkan. Matanya yang menatapku dari atas jelas-jelas memancarkan penghinaan.

"Padahal Lainie juga sudah berusaha keras... Sekalipun ada perbedaan status, ini benar-benar keterlaluan."

Saran berbicara dengan raut wajah menyesal sambil menggelengkan kepala, dan beberapa suara persetujuan mulai terdengar menyela dari kerumunan.

Entah apakah itu yang menjadi pemicunya, aku merasakan tatapan yang diarahkan kepadaku dari sekelilingku menjadi semakin tajam. Sambil menahan napas menghadapi perubahan atmosfer tersebut, aku berteriak.

"Saya hanya membimbing putri Baron Cyan dan tidak pernah ingat berniat melukainya!"

"Itulah yang kami sebut sebagai kesombonganmu! Nona Euphyllia! Putri dari keluarga adipati yang terhormat, calon ratu berikutnya yang membanggakan! Kemanjaan hatimu yang terlena dengan status itulah yang melahirkan kesalahan ini!"

Suara Tuan Moritz yang berteriak seolah-olah menyalahkan, terdengar jelas di telingaku. Kemudian, seolah setuju, suara-suara sahutan yang membenarkan dari dalam ruangan mau tidak mau masuk ke telingaku. Tanpa sadar, aku mengedarkan pandanganku karena tak percaya dengan suara orang-orang di sekitarku.

"Meski begitu! Saya juga tidak pernah memberikan perintah semacam itu kepada para nona muda lainnya! Apalagi niat untuk merendahkan putri Baron Cyan!"

"Memalukan sekali, Nona Euphyllia! Ada nona muda yang menangis sambil mengadu bahwa ia diperintah olehmu, kau tahu!?"

Dengan suara penuh amarah, Tuan Navre membentak. Padahal aku tidak ingat pernah memberikan perintah seperti itu. Aku ingin bertanya siapa nona muda yang mengadu itu, tapi kurasa mereka tidak akan menjawabnya.

Aku benar-benar tidak mengerti mengapa hal ini bisa terjadi. Hanya saja, suasana penuh kecurigaan dan kemarahan yang ditujukan kepadaku semakin menyebar di sekitarku.

Menghadapi atmosfer yang terus meluas ini, aku tetap mencoba bersikeras menyatakan bahwa aku tidak melakukannya. Namun, tenggorokanku menegang dan suaraku tidak keluar. Hanya bibirku yang bergetar seolah merangkai kata-kata.

"Sayang sekali, Euphyllia."

"Tuan Algard..."

"Sesalilah perbuatanmu selama ini, dan mintalah maaf pada Lainie! Euphyllia Magenta!"

Apa yang harus kuminta maaf? Aku sudah tidak mengerti lagi. Bahkan aku tidak tahu apa yang salah. Aku tahu aku harus menyuarakan ketidakbersalahanku, tetapi suaraku tetap tegang dan tak kunjung keluar.

Aku telah menerima berbagai cemoohan selama ini. Karena posisiku sebagai tunangan Tuan Algard yang merupakan calon raja berikutnya, entah baik atau buruk, selalu menarik perhatian banyak orang. Aku sama sekali tidak pernah berpikir bahwa diriku ini lemah. Sebaliknya, aku selalu berusaha untuk menjadi kuat. Aku selalu memaksakan diri untuk melakukan apa yang aku bisa, agar bisa menjadi teladan bagi semua orang.

(Tetapi, apakah aku... benar-benar telah bersikap sebagai nona muda yang menjadi teladan bagi semua orang...?)

Begitu aku meragukannya, tenaga di lututku langsung menghilang. Tidak ada seorang pun yang memahamiku, dan kata-kataku tidak tersampaikan. Di saat seperti apa pun, aku selalu berpikir bahwa jika aku bersikap dengan keyakinan bahwa aku benar, hasil akan mengikutinya. Akan tetapi, kenyataannya tidak berjalan sesuai dengan apa yang kupikirkan.

Pernah ada hal-hal yang merugikanku. Ini juga bukan pertama kalinya aku menghadapi niat jahat yang berusaha menjebakku. Namun, aku tahu bahwa mereka tidak memiliki niat jahat, melainkan bertindak sesuai dengan keyakinan mereka sendiri.

Itulah yang tidak bisa kupahami. Karena itulah aku terkejut dan mematung, hanya bisa berpikir kenapa ini terjadi. Kenyataan ini rasanya seperti membuat tanah pijakanku runtuh.

...Tepat pada saat itulah. Sebuah hawa yang mengubah atmosfer tempat ini sepenuhnya merayap masuk.

"...Hm?"

Sepertinya bukan hanya aku yang menyadari hawa tersebut. Tuan Algard pun menajamkan pendengarannya dengan curiga, lalu mengarahkan pandangannya ke jendela ruang pesta yang merupakan sumber suara itu.

