Chapter 1: Tumbal Iblis
Baiklah, pertama-tama mari kita rapikan informasinya.
Aku—tidak, nama baruku adalah Netora Reiko.
Umurku sekitar satu tahun. Seorang balita perempuan biasa yang bisa kamu temukan di mana saja, yang terkadang menyeringai dengan senyuman licik nan basah yang tidak baik.
Tentu saja, nama dan jenis kelaminku berbeda dengan kehidupan sebelumnya saat aku masih laki-laki, dan orang tuaku pun adalah orang yang sama sekali tidak kukenal.
Beberapa hari yang lalu, karena aku sudah bisa berjalan sendiri, aku berjalan tertatih-tatih menuju ruang tamu untuk mengumpulkan informasi dari koran dan televisi yang tergeletak di sana. Hasilnya, sepertinya aku bereinkarnasi ke Jepang modern di dunia paralel yang "sangat mirip" dengan kehidupan sebelumnya.
Alasannya adalah, peristiwa-peristiwa yang seharusnya terjadi pada periode ini, seperti wabah virus jenis baru atau kejadian berbahaya di luar negeri, semuanya terlewatkan begitu saja.
Mungkin ada perbedaan kecil lainnya, tapi sekilas ini terlihat hampir sama persis dengan Jepang modern di kehidupan sebelumnya, jadi sepertinya itu bukan masalah besar.
Soal perbedaan sejarah dan sejenisnya, bisa dicek nanti setelah wajib belajar dimulai. Aku berhenti memikirkannya terlalu dalam.
Sambil merasakan tatapan ibuku di punggungku—yang sedang tersenyum mengawasi anaknya yang sedang membuka lebar koran—aku merenungkan rancangan hidupku ke depannya.
Pokoknya, aku ingin menjadi wanita yang direbut orang lain.
Mimpi yang tidak pernah bisa kuwujudkan di kehidupan sebelumnya saat masih menjadi laki-laki, kini akan kugenggam dengan tangan ini.
Namun, meskipun disebut NTR, situasinya bermacam-macam.
Apakah itu mau sama mau (wakan) atau paksaan (goukan)? Apakah pria perebutnya seorang ikemen (pria tampan) atau om-om kucel? Apakah heroine yang direbut bertipe polos atau tipe jalang?
Kalau menyebutkan elemen lainnya tidak akan ada habisnya, tapi aku harus memilih satu saja dari sekian banyak situasi NTR yang ada untuk kuperankan sendiri. Sungguh membingungkan.
Seandainya aku mendapatkan bonus reinkarnasi berupa kemampuan "kembali dari kematian" (Return by Death), aku bisa saja menikmati adegan NTR lalu membelah perut untuk mengulang waktu. Sayangnya, aku tidak ingat pernah melakukan wawancara dengan Dewa. Lebih baik berasumsi aku tidak punya kemampuan cheat.
Sambil mengisap dot botol susu yang disodorkan Ibu, aku memikirkan jalan kejayaan (Rute NTR) yang harus kutuju.
Nah, meski aku sudah bicara panjang lebar, sebenarnya aku sudah memutuskan rute kasarnya.
Mumpung sudah bereinkarnasi menjadi bayi. Kalau begitu, tidak ada pilihan lain selain membidik "Jalan Utama" sekaligus Kebenaran Hakiki: "NTR Teman Masa Kecil".
Hubungan yang dibangun dengan waktu dan kasih sayang sejak laki-laki dan perempuan itu masih kecil, dihancurkan hingga berantakan oleh tangan pria penyusup. Ini kenikmatannya sudah melebihi seks!
Karena itu, mengamankan teman masa kecil yang akan berperan sebagai "pria korban NTR" adalah tugas yang mendesak.
Sama seperti anggur, semakin lama waktunya, semakin matang dan nikmat rasa NTR-nya. Kalau bisa, aku ingin menemukan dan mengamankan bibit unggul selagi masih di Taman Kanak-Kanak (TK).
Soal peran pria perebut, skenario terburuknya aku bisa memasang sembarang pria brengsek yang ada di sekitar nanti, tapi untuk peran "pria korban NTR", aku sama sekali tidak bisa berkompromi. Menurutku, orang yang asal-asalan memilih peran ini tidak akan pernah bisa sukses secara sosial seumur hidupnya.
