Featured Image

Chapter 2 - Volume 5 - Watashi ga Koibito ni Nareru Wakenaijan, Muri Muri! (※Muri Janakatta!?)

Metoya Juni 20, 2025 Komentar

 Chapter 2: Mana Bisa Aku Latihan Rutin, Sih?!


                Aku mampir ke toko perlengkapan olahraga dalam perjalanan pulang dari sekolah dan membeli sebuah bola basket untuk digunakan sendiri. Itu membangkitkan kenangan saat aku masih kecil di pelajaran olahraga waktu SD. Kami semua bermain bola di dalam gym, masing-masing bermain dengan bola yang mereka inginkan. Aku pikir bola basket besar itu sangat keren, dan aku ingin bermain sendiri. Tapi karena jumlah bola terbatas, mereka bilang aku tidak boleh main sendirian dan memaksaku ikut permainan kelompok. Ada sekitar empat atau lima orang yang saling oper bola, jadi aku tidak punya banyak kesempatan menyentuh bola. Aku ingat merasa sedih karena semuanya tidak seperti yang kubayangkan.

                Mungkin itu yang membuatku bergabung dengan klub basket saat SMP. Tapi di sana juga aku tidak diperbolehkan menyentuh bola, dan karena aku payah dalam berinteraksi sosial, aku akhirnya cepat-cepat keluar.

                Tapi sekarang, dalam perjalanan pulang, saat aku memegang bola basket milikku sendiri, tiba-tiba aku sadar bahwa sebenarnya aku bisa bermain sendiri kapan saja jika punya bola basket sendiri—sebuah ide yang sebelumnya bahkan tak pernah terpikirkan. Kupikir bola basket itu barang milik sekolah, jadi tentu saja cuma bisa dipakai di sekolah.

                Seringkali aku merasa, “Lho, ternyata bisa begitu ya?” Seperti saat aku pertama kali mem-posting sesuatu di media sosial sendirian. Saat aku main game komputer untuk pertama kalinya. Saat aku menata poni sendiri.

                Dalam perjalanan pulang, aku merasa seperti orang baru, memperluas cakrawala sedikit demi sedikit. Aku memutuskan, besok sepulang sekolah, aku akan membawa bolaku ke taman terdekat.

                Meski aku sangat senang punya bola basket milikku sendiri, aku juga merasa agak malu entah kenapa.

                Area olahraga yang sepi di taman umum hanya berjarak beberapa menit jalan kaki dari rumahku. Ada dua lapangan basket di sana, dan aku berdiri sendirian di salah satunya, mengenakan seragam olahraga.

                Duk, duk, duk. Suara bola membentur tanah menggema di lapangan. Ya ampun, ini agak memalukan. Maksudku, bayangkan atlet yang latihan sendirian di luar, orang-orang yang memang sudah jago, semacam “serigala pekerja keras yang menyendiri.” Rasanya seperti itu. Tapi yang kulakukan hanyalah dribbling sendirian, tanganku berantakan dan gugup. Setiap kali ada orang tua yang lewat sambil membawa anjing atau anak kecil pulang sekolah, aku langsung keringetan aneh. Aku terus membayangkan mereka berkata, “Dia nggak terlalu jago, tapi setidaknya berusaha keras,” sambil cekikikan. Seperti, “Wah, baguslah dia mencoba.”

                Nggakkk… Kalau memang akan ada yang nonton, aku pengen bisa jauh lebih jago dulu sebelum tampil di lapangan publik untuk pertama kalinya… Seperti latihan dribbling setahun dulu di kamar! Meski kompetisinya mungkin udah selesai saat itu, tapi kau paham maksudku!

                Setidaknya, kalau ada seseorang menemaniku, mungkin aku nggak akan terlalu sensitif dengan semua tatapan ini. Sendirian itu berat. Siapa aja deh, please!

                Dan tepat saat aku berpikir begitu, aku mendengar suara bel sepeda. Aku terkejut dan berbalik.

                “Ada apa nih, bacon?”

                “K-Kaho-chan!” seruku. Wajahku langsung bersinar. “Ini kayak di game pas kamu butuh senjata dan tiba-tiba muncul senapan serbu terkuat di sampingmu!”

                “Aku nggak ngerti kamu ngomong apa,” katanya, “tapi kayaknya itu berarti kamu senang aku datang.”

                Kaho-chan memarkir sepedanya dan berjalan mendekat. Dia juga pakai baju olahraga, tapi dia mengenakan rok lipit sporty yang nyaman dipakai dan juga modis. Keren banget!

                “A-apa yang membawamu ke sini?” tanyaku.

                “Kalau kamu ngeliatin aku dengan mata besar berbinar dan penuh harap begitu, susah rasanya bercanda dan bilang aku cuma lewat,” ujarnya.

                Dia menunjukkan ponselnya. “Dan, kayak, aku harus gimana lagi? Kamu terus kirim pesan kayak, ‘Aku mulai latihan basket hari ini! (kedip kedip) Jam 4:30 di taman! (sikut sikut) Sendirian! (kedip kedip sikut sikut)’ Cara kode-kodenya jijik banget!”

                Ugh. Yah, aku nggak nyangka dia beneran bakal muncul...

                Perlu kucatat, aku juga coba trik ini ke Satsuki-san, tapi dia cuma baca doang dan nggak bales.

                “Makasih, makasih,” kataku. “Kaho-chan, kamu emang sahabat terbaikku selamanya.”

                “Aduh, kamu bisa banget sih ngomong manis. Ya udah, gak masalah. Aku emang pengen latihan juga. Jadi sekarang kamu masih punya dua puluh poin persahabatan.”

                “Poin persahabatan apaan?!” Haduh, muncul sistem baru lagi sekarang.

                “Kalau kamu terlalu boros makainya, kamu bakal turun dari sahabat ke teman, dari teman ke kenalan, terus dari kenalan ke ‘siapa kamu ya?’”

                “Dan aku udah ngabisin berapa dengan ini...?”

                Kaho-chan mengangkat satu jari. “Sekitar seratus.”

                “Dan aku cuma punya dua puluh lagi?! Pulang sana, Kaho-chan, sekarang juga! Hapus semua pesannya! Aku latihan sendiri!”

                “Yah, aku cuma becanda.” Dia menyeringai dengan taringnya yang menyembul sedikit, jelas menikmati reaksiku. Grr... Dia ngerjain aku lagi!

                “Hei, ayo dong, oper bolanya,” katanya.

                “Oh, iya.”

                Dari yang kuingat, kamu harus pegang bola di depan dada seperti mau mendorong keluar. Aku melemparnya ke dia, dan dia mulai dribbling. Aku nggak cukup tahu buat komentar soal teknik dribbling, tapi kelihatannya dia cukup bagus. Mungkin karena Kaho-chan memang lucu banget, jadi semua yang dia lakukan kelihatan bagus.

                “Yuk, Rena-chin.”

                “O-oke!”

                Aku menunduk dan berlari ke arah Kaho-chan. Aku cukup percaya diri (sejauh aku bisa) dengan kemampuan bertahanku. Maksudku, refleksku bagus karena sering main game FPS.

                Aku menjulurkan tangan sejauh mungkin dan dengan lincah merebut bola dari tangannya! (Bohong, aku meleset.)

                Aku diam saja, tapi Kaho-chan terkikik.

                Oke, sekarang aku rebut bolanya! (Bohong lagi, meleset lagi.)

                Rebut, rebut, rebut! (Bohong, bohong, bohong.)

                Kaho-chan dengan lincah menggiring bola ke kiri dan kanan dan melewatiku sebelum aku bisa berkedip. Aaargh. Tanpa halangan dariku, dia menuju ring dan melakukan tembakan lompat. Bola meluncur dalam parabola dan masuk dengan mulus ke jaring.

                “Oh, eh, masuk ya,” kata Kaho-chan.

                “Serius?” Aku mengikuti bola dengan mata, melongo. Aku nggak percaya. “Kaho-chan, kamu sejago itu...?”

                Kaho-chan mengambil bola yang menggelinding dan menyombong, “Mungkin karena aku lagi cosplay jadi pemain basket sekarang.”

                “Bohong banget!” seruku. “Kalau memang gitu, kamu bakal OP di segala hal dong. Kamu apa, peniru alami?”

                “Kamu lucu banget,” kata Kaho-chan. “Reaksi kamu selalu gede banget.”

                Percayalah, aku bukan sengaja bikin dia terhibur!

            “Ngomong-ngomong, lupakan soal cosplay,” katanya. “Aku sebenarnya nggak jago-jago amat. Aku cuma rata-rata aja, tahu? Itu artinya masalahnya ada di kamu.”

            “Aku?”

            Kaho-chan menutup mulutnya dengan satu tangan dan terkikik, giginya yang runcing mengintip dari balik bibirnya. “Karena. Kamu. Cupuuu,” katanya bernyanyi-nyanyi.

            “Beraninya kamu?!”

            Aku kembali menantang Kaho-chan. Nggak ada lagi yang namanya main baik-baik! Akan kutunjukkan padanya! Tapi...

            “Ooh, Rena-chin lemaaah.”

            “Oooh, kamu nggak akan bisa ngalahin akuuu. Kalah terus, kalah terus, kalah teeeerus.”

            “Oooooh, tahu nggak siapa yang kalah lagi? Kamu emang suka kalah ya, Rena-chin?”

            Aku jatuh ke tanah dan berteriak, “Sialan!”

            Aku nggak bisa menang sama sekali. Aku udah kalah mungkin dua puluh kali berturut-turut. Bahkan aku belum sempat menyentuh bola sekalipun. Rasanya seperti tenggelam sampai pinggang di tumpukan salju rasa malu.

            Kaho-chan menjulurkan lidah dan tertawa. “Maaf, aku terlalu seru sampai keterusan. Aku nggak bermaksud ngalahin kamu separah itu. Ayo dong, ceria lagi.”

            Dia menepuk kepalaku dengan tangan kecilnya. Ini terlalu jelas sebagai taktik metode "carrot and stick", tapi tetap saja aku senang dia bersikap baik padaku. Kaho-chan seperti punya kendali penuh atas sistem sarafku, seolah tahu persis provokasi mana yang akan menghasilkan reaksi apa. Sial. Sial! Itu malah bikin makin frustasi.

            “Aku nggak mau main sama kamu lagi,” rengekku.

            “Aww, kenapa? Kamu ngambek? Ngambek ya, Rena-chin-chan?”

            “Hmph!” Aku mengembungkan pipi dan menoleh ke arah lain. Ya! Rasain tuh!

            “Ayo dong, Rena-chin, Rena-chin, Reeeena-chin. Lihat aku. Lihat sini.”

            Aku bertekad untuk tidak bereaksi saat dia mencolek pipiku yang mengembung. M-meski geli juga sih.

            Lalu dia meletakkan tangan di pipiku. Hah? Perlahan, dia memaksa wajahku menoleh ke arahnya.

            “Whoa!” seruku.

            Wajah Kaho-chan sangat dekat. Tatapannya yang panas langsung membuat pipiku memerah dalam hitungan detik. Eep.

            Sambil menatapku dengan mata anak anjing yang imut banget, dia berbisik, “Rena-chin... Maaf ya. Aku benar-benar merasa bersalah, sumpah deh. Bisa maafin aku nggak?”

            Serangan langsung itu bikin otakku ngadat. “Ughhhhhhh,” erangku. “Iya, aku maafin...”

            “Yay! Sayang kamu banget, Rena-chin!”

            Kaho-chan menepuk kepalaku. Dia benar-benar punya banyak variasi dalam cara minta maaf, antara ini dan minta maaf sambil merunduk waktu itu. Tapi semuanya punya kekuatan serangan mematikan. Dengan permintaan maaf seperti itu, aku bakal maafin dia bahkan kalau dia menuangkan air lumpur ke kepalaku tanpa alasan. Ini bencana. Nggak ada yang bisa kulakukan saat Kaho-chan masuk mode cewek ceria. Aku merasa seperti pelayan yang sepenuhnya di bawah kendali majikannya yang super kuat.

            “Kaho-chan, kenapa nggak pakai kacamata dulu sebentar…?” saranku.

            “Kenapa? Kita lagi olahraga.”

            Ya, tapi aku punya keunggulan lawan Kaho-chan versi berkacamata!

            Karena nggak bisa mikir ide bagus, aku hanya menunduk. Kaho-chan terlalu kuat. Aku nggak bisa mengalahkannya…

            “Hei, cuma buat kamu tahu, kamu itu dari tadi terlalu mundur terus,” kata Kaho-chan. “Kamu malu, Rena-chin?”

            “Malu?” ulangku. Aku malu?

            “Soalnya, aku nggak ngerasa ada tekanan dari pertahananmu, tahu? Kayak kamu terlalu ragu. Jarak kita tuh jauh banget. Kamu harus mendekat, kalau nggak, kamu nggak akan bisa nyentuh aku. Paham, kan?”

            “Maksudku, itu agak…”

            Jantungku berdetak kencang. Aku tahu apa yang dia maksud, tentu saja. Tapi di saat yang sama…

            “Kalau aku ngelakuin itu,” kataku, “aku bisa aja nyentuh kamu tanpa sengaja.”

            “Nah, nah, nah.” Dia melambaikan tangannya, ekspresinya serius. “Itu hal biasa dalam olahraga.”

            “Enggak, itu nggak biasa!” sanggahku. “Aku nggak bisa nyentuh kamu sembarangan di tengah keributan. Itu bakal super nggak sopan!”

            “Padahal kamu baru aja meluk aku, kayak dua menit lalu?!”

            “Ya, tapi itu beda. Waktu itu aku lagi krisis. Ini beda banget!”

            Kenapa sih dia nggak ngerti juga? Saat Kaho-chan sedang dribble dan menatap lurus ke arahku, rasanya dia bisa memprediksi semua gerakanku. Malunya bukan main. Selain itu, tubuh Kaho-chan kurus banget, aku takut malah bikin dia jatuh (dan kalau dia jatuh di bawahku... ya, kamu tahu lah).

            Dengan kata lain: “Kaho-chan, ini semua salah kamu karena terlalu imut!”

            Teriakanku menggema di lapangan basket.

            Mata Kaho-chan berbinar dengan kilau genit. “Oooh~”

            “Gah!” Rasanya aku menggali kubur sendiri lagi.

            Kaho-chan memasang senyum manja dan membuka kedua tangan. “Oke. Sini deh.”

            “Apa?!”

            “Kita bakal latihan khusus biar kamu terbiasa nyentuh tubuh cewek,” katanya.

            “Aku juga punya tubuh cewek, tahu!”

            Aku meletakkan tanganku di seluruh tubuhku untuk menunjukkan padanya, tapi Kaho-chan tetap nggak menganggap itu sah.

            “Kalau kita nggak lakuin ini,” katanya, “kamu bakal jadi rekan tim yang payah, tahu?”

            “Gah!” seruku lagi. “B-bener juga, sih! Tapi tetap aja! Lihat, cewek-cewek dari tim lain nggak mungkin seimut kamu, kan?”

            “Kalau iya gimana?”

            “Enggak bakal! Kamu orang paling imut sedunia, Kaho-chan.”

            “Mungkin aja,” katanya, menerima gelar itu dengan santai, “tapi nggak peduli lawan siapa, kamu tetap nggak bakal bisa nyentuh mereka, tahu? Kalau kamu nggak latihan, kamu nggak bakal bisa ngelakuin itu di pertandingan sebenarnya. Lihat, sebelum pemotretan, aku selalu latihan di depan cermin buat cari pose terbaikku.”

            Argumen tambahan soal kerja keras Kaho-chan sebagai cosplayer berhasil menjatuhkan perlawanan terakhirku.

            “Ya udah, ya udah!” kataku. “Aku ngerti. Aku lakuin. Puas?” Tapi jangan salahkan aku nanti!

            Aku udah pernah nyentuh Kaho-chan versi berkacamata waktu aku mandiin dia, dan yang paling penting, aku juga udah pegang-pegang Mai waktu Touched Time. Ya kan? Ya, anggap aja begitu! Jadi Kaho-chan versi ceria nggak akan menghentikanku. Aku bakal bikin dia ngeluarin suara aneh lagi, tunggu aja!

