Featured Image

Tenten Kakumei V3 C11

Metoya Februari 15, 2026 Komentar
Metoya Translation
UPDATE TERBARU

Sihir Permulaan

Iklim Kerajaan Palettia hampir selalu stabil. Namun, pengecualiannya adalah musim hujan. Musim yang memakan seperempat tahun ini dikenal sebagai musim bagi para bangsawan yang tinggal di ibu kota untuk pulang kampung.

Selama musim hujan, mereka kembali ke wilayah masing-masing untuk beristirahat di kediaman mereka, sekaligus agar bisa segera bertindak jika terjadi bencana atau semacamnya. Bangsawan yang memegang jabatan penting mungkin tidak bisa melakukannya, tapi secara umum ada kecenderungan seperti itu sebagai ciri khas musim hujan.

Sementara keramaian di kota bawah istana menjadi tenang, para pengrajin sibuk melatih murid atau mengerjakan pekerjaan yang ditargetkan selesai setelah musim hujan usai. Saat musim hujan seperti itu berakhir, Tomas datang berkunjung ke istana terpisah.

"Eeto...... Ha, hari ini saya diundang, sungguh, su, suatu kehormatan......?"

"Tomas, ini istana terpisah jadi tidak perlu salam yang kaku begitu."

Tomas mengenakan pakaian resmi dengan rapi, tapi tak bisa dipungkiri dia terlihat seperti "dipakai oleh baju". Tomas yang berdandan lebih rapi dari biasanya itu langsung meruntuhkan ekspresinya saat aku berkata begitu.

"......Ah elah, nggak biasa nih. Cukup kali ini aja ya."

"Gimana ya?"

"Ampuni aku. ......Barang pesanan, sudah pasti kuserahkan. Soal Airdra, uji coba terbang rendah tidak ada masalah. Sisa uji performanya boleh kuserahkan pada Nona Anis, kan?"

"Ya. Nanti, aku akan pergi menyapa dan berterima kasih pada orang-orang bengkel yang sudah mengembangkan Airdra."

"Lakukanlah. Itu pekerjaan besar, mereka cukup bersemangat mengerjakannya."

Di arah pandangan Tomas, benda yang sangat mirip dengan sepeda motor di kehidupan sebelumnya──Airdra, telah dibawa masuk. Alat sihir terbang baru yang diciptakan setelah para pengrajin mempertimbangkan lebih lanjut rancangan awalku. Menggunakan materi naga juga, ini adalah produk kelas atas di antara alat sihir yang pernah ada.

"Barang lain yang kupesan katanya sudah dikirim duluan kan? Yang itu aman?"

"Ya. Yang itu sudah selesai dicek sama Euphie."

"Kalau tidak ada masalah, syukurlah. ......Ah elah, pekerjaan merepotkan, tapi malah jadi merasa berharga mengerjakannya. Makanya aku benci pesanan dari Nona Anis."

"Bilang begitu tapi sebenarnya senang kan? Tomas."

"......Cih, nggak imut. Tapi yah, kalau ini berhasil, mungkin alat sihir bakal diproduksi massal lebih luas lagi."

"Karena itu tujuannya. Sisanya kami yang akan berusaha biar berhasil."

"Soal itu aku tidak khawatir, karena ini Nona Anis."

Saat sedang bicara dengan Tomas, Euphie yang sedang memeriksa pengiriman Airdra mendekat ke arah kami.

"Tomas, terima kasih atas kerja kerasmu. Termasuk Airdra, semua barang pesanan sudah kami konfirmasi di sini."

"Syukurlah kalau Anda puas."

"Ya, saya ingin membalas kerja keras kalian dengan hasil dan imbalan."

"Ngomong-ngomong sudah diumumkan ya, sebentar lagi Nona Anis bakal mengumumkan hasil penelitiannya secara besar-besaran."

"Soalnya ingin menarik perhatian. Bangsawan yang pulang ke wilayah saat musim hujan juga sudah kembali ke ibu kota. Ada juga orang yang mengunjungi ibu kota mengikuti arus itu, jadi sekalian mengincar momen itu."

"Begitu ya. ......Yah, berjuanglah. Aku juga menantikannya."

Euphie mengangguk dengan senyum lembut. Selama musim hujan, kami juga melakukan persiapan sambil menyisipkan kegiatan sosial dan mendapatkan bantuan dari berbagai orang termasuk Tilty.

Judulnya adalah "Pengumuman Hasil Penelitian Alat Sihir Terbang" yang diawali dengan Airdra. Ini juga sudah mendapat izin resmi dari Ayah. Tujuan luarnya adalah membalikkan penilaian terhadapku melalui kesempatan ini.

Tujuan sebenarnya ada lagi, tapi bagaimana hasilnya nanti aku belum tahu di tahap ini. Aku rasa aku sudah melakukan semua yang bisa kulakukan dengan sekuat tenaga. Sisanya tinggal menunggu hari H.

"......Nona Anis. Nah, ini pengiriman terakhir."

"Eh? Masih ada lagi?"

Saat Tomas bilang masih ada pengiriman lagi, Euphie memiringkan kepala dengan heran. Aku juga berpikir apa itu, tapi begitu Tomas membuka kotak yang ada di tasnya, aku langsung paham.

Yang ada di dalam kotak yang dibuka Tomas adalah sebilah pedang. Kesan pertama yang kudapat adalah...... bilahnya pendek. Dilihat dari mana pun panjang bilahnya adalah belati.

Tapi untuk ukuran belati, bagian gagangnya terlalu panjang. Karena gagangnya agak panjang dibanding bilahnya, jadi terlihat tidak proporsional. Bagian pelindung tangan (tsuba) juga diberi ukiran yang rumit.

"......Nona Anis, ini?"

"Aku minta tolong Tomas. Aku bilang aku juga ingin pedang sihir seperti Arc-en-ciel."

Saat membuat Mana Blade, Tomas pernah berkali-kali menyarankan kalau lebih baik ada bilah fisiknya. Katanya mekanismenya bisa lebih stabil.