Saat aku menekankan teoriku di dalam otak, tanpa sadar mulutku yang sedang mengisap dot botol susu jadi ikut menekan kuat.
Bagaimanapun juga, langkah awalku menuju rute NTR mungkin masih agak lama. Sekarang aku harus fokus tumbuh sehat sebagai baby.
Setelah perutku kenyang dan mulai mengantuk, aku pun tidur siang sambil memayudara—maksudku, membayangkan situasi NTR yang ideal. Zzzzz.
Begitulah waktu berlalu, dan setelah tumbuh dengan sehat, aku masuk ke "TK Dahlia" di lingkungan sekitar.
Omong-omong, makna bunga Dahlia adalah "mudah berpaling" dan "pengkhianatan". Bisa masuk ke TK dengan nama yang sungguh membawa keberuntungan ini, aku tersenyum menyeringai saking senangnya.
Nah, dari sinilah pertunjukan utamanya dimulai.
Akhirnya, aku mencapai usia di mana aku bisa bergerak bebas sampai batas tertentu. Masa-masa menahan diri sambil hanya membayangkan situasi NTR di dalam kepala sudah berakhir.
Mulai sekarang, aku bisa bergerak sendiri untuk mewujudkan khayalan itu. Aku harus segera mencari pria korban NTR yang akan menemaniku menapaki jalan kejayaan NTR ini.
Namun, tidak boleh terburu-buru.
Atribut NTR yang kuat seperti "teman masa kecil sejak TK", terlalu sayang jika disematkan pada pria sembarangan. Pertama-tama, aku perlu menyeleksi kandidat dengan cermat dan perlahan. Di sini aku harus mengambil sikap "mengamati" tanpa tergesa-gesa.
Lalu, bersamaan dengan seleksi pria korban, peningkatan daya tarik diriku sendiri juga merupakan tugas mendesak.
Menurutku, untuk menciptakan NTR terbaik yang membuat pria berpikir "Aku tak ingin orang seindah ini direbut" atau "Aku harus merebut wanita itu bagaimanapun caranya", pesona si wanita yang akan direbut juga sangat penting.
Karena itu, sudah pasti aku harus menempa diri untuk menjadi gadis cantik yang sempurna.
Meski begitu, tentu saja aku tidak bisa menyentuh ranah kecantikan atau mode sejak TK karena alasan ekonomi. Untuk sementara, mari kita mulai dengan memoles daya tarik sebagai manusia.
Aku mulai dengan mengerahkan kemampuan komunikasi yang kupupuk selama hidup sebagai pria perebut di kehidupan sebelumnya untuk menjadi idola semua orang.
Beberapa bulan setelah memulai kehidupan TK, aku menetapkan target pada seorang anak laki-laki.
Namanya Tachibana Yuki.
Dia bukan anak yang sangat tampan, hanya bocah laki-laki biasa dengan tubuh yang sedikit gemuk.
Dia agak pemalu dan tertutup, tapi dia adalah anak laki-laki berhati lembut yang mencintai bunga dan hewan, serta tanpa ragu mengulurkan tangan jika ada orang yang kesulitan. Dia memiliki hati yang indah.
Aku menelan ludah melihat bibit unggul yang seolah terlahir hanya untuk merasakan wanitanya direbut orang lain.
Aku sudah meriset bahwa alamat rumahnya pun hanya beberapa menit jalan kaki dari rumahku. Idealnya sih tetangga sebelah rumah yang bisa diajak bicara lewat jendela, tapi tentu saja tidak akan semulus itu. Yah, mari berkompromi soal itu.
Satu-satunya yang kucari dari pria korban NTR adalah "keindahan hati".
Penampilan fisik tidaklah penting, bahkan penampilan yang sedikit kurang menarik justru lebih menguntungkan dalam banyak hal. Pria yang memendam rasa rendah diri lebih mudah dibuat bergantung pada wanita yang akan direbut nantinya. Dan ketika wanita yang menjadi tempat bergantungnya itu direbut, dia pasti akan memperdengarkan suara penghancuran otak yang sangat merdu.
