Featured Image

Tenten Kakumei V2 Bonus BOOK☆WALKER

Metoya Februari 14, 2026 Komentar
Metoya Translation
UPDATE TERBARU

Aku Persembahkan untuk Hari-hari Ini, Sebuah Doa Kecil

Sejarah Kerajaan Palettia terbilang cukup panjang. Karena itu, tradisi yang diwariskan pun jumlahnya berbanding lurus dengan panjangnya sejarah tersebut.

Keluarga kerajaan dan bangsawan adalah perwakilan yang berdiri di garis depan negara, sekaligus pihak yang memikul sejarah tersebut. Justru karena itulah, mereka harus menghadapi tradisi yang telah terakumulasi dengan tulus dan mempelajari banyak hal.

"──Tapi, yang tidak suka ya tidak suka!"

Aku berteriak demikian lalu menelungkupkan badan di atas meja. Biarpun dibilang tidak sopan, kalau tidak suka ya tetap tidak suka.

Melihatku menelungkup di meja, yang menyapaku dengan panik adalah Lainie.

"Anu, Anisphia-sama... Anda tidak apa-apa?"

"Apa begini kelihatannya tidak apa-apa?"

Sambil tetap menelungkup di meja, aku menjawab Lainie. Lainie tampak kehabisan kata-kata dan tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia hanya memancarkan aura kebingungan.

"...Sepertinya Anis-sama juga sudah mencapai batasnya, jadi mari kita sudahi belajar hari ini sampai di sini saja."

Yang mengatakan itu sambil menghela napas pasrah adalah Euphie.

Ini adalah salon di istana terpisah, tempat diadakannya sesi belajar untukku dan Lainie. Pengajarnya adalah Euphie.

Euphie dan Lainie, yang diambil ke istana terpisah setelah melalui berbagai liku-liku, sebenarnya berada dalam hubungan yang wajar jika saling bermusuhan. Euphie diputuskan pertunangannya oleh tunangannya gara-gara Lainie, dan itulah sebabnya dia datang ke istana terpisah ini.

Di sisi lain, Lainie juga merupakan faktor bahaya yang hampir mengacaukan negara karena faktor yang tidak dia ketahui dan tidak bisa dia kendalikan. Posisinya sangat berbahaya sampai bisa dibilang dia bisa hidup seperti ini hanya karena aku melindunginya.

Bukti bahwa dua orang dengan keadaan rumit itu bisa rukun adalah sesi belajar ini. Lainie yang dibesarkan sebagai rakyat jelata dan baru diangkat ke keluarga bangsawan masih memiliki pengetahuan yang belum matang untuk berperilaku sebagai bangsawan, dan ada banyak hal yang harus dipelajari.

Berbeda dengan Euphie yang kuambil sebagai asisten, Lainie yang pasti bosan selama berada di istana terpisah menjadi alasan awal Euphie mengusulkan sesi belajar ini. Dan aku pun terseret ke dalamnya.

'Anis-sama juga mungkin akan punya kesempatan tampil di depan umum ke depannya. Sebaiknya Anda mengulang kembali tata krama dengan benar, bukan?'

Awalnya aku mencoba mengelak dan kabur, tapi aku dikhianati oleh Ilia, pelayan pribadiku yang bisa diandalkan.

Berkat dorongan dari Ilia si pengkhianat itu juga, aku jadi ikut serta dalam sesi belajar Euphie dengan enggan, tapi ini sangat menyiksa.

Dengar ya, aku ini memang keluarga kerajaan, tapi aku ini orang bodoh yang tidak bisa pakai sihir, kan? Kalau tata krama dan sopan santun minimal bisa, nggak bakal susah kan? Aku tahu persiapan itu penting, tapi pokoknya aku benci banget. Benar-benar benci.

"...Kayaknya aku nggak usah belajar juga nggak apa-apa kan? Tuh kan, semua orang, nggak ada yang berharap sama aku kan?"

"Sayangnya, saat saya melaporkan sesi belajar ini, Yang Mulia Ratu Sylphine berpesan agar mendidik Anda dengan baik."

"Bisa nggak sih berhenti nutup jalan kaburku!?"

Mendengar vonis Ilia yang terlalu kejam itu, aku bangun dari meja dengan penuh semangat dan memprotes. Kenapa harus lapor ke Ibunda sih!? Itu kan artinya aku benar-benar nggak bisa kabur!

Melihatku yang memprotes dengan seluruh tubuh bahwa aku benci belajar, Lainie tersenyum kecut karena bingung harus bereaksi bagaimana, sementara Euphie memijat pangkal hidungnya sambil menghela napas panjang.

"Bukannya Anda tidak bisa belajar, kan. Bagaimana kalau belajar sedikit lebih serius?"

"Yang tidak suka ya tidak suka."

