Featured Image

ToshiOsa V1 C8

Metoya Januari 20, 2026 Komentar

Chapter 8: Kakak Beradik, Aku, Wisata Pemandian Air Panas, dan...

 

──Dan, akhir pekan yang ditunggu-tunggu pun tiba.

 

Aku dan dua bersaudari teman masa kecilku, entah bagaimana ceritanya, jadi pergi liburan ke pemandian air panas (onsen) bertiga.

 

Sebenarnya, kata "terseret" mungkin lebih tepat untuk menggambarkannya.

 

Selain karena tidak ada alasan kuat untuk menolak, kalimat ajakan "penginapan onsen yang dulu sering kita datangi bareng keluarga waktu kecil" entah kenapa menusuk hatiku, jadi aku pergi dengan perasaan setengah pasrah terbawa arus.

 

Cuacanya cerah tanpa cela, baru masuk bulan September, jadi masih terasa nuansa musim panasnya. Panas.

 

“Jeng-jeeng! Sampai juga~! Gila! Semangatku naik nih~

 

“Oh! Aku agak ingat perasaan ini!!”

 

“Masa sih~? Fufu Ayo kita nikmati sepuasnya sebelum pulang ya~

 

Begitu perasaan nostalgia itu muncul, aku yang tadinya tidak terlalu bersemangat, tanpa sadar langkah kakiku jadi ringan, dan semangatku pun mulai naik.

 

“Nah, pertama-tama~ tujuan hari ini adalah kulineran sambil jalan-jalan kan Sepertinya banyak toko baru yang buka lho, aku sudah riset banyak di video~ Hebat kan aku

 

“Miu-chan emang hebat~ Kalau gitu ayo langsung cari makan yuk Demi ini aku belum makan apa-apa lho dari pagi~. Perutku keroncongan nih~”

 

(Ooh... inikah yang namanya liburan cewek (joshi tabi)...)

 

Liburan onsen dengan dua cewek + satu cowok, awalnya aku cemas bakal gimana jadinya, tapi syukurlah suasananya tidak canggung dan sepertinya bisa dinikmati.

 

Di perjalanan, sambil disembuhkan oleh suara gemericik sungai yang terlihat dari jembatan, kami melangkah menuju toko tujuan.

 

“Jeng-jeeng Di sini! Aku pengen banget nyobain senbei basah (nure senbei) di toko ini~ Udah dinanti-nanti banget lho~

 

“Senbei basah...?”

 

“Iya iya Nanti kalau dimakan pasti tahu rasanya~

 

“Hoo...?”

 

Di papan reklame besar di depan toko tertulis, "Waktu Terbaik Dikonsumsi: 5 Detik".

 

(...Maksudnya harus dihabiskan dalam 5 detik!?)

 

“Permisi! Beli tiga ya!”

 

"Siaap Tolong segera dimakan setelah diterima ya! Panas lho, hati-hati~!"

 

Senbei yang baru dipanggang diserahkan oleh pelayan toko dengan semangat.

 

──Beneran panas banget woy!!

 

“Panas panas! Nyam.”

 

“Gimana gimana? Senbei basah yang baru dipanggang itu kenyal dan empuk kan katanya~

 

“Gila... ternyata ini maksudnya waktu terbaik 5 detik...!? Dalam sekejap langsung jadi garing lho!”

 

“Kalau gitu giliran aku ya

 

Kak Momo menerima senbei, lalu langsung menyuapnya ke mulut.

 

“Ah, panas banget............ mmh... enaaak~

 

“Coba coba... giliran aku...”

 

"Ini silakan~!"

 

“Wah! Nyam... panas ih.”

 

“Haha (tertawa), Miu makannya lama jadi keburu garing tuh.”

 

“Muu. Tapi enak kok~ Rasanya manis lembut gitu ya

 

Berbeda dari keseharian yang sibuk, waktu berjalan lambat di sini.

 

Sesekali waktu seperti ini mungkin bagus juga ya...

 

Walau teman masa kecil, kami bukan anak-anak lagi dan tidak bisa sama persis seperti dulu, tapi bisa berbagi kenangan dengan dua orang yang keberadaannya sudah seperti keluarga begini mungkin adalah hal yang membahagiakan.

 

Melihat senyum bahagia mereka berdua, aku merasakannya dengan mendalam.

 

“Hei, mau coba makan manju di sana juga?”

 

“Boleh tuh~! Mumpung di sini kita cobain semua yuk!”

 

◆◇◆

 

“Uugh... kebanyakan makan nih kayaknya...”

 

“Gawat nih, kalau nggak salah makan malam jam 6 sore kan... eh sekarang jam berapa... jam 4 sore!? Check-in jam 5, jadi harus segera ke penginapan nih.”

 

Sejak sampai lewat tengah hari tadi, kami terus berjalan kaki, dan melahap apa saja yang ada seperti "manju, kroket goreng, es krim (soft cream)".

 

“Uuh... beneran sesak... kalau jalan kaki mungkin bakal sedikit tecerna kali ya... ugh.”