Itu... harus kusebut apa ya? Sesuatu seperti suara membelah angin dengan kencang dan meluncur masuk, atau mungkin suara jeritan seseorang yang terdengar bercampur dengan suara itu.

"──Aaaaaaaaahhhh!?"

Itu benar-benar sebuah jeritan. Dan di saat berikutnya, setelah aku menyadari bahwa itu adalah sebuah jeritan, jendelanya hancur berkeping-keping dengan keras.

"...Ha?"

Aku bahkan sampai lupa bahwa tenagaku hampir habis dan berdiri mematung. Sesuatu yang menghancurkan jendela itu, dengan kecepatannya, berguling dengan kencang tepat di antara aku dan Tuan Algard.

Atmosfer penghakiman itu tergantikan, dan semua orang, termasuk mereka yang melarikan diri dari sekitar jendela yang hancur, tertegun tak percaya sambil pandangannya tersita oleh sesuatu yang menerobos masuk dari jendela.

"Aduh duh... gagal mengendalikan, penelitiannya masih belum cukup ya."

Sosok yang menepuk-nepuk pecahan kaca dan berdiri itu adalah seorang gadis cantik.

Pakaian yang dikenakannya adalah jaket dan celana yang mengutamakan kemudahan bergerak. Dilihat dari sudut pandang mana pun, penampilannya sama sekali tidak cocok untuk acara sosial ini. Namun, anehnya, ia terlihat sangat mempesona.

Wajahnya yang entah mengapa terlihat agak kekanak-kanakan, meski tertutup noda jelaga, tidak mampu menodai keanggunannya. Apakah mendeskripsikannya sebagai pesona yang penuh dengan vitalitas adalah hal yang tepat? Aku hanya bisa menatapnya seolah pandanganku terhipnotis oleh wajahnya itu.

Gadis itu memungut sebuah alat berbentuk mirip sapu—namun tidak bisa disebut sapu—yang tergeletak di kakinya. Matanya berwarna hijau muda yang mengingatkan pada daun-daun baru yang lembut, dan memancarkan pesona ceria yang sedikit lugu.

Dan, warna rambutnya membuat semua orang menahan napas. Pasalnya, rambut itu berwarna emas keputihan, sebuah bukti keturunan kerajaan yang sangat mirip dengan Tuan Algard. Gadis itu mengibaskan rambutnya, yang jika dibandingkan dengan Tuan Algard, memiliki warna yang mengingatkan orang pada sinar matahari yang lembut.

"Kau...!"

Melihat sosok gadis itu, ada seseorang yang memberikan reaksi dengan suara gemetar. Orang itu adalah Tuan Algard.

Ekspresi wajahnya berubah dari keterkejutannya menjadi kemarahan. Menghadapi perubahan Tuan Algard itu, sang gadis yang menjadi pusat keributan dengan santai mengangkat sebelah tangannya.

Seolah ketegangan sebelumnya hanyalah kebohongan, ia membuka mulutnya dengan nada suara yang ceria.

"Ah, Al! ...Wah, apa mungkin aku sedang mengganggu, ya?"

"Kh, Kakak!!"

Sang gadis yang sama sekali tidak cocok dengan tempat itu, sang putri yang leluasa menyandang gelar sebagai "Anak Bermasalah" nomor satu di Kerajaan Palettia, Anisphia Wynn Palettia, tersenyum dengan cerah.

    * * *

Di Kerajaan Palettia, terdapat seorang "Putri".

Putri yang dipanggil dengan berbagai gelar, seperti anak bermasalah terburuk dalam sejarah Kerajaan Palettia, orang aneh nomor satu di kerajaan, dan ampas dari para bangsawan. Dialah, Anisphia Wynn Palettia.

Berbagai tindakan aneh yang dilakukannya berlipat ganda seiring berjalannya waktu, dan kini keributan yang ia timbulkan sudah sampai pada titik di mana orang-orang akan berkata, "Apakah ini ulah Putri Anisphia lagi?"

Konon, demi terbang di langit, ia memanfaatkan angin untuk menerbangkan dirinya sendiri hingga menabrak dan menancap di dinding kastel.

Konon, karena ingin membuat bak mandi, ia mencoba merebus air dan malah mengalami luka bakar di seluruh tubuhnya.

Konon, saat membuka jalan baru dari Ibukota Raja, ia sendirian menghabisi monster-monster yang menyerang.

Konon, dengan alasan tidak ingin menikah, ia terus melakukan tindakan aneh sampai Raja menyerah.

Entah seberapa banyak lagi yang akan muncul jika digali, Anisphia-lah yang memiliki banyak anekdot tentang tindakan aneh tersebut.

Benar-benar "Putri Eksentrik". Orang aneh yang mengagungkan dirinya sendiri dan berjalan di garis tipis antara kebodohan dan kejeniusan. Begitulah.