Tapi aku bersikeras menolak dipasangi bilah fisik. Alasannya emosional, karena tidak terlihat seperti sihir. Tentu saja, tujuan agar mudah dibawa juga ada. Hanya saja, fakta bahwa Mana Blade tidak punya bilah fisik juga karena alasan kekanak-kanakan itu.

Tapi, setelah dibilang penyihir oleh Euphie, rasa tolakanku hilang.

"Kalau Mana Blade, bakal cepat rusak kena sihir naga. Makanya aku minta dibuatkan pedang sihir yang lebih kuat dari Mana Blade tapi......"

"Memanfaatkan pengalaman dengan Arc-en-ciel milik Nona Euphie, aku memadatkan batu roh sebanyak mungkin ke dalam bilahnya. Berkat itu bilahnya jadi tebal, tapi kalau begini tidak akan patah oleh hal sepele. Sama seperti Arc-en-ciel, bilahnya berfungsi sebagai konduktor sihir, jadi seharusnya lebih mudah mengalirkan sihir ke bilah daripada sebelumnya."

"......Tapi, ini daripada pedang, lebih mirip parang nggak sih?"

Aku menerimanya dari Tomas dan mencoba mencabut pedang sihir dari sarungnya. Bilah belati yang menampakkan wujudnya di depanku bermata satu, bilahnya tebal dan benar-benar terasa beratnya.

Bilah yang indah seperti dipoles itu seakan bisa memantulkan wajahku. Aku memastikannya berkali-kali karena rasanya pas di tanganku. Saat digenggam lagi aku jadi tahu. Panjang gagang ini pas untuk digenggam satu tangan maupun dua tangan. Yang tidak proporsional hanya panjang bilahnya.

"Tidak, itu 'prototipe pedang sihir'. Pedang yang dibuat hanya untuk memanfaatkan fungsi sebagai Mana Blade. Memang bukan pedang yang wajar. Sebagai pedang mungkin bentuknya aneh. Panjang bilah dan gagang sudah dihitung, tapi bisa disesuaikan sedikit. Nanti kasih tahu kesanmu."

"......Boleh 'kubenarkan'?"

"Ya, perlihatkan. Aku juga sudah coba tapi...... menurutku itu cukup liar."

Sambil mengangguk pada ucapan Tomas, aku mengambil jarak dari mereka berdua dan menggenggam pedang dengan kedua tangan. Sambil menghembuskan napas perlahan, aku memusatkan kesadaran untuk mengalirkan sihir ke pedang.

──Dalam. Hal pertama yang kurasakan adalah sensasi itu. Pertama, aliran sihir ke bilahnya bagus. Karena itulah terasa dalam. Dasarnya tak terlihat sampai aku berpikir seberapa banyak sihir yang bisa dimasukkan.

Aku menuangkan sihir lebih banyak daripada saat menggunakan Mana Blade biasanya. Aku mengerti kenapa Tomas bilang ini liar. Ini tidak bisa dibandingkan dengan Mana Blade biasa.

Saat sihir yang dituangkan melampaui batas tertentu, bilah sihir terbentuk memanjang dari gagang. Bilah cahaya bermata satu yang akhirnya membuat panjang bilah dan gagang terlihat seimbang.

"Kalau begitu saja, bilahnya bisa digunakan dengan imajinasi memanjangkan bilah aslinya. Kalau mau jadi bermata dua, ubah cara memasukkan sihirnya. Kalau mengubah jumlah injeksi batu roh yang jadi inti di pelindung tangan, itu bisa membantu transformasi. Nona Anis kan jumlah sihirnya banyak. Kupikir boleh dimodifikasi segitu...... nggak puas?"

"Sebagai produk massal mungkin biaya dan nilai batasnya bisa diturunkan sedikit. Tapi, sebagai barang khusus buatku...... ini pedang sihir terbaik."

Pertama, bagus karena kelihatannya tidak akan patah. Aku merasakan kekuatan ulet dan kedalaman yang meyakinkan bahwa ini tidak akan rusak bahkan jika aku menuangkan sihir naga, apalagi kekuatan penuhku.

"Saat tidak dialiri sihir rasanya seperti untuk pertahanan diri ya. Karena pendek jadi mudah dicabut, dan mudah dipakai bertahan. Lebih mementingkan pertahanan daripada serangan ya."

"Benar. Nona Anis punya 'sihir' kan? Kalau begitu, setidaknya alat boleh melindungimu. Pedang itu tidak akan pernah patah. Selama kamu tidak menyerah dan terus menggenggamnya, itu akan menjadi kekuatanmu."

Mendengar kata-kata Tomas, aku sontak mengangkat wajah dan menatap Tomas. Tomas membalas tatapanku dengan senyum berani.

"Kupikir itu cocok untuk jadi pengganti perisai saat sihir habis, dan untuk menangkis serangan. Ini mahakarya terbaikku yang bisa kupersembahkan untuk Nona Anis."

"......Punya 'sihir', ya. Dengar kalimat maut yang kejam nih, beneran."

Tanpa sadar mataku memanas. Ini memang pedang untukku. Pedang pelindung yang mengatasi kelemahan Mana Blade dan dirancang untuk digunakan sebagai pedang sihir.

Pedang milikku, yang ada demi aku, yang tidak akan terlahir dari pemikiran biasa. Pedang ini tidak akan patah. Makanya aku bisa terus menggunakan 'sihir'. Selama sihirku tidak habis, selama tekad ini tidak habis.

Ini terasa seperti doa dan harapan itu sendiri yang ditujukan padaku.

"......Tomas. Nama pedang ini?"

"Muh. ......Aku tidak berpendidikan. Kalau suka, Nona Anis saja yang kasih nama."

Yah, itu juga bikin bingung sih. Nama, nama ya? Saat aku memiringkan kepala memikirkan nama, yang bersuara adalah Euphie yang sedari tadi mengamati.