 

“Jelas kebanyakan makan sih, ini levelnya harus introspeksi diri.”

 

“Fufu Ini juga bakal jadi kenangan indah kok, pasti ya~

 

Karena masih ada sedikit waktu, kami berjalan menuju penginapan sambil menikmati pemandangan kota dengan jalanan batu yang artistik.

 

Sesampainya di penginapan, kami melewati gerbang, melakukan check-in di lobi ryokan (penginapan tradisional Jepang), dan diantar oleh pelayan (nakai-san) ke kamar. Setelah dijelaskan fasilitas di dalam gedung, kamar yang kami tempati ternyata... wow, kamar tamu dengan pemandian air panas terbuka (rotenburo).

 

“Uwooo...!! Serius? Boleh nih nginep di kamar sebagus ini!?”

 

Aku refleks berteriak kegirangan.

 

“Iya dong Ibu-ibu bilang, mumpung liburan sekalian aja nginep di kamar yang bagus~ Pas banget kan buat penutup kenangan musim panas

 

“Seriusan... rasanya aku terlalu dimanja nih...”

 

“Fufu Di mata orang tua kami, Shin-chan itu sudah kayak anak sendiri kan? Jadi nggak usah dipikirin, santai aja

 

“Uuh... Om, Tante makasih... ngomong-ngomong kamar ini, terbaaaik!!”

 

Setelah mendapat penjelasan tentang kamar dan pelayan itu pamit dengan membungkuk sambil bilang "Silakan, nikmati waktu Anda", dia pun keluar kamar.

 

Di atas meja, tersedia cangkir teh berisi teh dingin dan piring kecil.

 

Dan, di atas piring ada mizu manju (kue manju air) yang bening dan cantik.

 

“Aah... beneran surga... kamarnya juga dingin, enak banget...”

 

“Iya, bikin rileks~”

 

“Ngomong-ngomong, tadi lupa mampir ke rendam kaki (ashiyu) ya!”

 

“Bener juga~! Nanti pas pulang kalau ada waktu mampir yuk

 

“Mumpung di sini kan!”

 

Kami menunggu waktu makan malam sambil mengistirahatkan badan di kamar.

 

──Guling.

 

“Guling-guling di atas tatami emang paling enak ya... kalian coba guling-guling juga deh.”

 

“Kalau gitu permisi di sebelah ya... aah, sembuh rasanya...”

 

“Aku, kayaknya bisa ketiduran nih...”

 

Kami bertiga berbaring berjejer membentuk huruf "kawa" () di atas tatami.

 

Mengingat dulu kami juga pernah menghabiskan waktu seperti ini, rasanya jadi sedikit nostalgia.

 

“Makan malamnya, bikin nggak sabar ya Aku suka banget masakan ryokan lho~ Ah, dipikirin jadi laper nih.”

 

“Bohong! Miu-chan udah laper lagi?”

 

“Serius lu...! Emang Miu. Rakus banget ya.”

 

“Hei Shintarou, ngomong gitu ke cewek kasar banget tahu!”

 

Sambil tertawa karena obrolan bodoh, aku menatap kosong ke serat kayu di langit-langit.

 

(Yang begini... beneran yang begini nih yang paling bikin sembuh... Walau suasananya tidak biasa, tapi menghabiskannya bareng orang-orang yang bikin nyaman, ketawa karena hal remeh... bener-bener waktu yang mewah.)

 

“Kalau merem sebentar nggak apa-apa kali ya... mmh ngantuk...”

 

Begitu berkata demikian, Miu memejamkan mata perlahan.

 

Karena perut sudah terisi pas saat kulineran tadi, dan badan juga lelah secukupnya, tanpa sadar kami────

 

──Sepertinya ketiduran.

 

“...Eh?”

 

Aroma tatami, dan keheningan senja yang nyaman............ ini benar-benar bikin lengah.

 

“Gawat!! Kalian berdua! Udah jam 6 lho!”

 

Aku langsung terbangun dan membangunkan mereka berdua.

 

“Mmm~ munyamunya... biarin tidur sebentar lagi...”

 

“Ah, beneran... aku juga ketiduran~ huaaam. Miu-chan bangun.”

 

“Mmm~...”

 

“Ayo, banguuun!”

 

Kak Momo mengangkat Miu untuk membangunkannya, dan akhirnya dia bangun dengan enggan.

 

Dengan rambut yang jelas berantakan bekas tidur dan wajah bantal, kami menuju tempat makan.

 

“Hampir telat.”

 

Malah rasanya kami yang datang paling awal, belum ada tamu lain yang terlihat.

 

"Keluarga Shibano, silakan lewat sini! Mari saya antar."

 

Pelayan menyapa dengan ramah.

 

Sepertinya dia sudah hafal nama Kak Momo dan yang lain. Memang profesional.

 

Ditemani suara lembutnya, kami diantar ke bagian dalam tempat makan.

 

Ruangannya privat total, dan dari jendela kaca besar kami bisa melihat pemandangan indah.