Namun, selain itu, ada kata-kata lain yang mendeskripsikan dirinya.

──"Seorang jenius yang mencintai sihir lebih dari siapa pun, tetapi tidak dicintai oleh sihir."

Seorang putri yang tidak bisa menggunakan sihir yang biasanya bisa digunakan oleh anggota kerajaan dan bangsawan di negara ini. Itulah Putri Anisphia Wynn Palettia. Justru karena tidak bisa menggunakan sihir, ia menjadi seorang jenius bidah yang menciptakan "Ilmu Sains Sihir", disingkat "Ilmu Sihir".

    * * *

(Eee... apa mungkin ini adalah situasi yang gawat...?)

Aku, Anisphia Wynn Palettia, merenung. Di depanku, ada banyak anak-anak yang terlihat seperti putra-putri bangsawan yang berpakaian mewah, dan bagaimana pun dilihat, ini benar-benar ada di tengah-tengah ruang pesta.

Pandangan yang diarahkan kepadaku murni pandangan aneh, yang sejujurnya membuatku merasa tidak nyaman. Mungkin ini adalah kesalahan besarku setelah sekian lama.

Aku cuma keluar sebentar untuk menguji penerbangan malam dari alat sihir terbang, dan saat sedang memikirkan hal-hal romantis seperti mungkin aku bisa menggapai bintang, aku gagal mengendalikannya dan malah menabrak jendela. Ya, ini benar-benar kesalahan yang tidak bisa dimaafkan, kan?

Sambil memikirkan hal itu, aku mencoba memeriksa kondisi "Sapu Penyihir", alat sihir untuk terbang ini. Bagus, tidak rusak. Kalau sampai rusak juga, aku pasti sudah menangis darah. Sejauh ini, tidak ada yang terluka selain reputasiku! Oke, tidak ada masalah!

Saat melihat ke sekeliling ruangan lagi, ada adik laki-lakiku yang memiliki aliran darah yang sama denganku, Al-kun! Hmm, Al-kun tidak menyukaiku, jadi aku sudah melakukan hal yang buruk nih.

(Hm? Kenapa Al-kun memeluk nona muda yang tidak kukenal seolah melindunginya begitu?)

Sementara itu, nona muda yang seharusnya menjadi tunangan Al-kun entah kenapa berada di posisi yang direndahkan. Hmm? Situasi macam apa ini? Merasa penasaran, aku tanpa sadar bertanya dengan suara keras.

"Tunggu sebentar, Al-kun. Kenapa kamu malah ditemani wanita lain padahal ada Nona Euphyllia?"

"...Kh, ini tidak ada hubungannya denganmu!"

Ya ampun, dia marah besar. Ya wajar sih kalau dia marah. Dia memelototiku dengan ekspresi yang sangat menakutkan. Yah, memang banyak yang terjadi di antara kami, jadi mau bagaimana lagi. Tapi itu kan urusan lain.

Fakta bahwa aku "produk gagal sebagai bangsawan" biarkan saja, tapi apa maksudnya calon raja selanjutnya tidak berada di samping tunangannya yang merupakan calon ratu. Dengan pertanyaan seperti itu di benakku, aku mengalihkan pandanganku ke arah Nona Euphyllia.

"Ehm, Nona Euphyllia? Ada apa ini? Apakah gadis itu calon gundik atau semacamnya?"

Putri Adipati Euphyllia Magenta. Putri dari keluarga Adipati Magenta itu adalah seorang gadis yang saking cantiknya, aku ingin menambahkan awalan 'sangat' untuknya. Banyak orang yang menghela napas kagum melihat kecantikannya itu.

Rambut peraknya yang tipis dan terlihat lembut, seolah menyerap cahaya bulan putih. Kulit putih mulus layaknya seorang bangsawan, dan sepasang mata merah muda bak bunga mawar yang berkaca-kaca. Dikombinasikan dengan gaun biru langit yang dikenakannya, penampilannya benar-benar cocok disebut sebagai bunga di acara sosial ini.

"Eh...?"

Aku mengalihkan pandanganku dari Al-kun dan mencoba bertanya kepada Nona Euphyllia yang masih tertegun. Kemudian, tiba-tiba ekspresinya menjadi mendung dan dia menundukkan pandangannya.

"? Ada apa?"

"Tidak, itu..."

Nona Euphyllia juga kenapa? Reaksi yang tak terduga itu membuat mataku membelalak. Padahal aku selalu berpikir dia sangat hebat sebagai calon ratu, seorang gadis yang bisa mengungkapkan pendapatnya tanpa takut bahkan kepada orang dewasa.

Tapi sekarang dia terlihat seperti akan menangis... eh, apa dia memang benar-benar menangis? Apakah dia sebegitu takutnya saat aku tiba-tiba menerobos masuk lewat jendela?