            “Kamu kecil-kecil cabe rawit…” gumamku sambil memegang lengannya bagian atas.

            Lembut banget dan hampir terlalu ramping. Aduh. Aku udah malu lagi.

            “Ayo, lebih lagi!” serunya.

            “B-baik, ini dia!”

            Sekarang aku menyentuh sisi tubuhnya. Lembut, tapi aku bisa merasakan ototnya di sana. Mau nggak mau, bayangan dia telanjang waktu aku mandiin punggungnya muncul di pikiranku.

            “Itu nggak cukup!” Kaho-chan bersikeras. “Penyerang bisa tembus kamu gitu aja. Ayo, pakai seluruh tubuhmu dan dorong aku! Kayak, bumm!”

            “Wh-whoa!”

            Kaho-chan meluncur ke arahku dan menabrakku cukup keras, tapi aku bisa menahan diri dengan kaki belakang. Kami berdiri begitu dekat sampai rasanya seperti berpelukan. Dia hangat karena habis olahraga, dan rasanya senyaman memeluk hewan kecil.

            Tapi juga, dia dorongannya kuat banget! Eh, Kaho-chan!

            “Minggir dong!”

            “Whoa, whoa, whoa!”

            Sekarang bukan waktunya malu-malu. Kalau aku nggak balas dorong sekuat tenaga, dia bakal menjatuhkanku. Jadi aku memeluk tubuh mungilnya dan menggertakkan gigi sekencang mungkin, hampir kayak pegulat sumo. Tapi aku nggak tahan lagi, dan dia berhasil mendorongku jatuh.

            Aduh! Punggungku kena sedikit. Sakit.

            Saat aku perlahan menengadah, aku melihat Kaho-chan duduk di atas pinggangku. Tapi meski dia tepat di atasku, aku nggak merasakan beratnya sama sekali. Dia terlalu ringan. Dia meletakkan tangannya di dadaku saat duduk mengangkang. Eh, menurut kamu itu nggak berlebihan ya? Untuk... banyak alasan! Ghh… Aku memalingkan wajah.

            “Rena-chin,” katanya.

            “Ada apa...?”

            Telapaknya menekan dadaku. Dia hampir menghancurkan paru-paruku, bikin aku susah napas. Kalau mau pegang dadaku, minimal lembut dikit dong… Eh, tunggu, itu juga masalah tersendiri!

            Dengan ekspresi aneh, Kaho-chan berkata, “Wah, aku lagi nunggangin kamu dan wajahmu merah banget. Ini agak panas ya, menurutmu?”

            “Aku nggak tahu kamu ngomong apa!”

            Aku bangkit, dan Kaho-chan jatuh ke belakang sambil mengeluarkan jeritan kecil.

            Bagaimanapun juga… langkah-langkah ekstrem Kaho-chan membuatku sedikit lebih terbiasa dengan tubuh perempuan… kurasa. Meski sejujurnya, itu lebih karena perasaan “Brengsek kau!” yang muncul setelahnya, tapi ya sudahlah.

            Setelah itu, kami bergantian latihan menyerang dan bertahan sampai akhirnya duduk di bangku untuk istirahat, tubuh kami panas dan berkeringat.

            “Fiuuuh,” kata Kaho-chan. “Capek banget, deh.”

            “Y-ya, aku juga lelah…”

            “Sebelum kita mulai kerjain teknikmu,” katanya, “kamu butuh stamina dulu, girl.”

            “Kalau ini game FPS,” aku mengeluh sambil nyaris menyerah, “aku bisa lari berjam-jam cuma dengan nahan satu tombol.”

            “Video game udah merusak otak kamu,” gumam Kaho-chan.

            Langit mulai gelap. Saat Kaho-chan duduk di bawah cahaya lampu jalan, dia terlihat sedikit berbeda dari sebelumnya, lebih kalem. Lalu dia buka mulut dan berkata, “Jadi, gimana hubunganmu sama Mai-Mai dan Aa-chan?”

            “Maksudmu apa?”

            Saat aku menatapnya, Kaho-chan memiringkan sedikit kepalanya, menyembunyikan wajah dari pandanganku. “Ayolah, kamu yang bilang kamu gugup waktu itu. Tapi di sekolah kamu keliatan baik-baik aja.”

            Ah, benar juga.

            “Yah… makasih udah nanyain. Kurasa… kami masih mencoba menjalankannya.”

            Aku mengusap dahiku, masih terasa sakit berdenyut di tempat dia tadi nabrak dengan kepala.

            “Huh, keren.” Lalu setelah jeda, dia menambahkan, “Aku udah cosplay sejak SMP, dan aku udah dengar banyak banget gosip soal betapa ribetnya urusan cowok-cewek. Itu bikin aku mikir kalau hubungan bertiga nggak akan pernah berhasil.”

            “Urgh… Ya, aku ngerti,” kataku.

            “Tapi kamu selalu ngelakuin hal-hal yang bahkan nggak bisa aku bayangin. Jadi mungkin, ya, kalian bisa punya harapan.”

            “Uh.”

            Itu mungkin berarti dia mendukungku.

            Kaho-chan menunjuk lurus ke arahku, jarinya berhenti tepat di depan ujung hidungku. Eep.

            “Jangan salah paham, oke? Ini cuma pendapatku sebagai temenmu. Sebagai remaja biasa dan fans berat Mai-Mai, aku tuh sebenernya nggak dukung-dukung amat.”

            “B-baik,” jawabku.

            “Soalnya aku belum pernah mikirin serius soal pacaran kayak kamu, jadi kayaknya aneh aja kalau aku ngomentarin keputusanmu berdasarkan akal sehat, ngerti nggak?”

            Kaho-chan berdiri dan melempar bola ke ring. Bola itu meleset dan menggelinding pergi.

            “Kaho-chan, kamu pernah kepikiran pengen pacaran?” tanyaku.

            “Pernah sih, kayak… kalau Mai-Mai mau. Atau cuma karena aku cosplay jadi orang yang supel. Tapi nggak pernah serius.”

            “Tapi kamu bilang kamu pernah naksir orang—”

            “Naksir ya naksir!” katanya. “Bukan berarti aku beneran suka banget. Maksudku, aku juga nggak tahu gimana cara kerja cinta atau suka-sukaan kayak kamu!”

            Kaho-chan berlari mengambil bola yang menggelinding. Dalam cahaya senja yang redup, aku rasa aku melihat wajahnya yang malu berubah merah.

            “P-pokoknya, yang mau aku bilang tuh, kamu boleh kok curhat ke aku kalau mau, ya? Mai dan Aa-chan juga temen baikku banget, jadi kamu harus bikin mereka bahagia. Kalau nggak, awas aja kamu, ya!”

            “Oh, Kaho-chan…”

            Kata-katanya bikin aku menyadari sesuatu. Ya, ternyata memang ada sisi itu juga. Aku selalu mengira urusan antar pasangan nggak akan berpengaruh ke orang lain. Tapi buat orang-orang yang peduli sama Mai dan Ajisai-san dan ingin mereka bahagia, aku adalah unsur yang tak pasti dan berbahaya. Seandainya kami pasangan biasa, mungkin akan lebih gampang diterima. Tapi aku memilih jalur yang tidak umum dan punya banyak sifat yang bisa dikritik. Itu berarti… aku harus jadi lebih baik dari pacar rata-rata, kalau tidak, nggak akan ada yang menerima hubungan kami. Orang-orang pasti akan bilang pada mereka, “Kamu sebaiknya putus sama dia,” atau “Masih banyak orang yang lebih baik.” Dan Mai serta Ajisai-san akan merasa terluka kalau orang terdekat mereka mengatakan hal seperti itu. Apakah mendengar atau tidak mendengar kata-kata itu bergantung pada seberapa keras aku berusaha? Ya Tuhan, aku nggak tahu. Sekarang tekanan terasa makin besar dari arah yang nggak terduga.

            Tapi sekarang bukan waktunya untuk mengeluh soal itu.

                "Yeah… Aku benar-benar ingin membuat mereka bahagia… atau setidaknya, begitu yang kupikirkan." Aku mengangguk pelan.

                "Itu pelan banget ngomongnya…" kata Kaho-chan, tampak jijik. Dia memainkan bola sambil melanjutkan, "Tapi kayaknya pas aku mulai dari nol sebagai cosplayer dulu, aku juga nggak mau berhenti meskipun ada yang ngkritik atau nolak aku… Jadi kayaknya aku nggak bisa nggak dukung kamu dengan sikap kamu sekarang… Atau, yah, semacam itulah!"

                "Uh-huh."

                Aku paham apa yang dia maksud. Aku paham kalau dia sedang menyemangatiku.

                Meski aku mungkin belum siap menghadapi semua ini, aku mengangkat kepala dan tersenyum lebar. "Makasih ya, Kaho-chan."

                "Tentu dooong!" Dia mengangguk dengan semangat. "Tapi kamu jangan cuma perhatian ke Mai-Mai sama Aa-chan doang trus lupa sama aku lagi, ya! Kamu juga harus tetep sering main bareng aku."

                "Y-ya, tentu aja." Aku berdiri dan mengepalkan tangan. Kali ini aku bisa mengatakannya dengan yakin. "Lagian, aku seneng banget kita bisa deket lagi. Sekarang aku juga pengen makin dekat sama kamu! Aku masih ngerasa pacar dan temen itu dua hal yang beda, tapi Kaho-chan, nggak ada yang bisa gantiin waktu yang aku habiskan bareng kamu."

                "O-oh, ya… itu… bagus, sih… gitu." Kaho-chan menutupi mulutnya dengan bola dan bergumam, "Jadi, uh… besok aku nggak ada kegiatan, sih. Kamu mau ke taman… nembak bola bareng aku, gitu?"

                Cara dia ngomongnya tuh kayak lagi ngerayu, seperti kucing yang nyamperin dan bilang, “Belai aku dong, belai aku…” Aku cepat-cepat mengalihkan pandangan. Aku nggak jago ditodong permintaan kayak gitu.

                "Maaf…," kataku. "Besok aku udah ada janji sama Ajisai-san."

                Kaho-chan langsung melempar bola ke arahku. "Dasar player, Rena-chin!"

                "Berapa kali harus aku bilang, aku beneran bukan!"

               ※※※

                Ketika aku berlari menghampiri gadis yang berdiri di depan toko, wajahnya langsung bersinar. "Rena-chan," katanya.

                "M-maaf ya, aku agak telat."

                "Nggak apa-apa, kok. Aku juga lagi mikir mau pesen apa."

                Sehari setelah latihan basket bareng Kaho-chan, aku janjian ketemu Ajisai-san di sebuah kafe setelah pulang sekolah. Ada tempat baru buka di dekat sini, dan kami udah ngomongin pengen coba ke sana bareng.

                Aku melongok ke dalam. Karena baru buka, tempatnya penuh banget sama anak-anak dari Ashigaya. Ya, cukup rame juga.

                Begitu masuk, kami dibawa ke kursi di bagian belakang. Aku duduk di seberang Ajisai-san dan sedikit santai.

                "Tau nggak," kataku, "aku sempet ketemu Takada-san lagi di loker sepatu pas mau pulang."

                "Oh ya? Nggak apa-apa?" tanya Ajisai-san.

                "Ya, soalnya ada banyak orang liat, jadi dia nggak bisa ngapa-ngapain. Tapi kayaknya dia masih aja keukeuh soal saingan ini… Padahal anggota buat lomba atletik antarkelas udah ditetapin."

                "Mai-chan sama aku ikut softball, dan kalian sisanya main basket, kan?"

                "Uh-huh."

                Artinya, karena Quintet terbagi, kami nggak bisa duel langsung lawan 5déesses. Dan nggak mungkin ganti anggota sekarang meski mereka ngotot. Aku harap mereka bisa kasih aku istirahat sedikit. Tapi—kalau aku kelihatan murung, Ajisai-san pasti khawatir. Senyum, senyum, aku ingatkan diriku sendiri.

                "Y-yaudah, mendingan kita makan yang manis-manis dan lupakan semua itu," saranku. Aku balik menu dan tunjukin ke Ajisai-san.

                "Y-ya, boleh," katanya. "Soalnya ini kencan, kan… ya kan?" Dia nyengir, pipinya merah merona.

                "Hah? Oh, uh, iya, ini kencan!"

                “Kencan” itu kata yang kecil banget, tapi bisa memunculkan kecemasan segede gaban! Iya juga, ini memang kencan… Ini tuh kencan… KENCAN! Dan makin aku sadar, makin aku nggak bisa santai, padahal udah nyamarnya jadi “ada janji” waktu ngomong ke Kaho-chan.

                Tunggu dulu deh.

                “Ini… kencan pertama kita sebagai pasangan, ya…?” tanyaku.

                “Hah? O-oh, y-ya… K-kayaknya sih iya.” Ajisai-san mengangguk kaku.

                Ngeliat ekspresi dia, kemungkinan dia juga baru nyadar bareng aku. Ya ampun.

                “Nggak nyangka,” kataku, “kencan pertama kita cuma di kafe deket sekolah kayak gini.”

                “R-Rena-chan?”

                Aku gemetar. “Harusnya kita lakuin yang lebih dramatis. Harusnya ke restoran di gedung tinggi, duduk deket jendela biar bisa liat pemandangan kota malem-malem. Harusnya aku dandan beneran. Kita harusnya toast pake sampanye atau apalah…”

                “Rena-chan?!”

                “Tapi kenyataannya, kita cuma di sini… Kencan pertama, dan tempatnya juga yang cocok buat kantong pelajar… Nilai ku sebagai pacar pasti jeblok!”

                “Rena-chan. Rena-chan!”

                “Oh!” Ajisai-san menepuk punggung tanganku, dan aku langsung balik ke dunia nyata. “M-maaf…”

                “Duh,” katanya. “Otakmu udah mulai niru Mai-chan, ya?”

                “Iya, bener juga.”

                Aku sampe kaget sendiri. Kalau terus-terusan pakai standar Mai buat kencan, aku nggak akan bisa punya kisah cinta yang normal dan realistis lagi. Kalau aku sok-sokan terus padahal isi dompet pas-pasan, aku bakal jadi tipe cewek yang utangnya numpuk tapi tetep jaga image depan pacarnya. Dan semua ini salah Mai! Aku tamat!

                Ajisai-san menggenggam tanganku. “Kamu tahu, aku juga suka kencan yang mewah, penuh kejutan. Maksudnya, siapa sih yang nggak suka? Tapi yang jauh lebih penting buatku itu bisa sering-sering ngabisin waktu bareng kamu. Jadi jangan tinggalin aku dua minggu cuma buat nyiapin hal besar, ya?”

                “Oke, aku ngerti… Jadi maksudmu, Party C nggak boleh bolos dari tugas utama sambil ngerjain misi sampingan.”

                “Itu bukan maksudku sama sekali!”

                Waduh, mode Proposal Proyek Pacar muncul lagi.

                Ajisai-san menghela napas. “Ah, sudahlah. Nggak apa-apa. Aku tahu kamu berusaha keras buatku.”

                Aku beneran bikin Ajisai-san ngeluh barusan?! Maksudmu… Ajisai-san sampai ngeluh ke orang?! Aku tamat. Tamat level dewa. Dia bakal minta putus di tempat ini juga. “Kupikir aku punya perasaan buatmu, tapi ternyata aku salah,” katanya sambil memandangku dingin. “Kayaknya kita memang lebih baik cuma temenan. Sampai jumpa.” Lalu dia menyiram kepalaku pake air dan ninggalin aku sendiri di kafe ini. Ajisai-san, jangan tinggalkan aku…

                “Makanya, aku bakal sabar dan ngobrol terus sama kamu sampai kamu benar-benar paham, ngerti?” katanya, seperti ingin menegaskan lagi tekadnya.

                Ya Tuhan, andai aku bisa sedikit lebih stabil secara emosional!

                ※※※

            Tapi untuk saat ini, Ajisai-san telah menerima permohonanku “tolong jangan tinggalkan aku,” dan dengan lapisan tipis keselamatan itu antara diriku dan kehancuran total, kami pun melihat ke arah menu. Entah kenapa, aku merasa… akulah yang berjanji untuk membuat dia dan Mai bahagia, kan? Tapi… bukankah aku ini orang yang agak kacau? Atau itu cuma perasaanku aja?