 

Setelah dipersilakan duduk di kursi bagian dalam oleh Kak Momo, aku duduk di kursi dekat jendela.

 

Di depan mata sudah tersaji banyak hidangan pembuka yang ditata cantik di mangkuk-mangkuk kecil warna-warni.

 

(...Gila... suasana begini, agak bikin tegang...)

 

Walau malu, suara hatiku hampir bocor.

 

"Baiklah, izinkan saya menjelaskan hidangannya────"

 

Sambil mendengarkan penjelasan pelayan yang sopan satu per satu, aku tidak bisa menyembunyikan rasa antusiasku memikirkan mau makan yang mana duluan.

 

“Padahal barusan kenyang banget makan ini itu, tapi begitu lihat masakan seenak ini di depan mata, tiba-tiba jadi laper lagi itu hebat banget nggak sih...? Rasanya semua bisa dimakan, aku takut sama lambungku sendiri nih.”

 

“Aku juga aku juga! Kalau gitu, mari kita makan

 

Hidangan pembuka, sashimi musiman, panggangan seafood, panci (nabe)... tak lama kemudian berbagai hidangan datang silih berganti. Semuanya kelihatan enak.

 

Aku beneran suka panci perorangan yang cuma bisa dimakan di tempat-tempat begini.

 

Bau bahan bakar padat kecil berwarna biru itu makin bikin kerasa kalau lagi nginep di ryokan.

 

Aku ambil napas sejenak, lalu mulai menyumpit hidangan pembuka.

 

“──Enak.”

 

Rasa bahan aslinya tetap terasa, tapi dibumbui dengan elegan dan pas.

 

Porsinya juga pas... sepertinya sudah diperhitungkan untuk hidangan selanjutnya.

 

Sashimi-nya ada ikan kakap (tai), tuna (maguro), ikan layur (tachiuo) yang ditata indah.

 

“Mmm~ Segar dan enak~

 

Kak Momo juga mendesah dengan wajah terpesona.

 

Selanjutnya aku coba panggangannya. Ikan tenggiri (sawara) panggang saikyo. Ini juga enak banget parah. Lemaknya pas, aroma gosongnya bikin nafsu makan meledak.

 

Dan── saat pancinya sudah matang...

 

“Horeee Sukiyaki nih~

 

“Miu, lu dengerin penjelasan pelayannya nggak tadi? (tertawa)”

 

“Tentu saja... kok! Yah tapi, mungkin saking fokusnya sama makanan jadi nggak terlalu denger...”

 

“Haha, beneran rakus ya lu.”

 

Miu memelototiku dengan wajah cemberut. Tapi faktanya emang rakus sih.

 

Saat hampir selesai makan, penutupnya adalah nasi ikan kakap (taimeshi).

 

Saat tutup panci tanah liat dibuka, uap mengepul lembut.

 

Daging ikan kakap yang matang empuk disuwir, dan nasi ikan kakap dengan porsi pas disajikan di mangkuk.

 

Kami juga menikmatinya dengan gaya ochazuke (nasi siram teh/kaldu) menggunakan bumbu pelengkap dan kaldu yang sudah disiapkan.

 

Rasanya sangat lembut, rasanya masih bisa nambah satu mangkuk lagi, tapi jujur perutku sudah penuh sesak jadi aku tahan sampai di sini.

 

Hati dan perut terpuaskan, aku menghela napas lega.

 

“Fuh~, kenyang banget...”

 

“Tapi kamu makannya banyak banget ya Miu... sampai ngabisin dessert aku segala...”

 

“Habisnya mukamu kayak nggak sanggup makan lagi, jadi aku makanin buat kamu tahu~?”

 

“Y, yah bener sih...”

 

Meninggalkan tempat makan, kami kembali ke kamar.

 

Selagi kami makan malam, sepertinya pelayan sudah menyiapkan futon (kasur lipat).

 

Melihat futon putih empuk yang berjejer tiga, semangatku memuncak.

 

“Shintarou, aku bilangin dulu ya, kita nggak bakal main lempar bantal lho?”

 

"Kan bukan anak kecil lagi!" Begitu katanya, tapi... yang kayak anak kecil itu siapa ya...?

 

“Aku bahkan nggak kepikiran itu lho. Yang kayak bocah siapa coba hahahaha.”

 

“Fufu. Miu-chan kan suka main lempar bantal ya? Dulu sering dimarahin Ibu... hahahaha.”

 

“Iya bener, padahal kita cuma terseret tapi ikut dimarahin ya...”

 

“Apaan sih!! Kalian berdua juga nikmatin tahu! Aku inget lho!!”

 

""Iya iya (tertawa).""

 

Miu yang masih menyisakan kepolosan, kalau bareng Kak Momo jadi kelihatan banget sifat kekanak-kanakannya.

 

Tapi, bagi Kak Momo mungkin itu bagian imutnya Miu.

 

“Kalau gitu kita masuk onsen yuk Sebelum ngantuk habis makan harus dinikmati nih~

 

“Benar juga! Aku juga mau masuk santai ah.”

 

──Kapan terakhir kali masuk onsen ya... saking lamanya sampai nggak ingat jelas.

