Featured Image

Shiboyugi V6 Chapter 0

Metoya Januari 18, 2026 Komentar

0. Head to Head




(0/3)

 

Yuuki kembali ke kamar apartemennya.

 

(1/3)

 

Ia menyalakan lampu.

 

Rumah seluas enam tatami itu menampakkan wujudnya yang tak berubah.

 

Namun, di dalamnya, ada satu hal yang memancarkan aura berbeda. Tidak—apakah itu bisa disebut "benda" atau "hal" pun masih meragukan. Alasannya, karena meskipun memancarkan hawa keberadaan yang tak terbatas, wujudnya tampak beriak dan tidak stabil.

 

<Itu> memiliki penampilan yang sama persis dengan Yuuki. Rambut yang dibiarkan panjang berantakan, wajah tanpa rona kehidupan, jersey usang, dan atmosfer yang menyerupai hantu. Ia duduk bersila di lantai dengan sikap angkuh bak petinggi Yakuza. Karena berada di dalam ruangan, ia tidak memakai sepatu, namun anehnya, sepatu itu tidak ada di pintu masuk.

 

Itu adalah fakta yang mengisyaratkan bahwa dia bukanlah entitas nyata—melainkan sebuah <Ilusi>. Namun, sekeras apa pun Yuuki memicingkan mata, ia tidak bisa menghapus <Itu> dari pandangannya.

 

Seolah menertawakan usaha Yuuki tersebut, sang ilusi menyeringai, menyelewengkan bibirnya.

 

"Percuma saja. Keberadaanku sudah separuh terpisah darimu. Bahkan jika kau menenggak alkohol sampai kembung pun, aku takkan hilang."

 

Bahkan suaranya pun sama persis dengan Yuuki.

 

"Siapa kau, brengsek?" tanya Yuuki.

 

"Barusan sudah kubilang, 'kan? Aku adalah kau."

 

"Kenapa aku bisa melihat hal semacam ini? Kenapa kau muncul?"

 

"Bukankah kau sendiri yang lebih paham soal itu? Yang memanggilku bukanlah orang lain, tapi kau sendiri."

 

Yuuki bungkam. Karena ucapan itu tepat sasaran.

 

Seperti yang makhluk itu katakan—sebenarnya, Yuuki sudah memiliki dugaan kasar. Saat bertemu dengan ilusi itu di luar apartemen dan dalam perjalanan kembali ke kamar, Yuuki teringat kembali. Tentang apa yang telah ia perbuat.

 

Tamamo. Seorang pemain dengan rupa yang begitu jelita hingga membuat siapa pun tak bisa menahan diri untuk menoleh. Yuuki telah menelantarkan posisinya sebagai guru bagi gadis itu, memutuskan hubungan dengan alasan yang dibuat-buat. Belakangan, mereka bertemu kembali di babak akhir <Royal Palace>. Yuuki terdesak ke dalam situasi di mana ia hanya bisa selamat dengan membunuh Tamamo.

 

Karena aku terlibat dengan orang lain menggunakan perasaan yang setengah-setengah, makanya, aku menerima hukuman ini—sambil berpikir demikian, ia melakukan apa yang harus dilakukan.

 

Dan sekarang—ia menjadi sentimental layaknya orang sok suci, lalu melihat hal semacam ini.

 

Yuuki memejamkan mata kirinya.

 

Ia menatap ilusi dirinya itu hanya dengan mata kanan.

 

Jika dipikir secara wajar, ungkapan ini aneh. Mata kanan Yuuki sudah kehilangan penglihatannya, jadi seharusnya ia tidak bisa melihat apa-apa. Namun, sosok ilusi itu tetap terpantul dalam pandangan mata kanannya. Mata kanan yang seharusnya tak bisa melihat, justru melihatnya. Hawa keberadaannya pun terasa begitu nyata.

 

Di tengah <Royal Palace>, Yuuki memperoleh cara pandang yang tidak bergantung pada informasi visual. Ditambah lagi, ia memang memiliki kemampuan bawaan untuk membaca hawa keberadaan. Jika kedua hal ini bekerja ke arah yang salah karena alasan tertentu—maka ia bisa merasakan keberadaan manusia yang sebenarnya tidak ada di sana. Pemicunya adalah Tamamo, dan implementasinya adalah indra superhumannya Yuuki. Itulah latar belakang yang membentuk ilusi ini.

 

"Jawaban tepat," ujar sang ilusi.

 

Mungkin karena ia adalah Yuuki sendiri, ia bisa membaca pikiran.

 

"Berkat kau yang telah mengasah kemampuanmu, aku jadi bisa muncul ke permukaan seperti ini. Aku sampaikan rasa terima kasihku atas teknik itu."

 

"Akan tetapi," lanjut sang ilusi.

 

"Aku tak bisa menahan rasa jijik terhadap kondisi psikologismu itu. Membunuh murid sendiri, lalu merasa syok? Oi, oi, tolonglah. Jangan lakukan hal yang memalukan seperti itu. Itu tidak seperti dirimu."

 

Yuuki tidak menjawab.

 

"Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Dulu kau adalah manusia yang lebih sederhana, bukan? Sejak kapan kau mulai memikirkan hal-hal yang rumit dan berbelit-belit seperti itu? Apa gara-gara si Hakushi itu yang membawa pengaruh buruk? Atau Mishiro? Atau mungkin Tamamo itu sendiri? Yang manapun itu, benar-benar menyebalkan. Hiduplah lebih santai sedikit."

 

Kemudian, sang ilusi menatap lurus ke mata Yuuki.

 

"Ingatlah. Pada dasarnya, kau itu manusia yang seperti apa."

 

Seolah-olah informasi dikirimkan melalui tatapan itu, kesadaran Yuuki dibimbing menuju masa lalu.

 

(2/3)

 

Bagi Yuuki, momen yang bisa disebut sebagai awal kehidupannya.

 

Tentu saja, itu adalah permainan kesembilan—<Candle Woods>. Permainan pembaptisan yang menjadikan Yuuki sebagai Yuuki yang sekarang.

 

Akan tetapi, tentu saja, dalam artian fisik, kehidupan Yuuki sudah ada jauh sebelum itu. Sebelum <Candle Woods>—di masa itu, Yuuki hanyalah murid bodoh dari Hakushi yang hidup terkatung-katung tanpa tujuan.

 

Dan—jauh sebelum itu lagi.

 

Jika bicara tentang masa sebelum bertemu Hakushi, itu sudah berada di seberang lautan kelupaan. Yuuki berusaha sebisa mungkin untuk tidak mengingat kenangan masa itu.

 

Ia bisa menerima dirinya di masa menjadi murid sebagai proses transisi yang menghubungkan ke masa kini, tetapi dirinya di masa lalu itu—sungguh, adalah keberadaan yang sangat sulit dimaafkan, hingga ia bahkan tidak ingin membiarkannya naik ke permukaan kesadarannya.

 

Namun, karena sudah begini jadinya, ia tak punya pilihan selain menoleh ke belakang.

 

Tentang manusia macam apa dirinya dulu.

 

Tentang betapa bebal-nya dirinya sebagai manusia kala itu.

 

(3/3)


Previous Chapter | List Chapter | Next Chapter

Donasi: Trakteer


Bagikan ke:

Komentar

Tinggalkan Komentar