3. Come Full Circle
(0/3)
Yuki terbangun di dalam mobil.
(1/3)
Ia segera tahu bahwa dirinya berada
di dalam mobil.
Ia bisa merasakan tekstur jok, suara
laju kendaraan, dan guncangan mobil. Selain itu, dengan pandangan dari satu
mata kirinya, ia menangkap pemandangan malam yang mengalir deras dari depan ke
belakang, kaca depan yang membatasinya, serta sosok Agen yang duduk di kursi
pengemudi. Jelas sekali, ini di dalam mobil.
Otak Yuki yang masih setengah sadar
mulai memahami situasi. Dirinya berpartisipasi dalam permainan keenam puluh
dua, dan berhasil menyelesaikannya. Mungkin begitulah keadaannya. Mata kiri
yang terluka di tengah permainan sepertinya sudah sembuh. Ia mencoba menyentuh
dada dan perut yang juga terluka, tetapi tidak ada rasa sakit. Entah bagaimana
kondisi organ dalamnya, tapi setidaknya luka luarnya sudah tertutup.
Menyadari Yuki sudah bangun, si Agen
menoleh ke arahnya.
"Selamat pagi, Yuki-san,"
katanya.
"Selamat pagi," jawab Yuki
dengan pelafalan yang masih samar.
Biasanya, ucapan ini akan diikuti
dengan kalimat <Selamat atas penyelesaian permainannya>, namun Agen
melanggar kebiasaan itu. Dengan ekor matanya, ia terus mengamati keadaan Yuki
lekat-lekat. Karena merasakan sesuatu yang tidak biasa dari tatapan itu, dan
juga karena otak Yuki masih agak linglung, ia tidak melontarkan gurauan ringan
seperti <Menyetir sambil menoleh ke samping itu tidak baik, lho>. Ia
hanya membiarkan waktu berlalu.
"Penyelesaian permainan keenam
puluh dua……. Selamat."
Pada akhirnya, Agen mengatakan itu.
"Terima kasih."
Tanpa jeda dan tanpa melirik, Yuki
menjawab dengan biasa.
Agen mengamati Yuki yang bersikap
demikian lebih jauh, lalu melanjutkan.
"……Saya. Saya merasa senang
Yuki-san bisa bertahan hidup."
Cara bicaranya terasa agak berat.
"Haa," Yuki mengangguk kecil, lalu bertanya,
"Ada apa? Rasanya berlebihan
sekali."
Apakah ada sesuatu yang istimewa?
pikir Yuki. Angka enam puluh dua, meski besar, bukanlah angka genap yang
menjadi tonggak pencapaian. Itu angka biasa. Atau mungkin, karena kali ini ia
mengalami bahaya yang cukup parah setelah sekian lama, kata-kata itu diucapkan
berdasarkan hal tersebut?
Tidak ada jawaban atas keraguan Yuki.
"……Tidak, tidak ada apa-apa," kata Agen, lalu mengembalikan pandangannya
ke depan. Percakapan berakhir. Mobil terus melaju, mendekati apartemen Yuki,
dan tertahan lampu merah di persimpangan terakhir dari jalan besar menuju gang
belakang.
"Di sini saja tidak apa-apa.
Turunkan saya," kata Yuki.
"Anda yakin?"
"Ya. Saya sedang ingin mencari
angin malam sebentar."
"……Baik, saya mengerti."
Yuki menerima kostum permainan kali
ini dari Agen──setelan gaya pendekar pedang Barat. Ada bekas jahitan di
sana-sini, dan melihat itu, bagian tubuh Yuki yang bersesuaian terasa berdenyut
nyeri. Padahal seharusnya sudah sembuh, tapi entah kenapa, terasa sakit.
Yuki turun dari mobil dan berjalan
menyusuri jalan malam. Karena hanya melihat dengan satu mata, ia tidak memiliki
persepsi jarak, namun karena sudah terbiasa, Yuki bisa berjalan tanpa kendala,
tidak tersandung batu ataupun menabrak tiang listrik.
Di tengah perjalanan pulang ke
apartemen, Yuki berpikir kenapa ia mengatakan hal seperti tadi. Apakah sesuai
ucapannya, ia memang sedang ingin mencari angin malam? Jika iya, mengapa ia
merasa seperti itu? Meski dipikirkan, tidak ada jawaban pasti yang muncul.
Kepalanya terasa kosong. Sepertinya bukan hanya karena baru bangun tidur. Ada
sensasi seolah sebagian fungsi otaknya sedang dibekukan. Apa sebenarnya ini?
Dengan perasaan yang masih berkabut,
Yuki sampai di apartemennya.
Namun, di sana, ia menghentikan
langkahnya.
Karena ada seseorang yang berdiri
menghalangi di depan apartemen.
(2/3)
Sosok itu.
Adalah seorang gadis seusia anak SMA.
Posturnya agak tinggi, tubuhnya cenderung kurus. Ia mengenakan jaket jersey
lusuh yang pasti sudah dipakai setidaknya lima tahun. Rambutnya dibiarkan
memanjang begitu saja, dengan kulit pucat yang menyiratkan kehidupan yang jauh
dari sinar matahari. Wajah tanpa gairah hidup seperti hantu. Kecuali satu jepit
rambut yang menempel di poni, penampilannya benar-benar kampungan tanpa hiasan
apa pun.
Dia memiliki atmosfer yang terlepas
dari dunia nyata. Bahkan di malam yang dingin, dia terus memancarkan aura yang
mengandung hawa dingin hingga keberadaannya bisa dirasakan. Tegang dan tanpa
celah. Jika lengah sesaat saja rasanya titik vital akan segera ditusuk, namun
jika terus ditatap, ada hawa berbahaya seolah dia akan menyerang justru karena
ditatap. Benar-benar sosok yang tidak tampak seperti orang yang hidup di dunia
normal. Misalnya saja──ya, seperti orang yang makan dari uang hadiah permainan
pembunuhan.
Apa aku sedang melihat cermin?
pikirnya.
Tapi, bukan. Karena penampilan sosok
itu, termasuk warna matanya, persis sama dengan Yuki. Mata kanannya putih, mata
kirinya tidak. Itu tidak mungkin bayangan cermin yang terbalik kiri-kanan.
Namun, dia juga tidak terlihat
seperti manusia yang memiliki wujud fisik. Pasalnya, semakin ke kanan sosoknya
terlihat semakin jelas, dan semakin ke kiri terlihat semakin berbayang dan
bergoyang. Kebalikan total dari kondisi penglihatan Yuki yang hanya punya mata
kiri. Menjadi pasti di arah yang tidak pasti, dan menjadi tidak pasti di arah yang
seharusnya pasti. Yuki tahu kata untuk menyebut keberadaan semacam itu.
Itu adalah ilusi.
"──Selamat datang kembali."
Kata gadis itu.
"……Siapa kau?"
Tanya Yuki. Gadis itu menyunggingkan
senyum mencemooh, lalu menjawab.
"Dilihat saja harusnya tahu, kan.
Aku adalah kau."
Ilusi dari dirinya sendiri.
Yuki tidak tahu bagaimana harus
merespons hal itu. Apa ini? Kenapa aku melihat hal semacam ini?
"Yah, untuk saat ini, ayo masuk
ke kamar dulu."
'Aku' yang berupa ilusi itu menunjuk
apartemen dengan ibu jarinya.
"Mari kita bicara. Tentang
bagaimana cara 'aku' hidup mulai dari sekarang."
(3/3)
Komentar
Tinggalkan Komentar