 

Kak Momo dan Miu pasti ganti yukata dulu baru ke onsen, karena takut mengganggu aku ambil keranjang khusus dan keluar kamar sendirian. Menyusuri lorong, mengecek peta gedung di dalam lift untuk cari jalan ke pemandian. Proses ini saja rasanya seru dan bikin antusias.

 

◆◇◆

 

“Aah~ enak banget... onsen outdoor emang terbaik...”

 

Niatnya mau menikmati onsen lama-lama, tapi entah karena nggak kuat panas, aku jadi pusing (keliyengan) lebih cepat dari dugaan dan keluar onsen lebih cepat.

 

(Yah, mereka berdua pasti masih di onsen... istirahat santai di kamar ah.)

 

Begitu kembali ke kamar, aku langsung dive ke futon.

 

Futon empuk yang dingin kena AC rasanya enak banget.

 

Badan juga hangat habis mandi, saat aku mulai terkantuk-kantuk rasanya mau tidur.........

 

“Hei~ Kakak hentikan ih.”

 

“Fufu Sekali-kali nggak apa-apa kan Sini Kakak gosokin punggungnya~?”

 

(............Hn!? Apa!?)

 

Di tengah kantuk yang nikmat, terdengar suara kakak-beradik itu.

 

“Hei~ udahan ah! Geli tahu~!”

 

(Eh? Mereka berdua masuk onsen outdoor yang ada di kamar?)

 

Tunggu tunggu... geli berarti, Kak Momo lagi mandiin Miu kan? Pemandangan yang sering kulihat waktu kecil, tapi masa sekarang sudah besar juga masih...?

 

Emang boleh begitu!? Kak Momo, lu nganggep Miu anak kecil banget nggak sih...!?

 

──Aku tahu ini pasti nggak baik.

 

Tapi aku nggak bisa menahan rasa ingin tahu, dan memasang telinga di dekat kamar mandi.

 

Sekali lagi kubilang, aku tahu ini pasti nggak baik.

 

“Udah lama ya nggak mandi berdua? Miu-chan juga beneran, udah besar ya

 

“Besar apanya... dibanding Kakak mah nggak ada apa-apanya.”

 

“Nggak kok Lagian, mungkin nanti bakal makin besar lho?”

 

────Makin besar lho?

 

(Ngomongin apa sih... tinggi badan? Atau............)

 

“Nggak bisa menang lawan payudara Kakak deh. Punya Kakak 10 kali lipat lebih besar tahu!”

 

“Fufu, nggak sebesar itu kok (tertawa).”

 

“Besar tahu! Boleh pegang dikit nggak?”

 

“Eh? Boleh sih... nih, silakan!”

 

“Uwaaaaaaa~~!! Tunggu gila! Empuk banget woy!!”

 

“Miu-chan, agak geli lho.”

 

“Pembalasan yang tadi~!! Kelitikin

 

“Tunggu jangan! Beneran jangan... ah!”

 

(Gawat. Aku yang sekarang, pasti mukanya mupeng banget. Aku yang nguping pembicaraan kakak-beradik begini... jijik banget nggak sih...? Tapi nggak bisa gerak... penasaran lanjutannya...)

 

Kalau ketahuan lagi nguping begini, tamatlah riwayatku di dunia ini.

 

Pasti dimarahi Miu "Kamu tuh beneran sampah!!".

 

...Eh tunggu dulu, tapi kalau dipikir-pikir, mereka pasti tahu aku bakal balik ke kamar, tapi tetap milih mandi di kamar dengan risiko itu kan...?

 

(Berarti aku nggak salah dong...!? Justru aku korbannya kan!?)

 

Aku nggak salah lho...!! Aku... nggak sal──

 

“Hei, Miu-chan Tahu nggak gimana caranya biar payudara jadi besar?”

 

“Hm~? Payudara...? Gimana ya... bukannya itu genetik?”

 

“Itu juga sih, tapi sebenarnya ya............ katanya kalau disentuh seseorang begini bisa jadi besar lho!”

 

“Tu, tunggu Kakak! Jangan tiba-tiba dari belakang dong...!”

 

“Gimana? Kerasa kayak gitu nggak? Terus terus~, katanya paling efektif kalau disentuh sama orang yang disukai lho~

 

“Orang yang disukai... he, hee... gitu ya... Tunggu Kakak! Udah paham kok ih.”

 

“Fufu Bercanda kok, aslinya nggak tahu ya

 

“Apaan sih... berarti Kakak besar segini, karena sering disentuh sama orang yang disukai?”

 

“Enggak kok, genetik kali ya.”

 

“Apaan! Ternyata genetik kan~!”

 

Syukurlah... kirain Kak Momo habis disentuh-sentuh cowok nggak dikenal... eh woi. Itu nggak penting sekarang. Kalau nggak segera kabur, rasanya bakal GA-WAT banget.

 

Aku menghapus hawa keberadaan agar tak menimbulkan suara langkah kaki, lalu mengendap-endap menjauh dari kamar mandi agar tak ketahuan mereka.

