Chapter 1 : Ini Sudah Ditakdirkan Gagal Sejak Awal! Tidak Mungkin Aku Bisa Melakukan yang Terbaik!
Interaksi sosial itu kayak permainan di mana kamu harus terus-menerus memilih yang disebut “jawaban yang benar.”
Misalnya, katakanlah temanmu ngelontarin lelucon. Jawaban yang benar bisa jadi ketawa, nambahin lelucon lain, membiarkan leluconnya garing begitu saja, dan sebagainya.
Itu tergantung dari situasi yang terjadi, suasana keseluruhan, dan dinamika hubungan kalian.
Bisa jadi kalau kamu ketawa ngakak banget atas lelucon super garing, semua orang bakal ngeliatin kamu kayak, “Orang ini kenapa, sih?”
dan reputasi kamu langsung anjlok (kebalikannya dari meroket). Terus terang, ini susah banget.
Di sekolah, kamu terus-menerus dihadapkan sama pilihan-pilihan kayak gitu. Ketika temanmu mulai ngeluh soal sesuatu, gimana kamu harus merespons?
Kamu ikut prihatin? Ikut mengeluh bareng? Coba nyemangatin? Menghibur? Apa kelebihan dan kekurangannya masing-masing?
Mayoritas orang yang jago bersosialisasi bakal bilang, “Masa gak bisa nebak, sih?” Maksud mereka apa? Bisa baca pikiran? Sihir?
Bukan, itu semua cuma soal nangkep vibe. Intinya, baca suasana—ya kayak gitu deh.
Mirip kayak prakirawan cuaca yang bisa nebak besok bakal hujan atau enggak dari gerakan awan, kelembaban, dan lain-lain.
Orang yang jago bersosialisasi bisa menangkap perubahan sekecil apa pun dari ekspresi wajah, nada suara, dan reaksi orang lain untuk langsung—dan seketika—mengambil keputusan yang tepat.
Kalau itu bukan sihir, apa dong? Buat aku, itu hal yang bener-bener mustahil.
Bahkan kalau aku mati-matian belajar dan berhasil nebak satu jawaban benar, aku tetap gak bakal bisa ngikutin kecepatan pertanyaannya yang datang bertubi-tubi kayak kuis cepat-tepat.
Kayak, tolonglah. Otakku bisa kepanasan. Makanya aku kabur ke atap waktu hari yang menentukan itu.
Oke, ini aja udah kayak tingkat kesulitan maksimal, tapi sekarang mari kita lanjut bahas interaksi yang bukan sekadar biasa.
Kalau ada interaksi biasa, berarti ada dong yang luar biasa? Yup, jelas. Itulah yang disebut interaksi luar biasa.
Gak ada jawaban yang jelas dan benar buat pacaran bertiga seperti yang aku pilih.
Kita harus berhenti di setiap langkah dan diskusi bareng, kayak, “Oke, kita anggap ini jawaban yang benar, ya?”
“Oke, aku setuju.” Rasanya kayak menjelajahi peta kosong yang belum pernah disentuh.
Dan aku sendiri ibaratnya berjalan dengan mata tertutup, meraba-raba jalan tanpa petunjuk dari pembacaan situasi.
Setiap kali aku yakin banget sama suatu hal, bisa-bisa malah nginjak ranjau. Gak ada cara lain, ini beneran mode tersulit.
Dan gak ada cara aku bisa sukses ngejalaninnya! Tapi! Karena aku udah memutuskan, aku kumpulin semua mimpiku dan memulai pencarian menuju tujuan suci: One Piece!
Yah, aku emang sempet ngerasa burn out dan overwhelmed sebentar, tapi… ya, begitulah gaya hidupku.
Sekarang dimulailah ujian pertamaku sebagai pacar. Fakta bahwa aku gak bisa baca situasi bukan berarti aku gak bisa bertahan di interaksi luar biasa.
Siapa yang tahu masa depan, kan? Dan aku bukan tipe cewek yang baca walkthrough duluan—aku langsung terjun ke dalam game-nya!
“Tunggu sebentar,” kataku. “Tapi hubungan bukan permainan!” Aku masih berbaring di tempat tidur saat fajar, wajah tertelungkup ke bantal, masih pakai piyama, dan ponsel tergenggam di satu tangan.
Cahaya yang masuk lewat tirai cukup terang dan menyegarkan, bukti bahwa ini benar-benar sudah pagi. Ugggggh.
“Maksudku, di game, kamu tinggal pilih pilihanmu,” kataku. “Di kehidupan nyata, aku gak punya kemampuan buat ambil pilihan ini… Sekarang enggak lagi…” Saat ini, aku sedang berhadapan dengan salah satu ‘aturan’ jadi pacar.
Sebelumnya, aku sempat nanya ke Mai dan Ajisai tentang hal-hal seperti apa yang mereka pengin aku lakukan.
Karena ini permintaan pertamaku sebagai pacar mereka, aku minta supaya permintaannya gampang dipenuhi… Dan ya, mereka berdua langsung kasih tahu tanpa basa-basi.
Sekarang ini, aku lagi gelisah di tempat tidur karena permintaannya Ajisai-san. Maksudku, gelisahnya bukan permintaan dari dia. Itu pilihanku sendiri.
Aduh, sekarang udah waktunya sesuai yang kita sepakati. Kalau aku kelamaan bengong, Ajisai-san bakal kecewa sama aku.
Terus dia bakal bilang, “Aku rasa… hubungan ini gak bisa dilanjut. Tapi semoga kita bisa jadi teman lagi di kehidupan berikutnya, ya?”
Rasanya kayak lagi mau pakai item elixir satu-satunya di game, aku tekan tombol panggil di ponsel. Hyah! Dada aku nyeri.
Sejak masuk SMA, aku hampir gak pernah nekan tombol ini (ya, kecuali buat nelpon keluarga), palingan cuma beberapa kali nelpon Mai sama Kaho-chan.
Ngechat aja udah bikin cemas, apalagi nelpon Ajisai-san… Gila, pacaran itu susah banget!
Otakku mulai teriak-teriak dalam upaya ngedistrak diri dari kenyataan. Nada sambung berdering beberapa saat dan lalu… tersambung.
Di ujung sana hening sebentar. Eh, dia… beneran angkat, kan? “Halo…?”
ucapku dengan nada kayak murid yang mau ngakuin belum ngerjain PR. Kudengar suara kain bergesekan dari ujung sana.
Lalu, setelah jeda lagi, dia bergumam, “Halo…?” Dia bergumam! Ajisai-san bergumam! Mulutku mangap-ngap gitu aja.
Aku bolak-balik nyari kalimat yang cocok buat diucapin dari ‘lemari’ mentalku, lalu akhirnya mutusin buat kasih sapaan standar. “H-halo.”
Terdengar suara tawa kecil kayak anak kecil ketawa geli. Eh, itu barusan suara Ajisai-san? “Halo, Rena-chan,” katanya. Astaga!
Suara Ajisai-san yang masih ngantuk nyerang langsung ke gendang telingaku, dan rasanya bakal bikin aku KO. Enggak, udah KO.
Aku gak bakal pernah bisa tahan ini seumur hidupku. “U-um,” kataku. “Aku nelpon, um, sesuai permintaanmu.”
