Featured Image

Akuma Koujo V1 C1

Metoya Februari 17, 2026 Komentar
Metoya Translation
UPDATE TERBARU

Aku Menjadi Iblis

Di dalam cahaya yang samar layaknya sedang terlelap, terlihat sebuah "pemandangan".

Seolah-olah... seperti saat masih kecil, menyelam di dalam kolam renang sambil menatap ke langit... pemandangan yang samar dan penuh nostalgia itu terbentang luas.

Pemandangan itu berganti seolah mengalir, dan "gambar"-nya pun berubah.

Bagaikan film lama, "gambar" yang usang itu berganti satu demi satu.

Seorang laki-laki yang menggandeng tangan kecil "aku" yang seperti daun musim gugur.

Seorang wanita yang menggendong "aku" yang berjalan dengan langkah tertatih-tatih.

Seorang anak laki-laki dan anak perempuan yang menggenggam tangan kecil "aku" dan berjalan bersamaku.

Yang terlihat dari jendela mobil adalah bus yang digambari lukisan seperti komik, dan di belakangnya mengalir gedung-gedung besar serta toko-toko kecil.

Yang terlihat dari jendela kereta adalah rel yang berlanjut entah sampai ke mana, dan deretan kota yang tak berujung.

"Gambar" yang terlihat itu berganti-ganti bagaikan film ringkasan, dan "aku" yang sudah sedikit lebih besar pergi ke sekolah bersama anak-anak yang mengenakan seragam yang sama.

Di sekolah aku belajar dan berbincang dengan teman-teman, menonton film yang ditayangkan di sofa sambil diapit oleh kakak-kakakku, dan makan bersama kedua orang tua yang baru pulang kerja.

Berbagai warna mengalir, "gambar" yang begitu bahagia hingga membuat air mata menetes itu, tiba-tiba terhapus oleh warna "putih".

Dinding putih... Lantai putih dan seprai putih.

Yang terpantul di mata "aku" yang terbaring di tempat tidur serba putih hanyalah langit-langit yang putih bersih.

Tangan "aku" yang terangkat dengan gemetar tanpa tenaga itu kurus kering seperti kayu mati.

"Gambar" yang terlihat itu berganti.

Berganti berulang kali, namun dunia putih itu tetap tidak berubah, dan di dalam dunia yang perlahan memudar itu, hanya suara rusak seperti seseorang yang sedang menangis yang mengalir...

Dunia "aku", perlahan-lahan terhapus oleh warna "hitam".


Kesadaran yang tadinya samar perlahan-lahan bangun.

Apakah aku sedang bermimpi? Terasa agak nostalgia... mimpi tentang "Dunia Cahaya" yang sangat jauh.

Di sini... di mana? Gelap gulita dan sepertinya tertutup kabut hitam sehingga tidak terlihat apa-apa. Rasanya seperti memejamkan mata di siang hari... tidak, sepertinya aku memang sedang memejamkan mata. Begitu aku berniat untuk membuka mata, tanpa ada sensasi membuka kelopak mata, pemandangan di sekeliling tiba-tiba melompat masuk ke dalam pandanganku.

...Eh? Apa ini? Pemandangan yang terbentang di depan mata bukanlah ruangan putih seperti yang kubayangkan, bukan pula taman atau kota, melainkan tanah retak dan gersang yang berlanjut sejauh mata memandang, serta awan hitam pekat yang membentang tanpa ujung di langit yang tinggi.

Sederhananya, hanya ada tanah abu-abu kehitaman tanpa warna dan langit gelap tanpa warna.

Selain itu, bahkan rumput liar pun tidak tumbuh, benar-benar dunia yang kosong melompong.

"......"

Bagaimana aku harus mengungkapkan perasaan ini? Kalau saja di sini ada angin dingin berhembus seperti di komik, lalu selembar daun kering bergulir lewat, suasananya mungkin akan pas, tapi sayangnya, jangankan pohon, rumput liar pun tak ada.

Tapi, tunggu dulu. Ada hal yang jauh lebih membuatku penasaran daripada itu. Tidak, tempat aku berada sekarang memang parah, tapi sebelum itu, bagaimana caranya aku "melihat" pemandangan itu...?

Aku tidak punya ingatan membuka kelopak mata. Jika aku memfokuskan kesadaran untuk melihat ke suatu tempat, aku bisa melihat ke depan, belakang, kiri, kanan, atas, dan bawah secara bersamaan, seolah-olah mengingat pemandangan yang ada dalam ingatan.

Dan bahkan wujudku sendiri...

"────!?"

Aku spontan menjerit. Tapi jeritan itu tidak keluar. Sebagai gantinya, "benda itu" tersentak melompat, dan aku dipaksa menyadari bahwa benda itu adalah diriku sendiri.

Tunggu sebentar. Ayo tenang sedikit. Kenapa? Kenapa? Apa yang terjadi!? Tubuh yang menggeliat sesuai kehendakku sendiri... Pantas saja suara tidak keluar. Soalnya... aku tidak punya mulut.

Jangankan mulut, ini bahkan bukan tubuh yang wajar. Benda seperti krim kue (custard cream) yang kental dan suram, itulah wujudku saat ini.

Apa-apaan iniii...

Oke, aku sudah agak tenang. Mungkin sudah tenang. Sebenarnya mungkin aku sudah bengong selama beberapa jam, tapi karena aku tidak tahu aliran waktu, jadi tidak masalah. Lagipula karena tubuhku begini, aku tidak punya detak jantung, jadi aku bisa tenang dengan relatif cepat.

Ini adalah aku yang sekarang. Mari kita terima. Meskipun aku tidak mau menerimanya...

Omong-omong, menyebutnya krim custard adalah ungkapan yang cukup positif, sebenarnya lebih mirip mayones yang pecah karena gagal diaduk. Sama sekali tidak terlihat enak.

Ahaha, jadi ingin tertawa. Tapi tidak bisa tertawa. Singkatnya, semacam gas? Semacam slime? Benda seperti mayones yang pecah, itulah aku saat ini.

Jangan-jangan, ini juga mimpi...?

Lanjutan dari mimpi yang kulihat tadi? "Dunia Cahaya" yang kulihat tadi adalah kenyataan, dan kondisi sekarang ini adalah mimpi buruk yang jahat?

Tapi, kenyataan itu kejam. Informasi eksternal dan sensasi yang dirasakan oleh tubuh mayones ini memberitahuku tanpa ampun bahwa inilah "kenyataan". Terlebih lagi, yang menakutkan adalah, "persepsi"-ku mengakui tubuh ini sebagai "diriku", dan mentalku menjadi tenang dengan mudah tanpa rasa aneh.

...Kau mengakuinya ya, diriku. (Bingung)

Apakah ini, itu ya? Di mana mental mempengaruhi fisik, dan pada saat yang sama fisik mempengaruhi mental?

Singkatnya, ini bukan tubuh yang bisa menunjukkan gejolak emosi sebesar manusia. Karena tidak ada jantung, aku tidak berdebar-debar, dan mungkin karena tidak bernapas, nafasku juga tidak menjadi kasar. Aku tidak tahu apakah tubuh ini bisa merasakan sakit atau tidak, tapi aku tidak mengantuk, dan mungkin juga tidak lapar.

...Sebagian besar kesenangan hidup telah hilang. Meskipun air mata juga tidak keluar.

Ya, untuk sementara, meskipun aku telah menjadi tubuh seperti mayones yang pecah, setidaknya mari pertahankan egoku. Aku adalah "aku". Aku bukan orang lain.

...Lalu? Siapakah aku?

Tiba-tiba aku tersandung. Namaku... tidak bisa diingat. Lagipula, alasan aku yang sekarang bisa mempertahankan ego adalah karena adanya ingatan tentang "Dunia Cahaya". Tapi aku tidak tahu apakah itu benar-benar "ingatan" yang dialami, atau hanya sekadar "rekaman" seperti menonton film di mana gambar dan video mengalir, jadi belum tentu "gadis" yang menonton itu adalah diriku.

Tapi, rasanya tidak mungkin makhluk menyerupai mayones di dunia kosong melompong ini bisa berkhayal tentang mimpi sedetail itu, jadi ada kemungkinan aku benar-benar pernah berada di dunia itu.

Hanya kemungkinan. Tapi aku ingin punya harapan. Untuk sementara, aku akan menyebut diriku "Tanpa Nama". Mungkin aku bisa menentukannya sendiri secara asal berdasarkan ingatan dunia itu, tapi entah kenapa aku merasa tubuhku yang sekarang menolak hal itu.

Nama tidak bisa diberikan sendiri. Nama adalah sesuatu yang diberikan orang lain. Aku ingat itu.

Meskipun "aku" yang ada di dunia itu adalah aku, aku tidak bisa mengingat namanya, bahkan wajahku sendiri pun lupa. Seharusnya ada keluarga dan teman, tapi nama dan wajah mereka tidak muncul.

Ya, ayo lanjut.

Karena ada "gambar" memakai seragam, mungkin aku pelajar? Dilihat dari jumlah pengetahuanku saat ini, kurasa sekitar awal belasan atau paling tua lima belas tahun. Itu tentang "aku" dalam mimpi... sih.

Jenis kelaminnya kurasa perempuan. Aku tidak butuh pengaturan yang dipaksakan seperti sebenarnya laki-laki yang berpakaian wanita. Waktu kecil juga pakai rok, dan secara kepribadian rasanya pas sebagai perempuan.

Ya. Citra diriku perlahan mulai terbentuk, bukan? Terus begini siapa aku... oya? Kok warna tubuhku jadi makin pekat? Rasanya mayones yang pecah tadi sudah menjadi mayones biasa.

Yah, setidaknya tidak terasa lebih buruk dari sebelumnya, jadi mari terus mengingat memori mimpi itu dan menetapkan "siapa" diriku.


Begitu dan begini, waktu berlalu cukup lama sejak aku menjadi aku... rasanya begitu.

Soalnya, di sini matahari tidak terbit, dan aku tetap tidak mengantuk, jadi karena tidak tahu berlalunya waktu, aku sama sekali tidak tahu sudah berapa lama.

Sambil mengingat berbagai hal, dan sesekali menambahkan "pengaturan", rasanya aku sudah cukup bisa mempertahankan diri. (Samar)

Namun, masalah baru muncul pada hal yang awalnya kukira bukan masalah.

Sangat bosan.

Soalnya, lihat, kalau seandainya aku tidak bisa memahami kondisiku dalam situasi seperti ini, pasti aku akan merasa cemas, tapi aku tidak merasa gelisah, tidak uring-uringan, dan sama sekali tidak ada tanda-tanda menjadi gila karena kesepian.

Apakah ini pengaruh karena menjadi tubuh yang sederhana ini? Mungkin ini ekosistem yang tidak memerlukan pemikiran yang rumit.