 

Akhirnya berhasil keluar kamar dan selamat, tapi──

 

“Gimana cara ngabisin waktu ya... badan dan nyali jadi dingin nih, mandi lagi sekali lagi kali ya.”

 

◆◇◆

 

──────Byur.

 

Sambil berendam di onsen, aku mengingat kembali pemandangan tadi.

 

Walau dibilang pemandangan, sebenarnya aku nggak lihat langsung sih.

 

Cuma nguping pembicaraan kakak-beradik dengan punggung menempel di pintu kamar mandi... tapi entah kenapa percakapan itu terputar ulang dengan nyata di otakku.

 

Pengen dihilangkan dari kepala, tapi malah kepikiran terus sampai rasanya canggung kalau ketemu mereka berdua...

 

“Panas! Udah batasnya nih.”

 

“Haha. Mas, nggak apa-apa? Mukanya merah banget kayak gurita rebus lho~?”

 

...Sampai dikhawatirkan kakek-kakek yang nggak dikenal, sepertinya aku beneran pusing kepanasan.

 

“Hehe, nggak apa-apa kok, makasih Kek...”

 

Saat melihat jam di ruang ganti, ternyata sudah lewat 30 menit lebih sejak tadi.

 

Padahal waktu mandiku biasanya cuma sekitar 10 menit... pantesan dibilang kayak gurita rebus.

 

Ah, mau pingsan rasanya. Jelas berlebihan nih.

 

Pengen minum yang dingin-dingin... ah, kalau nggak salah di peta gedung tadi ada tulisan semacam drink bar sepuasnya gitu di lounge. Mampir ke sana kali ya...

 

Dengan langkah gontai aku sampai di sana... dan ternyata dua orang itu sudah ada di sana.

 

“Lho, Shintarou datang juga!”

 

“Shin-chan selamat datang~

 

Miu menyapa sambil makan es krim gratisan.

 

Kak Momo... memegang minuman dingin yang sepertinya jus atau alkohol.

 

“Shintarou, muka sama badanmu merah banget! Masuk onsen terus dari tadi?”

 

“Eh, aah iya... yah begitulah...”

 

“Hmm, ternyata lu suka mandi ya.”

 

(Nggak juga sih... tapi nggak mungkin bilang yang sebenarnya... haah.)

 

Miu duduk di sofa satu orang. Kak Momo duduk di sofa untuk dua-tiga orang, jadi dengan terpaksa aku duduk di sebelah Kak Momo.

 

Saat Miu berdiri untuk mengambil minum, melihat celah itu Kak Momo langsung berbisik pelan di telingaku.

 

“Shin-chan............ mandinya lama banget ya?”

 

“Eh... be, begitukah!? Yah, onsen kan enak jadi lupa waktu... haha

 

Ngomong-ngomong──yang diminum Kak Momo ini, kayaknya alkohol.

 

Ada bau alkohol samar-samar.

 

“Fufu Masuk sampai dua kali... suka ya? Onsen

 

(Masuk dua kali katanya............? Eh!? Berarti ketahuan kalau aku tadi di kamar!?)

 

“Ke, kenapa tahu kalau dua kali──!?”

 

“Kenapa apanya Soal Shin-chan semuanya kelihatan kook

 

“Berarti tadi yang di kamar itu────”

 

“Hm? Ngomongin apa? Tadi ada apa di kamar?”

 

Dan, Miu kembali di waktu yang selalu pas. Seolah-olah dia mendengarkan pembicaraan.

 

“Ah Miu!! Nggak kok, cuma merasa kayak ada sesuatu aja tadi!!”

 

“Hah!? Apaan tuh!? Hantu maksudnya...!?”

 

“Nggak... nggak mungkin lah...”

 

“Jangan ngomong aneh-aneh dong!! Aku kan susah tidur kalau bukan di rumah sendiri tahu!!”

 

“Gitu ya... (perasaanku dia bisa tidur di mana aja sih).”

 

“Yah, terserah deh, balik ke kamar yuk? Udah lewat jam 10 malam, waktunya anak baik tidur~... huaaam~ jadi ngantuk.”

 

Miu berdiri sambil mengucek mata ngantuk. Badannya goyang kiri-kanan menunggu kami berdiri. Kayak maskot yuru-chara.

 

“Kak Momo, balik ke kamar yuk.”

 

Kak Momo menatap kami dengan wajah seperti menyayangkan sesuatu...

 

“Hmm~, aku belum ngantuk nih... masih pengen minum sebentar lagi, kalian berdua duluan aja ke kamar gimana?”

 

“Boleh sih, tapi jangan kebanyakan minum lho. Kan nggak kuat alkohol.”

 

“Nggak apa-apa kok Alkohol ini, rasanya kayak jus soda biasa kok

 

“Bilang gitu lagi! Waktu festival juga ngomong gitu terus mabuk parah kan~!”

