Shirou Lashes Out
Ini adalah kawasan pusat hiburan. Waktunya malam hari, jam-jam di mana orang paling ramai. Di bawah papan reklame neon yang berkedip-kedip, banyak pejalan kaki berlalu-lalang.
Di antara mereka, ada seorang gadis yang posturnya jauh lebih tinggi dibandingkan orang-orang di sekitarnya.
Itu adalah Shiro.
Shiro berjalan luntang-lantung di kota. Tidak ada tujuan. Hanya saja, dia merasa sangat jengkel jika terus berada di rumah, jadi dia keluar untuk mencari angin.
Jika ditanya mengapa dia jengkel, itu karena dia baru saja melakukan kesalahan besar. Pemain hebat dengan penampilan seperti hantu, Yuuki—seharusnya dia menariknya menjadi sekutu, tapi hasilnya justru malah bermusuhan.
Shiro memiliki kepribadian yang biasanya segera melupakan sebagian besar kesalahan, tapi khusus yang satu ini adalah kekacauan yang penyesalannya tak habis-habis. Meski mencoba menepisnya, perasaan jengkel itu terus-menerus meluap tak tertahankan. Jika ada tempat untuk melampiaskan kekesalan ini, dia akan segera melampiaskannya—dia sedang dalam suasana hati yang berbahaya seperti itu.
Saat berjalan di kota dengan suasana hati seperti itu, langkah Shiro terhenti.
Ada papan tanda dilarang lewat.
"......"
Shiro mengangkat satu kakinya.
Dia mengarahkan ujung kakinya ke papan tanda itu—tapi dia berhenti sampai di situ. Kekesalan ini bukanlah sesuatu yang akan reda jika dilampiaskan pada benda mati. Menendang papan tanda hanya akan terasa hampa.
Shiro menghindari papan tanda itu dan kembali berjalan santai. Setelah berjalan luntang-lantung sebentar—
Kali ini, seekor kucing liar yang jelek menggosokkan badannya ke kaki Shiro.
"......"
Shiro memelototi kucing itu.
Tapi, dia hanya melakukan itu saja. Shiro bukan penyayang binatang. Bukan, tapi dia menganggap manusia yang melampiaskan emosi pada hewan adalah sampah. Dia tidak berniat jatuh serendah itu sebagai manusia.
Shiro mengusir kucing liar itu dengan lembut, lalu mulai berjalan lagi. Saat sedang berjalan luntang-lantung lagi—
Kali ini, dia bertabrakan dengan seorang pria yang sedang mabuk.
"Aduh..."
Kata pria itu.
Shiro dengan cepat mengamati sosok pria itu. Pemuda berusia dua puluhan. Penampilannya urakan. Tidak sendirian, dia ditemani oleh pemuda dengan penampilan serupa di kanan dan kirinya. Totalnya ada tiga orang.
"Sialan, hati-hati dong..."
Dengan wajah mabuk, pria itu memelototi Shiro sekilas.
"......"
Shiro tidak menjawab apa-apa.
"Lho,"
Kata pria yang lain lagi.
"Kirain cowok, tapi kalau dilihat baik-baik cewek bukan sih?"
"Eh?"
"Ah, bener juga."
Tatapan para pria itu terpusat pada Shiro. Menghadapi tatapan kotor itu, Shiro memalingkan wajahnya.
"Heh, kalau dilihat-lihat cantik juga ya."
"Hei, Nona, mau ikut ronde kedua sama kita nggak sekarang? Kita masih kurang minum nih."
"Lu mah, sikapnya beda banget sama yang tadi."
Para pria itu tertawa terbahak-bahak. Shiro mengepalkan tinjunya.
Dia berpikir dalam diam.
Ya. Ternyata, kalau mau melampiaskan emosi, manusialah sasaran terbaik.
Translator Note: -
Support the translator to keep the updates coming!
Buy Me a Coffee
Dukung Kami Di:
Komentar
Tinggalkan Komentar