Yah, penampilan fisik anak seusia ini juga pasti akan berubah seiring masa depan, sih.
Sambil memikirkan hal itu, aku menyapa Yuki-kun yang sedang bermain sendirian, terpisah dari anak-anak lain.
"Hei, Yuki-kun. Boleh aku ikut main?"
"......Eh?"
Aku menyembunyikan sisi jahatku dengan sempurna, lalu memberikan senyuman seindah bunga yang mekar kepada anak laki-laki itu.
Aku—Tachibana Yuki, memiliki teman masa kecil yang sangat manis.
"Selamat pagi, Yuu-kun."
"Huaa... selamat pagi, Rei-chan."
Pagi hari. Seorang gadis memberikan senyuman indah bak bunga mekar kepadaku yang sedang menahan kantuk di depan rumah.
Namanya Netora Reiko. Dia adalah teman yang sangat berharga yang selalu bersamaku sejak masa TK.
"Ah, tunggu sebentar Yuu-kun. Rambutmu berantakan tuh. Biar kurapikan, jadi jangan bergerak ya."
"Ti, tidak usah, cuma rambut berantakan saja kok..."
"Enggak boleehh. Tuh kan, jangan gerak."
Dia sangat suka merawat orang.
Aku tidak tahu bagian mana dari diriku yang dia sukai, tapi sejak hari itu—hari di mana dia menyapaku yang pasif dan kurang bisa berbaur di TK—dia memperlakukanku dengan sangat akrab, bahkan sedikit berlebihan.
Berkat dia, ada kalanya aku jadi bisa berbaur di TK maupun SD, dan tentu saja aku berterima kasih akan hal itu, tapi...
"Tuh kan, sudah kubilang jangan bergerak."
"De, dekat banget, Rei-chan..."
Aku merasa malu dirawat oleh anak perempuan, jadi aku mencoba menjaga jarak, tapi Rei-chan malah menahanku seolah sedang menempel padaku.
Aku dan Rei-chan sudah kelas 6 SD.
Merasakan sentuhan tubuh Rei-chan yang di sana-sini mulai terlihat seperti wanita dewasa, aku menunduk agar dia tidak menyadari pipiku yang memerah.
"Ara ara, maaf ya selalu merepotkanmu, Reiko-chan. Bibi jadi terbantu karena kamu mengurus Yuki."
"Selamat pagi, Bibi. Aku melakukan ini karena aku suka mengurus Yuu-kun, jadi jangan dipikirkan."
Belakangan ini, sementara aku mengecilkan tubuh mendengarkan percakapan antara ibuku—yang suka menggoda hubunganku dengannya—dan Rei-chan, Rei-chan sudah selesai merapikan rambutku dengan semprotan air dan sisir yang entah dia keluarkan dari mana.
"Oke, selesai. Sip sip! Hari ini juga kamu terlihat keren loh, Yuu-kun♪"
"Te, terima kasih. Rei-chan..."
...Aku merasa bersalah pada Rei-chan yang memujiku tanpa ragu, tapi jujur saja penampilanku bukanlah sesuatu yang patut dipuji.
Wajahku biasa saja dibanding anak laki-laki seumuran, dan meski tidak sampai obesitas, tubuhku agak lembek.
Rei-chan yang berdiri di sebelahku berpenampilan menarik, pintar akademik maupun olahraga, dan sangat populer. Dia disebut sebagai gadis cantik nomor satu di sekolah, bukan cuma di kelas. Dibandingkan dengan dia, aku ini... Jatuh dalam kebencian diri seperti ini sudah jadi makanan sehari-hariku.
"Yuu-kun? Kalau tidak cepat jalan nanti terlambat loh?"
Seolah ingin menghapus pikiran itu, tangan hangat Rei-chan menggenggam tanganku.
"A, aku tahu kok. Makanya lepaskan tanganku..."
"Kalau begitu, kami berangkat dulu ya, Bibi."