 

“Bener kata Kakak! Justru alkohol kayak gitu yang bahaya bikin mabuk tanpa sadar, aku lihat di berita lho! Ih. Tapi yah... mumpung liburan kan? Sekali-kali boleh lah Tapi secukupnya aja ya~”

 

Haaah... bakal gimana nih... mungkin nggak sampai sejam lagi bakal jadi pemabuk. Balik ke kamar siap-siap tidur terus cek keadaan dia kali ya...

 

Begitulah kami meninggalkan Kak Momo di lounge dan kembali ke kamar.

 

“Ngantuuuk... rasanya bisa langsung tidur nih~, Kakak terlalu berenergi ya.”

 

“Yah, mungkin kalau sudah dewasa baru paham enaknya minum sendirian kali ya.”

 

“Hmm bener juga.”

 

──Srek srek srek srek... (bunyi sikat gigi)

 

Aku dan Miu sikat gigi berjejer di wastafel.

 

“Kenapa aku harus sikat gigi jejeran sama lu sih?”

 

“Biar cepet, biar cepet. Lagian jadi inget masa lalu kan, nostalgia.”

 

“Haaah... nggak ngerti deh.”

 

Keakraban yang sampai terlihat seperti rutinitas tidur pasangan YouTuber, tapi justru karena teman masa kecil yang sudah lama kenal, kami bisa melakukan keseharian seperti ini tanpa sungkan.

 

Yah, kalau dilihat Morishita pasti bakal diributin lagi soal jarak yang terlalu dekat ini.

 

Ada kehangatan sebagai teman masa kecil yang cuma kami yang mengerti di sini.

 

────Bof. (bunyi jatuh ke kasur)

 

“Aaaahn!! Futon terbaaik~! Rasanya badan mau meleleh dan menyatu sama kasur nih...... mmm... munyamunya......”

 

“Apaan, Miu. Udah mau tidur? ............Miu?”

 

“........................Zzz.”

 

“Cepet amat! Kamu udah tidur!!”

 

“Guoo~~... Zzz.”

 

“Kamu... ternyata ngorok ya... besok aku kasih tahu ah...”

 

Aku merapikan selimutnya pelan-pelan dan mengintip wajah tidur Miu.

 

Mungkin saking capeknya, dia tidur pulas sampai ada ileras merembes di mulutnya.

 

Dasar kekanak-kanakan.

 

Kak Momo masih minum sendirian nggak ya.

 

Harus dicek nih...

 

Supaya Miu tidak bangun, aku keluar kamar diam-diam dan menuju lounge.

 

“Ternyata kalau lewat jam 10 malam sepi juga ya... lho, Kak Momo di mana?”

 

Di sofa tempat dia duduk tadi, sosok Kak Momo tidak ada.

 

Apa dia mabuk terus pergi ke mana gitu...? Nggak mungkin lah, masa sih... tapi ke mana ya.

 

Aku melihat sekeliling sebentar.

 

Lounge lantai 1 ini sepertinya terhubung ke luar juga.

 

Siapa tahu Kak Momo ada di sana.

 

Saat membuka pintu kaca perlahan, terbentang dek kayu yang terasa luas.

 

Penerangan oranye yang hangat, beberapa sofa, bahkan hammock pun tersedia. Suasananya bagus banget. Berbeda dari panasnya siang hari, angin sejuk dan nyaman membelai kulit.

 

“Ah, Kak Momo ada di sini ternyata...!”

 

Di pojok yang pemandangannya paling bagus, Kak Momo berdiri sendirian dengan mungil.

 

Punggungnya terlihat lebih kecil dari biasanya, membuatku ingin melindunginya.

 

Tangan ramping yang memegang gelas dengan balutan yukata pinjaman ryokan, terlihat sangat cantik diterangi cahaya lampu yang hangat.

 

“Shin-chan datang nyusul aku...?”

 

“Jelas lah. Nggak mungkin aku biarin.”

 

“Maaf ya, punya Kakak yang nggak berguna begini.”

 

Kak Momo menunjukkan wajah sedikit sedih yang biasanya tidak diperlihatkan.

 

“Nggak... bukan nggak berguna kok, tapi minumnya agak kebanyakan nggak sih...?”

 

“Enggak kok, Shin-chan terlalu baik tahu?”

 

(Aku nggak baik sama semua orang kok... Ini karena Kak Momo...)

 

Begitu aku duduk di sebelahnya, dia langsung menempel padaku.

 

Sepertinya beneran sudah lumayan mabuk... suhu tubuhnya juga terasa tinggi.

 

Tanpa sadar aku melingkarkan tangan di pinggangnya untuk menopang tubuhnya.

 

“Hei, Shin-chan. Aku deg-degan banget lho?”

 

“Pasti lah...! Kak Momo kan orang yang berharga, dan spesial.”

 

“Hmm... spesial itu, perasaan kayak gimana?”

 

“Etto... gimana ya~, itu──...”

 

Harus bilang apa ya.

 

Jujur saja, kalau dibilang suka ya suka...

 

Tapi rasanya sekarang masih abu-abu, mungkin aku cuma terpesona sama sosok kakak perempuan yang perhatian dan dewasa.