“Uh-huh…” katanya, lalu ketawa kecil. “Ini agak bikin gugup, ya.” “Y-ya, bener banget. Gugup banget.”
Ajisai-san minta aku kasih dia wake-up call tiap akhir pekan.
Soalnya pagi hari di hari sekolah tuh medan perang buat dia—harus bantuin adik-adiknya bersiap—jadi efeknya dia jadi agak malas di akhir pekan.
Makanya, dia pengin aku bangunin dia jam 8 pagi. Kedengarannya gampang, dan kupikir aku pasti bisa.
Tapi ternyata cukup bikin stres juga. Aku belum berhasil ngalahin musuh bebuyutan introvert: telepon. Tapi tetap saja, aku berhasil!
Aku berhasil bangunin Ajisai-san! “Yah, segitu aja dulu, Ajisai-san,” kataku. “Semoga harimu menyenangkan!”
“Uh-huh, makasih. Oh, dan—” Dan di saat itulah aku menutup teleponnya. Tunggu, Ajisai-san tadi mau ngomong sesuatu setelah aku nutup?
Kesadaran itu bikin aku merinding. Tunggu dulu. Nelpon dia pagi-pagi gini… bukannya aku cuma jadi jam weker hidup, ya?
Aku tanya begitu ke udara, tapi jawabannya datang dalam bentuk ponselku yang berdering lagi. “Wah!” teriakku. Kaget banget.
Tentu saja itu dari Ajisai-san. “H-halo…?” kataku. “Hai, ini aku… Maaf ya, Rena-chan. Kamu lagi sibuk?”
“Oh, enggak, sama sekali enggak,” jawabku cepat-cepat. Mungkin aku malah terdengar terlalu santai. “Kalau gitu,” katanya.
“Umm… aku cuma… pengin denger suaramu sedikit lebih lama… Boleh?” “A-aku gak keberatan sama sekali!”
Rasanya kayak anak kecil narik-narik lenganku sambil minta ditemenin. Aku langsung geleng-geleng. “M-maaf. Aku ngelakuin sesuatu yang salah, ya?”
“Oh, enggak, bukan kamu kok. Maaf ya udah minta yang egois.” “Enggak, gak masalah,” kataku.
“Lagi pula… suaramu lucu banget pas baru bangun tidur.” “K-kamu beneran…?” “Y-ya.” Kami terdiam lagi.
Tapi lucunya, aku gak merasa setakut waktu nelpon dia sebelumnya, walau obrolannya gak punya topik khusus.
“Kamu tahu, obrolan kita pas perjalanan liburan musim panas kemarin masih sering kepikiran,” katanya. “Oh, ya?”
“Waktu itu, aku masih belum yakin apa aku beneran suka sama kamu atau enggak… Aku ngerasa kamu temanku.” “Y-ya…?”
“Tapi waktu itu, rasanya nyaman banget pas bangun dan kamu ada di sebelahku. Makanya aku juga seneng banget denger suara kamu pagi ini.”
“O-oh.” Kupingku langsung panas. Ini obrolan yang gak bisa didengar orang rumah, jadi gak mungkin pakai speakerphone.
Aku narik selimut nutup kepala, dan rasanya kayak aku lagi ada di dunia kecilku sendiri bareng Ajisai-san di ranjang ini.
Rasa sayangnya begitu nyata sampai kepalaku kosong. Tapi walau pikiranku mendung, aku tetap nyari kata-kata yang pas.
Soalnya aku ini pacarnya Ajisai-san. “Aku juga,” kataku. “Aku beruntung bisa ngobrol sama kamu pagi-pagi gini.”
“Kamu yakin?” tanyanya.
“Ini gak merepotkan kamu?” “Enggak, aku suka. Rasanya kayak aku jadi kakakmu lagi.” “Kakakku?” ulangnya. “Eh, ya.” Ups.
Nada suaranya kalau langsung gitu aja udah bikin deg-degan, apalagi sekarang dia bisikin langsung ke telingaku.
Ini level ‘yikes’ yang dalam banget. “Tapi kamu kan bukan kakakku sekarang, ya?” katanya.
Suaranya terdengar kayak ngambek, dan jantungku berdetak kencang. Eek. Maksudku, ya aku tahu. Tapi… “Y-ya, itu bener,” kataku.
“Uh-huh. Jadi kamu ini siapa, hmm?” Dia pengin aku ngucapinnya! “Aku tuh. Kamu tahu, lah.” “Enggak, aku gak tahu.”
Ya ampun, dia bener-bener maksa aku ngomong! “Ayoo dong,” katanya. “Kamu siapaaa?” Sedikit demi sedikit, nadanya makin ngambek.
Aku nutupin diri dengan selimut, ngedaleminnya suara sampai Tuhan pun gak bisa denger, lalu pelan-pelan ucapkan, “Aku… pacarmu.”
Ajisai-san diam sejenak, lalu bilang, “Mm-hmm.” Aku belum pernah denger dia sebahagia itu. Ugh!
Malunya bukan main, tapi kalau itu bikin dia senang, ya sudahlah! Tapi… bukannya aku juga bisa malu-maluin dia balik?
Kan kita pacaran, artinya posisinya setara, kan? Mwa ha ha. Sekarang giliranku balas dendam.
“Hei, Ajisai-san, aku juga pengin kamu bilang,” kataku. “Ajisai-san, kamu itu siapaaa?” “Tentu,” jawabnya. “Aku pacarmu.” Aku gak bisa jawab.
Rasanya kayak kena serangan balik. “Aku pacarmu, Rena-chan,” katanya lalu cekikikan. “Eh. Um.” “Yup! Sena Ajisai, pacarnya Amaori Renako.”
Gak perlu diulang terus, dong! Kalau begini terus, aku bisa mati, dan itu bakal jadi kematian yang indah.
(Mungkin?) “Kamu kok bisa ngomong gitu tenang banget?” tanyaku. Dia ketawa kecil lagi. “Soalnya aku emang tenang.”
Bahkan kalau sebenarnya Ajisai-san lagi nutupin muka di bantal saking malunya dan nendang-nendang di tempat tidur, aku gak akan tahu.
Kalau dipikir-pikir, kayaknya Ajisai-san bisa bohong ke aku terus dan aku gak akan sadar. Aku langsung ganti topik.
“Eh iya, liburan ke pemandian air panas kemarin seru banget ya?” kataku.
Setidaknya, aku gak bisa biarin percakapan ini selesai tanpa ngelihat Ajisai-san malu juga.
“Aku gak nyangka Mai bakal masuk kamar pas kita lagi pura-pura jadi kakak adik, ya? Parah banget deh! Malu banget, kan?”
“Uh-huh,” katanya. “Aku kaget banget waktu itu.” Kenapa dia jawabnya santai banget?! Apa dia tahu semua kelemahanku?
“A-aku bakal seneng banget jadi kakakmu lagi kapan pun kalau kamu pengin. Tinggal bilang aja. Ya? Ya?” “Hmm,” katanya.
“Tapi gak tahu juga, sih. Soalnya sekarang kamu udah bisa manjain aku banyak sebagai pacarku.” Tidak!