"Iyaaa, hati-hati sama mobil ya~"
Entah dia tidak mendengar perkataanku atau sengaja mengabaikannya. Rei-chan mulai berjalan maju dengan langkah lebar tanpa melepaskan genggaman tangannya.
Beberapa teman sekelas yang berpapasan dengan kami menggoda diriku yang sedang berjalan menuju sekolah sambil merasa gugup akibat sensasi sentuhan tangannya yang lembut.
"Wih, hari ini hubungan suami-istrinya mesra lagi nih~"
"Aduh, lengket bangeeet."
Menurutku, di usia kami saat ini, jika laki-laki dan perempuan terlihat terlalu akrab, biasanya mereka cenderung akan diganggu dengan niat jahat, entah itu besar atau kecil. Namun, dalam suara-suara yang menggoda kami itu, tidak terasa atmosfer suram semacam itu.
Itu semua semata-mata karena kepribadian Rei-chan yang ceria dan baik hati, yang membuat orang ragu untuk menujukan niat jahat kepadanya.
"I-ih, apaan sih! Bukan begitu tahu! Ayo jalan, Yuu-kun!"
Melihat Rei-chan yang pipinya sedikit merona merah, aku jadi merasa agak geer sedikit.
Sejujurnya aku tidak terlalu paham soal cinta atau asmara, tapi setidaknya aku tidak dibenci olehnya.
Dianggap seperti itu oleh teman masa kecil kebanggaanku. Hanya karena hal sepele itu saja, rasanya aku bisa sedikit menyukai diriku sendiri.
"......Bagus. Bagus sekali. Pasangan yang hampir diakui secara resmi oleh lingkungan sekitar. Benar-benar setup awal NTR yang dahsyat......"
——Sesaat, aku merasa wajah Rei-chan terlihat terdistorsi seolah menjadi orang lain.
"Eh, Rei-chan? Kamu bilang sesuatu?"
"——Hmm? Enggak bilang apa-apa kok?"
Rei-chan yang menoleh ke arah suaraku memasang wajah polos kebingungan.
......Sepertinya aku memang salah lihat. Teman masa kecil kebanggaanku yang populer, sangat manis, dan baik hati itu terlihat seperti monster jahat dari acara tokusatsu minggu pagi...... Mungkin aku masih belum sepenuhnya bangun tidur.
Aku mengucek mataku dengan kuat seolah ingin mengusir rasa kantuk.
——Dan sepulang sekolah.
Rei-chan, yang biasanya selalu pulang bersamaku, datang ke mejaku dengan wajah penuh rasa bersalah. Apakah terjadi sesuatu?
"Maaf, Yuu-kun. Hari ini aku ada sedikit urusan, jadi bisakah kamu pulang duluan?"
"Begitu ya? Kalau ada yang bisa kubantu..."
"Ah... enggak. Bukan urusan yang begitu kok, jadi enggak apa-apa. Kalau begitu, sampai jumpa besok!"
Rei-chan mengatakan itu dengan cepat, lalu bergegas keluar dari kelas.
Melihat sikapnya yang tidak seperti biasanya, aku memiringkan kepalaku sedikit.
"......Sudah lama ya aku tidak pulang sendirian."
Saat aku hendak pulang sambil merasa sedikit sayang karena tidak bisa pulang bersama Rei-chan, tiba-tiba ada sesuatu yang menubruk punggungku.
"Yuki! Ayo pulang bareng~!"
"Uwaaa!? Fu, Fuyuki-kun?"
Saat aku menoleh, di sana ada Kurushima Fuyuki-kun, salah satu dari sedikit temanku, yang sedang tersenyum cerah padaku.
Dia adalah andalan klub sepak bola dan cowok ganteng yang menyegarkan, sedangkan aku tipe rumahan. Ini adalah kombinasi ajaib yang tidak punya banyak kesamaan, tapi kami menjadi teman berawal dari teman kami berdua, Rei-chan.
Meski begini, hubungan kami ternyata cukup cocok, dan dia tanpa malu memanggilku "sahabat". Dia adalah temanku yang sama berharganya dengan Rei-chan.
"Ya, aku sih tidak masalah... tapi bagaimana dengan klub sepak bola?"