 

Tapi... apa perasaan segini sudah cukup disebut cinta?

 

Aku yang kaku dan nggak punya pengalaman cinta yang bener... jujur masih belum paham betul...

 

Melihatku yang menunduk diam, Kak Momo bergumam pelan.

 

“Hmm, kalau gitu~, calon istri masa depan... mungkin?”

 

“Eh...!?”

 

(Ca, calon istri masa depan............!?)

 

“Bercanda kok, bohong~”

 

“Apaan...”

 

“Kecewa ya?”

 

“Nggak... yah... sudah biasa digodain jadi nggak kaget... ahaha.”

 

“Kalau gitu... kalau aku serius gimana?”

 

Kalau serius...?

 

Calon istri gitu maksudnya...?

 

“Kalau aku bilang, aku suka sama Shin-chan, kamu bakal gimana?”

 

...I, itu maksudnya!?

 

Dia bilang suka sama aku...!?

 

Pasti becanda karena mabuk kan... tapi... katanya orang mabuk itu menunjukkan sifat aslinya...

 

Berarti ini suara hati...?

 

“Aah, aku bikin kamu makin deg-degan aja deh... misalnya, lanjutin yang waktu itu...”

 

“L, lanjutin yang waktu itu...?”

 

“Eh~? Udah lupa ya...?”

 

“Ah, nggak, etto...”

 

“Kalau gitu aku ingetin lagi. Sini, lihat sini...?”

 

“Eh!? Anu!”

 

“Shin-chan...? Suka... lho............”

 

──────Cup......

 

(Mmmhh......!?)

 

Sensasi lembut di bibir. Napas yang kasar. Dan aroma manis yang memikat...

 

“Puhaah...”

 

“Eh!! Eeeeeeeeeeeh~!!”

 

“Hah hawa... a, aaapa ini mataku jadi berputar-putar~~”

 

Bruk. Kak Momo jatuh berbaring di sofa.

 

        (Hah!? Gawat... kali ini beneran ciuman... jelas ciuman... A, akhirnya aku ciuman juga... Aku!! Akuuuuuu!!)


 


Tunggu, ini bukan waktunya mikir yang aneh-aneh.

 

“Kak Momo...! Kakak nggak apa-apa! Masih hidup kan!!”

 

Aku mengguncang-guncang tubuhnya untuk memastikan dia masih hidup.

 

“Ngnnyaa... munyamunya...”

 

...Sepertinya dia cuma ketiduran karena mabuk.

 

“Se, seriusan...”

 

Dengan terpaksa, aku menggendong Kak Momo yang tertidur pulas di punggungku dan membawanya kembali ke kamar.

 

(Soal ciuman tadi... Sial! Jangan-jangan ini cuma tindakan impulsif orang mabuk yang kebablasan doang!? Apa cuma itu artinya!? Ja, jadi cuma aku doang yang deg-degan setengah mati...!? Haaah, punggungnya hangat...)

 

Begitu sampai di kamar, aku membaringkan Kak Momo perlahan di atas futon.

 

Miu yang tidur di sebelahnya, posisi tidurnya masih sama hebohnya seperti dulu.

 

Gimana nggak, dia tidur sambil ngangkang lebar-lebar sampai yukatanya terbuka ke mana-mana... ini juga bikin bingung harus lihat ke mana.

 

Tapi, aku lagi nggak bisa mikirin itu.

 

(Aah... sensasi ciuman tadi masih terasa di bibir... Mana bisa tidur kalau begini!! Sial!)

 

Sambil memandangi dua orang yang tidur nyenyak tanpa tahu perasaanku dengan mata setengah terbuka, akhirnya pagi pun datang tanpa aku sempat tidur sedikit pun.

 

────Keesokan paginya.

 

“Nghhh~~! Tidurku nyenyak banget! Pagi semua~ Pagi woy~!! Bangun semua~!!”

 

“Apaan sih lu... kenapa pagi-pagi udah semangat banget...”

 

“Kenapa ya...? Kenapa coba? Mungkin karena tidur nyenyak 9 jam kali ya~ Ahaha.”

 

(Semangatnya tinggi banget... nggak kuat ngikutinnya. Apalagi aku hampir nggak tidur sama sekali...)

 

“Kakak? Baanguuun! Ayo dong.”

 

“Hmm~ udah waktunya bangun ya~? Hoaaam... pagii...”

 

Sambil mengucek mata ngantuk, Kak Momo bangun.

 

(Ah, dia ingat kejadian kemarin nggak ya... kok tiba-tiba jadi canggung gini...)

 

“Duh~ kalian berdua lambat banget sih siap-siapnya~, aku udah laper banget nih! Aku duluan ke tempat makan ya! Soalnya pagi ini buffet lho~ Fufun

 

Blam.

 

“Mmm... Miu-chan beneran selalu semangat ya.”

 

“Dia emang begitu dari dulu kan... beneran kayak badai yang ribut...”