            “Ooh, lihat ini, Rena-chan,” kata Ajisai-san.

            “Menu baru, ya? Paket pasangan?”

            Itu semacam promo di mana dua orang bisa dapat combo kue dengan sedikit potongan harga. Kupikir itu cuma sekadar seru-seruan aja, mengingat sekolah ada di dekat sini.

            “A-a-aku agak malu mau pesen itu…” kataku.

            “Y-ya, aku juga…” Ajisai-san mengiyakan.

            Dua cewek SMA yang irit pengeluaran ngomong, “Kami pasangan uwu!!” memang imut sih, tapi… aku dan Ajisai-san ini beneran pasangan. Jadi… ya, kita pasti bakal memerah kayak kepiting rebus.

            Saat aku memilih minuman, Ajisai-san kembali ke topik sebelumnya. “Hei, Rena-chan, um. Kamu pernah bilang hal kayak gitu ke Mai juga nggak?”

            Hal kayak “jangan tinggalkan aku,” yang udah masuk nominasi untuk hal paling memalukan bulan ini. Hmm.

            “Aku… rasa sih belum pernah,” jawabku.

            “Hah, serius?” Dia tampak terkejut.

            “Iya.”

            “Kenapa?”

            Kenapa ya? Ya, masuk akal juga sih—Mai itu kaya banget dan dia juga model terkenal dan segalanya, jadi pasti punya banyak kesempatan ketemu cewek-cewek menarik. Kalau mau dirinci, Mai tuh kayak lebih berpeluang buat nyampak aku di pinggir jalan dibanding Ajisai-san. (Keji banget.)

            Tapi di saat yang sama… kenapa aku nggak pernah meragukan dia bakal ninggalin aku? Begitu aku coba ungkapkan, jawabannya keluar dengan sangat mudah.

            “Kayaknya karena aku tahu dia beneran suka sama aku, gitu…” aku mengakui.

            Ajisai-san langsung menangkap kalimat samar itu dan menuntut penjelasan lebih lanjut. “Kamu tahu dari mana?”

            “Uh…”

            Sebenernya ada banyak contoh konkrit. Kayak waktu kami jatuh bareng dari atap. Atau fakta bahwa dia bisa tiba-tiba ngerayuku kapan aja. Semua ciuman, semua ekspresi wajah yang cuma dia tunjukin ke aku. Cara dia ngirimin pesan dan foto nonstop. Tapi semua itu nggak mungkin aku ceritain ke Ajisai-san! Intinya sih, semua hal itu barengan bikin aku yakin kalau Mai emang punya perasaan buat aku.

            Saat aku cuma bisa ngomong, “Umm… ehh…,” Ajisai-san menutup matanya perlahan. “Aku ngerti sekarang,” katanya. Entah kenapa, nada bicaranya sekuat para ronin sebelum melakukan penyerbuan. A-apa maksudnya ini?

            Tiba-tiba tangan Ajisai-san terangkat, dan dia memanggil pelayan. Lalu dia langsung bilang, “K-kami mau pesan paket pasangan, ya!”

            Ajisai-san?!

            “Um, aku mau milk tea dan Basque cheesecake. R-Rena-chan, kamu mau apa?”

            “U-um, aku ambil…”

            Setelah kami selesai pesan dengan gugup dan pelayan pergi, kami duduk dalam diam. Ajisai-san menunduk, wajahnya merah padam.

            “So-soalnya, kita kan emang pasangan beneran,” katanya.

            “H-hah?”

            Dia manyun kayak orang ngambek. “Kamu tahu… soalnya kita ini beneran pacaran…”

            “A-a-aku ngerti, kok…”

            Aku juga nggak ngerti kenapa Ajisai-san mendadak kayak gitu, tapi… yah, ini benar-benar bikin malu. Tentu aja, orang-orang di sekitar kami pasti cuma mikir kami dua cewek remaja yang sok lucu aja. Bahkan pelayannya juga sempat senyum kecil. Tapi… kami ini beneran pasangan, jadi kami benar-benar sadar sama tatapan orang-orang. Bukan kayak mereka ngeliatin dengan tajam, sih—lebih kayak “Awww,” kayak orang liat pajangan seni TK.

            “Aku cuma… beneran pengen nunjukin perasaanku dengan jelas,” kata Ajisai-san pelan banget.

            “Hah? Tadi kamu bilang apa?”

            Saat itu juga, pelayan datang membawa kue kami. Ajisai-san memotong sedikit cheesecake-nya dengan garpu, lalu menunjukkannya ke arahku. Dia tersenyum. “Nih, Rena-chan. Bilang ‘aah.’”

            “Eh?!”

            “Ayo dong. Bilang ‘aah.’”

            “W-wait, nggak perlu sampai segitunya, kan?!” kataku. Aku pikir dia cuma mau kelihatan meyakinkan di depan pelayan biar kelihatan cocok sama paket pasangan tadi, tapi ternyata dia punya niat lain.

            “Nggak mau cepat-cepat bilang ‘aah,’ Renako-san?” katanya manja.


“Dari mana tiba-tiba munculnya ‘-san’ itu?! Serem banget, tau nggak?!”

Ajisai-san tersenyum setengah hati, jelas-jelas sedang menahan malu luar biasa. Aku belum pernah lihat dia kayak gini sebelumnya.

Astaga. Kami mulai menarik perhatian orang-orang di sekitar. Tapi Ajisai-san tampaknya nggak sadar, dan dia malah semakin mendorongku ke tepi jurang dengan setiap detik yang berlalu.

“Kalau Mai-chan yang nyuapin, kamu pasti mau kan? Ayolah, Rena-chan, jangan jadi menyebalkan!” desak Ajisai-san.

“Iya sih, tapi Mai bakal terus nyuapin tanpa henti sampai aku nyerah, jadi ya sebenarnya aku nggak punya pilihan!”

“Kalau gitu aku juga bakal terus maksa! Ayo, bilang ‘aah’! Nih, ‘aah’!”

Ajisai-san terus menyodorkan garpu, dan ekspresinya makin liar. Kalau aku terus nolak, dia bisa-bisa nusukin garpu itu langsung ke mulutku.

Misiku adalah membuat dia dan Mai bahagia… untuk memenuhi keinginan Ajisai-san… Aku memutuskan untuk menganggap diriku ini android yang dibuat khusus untuk tujuan itu.

Dengan perasaan seperti sedang menjatuhkan diri dari tebing, aku membuka mulutku. “A-aah…!” kataku.

Wajah Ajisai-san langsung bersinar, kayak penjaga kebun binatang yang berhasil membujuk hewan langka untuk makan.

Aku menelan suapan besar dari kue yang dia sodorkan. Sambil melihat garpunya mundur, aku menutup mulut dengan tangan dan berkata pelan, “Enek… tapih… enyak…”

“Enak… enak! Bagus, makasih ya!” Ajisai-san meletakkan kedua tangannya di pipi dan tersenyum lebar.

Aku sih nggak bisa mendeskripsikan rasanya sama sekali, tapi ya sudahlah. Ajisai-san terlihat sangat imut waktu tersenyum. Maksudku, dia imut juga waktu marah. Dan waktu ekspresinya datar. Bahkan waktu dia menatapku dengan tatapan merendahkan (bukan berarti dia pernah begitu).

Tetap saja, senyum itu yang paling cocok untuknya. Ini yang dimaksud orang-orang dengan kalimat “senyum bermekaran di wajahnya.” Yah, kalau dapat senyum kayak gitu, rasa malu tadi langsung terbayar lunas.

Tapi baru saja aku merasa lega kayak habis ujian akhir, Ajisai-san membuka mulut mungilnya lagi.

“Sekarang giliran kamu, Rena-chan,” katanya.

“Tunggu, apa?!”

“Ahh.”

Tunggu. Maksudnya… dia ingin aku ngelakuin hal yang sama ke dia? Dia mau aku nyuapin dia juga, dengan mulut terbuka kayak anak burung?

Yang ada di depanku sekarang adalah tiramisu. Aku berharap aku punya sesuatu yang lebih susah buat disuapin, biar bisa ngelawan tekanan dari “Ahh” ini… kayak shingen mochi yang berantakan sama bubuk kinako-nya. Tapi sayangnya nggak ada di menu.

“H-hei, Ajisai-san, um…”

“Kita kan pacaran, ya?” katanya sambil sedikit manyun dan menatapku lurus. Sepertinya hari ini dia niat banget bikin aku KO pakai kata ‘pacaran’.

“E-err. Kamu tahu… orang di sini banyak, lho,” aku bilang.

“Mau dong disuapin, Renako-san?”

“Tenang dulu, Ajisai-san!”

Dan tolong deh, udahan sama ‘-san’-nya! Bikin merinding!

Ah, iya. Aku ini android yang diciptakan untuk membahagiakan Ajisai-san. Aku dikirim ke rumah keluarga Sena saat dia lahir dan sejak itu selalu mendampingi dan melindunginya saat tumbuh besar.

Ghh! Masa hal kayak gini aja aku nggak sanggup? Emang sih, ini bikin malu setengah mati, tapi nggak bakal bikin aku mati, kan? Aku bakal lakuin! Cuma ‘ahh’ doang! Bisa lah! Aku udah bertekad untuk berusaha sebisaku, jadi sekarang waktunya ngebuktiin lewat aksi nyata!

Sambil mengumpulkan semua keberanianku, aku melihat ke atas… dan menemukan Ajisai-san sedang menunduk, wajahnya tersembunyi. Oh tidak, jangan bilang…

“M-maaf ya, Rena-chan,” katanya. “Hari ini aku udah egois banget. Gak apa-apa kok, kita stop sampai sini aja.”

Jangan tiba-tiba jadi sedih dong, tolong! pikirku panik.

“A-ada apa?” tanyaku. “Hei, Ajisai-san! Kamu mau bilang ‘ahh’, kan? ‘Ahh’!”

“Enggak, nggak usah. Makin dipikir, kayaknya buka mulut kayak gitu tuh… nggak pantas ya…”

“Nggak kok,” kataku. “Kamu imut banget, Ajisai-san. Imut paling imut sedunia!”

“Mmm, nggak tahu deh…” Dia tampak setercekik orang yang kepalanya lagi dijepit lingkaran besi.

“Kamu pengen bilang ‘ahh’, kan? Iya kan?” aku desak. “Kita nggak bakal keluar dari restoran ini sebelum kamu bilang ‘ahh’! Kan kita pacaran, ya? Ya kan?”

Aku udah nggak punya pilihan selain maksa dia sekarang. Sambil maksa tersenyum, aku menyodorkan sesendok tiramisu ke arahnya.

“Nih, ayo. Ini pesawatnya datang. Bisa buka mulut, Ajisai-chan? Bisa bilang ‘ahh’?”

Ajisai-san maju sedikit dan menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. “Ahh…” katanya. Bibirnya terbuka, lalu menutup lembut di atas sendokku. Oh. Ya ampun. Entah kenapa, jantungku langsung deg-degan. Ini adegan yang bisa menggetarkan hati bahkan android pun. Maksudku, ini agak… agak… you know…

Lidah kecilnya menjilat ujung sendok. Dia tersenyum malu-malu. “Aku suka banget,” katanya.

“O-o-oke…”

Kayak… ini agak sensual, gak sih?!

Hei, aku gak sendirian mikir kayak gini, kan? Kalian yang di atas, ngerti maksudku, kan?!

Mai yang hidup di dalam pikiranku berkata, “Menurutku itu karena otakmu mesum.”

Satsuki-san tampak jijik. “Dasar tak tahu malu… Menjijikkan.”

Ajisai-san berkomentar tajam, “Astaga, Rena-chan, kamu itu mikirnya gak jauh-jauh dari itu terus. Frustrasi banget ya?”

Lalu Kaho-chan menutup parade itu dengan bisikan, “Kamu cabul banget, Rena-chin~”

Apa-apaan sih? Kok semua orang di kepalaku kompak ngebully aku?! Gak ada satu pun yang membelaku?! Padahal mereka itu bagian dari diriku juga—masa gak bisa sedikit baik sama aku?!

Ajisai-san—yang asli, bukan yang di dalam otakku—tertawa. “M-maaf ya, tadi aku bilang yang aneh-aneh. Yuk, makan kuenya.”

“B-b-baik, yuk!”

Fiuh. Barusan itu hampir jadi bencana besar. Tapi Ajisai-san keren banget karena bisa nyelametin suasana setelah jadi awkward gitu. Meskipun dia juga sih penyebab awalnya…

Ajisai-san mengangkat garpunya ke mulut. Aku nggak bisa berhenti memperhatikan bibirnya…

Eh, tidak! Nanti geng isi otak bakal ngetawain aku lagi!

Aku mencelupkan sendok ke tiramisu dan hampir mulai makan ketika… itu. Menyadarkanku.

“Oh nggak…” kataku.

“Hm?” sahut Ajisai-san.

“Oh, nggak apa-apa!”

Ini… sendok yang barusan ada di mulutnya Ajisai-san… Apa aku bisa makan makanan penutup pakai sendok yang udah bersentuhan sama mulut suci itu?! Oh jelas nggak bisa.

Aku langsung memanggil pelayan yang lewat, “Permisi! Bisa minta sendok baru?”

“Rena-chan?!”

※※※

Kaho-chan ketawa ngakak saat aku menceritakan semuanya padanya. “Kamu payah banget!” katanya.

“Ugh…” Aku menutup wajahku dengan kedua tangan.

Kami lagi latihan basket lagi sepulang sekolah. Sebenarnya dia pengin ngajak beberapa orang lain, tapi Hasegawa-san dan Hirano-san—anggota tim basket untuk kompetisi antar kelas—nggak bisa datang karena ada kegiatan klub. Atau setidaknya itu alasan mereka, tapi aku ngerasa mereka kabur karena nggak sanggup ada di tempat yang sama bareng dua anggota Quintet. Aku sih lega karena rekan timku semuanya cewek yang aku kenal, tapi aku khawatir kami nggak bakal bisa latihan bareng sampai hari pertandingan tiba.

Karena aku dan Kaho-chan sama-sama nggak jago basket, kami cuma latihan dribble, oper, dan tembakan asal-asalan. Aku juga nggak ngerasa banyak berkembang…

Kaho-chan akhirnya berhenti ketawa sambil ngelap air matanya. “Ya ampun, kamu tuh bener-bener parah,” katanya. “Rena-chin, kamu nggak takut diputusin?”

“Hah?!” Mataku langsung melotot. Ajisai-san mutusin aku? “Aku nggak mau itu kejadian…”

“Kalau itu terjadi, aku bakal nyemangatin kamu deh,” kata Kaho-chan. “Aduh, kamu tuh hopeless banget!”

Dia menepuk punggungku. Ugh. Seketika aku langsung down. “Cinta itu susah banget…” gumamku.

“Bener juga sih.”

Saat aku merunduk, tiba-tiba aku sadar sesuatu. Aku melangkah mundur ketakutan. “U-uh… Maaf, Kaho-chan. Barusan itu humblebrag lagi ya?”

Kalau sampai Kaho-chan juga ninggalin aku, aku bakal kehilangan semua harapan. Aku ngintip ke arahnya sambil ngasih tatapan memelas paling imut yang kupunya.

“Enggak, kok.” Dia menggeleng santai. “Aku nggak ngerasa gitu. Kamu cuma… aneh aja. Tapi kamu kelihatan berusaha.”

“Oh, Kaho-chan…” Astaga, kehadirannya bikin hati adem. “Kita harus tinggal bareng… Kamu rawat aku tiap malam… Jadilah boneka beruang pelukanku, Kaho-chan, dan dengerin semua keluh kesahku…”

“Kamu lagi coba nembak aku ya?” tanyanya.

“Eh, enggak dong!”