"──Bagaimana kalau 'Celestial'?"

"Celestial?"

"Saya rasa itu nama yang berarti 'Langit'. Arc-en-ciel saya adalah 'Pelangi', jadi bukankah itu nama yang pas untuk pedang saudari?"

"'Pelangi' dan 'Langit' ya. Memang pas sih."

"Untuk orang yang pertama kali berpikir ingin terbang di langit dunia ini, saya rasa itu nama yang sangat pas."

──'Langit'. Benar, awalku selalu dari langit.

Hari itu, setelah menatap langit aku menjadi 'aku'. Sejak hari itu segalanya tentangku dimulai. Hidup ini, doa ini, harapan ini. Hal milikku sendiri yang terlahir dari apa yang kubawa ke dunia ini.

"......Nggak nahan nih."

Air mata mengalir secara alami. Belakangan ini aku sering dibuat menangis. Tapi, aku tidak berniat menghentikan air mata ini. Karena aku merasa air mata ini adalah pujian terbaik untuk karya Tomas.

"Tomas, aku benar-benar senang bisa bertemu denganmu."

Aku menarik kembali sihir, dan menyarungkan pedang yang telah diberi nama Celestial. Lalu aku mengulurkan tangan pada Tomas seolah meminta jabat tangan.

Tomas sedikit ragu tapi kemudian menggenggam tanganku. Tangan laki-laki yang kasar dan kaku. Hal yang diciptakan oleh tangan ini begitu kusayangi, dan kubanggakan.

"Aku tidak akan melupakan keberuntungan bisa bertemu denganmu. Tidak peduli keluarga kerajaan atau rakyat jelata. Kamu adalah pengrajin pandai besi terbaik yang kuakui. Sebenarnya aku ingin memberimu kehormatan tapi......"

"......Tidak, tidak usah."

Tomas tersenyum sangat lembut yang belum pernah kulihat sebelumnya dan menatapku.

"Aku sudah diperlihatkan air mata yang lebih berharga dari permata apa pun. ......Aku puas dengan itu."

"......Agak telat kalau mau merayu lho."

"Siapa yang merayu."

Ya. Kami cukup begini saja. Makanya izinkan aku mengucapkannya berkali-kali dalam hati, Tomas.

Bahwa kamu adalah temanku yang tak tergantikan. Aku ingin menyampaikan terima kasih berulang kali.

    * * *

Hari itu, rasanya mimpi telah terbang landas.

Hari ini, tepat setelah musim hujan berakhir, diumumkan oleh Raja Orphans bahwa akan ada pengumuman hasil penelitian Magicology oleh Putri Anisphia. Katanya itu adalah peluncuran alat sihir terbang baru yang sebelumnya diperkenalkan dalam kuliah di Kementerian Sihir.

Banyak rakyat yang pernah melihat sosok Anisphia terbang di langit dengan alat ajaib yang misterius. Apalagi, katanya bahan yang digunakan adalah materi dari naga itu, jadi hanya bisa dibilang hebat.

Mungkin ini adalah pengumuman untuk mengumpulkan pencapaian demi mewarisi takhta berikutnya, pikir seorang putri bangsawan tertentu. Memikirkan kesulitan Anisphia ke depannya, muncul perasaan ingin mendukungnya.

Keluarga putri bangsawan ini memiliki gelar kebangsawanan yang tergolong rendah, dan dia sendiri tidak diberkati dengan bakat. Bahkan dia saja dicap sebagai produk gagal.

Anisphia ditempatkan dalam situasi yang jauh lebih tidak menguntungkan daripadanya. Padahal dia saja terkadang merasa sangat berat sampai ingin menangis, tapi Anisphia yang seharusnya berada dalam situasi yang lebih berat selalu tersenyum dan tampak senang menciptakan alat-alat ajaib.

Mungkin ada kekaguman yang tersembunyi. Baginya, Anisphia adalah orang yang pantas dihormati karena tetap hidup positif dan terus menghasilkan pencapaian meski berada dalam kesulitan.

Penemuan baru Anisphia itu, ternyata memang hebat.

Yang mengendarai kendaraan asing bernama Airdra adalah Komandan Ksatria Sprout dari Ordo Ksatria Pengawal Kerajaan. Dia yang juga pengguna sihir angin dan ksatria yang kompeten dipilih sebagai pengendara adalah keputusan untuk mengantisipasi situasi darurat.

Anisphia, dan asistennya Nona Muda Duke Euphyllia Magenta melakukan perkenalan alat sihir. Mungkin banyak yang tertarik dengan manfaat yang dibawa oleh alat sihir terbang dan cara pengoperasiannya, banyak orang yang mendengarkan dengan penuh minat.

Di sisi lain, yang memasang wajah kurang senang adalah orang-orang dari Kementerian Sihir. Jika mereka membenci Anisphia, wajar jika mereka merasa pahit melihat Anisphia menghasilkan pencapaian besar, pikir sang putri bangsawan.

Keluarganya termasuk dalam faksi yang taat pada pemujaan roh, jadi karena hubungan keluarga dia sendiri tidak memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan Anisphia. Jujur saja dia ingin mendapat bimbingan dari Anisphia, tapi memikirkan sulitnya hal itu membuatnya sedikit murung.

Saat dia menonton sambil memendam berbagai perasaan, Airdra yang dikendalikan Komandan Ksatria Sprout meraung dengan suara gemuruh seperti ringkikan naga. Angin bertiup, dan Airdra mulai mengapung. Dan melihat sosoknya yang melesat naik ke langit dengan kuat, sorakan yang mirip jeritan bergema.

"Terbang! Ternyata bukan cuma Putri Anisphia, itu benar-benar bisa terbang ya!"

Entah siapa yang mengatakannya, keriuhan itu menciptakan suasana persetujuan. Memang pernah melihat Anisphia terbang di langit dengan alat seperti sapu, tapi tidak terpikir bahwa diri sendiri bisa terbang dengan cara yang sama.