Atau... pengaruh karena terbaring di tempat tidur selama bertahun-tahun... Sebisa mungkin, aku tidak ingin berpikir bahwa... pada dasarnya aku memang bukan tipe yang memikirkan sesuatu terlalu dalam.

Benar... "gadis dalam mimpi" itu terbaring terus di tempat tidur. Kalau memikirkan itu, mungkinkah "aku" sudah mati dan jatuh ke neraka atau semacamnya...? Tapi kalau begitu, anehnya tidak terasa sakit atau menderita.

Seperti yang kupikirkan di awal, ada rumor bahwa ini adalah mimpi. Dan tentu saja, yang menyebarkan rumor penuh harapan itu adalah aku sendiri.

"......"

Di kejauhan, "benda itu" melompat lagi.

Aku bilang di sini tidak ada apa-apa, tapi setelah berada di sini dan cukup tenang, aku sadar ada benda seperti "serangga" kecil. Seperti serangga tapi bukan serangga. Karena tidak ada pembanding jadi aku tidak tahu, tapi karena sangat kecil dan gerakannya seperti serangga, aku menyebutnya "serangga".

Mungkin sudah ada sejak awal? Mungkin aku tidak sadar karena awalnya aku bingung. Lalu ketika mentalku tenang, penglihatanku—atau lebih tepatnya indraku yang merupakan campuran penglihatan, pendengaran, dan penciuman—menangkapnya.

Mungkin, karena aku tidak bergerak sejak memiliki ego, mereka menilaiku tidak berbahaya dan menunjukkan wujudnya.

Meskipun begitu, karena aku mengira tidak ada apa-apa, sejujurnya, adanya keberadaan yang bergerak saja sudah menjadi pelipur lara.

Hmm, kalau dilihat baik-baik, bukankah dia lucu? Bentuknya tidak benar-benar seperti serangga, melainkan keberadaan aneh seperti butiran kabut, tapi karena aku tidak melakukan apa-apa, dia mendekat sampai aku bisa mengamatinya.

Plak!

"......"

...Kaget. Saat serangga itu mendekat, aku melompat dengan kecepatan yang membuat diriku sendiri kaget, memanjangkan sebagian tubuhku, dan menepuk serangga itu sampai hancur.

Eh~~... Apa yang kulakukan? Yah, melihat serangga yang mendekat, memang ada sensasi gatal yang membuatku tertarik, tapi kenapa tiba-tiba aku menepuknya sampai hancur?

Apa aku ini kucing?! Aku sendiri terkejut dengan reaksiku yang seperti kucing yang digoda dengan mainan kucing di depan mata.

Daripada itu... apa ini...?

Sebelum ditepuk memang ada sesuatu yang mirip serangga. Tapi saat ditepuk, benda itu benar-benar lenyap seperti kabut, dan meninggalkan "aroma manis" seperti nektar bunga.

Benar-benar apa ini...? Kenapa serangga mengeluarkan aroma seperti itu adalah misteri, tapi entah kenapa aroma itu memberikan "kepuasan" samar pada tubuh yang tak kenal rasa lapar ini.

Aku teringat nostalgia seperti saat menghisap nektar dari bunga kecil waktu masih kecil dalam mimpi.

"......"

Gatal... gatal... untuk pertama kalinya sejak menjadi tubuh ini, aku merasakan sensasi menginginkan sesuatu.

Daripada fakta bahwa aku menepuk serangga yang tadinya kukira pelipur lara, aku terpesona oleh aroma hasil mangsa itu, dan terstimulasi olehnya, tubuh mayonesku mulai bergetar kenyal, lalu aku mulai berkeliaran di sekitar seolah didorong oleh sensasi itu.

...Dengan tubuh ini, bagaimana caranya aku bergerak? Dari sensasi menepuk serangga, aku menduga ada kekuatan fisik tertentu, kukira aku akan merayap, tapi entah kenapa aku melayang dan bergerak ke arah yang ingin kutuju.

Karena kepribadianku ringan... tidak, bukan itu kok. Pasti bukan itu.

Lupakan soal itu, kecepatan juga lumayan ada seperti saat menepuk serangga, tapi aku hanya melayang sedikit di atas tanah, tidak bisa terbang di langit. Agak sayang.

Ah, serangga kedua ditemukan.

Sebenarnya, aku agak kesepian jadi aku berpikir apakah bisa menjadikannya peliharaan. Tapi...

Plak!

"......"

Begitu menemukannya aku langsung melompat dan menepuk serangga itu lagi. ...Benar-benar seperti kucing ya. Aku merasa menyedihkan karena tidak punya pengendalian diri.

Tapi, tidak bisa berhenti. Ada sesuatu yang sulit dilawan dalam aroma manis ini. Habisnya aku perempuan. Lagipula, salah serangga itu yang melompat-lompat di depan mataku dan menstimulasi naluri berburu kucingku yang polos.

Apa aku teracuni oleh situasi ini? Atau, mentalku terkontaminasi? Itu rasanya tidak menyenangkan juga, tapi aku memutuskan bahwa ini adalah hal yang diperlukan untuk hidup di dunia ini dengan tubuh ini.

Lagipula... "aku" yang didasarkan pada ingatan mimpi yang tidak lengkap juga tidak lengkap. Jika aku mengisi celah teka-teki yang hilang itu dengan aku yang sekarang, itu akan menjadi "aku" yang sebenarnya... seharusnya.

...Oya? Serangga pertama tadi aromanya seperti bunga, tapi kali ini entah bagaimana... aromanya seperti buah-buahan.

Gatal... gatal... Haruskah aku mencari sedikit lagi? Ya, ayo lakukan. Aku sama sekali tidak kalah oleh nafsu makan. Ini adalah keingintahuan intelektual, lho.

Sejak saat itu, pengisi waktu luang dan rutinitas harianku adalah mencari serangga ini.

Bukan karena aku ingin camilan atau semacamnya kok.


"......!"

Plak, plak.

"......!"

Plak, plak, plak.

Sejak hari itu, hari-hari mencari dan menepuk hancur serangga pun dimulai. Hmmm, hari ini pun aromanya enak. Tentu saja, dibandingkan dengan makanan manis yang kulihat di "Dunia Cahaya" itu, ini mungkin rasa yang sederhana dan tidak seberapa, tapi karena naluri berburu seperti kucing terpenuhi, itu menjadi aksen yang pas.

Bukan berarti aku punya hobi menikmati membunuh serangga atau hewan kecil. Karena kalau dihancurkan mereka menghilang, jadi tidak ada rasa jijik. Selain itu, mungkin ini adalah efek di mana sesuatu yang ditangkap sendiri terasa lebih enak.

Bukan karena itu sih... tapi rasanya individu yang besar dan lincah lebih enak.

Ketika aku bergerak menjauh dari tempat asal, ada juga individu besar seperti tikus. Dibandingkan serangga, kewaspadaan mereka lebih kuat dan tidak mau mendekat, serta larinya cepat.

Jangan-jangan ini kesempatan untuk menjadikannya peliharaan?

Plak!

"......"

Sangat lezat. Rasanya seperti ceri atau stroberi.

Saat menjalani hari-hari dengan sederhana seperti itu, perubahan mendatangi tubuhku.

Bukan karena makan camilan kebanyakan jadi gemuk... tapi tubuh yang seperti mayones pecah berwarna kuning keruh itu perlahan memadat menjadi seperti puding, warnanya pun menjadi cerah, menjadi seperti custard mewah yang menggunakan telur ayam kampung segar dan krim kental.

...Kenapa aku mencoba mengumpamakannya dengan makanan?

Padahal kalau bisa jadi warna yang keren kan bagus, tapi tidak sesuai harapan.

Ketika warna berubah dan bentuknya memadat, aku jadi semacam benda kental mirip slime. Tapi bukan benda kenyal yang lucu itu. Rasanya seperti krim custard yang sudah jadi lalu ditumpahkan ke lantai.

Tapi, apa ini pertumbuhan?

Tubuhku jadi berat dan tidak bisa melayang lagi lho?

Jangan-jangan, benar-benar jadi gemuk? Cuma gemuk saja!?

Aku yang massa jenisnya bertambah dan berubah menjadi custard mewah, jangan-jangan benar-benar berasa custard seperti serangga-serangga yang punya berbagai rasa itu?

Kalau dilihat dari luar, aku pasti kelihatan sangat enak... saat sedang berpikir begitu, ternyata memang terlihat begitu, karena "makhluk itu" yang belum pernah kulihat sebelumnya muncul di hadapanku.

"Kiii—!"

"......"

...Tiba-tiba muncul yang gede!?

Monyet. Penampilannya monyet. Tahap perantaranya dilempar ke mana!? Seharusnya, secara urutan yang muncul itu slime sepertiku kan.

Tapi... jangan-jangan, alasan kenapa tidak ada keberadaan sepertiku di sekitar sini adalah karena diburu oleh monyet yang berevolusi ini? Tidak, mungkin sesama slime saling memakan dan berevolusi menjadi monyet ini.

Entah kenapa aku merasa begitu. Bahwa aku juga "berevolusi" dari serangga kecil itu. Lalu setelah menjadi wujud sekarang, barulah ego ini tumbuh.

Jika demikian, monyet ini adalah keberadaan yang tingkatannya di atasku.

Meskipun monyet, bukan monyet besar seperti simpanse, melainkan monyet kecil berwarna hitam pekat, seperti lemur atau sejenisnya. Meskipun kecil, dia hanya terlihat lebih kecil dariku, tapi aku merasa kepadatan yang menyusun tubuhnya lebih tinggi dariku.

"Kiii"

Mungkin menyadari aku sedikit mundur, monyet itu tersenyum menyeringai seperti manusia dengan wajah yang memiliki luka merah khas di dahinya.

"......"

Uwa... menjijikkan. Kejijikan itu justru membuatku jadi tenang. Aku kaget karena tiba-tiba, tapi meskipun monyet itu berevolusi, kurasa kekuatan rasanya setingkat denganku.

Duh, gimana nih? Apa aku bisa bertarung? Apa cukup dipukul seperti menepuk serangga? Setelah tenang aku berpikir tidak sampai harus takut (walau jijik), tapi apakah bisa menang atau tidak itu masalah lain.

Ah~~... tapi, Tuan Monyet... kamu, kelihatannya sangat "enak" ya...

"Kiii..."

Mungkin merasakan suasanaku berubah, monyet itu berhenti tertawa dan memasang kuda-kuda waspada.

Aku sendiri bisa merasakan ego yang menyusun diriku berubah menjadi hitam meskipun bentuknya tetap.

Nah, mari kita mulai?

Akan kumakan kau tanpa sisa...

Monyet itu melompat menyerang, dan aku juga melebarkan tubuh kentalku seolah hendak melahapnya.