Batasanku dua pacar aja, jadi kuotaku udah penuh. Lagipula, meskipun masih ada ruang, bukan berarti aku bisa mulai godain Kaho-chan juga! T-tapi jujur aja, aku merasa kayaknya aku bisa aja pacaran santai sama Kaho-chan… Gaya hubungan yang awalnya cuma temenan terus naik level gitu… Kayak, kita awalnya temen, terus aku cuek banget soal penampilan… dan sekarang kita tinggal bareng. Tapi aku nggak bisa dapet kerja, jadi aku hidup dari main pachinko, dan itu bikin Kaho-chan susah. Aku jadi numpang hidup dan terus-menerus nyusahin dia… Eh, tunggu. Ini udah kayak skenario pacar cowok toksik yang emosinya nggak stabil dan cewek yang nggak pernah ninggalin dia walau diperlakukan kayak sampah dalam seri ASMR ‘tolong, jangan tinggalin aku’! Kayaknya aku nggak akan pernah lepas dari hipnosis Kaho-chan… Lama-lama aku bisa-bisa manggil Kaho-chan ‘ibu anjingku’ atau apalah. Eh, apa aku udah pernah nyebut gitu ya? Nggak mungkin… kan?

Saat aku berdiri gemetaran, Kaho-chan menepuk bahuku dengan ekspresi kayak tahu banget isi pikiranku. “Oke deh,” katanya. “Aku bakal bikin track ASMR baru dan kirim ke kamu.”

“J-jangan, nggak perlu! Maksudku, kalau dikirimin ya mungkin aku bakal dengerin sih, tapi tetap aja!”

“Ada request?”

“Hmm, mungkin yang bisa ningkatin rasa percaya diri… kayak, banyak pacarku yang rebutan satu sama lain…”

Eh, nggak. Aku tuh nggak suka yang begituan! Nggak, nggak, nggak! Maksudku cuma pengin ngebiasain diri sama situasi sekarang secepatnya, makanya nyari yang serupa aja. Tapi bukan karena aku punya hasrat aneh-aneh, sumpah! Kalian ngerti kan?!

Baru aja aku protes dalam hati, dua cowok muncul di pinggir lapangan basket. Kupikir nggak ada orang lain di taman ini, tapi kelihatannya mereka juga mau main basket.

“Oh, itu dia mereka,” kata Kaho-chan.

“Hah?”

Dia melambaikan tangan ke mereka. Eh, apa?!

“Soalnya kita nggak bakal jago kalau cuma latihan berdua terus,” katanya. “Makanya aku ajak mereka biar bisa ngajarin kita.”

“U-uh, aku nggak yakin soal itu…”

Darahku langsung surut dari wajah.

Dua cowok itu anak kelas A.

“Yo, apa kabar, Koyanagi?” kata salah satunya.

“Haii!” jawab Kaho-chan ceria.

Eh, aku tahu nama salah satu dari mereka! Itu Shimizu-kun. (Aku nggak tahu nama depannya.) Dan yang tinggi di belakangnya itu, hmm, kayaknya Yamaguchi-kun dari kelasku.

Aku narik lengan Kaho-chan. “K-Kaho-chan!”

“Hah, apa?” Dia menoleh ke arahku, bingung.

Gah! Bener. Kaho-chan nggak tahu kalau aku nggak jago berinteraksi sama cowok, soalnya dulu pas SD aku ngaku disukai semua orang—baik cowok maupun cewek. Ini nih contoh nyata kena batunya sendiri.

“Mereka berdua anak klub basket,” katanya, “jadi biar mereka ngajarin kita! Biar kita naik level bareng!”

Memang, itu cara paling cepat buat jadi lebih jago. Tapi juga berisiko besar: mereka bakal tahu kenyataan kalau aku nggak jago sama sekali meskipun pernah ikut klub basket. Aku harus berusaha agar statusku di Quintet nggak runtuh, sekaligus benar-benar memperbaiki skill basketku. Oh, dan juga jangan sampai Kaho-chan tahu aku nggak bisa ngobrol sama cowok! Ya ampun, ini susah banget. Aku putuskan untuk pasrah dan sementara ini, pakai semua skill komunikasi yang kumiliki.

“T-te…terima kasih udah mau bantu hari ini, ya,” kataku. Aku memaksa senyum dan mencondongkan badan sedikit, gaya cewek ceria banget. Harusnya kelihatan ramah dan ekstrovert… kan? Aku kan ekstrovert. Pasti.

Shimizu-kun muter bola basket di ujung jarinya (keren banget!) dan bilang, “Oke, mau mulai dari mana? Ada yang pengin kalian fokusin?”

“Nembak!” seru Kaho-chan sambil angkat tangan. “Aku pengin belajar nembak!”

“Ya, kamu nggak bisa menang kalau nggak cetak poin, ya kan?” katanya. “Keren. Yuk cobain.”

“Woo-hoo!” Kaho-chan lompat kegirangan. Dia ekspresif banget, jadi gampang komunikasi meskipun cowok dan cewek cara ngobrolnya beda.

Yamaguchi-kun ngomong ke aku, “Kayaknya kita belum pernah ngobrol ya, Amaori-san.”

“B-benarnya iya, sih,” jawabku.

Cowok ini gede banget dan ototnya ngeri, tapi wajahnya sih kelihatan ramah. Tapi ya tetap aja, ukurannya cukup bikin aku tegang. Benda-benda besar tuh… agak serem.

“Aku denger kamu pernah di klub basket,” katanya.

“Uh, iya, tapi aku jelek banget mainnya…”

Dia ketawa. “Makanya kamu latihan ya? Keren.”

“Oh, enggak juga…”

Apa yang harus aku lakukan? Aku nyaris nggak bisa napas! Aku sukses akting jadi ekstrovert nggak sih?!

“Gimana kalau kita latihan nembak?” katanya. “Pakai ring yang itu aja.”

“S-siap!”

Padahal aku udah pernah ngobrol sama Shimizu-kun. (Beberapa kali. Totalnya.) Tapi aku nggak tahu apa aja yang tabu buat dibicarain sama cowok, jadi akhirnya aku cuma bisa ngomong hal-hal yang aman dan hambar banget.

Saat aku gemetaran mikirin itu, Shimizu-kun datang. “Maaf, Yama, bantuin Koyanagi aja ya? Aku urus Amaori-san. Kalian kayak nggak kenal aja.”

Oh, Shimizu-kun!

“Okay,” kataku.

“Nah, padahal kita satu kelas, lho. Tapi senang bisa ngobrol, Amaori-san.”

Setelah tukeran tempat, Yamaguchi-kun dan Shimizu-kun pisah. Syukurlah!

“Yuk, kita mulai,” kata Shimizu-kun.

“O-oh, iya.”

Aku ngikutin dia kayak anak bebek sampai kami berdiri di bawah ring.

“Latihan layup dulu, ya. Oh iya, kamu mau latihan tembak pakai satu tangan atau dua tangan? Kalau mau ke titik tinggi, satu tangan lebih bagus, tapi dua tangan bisa lebih jauh. Sekarang banyak cewek juga mulai nembak satu tangan kayak cowok.”

“Umm,” kataku. “Kayaknya kita cobain satu tangan aja… Kayaknya lebih keren gitu.”

“Keren,” katanya. “Lebih gampang juga buat aku tunjukin.” Shimizu-kun senyum. Senyum polosnya punya campuran maskulinitas dan imut yang pas.

Setelah itu, dia ngajarin teknik dasarku. Masih gugup sih, tapi karena dia ngajar, jadi lebih gampang ngerti posisi kami. Aku jadi bisa pakai sikap yang biasa kupakai ke guru. Dan! Saat latihan, aku mulai berhenti meleset total dan mulai nyaris masuk.

“W-wow,” kataku. “Ini lumayan seru juga!”

“Senang dengarnya.” Shimizu-kun berdiri di bawah ring dan nangkep bola sebelum ngoper balik.

Aku lempar dari tempatku berdiri dan… masuk. M-masuk!

“Masuk!” aku berseru.

“Yup. Masuk akal kok, kalau kamu pernah di klub basket.”

“Aku cuma pernah ikut latihan dua kali,” kataku. “Tapi jangan bilang siapa-siapa ya?!”

“Siap.”

Saat mulai ngerti tekniknya, ini jadi jauh lebih seru. Kalau terus kayak gini, mungkin aku bisa jadi jago banget pas pertandingan.

“Eh, kayaknya aku lumayan hebat juga nih!” kataku.

“Betul banget,” sahut Shimizu-kun. “Kamu tuh jenius sejuta umat.”

Aku cekikikan.

Dia terus ngoreksi posisiku kalau salah, dan tiap kali aku coba perbaiki di tembakan berikutnya.

“Oh iya, ngomong-ngomong,” kata Shimizu-kun, “aku dengar soal masalah kalian.”

“Hah? Masalah apa?”

“Soal Kelas B.”

“Ohhh. Bukan berantem sih, lebih ke arah mereka yang nyerang kita.”

“Ya, tetap aja sih, ribet banget pastinya.” Dia ambil bola dan tembak ke ring. Bolanya meluncur tinggi dan masuk dengan mulus. “Dan cowok tuh nggak bisa terlalu ikut campur urusan antar cewek, ngerti kan? Jadi maaf ya, paling banter cuma bisa nonton.”

“O-oh, iya, aku ngerti… Tapi makasih juga ya.”

“Makanya aku pikir bantuin dari samping gini bisa bikin hati lebih tenang. Senang Koyanagi ngajak kami.”

Dia ngoper bola. Kayaknya dia nahan tenaganya biar aku nggak kesakitan. Wah, Shimizu-kun baik banget sih…

“Shimizu-kun, kamu punya pacar kan?” tanyaku.

“Hah? Oh, iya.” Dia sempat kaget sebentar sebelum balik ke ekspresi normal. “Kami udah pacaran dari SMP, jadi udah dua tahun kurang lebih.”

“Ohhh. Pantesan kamu populer.”

“Nggak juga, aku nggak ngerasa gitu.”

Aku dribble bola dua kali. “Soalnya aku nggak jago ngobrol sama cowok,” aku jelaskan. “Tapi kamu perhatian banget, jadi bantu banget buatku.”

“Nggak lah, kamu oke kok,” katanya. “Sena sama Koyanagi itu pengecualian, bukan standar.”

“Kalau Oozuka-san?”

“Dia di luar jangkauanku banget.”

Lihat ekspresinya jadi suram bikin aku ketawa kecil. “Hei, Shimizu-kun, pacarmu suka marah nggak sih?”

“Bro, dia literally marah terus. Aku sering lupa ngehubungin dia dan segala macam.”

“Hahaha! Paham banget!”

Aku jadi merasa lebih tenang. Ternyata bahkan cowok sebijaksana Shimizu-kun pun bisa bikin kesalahan. Jadi ya, wajar kalau aku juga begitu.

“Kalau kamu sendiri gimana, Amaori?” tanyanya.

“Gimana apanya?”

“Kamu lagi dekat sama siapa sekarang?”

“U-um, yah…”

Aku langsung mengalihkan pandangan. Bilang iya itu malu-maluin, tapi bilang tidak juga bohong. “Kinda. Um, iya.”

“Kerenn,” katanya. “Aku sih udah agak nebak.”

Shimizu-kun untungnya nggak nyerocos nanya lebih lanjut. Terima kasih, Tuhan.

“Kamu kayaknya tipe yang populer gitu,” tambahnya.

“A-aku sih ngerasa nggak begitu!”

Tadinya aku mau bilang kalau itu karena aku kandidat cewek paling eligible di Quintet, tapi terus aku sadar kayaknya itu bukan sesuatu yang cocok dikasih tahu ke cowok. Tapi serius deh, aku beneran tipe jenius yang cuma muncul sekali tiap seratus tahun.

Kami terus ngobrol sambil latihan tembakan sampai aku tiba-tiba berteriak, “Ah!”

“Ada apa?” tanya Shimizu-kun.

“Jam berapa sekarang?! Waduh!”

Aku langsung lari ke tas dan mengais-ngais cari ponsel. Ya ampun, udah telat banget.

Selain Shimizu-kun, Yamaguchi-kun dan Kaho-chan juga ikut mendekat. “Kenapa, Rena-chin?” tanya Kaho-chan.

“Aku ada janji abis ini!”

“Ooh. Lihat siapa yang populer,” katanya sambil melotot. Jangan gitu dong di depan orang lain!

Tepat saat itu, ponselku berdering, dan yang muncul di layar adalah Mai. Aku langsung angkat. “H-halo!”

“Halo, Renako,” kata Mai. “Maaf, kamu ada waktu sebentar buat bahas rencana kita?”

“S-siap.”

“Jadwal kerjaku hari ini agak padat, jadi aku mungkin telat. Akan lebih baik kalau kamu langsung ke apartemenku saja, jangan tunggu aku.”

“Oh… Oke.”

Sebenarnya sih aku memang udah kelewat waktu, tapi kalau Mai telat, kayaknya aku bakal datang pas waktu juga. Hari keberuntunganku, nih.

“Kamu sekarang di mana?” tanya Mai.

“Uh, aku lagi latihan basket di taman deket rumah.”

“Oh? Kalau gitu, biar aku kirim seseorang buat jemput.”

“Oh, oke. Boleh.”

Setelah aku menutup telepon, aku kirim alamat ke Mai. Beres deh. Atau enggak, sih. Aku belum bilang ke para cowok ini soal jam selesai, padahal mereka udah nyempetin waktu buat bantu kami.

Aku langsung membalikkan badan dan membungkuk dalam.

“Maaf banget, Shimizu-kun dan Yamaguchi-kun! Kalian udah baik banget ngajarin aku, tapi aku ada janji yang harus aku datangi.”

“Gak apa-apa kok,” kata Shimizu-kun. “Aku juga sebenarnya baru aja kepikiran mau pulang. Kamu juga kan, Yama?”

“Iya, udah mulai gelap juga,” kata Yamaguchi-kun. “Gimana, Amaori-san? Kamu ngerasa udah agak mendingan?”

“Y-ya, kayaknya sih. Makasih ya, kalian!”

Aku tersenyum canggung dan membungkuk sekali lagi.

Saat kami masih saling pamit, Kaho-chan meregangkan tubuhnya sejauh-jauhnya. “Mmm!” katanya. “Wah, keringetan banget hari ini. Nggak sabar mandi!”

Aku tertawa. “Iya banget, Kaho-chan.”

Tapi terus aku kepikiran. Kan ada orang yang mau jemput aku…yang artinya…

“Enggak sempat mandi!” teriakku.

Mobil jemputanku datang tak lama setelah itu. Sebuah limusin besar berhenti di pinggir taman, dan baik Shimizu-kun maupun Yamaguchi-kun yang masih nongkrong di sana sama-sama mengeluarkan suara “ooooh” kagum.

“Maaf—bye—maaf—sampai jumpa!” kataku.

Terakhir, Kaho-chan melambaikan tangan besar-besaran. “’Kay ’kay, semangat ya!” teriaknya.

Aku nggak tahu dia maksudnya menyemangatiku soal apa, tapi ya…mood juga sih.

Akhirnya, aku pun melaju menuju kastil sang putri dengan pakaian olahraga dan bola basket di tangan. Yah, coba pikir deh—apa gunanya kendaraan glamor kalau penumpangnya keliatan amburadul begini?

Aku menghela napas. Seenggaknya, andai saja aku bawa baju ganti…

Di dalam limusin, aku mengendus kausku. Bluh. Bau keringat! Begitu aku mutusin buat nyoba serius di satu hal, aku malah kepleset di segalanya yang lain.

Hari ini aku janjian makan malam bareng Mai. Karena sebelumnya aku udah pergi ke kafe bareng Ajisai-san, kali ini giliran Mai. Jadi aku tanya, ada nggak yang pengin dia lakukan. Kayaknya dia lumayan nunggu-nunggu juga. Tapi kalau aku nggak serius, bisa-bisa keliatan kayak aku nggak nganggep dia penting. Yah, Mai sih baik, jadi mungkin dia nggak bakal mikir gitu…tapi aku sendiri pasti bakal kasih nilai nol dan nyalahin diri sendiri. Nol besar di lembar penilaian proyek! Kontrak tidak diperpanjang! Ugh, aku emang nggak cocok jadi manusia sosial…

“Ada masalah?” tanya suara perempuan dari kursi sopir.

“Oh, um. Enggak,” kataku. Pasti aku keliatan kayak bangkai. Ugh, bencana banget aku ini… Aku meringkuk. “Aku tadi habis olahraga, jadi bau, terus…ya, keliatan kayak gini, dan…”

“Saya lihat begitu,” kata sopirnya. “Dugaan Anda benar untuk keduanya.”