Tapi, sekarang yang mengendalikan Airdra yang menari di langit ini adalah Komandan Ksatria Sprout. Mungkin karena posisinya mirip dengan menunggang kuda, rasanya lebih mudah membayangkan bagaimana cara mengendalikannya.

Suara-suara yang mengatakan "kalau begini sih bisa" terdengar dari sana-sini. Airdra yang dikendarai Komandan Ksatria Sprout dengan cepat mengecil, lalu kembali setelah berputar perlahan seolah mengelilingi langit di atas kota bawah istana.

Saat Komandan Ksatria Sprout selesai terbang dan Airdra mendarat, sorakan membahana. Komandan Ksatria Sprout juga tampak puas dan mengangkat satu tangan ringan menjawab sorakan.

"──Hadirin sekalian, terima kasih banyak atas sorakan yang meriah."

Yang menenangkan sorakan yang menyiratkan keterkejutan, kegembiraan, bahkan harapan itu adalah Euphyllia. Karena satu angkatan di akademi, sang putri bangsawan sedikit banyak tahu tentangnya.

Euphyllia yang berdiri tegak bersanding dengan Anisphia tidak berubah sama sekali dari saat dia melihatnya dari jauh di akademi, pikirnya.

"Saya rasa hadirin sekalian sudah memahami bahwa Airdra berbeda dengan alat sihir terbang yang ada selama ini. Namun, masih banyak tantangan yang tersisa. Salah satunya adalah jika fungsi alat sihir berhenti di udara saat keadaan darurat."

Penonton yang tadinya bersemangat, terdiam seolah antusiasmenya mendingin karena satu kalimat Euphyllia. Memang benar jika jatuh dari ketinggian segitu nyawa bisa terancam.

Mungkin karena itulah Komandan Ksatria Sprout yang pengguna sihir angin dipilih sebagai pengendara, tapi kalau begitu terdengar suara-suara kecil yang meragukan apakah orang yang tidak bisa menggunakan sihir angin benar-benar bisa menggunakan alat sihir itu dengan bebas.

"──Karena itu, kami telah menyiapkan alat sihir terbang baru di sini. Selanjutnya, izinkan kami memperkenalkan alat sihir ini."

Saat Anisphia menggantikan Euphyllia mengumumkannya sambil tersenyum, penonton berseru kaget. Apakah pengumuman Airdra bukan hidangan utamanya?

"Terbang dengan alat sihir, bersamaan dengan pengumuman itu, berkat kerja sama asisten saya Nona Muda Duke Euphyllia Magenta, sihir untuk terbang telah diciptakan, mungkin mereka yang mengikuti kuliah di Kementerian Sihir sudah tahu. Namun, bahkan dengan bakatnya pun harus dikatakan sulit untuk mengendalikan sihir untuk terbang. ──Maka dari itu, yang baru kami temukan adalah busana ini."

Pandangan penonton tertuju pada gaun yang dikenakan Anisphia dan Euphyllia.

Dikira mengenakan gaun yang dihias demi pengumuman hari ini, tapi saat Anisphia bilang gaun itu sendiri adalah alat sihir, semua orang mengirimkan tatapan terkejut dan skeptis yang sama besarnya.

Sekilas, terlihat seperti gaun biasa. Kalau mau disebut ciri khasnya, mungkin dihiasi permata yang indah, dan sulaman megah di seluruh bagian gaun.

Gaun yang dikenakan Anisphia memiliki desain seolah burung yang membentangkan sayap. Gaun dengan warna dasar putih dan aksen merah muda yang lembut sangat cocok dengan citranya.

Belakangan diketahui, ini adalah karya kolaborasi para pengrajin yang dikumpulkan oleh Tomas, pengrajin yang akrab dengan Anisphia.

Bisa dibilang ini versi mewah dari gaun seragam ksatria yang biasa disukai Anisphia. Di atas gaun itu, dia mengenakan mantel yang juga dijahit dengan desain serupa.

Gaun Euphyllia juga sepertinya dijahit berpasangan dengan Anisphia. Dia juga mengenakan gaun yang didasarkan pada gaun seragam ksatria, tapi warnanya biru, dengan sulaman berwarna cerah yang mengingatkan pada kupu-kupu.

Jika gaun Anisphia memberikan kesan ceria dan terang, gaun Euphyllia memiliki keanggunan yang menonjolkan kesan bangsawan.

Desain mantelnya juga memiliki detail yang berbeda dengan milik Anisphia, dan secara keseluruhan milik Euphyllia lebih memberikan kesan ketenangan orang dewasa.

Meskipun dibilang ini alat sihir, tidak ada yang langsung paham, itulah yang dipikirkan semua orang.

  "──Kalau begitu, mulai sekarang saya dan Nona Muda Duke Euphyllia akan melakukan penerbangan udara dan tarian udara. Hadirin sekalian, tolong saksikan hasil karya kami!"  

──Hari itu, rasanya mimpi telah terbang landas.

Sang putri bangsawan yang menatap Anisphia dan Euphyllia berpikir bahwa dia tidak akan pernah melupakan pemandangan yang akan terjadi seumur hidupnya.

    * * *

(──Aliran sihir oke. Jalurnya sepertinya tidak masalah)

Sambil menarik napas dalam perlahan, aku memusatkan kesadaran sambil mengalirkan sihirku ke "gaun".

Mahakarya yang sejajar dengan Airdra yang dibuat khusus untuk hari ini. Itulah gaun dan mantel ini.

Sulaman yang ada pada gaun dan mantel ini bisa dibilang karya terbaik yang merupakan puncak penelitian batu sihir selama ini. Sesuatu yang bisa disebut "batu sihir buatan" untuk membantu sihir tujuan, yang diturunkan dari dua sampel yaitu tato segel dan batu sihir Lainie.

Batu sihir buatan yang berhasil diciptakan berkat akumulasi usahaku sampai hari ini, dan pemahaman terhadap sihir yang meningkat karena Euphie mencapai kontrak roh.