Ini bukan pilihan salah satu! Tanpa mikir panjang, aku teriak, “Lihat deh, kamu bisa aja tetap jadi pacar meski kamu juga kakak!”
Saking kerasnya aku ngomong, suaraku malah jadi teriak beneran. “Whoa,” kata Ajisai-san. “S-sorry!” “N-gak apa-apa, kok,” katanya.
“Cuma, um…” Ini kayak pembukaan buat sesuatu yang bakal buruk. “Rena-chan, kamu itu… suka hal-hal kayak gitu…?” “Enggak banget!” seruku.
Maksudku cuma—duh, gimana jelasinnya?—dari semua sisi imut Ajisai-san, yang itu tuh imut banget.
Gini, buat orang yang susah bersosialisasi, kalau ada satu pengalaman bagus, mereka bakal terus mikirin itu sampai habis.
Kayak, “Wah, seru banget main game itu bareng temen. Seru banget. Pengen main lagi,” terus-terusan, dan pas remake-nya keluar bertahun-tahun kemudian dan ternyata gak seseru yang diingat, kamu bakal mikir, “Oh, ternyata yang seru itu bukan gamenya, tapi main bareng temen,” dan kamu bakal nangis nyadar hari-hari bahagia itu gak akan balik
.
Begitulah cara kerja otak orang yang canggung. Bukan berarti aku kayak gitu juga, lho!
“Maksudku, kalau kamu emang pengin, kita bisa lakuin itu lagi
kapan-kapan,” kata Ajisai-san. “Kayaknya, sih.”
“Hore!” Aku
mengepalkan tangan secara refleks—bukan Cuma karena soal kakak-adik, tapi
karena akhirnya aku berhasil bikin dia terdengar malu. Maksudku, ngomongin
sesuatu yang kamu lakuin setengah sadar pas baru bangun tuh jelas memalukan.
Tapi kalau udah pacaran, ya harus adil dong.
Saat aku lagi
senang-senangnya, Ajisai-san berbisik, “Rena-chan, kamu suka anak kecil, ya?”
“Enggak!”
“Kayak Kaho-chan?”
“Nggak juga!”
Aku langsung
membantah sekuat tenaga. Aku harus meluruskan kesalahpahaman ini! Kalau enggak,
aku punya firasat ini bakal dibesar-besarkan sampai gak bisa dibenerin lagi.
Aku jelaskan dengan
sangat jelas. “Aku gak suka anak kecil,” kataku. “Aku Cuma suka situasi di mana
Ajisai-san yang tinggi badannya 158 cm dan berumur 15 tahun kadang balik ke
dirinya yang asli, jadi malu-malu, pura-pura jadi anak kecil, dan minta aku
manjain dia sebagai oneechan-nya!”
“Ah,” katanya.
Entah kenapa,
rasanya penjelasan jujurku malah bikin semuanya makin parah!
Setelah aku menutup
telepon dengan Ajisai-san, aku berhasil bangkit dari tempat tidur walaupun
lemas banget. Aku berhasil. Tugas pertamaku sebagai pacar sudah selesai.
Nilainya sepuluh dari sepuluh! Ujian pertama, lulus!
Masih ada satu hal
lagi yang sudah aku janjiin buat dilakukan bareng Mai hari Senin, dua hari
lagi, tapi waktu dia bilang maunya apa, kelihatannya lebih gampang—relatif,
sih. Soalnya aku tahu apa jawaban yang benar. Yah, ngomongnya sih gitu, tapi
ternyata tetap aja jadi ribet banget nanti…
Aku menghela napas.
Aku masih belum yakin bisa memenuhi semua tugasku sebagai pacar, tapi aku Cuma
harus berusaha sekeras rasa tidak yakinku. Begitulah hidup, Amaori Renako, aku
mengingatkan diriku sendiri.
Pagi ini aku merasa
hangat terus. Aku memutuskan buat mandi sebentar.
Dan pas aku keluar
kamar, aku bertabrakan dengan adikku.
“Oh, Oneechan,”
katanya.
“Oh, hai,” kataku.
Adikku—Amaori
Haruna—dua tahun lebih muda dariku. Dia masih kelas dua SMP, tapi tingginya
udah sedikit lebih dari aku. Haruna menghabiskan masa mudanya dengan serius di
klub (badminton), dan kayaknya dia udah cukup dikenal sebagai atlet muda di
daerah. Udah pasti dia atletis, tapi dia juga menarik dan, yang paling penting,
punya keberanian dan kemampuan buat ngomong apa yang dia maksud tanpa rasa
takut sama sekali. Dia orang yang gampang bergaul, udah jelas. Ayo dong, jangan
tinggalin kakakmu yang kasihan ini, pikirku. Kalau keluarga ini dibagi jadi
yang punya kemampuan dan yang enggak, aku bisa-bisa bolos sekolah lagi.
Kami kadang
bertengkar, dan dia juga sering bikin aku kesel, tapi katanya itu wajar di
semua keluarga. Menurutku, hubungan kami lumayan baik, mengingat minat kami
benar-benar beda.
Tapi dia ngapain di
depan kamarku? Cuma lewat? Atau ada urusan?
“Oh, maaf,” kataku.
“Aku berisik, ya?”
“Enggak juga,”
katanya. “Kamu jauh lebih berisik waktu begadang main game sambil ngomong
sendiri.”
“Maaf banget.”
Kupikir dia udah
berhenti ngomongin hal-hal kayak gitu akhir-akhir ini…
Waktu aku minta
maaf, dia menoleh ke arah lain tapi tetap berdiri di tempat.
“Hmm?” kataku. “Kenapa?”
Ada apa, sih?
“Enggak.”
Jelas-jelas dia
pengin ngomong sesuatu.
“Kamu tadi nelpon
siapa?” tanyanya.
“Eh, Ajisai-san.”
“Hmm.”
Suasananya jadi
aneh. Kayak detik-detik sebelum lomba dimulai, saat kamu udah jongkok nunggu
aba-aba, tapi gak tahu kapan sinyalnya bakal keluar.
“Ngomong-ngomong,”
kata adikku, “gimana kelanjutannya kamu sama Mai-senpai?”
“Hah?!”
Aku langsung
menempelkan kedua tangan ke dadaku. Maksudnya apa, gimana kelanjutannya? Apa
dia ngomongin... yang itu? Waktu Mai sempat mencoba mendekatiku dan adikku
ngomelin aku? Apa dia... nanyain apa yang terjadi setelah itu? Kenapa dia baru
ngebahasnya sekarang?!
“Ke-ke-ke-kenapa
nanya gitu?” kataku.
“Soalnya.” Adikku
langsung to the point. “Aku nggak pernah denger kelanjutannya, dan rasanya aneh
aja kalau aku yang nanya langsung ke Mai-senpai. Kamu waktu itu tiba-tiba
murung banget, jadi aku pikir kalian mungkin udah putus. Terus, tahu-tahu kamu
ceria lagi.”
“E-eh, iya juga,
sih.”
Memang, dari sudut
pandang adikku, tingkahku akhir-akhir ini pasti kelihatan sangat mencurigakan.
Belum lagi semua latihan selfie sama latihan suara yang kulakuin buat persiapan
tampil di acara cosplay...