Kepalaku langsung terangkat refleks. Wanita di kursi pengemudi itu adalah—

“Aaagh!” teriakku. “Hanatori-san!”

Dia nggak bilang apa-apa. Aku langsung mundur ke pojokan limusin, gemetaran. Aku berdua doang bareng Hanatori-san di tempat tertutup! Dan yang lebih parah, aku udah bilang soal Waktu Pegang dan Waktu Dipegang pas dia ada di situ! Ya Tuhan. Dia pasti bakal bunuh aku.

“Kamu mau bawa aku ke mana?!” teriakku.

“Ke tempat tinggal majikanku,” katanya.

“Bohong! Aku bakal dibuang ke bangunan terbengkalai di gunung terus dikejar pembunuh ber-jas badut!”

“Kalau itu yang kamu inginkan.”

“Tidakkk!”

Aku meneteskan air mata ketakutan. “Hidupku baru mulai membaik, tapi aku nggak mau mati sekarang. Jangan sekarang…jangan sebelum semua game keren dua bulan ke depan rilis…”

Ah, baru sekarang aku sadar betapa aku pengin hidup. Nilai-nilaiku mulai naik pelan-pelan, dan teman-temanku juga nggak jahat. Beri aku waktu lebih lama…delapan puluh tahun pun nggak masalah… Pada saat itu, PS20 pasti udah keluar dan kita bisa main VR full-dive, jadi orang cupu kayak aku pun bisa jadi pahlawan penyelamat desa.

“Kita sudah sampai,” kata Hanatori-san.

Aku menjerit kecil, dan mobil berhenti. Pelan-pelan, aku melongok ke luar jendela dan melihat garasi yang familiar. O-oh…

“Ini apartemen Mai…” kataku.

“Seperti yang sudah saya katakan tadi.”

Aku menatap Hanatori-san dengan mata berbinar. “Hanatori-san, apakah ini berarti…aku dapat restumu…?!”

Dia menatapku dingin. “Kamu kira saya ini siapa? Manajer game bertahan hidup?”

Dia keluar dari mobil, membuka pintu, dan mengarahkanku masuk dengan, “Silakan lewat sini.”

“B-baik,” kataku.

Aku ciut waktu dia memindai penampilanku dari ujung kepala sampai kaki, ekspresinya yang cuek makin kelihatan muram.

“Tidak pantas rasanya membiarkanmu menemui majikaku dalam kondisi seperti ini. Aku akan mencarikan pakaian ganti. Silakan masuk.”

“Hanatori-san!” seruku. Aku tahu! Dia sebenarnya perhatian!

“Aku akan berusaha sebaik mungkin agar majikaku tidak suatu hari nanti menyesal telah berhubungan denganmu. Jadi, tolong bersikaplah sebaik mungkin.”

“B-baik…”

Dia ada di pihakku…atau enggak? Gimana cara ngelompokin itu ya? Yah, dia di pihak Mai, berarti dia juga di pihakku…kan? Hmm. Aku nggak yakin deh.

Aku naik lift yang dia tunjukkan. Keheningan terasa lebih berat di ruang sempit itu. Mungkin karena gravitasi?

“Um, Hanatori-san,” panggilku.

Dia tidak bergerak sedikit pun dari depan panel tombol.

Apa dia bakal diam selamanya?

“Ya?” jawabnya akhirnya.

“Oh, um. Yah. Kamu beneran sayang banget sama Mai, ya?” Aku tertawa kaku. Kayaknya ini bakal bikin dia marah. Mungkin dia bakal nonjok perutku dan teriak, “Diam, tolol!”

Tapi dia hanya mengangguk. “Benar.”

Umm… Itu artinya aku boleh lanjut ngobrol, kan? Maksudku, aku nggak keberatan sih diem sampe akhir zaman… Tapi kayak, tahu nggak. Aku butuh perjuangan besar buat bisa pacaran sama Mai, jadi kalau orang yang dekat banget sama dia, kayak Hanatori-san, punya salah paham soal aku… Yah, rasanya nggak enak. Dan bisa bikin Mai sedih juga. Kalau bisa akrab (dan meski nggak bisa pun), aku pengin cukup akur buat ngobrol biasa. Kalau dia salah paham tentang aku, aku pengin lurusin. Aku pengin dia tahu aku serius sama Mai.

Ngomongin apa ya, enaknya? Mungkin soal dia nge-ship Mai × Satsu banget, kayak yang aku dengar di penginapan?

“B-boleh aku tanya, kamu suka Satsuki-san juga?” tanyaku.

“Suka.” Hanatori-san mengangguk mantap.

Berarti…

“Kamu maksudnya…akan luar biasa kalau Mai dan Satsuki-san pacaran, ya…?”

“Betul. Aku belum menyerah.”

“G-gotcha… Eh, tunggu, apa?!”

“Kita sudah sampai.”

Pintu lift terbuka. Aku menatap Hanatori-san, masih bengong. “M-maksudmu apa?”

“Sudah jelas. Majikaku adalah gadis yang bijak. Aku yakin pada akhirnya dia akan sadar bahwa memilihmu adalah kesalahan.”

“A-aku sih nggak yakin, tapi…”

Dia menatapku tajam. Yah, sebenernya enggak. Tatapannya datar aja, tapi aku tetap merinding. Mungkin dia punya mata jahat.

“Dia pasti sadar nanti,” kata Hanatori-san yakin. Dia membuka pintu dan langsung melangkah ke ruang tamu. Aku pun mengikuti di belakang.

Dia mengangguk seyakinnya sampai aku jadi gelisah. Menunduk sambil berjalan, aku bergumam, “A-aku rasa kamu sebenernya nggak tahu apa-apa soal aku…”

“Ya, secara umum tidak.”

“T-tapi walau begitu…”

Kok bisa dia ngomong setegas itu? Aku pengin nanya, tapi Hanatori-san sudah menghilang entah ke mana. Padahal kita lagi ngobrol!

Akhirnya dia muncul lagi sambil membawa sebuah kotak. Apa itu baju gantiku? Tapi kok nggak masuk akal…

“Kesempatan yang sempurna, wahai makhluk beracun,” katanya. “Izinkan aku memberimu dosis realitas.”

“Tunggu, apa?” kataku.

“Aku akan menceritakan sejarah antara aku dan majikaku… Kenangan rahasia kami… Agar kau bisa memahami betapa cintaku padanya jauh lebih dalam karena telah tumbuh selama bertahun-tahun.”

Hanatori-san membuka kotaknya dengan tatapan melamun penuh nostalgia. Di dalamnya ada banyak album foto, Blu-ray, dan barang-barang sejenisnya. W-wow…

Apa Hanatori-san, dari semua orang, beneran mau adu pamer sama aku kayak anak kecil?!

※※※

Hanatori Hitoe lahir di pedesaan terpencil di Prefektur Saga.

Dia tumbuh di sebuah desa terpencil yang hanya memiliki tiga anak lain seangkatannya. Baginya, bermain hanyalah berlari-lari di ladang dan perbukitan sekitar. Hiburan, menurut Hitoe, adalah sesuatu yang hanya bisa ditemukan di TV dan internet—dunia yang glamor, karier yang berkilau. Saat menghabiskan masa kecilnya hanya dengan tank top dan celana pendek sepanjang tahun, keinginannya untuk menjalani kehidupan kota makin hari makin membara.

Saat masuk kuliah, ia mendapatkan kesempatan untuk belajar di kota besar dan langsung terjun mengejar mimpinya di dunia hiburan. Ia mulai bekerja paruh waktu sebagai asisten di sebuah agensi model kecil.

Hitoe membungkuk memperkenalkan diri pada anak perempuan berusia sembilan tahun yang menjadi tanggung jawabnya. “Senang bertemu denganmu,” kata Hitoe. “Namaku Hanatori.”

Dia belum terbiasa dengan sepatu hak tinggi. Atau setelan jas. Atau istilah-istilah khas kota besar. Berbekal kumpulan trik dan pengetahuan seadanya, ia memberanikan diri menghadapi dunia baru ini dengan rasa takut, dan saat itulah dia bertemu dengan seorang putri berambut pirang.

“Halo,” sapa sang putri. “Namaku Oozuka Mai, senang bertemu denganmu juga.”

Hitoe hampir menjerit. Gadis ini adalah wujud nyata dari segala yang Hitoe kagumi—rambut panjang dan halus, mata biru seperti permata, kulit seputih salju. Tak seperti umat manusia lainnya dan nenek moyang primatanya, gadis ini seolah tercipta dari air mata seorang dewi. Hitoe merasa seperti disambar petir saat melihatnya.

Pada saat itu juga, jiwa pelayan dalam dirinya pun terbangun. Surga telah menciptakan seseorang yang berada di atas manusia lainnya, dan orang itu kini berdiri tepat di hadapan Hitoe. Ia tahu gadis ini kelak akan memikat banyak orang, dan sudah sepantasnya ada seseorang yang melayani dan melindunginya. Sudah jelas bahwa nilai gadis ini jauh melampaui manusia biasa.

Mungkin, pada titik itu, bisa dibilang Hitoe jatuh cinta pada pandangan pertama.

Hitoe dan gadis itu saling menatap selama beberapa detik, lalu si gadis tersenyum kecil pada Hitoe yang masih kaku karena gugup.

“Hanatori-san, maukah kau tetap di sisiku?” tanyanya.

Saat itu, Queen Rose sedang mengalami kesulitan finansial yang parah, dengan tingkat pergantian staf yang tinggi. Hal inilah yang menyebabkan seorang mahasiswi seperti Hitoe bisa bertanggung jawab atas Mai, meskipun hanya sebagai semacam manajer pengganti.

Ucapan dari Putri Mai ini membuat Hitoe langsung berlutut di lantai, menatap mata Mai, dan menyatakan, “Ya. Aku akan melayanimu seumur hidupku.”

Tentu saja, Mai yang masih berusia sembilan tahun tidak sepenuhnya mengerti makna kalimat itu, tapi ia menatap Hitoe dan tersenyum penuh kegembiraan.

Dia merespons, pikir Hitoe. Hatinya dipenuhi kehangatan dengan prospek peran barunya. Tak ada yang lebih mulia dari ini.

Sejak saat itu, ia bekerja dengan penuh semangat. Karena dedikasinya, ia kemudian diangkat sebagai manajer eksklusif Mai setelah lulus kuliah. Kini tanggung jawabnya tak hanya sebatas profesional, tapi juga mencakup urusan pribadi Mai. Inilah, pikirnya, yang membuat hidupnya memiliki arti.

※※※

“Dan dengan demikian,” Hanatori mengakhiri, “aku yakin inilah misi hidupku.”

“A-ahh, begitu ya,” kataku.

Aku sedang menonton Blu-ray yang menampilkan Mai saat masih SD sambil Hanatori-san bercerita. Ini bukan sekadar soal rasa sayang yang besar pada Mai. Minatnya—bahkan seluruh hidupnya—berpusat pada Mai. Dia merawat Mai seperti adik atau bahkan anak sendiri. Sekarang aku mengerti kenapa orang seperti aku, yang tidak penting sama sekali, bisa membuat Hanatori-san merasa tidak terima karena berhasil merebut hati Mai. Tunggu, sekarang aku malah mulai kagum padanya?!

Aku nggak bisa menahan diri dan langsung nyeletuk, “Tapi kamu tuh kayak…udah nggak hidup untuk dirimu sendiri lagi!”

Hanatori-san menoleh padaku, tampak terkejut.

“Ah, maaf,” gumamku. “Itu terlalu lancang buat anak kelas satu SMA ngomong gitu.”

“Tidak, tapi kau benar juga,” katanya.

Dia setuju…semacam?

Di seberang Hanatori-san yang sedang memegang dadanya, layar menampilkan Mai kecil memakai gaun cantik, difoto berkali-kali oleh para fotografer. Skalanya jauh berbeda dibanding sesi pemotretan yang kulakukan bareng Kaho-chan, tapi itu sih sudah jelas. Studionya sangat besar dan dipenuhi peralatan fotografi serta kru. Dalam video yang sepertinya direkam Hanatori-san sendiri dengan kamera portabel sebagai bagian dari pekerjaannya, sesekali terdengar bisikan emosional seperti, “Oh, nona… Betapa cantiknya…” atau “Oh, nona, kau benar-benar seperti putri yang turun dari surga ke keluarga Oozuka…” Apa Hanatori ini otaku Mai?!

Saat aku masih terpana oleh perbedaan mencolok antara penampilan Hanatori-san dan perilakunya, dia berkata, “Andai saja majikaku dan Koto-sama bisa hidup bersama dalam bulan madu selamanya. Tapi kurasa itu hanyalah keinginanku yang egois.”

Yah, kata “kurasa” itu sih nggak perlu—buatku, keinginannya itu 500 persen egois. Tapi aku takut buat ngomong gitu langsung, jadi aku cuma tersenyum dan mikir keras gimana caranya mencairkan suasana.

“Uh, maaf, ya,” kataku. “Karena dia malah jatuh hati ke orang kayak aku…”

“Memang seharusnya begitu, wahai makhluk beracun.”

“Ah. Masih manggil aku gitu juga, ya…”

“Aku harus mengakui bahwa kaulah yang telah dipilih oleh majikaku,” kata Hanatori-san. “Jadi, meskipun kamu makhluk beracun yang menggoda majikaku dengan tipu daya…itu tetap tidak mengubah kenyataan bahwa aku tidak bisa berbuat apa-apa soal ini. Jika aku benar-benar melenyapkanmu, itu hanya akan membuatnya sedih.”

Hanatori-san menunduk. Melihat orang dewasa terlihat sedih seperti itu bikin aku merasa nggak enak banget. Dan juga… tunggu, jadi dia memang pernah berencana menyingkirkanku…?

“Hanatori-san, kamu bener-bener sayang banget sama Mai, ya…?” gumamku ketakutan.

Hanatori-san mengangguk pelan. “Memang begitu.”

Aku nggak tahu banyak soal kondisi keluarga Mai, tapi rasanya menyenangkan mengetahui ada orang dewasa yang peduli sama dia sedalam ini. Jadi…

Tepat saat itu, gambar di layar berubah total. Masih video Mai, tapi dia tampak sedikit lebih besar. Mungkin dia udah masuk tahun-tahun akhir SD. Wajahnya bahkan nggak terlalu berbeda dibanding aku sekarang… Posturnya juga sudah hampir setinggi aku, dan wajahnya kelihatan dewasa.

Gadis berambut hitam di sampingnya sepertinya juga model terkenal, kupikir. Entah kenapa, aura atau gayanya punya kekuatan luar biasa yang menarik perhatian.

Hanatori-san menghela napas penuh kekaguman, seperti wanita yang sedang berdiri di depan lukisan Rubens terkenal. “Oh, Koto-sama… betapa cantiknya…”

“Eh, apa?!” seruku. “Itu Satsuki-san?!”

Ternyata benar. Itu memang Mai dan Satsuki-san. Mereka berbisik dan tertawa bareng di sela-sela jepretan kamera. Satsuki-san masih kecil dan belum punya sorot mata tajam kayak sekarang, yang setajam pedang legendaris. Aku belum pernah lihat dia tersenyum sebebas itu sebelumnya… Pokoknya, mereka berdua imut banget.

“Ya ampun, dia imut banget,” kataku. “Astaga. Manis banget.”

“Iya, kan? Betul, iya, kan?”

Aku nggak tahu kenapa Hanatori-san menyeringai seperti itu, tapi Satsuki-san memang secantik itu sampai aku nggak bisa menolak buat setuju. Versi Satsuki-san yang ini beda banget sama yang kukenal. Mereka kelihatan sangat akrab, dua gadis kecil yang tertawa bersama tanpa tahu betapa bobroknya dunia ini… Adegan ini rasanya seperti pusaka suci yang tak boleh disentuh oleh orang dewasa. Rasanya tinggal tunggu aja teks “pada suatu hari…” muncul di layar.

“Ini adalah masa di mana Koto-sama membantu majikaku dengan pekerjaannya,” kata Hanatori-san. “Ia hadir untuk mendukungnya saat majikaku sedang patah semangat.”


 

“Oh!” seruku. “Itu hal yang mereka ceritakan ke aku waktu kompetisi FPS dulu.”

