Featured Image

Shiboyugi V5 Chapter 3

Metoya Januari 18, 2026 Komentar

 

3. Come Full Circle

 


(0/3)

 

Yuki terbangun di dalam mobil.

 

(1/3)

 

Ia segera tahu bahwa dirinya berada di dalam mobil.

 

Ia bisa merasakan tekstur jok, suara laju kendaraan, dan guncangan mobil. Selain itu, dengan pandangan dari satu mata kirinya, ia menangkap pemandangan malam yang mengalir deras dari depan ke belakang, kaca depan yang membatasinya, serta sosok Agen yang duduk di kursi pengemudi. Jelas sekali, ini di dalam mobil.

 

Otak Yuki yang masih setengah sadar mulai memahami situasi. Dirinya berpartisipasi dalam permainan keenam puluh dua, dan berhasil menyelesaikannya. Mungkin begitulah keadaannya. Mata kiri yang terluka di tengah permainan sepertinya sudah sembuh. Ia mencoba menyentuh dada dan perut yang juga terluka, tetapi tidak ada rasa sakit. Entah bagaimana kondisi organ dalamnya, tapi setidaknya luka luarnya sudah tertutup.

 

Menyadari Yuki sudah bangun, si Agen menoleh ke arahnya.

 

"Selamat pagi, Yuki-san," katanya.

 

"Selamat pagi," jawab Yuki dengan pelafalan yang masih samar.

 

Biasanya, ucapan ini akan diikuti dengan kalimat <Selamat atas penyelesaian permainannya>, namun Agen melanggar kebiasaan itu. Dengan ekor matanya, ia terus mengamati keadaan Yuki lekat-lekat. Karena merasakan sesuatu yang tidak biasa dari tatapan itu, dan juga karena otak Yuki masih agak linglung, ia tidak melontarkan gurauan ringan seperti <Menyetir sambil menoleh ke samping itu tidak baik, lho>. Ia hanya membiarkan waktu berlalu.

 

"Penyelesaian permainan keenam puluh dua……. Selamat."

 

Pada akhirnya, Agen mengatakan itu.

 

"Terima kasih."

 

Tanpa jeda dan tanpa melirik, Yuki menjawab dengan biasa.

 

Agen mengamati Yuki yang bersikap demikian lebih jauh, lalu melanjutkan.

 

"……Saya. Saya merasa senang Yuki-san bisa bertahan hidup."

 

Cara bicaranya terasa agak berat. "Haa," Yuki mengangguk kecil, lalu bertanya,

 

"Ada apa? Rasanya berlebihan sekali."

 

Apakah ada sesuatu yang istimewa? pikir Yuki. Angka enam puluh dua, meski besar, bukanlah angka genap yang menjadi tonggak pencapaian. Itu angka biasa. Atau mungkin, karena kali ini ia mengalami bahaya yang cukup parah setelah sekian lama, kata-kata itu diucapkan berdasarkan hal tersebut?

 

Tidak ada jawaban atas keraguan Yuki. "……Tidak, tidak ada apa-apa," kata Agen, lalu mengembalikan pandangannya ke depan. Percakapan berakhir. Mobil terus melaju, mendekati apartemen Yuki, dan tertahan lampu merah di persimpangan terakhir dari jalan besar menuju gang belakang.

 

"Di sini saja tidak apa-apa. Turunkan saya," kata Yuki.

 

"Anda yakin?"

 

"Ya. Saya sedang ingin mencari angin malam sebentar."

 

"……Baik, saya mengerti."

 

Yuki menerima kostum permainan kali ini dari Agen──setelan gaya pendekar pedang Barat. Ada bekas jahitan di sana-sini, dan melihat itu, bagian tubuh Yuki yang bersesuaian terasa berdenyut nyeri. Padahal seharusnya sudah sembuh, tapi entah kenapa, terasa sakit.