Tapi—

"────!?"

"Kiii—!?"

Monyet itu dan "aku" tiba-tiba melompat bersamaan seolah ketakutan.

Apa... ini!? Tiba-tiba hawa hitam yang kental dan pekat seperti aspal cair meluap di sekitar, dan saking kuatnya hawa yang kurasakan itu, aku pikir tubuh custard-ku akan hancur.

Ah, hei, tunggu. Tuan Monyet jangan kabur sendirian! Tubuh ini jadi berat dan tidak bisa bergerak cepat tahu!? Aku juga ingin kabur. Tapi, tidak bisa kabur.

Aku melihat seekor macan tutul hitam (panther) raksasa berdiri di atas bebatuan yang agak tinggi.

Berdiri dengan gagah meski memancarkan keganasan, bulu berwarna "hitam" pekat tanpa campuran.

Aku, daripada merasa takut, malah terpesona oleh keindahannya sampai tidak bisa kabur.

Dilihat dari ukuran monyet itu, kalaupun ukuranku sebesar kucing besar, macan tutul hitam itu terlihat lebih besar dari gajah.

Betapa hitam yang cerah... Kata cerah dan "hitam" rasanya tidak cocok, tapi aku tidak bisa mengungkapkannya selain dengan kata itu.

Ekor seperti cambuk bercabang dua yang lebih panjang dari tubuhnya dan lentur itu dikibaskan, dan macan tutul hitam yang maju sambil menghancurkan bebatuan dengan cakar peraknya itu, memantulkan diriku di mata berwarna putih perak yang memancarkan "kecerdasan" yang pertama kali kulihat di dunia ini.

"......"

Takut. Rasa takut murni yang pertama kali kurasakan sejak memiliki ego di dunia ini.

Tapi, hal itu tidak jadi masalah, aku malah terpesona pada macan tutul hitam itu. Aku tidak bisa melepaskan pandangan dari keberadaan yang luar biasa ini.

Aah... sangat... ingin mengusel-usel (mofu-mofu).

Ingin elus ingin elus, kalau dielus pasti halus banget. Bagian dadanya itu pasti empuk banget dan super lembut (moffu-moffu).

A~~~~~~~~, betapa indahnya!

"......Oy."

Hawa kekerasan memudar dari macan tutul hitam yang menatapku itu, dan dia memiringkan kepalanya dengan heran dengan gerakan yang sangat mirip manusia.

"Kenapa kau tidak takut padaku?"

──Hm!? Itu benar-benar "suara".

Yang terdengar adalah geraman pelan macan tutul hitam──. Tapi, itu bergema di dalam diriku sebagai "kata-kata" yang memiliki makna pasti.

"────!? ────!? ────!?"

Mendengar kata-kata cerdas pertama di dunia ini, aku kaget bukan main.

Suaranya tak disangka bagus... Suara macan tutul hitam itu adalah suara laki-laki sekitar awal tiga puluhan yang dalam dan hampir menjadi om-om.

Jujur saja itu suara yang sangat kusukai, jadi untuk mengekspresikan perasaan itu aku mencoba melompat-lompat sekuat tenaga, meskipun tidak menjadi kata-kata, rasanya semangatku tersampaikan.

Melihatku yang seperti itu, ekspresi yang mirip keheranan muncul di wajah macan tutul hitam itu. Padahal dia macan tutul.

"...Kau bisa mengerti bahasaku?"

Karena aku tidak bisa mengangguk untuk menjawab pertanyaannya, saat aku mengekspresikannya dengan seluruh tubuh, tiba-tiba dia menekan tubuhku dengan kaki depannya yang raksasa.

"Hoo... ternyata tidak menghilang ya. Kalau begitu, kau memiliki ego yang sangat kokoh."

"────!?"

Eh!? Jangan-jangan, kalau ego itu tidak ada, aku bakal dimangsa cuma karena diinjak!? Memang aku merasa punya ego sih... tapi tadi bahaya banget.

Saat aku gemetar kenyal memikirkan itu, terasa hawa seperti tertawa kecil darinya.

"Jangan begitu takut. Tidak, kau marah ya?"

Bukan marah sih... cuma agak kurang terima? Mungkin nuansa halus itu tersampaikan, dia menyingkirkan kaki depan yang menekanku, lalu mendekatkan wajahnya seolah mengintipku.

"Tenanglah. Aku tidak berniat mengapa-apakanmu lagi. Tapi, ada yang tidak kumengerti. Kenapa kau masih dalam wujud seperti itu?"

"......?"

Kenapa, katanya... aku juga bukan karena suka rela jadi wujud yang kelihatan enak begini.

Sementara aku mencoba bahasa tubuh sebisa mungkin dengan tubuh krim custard yang memikat ini, tak disangka, dia memahaminya dan memberitahuku sambil merasa heran.

"Individu yang berevolusi sepertimu, untuk mengatasi tubuh yang memadat dan berat, secara alami akan berevolusi menjadi tubuh yang mudah bergerak. Seperti individu yang bertarung denganmu tadi. Biasanya di situlah mereka baru mendapatkan ego, tapi kau termasuk jenis yang istimewa. Tadinya aku berpikir iseng untuk memakan siapa pun yang menang, tapi ternyata ada hal yang menarik."

Ah, bahaya. Kalaupun menang lawan monyet tadi aku bakal dimakan dia.

"Seharusnya, berevolusi berdasarkan naluri... tapi dalam kasusmu, karena egomu yang kuat, kau berpikir untuk mengatasinya dengan wujud itu, kan? Tapi, jika tidak merombak tubuh, kau tidak akan bisa lari saat bertemu individu yang kuat. Itu efek buruk dari kekuatan mental... tapi bukan hanya berita buruk lho."

"......?"

"Adanya ego berarti kau lebih mudah mendapatkan tubuh kuat yang cocok untuk dirimu. Jika berevolusi sesuai naluri, sebagian besar kasus cenderung menjadi tipe monyet. Tidak lemah, tapi kemampuannya rata-rata, dan butuh keberuntungan untuk menjadi individu yang lebih kuat. Tapi, kau beruntung yang pertama kali kau temui adalah aku."

Benar juga ya...

Tentang dia memberitahuku ini juga, tapi kalau yang kuat pertama kali kutemui bukan dia, mungkin aku sudah mati.

"Cobalah berevolusi dulu. Aku akan mengawasimu."

...Ternyata cukup baik. Tentang dia atau aku, banyak hal yang bikin penasaran, tapi kalau memikirkan itu, sepertinya fakta yang mencengangkan akan terungkap, jadi pertama-tama mari fokus pada evolusi.

Aku ingin menjadi apa. Karena ini evolusi sekali seumur hidup yang menentukan arah diriku, aku harus berpikir hati-hati. Tapi, jalan yang akan kutempuh sudah ditentukan sejak awal.

Saat aku mengubah-ubah bentuk tubuhku dengan lunak untuk melakukannya, tiba-tiba dia menginjakku dengan kekuatan yang agak keras.

"Kau... meremehkanku?"

"────!?"

"Tiba-tiba bentuk manusia, bercandanya kelewatan."

Aku mau nangis karena diancam. Walau tak bisa menangis.

Hal pertama yang kupikirkan saat akan berevolusi adalah "Manusia". Bagaimanapun "Dunia Cahaya" itu istimewa bagiku, jadi wajar kalau aku kagum dan ingin menjadi manusia.

Sekali menentukan arah, sulit untuk menjadi wujud selain itu. Makanya aku mencoba jadi manusia, tapi menurut dia, itu sama saja dengan bunuh diri.

"Memilih bentuk manusia dari awal adalah perbuatan orang bodoh."

Bentuk manusia itu lemah. Kalau dipikir secara normal memang wajar, jika hewan karnivora dan manusia dengan ukuran yang sama bertarung, sebagian besar hewan yang menang. Manusia kuat karena berkelompok dan membuat senjata.

Tapi, di dunia seperti ini asumsi seperti itu tidak ada artinya. Karena itu jika ingin kuat, tipe binatang buas atau tipe serangga sepertinya adalah yang paling optimal. Meski begitu jika ingin tangan dan kaki, aku disuruh kompromi dengan tipe monyet umum.

Tipe monyet yang katanya rata-rata itu pun jika tumbuh akan mendapatkan kekuatan yang lumayan. Sebenarnya gorila pun bisa menghancurkan hewan karnivora. Yah, bisa tumbuh sampai sana atau tidak itu tergantung keberuntungan.

Tergantung individunya, ada juga yang memiliki tanduk atau sisik. Karena serangan dan pertahanan meningkat, mendapatkannya adalah salah satu cara, katanya. Tapi... dia tidak punya tanduk atau sisik. Menurutku lebih cantik dan keren tanpa itu seperti dia, dan mungkin pikiran itu tersampaikan, dia melihatku dan menyeringai.

"Yang lemah yang butuh hiasan. Bagiku cukup cakar dan taring."

Oooh~~ keren.

Selain itu, sepertinya kalau sudah jadi sangat kuat, nanti bisa berubah jadi bentuk manusia. Hanya saja, yang melakukan itu adalah individu yang sangat kuat, seperti yang mengaku sebagai bos di wilayah itu.

Kalau begitu macan tutul hitam ini juga mungkin bisa jadi bentuk manusia, tapi dari ucapan tadi, sepertinya dia bangga dengan wujudnya sendiri.

Lalu, kembali ke pembicaraan evolusi seperti apa aku ini, kalau seperti manusia hewan bertelinga kucing mungkin masih bisa, tapi kekuatan tempur pasti turun, dan lagi dilihat dari ukuranku rasanya cuma bakal jadi seukuran balita.

Sepertinya... tipe binatang buas sama seperti dia ya? Karena dari tadi bilang kucing-kucing terus, mungkin tipe kucing bagus juga. Mirip (couple) sama dia juga, jadi rasanya oke.

"Sudah memutuskan?"

Karena aku mulai bergerak lagi, dia mengarahkan kesadaran padaku. Dia dengan sabar menunggu pikiranku terkumpul.

Tekanannya masih kuat sih... tapi aku sudah tidak bisa menganggapnya menakutkan lagi.

"Kalau begitu mulailah. Yang penting adalah kau ingin menjadi apa, kekuatan seperti apa yang kau tuju, proyeksi diri."

"────!!"

Siap senior! Seolah menjawab begitu aku melompat kecil, dan mulai memadatkan imajinasiku.

Yang diimajinasikan adalah, kucing yang ramping dan keren seperti dia. Bulu yang lembut juga bagus tapi bulu pendek juga suka. Tidak perlu khawatir soal bulu rontok.

Gawat, harus berimajinasi dengan benar. Selain cantik, keimutan juga penting. Anjing juga suka sih, tapi "aku" dalam mimpi yang tidak punya stamina akan sangat lelah kalau bersama anjing yang seharian mengeluarkan aura ingin main.