“Benar sekali. Tentunya, teman biasa tidak akan diizinkan hadir dalam sesi pemotretan, tetapi mereka mengizinkannya karena dia adalah Koto-sama. Seperti yang bisa kau lihat, mereka langsung mencoba merekrutnya.”

“Ya, itu memang gaya Satsuki-san…” Aku teringat bagaimana anggunnya dia saat acara cosplay waktu itu. Tentu saja dia memang tipe orang yang sudah melakukan hal-hal seperti ini sejak awal.

Hanatori-san menatap ke kejauhan dengan wajah penuh hormat, seperti seorang penganut agama yang menyaksikan kelahiran dewa mereka, dan bergumam, “Aku rasa aku takkan pernah melupakan momen itu seumur hidupku.”

“Begitu ya…” kataku. “Pasti menyenangkan kalau mereka sempat menikah, ya?”

“Memang akan sangat indah… Ah, tapi aku belum menyerah.”

Pasti ini momen yang membuat otak Hanatori-san rusak dan menjadikannya shipper garis keras Mai × Satsu. Tapi ya, aku bisa mengerti. Kalau aku sudah kenal Mai-san, Satsuki-san, atau Ajisai-san sejak kecil, aku juga pasti langsung jatuh cinta pada mereka. Kalau Kaho-chan? Yah, Kaho-chan… dia tuh temen, jadi…

“Aku berdoa agar ketika aku dipanggil ke surga,” kata Hanatori-san, “majikaku dan Koto-sama akan tumbuh sayap dan menuntunku ke sana dengan tangan mereka.”

“Itu agak…liar juga ya…”

Saat kulihat lebih seksama, ternyata ada model anak lain juga di sana selain Mai × Satsu. Tapi perbedaannya mencolok banget—mereka hampir tidak kelihatan. Kayak aku dibandingkan dengan anggota Quintet lainnya. Wah, itu pasti berat juga.

“Sudah, cukup sampai di sini,” kata Hanatori-san. Dia mengeluarkan Blu-ray itu dan menaruhnya kembali ke dalam kotaknya dengan sangat hati-hati. Sepertinya itu harta karunnya. “Aku berasumsi bahwa kamar mandi sudah siap, makhluk beracun-san.”

“Oh, oke,” jawabku.

Mood-ku langsung turun setiap kali dia manggil aku makhluk beracun-san. Kayak, yup, itu aku. Makhluk beracun yang mengganggu hubungan Mai dan Satsuki-san. Maaf udah lahir ke dunia ini.

Pokoknya, bakal bahaya kalau Mai pulang saat aku masih pakai kamar mandinya, jadi aku putuskan untuk cepat-cepat mandi saja.

“Aku mandi dulu, ya,” kataku. “Maaf merepotkan.”

Hanatori-san membawa satu set pakaian ganti lengkap, yang sepertinya dia siapkan saat aku nggak memperhatikan. Aku mencoba mengambilnya darinya, tapi dia malah berjalan melewatiku begitu saja. Ya sudah, biarkan saja dia menunjukkan jalan ke kamar mandi.

“Ini dia,” katanya.

“Oh,” gumamku saat membuka pintu. “Wah, ini ternyata…biasa aja, ya?”

Ada toilet dan wastafel, lalu ruang mandi yang dipisahkan dengan pintu kaca tebal. Rasanya mirip kamar mandi hotel yang kutinggali bareng Mai sebelumnya. Mengingat betapa uniknya apartemen Mai, aku kira dia punya bathtub raksasa kayak yang di love hotel waktu itu.

“Baik, permisi…” kataku.

Tapi Hanatori-san masih belum memberikan pakaian ganti. Um?

“Demi majikaku,” katanya, “aku tidak bisa membiarkanmu sendirian tanpa pengawasan.”

“Uh, maksudnya gimana itu?”

Dan tepat di depan mataku, Hanatori-san mulai membuka setelannya. Hah?!

“Kau ngapain?!” aku berteriak.

“Dengan demikian,” katanya sambil melepas dasi dan bersikap seolah ini hal yang sangat wajar, “aku akan mandi dan membersihkanmu agar kau tidak mempermalukan dirimu sendiri di hadapan majikaku.”

“Apa?” aku menjerit. “Apaaan?!”

Aku berjalan pelan-pelan masuk ke kamar mandi yang penuh uap. Aku menutupi bagian depan dengan handuk mandi, tapi bagian belakangku benar-benar terbuka. Saat Hanatori-san berdiri di belakangku, entah kenapa, aku merasa hidupku dalam bahaya.

“Maksudnya…mandi dan membersihkan aku itu…ngapain aja, ya?” tanyaku.

Rambut Hanatori-san terlepas dari sanggulnya saat dia melepas bajunya. Rambut hitamnya sedikit bergelombang dan menutupi tubuhnya seperti bayangan, menonjolkan kulit pucatnya.

Hanatori-san mengambil shower dan menyesuaikan suhu air. Saat kudengar suara ssshhhh air mengalir, pikiranku malah melayang ke game yang sedang kutekuni akhir-akhir ini. Kalau di peta kota, awal permainan biasanya brutal banget. Aku jadi mikir, mungkin lebih baik bersembunyi di pinggiran biar bisa bertahan lebih lama. Tapi pada akhirnya, main aman nggak bikin kamu masuk leaderboard teratas, meski bisa menaikkan rank. Hasil terbaik tuh didapat dari main biasa dan terus latihan menembak—sama kayak sekarang, dibersihkan sama wanita cantik berambut hitam ini…eh, tunggu, apa sih yang kupikirin?! Lari dari kenyataan gagal total.

“Maksudku, aku bisa mandi sendiri, tahu!” kataku.

Aku menoleh dan melihat Hanatori-san dengan jelas. Dia benar-benar Wanita Dewasa. Paha-nya berisi, tubuhnya ramping tapi berlekuk. Dia nggak kayak ibu atau guru-guruku, tapi juga beda jauh dari gadis seusiaku. Ini tuh…ketelanjangan khas oneesan, ngerti nggak? Jelas banget! Lihat teman cewek telanjang aja bikin kaget, apalagi wanita asing dewasa yang sebelumnya nyaris nggak pernah nunjukin ekspresi. Bayangin, di balik jas yang selalu dia pakai itu ternyata ada tubuh seindah ini… Ugh, otakku beneran udah masuk selokan.

“Kalau begitu, permisi,” kata Hanatori-san.

Dia mengoleskan sabun harum ke spons mandi. Puji Tuhan. Ternyata dia nggak bakal pakai tangan langsung kayak orang mesum.

“O-oke…” kataku.

Ya udah, kalau ini kayak cuci rambut di salon, mungkin nggak akan seburuk itu. Aku yakin Hanatori-san menganggap ini bagian dari pekerjaannya, jadi aku juga harus bersikap profesional. Ya. Profesional.

Aku perlahan membuka handuk mandiku dan berdiri menghadap tembok. Aku bisa merasakan tangan Hanatori-san mendekat dari belakang.

Spons menyentuh kulitku, dan aku memekik kecil.

“Dingin?” tanyanya.

“Oh, nggak. Cuma geli aja.”

“Akan kuusahakan lebih hati-hati.”

Rasanya beda banget dibanding mandi sendiri di rumah.

“S-sponsnya aneh, ya,” kataku.

“Itu spons sutra,” jawab Hanatori-san. “Seratnya sangat halus, bisa mengangkat kotoran terkecil, tapi kalau digosok terlalu keras bisa merusak kulit.”

“O-oh, ngerti.”

Pantes aja dia lembut banget. Sentuhannya hampir nggak terasa, kayak belaian bulu. Saat spons itu menyentuh halus bulu-bulu halus di lenganku, aku bisa merasakan sesuatu dalam diriku perlahan naik. Ini…rasanya enak juga…

Untuk menenangkan panas dalam tubuhku, aku membuka mulut dan mengeluarkan suara pelan. Itu cukup meredakan rasa menggeliat yang nggak tahu harus ke mana. Tapi Hanatori-san terus membersihkan tubuhku, dan sensasi aneh itu nggak berhenti.

“U-um… Masih geli banget, jadi aku… Mmm…”

“Kau memang sangat sensitif terhadap sentuhan,” katanya.

“Y-ya, mungkin…?”

Tanpa ragu sedikit pun, Hanatori-san menggeser spons dari punggungku ke bagian bawah. Eek?!

“U-uh, hey!” seruku.

“Bisa tolong lebih tenang sedikit?”

“Kenapa aku yang disalahin sih?” gerutuku.

Aku menggigit bibir menahan diri. Eh, menahan apa?! Dengar ya, ini benar-benar geli!

“Bisakah kau duduk sebentar?” tanyanya.

“Baiklah…”

Aku duduk, merasa lemas. Begitu duduk di—apa ya ini? Bukan keset, lebih kayak kursi mandi tanpa kaki (emang ada ya?), aku merasa sedikit lebih baik.

Hanatori-san menyodorkan sebotol air minum.

“M-makasih…” kataku.

Aku menyedot air melalui sedotannya. Ini bener-bener pelayanan level putri bangsawan. Entah kenapa, aku berkeringat di seluruh tubuh, dan itu pasti baik buat kesehatan.

Hanatori-san mengangkat kakiku, dan aku kehilangan keseimbangan.

“Wah!” aku teriak.

“Mohon maaf,” katanya.

“Kenapa nggak bilang dulu sebelum ngangkat kakiku?!”

        Dia mengoleskan sesuatu yang wanginya aneh ke kakiku, lalu mulai menggosoknya lagi dengan spons. Rasanya kayak sebatang kayu yang lagi diamplas. Eh, maksudnya kakiku kayu? Hei, aku nggak segemuk itu, oke?!

        “Gimana rasanya?” tanya Hanatori-san.

        “Malu banget…” jawabku.

        “Kamu nggak perlu khawatir. Aku ini estetikawan bersertifikat, jadi aku percaya diri dengan kemampuan perawatan kulitku."


Bukan itu masalahnya!

 

Dia mengangkat satu kaki, dan posisiku jadi… yah, kamu tahulah! Aku mencoba memutar pahaku ke dalam dan menahannya sekuat tenaga, tapi rasanya kapan saja dia bisa melihat bagian diriku yang seharusnya tidak dilihat dalam pergaulan yang sopan. Apa aku pernah mengalami aib sebesar ini seumur hidupku? Sejauh yang kuingat, belum pernah!

 

Otot-otot perutku mulai gemetar, dan aku mengeluarkan suara melengking.

 

“Ada yang salah?” tanya Hanatori-san.

 

“K-kau menggosokku sampai ke jari-jari kakiku! Aku nggak tahan!”

 

“Begitu ya.”

 

Dia mungkin seperti robot yang cuma fokus menyelesaikan tugasnya—alisnya saja tidak bergerak sedikit pun. Dia langsung mengambil kaki satunya. Duh. Sekali lagi, dia mulai menggosok bagian batang kayu. Rasanya enak banget…

 

“Bentar deh, kenapa sih kamu bersihin aku sampai sebersih ini?” tanyaku. “Kamu nggak berniat naruh aku di atas piring buat disajikan ke Mai, kan?”

 

“Apa omong kosong mesum macam apa itu sekarang…?”

 

“Kalau gitu, nggak perlu sampai segininya, kan?”

 

“Ini bukan soal sejauh apa,” katanya. “Aku hanya melakukan ini karena akan jadi penghinaan bagi majikanku kalau kamu menemuinya dalam keadaan sekotor ini.”

 

Guh. Maksudku, aku juga pengin kelihatan bersih dan rapi setiap saat sih, jadi ya ada benarnya juga.

 

Hanatori-san akhirnya selesai membersihkan kedua kakiku.

 

Aku harus menarik napas panjang. “A-aku selamat…”

 

“Sekarang tolong rebahkan tubuhmu perlahan.”

 

“Oke…”

 

Ternyata perawatan salon kecantikan ala Hanatori-san masih belum selesai. Aku menyandarkan punggung ke kursi dan meluruskan kaki. Rasanya, daripada melawan, lebih baik kerja sama dan cepat-cepat menyelesaikannya.

 

“Tolong angkat lenganmu.”

 

“Iya, iya.”

 

Dia menggosok lenganku dari bisep sampai ke punggung tangan dengan gerakan lembut yang sama. Kurasa lenganku malah lebih sensitif daripada kaki atau punggung. Napasku mulai memburu lagi. Rasanya benar-benar seperti aku sedang dipersiapkan untuk dimasak. Begitu selesai, apa dia bakal menyajikanku dengan garam dan krim buat jadi camilan sore Mai? Gila, ini Oozuka Hannibal atau gimana…

 

Hanatori-san menyelesaikan kedua lengan, dan akhirnya aku bebas.

 

“Sekarang saya akan menurunkan sandaran kursi,” katanya.

 

“Hah?”

 

Yah, ini memang kursi mandi tanpa kaki. Bisa direbahkan sampai berbaring sepenuhnya. Aku belum pernah berbaring dan menatap langit-langit kamar mandi sebelumnya, jadi ini jadi pengalaman baru juga.

 

“Mohon maaf,” katanya lagi.

 

“Hah?”

 

Dia meletakkan handuk mandi di atas mataku, persis kayak di salon kecantikan.

 

Lalu terdengar suara pluk… Hm? Ada sensasi aneh di dadaku. Oh, jangan-jangan… Dia sekarang mencuci bagian depanku?!

 

“Di salon nggak kayak gini!” teriakku.

 

“Benar, karena di salon seseorang tidak dalam keadaan telanjang, bukan?”

 

“Y-ya juga sih, tapi bukan itu maksudku!”

 

Dalam keadaan telanjang, ditutup matanya, dan berbaring telentang, aku benar-benar nggak bisa apa-apa. Kalau Hanatori-san mau membunuhku, dia bisa kapan saja.

 

Begitu sponsnya menyentuh payudaraku, aku nyaris menjerit, tapi berhasil menahannya di detik terakhir. Spons itu lalu meluncur dari belahan dadaku turun ke perut. Duh. Jari-jariku menekuk dan kakiku bergerak-gerak. Rasanya jauh lebih enak daripada waktu dia mencuci punggungku, dan itu bikin aku makin sulit diam. Ya ampun.

 

“U-umm, Hanatori-san… udah selesai belum?” tanyaku.

 

“Sebentar lagi,” katanya. “Mohon bersabar.”

 

“O-oke…”

 

Ya ampun, ini keterlaluan. Aku udah nggak kuat. Nggak mungkin banget.

 

“Ahh,” aku mengerang. “Ahh.” Nafasku berat. Aku nggak sanggup lagi, dan suara eranganku lepas begitu saja.

 

Tubuhku panas banget. Padahal aku belum masuk bak mandi, tapi rasanya seluruh tubuhku seperti menguap. Dan sekarang aku hampir seperti dipijat.

 

“E-eh, ini enak banget…” kataku. “N-nggak, Hanatori-san. Jangan di situ…”

 

Kepalaku kosong. Suaraku sendiri terdengar jauh di telingaku.

 

Aku terengah lagi. “Oooh…”

 

Dalam pikiranku, aku terus mengulang, “Ini bukan hal mesum, ini bukan hal mesum,” kayak doa nenbutsu. Tapi sekuat apa pun aku berusaha, nggak bisa dipungkiri suaraku terdengar cukup… sugestif.

 

Ya ampun. Rasanya seperti ada sesuatu yang geli menjalar di bawah kulitku. Aku sengsara. Karena mataku tertutup, aku nggak bisa lihat apa-apa, tapi perasaanku mengatakan sesuatu yang parah sedang terjadi di seluruh tubuhku.

 

“K-kebanyakan, itu kebanyakan—nggak lagi, cukup, Hanatori-saaan…”

 

Aku nggak sengaja, tapi sekarang suaraku terdengar kayak sedang memohon. Sebagian dari diriku bersumpah bahwa aku nggak boleh sampai ada yang di sekolah tahu aku pernah kayak begini.

 

Tiba-tiba, cahaya menyinari mataku.

 

“Oh…” gumamku.

 

“Selesai sudah, wahai hama beracun,” kata Hanatori-san sambil menatapku dari atas.

 

“O-oh, oke… Gah!”