“Kalaupun dia
mutusin kamu, itu masuk akal, sih,” kata adikku, “tapi kayaknya nggak cukup
buat ngejelasin semuanya.”
“‘Masuk akal’?” aku
mengulang. Tapi aku paham maksudnya.
Tanganku otomatis
menyilangkan lengan. Akan sangat mudah untuk bilang, “Aku dan Mai mulai
pacaran,” tapi adikku punya kontak sama Ajisai-san. Jadi kalau dia sampai
celetuk ke Ajisai-san kayak, “Eh, tahu nggak? Kakakku pacaran sama Mai-senpai,
lho,” bisa-bisa Ajisai-san langsung nyengir dan bilang, “Iya, dan dia juga
pacaran sama aku. Aku dan Mai-chan sama-sama diselingkuhin.” Lalu
ujung-ujungnya aku dimarahi habis-habisan oleh adikku. Udah bisa kubayangin.
Dia bakal bilang, “Oneechan, sebagai aib keluarga Amaori, sudah menjadi tugasku
sebagai anggota keluarga untuk menghukummu.” Lalu dia bakal nusuk jantungku
pakai pisau daging.
Yap, itu jelas bukan
ideku tentang waktu yang menyenangkan. Bahkan bukan Cuma nggak menyenangkan—itu
langsung jadi akhir hidupku. Kalaupun dia gak beneran ngebunuh aku, dia pasti
bakal terus menatapku dengan tatapan maut tiap kali ketemu, sampai akhirnya aku
dewasa dan pindah rumah. Yaaaa, aku gak suka skenario itu.
Kalau itu sampai
kejadian, aku gak punya pilihan selain sujud di hadapannya sambil bawa Mai dan
Ajisai-san, kayak samurai di drama Mito Koumon bareng pengikutnya Suke-san dan
Kaku-san, dan memohon, “Kalau kamu nyakitin aku atau bikin aku menderita, dua
orang ini juga bakal kena imbasnya! Jadi tolong, perlakukan aku baik-baik!” Dan
aku gak mau kayak gitu!
Dengan pilihan kata
yang super hati-hati dan teliti, aku menatap adikku dan berkata, “Uhm. Aku dan
Mai itu. Uh. Ceritanya panjang!”
“Itu maksudnya apa?”
tanyanya. Aku lagi berusaha menutup-nutupi kebenaran, tapi rasanya dia udah
kayak mencengkeram hatiku dan gak mau ngelepasin. “Kalian pacaran, kan? Kamu ke
peragaan busananya dan ketemu ibunya, ‘kan? Jadi biar kutebak. Kalian gak ada
kemajuan sejak saat itu, ya?”
“Y-ya, sih…”
Astaga. Dengan skill
komunikasiku yang segini-gininya, gak mungkin aku bisa ngibulin adikku. Aku
memutuskan untuk main kartu terakhir.
“Ya ya ya udah,
terus kenapa, sih?” kataku. “Kenapa aku harus cerita ke adik kecilku? Malu,
tau! Jadi aku gak mau ngomongin!”
Kartu pamungkas yang
baru saja kumainkan—Tangan Besi Kakak Perempuan—mampu menghentikan obrolan apa
pun! Dan dengan medan pertempuran yang sudah hancur, adikku pun tak punya
pilihan selain mundur dengan kecewa—
“Maaf, ya?” katanya.
“Setelah semua yang udah kulakuin buat kamu, kamu malah bilang kayak gitu?
Lagian, ini bukan sesuatu yang sepenuhnya gak ada hubungannya sama aku.”
“Ya, sih, tapi tetap
aja!”
Astaga! Karena aku
udah pakai bantuannya buat memperbaiki diriku waktu masuk SMA, semua keuntungan
yang aku rasain sekarang otomatis memperkuat posisinya. Kamu ini apa, pemegang
saham mayoritas hidupku?
Apa aku harus
menyingkirkannya dulu sebelum dia menghancurkan aku? Apa aku harus merobek
jantung adikku? Kalau aku tetap bakal “mati” juga, ya harus aku duluan yang
nyerang… Mwahaha, iya, aku harus begitu!
Tepat sebelum
pikiran berbahaya itu mengambil alih, adikku akhirnya melepaskan cengkeramannya
dari hatiku. Dia menghela napas. “Ya udahlah, aku ngerti. Kalau kamu emang gak
mau cerita, aku gak bakal maksa.”
“Bagus!”
Saat aku bersorak,
dia malah ngasih tatapan sinis. “Tapi aku bisa banget tahu kalau kamu lagi
nyembunyiin sesuatu yang mencurigakan.”
“Hentikan, deh,”
kataku. “Itu tuduhan gak berdasar sama sekali. Mana buktinya, hah? Aku minta
bukti!”
“Siapa yang ngangkat
kamu jadi pengacara, sih…?”
“Terserah, aku pergi
dulu! Sidang ditutup!”
Aku langsung kabur,
dan dia gak ngikutin. Syukurlah.
Aku kembali ke kamar,
ambil baju ganti, dan menuju kamar mandi. Di tengah mandi—alias dalam keadaan
telanjang bulat dan sangat tidak berdaya—adikku meluncurkan serangan
berikutnya.
“Jadi, Oneechan,”
katanya dari balik kaca buram.
Aku kaget setengah
mati. Sekarang apalagi, sih?
“Apa-apaan ini,”
gerutuku, “gang belakang, nih?”
“Kamu punya
ketertarikan sama adik perempuan, ya?”
Aha! Jadi itu
alasannya dia nongkrong di depan kamarku tadi!
“Heh, kamu nguping
teleponanku sama Ajisai-san, ya?” tanyaku.
“Enggak, ini pertama
kalinya aku denger soal itu.”
Tunggu. Apa dia juga
tahu soal waktu aku dan Ajisai-san pernah main peran jadi kakak-adik…? Siapa
yang bilang ke dia? Ini informasi rahasia negara, halo!
“Yah, tapi siapa sih
yang nggak?” kataku. “Buat kakak perempuan, adik perempuan tuh imut banget
sampai gak tahan.”
“E-eh?”
Aku melontarkan
argumen yang sama kayak waktu ke Ajisai-san, biar bisa ‘strike’. “Maksudku,
kakak perempuan pasti mau dengerin permintaan egois adiknya. Soalnya lucu,
tahu! Aku gak punya fetish sama adik-adikan, tapi itu wajar karena aku juga
seorang kakak!”
Aku menekankan
betapa menggemaskannya Ajisai-san dengan seluruh kemampuanku. “Kalau kamu punya
adik perempuan, kamu juga pasti ngerti. Kamu bakal ngerasain cinta irasional
ini, kayak pengin ngelindungin dia dari semua hal buruk. Itulah artinya punya
adik perempuan!”
Teriakanku bergema
di seluruh kamar mandi.
Adikku diam beberapa
saat lalu bergumam pelan, “...Aneh.”
Dengar ya, kamu bisa
ngomong gitu Cuma karena kamu belum pernah lihat Ajisai-san waktu umur lima
tahun, oke? Kamu Cuma nggak punya cinta di hatimu, tapi biar kamu tahu aja,
dasar kamu bleepity-bleep...! (TL Note: bleepity-bleep tuh buat nyensor
kata-kata kasar atau ga pantas, yah kalau di spongebob tuh suara lumba-lumba)
Astaga. Aku udah
capek, padahal ini masih pagi banget.