Gawat, melenceng lagi. Imajinasi... berlari cepat menembus kegelapan, mengalahkan musuh seperti ninja dengan taring dan cakar itu keren ya.

Lincah dan berlari di tanah seolah terbang... hmm~~? Terbang kah... burung juga oke ya. Elang atau semacamnya kurasa keren. Yang cepat itu alap-alap (falcon) ya? Tapi cepat saja tidak cukup kan? Rasanya ada sesuatu. Terbang cepat di dalam gua tanpa menabrak...

Bukan bukan bukan bukan, kucing lho, Kucing! Aku kucing... kucing kucing kucing kucing, aku kucing. Anak kucing yang cantik dan imut............

"...Apa maksudmu?"

"...Harus bilang apa ya."

Berhasil! Setelah evolusi aku jadi bisa bicara. Tapi, berbeda dengan kegembiraan itu, wajahnya saat melihatku sangat masam. ...Padahal wajah macan tutul.

Setelah evolusi selesai, aku menjadi seekor kucing.

Bisa dibilang sesuai imajinasi, kucing yang cantik dan imut. Aku ingin memuji diriku sendiri.

Tapi, kucing memang kucing, tapi aku menjadi "anak kucing" yang seperti bola bulu kecil.

Sayap kecil mirip kelelawar yang tumbuh di punggung, sangat imut.

Warna yang seperti krim custard, entah kenapa berubah menjadi warna emas yang indah, mata bulat seperti rubi, cakar dan taring juga merah pekat, bersinar seperti permata transparan.

Benar-benar permata hidup. Harta karun dunia. Kalau "aku" di dunia mimpi itu, pasti akan memeluk dan main seharian, jujur saja ini anak kucing yang super duper imut.

"Lalu? Bagaimana rencanamu bertarung...?"

"...E, etto..."

Gawat, dia marah. Kenapa jadi begini? Tidak, aku tahu penyebabnya sih.

Penyebabnya adalah karena aku bodoh. Bahkan aku yang bodoh pun tahu. Tubuh ini bukanlah wujud untuk bertarung di dunia di mana yang kuat memakan yang lemah ini.

"...E, ehe."

"......"

Melihatku yang spontan tertawa mencoba mengelabuhi, tatapannya dingin sampai bikin kaget.

Apa dia sudah muak? Padahal akhirnya ketemu teman bicara...

Suaranya juga aku suka, dan kalau bisa aku ingin dibiarkan mofu-mofu. Punya bulu sendiri sih, tapi kan beda barang.

"......"

Aku mencoba mendekatinya dengan kaki pendekku secara tertatih, dan jatuh di tengah jalan. Teringat punya sayap kelelawar, aku coba mengepakkannya, melayang sedikit, lalu jatuh "plek".

" "......" "

Satu ekor dan satu hewan buas itu spontan terdiam.

Bagaimana mengatasi suasana canggung ini, saat aku sedang panik, dia menghela napas panjang, lalu mendekatiku dan perlahan memamerkan taringnya.

"Hiiyu!?"

Di, dimakan~!?

"Jangan ribut."

Kap. Dia menggigitku di mulutnya, lalu mulai berjalan seperti induk kucing.

Secara ukuran komposisinya seperti hamster yang dimangsa hewan karnivora besar, tapi apa maksudnya ini?

"...Etto?"

"Aku tak berniat memakanmu. Aku juga cuma ingin ngobrol dengan lawan yang punya kecerdasan setelah sekian lama. Merepotkan sih, tapi akan kupelihara sampai aku bosan ngobrol. Bersyukurlah."

"...Baik."

Aku yang kesepian dan ingin peliharaan, begini jadinya malah jadi peliharaannya, dan kehidupan bersama berdua saja pun dimulai.

Walaupun begitu mentalku adalah perempuan. Walau dia macan tutul hitam, suaranya laki-laki yang keren.

Aku peliharaannya... entah kenapa bunyi kata itu bikin agak berdebar.

"Kau, memikirkan hal yang tidak-tidak ya?"

"Ti, tidak kok. Ah~~... benar juga, ada yang ingin kutanyakan?"

"...Apa?"

Nadanya curiga, tapi dia ternyata menanggapi dengan jujur.

Daerah sekitar sini tempat kami pindah dari tempat sebelumnya sepertinya adalah wilayah kekuasaannya sebagai macan tutul hitam, tapi bukan "sarang". Bagi kami yang tidak butuh tidur dan makan, tidak perlu tempat untuk memastikan keamanan.

Meski begitu, dengan tubuh anak kucing yang lemah ini aku ingin keamanan, tapi individu kuat yang bisa menyerangku tidak berani mendekat karena takut padanya.

"Tempat ini... apa?"

"Itu, maksudmu bukan wilayahku, tapi dunia ini?"

"Iya iya, itu."

Pertanyaan samar dari aku yang bodoh pun, dia bisa menebak maknanya dengan tepat hanya dengan menyipitkan mata sedikit dan berpikir.

"Pertanyaan yang aneh. Bukankah kau mendapatkan bahasa dan pengetahuan karena 'dipanggil' oleh seseorang?"

"Dipanggil...? Enggak, aku rasa aku baru lahir."

"Apa katamu..."

Sambil ketakutan mendengar geraman kagetnya, aku menjelaskan tentang diriku.

Seperti dia tahu tentang wujud manusia... manusia, mungkin dia juga tahu tentang "Dunia Cahaya" yang kulihat dalam mimpi itu. Kalau begitu, aku bisa sedikit menebak tentang dunia ini yang sangat berbeda dengan di sana, tapi kalau bisa aku berharap berbeda...

"Ingatan mimpi ya... Di dunia ini, ada kalanya jiwa yang hanyut itu hancur, dan pengetahuannya tumpah. Apakah kau lahir dari kumpulan pengetahuan itu, atau 'teringat', aku tidak tahu."

"......"

Ternyata ada kemungkinan aku bukan "aku"...

Ngomong-ngomong, gambaran macan tutul hitam raksasa dan anak kucing emas yang saling mengangguk dengan nada serius itu sangat surealis.

Rasanya krisis identitasku kurang greget, tapi karena bagaimanapun aku hanyalah "aku", memikirkan hal yang tidak bisa diapa-apakan cuma buang-buang waktu.

Lagipula dia menerimaku dengan tak disangka mudah ya... Selain karena kecerdasannya tinggi, aku merasa sebagai yang kuat dia tidak peduli pada hal-hal kecil.

"Tentang dunia ini, ada berbagai sebutan. Arti sebenarnya hanya bisa dipahami oleh Spesies Tertua, tapi..."

Bukan, aku tidak ingin dengar hal yang sespesifik itu.

"Tapi manusia mengungkapkan dunia ini dengan satu kata. Bahwa ini adalah 'Dunia Roh' (Seishinkai)."

"Dunia Roh...?"

"...Akan kubicarakan supaya kau paham."

...Terima kasih.

Singkatnya, tempat tinggal makhluk hidup yang punya nyawa seperti manusia dan hewan adalah "Dunia Materi", dan selain itu──tempat di mana hanya jiwa yang memiliki kehendak berada adalah "Dunia Roh".

"Lihat ke atas."

"Atas?"

Saat aku mendongak mengikuti arah pandangannya, di langit yang jauh tinggi, terbentang awan gelap seperti kabut yang selalu berlanjut tanpa ujung.

"Itu bukan langit. Itu 'dinding' yang membatasi perbatasan. Dunia Roh tidak hanya satu tapi terbagi menjadi beberapa lapisan. Di seberang sana adalah salah satunya, 'Dunia Peri'."

Mendengar itu, aku kaget tapi tidak bingung.

Lebih tepat dibilang perlahan menerima. Kepada "aku" yang terbaring di tempat tidur dalam mimpi, orang-orang yang sepertinya kakak-kakakku pernah membawakan buku-buku fantasi dan mitologi semacam itu.

"...Surga juga ada?"

"Surga (Tengoku)? Aku tidak tahu benda semacam itu, tapi di paling atas Dunia Roh ada 'Dunia Roh Agung' (Seireikai). Tempat tinggal mereka yang bertugas mengumpulkan jiwa dan menyebarkannya ke dunia."

Kalau begitu, Roh Agung itu, apakah keberadaan seperti Tuhan atau Malaikat yang kupikirkan. Jika begitu──

"...Hei."

"Kenapa?"

"Kalau begitu, ini? Apa dari Dunia Roh? Tidak, aku... kita disebut apa oleh manusia?"

"Begitu ya... Kalau maksudmu kita secara keseluruhan, oleh manusia disebut 'Iblis' (Akuma)."

"Benar kan..."

Entah kenapa aku sudah menduga sih!

Sebisanya, aku berharap jadi peri kegelapan atau semacamnya... tapi kenyataan memang kejam. Emang aku pernah berbuat jahat apa?

"Kalau soal sebutan, ini adalah 'Dunia Iblis' (Makai). Di lapisan paling bawah ada 'Jurang (Abyss)', tapi jiwa yang jatuh di segala dunia ditolak dan dijatuhkan ke Jurang, dan jiwa yang meskipun dihancurkan tapi tidak tersucikan, menyembur ke Dunia Iblis dan menjadi Iblis."

"......"

...Nggak perlu kasih serangan mental terakhir juga kali?

Begitulah aku dipaksa sadar bahwa diriku adalah iblis, tapi mengetahui tentang diri sendiri itu hal yang bagus. ...Kuputuskan begitu.

"Pertama-tama, penampilanmu yang tidak efisien itu harus diapa-apakan."

"Tidak efisien katanya... imut kan?"

"...Dengan begitu bagaimana kau berniat bertahan hidup."

Saat aku bicara bercanda, aku digigit "kap". Walau cuma gigitan main-main (amagami) rasanya hampir mati jadi tolong hentikan.

"Jangan jatuh."

"Ung."

Dia, katanya akan memberiku makan karena aku jadi wujud yang tidak bisa berburu sendiri.

Kali ini bukan digigit di mulut, tapi aku bertengger di atas kepalanya seperti rambut palsu pirang. Walaupun hampir jatuh tidak boleh mengeluarkan cakar. Nanti digigit "gab" lagi.

Tapi, walaupun iblis dia baik ya. ...Aku sempat berpikir begitu, tapi melihat dia menemukan tubuh slime seperti aku yang dulu lalu membunuhnya, dan mencabik-cabik monyet mini seperti monyet tadi satu per satu dengan cakarnya, aku merevisi pemahamanku bahwa dia memang iblis.

Tubuh slime sih agak meragukan, tapi monyet mini jelas punya ego. Soalnya, saat dicabik olehnya, mata monyet mini yang penuh ketakutan itu bertatapan denganku...