 

Kaget, aku buru-buru menyeka mulutku. Benar saja, aku ngiler.

 

“B-bukan seperti yang kamu pikirkan!” kataku. “Bukan karena itu bikin aku merasa enak atau gimana!”

 

“Oh? Sudah cukup lama saya tidak menggunakan keahlian ini, jadi saya senang melihatmu sangat menikmati pengalamannya.”

 

“Bukan begitu ceritanya!”

 

Hanatori-san menyalakan shower air hangat. Dia mengangkat kepalaku sedikit dan menyiramku saat aku masih berbaring. Ini pertama kalinya aku digosok dan disiram air hangat sambil berbaring, dan dua-duanya terasa aneh. Belum lagi bikin kesal karena rasanya enak banget.

 

“Y-yah, kalau ini seburuk-buruknya, aku sih masih sanggup! Memang agak geli sih, tapi cuma di awal aja. Aku cuma akting seolah kamu berhasil menjatuhkanku. Kamu nggak seburuk itu, Hanatori-san!”

 

Hanatori-san menatapku yang masih telanjang, lalu menjawab samar, “Hmm.”

 

Lalu, hampir seperti merasa bersalah, dia menutupi tubuhku dengan handuk kecil dari bagian dada sampai bawah perut. Hm? Dia menuangkan semacam minyak ke tangannya dan mulai meratakannya.

 

“Baiklah,” katanya. “Kalau begitu, saya akan lanjutkan dengan pijat minyak.”

 

“T-tunggu dulu!”

 

Hanatori-san tidak merespons dan langsung menunduk ke arahku.

 

“Tunggu dulu, dong!”

※※※

Aku mendengar suara pintu terbuka, lalu suara langkah kaki berlari.

 

“Halo. Maaf aku terlambat. Pasti kamu sudah menunggu cukup lam—” Mai mulai bicara saat dia masuk ke ruang tamu, tapi kemudian senyum di wajahnya membeku.

 

Aku memaksakan senyum padanya sambil duduk dengan santai di kursi ruang makan. “S-selamat datang di rumah, Mai.”

 

“Selamat datang, Nona,” kata Hanatori-san sambil menundukkan kepala dengan sopan. “Makan malam sudah siap. Apakah Anda ingin makan sekarang?”

 

“A-ah, iya, terima kasih, Hanatori-san.”

 

Mai melepas mantelnya, dan Hanatori-san menerimanya seperti sudah terbiasa. Dia membungkuk, lalu keluar dari ruangan untuk menyajikan makan malam.

 

Mai duduk di seberangku di kursi ruang makan miliknya sendiri, tersenyum cerah dengan pipi merona. “Kamu bikin aku kaget,” katanya.

 

“A-a-aku ya?”

 

“Iya. Kamu kelihatan benar-benar imut.”

 

Dia meraih dan menggenggam tanganku. Aku sedang memakai baju yang dipilihkan Hanatori-san untukku setelah mandi, yang jelas bukan pakaian olahraga atau semacamnya. Itu adalah gaun yang belum pernah dipakai Mai dan sudah disimpan rapi di lemari selama bertahun-tahun. Aku sempat khawatir apakah muat dipakai, tapi ternyata cocok dipakai siapa pun. Hanatori-san bahkan mengoordinasikan seluruh penampilanku sampai tuntas, dan juga menata rambutku. Belum lagi pijat seluruh tubuh juga. Seluruh tubuhku terasa rileks dan ringan. Apa aku jadi imut sekarang…? Nggak, nggak, jangan sombong. Soalnya Mai pasti bakal langsung bilang aku imut juga!

 

“Kamu imut banget, Renako,” katanya.

 

Tuh, kan?

 

“Y-ya, dibanding biasanya sih, aku kelihatan jauh lebih imut,” kataku, “tapi kamu kan pasti sering lihat cewek-cewek cantik dan menawan. Jadi secara objektif, aku nggak seimut itu.”

 

“Kamu manis sekali,” katanya. “Kamu benar-benar imut, Renako.”

 

“Lihat, kamu nggak bakal pacaran sama aku kalau cuma tertarik sama tubuhku!” seruku.

 

Aku menatapnya kesal karena malu, dan Mai hanya mengangguk lalu berkata, “Itu benar.” Jangan disetujui dong!

 

“Kamu tahu, semua cewek yang aku maksud itu model,” jelas Mai. “Mereka semua punya BMI antara 14 sampai 16. Mereka mengatur makanan dengan sangat ketat dan menjaga tubuh mereka dengan sangat serius.”

 

“Paham,” kataku. “Kalau gitu aku jelas nggak bakal bisa bersaing!”

 

Aku nggak malu mengakui kekalahanku. Maksudku, aku makan ayam goreng dan kue-kue manis hampir tiap hari.

 

Mai tersenyum. “Tapi itu tidak menjamin mereka semua benar-benar manis. Aku jauh lebih menyukaimu dibanding yang lain. Terima kasih sudah berdandan untukku.”

 

“S-sama-sama… Maksudku, itu semua gara-gara Hanatori-san sih, tapi ya…”

 

“Aku senang. Benar-benar senang.”

 

Sambil terus tersenyum, Mai mengelus tanganku. Uh. Yah, kalau itu membuatnya sebahagia ini, mungkin aku bisa tahan malu-malu begini demi sampai ke titik ini… Apa aku lagi dicuci otak? Nggak, tunggu—kapan aku akan berhenti aneh-aneh gini tiap kali soal dia? Aku harusnya! Ngomong kalau aku cinta sama dia!

 

“Urrrrrrrrrrgh,” aku mengerang.

 

“Ada apa?” tanyanya. “Tiba-tiba kamu pegang kepala kayak lagi kesakitan banget.”

 

“Aku lagi coba ngusir iblis-iblis dalam diriku sekarang,” jelasku. “Tapi para iblis itu udah jadi satu denganku, jadi aku ikut-ikutan kena dampaknya.”

 

“A-aku mengerti. Atau mungkin tidak. Tapi terdengar menyeramkan.”

 

Sementara Mai terlihat agak bingung, Hanatori-san membawa makan malam. Kukira dia akan datang dengan troli seperti di restoran burger, tapi ternyata dia cuma pakai nampan biasa. Dia menata meja untukku dan Mai, lalu menyendokkan porsi besar sup daging ke dalam mangkuk kami.

 

“Wow, kelihatannya enak,” kataku.

 

Tapi ini jauh lebih sederhana dari yang kubayangkan untuk makanan di rumah keluarga Oozuka. Kupikir mereka bakal keluarin satu ekor babi panggang atau semacamnya. Tapi ya wajar sih. Mai kan model. Dia nggak bakal makan sebanyak itu.

 

“Selamat makan,” kata Hanatori-san.

 

“Makasih!”

 

Aku kelaparan setelah semua aktivitas tadi. Kupikir lebih baik aku mulai makan sebelum aromanya bikin perutku bunyi.

 

“Kelihatannya enak ya, Mai?” kataku.

 

“Iya, aku yakin ini akan sangat lezat. Aku jamin.”

 

Aku mencelupkan sendok ke dalam sup. Ada banyak brokoli dan kentang, dan wortel memberi sentuhan warna oranye yang cantik. Sepertinya ini daging sapi bagian sengkel. Tampaknya empuk banget, kayaknya dimasak lama.

 

Aku mengangkat satu sendok. Masih panas, jadi aku meniupnya cukup lama sebelum membawanya ke bibirku.

 

Hmm!

 

“Ini enak banget!” kataku.

 

Rasanya beda jauh dari sup di rumahku! Rasanya lebih kaya! Atau kuat? Penuh rasa? Ada… kedalaman di dalamnya! Ya, rasanya bikin semangat.

 

“Hey, Mai, ini enak banget!” kataku. “Masakan Hanatori-san luar biasa.”

 

Eh, tunggu. Kalau aku nikah sama Mai, apa itu berarti aku bisa makan makanan kayak gini tiap hari? Mai udah pernah minta aku nikah sama dia, tapi mungkin ini caranya untuk menggoda hatiku dari sudut lain—dengan menunjukkan secara langsung kehidupan seperti apa yang bisa aku dapat setelah menikah. Ditambah lagi, aku bisa dapat pijatan dari Hanatori-san juga, kan? Dan naik limosin. Aku bisa hidup seperti putri dari negara kaya. Ini hal yang semua orang impikan.

 

Mai menutup mulut dengan tangannya dan tertawa kecil. Apa sih yang lucu?

 

“Aku jadi ingat waktu Hanatori-san pertama kali tinggal bersama kami,” jelas Mai.

 

Hanatori-san terlihat sedikit panik. “Nona!”

 

“Waktu itu, kemampuan masaknya masih terbatas, dan karena ini satu-satunya masakan yang bisa dia buat, dia bikin sup daging di slow cooker setiap hari. Kamu masih ingat, Hanatori-san?”

 

“Maaf telah merepotkan,” kata Hanatori-san sambil menunduk. Dia membungkuk untuk menutupi wajahnya, tapi pipinya kelihatan memerah.

 

“Jadi Hanatori-san juga punya masa-masa kayak gitu, ya?” kataku.

 

“Memang,” kata Mai. “Ngomong-ngomong, dulu dia juga begitu kalau nyetir. Wajahnya sampai pucat setiap kali harus lewat jalanan sempit di pinggiran kota. Dia sampai kepikiran buat balik ke sekolah mengemudi buat belajar ulang.”

 

“Maafkan saya, Nona.”

 

“Oh tidak, kau salah paham,” kata Mai. “Aku maksudkan itu sebagai pujian. Aku bersyukur atas semua usaha yang kau lakukan untukku.”

 

“Terima kasih atas kebaikan hatimu,” kata Hanatori-san.

 

Kau tahu, ini benar-benar… menyenangkan. Apalagi setelah dengar cerita tentang pengabdian Hanatori-san sebelumnya. Supnya enak, dan Mai serta Hanatori-san tampak menikmati waktunya. Jadi ya. Rasanya nyaman banget.

 

Mai tersenyum damai. “Kamu tahu,” katanya, “aku merasakan hal aneh sekarang.”

 

“Eh… gimana maksudnya?” tanyaku sambil terus melahap sup. (Aku benar-benar pembunuh suasana.)

 

“Yah, dengan kamu di sini dan makan malam buatan Hanatori-san… rasanya hampir seperti kita keluarga.”

 

“Mai?” kataku.

 

Itu agak… Maksudku, aku makan malam di rumah kayak gini tiap hari. Mama dan Papa selalu ada, dan aku dan kakakku selalu ngobrolin kejadian di sekolah hari itu. Itu hal yang selalu aku anggap biasa saja, yang udah berlangsung sejak lama.

 

Aku berhenti menyendok sup dan menatap Mai. Aku nggak bisa benar-benar tahu apa yang dia pikirkan, tapi wajahnya tampak tenang… Apa dia capek habis kerja, ya?

 

“U-uh, iya,” kataku. Lalu, hanya untuk berjaga-jaga, aku menambahkan, “Tapi, tahu kan… aku belum mikirin soal nikah, oke?”

 

Mai tersenyum. “Iya, aku paham. Tapi tetap saja, terima kasih.”

 

Dia yang kasih aku makanan enak dan pakaian cantik, tapi dia juga yang berterima kasih.

 

Mai menyilangkan jari-jarinya di atas meja dan tersenyum. “Ngomong-ngomong, gimana kalau kita coba tinggal bareng dulu? Oh, tentu saja aku akan memperkenalkan diri pada orang tuamu saat kita minta izin. Wah, aku deg-degan.”

 

“Eh, jangan, dong?!”

 

“Tenang saja. Mereka mungkin menolak awalnya karena ini mendadak, tapi aku yakin bisa meyakinkan mereka. Aku akan mewujudkan impian kita berdua.”

 

“Eh, tapi impianku cuma hidup santai, tahu!”

 

Perubahan tempo obrolan yang mendadak ini benar-benar bikin aku bingung. Lagi pula, kurasa meskipun Mai nggak terlalu ngotot, orang tuaku bakal langsung menyetujuinya. Bukan karena mereka gampang dibujuk, tapi karena sosok Mai itu terlalu meyakinkan. Setidaknya, aku yakin kakakku pasti langsung setuju. Mungkin aku kekurangan sekutu di sini… Yah, kurasa Hanatori-san bakal berpihak padaku soal ini, tapi aku juga nggak bisa bayangkan dia tega menentang Mai. Jadi pada akhirnya, aku harus lindungi diriku sendiri!

 

“Lihat, aku bukan cewek yang gampang luluh cuma gara-gara sepiring makan malam, tahu!”

 

“Kalau begitu, mungkin langkah selanjutnya adalah menyiapkan ruang game buatmu.”

 

“Bisa nggak jangan?! Itu kelemahanku! Aku nggak mau ke rumahmu dan habisin waktu main game di mesin super canggih dengan monitor refresh rate tinggi. Aku bakal berakhir kayak tinggal di sana terus!”

 

Mai tersenyum sambil melihatku ngomel.

 

Awalnya aku cuma datang ke rumahnya untuk main, makan malam, lalu pulang. Cuma itu. Tapi Mai kelihatan bahagia banget. Mungkin, kupikir, nggak buruk juga kalau ngelakuin hal kayak gini lagi nanti.

 

Eh, ini semacam kencan pertama di rumahnya sejak kita jadian? Nggak, nggak, nggak mungkin. Aku cuma mau main game fighting bentar setelah makan, terus pulang. Nggak ada yang istimewa, kan? Kan?

 

Ternyata Hanatori-san juga yang mengantarku pulang.

 

“Makasih untuk semuanya hari ini,” kataku. “Untuk makanannya, dan, um, bajunya juga.”

 

“Sama sekali tidak masalah,” katanya. “Saya akan mengambilnya nanti kalau ada kesempatan.”

 

Dalam perjalanan pulang, Hanatori-san menyetir mobil hitam kecil, bukan limosin. Kupikir itu mobil yang dia pakai buat ke kantor. Rasanya seperti mobil yang beneran dipakai sehari-hari, jadi aku agak canggung duduk di kursi belakang.

 

Dia berhenti di depan rumahku. Aku membungkuk sambil memegang kantong kertas berisi baju olahraga dan bola basketku. Lalu, seolah mengira aku akan langsung kabur, Hanatori-san menurunkan kaca jendela mobil.

 

“Tolong teruslah menjadi teman baik untuk nona saya,” katanya. Dia… tersenyum, meskipun hanya sedikit.

 

“Yakin?” tanyaku. “Maksudku, kita harus tetap berteman?”

 

“Itu pertanyaan? Bunga itu menyukai hama beracun, jadi tangan saya terikat. Benar, bukan?”

 

Dia mengatakannya dengan nada datar seperti biasa, tapi… terasa agak berbeda.

 

Sedikit… kupikir begitu.

 

Yang jelas, kupikir aku sudah lolos dari sikapnya yang dulu seperti “Hapus dia bagaimanapun caranya!” Syukurlah. Tapi aku nggak tahu apakah aku benar-benar sudah melakukan sesuatu untuk mengubah pendapatnya. Maksudku, dia kelihatan seperti kakak cantik banget waktu bicara tentang Mai. Andai dia selalu begitu, pasti lebih mudah diajak ngobrol.

 

“Saat makan malam tadi,” Hanatori-san mulai bicara, “nona saya hampir saja…”

 

“Hm?” tanyaku.

 

“Oh, tidak jadi.”

 

Dia kembali menunjukkan wajah profesionalnya, tapi aku masih punya satu pertanyaan. Pertanyaan yang sudah lama nyangkut di tenggorokan, seperti duri kecil. Atau, bahkan bukan duri kecil—lebih kayak tengkorak hiu pemakan manusia raksasa.

 

Dengan gugup, aku bertanya, “Hanatori-san, boleh aku tanya sesuatu?”

 

“Tentang apa?”

 

“Soal, um. Soal selingkuh.”

 

“Oh, itu.” Lalu, bertentangan dengan semua yang kupikirkan, dia tertawa kecil. “Saya tidak keberatan sedikit pun.”

 

“Eh… T-tunggu, kamu nggak?”

 

“Sama sekali tidak.”