"...Saya bisa mengerti kenapa Anda jadi tidak suka, sih."

Mendengar desahan Euphie yang seolah terdengar suara hati 'repot deh', aku menggembungkan pipi untuk menunjukkan ketidakpuasan.

Di Kerajaan Palettia, di mana tidak berlebihan jika dikatakan kemampuan sihir menentukan nilai seseorang sebagai keluarga kerajaan atau bangsawan, aku yang tidak bisa menggunakan sihir hanyalah pengganggu.

Kalau sekeras apa pun berusaha tidak akan diakui, ya tidak perlu berusaha. Kalau sudah berpikir begitu, belajar tata krama rasanya sama sekali tidak masuk ke otak.

"Biarin aja, lagian aku ini cuma Tuan Putri Nyentrik kok—"

"Jangan ngambek. Ini kan sekalian mengajari Lainie, tidak ada salahnya, kan?"

"Adaaa! Mentalku dan kesabaranku terkikis habis-habisan nih! Tiba-tiba jadi putri yang berkelakuan baik itu mustahil buatku! Menyerahlah, Ibunda!"

Setelah berteriak begitu, aku kembali menelungkup di meja. Kali ini aku merasa bukan cuma Euphie, tapi Ilia dan Lainie juga ikut menghela napas bersamaan.

"...Apa boleh buat, mari kita istirahat. Ilia, boleh tolong siapkan teh?"

"Baik, saya mengerti."

Euphie mengumumkan akhir sesi belajar dan memberi instruksi pada Ilia. Mendengar itu, aku menempelkan pipi ke meja dengan lemas sambil melamun.

(Sudah berapa lama ya sejak terakhir kali aku duduk di meja buat belajar...)

Kalau duduk di meja buat cari referensi, penelitian, atau kerja tangan sih sama sekali nggak masalah, tapi kalau belajar tata krama tubuhku langsung menolak.

Tapi, seperti kata Euphie, bukannya aku benci belajar. Cuma benci kalau isi pelajarannya pelajaran tata krama.

"Anis-sama, sampai kapan Anda berniat berpose seperti itu...?"

"Eeeh—"

"Bukan eeeh. Bangunlah."

"Bisa nggak sih berhenti mencoba naruh cangkir teh di kepala orang sambil bilang bangun!? Lagipula panas, panas!!"

"Kalau memberontak tangan saya bisa terpeleset lho."

"Pertama-tama hentikan tangan itu dulu!"

Ilia menekan cangkir bukan di atas piring kecil, tapi di atas kepalaku. Bagian bawahnya agak panas, tapi kalau aku bergerak sembarangan aku bisa tersiram teh dari kepala, jadi aku protes sambil berusaha keras tidak bergerak.

Saat aku protes, cangkir teh itu menjauh dan diletakkan di depanku. Aku bangun sambil mengusap kepala dan memelototi Ilia. Ilia bersikap tenang seolah tidak terjadi apa-apa.

"Benar-benar deh, kepribadianmu bagus sekali ya."

"Saya tersanjung."

Saat aku menyindirnya, Ilia membungkuk dengan sopan. Lalu aku sadar Lainie yang melihat interaksi kami memasang ekspresi takjub sekaligus bingung.

"...Bagaimana ya bilangnya, itu, kalian berdua benar-benar bebas ya?"

"Soalnya aku benci diikat."

"Karena itu keinginan Tuan Putri."

Saat aku dan Ilia mengatakannya bersamaan, Lainie hanya memasang ekspresi ambigu yang sulit dijelaskan.

Melihat kami seperti itu, Euphie menghela napas panjang.

"...Lainie, orang-orang ini terlalu spesial jadi jangan dijadikan referensi ya."

"Ah, baik..."

"Apaan sih—, ngomongnya kayak kita ini pengaruh buruk buat pendidikan. Gini-gini aku lebih tua lho?"

"Kalau begitu, bisakah Anda berusaha berperilaku layaknya orang yang lebih tua?"

"Soalnya bikin sesak napas kan?"

"Bukan masalah itu sih..."

Euphie mencoba mengatakan sesuatu sambil memegang dahi seolah menahan sakit kepala, tapi sepertinya kata-katanya tidak terangkai dengan baik sehingga kelanjutannya tidak keluar.

"Maaf deh. Cuma, emang beneran nggak masuk ke otak. Aku tahu kok kamu ngomong demi kebaikanku."

"...Karena Anis-sama juga punya keadaannya sendiri, saya tidak akan memaksa. Terlalu memaksakan diri juga tidak baik. Itu juga berlaku untuk Lainie, ya?"

"I, iya."

Mendengar kata-kata Euphie, Lainie mengangguk berkali-kali. Lainie itu tipe yang kalau tidak dibilangi bakal memikirkan sesuatu sampai berlarut-larut, jadi kurasa Euphie mengkhawatirkan hal itu.