Begitu selesai
mandi, aku memutuskan buat bulan madu sama PS4-ku buat ngisi ulang MP-ku.
Saatnya menghabiskan hari di pelukan hangat dan penuh kasih dari Four-kun, heh
heh heh.
Setelah beberapa
saat leyeh-leyeh, aku dengar bel pintu berbunyi. Adikku udah pergi ke kegiatan
klubnya hari ini, kayak biasa karena dia emang workaholic, jadi Cuma aku doang
yang ada di rumah. Yah. Males banget, tapi akhirnya aku berdiri juga.
Aku ambil interkom.
Semoga aja bukan orang yang jualan…
Ternyata bukan.
“Ini rumahnya Amaori
Renako?” aku dengar suara dari sana.
Aku langsung lari ke
pintu depan dan membukanya. “Satsuki-san?!” teriakku.
“Halo, Amaori,”
katanya.
Di sana, berdiri
dengan penampilan terbaiknya, seorang gadis cantik berambut hitam legam yang
luar biasa memesona.
Satsuki-san ada di
kamarku…
Aku duduk kaku di
seberangnya, di meja. Dia ngapain ke sini? Kompetisi FPS kami sama Mai udah
selesai dari kapan-kapan. Momen langka ada cewek cantik di kamarku bikin aku
mati gaya. Nggak peduli udah berapa kali kejadian kayak gini, rasanya aku nggak
bakal pernah terbiasa.
Dia diam. Aku juga
diam. Oh, heningnya, hening yang mengerikan! Hormat untuk Satsuki-san soal itu.
Nggak Ajisai-san, nggak juga adikku, kekuatan silent treatment mereka nggak ada
apa-apanya dibanding dia. (Silent treatment power itu ukuran seberapa besar
tekanan yang dipancarkan seseorang Cuma dari diam doang. Sebenarnya, kekuatan
diamnya Kaho-chan juga lumayan tinggi.)
Aku udah nggak
tahan. Dengan perasaan kayak saat kamu narik kepala keluar dari air waktu cuci
muka, aku akhirnya buka mulut. “U-uh, Satsuki-san… Ada keperluan apa hari ini?”
“Nggak ada apa-apa,”
katanya. “Aku Cuma punya waktu luang sebelum shift kerjaku.”
“Apa, rumahku
sekarang tiba-tiba pindah ke tengah-tengah antara rumahmu dan toko donat
gara-gara pergeseran lempeng benua?”
“Tentu saja tidak,”
katanya. “Tapi, aku tetap di sini.”
Satsuki-san agak
ngelak hari ini, padahal biasanya dia datang menyerang dengan kekuatan penuh
kayak pedang mistis Muramasa. Ini tuh, semacam... Satsuki-san versi imut dan
lembut hari ini atau gimana? Apa dia nyasar ke rumahku gara-gara manuver “Aduh,
kayaknya aku salah naik kereta!”? Dan kalau iya, apa itu artinya aku nggak harus
terlalu formal lagi sama dia?
Lalu Satsuki-san
versi lembut itu membuka mulutnya perlahan dan berkata… “Ngomong-ngomong, kamu
udah ciuman sama Sena belum?”
“Bwuh!”
Dia tetap tajam
kayak biasa! Dan dia langsung nyerang dari jarak super dekat. Apa dia ini
master pedang atau gimana?!
“Ngapain nanya
begitu?!” protesku.
“Cuma kepikiran aja,
soalnya kita juga pernah ciuman di ruangan ini,” jawabnya.
“Serius? Kamu
nyebutnya kayak ngomongin cuaca doang?”
Sambil ngeliat
Satsuki-san yang kelewat santai itu, aku mulai mikir kalau mungkin konsep
‘jawaban yang benar secara sosial’ itu sebenernya nggak nyata-nyata amat.
Ugh. Aku menggeliat
malu dan menyatukan jari-jariku di depan dada. “Belum...”
“Begitu ya.”
“Apa kamu nanya Cuma
karena penasaran?”
“Kenapa nggak?
Ciuman itu nggak terlalu istimewa kok,” kata Satsuki-san. “Nggak ngaruh juga
buatku apakah kamu udah ciuman atau belum.”
“Kamu ngomong gitu,
tapi waktu kita ciuman pertama kali kamu langsung panik banget.”
“Aku udah lupa soal
itu.” Dia tersenyum, terlihat santai banget. “Itu semua udah masa lalu.”
Kalau Cuma dengar
dari ucapannya, dia terdengar kayak cewek dewasa berpengalaman, tapi... itu kan
ciuman pertamanya…
Tapi dia cepat-cepat
menarik kembali senyum itu. Ada sedikit kesuraman di tatapannya waktu
menatapku. “Aku ke sini hari ini buat minta maaf.”
“A-a-aku?” tanyaku.
“Benar.”
Entah kenapa aku
jadi gelisah. Apa dia pernah ngelakuin hal buruk ke aku tanpa aku tahu?
“K-kamu nggak bilang
ke Ajisai-san soal kita pernah ciuman, kan?!”
“Nggak,” katanya.
“Itu bakal kejam banget, kan?”
“Hmm?” kataku. “Iya
sih, maksudku… kayaknya…”
Aku rasa cukup
mengejutkan kalau tahu dua temenmu pernah ciuman, kan? Tapi entahlah.
“Misalnya kamu
dengar Mai dan Kaho pernah ciuman,” lanjut Satsuki-san. “Kamu bakal mikir apa?”
Aku bakal mikir apa
ya? “U-uh… nggak terlalu gimana-gimana...?” jawabku ragu.
Soalnya kalaupun
mereka ciuman, mungkin mereka Cuma iseng doang. Kaho-chan juga biasa aja ke
Mai.
“Jadi kayaknya itu
nggak masalah juga sih…?” kataku. Lagian, Mai juga tahu aku dan Satsuki-san
pernah ciuman.
Tapi pas aku hampir
terpengaruh ke arah pemikiran itu, Satsuki-san nambahin, “Menurutku, sebaiknya
kita nggak bilang ke Sena.”
“Hah? Kamu yakin?”
“Iya. Karena itu aku
juga nggak pernah bilang kalau aku mantan pacarmu.”
“Astaga,
kata-katamu!”
Siapa mantan pacar
siapa?! Kita Cuma pacaran dua minggu trus balik jadi temen biasa seolah-olah
nggak ada yang terjadi! Sekarang juga udah nggak ada perasaan apa-apa lagi!
T-tunggu dulu… Aku
pegang daguku. Dengan hati-hati aku tanya, “Satsuki-san, kita ini mantan?”
“Memangnya bukan?”
Itu rasanya kayak
tahu kalau planet tempat aku lahir dan tumbuh ternyata bukan Bumi. Gadis cantik
dan berkelas ini mantanku...? Nggak mungkin!
“Eh, tapi!” seruku.
“Kita kan Cuma pura-pura pacaran!”
“Udah telat ngomong
gitu sekarang, nggak sih?”