Dengan batu sihir buatan itu sebagai inti, gaun ini diciptakan menggunakan benang yang diproses dan ditetapkan dari batu roh. Meskipun menghabiskan uang sampai mata mau copot untuk try and error dan biaya pengembangan, aku menganggapnya sebagai biaya yang diperlukan.

(Dengan ini sihir terbang bisa digunakan dengan stabil. ──Benar, bahkan olehku)

Aku selalu punya mimpi. Aku punya mimpi awal di mana aku mengagumi sihir.

Sihir untuk membuat seseorang tersenyum, itulah "sihir pertama" yang kukagumi.

Aku mengulurkan tangan. Membuka tangan ke langit seolah menaunginya, lalu menggenggam seolah menangkap udara.

Penonton yang menahan napas mengarahkan pandangan pada aku dan Euphie. Bahkan para bangsawan Kementerian Sihir yang membenciku memasang ekspresi tidak percaya.

Dan, ada sudut di mana orang-orang terdekatku berkumpul. Ilia dan Lainie menangkupkan kedua tangan di depan dada seperti sedang berdoa. Ayah dan Ibu mengangguk kuat sekali saat pandangan kami bertemu.

Tuan Grantz hanya menatap lurus ke arah kami. Di sebelahnya ada Lumielle, tersenyum berani.

Dan, Tilty. Dia membuat gerakan mendengus, lalu menggerakkan bibirnya lebar-lebar.

──"Pergilah", katanya. Yang muncul bersama kata-kata itu adalah senyuman.

Aku telah didukung oleh begitu banyak orang. Aku juga harus menyampaikan terima kasih pada pengrajin kota bawah istana yang tidak ada di sini.

Mimpiku bukan lagi mimpi yang kulihat sendirian. Aku mengarahkan pandangan pada Euphie yang berdiri di sebelahku. Apakah Euphie juga melihatku, pandangan kami bertemu. Kami saling tersenyum tanpa perlu dikomando.

"Euphie. ──Ayo!"

"Baik, Nona Anis. ──Mari kita terbang."

Mendengar jawaban Euphie, aku menendang tanah dengan kuat dan mulai berlari. Sambil terus menambah kecepatan, yang kutuju adalah dinding benteng.

Setiap langkah, kecepatan semakin bertambah. Kalau begini terus aku akan menabrak dinding. Aku jadi teringat pernah melakukan kegagalan seperti itu saat kecil menggunakan batu roh angin.

──Sudah beda dengan waktu itu. Aku sudah maju ke depan, jauh lebih ke depan!

  "──Terbaaaang──!!"  

──Merespons suaraku, "sayap" terbuka.

Tubuhku terangkat seolah melompati dinding benteng yang mendekat. Di punggungku terbentang sayap cahaya yang mengingatkan pada warna langit. Sayap itu merentang lurus, memberiku daya apung.

Dari belakang terdengar suara terkejut, dan sorakan yang terlambat. Namun, suara itu pun menjauh. Batu sihir buatan menunjukkan efeknya tanpa masalah, membawaku ke langit.

Dan, yang berjajar di sebelahku sedikit terlambat adalah Euphie.

Kontras dengan sayap warna langitku, yang terbentang di punggung Euphie adalah sayap warna pelangi. Sosok itu diam-diam kupikir seperti peri.

Sayap warna langit, dan sayap warna pelangi. Sayap kami menangkap angin dan melaju di langit. Kami melakukan high five seolah menari di udara. Sambil saling tersenyum, kami terbang seolah menyapu langit di atas kota bawah istana.

Rakyat yang keluar untuk melihat penerbangan publik Airdra yang sudah diberitahukan sebelumnya, kali ini tampak tercengang melihat sosok kami yang terbang dengan membentangkan sayap.

Di antara mereka terlihat Tomas, dan sekelompok pengrajin yang terlibat dalam pembuatan Airdra dan gaun. Mereka memanggil nama aku dan Euphie sambil melambaikan tangan lebar-lebar seolah sudah tidak sabar menunggu.

Kami terbang menyapu di atas kepala Tomas dan yang lainnya, lalu kembali naik ke langit.

Apakah pertunjukan itu semakin memicu kegembiraan, sorakan terdengar dari segala penjuru kota bawah istana.

"Nona Anis!"

"Euphie!"

Euphie memanggilku. Aku memanggil Euphie sebagai jawaban. Kami terbang naik sampai ke posisi tengah di atas kota bawah istana yang juga bisa dilihat dari istana, lalu saling berhadapan.

──Nah, mari kita mulai. Kristalisasi impian kami, tarian udara yang memukau sambil terbang dengan sihir!

Manusia tidak punya sayap. Makanya manusia tidak punya cara untuk menari di langit. Langit bukan milik manusia. Tapi, itu cuma sampai hari ini! Aku akan membuktikan bahwa manusia bisa terbang bebas di langit!

"Nah, panggung peluncurannya luar biasa! Ayo, Celestial!"

Aku mencabut Celestial dari sarungnya, dan menerjang lurus ke arah Euphie.

Euphie juga mencabut Arc-en-ciel seolah ingin memperpendek jarak denganku, dan mengayunkannya padaku. Aku menyambutnya dengan Celestial untuk menangkis.

Suara pedang beradu bergema nyaring ke langit. Karena di udara tidak bisa berpijak, kami saling terpental mengambil jarak, lalu kembali beradu pedang seolah bertabrakan.

Setelah beberapa kali bentrokan, kami mengambil jarak seolah saling melempar dan terbang berputar membentuk lingkaran di udara. Selama itu dia melepaskan sihir padaku.

"Air Cutter!"

Membentangkan sayap pelangi lebar-lebar, Euphie menaikkan ketinggian untuk mengambil posisi di atasku dan mengayunkan Arc-en-ciel. Bilah angin mendekat mengikuti jejak ayunan pedang.