Melihat mereka berdua, pipiku mengendur secara alami. Lainie memang menjadi penyebab pembatalan pertunangan Euphie, tapi dia tidak punya niat jahat pada Euphie. Aku merasa lega karena mereka bisa menghabiskan waktu bersama seperti ini.

"Apa yang Anda tertawakan?"

"Aduh."

Ilia memukulku dengan tangan pisau dari belakang, membuatku bergumam refleks. Bukannya dipukul dengan keras sih, tapi suaraku keluar secara refleks.

"Saya mengerti Anda sedang senang, tapi tolong lebih serius sedikit dalam belajar."

"...Senang? Siapa?"

"Tuan Putri."

"...Aku?"

Mendengar perkataan Ilia, aku tanpa sadar menunjuk diriku sendiri. Di mata Ilia aku terlihat sedang senang?

"Anda sadar, bukan?"

"...Yah, bukannya nggak sadar sih."

Aku sudah lama kenal Ilia. Kalau dia sampai menunjukkan bahwa aku sedang senang, mungkin aku memang lebih senang daripada yang kupikirkan.

Dan kalaupun aku senang, itu karena aku mulai hidup bersama Euphie dan Lainie di istana terpisah.

Bukan cuma sesi belajar ini, tapi makan, obrolan santai, momen-momen seperti itu bertambah di istana terpisah. Hal yang tidak terpikirkan beberapa waktu lalu.

Mungkin aku merasa hari-hari di mana Euphie dan Lainie ada di istana terpisah lebih menyenangkan daripada yang kuduga.

"...Kalau dibilang begitu, benar juga sih."

Sebagian besar waktuku selama ini kuhabiskan di istana terpisah ini. Karena ada Ilia aku tidak merasa kesulitan, tapi tetap saja cuma ada Ilia.

Duniaku sangat sempit, dan kalau keluar yang ada cuma kenyataan yang tidak ramah. Bohong kalau kubilang tidak berat, tapi hari-hari mengurung diri di istana terpisah dan melakukan penelitian adalah hartaku, dan karena ada Ilia aku tidak pernah merasa kesepian.

(Tapi, kalau ditanya puas? Pasti sama sekali belum puas.)

Mungkin, itu karena sedikitnya orang yang bisa kurasakan dekat. Orang yang tidak menyakitkan untuk bersama, orang yang bisa menghabiskan waktu bersama. Meskipun diinginkan, itu bukan hal yang mudah didapatkan.

Aku Tuan Putri Nyentrik yang aneh. Keluarga kerajaan tapi bodoh nggak bisa pakai sihir, sebagai putri pun gagal total. Tidak ada bangsawan yang mau mendekati orang seperti itu dengan sukarela.

Mencoba keluar sebagai petualang pun, kalau ketahuan aku putri kerajaan mereka bakal jaga jarak, dan tembok pun terbentuk. Katanya petualang yang baik itu bergaul tanpa mencampuri urusan masing-masing, dan faktanya aku pernah tertolong oleh jarak seperti itu.

Tapi, tetap saja jarak itu rasanya seperti terhalang satu tembok. Makanya, kadang-kadang aku merasa sangat kesepian.

Bukan berarti aku merasa dibuang oleh dunia atau semua orang. Tapi, orang yang berada di dekatku dan bisa kugapai tangannya benar-benar sedikit, dan kebanyakan orang tidak menginginkan uluran tanganku.

Tapi, Euphie dan Lainie berbeda. Mengingat keadaan mereka berdua aku tidak bisa cuma senang-senang saja, tapi aku senang bisa membantu mereka berdua.

"...Hal kayak gini tuh hina nggak ya?"

Agak membenci diri sendiri sih, rasanya aku terlalu pamrih.

Tapi, sebenarnya aku juga ingin menjadi orang yang bisa dibanggakan seseorang, orang yang bisa berbuat baik.

"...Anis-sama?"

"Anda tidak apa-apa?"

"Ung. Tidak apa-apa, nggak ada apa-apa kok."

Saat aku melamun, Euphie menatapku dengan cemas. Lainie juga menyadari sikap Euphie, dan menatapku dengan ekspresi serupa.

Padahal situasi mereka sendiri tidak mudah. Tapi, anak-anak ini tidak berhenti memikirkan orang lain.

Karena itulah aku, sambil berharap bisa menjadi kekuatan bagi anak-anak ini, akan mengulurkan tangan. Dan jika tangan itu diraih, aku akan membantu mereka sekuat tenaga.

──Diam-diam, aku berdoa dalam hati. Semoga, kebaikan hati anak-anak ini tidak akan pernah hilang.

 

❤️

Dukung Translator

Support the Translator

Traktir kopi agar update makin ngebut!

Buy us a coffee to speed up updates!

Bagikan ke:

Komentar

Tinggalkan Komentar