Oke, iya, kita
memang pernah ciuman, mandi bareng, nginep bareng, dan segala macam—tapi tetap
aja! Semua itu Cuma biar kita bisa pura-pura pacaran di depan Mai!
“Kamu mantanku? Dan
aku… mantanmu?” tanyaku. “Dan gimana kalau Ajisai-san tahu semua itu…?”
Aku menatap
Satsuki-san dengan tatapan penuh harap, dan dia memalingkan wajah. “Kemungkinan
besar itu bakal bikin dia sangat terganggu.”
Bisa kubayangin.
“Rena-chan, kamu pernah pacaran sama Satsuki-chan?” mungkin dia bakal bilang
gitu. “Kenapa Satsuki-chan bisa pacaran sama orang kayak kamu? Kamu pakai trik
kotor apa? Apa kamu... tahu kelemahan dia atau gimana?”
Nggak! Itu kejam
banget. Ajisai-san kan pacarku sekarang, dan nggak mungkin dia bilang hal
setega itu ke aku.
Jadi mungkin lebih
kayak: “Rena-chan, kamu pernah pacaran sama Satsuki-chan? Wah, aku nggak tahu
sama sekali. Eh, kamu masih punya perasaan ke dia nggak? Iya sih, masuk akal.
Satsuki-chan memang hebat banget... Tapi kamu tetap pilih pacaran sama aku, ya?
Makasih.”
Aku mendongak.
“Itu bakal nyakitin
banget, Satsuki-san!”
“Iya kan?”
Secara umum, aku
nggak pernah ngerti apa yang dipikirin Satsuki-san, tapi aku tahu persaingannya
sama Mai dan rasa sayangnya yang tulus ke Ajisai-san itu nyata. Aku bisa
percaya dia sebagai sesama pemuja Sena Ajisai.
“Baiklah,” kataku.
“Aku ngerti. Mari kita simpan semua yang pernah terjadi antara kita sebagai
rahasia.”
“Aku setuju,” kata
Satsuki-san. “Nanti aku bilang juga ke Mai. Tapi sekarang, mari kita kembali ke
topik awal.”
“Oh, iya.”
Ngomong-ngomong, apa
tadi yang mau dia minta maaf?
“Soal pesan nggak
pantas yang aku kirim ke kamu,” kata Satsuki-san.
“Hah?”
Pesan apa? Oh, yang
waktu dia ngajak aku jalan?
“Bukannya kita udah
beresin semua itu di kelas kosong itu?” tanyaku.
“Kamu mungkin
berpikir begitu, tapi pendapatku berbeda. Apa kamu nggak penasaran kenapa aku
kirim pesan itu sejak awal?” katanya.
“Iya sih, lumayan…”
Memang, Satsuki-san
bukan tipe yang iseng jahil tanpa alasan…
Kan? Tapi mendadak
aku jadi nggak yakin juga. Kayaknya dia emang sering keburu-buru terus nyesel
belakangan. Mungkin ini Cuma satu contoh lagi dari itu. Satsuki-san tuh jauh
lebih impulsif dari kelihatannya.
“Karena aku udah
nyakitin kamu waktu itu, aku rasa aku harus kasih penjelasan yang layak,”
katanya.
“Kamu keras banget
sama diri sendiri, ya?” kataku. “Keren sih.”
“Tenang aja. Aku
juga keras sama semua orang.”
“Nggak bisa
dibantah!”
Satsuki-san memang
menuntut kedisiplinan mental dari semua orang. Siapa pun yang nggak bisa, dia
anggap sampah. Memang beda dia itu.
“U-uh… jadi, kenapa
kamu kirim aku pesan itu?” tanyaku.
Dengan datar, dia
jawab, “Aku nggak mau ngasih tahu.”
“Eh, halo?”
refleksku menjawab begitu.
Tapi Satsuki-san
tetap tenang. “Jawabanku adalah aku tidak mau memberitahu kenapa aku kirim
pesan itu. Dan hanya itu yang akan aku katakan.”
“Tapi kamu bilang
tadi kamu mau kasih penjelasan yang layak.”
“Iya, dan bukannya
tadi aku udah kasih?” tanyanya.
“Hah?! Itu kamu
sebut penjelasan?”
Satsuki-san
tersenyum dan mengangkat bahu dengan lega. “Soalnya aku waktu itu bohong ke
kamu. Sekarang akhirnya beban itu lepas juga.”
Aku bahkan nggak
nyadar dia pernah bohong. Astaga, aku bener-bener nggak ngerti di mana
Satsuki-san narik batas antara boleh dan nggak boleh.
Tapi ya udahlah.
Bodo amat.
“Oke…” kataku.
“Baiklah. Oke deh.”
Kalau Satsuki-san
udah mutusin buat nggak ngomong, nggak ada gunanya juga aku maksa nanya. Lagian
dia juga udah kelihatan lega sekarang, jadi mungkin memang lebih baik dibiarkan
saja. Kemungkinan besar dia ngelakuin itu Cuma buat nyoba rebut aku dari Mai
atau semacamnya. Terus dia sadar kalau itu bisa nyakitin Ajisai-san juga,
makanya buru-buru narik ucapannya. Atau mungkin ada alasan aneh lainnya.
Satsuki-san emang sering banget punya pandangan sempit kalau udah soal Mai.
Satsuki-san melihat
jam tangannya.
“Yah, kita udah
selesai ngobrol,” katanya. “Sekarang ngapain?”
“Oh, kamu masih
punya waktu sebelum pergi?” tanyaku.
“Masih. Mau ciuman?”
“Bisa nggak sih kamu
berhenti godain aku kayak gitu?” protesku. “Sekarang aku punya pacar, jadi kita
nggak boleh kayak gitu lagi! Kita kan Cuma mantan, inget?”
“Kamu nyebut kita
mantan, tapi malah bikin ciuman kedengarannya lebih mungkin.”
“Astaga, iya juga
ya? Eh, maksudku enggak!”
Aku setuju barusan
lalu langsung berubah pikiran. Bener-bener kayak jungkir balik, sampai bikin
pusing sendiri.
“Kendalikan deh
pikiranmu soal cinta yang kacau itu,” kataku. “Nih, mumpung kamu udah jarang
main ke sini, ayo main game. Ayo.”
“Game?” ulang
Satsuki-san.
Aku senyum ke dia
kayak orang yang buka jaket buat jual DVD bajakan. “Kamu udah balikin konsolnya
Mai setelah pertandingan kita, kan? Jadi kamu pasti kangen main game, ya kan?”
Aku nyengir. “Kamu kangen Four-kun, kan?”
“Enggak juga,”
katanya.
“Gimana bisa?! Kamu
nggak gelisah kalau nggak main game seharian?”
“Nggak sama sekali.
Aku Cuma main buat menangin kompetisi kita aja,” katanya. “Tapi baiklah. Kita
bisa main sekarang.”
Satsuki-san duduk di
sebelahku, persis kayak waktu dulu. Dia menerima controller PS4 dariku dan
memberiku senyum yang bikin jantungku loncat sebentar.
“Game itu bukan hal
yang aku butuhin, tapi kalau kamu maksa, aku bersedia main sama kamu.”
“B-bahagianya aku,”
kataku.