 

“Ah, Shin-chan... ngomong-ngomong soal kemarin... sepertinya aku minum kebanyakan deh... hehe

 

Sambil menjulurkan lidahnya sedikit (ble) dan tersenyum, Kak Momo memasang ekspresi seolah bilang "Aku udah lupa lho".

 

“Aah, maksudnya soal Kakak nyium aku kemarin...?”

 

Tuh kan. Sudah kuduga pasti begitu.

 

Karena merasa dicurangi kalau dia pura-pura lupa, aku membalasnya dengan sedikit jahil.

 

Ciuman tiba-tiba itu memang tak terlupakan, tapi kata "suka" saat itu maksudnya apa... itu yang masih mengganjal dan bikin nggak terima.

 

Walau mabuk sekalipun, masa sampai bilang suka segala?

 

Atau──itu perasaan sebenarnya?

 

“Ah etto, iya juga ya...! Miu-chan udah nunggu, kita juga buruan ke sana yuk.”

 

Kak Momo terlihat agak canggung dan mencoba keluar kamar sendirian.

 

Walau dia bilang mabuk dan nggak ingat apa-apa, orang ini pasti ingat jelas kejadian semalam. Aku merasakannya.

 

◆◇◆

 

Sambil masih setengah sadar kami sarapan, lalu mulai berkemas untuk pulang.

 

Karena cuma menginap satu malam, tanpa terasa liburan onsen ini pun berakhir dalam sekejap.

 

“Huaaa, harus pisah sama onsen di kamar ini deh~! Harusnya tadi aku masuk sekali lagi, nyesel bangeeet!”

 

“Nanti kita ke sini lagi ya, Miu-chan

 

Kami menarik Miu yang masih berat hati meninggalkan kamar, lalu menuju lobi.

 

“Biar aku urus prosedur check-out-nya dulu, kalian berdua tunggu sebentar ya?”

 

“Oke! Makasih Kakak.”

 

“Yah, kita tunggu di tempat yang nggak ganggu orang aja.”

 

Karena di sekitar meja resepsionis cukup ramai orang yang mau check-out, kami memutuskan menunggu di area sofa yang agak jauh.

 

“Hei, Shintarou──”

 

Dengan wajah yang terlihat agak ngambek, Miu mengajakku bicara sambil menarik-narik lengan bajuku.

 

“Hm? Apa?”

 

“Kemarin, kamu ciuman sama Kakak kan...?”

 

“────Hah!? Apaan sih tiba-tiba.”

 

“Tadi, sebelum sarapan kan, aku keluar kamar duluan tuh? Ada barang yang ketinggalan jadi aku balik lagi buat ambil... terus aku denger pembicaraan kalian.”

 

“Nggak, tapi itu... bisa dibilang kecelakaan sih...”

 

“Kamu suka? Sama Kakak.”

 

“Hah!? Lu ngomong apa sih dari tadi...”

 

“Aku juga! Sama kamu...!! Su, su, su, su...!”

 

“Su...?”

 

“Su...! Su!! Su──Sushi!!”

 

“Sushi!? ────Mmph.”

 

Aku masih bicara. Tapi, tiba-tiba mulutku disumbat.

 

Benar──────dengan bibir Miu............!!

 

Lembut, dan aroma jeruk yang segar agak manis asam... sedikit berbeda dengan Kak Momo... eh eh eh! Tunggu!! Saat otakku belum bisa memproses kejadian yang terlalu tiba-tiba ini, Miu dengan senyum jahil seperti anak nakal, tapi juga sedikit terlihat sedih, berkata...

 

“Bodoh. Ciuman sama Kakak, udah aku timpa (overwrite) lho.”

 

“Ap... apa-apaan lu!”

 

Tanpa sadar, aku merasa berdebar melihat ekspresinya itu... tidak, nggak mungkin. Pasti nggak.

 

Di saat yang tepat Kak Momo kembali. Sepertinya dia tidak tahu apa-apa...

 

“Lho? Kalian kenapa kok mukanya begitu?”

 

“Hmm? Nggak ada apa-apa kok~. Yuk jalan yuk~”

 

Miu menggandeng lengan Kak Momo dan meninggalkan tempat itu.

 

Tinggallah aku──yang mematung di tempat itu sendirian.

 

(Tu, tunggu, tunggu dulu!! Timpa!? Miu... jangan-jangan dia... sama aku... nggak, nggak mungkin kan...!! Terus apa dong? Ngomong-ngomong dia... dari kecil selalu mengambil barang milik Kak Momo jadi miliknya kan. Apa cuma karena alasan itu dia nyium aku...? Cium aku karena cemburu sama kakaknya...!? Maksudnya gimana sih ini~!! Aaargh!! Aku nggak ngerti apa-apa woy~~~!!)



“Siaaaalaaaaan~!!”

 

“Haaah, kamu lambat banget~! Kutinggal lho~”

 

“Fufu Nggak usah buru-buru begitu juga kami nggak akan ke mana-mana kok?

 

Kakak-beradik itu serempak menoleh ke arahku.

 

“Tu, tunggu sebentar dong kalian berdua~!”




Bagikan ke:

Komentar

Tinggalkan Komentar