Omong-omong monyet mini rasanya seperti apel atau anggur.

Sungguh sangat lezat.

Tapi...

"Dengan begini apa aku jadi kuat?"

"Kalau diteruskan sampai batas tertentu, kau harusnya tumbuh sampai bisa berburu sendiri. Yah, menurutku kau jadi kuat dengan sendirinya sih."

"Eh? Maksudnya?"

"Kekuatan iblis adalah kekuatan 'Ego' (Ga). Kau yang dari awal punya diri sampai batas tertentu, dan makan dengan rakus sampai kejam, seharusnya saat ini monyet kecil dsb. bukan masalah lagi."

"Kejam katanya..."

Apa tidak ada cara penyampaian lain? Padahal cuma nafsu makan yang sedikit lepas kendali...

Menang lawan monyet kecil begitu tidak terasa kuat deh. Monyet yang ada lukanya itu agak besar sih. Ngomong-omong soal monyet, dia, atau kau, susah dimengerti.

"Hei hei, Tuan Macan Tutul Hitam, namamu..."

"'Macan Tutul Hitam' katamu?"

Bersamaan dengan aku memanggil, dia memotong dengan cepat.

"Jangan panggil aku begitu. Iblis tidak punya nama bawaan lahir. Seandainya sesama iblis saling memberi nama, itu menjadi penyangkalan eksistensi dan akan melemah."

"Eh~~~..."

Singkatnya penghuni Dunia Roh tidak punya nama. Seperti yang dia bilang, iblis memberi nama pada iblis adalah tindakan serangan berupa penyangkalan eksistensi. Makanya aku juga tidak bisa memberi nama sendiri ya.

Akan tetapi, di Dunia Iblis juga ada iblis yang punya nama. Keberadaan seperti itu, sepertinya diberi nama oleh ras lain saat dipanggil ke Dunia Materi dsb.

Penghuni Dunia Materi bisa memberi nama pada iblis.

Iblis yang diberi nama memperkuat diri dan menjadi lebih kuat.

Tapi, ada juga kerugiannya. Manusia yang rapuh hanya bisa memberi nama jika iblis itu lebih lemah dari pemanggilnya. Karena diberi nama jadi terbentuk ikatan jiwa, dan kalau salah langkah, bisa diperbudak sampai salah satunya mati.

Jika manusia memaksa memberi nama pada iblis yang kuat, katanya jiwa manusia itu bisa hancur. Seram ya.

Kalau sudah sekuat dia, sudah sulit bagi makhluk Dunia Materi untuk memberi nama. Kalau naga tingkat atas... ada nggak ya, naga. ...Kalau keberadaan seperti itu mungkin bisa memberi nama, tapi katanya karena hampir selalu bermusuhan dengan iblis jadi mustahil.

"Kalau begitu, harus panggil kamu apa?"

"Tidak ada nama tapi ada gelar atau nama spesies. Seperti perbedaan panggilan berdasarkan warna kulit atau tempat tinggal. Aku disebut 'Binatang Gelap' (Kurai Kemono) oleh keberadaan lain."

"...Binatang Gelap..."

"Spesies yang sama cuma ada aku, jadi kalau memanggilku panggil saja begitu."

Binatang Gelap... itu juga repot jadi "Dia" saja cukup. Mendengar ceritanya, rasanya itu lebih seperti nama akademis daripada spesies. Yah, kalau cuma dia seorang diri, mungkin tidak masalah.

Omong-omong iblis monyet mini yang dia bantai itu, hanya disebut "Monyet". Kasar banget.

"Kalau begitu, Tuan Binatang Gelap. Aku jadinya apa?"

Iblis tidak bisa memberi nama sendiri itu merepotkan.

"Tidak perlu pakai 'Tuan' untuk nama spesies. Panggil sesukamu."

"Ung. Terus aku?"

"Nama spesiesmu? ...Begitu ya. Wujud sepertimu itu langka..."

Tipe binatang buas sepertiku dan dia sepertinya langka. Dia juga sepertinya mengira sebelum aku berevolusi, walaupun punya kecerdasan, bakal jadi seperti monyet tadi. Jahat.

Nama spesies dia "Binatang Gelap" juga, katanya entah sejak kapan dipanggil begitu oleh keberadaan berakal dalam waktu yang lama.

"Oke, sudah kuputuskan. Karena wujudmu secara spesies dekat denganku, kusebut 'Binatang Emas' (Kin'iro no Kemono)."

"Te, terima kasih..."

Kucing emas, jadi Binatang Emas ya... Asal banget sih, woi.

Tapi tak bisa kuucapkan. Dibilang dengan wajah bangga begitu aku tidak bisa bilang apa-apa, dan aku menghela napas diam-diam.

***

Sejak saat itu, aku juga sudah cukup terbiasa hidup sebagai iblis.

Monyet mini yang takut pada dia pun, memang memamerkan taring pada anak kucing sepertiku, tapi setelah terbiasa ternyata bisa dikalahkan dengan cukup mudah.

Seperti yang dia bilang, sepertinya aku punya kekuatan tertentu sejak wujud ini.

Mata ketakutan saat dikalahkan pun mulai tidak kupikirkan. Mungkin, sebagai naluri iblis aku tidak memiliki hati sensitif yang memikirkan hal detail seperti itu.

"Itu sifat yang kau miliki sejak awal."

"...Hah?"

Ngomong apa sih, kucing gede ini.

"Bukan bermaksud buruk. Bahwa kau memiliki ingatan meskipun tidak lengkap, aku berpikir jangan-jangan 'Tubuh Roh' masih tersisa padamu."

Ngomong hal yang nggak jelas lagi...

Ringkasnya, Jiwa adalah wadah untuk menjadi "Kehidupan", dan Ingatan adalah hal lain lagi.

Makhluk hidup yang punya jiwa, dengan memiliki kesadaran akan membentuk ego dengan jiwa sebagai pusatnya. Jika itu manusia, dengan menumpuk pengalaman akan tumbuh, dan menjadi "Tubuh Roh" yang berwujud sama dengan orang itu.

Tubuh Roh mengakumulasi ingatan dan emosi sebagai pengalaman. Jika ada hal seperti "Reinkarnasi", dengan mengonsumsi nilai pengalaman itu, dimungkinkan untuk mendapatkan kemampuan tinggi di kehidupan selanjutnya, dan jika bisa meninggalkan ingatan secara utuh ke kehidupan selanjutnya, berarti bonus nilai kemampuan itu nol.

Kalau begitu, bukannya aku jadi kelihatan tidak kompeten...

"Manusia yang punya nilai kemampuan tinggi sambil menyisakan ingatan itu tidak ada ya."

"Ada kok."

Ada dong.

"Cuma dalam kasus itu, jiwanya diikat oleh iblis tingkat tinggi atau keberadaan supernatural. Manusia yang menyisakan ingatan, mengira ada kehidupan selanjutnya lalu bertindak nekat, tapi sebagian besar kasus, kalau mati semua pengalaman sampai saat itu dirampas, dan harus mengulang dari serangga terbang."

"Seriusan."

Kembali ke topik, jika Tubuh Roh tersisa, tubuh fisik akan terpengaruh Tubuh Roh. Sebaliknya Tubuh Roh juga akan terpengaruh tubuh fisik.

Umumnya dalam reinkarnasi meskipun menyisakan ingatan, emosi akan hilang sebagai rekaman bukan ingatan, tapi saat itu, jika bersikeras memegang teguh emosi kehidupan sebelumnya, Tubuh Roh tidak akan menyatu, dan nilai pengalaman baru akan sulit terkumpul.

"Kalau kasusku?"

"Kasusmu, ingatan sudah menjadi rekaman kan? Apakah Tubuh Roh-mu adalah kumpulan rekaman yang hancur, atau ada kehidupan sebelumnya aku tak tahu, tapi dengan menerima bahwa kau adalah iblis, aku tak bisa membayangkan wujud Tubuh Roh-mu sekarang seperti apa."

"Begitu ya..."

Karena Tubuh Roh yang menjadi dasar ingatan mimpi itu tersisa, dia berpikir mungkin kepribadian aslinya juga tersisa.

"Hanya saja, meskipun terpengaruh rekaman, kau adalah kau. Binatang Emas. Banggalah dengan dirimu yang sekarang."

"Ung..."

Terima kasih... Aku adalah aku.

"Omong-omong nilai pengalaman jiwa adalah makanan kami para iblis. Jiwa manusia yang menumpuk banyak pengalaman itu enak lho."

"O, ou..."

Duh, jadi ngerusak suasana deh.

Begitulah, aku banyak mengobrol dengannya.

Seperti monyet mini, jelas ada lawan yang punya emosi, tapi saat kutanya kenapa tidak bicara dengan mereka.

"Kau, senang bicara dengan orang bodoh?"

"Paham."

Selain monyet mini, di Dunia Iblis ini ada keberadaan yang punya kecerdasan. Hanya saja, sebagian besar dari mereka, menurut dia adalah "Orang bodoh yang tidak bisa diajak bicara" atau "Orang tolol yang sombong".

Makanya, dia bilang benar-benar sudah lama sekali tidak bertemu lawan bicara yang bisa mengobrol biasa tanpa ketakutan sepertiku.

"Obrolan denganku menyenangkan?"

"Cerita mimpimu itu, menarik lho."

Aku juga senang mengobrol dengannya. Padahal penampilannya buas... kenyataannya, memang buas dan sangat ditakuti, tapi kalau bicara begini, terasa pengetahuan dan kecerdasan dari hidup yang lama.

Tapi, kadang ada saat tidak ada obrolan.

Mungkin karena sama-sama keluarga kucing, guling-guling di tanah juga menyenangkan, selera bermain dan bercandanya mungkin mirip.

"Funya."

Ke perut mofu-mofu-ku yang sedang terlelap, dia menyorongkan ujung hidungnya dan mulai mofu-mofu (mengusel).

Geli. Dia juga kadang punya sisi seperti kucing begini.

Kalau sampai dijilat aku berniat mencakarnya, tapi kalau cuma digulingkan seperti bola bulu dengan ujung hidung, atau dicium baunya, aku bukan anak kecil yang sampai mengeluarkan cakar.

Soalnya aku juga dibiarkan mofu-mofu di bulunya kok!

Bulunya halus, tapi bagian dada kalau dilemaskan jadi terasa mofu (empuk). Aku menerjang masuk seolah tenggelam di sana, dan membiarkan diriku mofu-mofu dengan seluruh badan.

Itu juga, aromanya enak lho...

Cuma sedikit, tapi agak manis, memberikan rasa mabuk ringan seolah menjilat alkohol. Belum pernah minum sih. ...Jangan-jangan perutku juga aromanya begitu?

Ah, hei, sudah kubilang jangan dijilat!