...Tidak, sepertinya bukan itu? Lagipula, posisi dan situasi ini, entah kenapa membuat ingatanku berkedut-kedut. Saat sesuatu melintas di benakku, aku tanpa sadar membuka mulut.

"...Ah, begitu rupanya. Apakah kamu baru saja dituduh yang tidak-tidak dan pertunanganmu dibatalkan?"

"──Kh!?"

Seolah bertanya 'Kenapa', Nona Euphyllia mengangkat pandangannya. Matanya bergetar karena terkejut, dan ekspresinya yang biasanya tak berubah bagai memakai topeng besi kini telah berubah.

Hah, kok bisa. Aku tahu sih di "kehidupan masa lalu" memang ada "cerita" yang seperti itu! Tapi apa hal seperti ini memang benar-benar terjadi di dunia nyata? Ya ampun, dunia ini memang selalu aneh. Meskipun aku sendiri yang mengatakannya. Lho, jangan-jangan ini bukan situasi yang bisa ditertawakan?

"Hmm, melihat situasinya, sepertinya Nona Euphyllia sedang dikucilkan ya?"

"Eh, umm, kenapa..."

"Ummm... Oke, aku sudah mutusin!"

Menindas seorang gadis itu tidak baik. Aku tidak tahu mana yang benar, tapi untuk sementara, aku akan menengahi dulu. Aku akan melindungi Nona Euphyllia yang sepertinya tidak punya teman di sini.

Meski aku belum paham betul situasinya, kalau diusut nanti pasti bakal ketahuan mana yang benar. Kalaukpun Nona Euphyllia ternyata bersalah secara sepihak, kalaupun aku melindunginya di sini, itu tidak akan membuat situasiku menjadi buruk.

"Nah, Nona Euphyllia, ayo pergi. Aku akan menculikmu."

"...Eh?"

"Nona Euphyllia akan diculik olehku, jadi kamu takkan memikul tanggung jawab apa pun! Ayo, pergi, ayo segera pergi!"

"Eh? ...Eh? Umm...?"

"Karena itu, Al-kun! Cerita ini akan kubawa pulang! Nanti kita rapat keluarga ya!"

Aku pun mendekati Nona Euphyllia yang masih kebingungan, dan menggendongnya di bahuku. Hahaha, maaf ya. Padahal kalau menculik itu enaknya pakai gendongan ala tuan putri, tapi kalau kedua tanganku penuh, aku jadi tidak bisa apa-apa!

Saat aku menggendong Nona Euphyllia, ia mengeluarkan suara konyol. Al-kun juga mulai menunjukkan ekspresi panik. Yah, aku tidak akan menunggu sih!

"Tunggu, Kakak──"

"──Sampai jumpa, Al-kun!"











Sambil tersenyum seolah ingin memamerkannya pada Al-kun, aku mulai berlari sambil terus menggendong Nona Euphyllia.

Aku menendang lantai dengan sekuat tenaga dan melompat keluar dari jendela yang baru saja kuhancurkan. Begitu aku melemparkan tubuh ke udara, gravitasi langsung menarik dan menjatuhkan kami. Seketika itu juga, Nona Euphyllia menjerit dengan lantang.

"T-Tidaaaaaaakkkkkkk!?"

"Ini bungee jump tanpa tali yang menyenangkan, lho! Selamat datang di perjalanan udara, Nona Euphyllia!"

Aku meraih 'Sapu Penyihir' di tanganku dan mengaitkannya ke kaki. Bersamaan dengan itu, aku mengalirkan energi sihir dengan kuat. Ketinggian kami yang tadinya merosot tajam, kini melesat naik seakan nyaris menyapu permukaan tanah sebelum akhirnya meluncur mulus ke angkasa.

Meskipun Nona Euphyllia masih terus menjerit, mari kita langsung terbang berkunjung ke tempat Ayahanda!

    * * *

Pernah ada seorang putri yang tidak dicintai oleh sihir. Di saat semua anggota kerajaan dan bangsawan bisa menggunakannya—terlepas dari mahir atau tidaknya mereka—ia sama sekali tidak bisa menggunakan sihir. Akibatnya, ia dipandang sebelah mata, dicibir, dan menjadi bahan tertawaan.

Namun, meski begitu, ia tetap mencintai sihir. Dan jalan yang akhirnya ia tempuh adalah menciptakan "alat sihir yang memberikan efek serupa, atau bahkan melampaui sihir itu sendiri".

Ini adalah salah satu babak dari legenda sang putri, sosok yang kelak menorehkan berbagai pencapaian luar biasa dan segudang tindakan eksentrik dalam sejarah.

 

❤️

Dukung Translator

Support the Translator

Traktir kopi agar update makin ngebut!

Buy us a coffee to speed up updates!

Bagikan ke:

Komentar

Tinggalkan Komentar