"Ah, sebenarnya kakiku terkilir sedikit saat pelajaran olahraga. Bukan masalah besar sih, tapi aku disuruh istirahat untuk jaga-jaga."
"Eeh! A, apa kamu baik-baik saja!?"
"Haha, kan sudah kubilang bukan masalah besar. Kamu berlebihan deh, Yuki. ...Ngomong-ngomong, si Rei mana?"
Fuyuki-kun melihat ke sekeliling, mencari sosok Rei-chan yang juga merupakan sahabat baginya.
Saat aku menjelaskan situasinya, dia memasang ekspresi curiga.
"Urusan yang Rei prioritaskan daripada Yuki, ya... rasanya mencurigakaaan."
"Mencurigakan apanya?"
"Kalau dia sih biasanya bakal bilang 'Aku mau pulang bareng, jadi tungguin sampai urusanku selesai ya~', atau kalau urusannya bakal lama, dia pasti menjelaskan isinya dulu ke kamu, kan? Soalnya sifat protektif Rei ke Yuki itu sudah tidak normal."
"E, emmm... begitu ya..."
"Begitu, lah. ...Tasnya ada di meja, jadi si Rei pasti masih ada di dalam sekolah, kan? ...Oke! Yuki, ayo kita main detektif-detektifan! Kejar dia, kejar!"
Fuyuki-kun mengatakan hal itu dengan mata berbinar-binar, mungkin terpengaruh drama TV, membuatku jadi merasa ragu.
"Eehh... kalau melakukan itu, apa nanti Rei-chan tidak akan marah..."
"Kalau itu terjadi, kita minta maaf bareng-bareng saja. Yuki juga penasaran kan apa yang Rei lakukan sembunyi-sembunyi?"
"Ugh... i, itu sih benar, tapi..."
Begitulah, aku yang tidak bisa menolak akhirnya mencari keberadaan Rei-chan seolah ditarik oleh Fuyuki-kun.
"Otora-san? Ah, rasanya aku melihat dia pergi ke atap..."
Setelah bertanya ke beberapa orang, kami mendapatkan informasi bahwa Rei-chan sepertinya menuju ke atap, jadi aku dan Fuyuki-kun mengendap-endap menuju atap gedung sekolah.
"...Oh, itu si Rei."
Fuyuki-kun yang membuka pintu menuju atap perlahan agar tidak bersuara, menemukan sosok Rei-chan.
Aku yang dipanggil mendekat dengan isyarat tangan, menghampiri sisi Fuyuki tanpa menimbulkan suara langkah kaki, lalu mengintip ke arah atap dari balik tempat persembunyian sesuai instruksinya.
Di sana, terlihat sosok Rei-chan yang sedang berdiri berhadapan berdua saja dengan seorang laki-laki yang tidak kukenal.
"Hm? Siapa cowok yang bersamanya itu? Itu... sepertinya anak klub basket, kan?"
"......Y-ya. Benar."
Fuyuki-kun memasang wajah heran, tapi aku bisa langsung menebak apa yang sedang terjadi dalam sekejap.
Tentu saja, Rei-chan sangat populer. Jika gadis seperti dia berduaan dengan laki-laki di atap, tidak perlu dipikirkan lagi apa yang sedang terjadi.
"......Fuyuki-kun, ayo kita pergi."
"Eh? Tapi..."
"Kumohon..."
Aku mati-matian mengertakkan gigi agar suaraku tidak gemetar, dan mencoba meninggalkan tempat itu bersama Fuyuki-kun.
Laki-laki itu memiliki wajah yang sangat tampan. Dibandingkan denganku, dia jauh lebih serasi dengan Rei-chan. ......Kalau terus berada di sini, aku pasti akan menangis karena merasa begitu menyedihkan.
"Maukah kau berpacaran denganku?"
Terdengar suara laki-laki yang sedang berhadapan dengan Rei-chan itu.
Tidak. Aku tidak ingin berada di sini lebih lama lagi. Aku mencoba menutup telinga sebelum mendengar kata-kata yang fatal.
Namun, lebih cepat dari tindakanku, suara Rei-chan bergema.
"Maaf. Aku tidak bisa berpacaran denganmu."