Kami berdua menghabiskan waktu yang sangat lama.


Karena ini adalah Dunia Roh di mana aliran waktunya tidak menentu, aku tidak tahu waktu pastinya, tapi perubahanku membuatku menyadarinya.


Wujudku, dari sekadar anak kucing yang imut, telah tumbuh menjadi dewasa meski tetap ramping, dan ukuranku pun berubah dari seukuran bola bulu menjadi seukuran kucing hutan. Ukuranku memang sama sekali tidak bisa menyainginya, tapi meski begitu, aku jadi bisa berlari dengan kecepatan yang setara dengannya.


Sesekali aku pakai sayap sih! Tapi, kalau aku menggunakan sayap dengan serius, mungkin aku lebih cepat darinya?


Kekuatanku juga meningkat lumayan. ...Apa mungkin gara-gara makan berlebihan ya? Soalnya, dia menangkap banyak mangsa untukku, dan karena sejak saat itu kami hampir selalu bersama, aku jadi ikut makan juga.


Aku juga berburu sendiri saat ingin camilan, jadi mau tidak mau aku sadar bahwa aku menjadi kuat.


Lihat, sekarang pun ada monyet yang cukup besar, tapi begitu aku menampakkan diri, dia mulai mundur perlahan.


Tapi, monyet sebesar ini langka ya. Kadang ada kelabang atau tipe binatang buas seperti kami, tapi individu sebesar ini jarang terlihat.


Kalau sudah sebesar ini, penampilannya benar-benar seperti simpanse. Tapi... eh?


Luka merah di dahi itu...


"Kamu 'Monyet' waktu itu ya?"


"Kiii... Kau..."


Dia bicara! Yah, kalau sudah berevolusi sampai segini wajar kalau bisa bicara. Sebenarnya monyet mini yang sudah tua pun sepertinya bisa bicara biasa. ...Hanya saja kami cuma mendengar teriakan terakhir mereka sebelum mati.


Monyet ini mungkin adalah individu berevolusi pertama yang kutemui. Kurasa dia adalah monyet yang waktu itu hampir bertarung denganku.


Nostalgia sekali. Apa kabar? Kamu sudah besar sekali ya!


"Kiii—!!"


"Ah..."


...Saat aku mencoba mendekat, dia malah kabur. Kemampuan kaburnya masih hebat seperti biasa. Kalau aku berniat mengejar, aku bisa terbang dan menyusulnya, tapi aku tanpa sadar hanya bengong melihat kepergiannya.


Kenapa ya dia... Padahal aku sama sekali tidak mengucapkan hal-hal seperti 'Kelihatannya enak seperti selai stroberi pekat', atau semacamnya lho.


Iblis tipe monyet itu entah kenapa aromanya seperti buah-buahan. Ajaib!


Kalau diperlakukan seperti itu, aku jadi sadar bahwa aku sudah menjadi kuat. Tapi, sampai sekarang pun kalau bercanda dengannya (macan tutul), akhirnya aku selalu dijatuhkan dan perutku diusel-usel (mofu-mofu).


Apa aku benar-benar kuat ya...? Kali ini aku tidak akan kalah.


Pada suatu hari saat aku sedang melakukan hal itu...


"...Hei, itu apa?"


Akhirnya, karena kalah bercanda dan diusel-usel, lalu karena dia terlalu gigih aku menggigit hidungnya, dan saat sedang diizinkan mengusel sebagai permintaan maaf, aku yang membenamkan wajah di dadanya tiba-tiba menyadari ada sesuatu di sudut pandanganku.


"Apanya... Itu 'Gerbang Pemanggilan'. Sudah pernah kuberitahu kan."


Llalu, tiba-tiba dengan suara kesal, dia menjawab ketus sambil melirik sekilas. Mungkin dia merasa repot ditanya lagi tentang hal yang sudah pernah dijawab sebelumnya, tapi...


"Bukan itu. Ada yang kecil sedang ditarik ke Gerbang Pemanggilan itu, apa itu?"


Benar-benar deh, padahal tadi suasana hatinya bagus, ada apa sih?


Soal Gerbang Pemanggilan sudah pernah diberitahu sebelumnya. Singkatnya, penyihir di Dunia Materi? Aku belum pernah lihat sih, tapi katanya manusia seperti itu membuat "Pintu" dari sisi sana, dan jika iblis masuk ke dalamnya, dia akan dipanggil ke sisi sana.


Omong-omong aku tidak tahu itu benar atau tidak. Aku hanya tahu dari ingatan mimpi dan cerita yang kudengar darinya, tapi aku belum pernah melihat manusia sungguhan atau dunia itu.


Habisnya, aku tidak bisa masuk. Saat pertama kali mendengarnya, aku senang karena mengira bisa pergi ke "Dunia Cahaya" itu, tapi aku tidak bisa melewati pintu itu.


Alasannya adalah karena ukuran pintu dipengaruhi oleh kekuatan penyihir yang menggunakan teknik pemanggilan di sisi sana.


Pintu yang kecil hanya bisa dilewati oleh iblis kecil. Tubuhku memang kecil, tapi kekuatanku sudah cukup kuat untuk bergulat dengannya, jadi cuma ujung kakiku yang bisa masuk.


...Aku punya pengalaman cukup mengejutkan saat memasukkan satu kaki dan mengaduk-aduknya, terdengar jeritan seperti teriakan kematian dari sisi sana.


Dia juga sepertinya pernah pergi ke sana beberapa kali saat masih menjadi iblis kecil dahulu kala, tapi sekarang katanya ujung cakarnya pun tidak akan muat.


Sihir ya... aku ingin melihatnya.


"Wakya!?"


Saat sedang mengingat hal itu, dia yang tadinya tiduran tiba-tiba bangun hingga aku terpental, lalu membuka mulutnya lagi dengan tampang kesal.


"...Individu yang tekadnya lemah dipanggil secara paksa dengan cara seperti itu. Kalau begitu, mereka akan diperbudak secara paksa tanpa bisa membuat kontrak yang layak."


Ah~... begitu ya. Memang yang tersedot itu hanya gerombolan yang egonya setingkat serangga seperti slime atau tikus.


Jika iblis yang ada di Dunia Iblis menanggapi pemanggilan dari Dunia Materi, mereka akan membuat "Kontrak" dengan pemanggil di sana. Dengan begitu jiwa atau tumbal akan dipersembahkan sebagai bayaran atas permohonan, tapi penghuni Dunia Materi itu katanya cukup "pelit".


Kalau bisa mendapatkan bayaran yang bagus, kita bisa melakukan "Manifestasi" tanpa batasan di sisi sana, jadi kita bisa mengabulkan permohonan dengan kekuatan yang kuat, tapi sepertinya manusia takut memberikan terlalu banyak kekuatan pada iblis.


Ada kontrak jadi tidak bisa bertindak sembarangan sih. Tapi seberapa bebas kita bisa bertindak dengan memanfaatkan celah kontrak di situ, adalah tempat iblis menunjukkan keahliannya.


"Di dunia ini, banyak orang jahat ya. Aku juga akan berhati-hati dengan kontrak."


Bukan bermaksud sombong, tapi aku percaya diri dengan ketidakmampuanku menahan diri.


"Kau itu... begitulah. Berhati-hatilah."


"...Di situ bukannya seharusnya kamu bilang 'kamu pasti baik-baik saja' atau semacamnya sebagai basa-basi?"


Padahal kita sudah kenal cukup lama.


"Kau itu entah kenapa agak sembrono sih..."


"Muu."


Aku sedikit cemberut dan memukul-mukul wajahnya dengan tapak kakiku, dan dia tertawa seolah senang.


Tapi──


"Eh!?"


Dia yang menertawakan aku yang memukul dengan tidak puas, tiba-tiba wajahnya menjadi serius, lalu mendadak menepis tubuhku, dan menancapkan taringnya di punggungku.


"Tunggu, sakit tahu."


Karena aku iblis jadi tidak ada rasa sakit fisik, tapi sensasi tubuh yang perlahan terkikis, dan perasaan kuat yang tersalur dari taring yang sedikit demi sedikit menancap itu, membuatku merasakannya sebagai "sakit".


Ini pertama kalinya aku digigit sekuat ini olehnya, jadi aku teringat saat pertama kali bertemu dan merasa merinding.


Tapi... rasa sakit ini memberitahuku bahwa batinnya sedang kacau.


"Hei..."


"Binatang Emas... Kau, tidak perlu pergi ke mana pun. ...Tetaplah di sini."


"......"


Suara menakutkan yang baru pertama kali kudengar... Aku berdiri karena dia melepaskan taringnya, lalu dengan lembut menggesekkan hidungku ke ujung hidungnya yang sedang kacau.


"Astaga... orang yang merepotkan ya."


"...Bukan orang."


Aku sedikit tertawa mendengar gumamannya yang seperti sedang merajuk.


"Tenang saja... aku tidak bisa pergi ke mana-mana kok."


"......"


***


Iblis Macan Tutul Hitam, Binatang Buas Dunia Iblis, Binatang Gelap──


Ternyata dia adalah iblis yang menakutkan, yang pasti akan mendapatkan apa yang diinginkannya.


Sejak hari itu, kekangannya terhadapku menjadi semakin kuat.


Bukan berarti aku ingin berpisah darinya sih... Meski begitu, kata-kata bahwa aku tidak bisa pergi ke mana-mana itu bukan bohong. Dia juga menyadarinya, dan khawatir kalau-kalau aku tiba-tiba menghilang ke suatu tempat.


Kurasa perasaannya seperti itu, tapi bukankah kekangannya agak terlalu kuat?


Apa dia memang seposesif ini?


Kami memang selalu bersama, tapi bukan berarti bersama 24 jam sehari. Ada kalanya aku pergi berburu sendirian saat lapar, dan dia pun dengan senang hati pergi bertarung jika ada iblis kuat yang masuk ke wilayahnya.


Tapi, sekarang dia terus berada di sisiku. Kalau aku pindah dia ikut, kalau aku menjauh dia menggigitku dan membawaku kembali.


Tapi, masalah terbesarnya adalah, dia jadi jarang membiarkanku mengusel-usel (mofu-mofu) dia. Padahal dia sering mengusel perutku, tapi kalau aku mau mengusel dia, dia sampai menggigitku karena tidak suka.


Muu... jangan-jangan, aku sedang didisiplinkan?


"Lho?"


Suatu ketika, saat aku sadar, sosoknya tidak terlihat di mana pun. Tumben... apa aku cari camilan saja mumpung sempat? Begitu aku berpikir begitu, dia sudah kembali.


"Kenapa?"


"...Aku menangkapnya."


Berkata begitu, dia menjatuhkan sesuatu yang membelit di ekor bercabangnya ke hadapanku, dan benda itu bergetar-getar ketakutan.


