Bonus E-book: Cerita Pendek Eksklusif
"Shirō Melakukan Kontak dengan Hakushi"
Sebuah gelas meluncur di atas meja
bar. Gelas itu berhenti tepat di depan mata Hakushi.
Hakushi menoleh ke arah datangnya
gelas itu. Tiga kursi darinya, ada seorang wanita yang tampak sok keren. Rambutnya
berwarna hitam putih yang mengingatkan pada serigala, dan matanya menunjukkan
ambisi yang kuat untuk naik ke puncak. Dia memancarkan aura orang yang memang
bakal melakukan hal klise ketinggalan zaman seperti ini. Selain wanita itu dan
Hakushi, tidak ada pelanggan lain di magic bar tersebut.
"Silakan dinikmati."
Wanita itu berkata sambil menunjuk
gelasnya. Minuman beralkohol berwarna merah muda pucat memenuhi wadah itu,
permukaannya masih sedikit beriak.
"Maaf, tapi aku punya prinsip
tidak minum pakai uang orang lain."
Hakushi menjawab begitu, lalu
meluncurkan gelas itu ke arah sebaliknya, mengembalikannya kepada wanita
tersebut.
"Aku tidak memasukkan aneh-aneh
kok," kata wanita itu sambil tertawa. "Lagi pula, kalaupun aku
memasukkannya, apa obat-obatan semacam itu bakal mempan pada Anda?"
"Kaupikir aku ini apa?"
"Pemain legendaris yang sudah
clear sembilan puluh lima kali, bukan? Tidak aneh rasanya kalau Anda punya
kekebalan terhadap berbagai jenis obat-obatan."
Begitu, jadi wanita ini pemain ya,
pikir Hakushi.
"Maaf saya telat memperkenalkan
diri. Nama saya Shirō. Salam kenal."
Mengabaikan perkenalan diri wanita
yang mengaku bernama Shirō itu, Hakushi berpikir. Dari mana wanita ini tahu
tentangku? Nama Hakushi tidak terlalu dikenal di kalangan pemain saat ini.
Karena lapisan pemain telah berganti secara besar-besaran di <Candle
Woods>, reputasinya pun ikut lenyap bersama kejadian itu. Setelah pensiun,
ini pengalaman pertamanya dihubungi oleh orang 'dalam' industri seperti ini.
Untuk saat ini, "Ada urusan
apa?" tanya Hakushi.
"Saya ingin Anda menggunakan keahlian
hebat itu demi saya."
"Maksudnya?"
"Saya ingin Anda melatih
saya." Shirō sekali lagi meluncurkan gelas itu ke arah Hakushi.
"Sebenarnya, saya baru saja mulai jadi pemain……. Saya sedang mencari guru.
Kalau mau berguru, sudah sewajarnya minta pada orang terkuat, bukan? Makanya
saya mendatangi Anda, Hakushi-san."
Hakushi menatap gelas itu. Bisa saja
dia mengembalikannya lagi, tapi Shirō mungkin tidak akan menyerah. Tanpa
bersikap keras kepala, Hakushi menenggak isi gelas itu. Karena tidak merasakan
hawa berbahaya dari Shirō, sejak awal dia memang tidak mewaspadai racun atau
semacamnya.
Lalu, dia menjawab. "Aku
menolak."
"Aku tidak berniat mengambil
murid lagi."
"Tentu saja, saya akan membayar
imbalan yang pantas."
"Apa aku terlihat sedang butuh
uang?"
"Tidak terbatas pada uang kok.
Apa saja, asalkan bisa saya sediakan. Misalnya…… hmm. Bagaimana dengan wujud
asli hadiah yang diberikan kepada pencapai 99 kali clear?"
Saat mendengar itu, Hakushi berniat
menjaga ekspresinya agar tidak bereaksi.
Namun, "Anda tertarik?"
tanya Shirō. Apakah ekspresinya bocor, ataukah dia berhasil membaca isi hati
Hakushi?
"……Kau tahu?"
"Begini-begini saya cukup tahu
banyak hal lho. Bagaimana? Menukar informasi itu dengan pengetahuan
Hakushi-san……"
Hadiah bagi pencapai clear sembilan
puluh sembilan kali.
Bukan berarti Hakushi tidak tahu
tentang keberadaannya. Dia pernah mendengar cerita bahwa di masa lalu ada
pemain yang mencapai sembilan puluh delapan kali clear, dan tampaknya wanita
itu menargetkan sembilan puluh sembilan kali karena suatu alasan praktis yang
menguntungkan. Namun, ini pertama kalinya ada orang yang sesumbar mengetahui
isinya.
Belum tentu Shirō memegang kebenaran.
Andaikan itu benar pun, Hakushi sama sekali tidak berniat kembali menjadi
pemain demi hadiah itu. Tapi, tetap saja, sudah sifat manusia untuk merasa
penasaran. Sebenarnya cerita macam apa ini? Dalam konteks apa aku berada selama
ini?
"…………"
Hakushi perlahan membuka mulut, dan
menyampaikan jawabannya pada Shirō.
Komentar
Tinggalkan Komentar