"Segitu doang!"

Aku menghindari bilah angin yang mendekat dengan melentingkan badan ke belakang, lalu salto di udara dan menuju ke arah Euphie, tapi Euphie terus melepaskan Air Cutter seolah ingin menjauhkanku.

Akhirnya aku tidak tahan, dan mengubah arah dengan sudut tajam untuk menghindar. Saat aku mengubah arah secara drastis, Euphie yang sedang melayang di tempat ( hovering ) juga bergerak. Kali ini dia melonggarkan daya apung dan menaikkan kecepatan menuju tanah sekaligus.

"Gak bakal kubiarin lolos!"

Aku berakselerasi mengejar Euphie yang jatuh sambil menambah kecepatan. Aku melihat Euphie sedikit mengerutkan alis.

Kami terlihat terbang dengan kondisi yang sama, tapi sebenarnya cukup berbeda.

Penerbangan Euphie pada dasarnya dibantu, tapi porosnya adalah Euphie sendiri yang terbang menggunakan sihir terbang. Jadi, alat sihir disetel utamanya untuk mendapatkan daya apung.

Makanya ada batasan pada sihir yang bisa diaktifkan bersamaan dengan sihir terbang. Kalau sihir skala besar pemrosesannya tidak akan keburu, jadi Euphie sendiri bilang sulit dilakukan sambil bergerak.

Sebaliknya, aku terbang sepenuhnya hanya dengan alat sihir. Penerbangan terwujud berkat "batu sihir buatan" yang ditanamkan sihir terbang yang disusun Euphie. Penerbangan Euphie dikendalikan langsung dengan sihir, tapi aku dikendalikan melalui batu sihir. Perbedaan ini melahirkan karakteristik penerbangan masing-masing.

"Rasakan ini!"

Saat aku mengayunkan Celestial dengan ayunan besar, Arc-en-ciel Euphie menggeser lintasannya seolah menangkis.

Lalu Euphie mencengkeram lenganku, dan menyelinap melewatinya seolah menarikku. Ditambah bonus menendang punggungku.

"Kena kau yaaa!"

Karena momentum tendangan Euphie, aku meluncur menuju tanah. Aku berguling ke depan di udara untuk memulihkan posisi, dan mendarat dengan kedua kaki di atap bangunan yang mendekat.

(Aah sial, dihindari dengan mulus! Kalau soal kebebasan kontrol aku tidak bisa menang lawan tipe kontrol sihir!)

Aku menendang atap dan kembali menari ke langit, tapi perbedaan ini benar-benar bikin pusing. Bagaimanapun kontrol tidak langsung dengan batu sihir buatan, kebebasan operasinya kalah dengan kontrol langsung menggunakan sihir.

"Tapi ya, kalau begitu ada caranya sendiri tahu!"

Aku secara sadar mengalirkan sihir, dan mempercepat kecepatan terbang. Memang dalam hal operabilitas aku kalah dari Euphie, tapi menurut Euphie, kontrol penerbangan menggunakan konsentrasi yang cukup besar.

Kontrol tidak langsung tidak bisa melakukan manuver rumit. Tapi, justru karena itu kalau cuma menerjang dengan kecepatan penuh aku tidak akan kalah. Di sana dia harus sadar untuk mengeluarkan kecepatan, lalu mengontrolnya, jadi selama aku tidak kalah nekat, kemenangan ada di tanganku!

Itu juga diketahui Euphie. Makanya dia mencoba menangkis serudukanku dengan lintasan rumit melengkung. Cara menghindar itu sudah kuprediksi sih!

"Memanjanglah!"

Bilah sihir merespons kehendakku dan memanjang dengan kuat. Aku berputar di udara, dan mencoba menghantamkan bilah yang memanjang ke arah Euphie.

Apakah Euphie sudah menduganya, dia menjadikan bilah sihir sebagai perisai untuk menahan seranganku. Memanfaatkan reaksi balik yang terjadi saat itu, dia mengambil jarak dariku.

Seolah berkata tidak akan membiarkanmu lolos, aku mengejar Euphie. Terhadap aku yang seperti itu, Euphie tersenyum senang dan berbalik seolah menyambutku.

"Nona Anis, kebebasan itu rasanya nyaman ya!"

"Ehehe, iya kan! Seru kan!"

Langit itu bebas. Kalau punya sayap bisa pergi ke mana saja. Sensasi yang berbeda dengan terbang pakai sapu penyihir ataupun Airdra ini segar, tajam, dan hatiku rasanya mau meledak saking senangnya.

"Justru karena itu, Anda menakutkan──!"

"Apanya yang menakutkan!"

"Cara terbang Anda jauh lebih mahir, sampai bikin agak kesal!"

"Aku tidak boleh kalah sama Euphie yang baru saja terbang di langit!"

"Kesal sih, tapi soal terbang kalau kondisinya sama saya tidak bisa menang! Tapi inilah dunia yang dilihat Nona Anis ya......!"

Euphie yang itu bicara dengan berapi-api seperti sedang bersemangat. Itu terlihat seperti dia mengekspresikan kegembiraan dan keterkejutan yang biasanya tidak dia tunjukkan dengan jujur.

"Bisa pergi ke mana saja...... itu menakutkan! Tapi, sangat menyenangkan sampai dada terasa penuh ya! Nona Anis!"

Aha, katanya. Tawa yang tidak seperti Euphie keluar. Aah, mendengarnya aku juga jadi berpikir.

Bahwa ini menyenangkan dari lubuk hati, kami menikmati tarian udara ini dari lubuk hati.

"Makanya, saya tidak ingin mengakhirinya dengan mudah!"

Bersamaan dengan teriakan Euphie, Arc-en-ciel diayunkan. Jejak ayunan pedang yang tergambar menciptakan rentetan peluru pelangi seolah menarik ekor. Itu cuma peluru sihir biasa yang diisi berbagai macam elemen. Dia melepaskannya seperti shotgun.

"Iih!? Bahaya!? Mana Shield!"