 

Apa-apaan… Jawabannya begitu tak terduga sampai aku kehilangan kata-kata. Rasanya kayak ngumpulin keberanian masuk kelas pas hari pembagian hasil ujian yang kamu yakin hasilnya jelek, tapi ternyata gurunya nggak masuk. Bikin lemas. Hanatori-san sangat peduli pada Mai, kupikir dia bakal menganggapku sampah. Kupikir bakal susah banget dapat pengakuannya, tapi itu tantangan yang harus kuhadapi. Akan sulit untuk bilang bahwa aku juga ingin membahagiakan Hanatori-san, tapi itu harus kulakukan suatu saat nanti. Tapi ternyata dia langsung menganggapku layak buat Mai sejak awal… ya, itu hal yang bagus… mungkin?

 

Tapi lalu, masih tersenyum, Hanatori-san langsung menghancurkan semua harapanku dengan berkata, “Saya tahu itu cuma rumor tidak berdasar.”

 

Eh. Um? “Eh,” kataku.

 

“Yah, pasti tak mungkin ada yang berani selingkuh dari nona saya. Jadi semua rumor di internet itu benar-benar keterlaluan. Jangan biarkan gosip tak masuk akal itu mengganggumu. Kamu hanya perlu terus berkembang demi nona saya.”

 

“U-um…” Aku menyatukan jari-jari dan bertanya, “Kalau misalnya… Misalnya saja aku selingkuh… apa yang akan kamu lakukan?”

 

Hanatori-san terkekeh anggun. Lalu, seolah itu sama mustahilnya dengan koin seribu triliun yen jatuh dari langit, dia berkata, “Pasal 199 KUHP.”

 

Dan tanpa berkata apa-apa lagi, dia pun pergi.

 

Pasal 199 KUHP Jepang: Barang siapa membunuh orang lain diancam dengan hukuman mati, penjara seumur hidup, atau penjara selama minimal 5 tahun.

※※※

Aku kembali ke kamarku dan membenamkan diri ke bawah selimut. Aku merasa tidak melakukan kejahatan separah itu sampai pantas dihukum mati! Kan? Kan?!

※※※

Kejutan kejutan, aku mengalami mimpi buruk.

 

Dimulai dengan adegan di mana Ajisai-san memutuskanku tanpa peringatan sama sekali. “Maaf, Rena-chan,” katanya, “tapi aku sudah nggak suka kamu lagi.”

 

Oke, pikirku. Kalau dia udah nggak punya perasaan lagi, ya nggak bisa dipaksain. Teman bisa nyambung cuma karena punya minat yang sama atau topik obrolan, tapi kalau pacaran itu soal perasaan. Kalau perasaannya udah nggak ada, ya udah. Sakit sih, tapi ya gitu deh.

 

Tapi itu artinya aku dan Mai cuma tinggal berdua sekarang. Mai bilang, “Kita tetap bersama.” Dan karena dia suka aku, ya kami pacaran. Selesai.

 

Aku mampir ke rumahnya seperti biasa, dan setelah waktu berkualitas (???) di ranjang, Hanatori-san memanggilku tepat sebelum aku pulang. Dia langsung nunjuk ke arahku.

 

“Kau berselingkuh dari nona saya, bukan?” tuntutnya.

 

Aku menyangkal mati-matian. Aku nggak bohong, tapi aku nggak punya pilihan lain—aku nggak mau mati. Hasrat untuk hidup mengalahkan segalanya.

 

Begitu sadar bahwa Hanatori-san udah tahu semuanya, aku langsung bersujud di depannya, buang harga diri seperti Kaho-chan. Aku keluarin semua alasan yang bisa kupikirkan. Bukan salahku! Mereka yang godain aku! Aku nggak salah, sumpah!

 

Hanatori-san menatapku seolah-olah aku ini sampah tak berguna. Entah sejak kapan, dia udah megang gergaji mesin dan ngacungin itu ke atas. Kenapa gergaji mesin? Mungkin karena aku main game itu sebelum tidur. Aku terus teriak: Aku nggak salah!

 

Seolah mau nutupin suaraku, gergaji itu membelahku jadi dua. Game Over.

 

Mimpi kayak gitu nggak bisa bikin bangun dengan ceria sambil bilang, “Hai semuanya!” Jadinya aku ngeloyor ke kelas.

 

“Hai, Rena-chan,” sapa Ajisai-san.

 

“H-hai!” Suaraku keluar lebih keras dari seharusnya.

 

Aku memaksakan senyum buat menutupi kecemasan. Aku nggak boleh kelihatan gelisah di depan Ajisai-san.

 

Ajisai-san memandangi aku yang menaruh ransel dan duduk.

 

“Ada apa?” tanyanya.

 

“Um, yah…”

 

Ya ampun, dia manis banget hari ini… Eh, fokus dong.

 

Gimana ya pandangan adik-adik Ajisai-san kalau mereka tahu aku selingkuh dari kakak mereka? Kira-kira Kouki-san dan Kippei-san, setelah main game bareng aku dan semua itu, bakal bilang aku “Pecundang!” dan “Dasar brengsek!”? Bahkan ibunya, yang waktu itu kelihatan baik banget pas jemput Ajisai-san, mungkin bakal ngejar aku juga pakai gergaji mesin.

 

“Aku pengen jadi orang yang lebih baik buat kamu,” kataku.

 

“Hah?”

 

Aku pengen ngerti apa artinya hidup yang bermakna kayak Hanatori-san…

 

“Kamu bawa buku pelajaran hari ini?” tanyaku. “PR udah dikerjain? Ada yang ketinggalan nggak?”

 

“Uh, kayaknya nggak,” jawabnya. “Aku baik-baik aja.”

 

“Oke… Eh, kalau kamu ada masalah di rumah dan butuh tempat nginep, kamu boleh banget ke rumahku ya.”

 

“Y-ya, aku tahu, tapi… um…?”

 

Aku pengen kasih lebih banyak alasan kenapa pacaran denganku itu menguntungkan… Aku suka ngeliat Ajisai-san hidup bahagia dan sehat, tapi aku juga nggak mau dibelah dua pakai gergaji mesin. Kalau Ajisai-san itu tipe orang yang cuma bisa bahagia kalau ada aku, aku bakal ngelakuin segalanya buat dia. Tapi dia bisa bahagia sendiri, yang berarti dia nggak butuh bantuanku. Dan itu artinya aku nggak bisa kasih keuntungan lebih. Buat bikin hidup dia lebih baik, aku harus bikin hidupnya jelek dulu! Bikin orang bahagia itu susah banget! Eh, enggak. Aku nggak bisa bayangin nyakitin dia. Itu justru bikin pacaran sama aku jadi nggak menguntungkan. Aku harus mikirin cara lain.

 

“Gimana kalau aku puji kamu satu kali setiap hari?” saranku.

 

“Um, kedengarannya manis sih, tapi…?” Ajisai-san memiringkan kepala, masih nggak ngerti kenapa aku ngelakuin ini semua.

 

Melihat betapa imutnya dia, aku sadar betapa bodohnya aku barusan. “Nggak!” seruku. “Kamu jelas-jelas imut, jadi bilang kamu imut tuh cuma nyatain fakta. Itu nggak bakal bikin kamu senang!”

 

“Aku nggak setuju sih.”

 

“Ajisai-san, tempat pensil kamu lucu banget!”

 

Aku menunjuk tempat pensilnya, yang bergambar karakter fiksi. Aku pengen memperluas jenis pujianku sebisa mungkin.

 

Ajisai-san tersenyum dan mengangguk. “Iya! Itu hadiah dari anak-anak kecil yang biasa aku bantuin. Nggak nyangka banget, ya?”

 

“Oh, gitu…”

 

Sempurna. Ini Teh Sore Sempurna. Aku bisa denger suara meteran afeksinya naik. Juga senang denger kalau hubungannya dengan adik-adiknya baik-baik aja.

 

Mai datang dan menyapa kami. “Selamat pagi.”

 

Sebelum aku sempat jawab, aku lihat seseorang di belakangnya dan langsung bilang, “Urk.”

 

“Sudah cukup,” cewek itu ngomel. “Apa kamu sudah memikirkan hal yang kubicarakan, Oozuka-san?”

 

“Tanya saja terus,” kata Mai, “tapi itu nggak akan ada gunanya. Lagipula, aku bukan pemimpin kelompok ini, kok.”

 

“Bohong! Kamu jelas-jelas pemimpinnya Quintet, siapa pun bisa lihat!”

 

Aku dan Ajisai-san saling pandang saat Mai mengangkat bahu.

 

“Bertengkar lagi sama Takada-san…” bisik Ajisai-san padaku.

 

“Iya,” bisikku balik.

 

Takada-san nggak bisa berhenti, ya? Maksudku, tim buat lomba antar kelas udah dipilih, lho. Udah cukup lah, cewek.

 

Mata Takada-san beralih ke arah kami. Waduh.

 

“Dan selamat pagi juga untukmu, Amaori-san dan Sena-san! Kudengar Amaori-san masuk tim basket, ya?”

 

Dia datang nyamperin kayak invasi. Aduh!

 

“U-uh, iya sih…” jawabku.

 

“Kalau begitu ayo bertanding!” katanya. “Karena kami semua juga pilih basket. Pasti adil dong kalau begitu, ya kan?”

 

“Um…”

 

Nggak juga, soalnya Mai dan Ajisai-san masuk tim softball. Kalau Kelas B menang dalam kondisi itu, apa itu cukup buat bikin Takada-san puas?

 

“Takada-san,” kata Ajisai-san dengan lembut, mencoba menenangkan. “Boleh nggak kita bahas ini nanti aja? Soalnya kalau sampai melibatkan seluruh kelas, kayaknya bakal bikin ribet semua orang deh.”

 

Bahaya tuh, Ajisai-san! Kalau dia sedih karena jadi target, bukankah itu kesempatanku buat kasih dia lebih banyak keuntungan dari pacaran?

 

Tapi tentu saja, Takada-san nggak dengerin. “Kalau begitu kamu akan terus lari dariku selamanya, bukan? Lebih baik kita tanding di acara kelas dan biar seluruh sekolah tahu siapa yang unggul. Aduh…”

 

Takada-san melihat sekeliling dan bertolak pinggang. “Setiap aku kasih ide, kalian selalu kabur. Kelas A isinya pengecut semua!”

 

Kelas langsung hening. Hening yang kayak gini bisa bikin aku, yang emosinya rapuh, langsung down. Tapi Takada-san malah nutup mulutnya dan nyengir. “Nggak ada yang balas? Baiklah, aku pergi. Nggak ada gunanya buang waktuku di pagi hari dengan orang macam kalian.”

 

Dia mulai pergi sambil melambai-lambaikan tangan, tapi saat itu juga, seseorang bersuara.

 

“Eh, jangan gitu,” kata seseorang itu. “Aku nggak suka cara kamu ngomong tadi.”

 

“Hm?” kata Takada-san.

 

Yang ngomong itu seorang cewek. Namanya? Amaori Renako. Maksudku, aku nggak bisa diam aja lihat si anak baru ini ngeremehin Quintet! Semua orang di sini baik-baik dan sibuk ngejar mimpi mereka, jadi bukannya mereka lemah—mereka cuma nggak suka ribut. Tapi Quintet nggak akan kalah! Dan aku benci kalau dia dapat kata terakhir!

 

“Quintet bakal menang kalau sampai adu serius,” kataku.

 

“Oh? Omongan aja nggak cukup tanpa bukti nyata,” tantangnya.

 

Lalu dua suara lain ikut setuju denganku.

 

“B-bener tuh!” kata yang satu. “Quintet pasti menang!”

 

“Iya,” kata yang lain. “Mereka nggak mungkin kalah dari Kelas B.”

 

Itu suara Hirano-san dan Hasegawa-san, yang dari tadi nonton ribut-ribut: para penggemar Quintet!

 

Tapi Takada-san cemberut dan mengibaskan tangan seolah menolak pandangan mereka. “Kalau ingin bertanding secara adil, datanglah ke Kelas B. Aku nggak peduli ocehan kalian.”

 

“Ah!”

 

Takada-san menjatuhkan sesuatu dari meja dan benda itu jatuh keras ke lantai. Itu… tempat pensil Ajisai-san.

 

“Oh!”

 

Dan lebih parahnya lagi, Takada-san menginjaknya sekuat tenaga sampai SNAP!

 

“A-aku—” Dia baru mau minta maaf, tapi sebelum selesai aku langsung teriak, “Itu tempat pensil Ajisai-san!”

 

Mai langsung membentak Takada-san. “Apa-apaan sih kamu?!”

 

Takada-san panik, menatap Ajisai-san yang kelihatan sangat sedih, dan bergumam, “Eh, nggak, aku, um…”

 

Lalu. LALU. Dia menutup mulut dan tertawa seperti tokoh jahat. “Itu tempat pensil jelek punyamu? Kukira itu sampah yang tergeletak di mejamu, jadi wajar aja kalau aku nggak sadar dan nginjek. Lagipula, memang cuma sampah, kan?”

 

Kelas jadi sunyi senyap. Yang terdengar cuma tawa Takada-san. Dasar…

 

Lalu Ajisai-san berkata dengan suara patah hati, “Oh… Itu tempat pensil yang mereka kasih ke aku…” Dia berlutut pelan, memungut tempat pensil yang sekarang ada bekas sepatu. “Ini bukan sampah.”

 

Semua orang mendengar lirihnya. Lalu dari seisi kelas terdengar suara:

 

“Ajisai-san…”

 

“Sena-chan…”

 

“Sena…”

 

“Ajisai-san…”

 

“Idola kelas kita…”

 

“Kok bisa-bisanya mereka…”

 

“Oh, Sena-san…”

 

Seluruh Kelas A bersatu pikiran, dan aku bisa merasakan semangat mereka mendorongku maju. Maka aku bilang, “Kami terima.”

 

“Apa?” kata Takada-san.

 

Aku menunjuk ke arahnya sekuat tenaga. “Baik! Kami terima tantanganmu! Kita lihat siapa yang lebih hebat lewat pertandingan basket. Dan kalau kami menang, kalian semua harus minta maaf banyak-banyak ke Ajisai-san atas apa yang kalian lakuin!”

 

Untuk sesaat, Takada-san terlihat gentar. Lalu dia bilang, “B-baiklah, sangat baik. Inilah yang aku harapkan!”

 

“Takada-san,” kata Mai, berdiri di sampingku. “Aku nggak peduli kalau kamu benci aku atau punya dendam, karena aku sudah terbiasa. Tapi aku nggak akan biarkan kamu gunakan kebencian itu sebagai alasan buat nyakitin temanku.”

 

Nada suara Mai lebih marah dari biasanya, dan Takada-san kehilangan kata-kata. “B-baiklah. Baiklah! Bagus, berarti aku berhasil manfaatin kelemahan kalian. Semuanya sesuai rencana! Aku tunggu hari pertandingan. Kalian bakal dapat balasannya, tunggu aja!”

 

Takada-san cepat-cepat pergi, nyaris lari.

 

Masih memeluk tempat pensilnya yang hancur, Ajisai-san menatap kami cemas. “Um, teman-teman.”

 

“Ya, kami tahu, Ajisai.” Mai menggenggam tangan Ajisai. “Ayo kita ajari mereka agar hal kayak gini nggak terulang lagi. Kita akan tunjukkan tempat mereka sebenarnya, dan aku janji kamu bakal merasa lebih baik.”

 

“Oh, Mai-chan…”

 

Lalu Ajisai-san menatapku. Aku diam. Aku baru sadar setelah amarahku mereda. Menyembunyikan tangan yang gemetar di belakang, aku mengangguk sekuat tenaga meski mukaku sepucat kain.

 

“Serahkan aja pada kami!”

 

Aku terlalu terbakar semangat waktu itu, dan tanpa sadar udah bilang hal yang gila!

 

Namun, saat itu kelas kami benar-benar bersatu. Mau laki-laki atau perempuan, sekali lihat wajah sedih Ajisai-san, langsung naik darah ke Kelas B. Lomba olahraga antar kelas yang awalnya cuma acara biasa, sekarang berubah jadi pertempuran yang tak bisa kami kalah.

 


Previous Chapter | List Chapter | Next Chapter

Donasi: Trakteer

Bagikan ke:

Komentar

Tinggalkan Komentar