Senyumnya itu, kayak
semua senyumnya, bisa bikin siapa pun jatuh hati kalau nggak hati-hati.
Satsuki-san juga selalu wangi tiap deket… (Dan aku tahu wangi itu apa!) Dia
emang terlalu cantik. Aku nggak bakal bilang keras-keras, tapi aku selalu
senang tiap dia mau ngabisin waktu sama aku!
“Kamu mau main game
apa?” tanyaku.
“Apa pun bisa? Hmm.
Yang ini aja, gimana?”
Game yang dia pilih
adalah game tembak-tembakan zombie yang bisa dimainkan dua orang.
“Oh, itu…”
Itu game yang pernah
aku mainin sama Mai dan Ajisai-san. Entah kenapa, aku merasa bersalah banget
karena main game yang sama dengan cewek-cewek yang berbeda.
Eh, tapi siapa
peduli? Main game bareng temen nggak pernah ngebosenin.
“Ya udah, ayo main!”
kataku. “Enaknya, kontrolnya mirip banget sama FPS yang kamu pernah mainin
waktu itu.”
Ya, memang ada
sesuatu dari main game bareng—semacam ritual buat nunjukin kalau kita udah
balik jadi temenan baik. Soalnya, aku nggak mau hubungan kami tetap canggung.
Tapi begitu kita
mulai main, langsung muncul kenyataan yang mengejutkan.
“Satsuki-san,”
kataku, “kamu nggak inget kontrolnya sama sekali?”
“Aku lupa semua hal
yang nggak menarik buatku,” jawabnya.
“Astaga.”
Kupikir dia beneran
nikmatin permainannya, ternyata enggak. Ternyata semua itu Cuma buat bisa
tanding lawan Mai. Gadis ini udah memanfaatkan Four-kun tercinta! Dia telah
mengkhianatinya!
Aku menembaki zombie
yang terus muncul satu demi satu, sambil menahan rasa kesal yang aneh.
Setelah hatiku
dilukai sama adikku dan Satsuki-san membawaku naik turun roller coaster
emosional, Four-kun entah gimana berhasil menyembuhkan semuanya…
Entah gimana, aku
berhasil ngumpulin MP cukup buat berangkat sekolah hari Senin itu. Yup. Ujian
pertama punya pacar, bagian dua. Kedengarannya aja udah menyeramkan.
Aku gelisah duduk di
meja makan.
“Oh, kamu bangun
pagi, Renako,” kata ibuku.
“Y-ya, gitu deh.”
Biasanya jam segini aku baru bangun, tapi sekarang aku udah siap berangkat.
Ditambah lagi, aku juga jelas lebih niat dandan hari ini, mulai dari makeup
sampai rambut.
Ibuku ngasih roti
panggang dengan mentega. “Kamu janjian ketemu seseorang?”
“Iya, semacam itu.”
“Bagus, ya.”
Aku bener-bener
nggak tahu harus pasang wajah kayak gimana saat duduk di sini kayak gini. Aku
Cuma melongo ke sudut ruangan sambil ngunyah rotiku. Ibuku mungkin mikir aku
mau ketemuan sama pacar cowok. Untungnya dia nggak banyak tanya, tapi karena
itu juga aku nggak punya kesempatan buat menjelaskan apa-apa, jadi pertahanan
terbaik ya tetap diam. Setidaknya aku pengen udah keluar rumah sebelum adikku
masuk ke ruang makan.
HP-ku bergetar pas
aku baru selesai ngunyah roti terakhir.
“Oh, uh,” kataku.
“Aku berangkat dulu.”
“Mm-hmm. Hati-hati
ya,” kata ibuku.
Aku taruh piring di
wastafel dan ambil tas. Ibuku kasih senyum menyebalkan seolah-olah dia ngerti
semuanya luar dalam, dan jujur aja, itu bikin malu banget.
Saat aku mengganti
sepatuku di pintu masuk, aku mendengar suara kakakku dari ruang tamu, “Selamat
pagi!” Itu nyaris saja. Aku berhasil keluar tepat waktu. Kalau dia sempat
bertanya, “Apa kamu baru aja bangkit secara seksual?” walaupun maksudnya bukan
menghina, aku bakal langsung kabur naik kereta pertama besok pagi ke penginapan
onsen.
Aku membuka pintu.
Pagi ini cuacanya cerah, tapi katanya nanti bakal hujan. Di depan rumahku, ada
sebuah limusin yang sedang menyala mesinnya, dan di sebelahnya berdiri seorang
gadis dengan senyum menawan. Rambut pirangnya melambai tertiup angin musim
gugur, seperti hamparan ilalang emas.
“Halo, Renako,”
katanya.
“H-hai,” jawabku.
Aku jelas-jelas
nggak mau ibuku atau kakakku ngasih interogasi kenapa aku dandan rapi hari ini,
dan alasannya—yah, mereka pasti langsung bisa nebak.
“Terima kasih sudah
mau menemaniku hari ini,” kata Mai.
“Oh nggak, sama
sekali nggak masalah. Jujur aja, aku sampai mikir waktu kamu ngajak aku bareng
ke sekolah itu terlalu sederhana, sampai aku ragu kamu beneran Mai.”
“Kamu beneran mikir
begitu?” tanyanya. “Kalau begitu, mungkin aku seharusnya lebih berani.”
“Enggak, ini udah
pas kok.”
Sebagai pasangan
dari permintaan Ajisai-san buat dibangunin pagi, Mai minta buat menjemputku
supaya kita bisa berangkat bareng ke sekolah. Menurutku itu masih cukup wajar,
jadi akhirnya aku duduk di samping dia di kursi belakang limusin.
Mobil itu meluncur
pelan menyusuri jalanan selama kurang lebih dua puluh menit ke sekolah.
Suasananya tenang dan menyenangkan sampai-sampai rasanya aneh bisa melihat
pemandangan dari jendela begini.
“Rasanya udah lama
banget kita nggak begini,” kataku.
“Memang,” jawab Mai.
“Terakhir kali kamu naik limusin denganku itu waktu kita pergi ke ryoutei,
kan?”
“Oh, bukan, bukan
itu maksudku. Aku maksudnya kita santai bareng gini.”
“Ah... Begitu.” Mai
menunduk sedikit dengan ekspresi agak malu. “Iya, kamu ada benarnya juga. Aku
memang sempat menjaga jarak darimu sebentar…”
“Tapi sekarang kita
udah baikan, kan?”
“Tentu. Aku senang
sekali soal itu.”
Aku melirik Mai yang
duduk di sampingku. Dia selalu kelihatan memukau, benar-benar seperti seorang
model papan atas. Dia nggak punya gaya semangat seperti kebanyakan cewek
seumuran yang bilang, “Aku harus tampil keren hari ini!” tapi dia punya
kecantikan yang dibentuk dari bakat, latar belakang yang baik, dan usaha yang
konsisten tiap hari. Ya, meskipun aku nggak tahu pasti kegiatan Mai sehari-hari
kayak apa, tapi aku tahu dia totalitas dalam pekerjaannya, jadi pastinya nggak
gampang.
“Eh, Mai,”
panggilku. “Kalau kamu butuh ngobrol atau istirahat, kamu bisa hubungi aku
kapan aja, lho. Meski Cuma sebentar.”