"Larva... iblis?"


Yang dia bawa hidup-hidup adalah empat ekor iblis kecil yang bentuknya antara kabut atau benda kental, seperti baru saja berevolusi dari tipe serangga.


Tapi, sedikit berbeda dengan iblis di sekitar sini. Ada dua ekor berwarna hitam pekat yang jarang terlihat, satu ekor berwarna kuning yang mirip aku sebelum evolusi, dan satu ekor berwarna putih yang belum pernah kulihat. ...Sepertinya dia menemukan yang langka semua.


"Kamu pergi keluar demi mencari ini?"


"...Sekalian."


Sekalian apa coba... Semuanya mengeluarkan aroma bunga samar yang sepertinya bakal kusukai. Meski begitu, tak ada satu pun aroma yang pernah kucium di sekitar sini, warnanya pun langka.


Jangan-jangan ini seperti... perasaan cowok yang memberi bunga?


Melihatku yang menatap lekat-lekat, iblis-iblis kecil itu semakin gemetar ketakutan. Wajar saja. Ditangkap oleh "Binatang Gelap" yang merupakan penguasa di Dunia Iblis, lalu disodorkan ke hadapan "Binatang Emas" yang dianggap sebagai kerabatnya, meskipun ego belum terbentuk, naluri mereka pasti ketakutan setengah mati.


Kupikir dia ingat rasa yang kusukai dan menangkapnya untukku... tapi agak sayang.


...Walaupun kelihatannya enak banget.


"────!!"


Saat itu, iblis-iblis kecil itu melompat ketakutan.


"Ti, tidak menakutkan kok? Aku tidak bakal makan kalian kok?"


Aku sendiri sadar daya persuasiku sedang pergi liburan dan belum kembali.


"Apa maksudmu?"


Karena aku bilang tidak akan memakan apa yang sudah susah payah dia tangkap, dia merendahkan suaranya.


"Hei, Binatang Gelap... Boleh aku pelihara anak-anak ini?"


Mendengar ucapanku, dia sedikit menyipitkan mata.


"Habisnya, kamu yang menangkapnya untukku."


"Begitu ya... terserah kau."


Dia berkata begitu lalu berbaring di tanah.


Seperti biasa reaksinya susah dimengerti tapi mudah dimengerti. Yah, sudahlah. Sepertinya dia berpikir aku bisa mengalihkan perhatian dengan memelihara hewan peliharaan.


Itu memang tidak salah... tapi mumpung ada, mari kita main dengan serius.


"Mulai sekarang mohon bantuannya ya."


"────!?"


Padahal aku bermaksud tersenyum ramah, tapi entah kenapa iblis-iblis kecil itu malah ketakutan.


Sejak hari itu, rencana pembesaran iblis kecilku dimulai.


Entah kenapa, dia yang sebelumnya tidak mau lepas dari sisiku, membiarkanku cukup bebas selama aku membesarkan anak-anak ini.


Yah, mungkin karena anak-anak ini sangat takut padanya, jadi dia menahan diri.


Dia menahan diri...? Hah. (Tertawa lewat hidung)


Kalau begitu aku dianggap apa? ...Sudah bisa ditebak.


Kalau begitu... oke, ayo pakai cara itu.


Aku menggigit empat ekor yang ketakutan itu di mulut lalu melempar-lempar mereka ke punggungku, lalu mulai berlari hati-hati agar tidak jatuh, perlahan menaikkan kecepatan, lalu melebarkan sayap kelelawar dan terbang ke langit luas.


Langit luas... di mana? Cuma ada awan gelap. Meski begitu terbang rasanya menyenangkan. Sayapku yang sekarang sudah menjadi gagah sampai beberapa kali lipat panjang tubuhku, jadi penampilannya juga cukup keren.


Lalu bagaimana dengan rencana pembesaran?


Hal seperti itu, tentu saja "Perburuan Liar".


Menari di langit gelap dengan kecepatan super, dan mencabik-cabik monyet mini dari sisi mana pun aku menemukannya. Kalau kekuatannya sudah naik sampai segini, rasanya cuma lewat saja sudah bikin mereka hancur berkeping-keping, tapi tidak masalah. Aku tidak peduli.


"──! ──!"


Iblis-iblis kecil yang awalnya ketakutan, setelah melihatku membunuh iblis dan menjadikannya makanan, lama-kelamaan rasa takutnya hilang, dan mulai melompat-lompat kegirangan di punggungku.


Hei, jangan lasak nanti jatuh lho. Tapi kegirangan ini, entah karena senang dapat makan, atau senang karena pembantaian ala iblis, rasanya agak ambigu...


Yah, jangan pikirkan hal-hal detail.


Mungkin hal seperti game membesarkan karakter ini cocok dengan sifatku, aku jadi asyik membesarkan iblis-iblis kecil ini. Selama melakukan ini, aku juga jadi lupa dengan kekagumanku pada dunia itu.


Dia melihatku yang setiap hari terbang ke langit gelap dengan wajah berseri-seri itu dengan ekspresi yang rumit.


Nah... hari ini pun mari kita mulai.


Peci peci peci peci peci peci peci peci peci peci peci peci peci peci peci peci peci peci peci peci peci peci peci peci peci peci peci peci peci peci peci peci peci peci peci peci peci peci peci peci...


"──Tunggu, ini adalah Hira──"


Becin!!


Ada sesuatu!? Rasanya tadi iblis yang cukup kuat, tapi aku tidak bisa berhenti mendadak.


Aku keenakan menepuk hancur iblis yang ada di satu garis lurus dengan pukulan tapak kaki, tapi di tengah jalan rasanya seperti menabrak sesuatu............ Ya, aku tidak lihat apa-apa.


Aku tidak menoleh ke belakang. Aku hidup hanya melihat ke depan. ...Lagipula, aku belum pernah lihat iblis yang bisa mengejar kecepatan penuhku.


Tapi, tadi bahaya. Itu tadi, mungkin lebih kuat dariku? Dia bilang di sekitar sini tidak ada iblis yang bisa menang melawanku, tapi Dunia Iblis itu luas ya!


Sebenarnya, atas dan bawahnya sempit, tapi karena Dunia Roh Agung katanya seluas alam semesta, seharusnya di Dunia Iblis pun kita jarang bertemu iblis kuat.


Sepertinya aku terlalu asyik terbang dengan kecepatan penuh sampai jauh meninggalkan wilayahnya.


Mau bagaimana lagi. Ayo kembali dengan kecepatan penuh. ...Sekalian sambil menghancurkan monyet mini di sekitar sini.


Tapi, anak-anakku hebat. Walaupun naik di punggungku, mereka malah senang melihat peristiwa tabrak lari "Sesuatu" tadi lho!


Sosok mereka yang melompat-lompat jadi terlihat imut. Aku lega karena akhirnya mereka sepertinya sudah tidak takut lagi padaku. Aku sedikit menurunkan kecepatan berburu mangsa, dan berbicara pada iblis-iblis kecil itu.


Seperti ibu, seperti kakak, seperti guru yang kulihat dalam mimpi "Dunia Cahaya" itu, aku berbicara perlahan dan berulang kali.


...Melakukan hal seperti ini pada iblis apa tidak apa-apa ya? Apa tidak akan jadi penyangkalan diri dan malah musnah? ...Yah, kalau terjadi ya sudahlah. Toh aku juga iblis, jadi tidak memikirkan konsekuensi.


Berhenti berpikir terlalu dalam, mari berjuang sampai anak-anak ini bisa mengobrol. Kalian juga, pasti akan senang. Ya kan?


"────!!"


Setelah melanjutkan kehidupan seperti itu, entah hasil pendidikan atau bukan, kecerdasan iblis-iblis kecil itu menjadi tinggi... rasanya begitu.


Ukurannya sudah jauh membesar, dan kalau lapar mereka sudah mulai berburu camilan sendiri dan memakannya. Sudah saatnya evolusi?


"Bagaimana kalau kau berikan nama spesies pada mereka?"


"Nama spesies... boleh diberikan duluan?"


Aku sedikit terkejut dengan sarannya itu. Saat akhirnya anak-anak sudah agak mandiri dan aku tidak mengurus mereka, aku kembali diusel-usel olehnya jadi aku cukup sibuk.


"Biasanya mereka tidak punya kecerdasan untuk memahami hal seperti itu. Tapi, mereka yang kau besarkan itu menyerap pengetahuanmu, dan menjadi cukup an... unik."


Tadi, dia mau bilang "aneh" kan?


"Kalau kau berimajinasi dan membimbing mereka dengan baik, mungkin mereka bisa mendapatkan wujud yang unik, bukan tipe monyet pada umumnya."


"Hee... kalau begitu, waktu aku juga kau melakukan i──aduh sakit!"


Baru mau protes perutku digigit pelan. Lalu saat aku bilang sakit aku dijilat, jadi aku tidak terlalu paham apa maunya. Terserah kamu deh...


"Lalu? Spesies macam apa yang bagus?"


"Paling-paling kau punya pengetahuan yang aneh, kan?"


"Muu..."


Mendengar cara bicaranya yang sedikit meremehkan, aku membuang muka. Dua-duanya kekanak-kanakan.


Tapi... kalau dipikirkan baik-baik itu bukan ide buruk.


Spesies ya... apa yang bagus? Mumpung ada kesempatan, apa aku ambil dari buku-buku agama yang ada di dunia mimpi? Tidak tidak, itu kan bukan iblis tapi semacam setengah dewa, jadi imajinasiku tidak sampai. Kalau begitu monster mitologi?


Bukan monster biasa, tapi tipe iblis atau tipe roh mati (undead), atau hewan suci mungkin bagus juga. Saat aku bergumam sendirian memikirkan hal itu, empat ekor iblis kecil itu mungkin merasa cemas, mereka melompat-lompat di sekelilingku. ...Ah, cuma yang putih yang main sendiri.


Sifat anak-anak ini, padahal kuberi pengetahuan yang sama tapi sangat berbeda. Entah kenapa, aku merasa pada anak-anak ini pun sudah mulai terbentuk "jenis kelamin" seperti aku dan dia.


"Begitu ya... kamu dan kamu, karena warnanya mirip kita jadikan kakak-beradik saja ya?"


Saat aku memutuskan begitu, dua ekor yang berwarna hitam melompat kegirangan, dan anak berwarna kuning menatapku penuh harap... wajahnya di mana? Anak yang putih pun berhenti main dan mendekat.


"Kita padatkan imajinasi spesiesnya seperti ini."


Begitulah aku membuat pengaturan anak-anak ini sesuai dengan imajinasi spesies.


...Tapi boleh tidak ya? Jangan-jangan anak-anak ini juga punya idealisme sendiri, mungkin ada diri yang ingin mereka wujudkan. Tapi empat ekor iblis ini menerima spesies dan imajinasi yang kutetapkan dengan gembira seolah itu hal yang wajar.