Sadar tidak sempat menyerang balik, aku mengangkat tangan dan berteriak. Gelang yang terpasang di pergelangan tangan, dengan itu sebagai pusatnya perisai sihir terbentuk di depanku dan menahan peluru yang ditembakkan Euphie. Tapi, karena reaksi balik menahan serangan, aku terpental ke belakang.

Aku meluncur di udara seperti itu, lalu memutar badan seolah melakukan turn di tempat. Dengan momentum itu aku terbang menuju Euphie.

"Kembaliannya! Celestial! Overedge Separation!"

Bilah sihir Celestial yang kuayunkan mendatar dengan lebar terlepas dari bilah fisiknya, menjadi tebasan raksasa dan mendekat ke arah Euphie.

Terhadap serangan yang mendekat, Euphie membentangkan sayap pelangi di punggungnya lebar-lebar. Dia memasang kuda-kuda seolah berpijak di tempat, dan membesarkan bilah sihir sama sepertiku.

"──Arc-en-ciel, Overedge."

Arc-en-ciel melukiskan kilatan pedang seolah membelah dua bilah sihir Celestial. Akibat reaksi baliknya Euphie sedikit meringis. Saat itu juga, aku menghantamkan sihir untuk akselerasi. Sekarang saat gerakannya berhenti adalah kesempatan!

"Ketangkaaaap!!"

Aku mengulurkan tangan ke depan dan menangkap lengan Euphie. Lalu aku memutar-mutarnya tanpa ampun dengan kecepatan yang tidak bisa dikejar kecuali Euphie memusatkan kesadaran pada kontrol.

"Kuh, aaaaakh!!"

"Abababa!? Sakiiit!?"

Dengan ekspresi putus asa Euphie mengalirkan petir ke seluruh tubuhnya. Karena rasa kebas dan sakit yang menjalar di tangan, aku melepaskan tanganku. Mengincar celah itu, Euphie menaikkan kecepatan terbang dan berakselerasi mengejarku.

Dan dengan alis masih berkerut, Euphie menghantamkan dropkick ke perutku.

"Geho!?"

Gara-gara momentumnya, aku jatuh menuju tanah begitu saja. Aku melambatkan momentum, tapi sudutnya kurang untuk kembali ke langit. Aku mengalirkan sihir penguat tubuh ke kaki, menahan dampak pendaratan. Kakiku terasa kebas, tapi aku langsung menendang atap bangunan dan kembali menari ke langit.

"Euphie mana!?"

Saat aku melihat ke langit mencari sosok Euphie yang hilang dari pandangan, Euphie sedang melayang diam ( hovering ) sambil mengangkat Arc-en-ciel ke langit.

Lingkaran sihir besar muncul di bawah kaki Euphie, dan rentetan peluru pelangi lahir seperti bintang yang mengelilingi Euphie. Rentetan peluru bertambah jumlah dan ukurannya, lalu ditembakkan padaku dengan variasi kecepatan.

Aku menebas peluru yang ditembakkan dengan bilah sihir Celestial sambil terbang. Rentetan peluru yang berpusat pada Euphie masih terus bertambah jumlahnya.

"Kalau begitu, kusapu bersih sekalian pusatnya!"

Saat aku menghantamkan sihir ke Celestial, Celestial menyerap sihir seolah meresap. Aku mengangkat Celestial yang panjangnya menjadi berkali-kali lipat tinggi badanku, dan mengayunkannya ke arah Euphie.

"Haaaa──!!"

Rentetan peluru yang hendak menyerangku berhasil kusapu bersih, tapi tentu saja Euphie sudah membaca lintasan pedang yang besar itu. Dia membalikkan badan mengubah hovering menjadi terbang, dan berputar seolah ingin mengambil posisi di belakangku.

Tak mau kalah, aku juga mengubah ukuran bilah sihir dan berbalik menghadap Euphie. Di saat yang sama serangan Euphie mendekat.

Aku mengayunkan Celestial seolah menangkisnya. Bilah sihir kami saling beradu, berkali-kali bersilangan. Setiap kali itu kami menjauh, lalu bertabrakan lagi.

Jika dikejar aku membalas dengan adu pedang, lalu yang mengejar dan dikejar bergantian. Sambil terbang bebas ke atas bawah kiri kanan dengan cepat, aku dan Euphie saling bertabrakan.

"Euphie!"

"Nona Anis!"

Yang terpancar di wajah kami masing-masing adalah senyuman. Kami menari di langit seolah sangat menyenangkan. Namun, waktu itu tidak berlangsung selamanya. Kami tiba-tiba berhenti bergerak seolah sudah janjian, melayang diam dan saling memandang. Keringat mengalir dari pipi, lalu terbawa angin.

"......Sihirku, berkurang banyak."

"......Benar juga."

Alat sihir terbang ini dijejali banyak fungsi, jadi punya kelemahan boros konsumsi sihir. Kami memutuskan lebih baik berhenti demi alasan keamanan juga.

Euphie mendekat ke sisiku sambil mengapung di langit. Tangan yang saling terulur bersentuhan, dan kami saling menggenggam dengan jari bertautan.

Ekspresi yang ditunjukkan Euphie adalah senyuman, tapi terlihat agak menyayangkan. Perasaanku juga sama.

──Di situ, tiba-tiba aku mendengar sorakan bergema dari bawah kaki.

Di kota bawah istana di bawah mata, mungkin karena bersemangat melihat tarian udara kami, semua orang bersorak sambil melambaikan tangan lebar-lebar. Dari arah istana juga terdengar sorakan yang tidak sedikit.

Tidak ada perbedaan status dalam sorakan itu. Orang kota, ksatria, pelancong, bangsawan. Terdengar suara semua orang memuji kami dengan senyuman.

"......Nona Anis."

Euphie menggenggam erat tangan yang jari-jarinya bertautan. Tanpa sadar air mata mengalir di pipiku.