Mendengar suara itu, tanpa sadar aku terpaku.
"......Kenapa?"
"Itu...... tidak bisa kukatakan."
"......Dia, ya? Si itu yang selalu menempel di dekatmu, ya? Apa bagusnya orang suram dan pemurung yang tidak bisa belajar maupun olahraga seperti itu!"
Aku yang paling tahu siapa yang dimaksud oleh dia yang berteriak penuh emosi itu. Aku dan Rei-chan memang bukan sepasang kekasih, tapi wajar saja jika dia berkata seperti itu. Meski belum pernah ada yang mengatakannya secara langsung di hadapanku, siapa pun yang melihat pasti tahu bahwa aku dan Rei-chan sama sekali tidak sepadan dalam hal apa pun.
......Hal itu, aku sendiri yang paling paha......
PLAK!!
Suara seperti udara yang meledak, dan sosok anak laki-laki yang tertegun memegangi pipinya yang ditampar oleh gadis itu, ada di sana.
"Aku tidak akan memaafkanmu kalau kamu mengolok-olok Yuu-kun!!"
"A, a......"
"Bagiku, Yuu-kun adalah laki-laki yang paling berharga... yang tak tergantikan! Sejak hari pertama kita bertemu, aku selalu, selalu... sangat menyayanginya, dia adalah orang yang lebih berharga daripada siapa pun!"
Mendengar suara Rei-chan yang meluapkan emosi yang baru pertama kali kudengar ini, aku pasti lebih terkejut daripada dia yang pipinya ditampar.
Bahwa aku adalah yang paling berharga. Bahwa dia terus memikirkanku sejak hari pertama kita bertemu.
Tanpa sadar, aku berlari kabur dari tempat itu.
"Tunggu, Yu, Yuki!"
Suara Fuyuki-kun yang sampai ke punggungku pun tak masuk ke telingaku.
Aku bahkan tidak tahu apakah saat ini aku sedang menangis atau tertawa.
Mengapa dia begitu menyayangi diriku yang menyedihkan dan tidak keren ini? Jawabannya, tetap saja aku tidak tahu.
"......Meski begitu!"
Aku akan menjadi manusia yang pantas untuk perasaan itu. Aku akan menjadi laki-laki yang bisa berdiri di sampingnya.
Sebagaimana aku menganggapnya sebagai "teman masa kecil kebanggaan", aku akan menjadi sosok yang juga bisa dia banggakan sebagai "teman masa kecil kebanggaan".
Aku akan mengakhiri diriku yang selama ini hanya manja pada kebaikannya dan tidak mau berubah!
Pada hari ini, Tachibana Yuki pasti telah menyuarakan tangisan kelahirannya yang kedua.
"......Hampir sajaaa, aku nyaris melakukan blunder dengan masuk ke rute NTR terlalu dini......"
Aku—Netora Reiko—yang telah mengusir anak laki-laki yang kehilangan semangat juangnya akibat tamparan tadi, memeluk diriku sendiri sendirian di atap karena hampir kalah oleh nafsu sesaat.
Bagaimanapun juga, terlalu cepat untuk masuk ke rute NTR di tahap sekolah dasar.
Kalau masih sekecil ini, pengembangan cerita pasca-NTR akan menjadi sangat tipis. Padahal aku sudah tahu jelas kalau kematangan Yuu-kun yang diperlukan untuk penghancuran otak NTR itu masih sangat kurang......
Di hadapan Yuu-kun yang merupakan pria korban NTR kualitas super, aku yang terus-menerus menahan diri ("puasa"), tanpa sadar jadi goyah oleh godaan NTR dari pria perebut (versi bocah) tadi.
Demi menekan diriku yang hampir terbawa oleh kenikmatan sesaat itu, aku terbawa suasana dan melakukan hal kejam pada anak laki-laki yang tak terlalu kukenal tadi. Introspeksi.
Tapi, yang salah bukan aku! Yuu-kun lah yang salah!
Sebenarnya, aku sudah menyadari sejak awal kalau Yuu-kun sedang mengintip dari balik bayangan.