Aku jadi sedikit cemas, dan saat bertanya padanya apakah ini sudah benar, sepertinya itu bukan hal yang aneh.


"Selama tidak dipanggil ke Dunia Materi pada tahap larva yang tak berbentuk, sulit bagi iblis di Dunia Iblis untuk membuat imajinasi sendiri. Makanya mereka menjadi wujud seperti monyet jelek yang jenis kelaminnya pun samar."


"...Sebenarnya, kenapa monyet sih?"


Meskipun begitu di Dunia Iblis, walau sedikit ada juga iblis selain monyet seperti aku dan dia. Ada tipe serangga dan yang seperti ikan juga, bukannya harusnya ada variasi lebih banyak? Saat aku menanyakan hal yang membuatku penasaran itu, dia juga berpikir sejenak dan memiringkan kepala.


"Entahlah. Kemungkinan sih, imajinasi tentang iblis yang dimiliki manusia di Dunia Materi mengalir ke sini, mungkin?"


"Hee..."


Makanya, kenapa iblis itu monyet.


Sebenarnya bukan cuma iblis, saat roh dari Dunia Roh Agung muncul di Dunia Materi, Roh Api jadi kadal, Roh Tanah jadi kurcaci atau binatang, Roh Angin dan Air jadi wujud gadis, katanya itu dipengaruhi oleh imajinasi yang dimiliki manusia.


Romantisme kah? Apa itu romantisme? Memang sih aku tidak mau kalau Roh Air itu om-om.


...A, artinya, Iblis itu jelek, makanya jadi monyet begitu? Bahaya bahaya... empat ekor bocah ini setiap hari aku besarkan sambil kubilang imut-imut, jadi pasti akan tumbuh menjadi iblis yang imut.


Dan akhirnya tibalah saat anak-anak itu tumbuh.


"...Apa maksudnya ini?"


"...Harus bilang apa ya."


Apa-apaan ini. Entah kenapa aku merasa deja vu. Tapi bedanya dengan yang lalu, suaranya bukan marah tapi benar-benar takjub ( capek hati ).


" " " " Arujitama~ (Tuan~)" " " "


Sedikit cadel, tapi itu juga imut, empat ekor iblis yang tumbuh sampai bisa bicara dengan benar.


Gawat, imut banget. Kalau ada masalah, itu cuma karena terlalu imut.


Dua ekor hitam yang awalnya kusetting kakak-beradik, memiliki tubuh memikat yang bulat seperti kue manju, dan menatapku dengan mata bulat berwarna ungu yang berbinar-binar.


Yang terlihat iblis paling cuma tanduk kambing gunung yang sama-sama hitam pekat itu kan? Tapi, eh? Yang agak pendiam atau lebih tepatnya santai... tanduk anak yang kusetting sebagai adik perempuan, bukan kambing gunung tapi mirip domba.


...Yah sudahlah. Dua tanduk itu seperti gaya rambut twintail jadi imut, tidak masalah.


Di sebelahnya, si kuning yang mengeluarkan aura minta diperhatikan sepenuh hati, mungkin karena meniruku warnanya jadi mirip denganku. Tapi ular. Bukan kucing tapi ular. Entah kenapa bukan sisik tapi kulitnya kenyal seperti kue mochi, tapi itu juga imut kan.


Dan yang terakhir si putih yang main sesuka hati, menjadi tipe monyet. Tapi bukan monyet jelek, melainkan bulu putih bersih yang halus dan imut, dengan tingkat kehalusan (mofu-mofu) yang luar biasa.


Tapi entah kenapa, dia memakai topeng seperti badut di wajahnya, tapi kalau dilihat baik-baik itu bukan topeng tapi memang wajah aslinya.












"...Binatang Emas."


"Ah, ya. Aku paham."


Tidak perlu bicara lebih dari itu. Ini cuma hewan peliharaan kok.


***


Dengan bertambahnya keluarga baru yang bisa diajak bicara, kehidupan kami pun jadi makin berwarna.


Anak-anak kecil itu tumbuh dengan cepat, dan dengan gembira menceritakan hari ini bertarung dengan musuh macam apa, atau memakan iblis yang lebih besar dari diri mereka sendiri. ...Meskipun topiknya agak terlalu sadis.


Tapi, ...aku juga paham.


Binatang Gelap... alasan "dia" mengizinkanku memelihara anak-anak ini adalah sebagai "rantai" dan "kalung leher" bernama 'keterikatan' agar aku tidak menghilang ke mana pun.


Kenyataannya, saat melihat empat ekor iblis yang sedang bermain di depan kami, aku sendiri sadar hatiku menjadi tenang.


Tapi... Binatang Gelap... apa kau tahu?


Bahwa kita para iblis, sejak awal tidak memiliki emosi semacam itu.


Bahwa saat hati menjadi tenang, aku justru semakin teringat pada "Dunia Cahaya" yang kulihat dalam mimpi itu...


Pengetahuan dunia mimpi yang kuingat mati-matian saat memikirkan pengaturan anak-anak ini, membuat kerinduanku pada dunia yang sempat kurelakan itu menjadi kuat... begitu kuat hingga membakar hati.


"──Ingin pulang──"


Perasaan yang tak terucap itu meluap, dan rasa rindu kampung halaman yang kuat menjadi api yang membakar diriku dari dalam.


Ingin pulang. Tapi tak bisa pulang.


Karena tempat yang bersinar terang itu adalah "Dunia Mimpi" yang bahkan tak kutahu apakah benar-benar ada atau tidak.


"......"


Menyadari aku yang seperti itu, "dia" terus berada di sisiku.


Bukan cuma dia. Empat ekor iblis itu juga menyadari suasanaku yang seolah akan menghilang ke suatu tempat, dan menatapku dengan cemas.


Ingin pulang. Tapi aku tak bisa pulang ke dunia itu.


Tapi, jika ke dunia tempat manusia tinggal yang memiliki cahaya yang sama...


Bacin!!


Saat itu, suara keras seperti sesuatu yang meletup bergema.


"──!?──"


"Dia" dan empat ekor iblis itu menjadi waspada tanpa tahu apa yang terjadi.


Tapi, aku tahu. Tidak, aku paham dalam sekejap. Bahwa di suatu tempat di sini, "pintu" dari sisi sana telah terbuka.


Bahwa perasaanku telah menarik "pintu" berupa lingkaran sihir pemanggilan yang dibuka dari sisi sana.


Bagi kita para iblis, pergi ke Dunia Materi bukanlah hal yang mudah. Karena emosi gelap yang melekat pada jiwa adalah dosa jiwa, dan beratnya jiwa itu sendiri.


Jiwa yang memiliki berat dosa akan jatuh ke tanah. Karena itu, agar iblis biasa bisa merangkak naik dari sana, tidak ada cara lain selain meminta gerbang dibuka paksa dari sisi sana.


Apakah aku menjadi cukup kuat hingga bisa mengabaikan berat jiwa? Ataukah karena aku memiliki pengetahuan tentang Dunia Cahaya?


Aku tidak tahu alasannya. Tapi, "pintu" yang dibuka paksa oleh sisi sana dan aku itu, menciptakan Gerbang Pemanggilan raksasa yang seolah membungkus diriku.











"Apa katamu!?"


Menyadari hal itu, "dia" berlari mendekat. Namun, dia yang seharusnya memiliki kekuatan dahsyat, terpental seolah ditolak oleh cahaya Gerbang Pemanggilan.


Itu adalah hal yang wajar. Aku bisa memahaminya sebagai sesuatu yang semestinya. Karena lingkaran sihir pemanggilan ini hanya untukku──Gerbang Pemanggilan yang terlahir demi diriku, hanya agar keberadaanku bisa pergi ke sisi sana.


"Tunggu! Jangan pergi!"


"Dia" berteriak lantang, dan berulang kali menabrakkan badannya.


Tapi karena seluruh kekuatanku tertuang dalam Gerbang Pemanggilan ini, bahkan "dia" pun tidak akan bisa menghancurkannya dengan mudah.


Cahaya samar yang meluap dari Gerbang Pemanggilan... sembari terbungkus dalam cahaya penuh nostalgia yang kulihat dalam mimpi itu, tubuhku menghilang ke dalam pintu Gerbang Pemanggilan.


Kesadaranku sudah... hampir putus... Terakhir, saat aku membuka mata untuk melihat Dunia Iblis tempat aku lahir dan dibesarkan ini, di sana "dia" dengan ekspresi yang menakutkan sedang menatap hanya kepadaku.


"Binatang Emaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaas!!"


Suara "dia" yang bergema di telinga... Maaf ya. Aku membuatmu marah lagi.


***


Cahaya terlihat... Bagaikan menatap langit dari dalam laut yang gelap, kesadaranku terbangun di tengah cahaya yang perlahan-lahan terpenuhi.


Di sini... di mana? Apakah aku berhasil sampai ke dunia mimpi... dunia yang ada cahayanya?


Mataku tak bisa melihat... suara pun tak terdengar jelas. Di tengah gema suara yang terdengar samar seperti keriuhan, aku bahkan tidak bisa menggerakkan tubuhku.


Apa pemanggilannya gagal ya... Kalau begitu, aku spontan meringkuk karena ketakutan akan lenyapnya keberadaan yang sudah lama tak kurasakan. Tapi──


Plak... menerima guncangan tubuh yang ditepuk, aku yang ketakutan spontan menarik napas.


...Eh? Aku, sedang bernapas?


Suara tangis makhluk kecil yang memukul telinga. Sebelum menyadari bahwa suara itu bocor dari mulutku sendiri, terdengar suara "seseorang" yang memiliki kehendak, dan begitu aku memahami bahwa itu adalah "kata-kata", kata-kata yang tadinya tak bermakna itu tersusun ulang, dan sampai kepadaku sebagai "kata-kata" yang bisa dimengerti.


"Ah, anakku sayang... 'Yurusia'-ku..."


Saat itu, guncangan bagaikan disambar petir bergema di dalam jiwa.


Terlahir sebagai iblis tanpa nama, dan di Dunia Materi tempat aku dipanggil dengan menghabiskan seluruh kekuatan, untuk pertama kalinya aku diberi "Nama" oleh keberadaan yang memiliki kehendak, keberadaanku yang samar menjadi pasti, dan aku memahami segalanya.


Bahwa "aku" yang merupakan iblis dari Dunia Iblis, telah kehilangan seluruh kekuatan, dan terlahir di dunia ini sebagai bayi manusia yang tak memiliki kekuatan apa pun.

 

❤️

Dukung Translator

Support the Translator

Traktir kopi agar update makin ngebut!

Buy us a coffee to speed up updates!

Bagikan ke:

Komentar

Tinggalkan Komentar