 

Yuki turun dari mobil dan berjalan menyusuri jalan malam. Karena hanya melihat dengan satu mata, ia tidak memiliki persepsi jarak, namun karena sudah terbiasa, Yuki bisa berjalan tanpa kendala, tidak tersandung batu ataupun menabrak tiang listrik.

 

Di tengah perjalanan pulang ke apartemen, Yuki berpikir kenapa ia mengatakan hal seperti tadi. Apakah sesuai ucapannya, ia memang sedang ingin mencari angin malam? Jika iya, mengapa ia merasa seperti itu? Meski dipikirkan, tidak ada jawaban pasti yang muncul. Kepalanya terasa kosong. Sepertinya bukan hanya karena baru bangun tidur. Ada sensasi seolah sebagian fungsi otaknya sedang dibekukan. Apa sebenarnya ini?

 

Dengan perasaan yang masih berkabut, Yuki sampai di apartemennya.

 

Namun, di sana, ia menghentikan langkahnya.

 

Karena ada seseorang yang berdiri menghalangi di depan apartemen.

 

(2/3)

 

Sosok itu.

 

Adalah seorang gadis seusia anak SMA. Posturnya agak tinggi, tubuhnya cenderung kurus. Ia mengenakan jaket jersey lusuh yang pasti sudah dipakai setidaknya lima tahun. Rambutnya dibiarkan memanjang begitu saja, dengan kulit pucat yang menyiratkan kehidupan yang jauh dari sinar matahari. Wajah tanpa gairah hidup seperti hantu. Kecuali satu jepit rambut yang menempel di poni, penampilannya benar-benar kampungan tanpa hiasan apa pun.

 

Dia memiliki atmosfer yang terlepas dari dunia nyata. Bahkan di malam yang dingin, dia terus memancarkan aura yang mengandung hawa dingin hingga keberadaannya bisa dirasakan. Tegang dan tanpa celah. Jika lengah sesaat saja rasanya titik vital akan segera ditusuk, namun jika terus ditatap, ada hawa berbahaya seolah dia akan menyerang justru karena ditatap. Benar-benar sosok yang tidak tampak seperti orang yang hidup di dunia normal. Misalnya saja──ya, seperti orang yang makan dari uang hadiah permainan pembunuhan.

 

Apa aku sedang melihat cermin? pikirnya.

 

Tapi, bukan. Karena penampilan sosok itu, termasuk warna matanya, persis sama dengan Yuki. Mata kanannya putih, mata kirinya tidak. Itu tidak mungkin bayangan cermin yang terbalik kiri-kanan.

 

Namun, dia juga tidak terlihat seperti manusia yang memiliki wujud fisik. Pasalnya, semakin ke kanan sosoknya terlihat semakin jelas, dan semakin ke kiri terlihat semakin berbayang dan bergoyang. Kebalikan total dari kondisi penglihatan Yuki yang hanya punya mata kiri. Menjadi pasti di arah yang tidak pasti, dan menjadi tidak pasti di arah yang seharusnya pasti. Yuki tahu kata untuk menyebut keberadaan semacam itu.

 

Itu adalah ilusi.

 

"──Selamat datang kembali."

 

Kata gadis itu.

 

"……Siapa kau?"

 

Tanya Yuki. Gadis itu menyunggingkan senyum mencemooh, lalu menjawab.

 

"Dilihat saja harusnya tahu, kan. Aku adalah kau."

 

Ilusi dari dirinya sendiri.

 

Yuki tidak tahu bagaimana harus merespons hal itu. Apa ini? Kenapa aku melihat hal semacam ini?

 

"Yah, untuk saat ini, ayo masuk ke kamar dulu."

 

'Aku' yang berupa ilusi itu menunjuk apartemen dengan ibu jarinya.

 

"Mari kita bicara. Tentang bagaimana cara 'aku' hidup mulai dari sekarang."

 

(3/3)


Previous Chapter | List Chapter | Next Chapter

Donasi: Trakteer


Bagikan ke:

Komentar

Tinggalkan Komentar