Mata Yuu-kun yang menyadari bahwa teman masa kecil kesayangannya hampir direbut oleh laki-laki tak dikenal!! Ekspresi itu!! Keputusasaan itu!!
Aah, rasanya aku ingin menghancurkanmu...... sekarang juga...... ♥
Aku menjilat bibirku dengan slurp, lalu menggelengkan kepala untuk menenangkan pikiranku yang sedang bergairah.
Ini kesempatan bagus, sekalian merapikan situasi, mari kita konfirmasi ulang rute NTR ke depannya.
Pertama, mengenai kapan aku akan direbut, aku merencanakan ini terjadi saat masa SMA.
Pada dasarnya, semakin lama masa pematangan, semakin pekat rasa NTR-nya. Namun di saat yang sama, semakin lama masa "penimbunan", risiko terjadinya peristiwa mendadak yang tak terduga yang bisa merusak segalanya juga semakin membengkak.
Ekstremnya, jika Yuu-kun mengalami kecelakaan lalu lintas dan meninggal, maka semuanya akan musnah begitu saja.
......Yuu-kun itu. Pria korban NTR yang sudah kubesarkan dengan penuh kasih sayang, jika hal seperti itu terjadi padanya...... Memikirkannya saja sudah membuat seluruh tubuhku gemetar ketakutan.
Gawat, rasanya aku takkan sanggup menahannya. Kalau itu terjadi, bisa-bisa aku bunuh diri menyusulnya.
Yah, selain itu, di hadapan Yuu-kun yang merupakan pria korban NTR kualitas super, jika masa puasa terlalu lama, ada kemungkinan aku bisa meledak di tempat yang tidak diinginkan. Masa SMA mungkin adalah batas akhirnya.
Tahun depan aku dan Yuu-kun akan menjadi siswa SMP. Dibandingkan siswa SMA yang diizinkan kerja paruh waktu, memang masih kurang, tapi jangkauan kebebasan bergerak akan meluas, dan kelonggaran ekonomi juga akan sedikit bertambah.
Sekarang pun semua uang jajan dan angpau kuinvestasikan untuk perawatan kulit, alat olahraga, suplemen, dan semacamnya demi memoles diri. Tapi ke depannya, aku bisa mencurahkan lebih banyak tenaga untuk step up menjadi gadis cantik korban NTR yang sempurna.
Orang tuaku terkadang memasang wajah cemas melihatku yang tidak menggunakan uang layaknya anak-anak, tapi jika berpikir bahwa semua ini demi mempersembahkan pengalaman NTR tertinggi untuk Yuu-kun, aku sama sekali tidak merasa berat. Justru, memikirkan bahwa semakin cantik diriku, semakin dalam keputusasaan Yuu-kun, wajahku malah menyeringai kegirangan.
Nah, dalam kurun waktu kurang dari sepuluh tahun dari TK sampai SD, kurasa aku sudah berhasil meningkatkan tingkat kesukaan dan ketergantungan Yuu-kun padaku sampai batas maksimal. Mulai dari sini, fase yang lebih penting adalah memoles diriku sendiri.
Soal kemampuan akademik, aku punya tabungan pengetahuan dari kehidupan sebelumnya, jadi aman. Lagipula, jika perbedaan akademik terlalu jauh, ada kemungkinan kami tidak bisa masuk ke SMA yang sama. Daripada meningkatkan akademikkku sendiri, aku akan memprioritaskan dukungan belajar untuk Yuu-kun.
Soal olahraga, karena sering tidak cocok dengan skill tree kecantikan yang penting bagi gadis cantik NTR, aku akan melakukannya secukupnya saja. Lagipula, kalau masuk klub olahraga dan amit-amit ketemu pelatih mirip gorila, ada bahaya aku takkan bisa menahan pesona rute NTR tipe "Power Jarak Dekat" yang merupakan pemukul ke-4 (andalan) di dunia NTR. Klub budaya sepertinya lebih aman.
Dan, di masa SMP saat hubungan manusia baru mulai dibangun, ada tugas penting yang harus kuselesaikan.
Itu adalah menyeleksi kandidat pria perebut (interloper). Aku sudah menjerat Kurushima Fuyuki-kun, si ikemen olahragawan yang menyegarkan yang bisa merangsang rasa rendah diri Yuu-kun, sebagai rute "NTR Sahabat".
