Bonus Buku Digital: Cerita Pendek
Eksklusif "Agen Spesialis Pemandu Bakat, Mengajari Juniornya
Dasar-Dasarnya"
Tepi jalan saat larut malam.
Di dalam mobil berwarna hitam, dua
orang agen sedang berbincang.
'Sekarang aku akan mengajarimu
dasar-dasar perekrutan,' kata sang senior.
'Baik,' jawab sang junior.
'Hal pertama yang ingin kukatakan
adalah, amatilah karakter orang itu dengan benar. Semua orang, tahu tidak,
mereka tidak melihat dengan teliti. Saat merekrut pemain untuk permainan
pembunuhan, hanya karena wajahnya rupawan, atau karena pernah membuat kasus
kekerasan, hanya karena satu atau dua faktor saja mereka langsung merekrutnya.
Akibatnya mereka cepat mati, atau berhenti, dan pada akhirnya tidak menjadi
pemain yang hebat. Apakah orang itu kira-kira bisa bertahan di dunia permainan
atau tidak, pastikanlah hal itu dengan benar-benar yakin baru ajak mereka
bicara.'
'Begitu rupanya. Saya mengerti.'
'Lalu, kalau bicara secara konkret
orang seperti apa yang bagus,'
Agen senior itu menegakkan tiga jari,
dari telunjuk hingga jari manis.
'Poinnya ada tiga. Kurang satu saja
gawat. Kalau bukan orang yang memiliki semuanya secara seimbang, dia tidak akan
berhasil sebagai pemain.'
Dia melipat jari telunjuk.
'Pertama-tama adalah kualitas
bintang. Harus punya aura yang memukau. Sehebat apa pun dia sebagai pemain,
kalau <Penonton> tidak memasukkan uang, tidak ada artinya. Tapi yah,
meskipun dibilang aura memukau, ada banyak tipenya, jadi untuk permulaan pilih
saja berdasarkan wajah. Tipe-tipe lainnya nanti pelajari saja sambil jalan.'
Agen junior menggerakkan pena di buku
catatan untuk mencatat. Setelah memastikan tangan itu berhenti, sang senior
melipat jari tengah.
'Lalu, yang kedua adalah kontinuitas.
Apakah dia mau terus melanjutkan permainan. Pada dasarnya di tempat kita tidak
ada yang namanya memaksa orang untuk bermain. Mereka harus melanjutkannya atas
kehendak bebas mereka sendiri. Apakah mereka mau terus tampil di permainan
pembunuhan atas kemauan sendiri──artinya, haruslah gadis yang memiliki
pandangan hidup dan mati yang agak aneh. Entah dari sorot mata, raut wajah,
atau dengan sedikit mengobrol, kau harus membaca atmosfer semacam itu lalu
memutuskan……'
Sang junior mencatat. Sang senior
melipat jari manis.
'Yang ketiga. Ini yang paling
penting, tapi──'
Tiba-tiba, saat itu.
Terdengar suara jeritan melengking
dari luar mobil.
Saat senior dan junior itu melihat ke
luar, ada sepasang pria dan wanita di jalanan. Seorang pria bermantel
membukanya lebar-lebar seperti kelelawar, memamerkan "benda di bawah
sana" kepada si wanita. Seorang eksibisionis, dan wanita yang terkejut
melihatnya──sepertinya itulah situasinya.
Saat senior dan junior itu terus mengamati,
situasi berubah ke arah yang menarik. Wajah si wanita berubah drastis dari
terkejut menjadi ekspresi marah, lalu dia menendang "benda di bawah
sana" milik pria itu sekuat tenaga. Pria yang berguling di tanah karena
tidak tahan menahan sakit itu terus ditendang bertubi-tubi oleh si wanita
dengan suara buk-buk. Itu adalah tempat kejadian kekerasan yang mengerikan.
'Uwoh……'
Melihat pemandangan itu, agen senior
menahan napas, lalu,
'……Itu dia, itu dia, itu dia! Ayo
keluar!'
'Eh.'
'Kita rekrut wanita itu!'
Sang senior meluruskan jari manis
yang tadinya sudah dilipat, lalu melipatnya sekali lagi.
'Yang ketiga! Sifat kekerasan! Karena
tidak ada artinya kalau tidak bisa bertahan hidup di permainan. Saat keadaan
genting, haruslah orang yang bisa langsung main tangan secara refleks! Orang
itu mungkin punya bakat!'
Kedua agen itu keluar dari mobil.
Mereka membiarkan pria itu begitu saja untuk sementara, dan memanggil si
wanita. Sambil menenangkan wanita yang masih emosi itu, agen senior mencoba
merekrutnya──.
Sambil memandangi sosok itu dari
belakang, sang junior samar-samar berpikir, sepertinya pekerjaan ini berat
juga, ya.
Komentar
Tinggalkan Komentar