Alat sihir menjadi umum berarti orang yang tidak bisa menggunakan sihir sepertiku pun bisa menari di langit. Itu berarti kemungkinan terbuka bagi semua orang.

Semua orang bermimpi, dan memeluk kemungkinan di dalam dada. Aah, betapa indahnya masa depan itu.

Aku tidak bisa bilang tidak akan ada kesulitan di masa depan. Tapi, hanya di saat ini semua orang tertawa. Bersorak keras, larut dalam kegembiraan.

"......Kh, hu......u......!"

Pemandangan itu membuatku merasa harapan yang kuimpikan telah diakui oleh semua orang, dan sesuatu yang membuncah menyebar di dada. Di sini, sekarang, ada pemandangan yang ingin kuwujudkan.

Pemandangan yang selalu kuimpikan sejak aku menyadari ingatan masa lalu. Dongeng yang entah sejak kapan hampir kuserah dan kupikir tidak akan terwujud.

Aku yang terlahir sebagai keluarga kerajaan tapi tidak diberkati bakat yang diharapkan dari keluarga kerajaan, tidak ditemukan nilainya oleh siapa pun. Justru karena itulah aku bebas. Justru karena bebas, karena bisa pergi ke mana saja, aku sendirian. Tapi, sekarang aku tidak sendirian lagi.

Bukan orang aneh, bukan putri gagal. Aku bisa membusungkan dada dan berkata bahwa aku adalah putri yang terbang di langit. Saat ini, aku benar-benar merasa diinginkan oleh dunia ini.

"Nona Anis, tersenyumlah."

"Euphie......"

"Semua orang, mengharapkan senyuman Anda."

Kata Euphie sambil tersenyum. Meski begitu air mata yang tumpah tak kunjung berhenti.

Makanya, tanpa mempedulikan air mata aku memutuskan untuk tertawa. Sekali lagi aku menurunkan pandangan ke bawah. Sorakan masih belum berhenti, tatapan mereka terus menengadah melihat kami.

Aku melambaikan tangan pada orang-orang itu. Seolah memberitahukan keberadaanku. Aku ingin menyampaikan bahwa langit ini adalah sesuatu yang bisa mereka harapkan juga.

Saat aku melambaikan tangan, sorakan kembali membesar seolah meledak. Mendengar sorakan itu aku terpikir satu hal, dan menatap Celestial yang ada di tanganku.

"......Euphie, temani aku sebentar lagi."

"Nona Anis?"

"Pedang kristal pelangi yang kamu tunjukkan padaku waktu itu...... itu, bisa dikeluarkan?"

"......Kalau diniatkan mau dikeluarkan sih bisa."

"Kalau begitu, tolong ya. Aku juga, akan mencobanya."

Kami saling memasang kuda-kuda dengan pedang kesayangan yang sudah disarungkan sambil tetap bergandengan tangan. Bersamaan dengan aku mengalirkan sihir ke Celestial, Euphie juga menuangkan sihir ke Arc-en-ciel.

Kedalaman Celestial yang bisa menyerap sihir sampai mana pun tidak bisa dibandingkan dengan Mana Blade. Justru karena itu aku yakin. Bahwa aku pun pasti bisa melakukannya seperti yang ditunjukkan Euphie hari itu.

Dan, sihir yang dimasukkan ke dalam Celestial mengubah sensasinya. Bilah pedang yang tadinya bercahaya, mengkristalkan cahaya itu. Warnanya adalah warna sihirku, warna langit.

Euphie juga sama, menciptakan Arc-en-ciel yang diselimuti bilah kristal pelangi. Aku memberi isyarat mata pada Euphie lalu mengangkat Celestial ke langit seolah menaunginya.

Euphie juga mengangkat Arc-en-ciel seolah menumpuknya pada Celestial. Bilah kami saling bertumpuk, dan mengeluarkan suara kecil.

  "──Kepada Langit." "──Pelangi."  

Dan, pedang yang bertumpuk mulai turun seperti butiran partikel. Aku dan Euphie terbang membentuk lingkaran di atas ibu kota kerajaan seperti itu. Bahkan saat terbang menyapu di atas istana kerajaan, kristal dari dua pedang terus menghujani seperti partikel.

Partikel yang turun sambil berkilauan itu menjangkau semua orang yang melihat pemandangan ini. Semua orang matanya tertuju ke langit, dan anak-anak mengulurkan tangan ke partikel cahaya dengan riang.

Lalu kami naik lagi ke langit atas, dan kembali menumpuk pedang kami yang diangkat.

Apa yang ingin kulakukan, Euphie memahaminya tanpa perlu kata-kata. Sambil mengangguk pada Euphie yang tersenyum padaku, kami menyatukan suara.

Harapan yang dimasukkan adalah rasa terima kasih. Terlahir di dunia ini, dibesarkan di negara ini, dengan segenap perasaan kepada semua orang yang telah membimbingku.

  "──Kepada seluruh rakyat, yang tinggal di negeri ini." "──Berkah!"  

Merespons kata-kata doa yang dirangkai, bilah yang mengkristal pecah.

Partikel yang berhamburan bagaikan kembang api. Cahaya warna langit dan pelangi yang pecah dengan kami sebagai pusatnya meleleh ke udara sambil berkilauan. Seperti yang terucap, seolah mengirimkan berkah kepada semua orang yang melihat pemandangan ini.

Sorakan tidak berhenti. Kali ini bukan cuma anak-anak, semua orang mengulurkan tangan pada partikel cahaya yang turun. Partikel sihir yang akan meleleh dan hilang jika jatuh ke tangan begitu fantastis hingga membuat kehilangan suara.

Aku menatap pemandangan itu sambil bergandengan tangan dengan Euphie. Sampai benar-benar menghilang, selamanya, selamanya.

 

❤️

Dukung Translator

Support the Translator

Traktir kopi agar update makin ngebut!

Buy us a coffee to speed up updates!

Bagikan ke:

Komentar

Tinggalkan Komentar