Seharusnya, Yuu-kun yang pemalu dan rumahan dengan Fuyuki-kun yang sangat suka kegiatan luar ruangan, punya kemungkinan besar tidak akan cocok. Tapi di sini ada aku, si super pervert yang membakar obsesi abnormal terhadap NTR.
Demi NTR, membuat dua anak laki-laki menjadi akrab bukanlah hal yang sulit.
Berdiri di antara keduanya, secara halus aku memancing minat Yuu-kun terhadap sepak bola yang disukai Fuyuki-kun lewat gim, manga, dan anime.
Sebaliknya, karena Fuyuki-kun pada dasarnya tipe yang menyukai segala jenis hiburan, aku merekomendasikan karya-karya dari genre subkultur kesukaan Yuu-kun yang sekiranya akan disukai Fuyuki-kun, sehingga mereka punya topik pembicaraan yang sama.
Sisanya, aku tinggal berdiri di tengah dan memperbanyak kesempatan bermain bertiga. Ditambah dengan sifat baik Yuu-kun dan Fuyuki-kun, mereka pun langsung cocok dalam sekejap.
Ya ya, karena teman Yuu-kun sedikit, dia senang sekali bisa berteman dengan Fuyuki-kun, kan. Demi masa depan saat aku direbut olehnya nanti, akrablah kalian sampai selangkah lagi menuju BL......
Tentu saja, tidak ada artinya jika hanya membuat mereka berteman, jadi aku juga menjalin keakraban dengan Fuyuki-kun agar dia berniat merebutku.
Anak laki-laki seusia itu biasanya bermental preman yang akan menjadi ramah jika diperlihatkan kekuatan fisik, jadi aku "memberinya pelajaran" (wakarase) lewat perbedaan kekuatan di bidang keahliannya, yaitu sepak bola.
Mempertimbangkan kasus seperti ini, sejak kecil aku tak pernah absen latihan agar bisa bergerak di atas rata-rata dalam semua olahraga umum. Wanita NTR yang sempurna harus menguasai segala jenis seni bela diri/keterampilan. Lagipula, di tingkat SD, banyak kasus anak perempuan kemampuan fisiknya lebih tinggi daripada laki-laki.
Fuyuki-kun yang kuhajar habis-habisan di bidang keahliannya sendiri, sesuai rencana langsung menganggapku sebagai rival.
Terkadang bersaing sengit sebagai rival, terkadang menggunakan pesona sebagai gadis tercantik di sekolah untuk membuatnya gugup...... Setelah dimainkan berputar-putar di atas telapak tanganku bagaikan fidget spinner, dalam setahun sejak pertemuan kami, dia mulai memperlihatkan benih-benih cinta padaku.
Mempermainkan ketulusan hati remaja polos memang membuat nuraniku—yang jumlahnya lebih sedikit daripada login bonus batu gim gacha—sedikit sakit, tapi ini semua demi pengalaman NTR tertinggi untuk Yuu-kun, jadi mau bagaimana lagi, kan?
Nah, meski aku sudah mengamankan satu kandidat pria perebut begini, aku adalah wanita yang bisa melakukan manajemen risiko. Cadangan itu perlu dalam segala hal.
Di SD, aku menundanya karena tidak menemukan bibit unggul yang melebihi Fuyuki-kun, tapi di SMP aku ingin mengamankan kandidat pria perebut baru.
Direbut tiba-tiba oleh pria tak dikenal yang muncul entah dari mana memang punya cita rasa tersendiri, tapi mumpung masih ada waktu. Aku ingin mengamankan banyak bibit unggul untuk peran pria perebut yang sudah diseleksi dengan sangat ketat. Semakin banyak pria perebut, semakin bagus.
Meski aku sendiri yang mengatakannya, nilai moral macam apa ini, benar-benar seperti neraka.
Translator Note: Masukkan catatan penerjemah di sini jika ada.
Support the translator to keep the updates coming!
Buy Me a Coffee
Dukung Kami Di:
Komentar
Tinggalkan Komentar