Mai terdiam
sebentar. “Maaf?”
“Ah, nggak. Aku Cuma
ngerasa belum pernah nyatain itu secara langsung. Dan, ya... aku pikir mungkin
itu bisa sedikit nambah ‘meter kebahagiaan’ kamu, gitu?”
Mai terkekeh.
“Padahal aku sering banget nelpon kamu tanpa peduli kamu lagi sibuk atau
nggak.”
“Y-ya, tapi tetep
aja. Maksudku, aku pengen kamu tahu kamu boleh nelpon aku. Meski nggak ada yang
mau dibicarain, asal itu bikin kamu senang.”
“Aku sangat
berterima kasih atas perhatianmu.”
Introvert yang
canggung kayak aku biasanya selalu ngerasa bersalah dan yakin mereka Cuma
nyusahin orang lain, tapi Mai malah nyebut itu sebagai “perhatian yang tulus”…
Kalau dia ngelihatnya begitu, ya sudahlah.
Tiba-tiba aku sadar
sesuatu. “Eh, Mai. Kenapa kamu nggak lihat aku sama sekali hari ini?”
“Aku ya?” katanya.
“Seingatku, aku memang nggak terlalu sering memandangimu, kok.”
“Ayolah!” protesku.
“Kita belum saling tatap mata sama sekali seharian! Maksudku, kita emang nggak
biasa begitu juga sih—tapi biasanya karena aku yang nggak berani lihat.”
“Ah, tapi bunga
sakura di luar jendela sedang begitu indah, aku nggak bisa berpaling dari
mereka.”
“Sekarang bulan
Oktober!”
Aku jadi pengen kita
saling menatap, apapun yang terjadi. Aku ngetuk lututnya. Aku biasanya buruk
soal sentuhan kasual, baik memberi atau menerima, tapi entah kenapa aku bisa
melakukan itu ke Mai. Mungkin alasannya sama kayak kenapa tiga sekop bisa
ngalahin joker di permainan Tycoon.
“Eh, Mai,”
panggilku. “Mai. Mai, Mai, Maimaimaiamaimaimai.”
Aku ngusilin dia
kayak anak kecil yang ngajak saudara main.
“Baiklah, Renako,”
Mai menghela napas dan akhirnya pasrah menatapku.
Astaga, mata biru
besarnya memenuhi penglihatanku. Aku langsung malu banget! Aku buru-buru
memalingkan wajah. Nggak kuat! Kami mungkin Cuma saling menatap nggak sampai
satu detik, tapi tetap saja, gambar mata Mai sudah membekas jelas di retinaku.
Satu detik itu kerasa kayak berlangsung dua puluh empat jam.
Mai menghela napas
dengan kagum. “Kita bener-bener udah jadi pacar, ya?”
“Y-ya. Kita
pacaran,” jawabku.
“Susah buat
ngungkapin perasaanku. Dulu aku udah sempat nyerah buat berharap hal ini bisa
terjadi.” Mai tersenyum cerah. “Rasanya hatiku penuh banget sekarang.”
Aku nggak jawab. Aku
masih takut soal gimana caranya balesin perasaan Mai dengan baik. Soalnya, dia
dan Ajisai-san sayang banget sama aku, dan hubungan kami bisa hancur kalau aku
Cuma ngebagi cintaku setengah-setengah. Aku harus bisa ngasih kasih sayang dua
kali lipat.
“Eh, Mai!” seruku
dengan semangat. Aku langsung duduk lebih dekat ke arahnya.
“A-apa?”
“Aku tahu aku
mungkin belum bisa diandalkan sama sekali, tapi aku bakal berusaha sebaik
mungkin, oke?”
“O-oh? Wah, aku
senang dengarnya. Tapi tolong jangan terlalu memaksakan diri juga.”
“Iya, iya, aku
tahu,” jawabku. Tapi aku tahu aku perlu memaksakan diri sedikit—ya, lumayan
banyak, bukan Cuma sedikit. Tapi tetap saja, aku mengangguk manis di depan Mai.
“Ayo kita sama-sama lakuin hal-hal yang pengen kita lakukan dan bahagia
bareng!”
“Oh?” tanyanya.
“Hal-hal seperti apa yang ingin kita lakukan?”
“Um.” Aku
memalingkan mata sejauh mungkin. “Masih ada. Uh. Beberapa hal yang kamu tulis.
Di…kertas. Yang kamu tulis dulu. Kamu tahu. Yang itu.”
“Oh.” Mai menutup
mulutnya dengan tangan dan memalingkan wajah, menyilangkan kaki. “Tapi aku
sudah janji buat nggak nyakitin kamu lagi.”
“Yah, kamu masih
pengen lakuin hal-hal itu atau nggak, sih?!”
“Aku rasa nggak
bijak membagi dunia jadi dua kategori gitu aja,” kata Mai. “Aku menghargai
banyaknya pilihan antara ya dan tidak.”
Sekarang dia
tiba-tiba sok-sokan pakai logika debat kayak aku.
“Mai, Mai, Oozuka
Mai!” seruku. Aku ngetuk lututnya lagi kayak mau buka pintu besi berat.
Mai menunjukkan
ekspresi kesal. “Tolong, aku malu… Soalnya, aku masih pengen ngelakuin semua
itu… Keinginanku belum berubah… begitu juga perasaanku padamu.”
Dia kelihatan
benar-benar malu. Dan aku merasa, kemampuan dia untuk menunjukkan rasa malunya
itu, juga termasuk bentuk pertumbuhan. Ngomong-ngomong, seingatku Ajisai-san
juga pernah bilang kalau bedanya teman dan pacar itu ada di rasa cinta yang
membara. Atau jangan-jangan itu Cuma mimpi? Yah, aku nggak pernah punya pikiran
cabul sama cewek seumur hidupku, jadi Mai sendirian di sini. Tapi ya, aku
ngerti maksudnya. Aku juga pernah baca soal itu di manga dan semacamnya.
“Aku bikin ini demi
kamu,” kataku padanya.
Aku mengeluarkan
buku sketsaku dari tas dan membuka halaman berjudul Sistem Waktu Sentuhan:
Sebuah Pengantar.
Mai terkejut. “Waktu
Sentuhan, kamu bilang…?”
“Uh-huh.”
Dengan mengangkat
kacamata khayalanku, aku berusaha menjelaskannya secara profesional. Soalnya
kalau nggak masuk ke karakter, rasanya terlalu memalukan.
“Untuk mencegah kamu
kelewatan batas, aku usulkan kita mengalokasikan waktu tertentu buat kegiatan
ini. Jadi, kedua belah pihak bisa saling menyentuh—uh, dengan persetujuan
masing-masing.”
Aku langsung tutup
mulut. Hampir aja ngomong “bermain-main”. Soalnya, bermain-main itu kesannya
kayak… sama-sama aktif.
“Aku mengerti,” kata
Mai. “Kamu jenius. Sesi pertama berlangsung berapa lama? Sekitar enam jam,
mungkin?”
“Ini bukan karaoke
free time di hari libur!”
Ngeliat Mai langsung
kembali ke mode santainya bikin aku gugup, tapi juga sedikit senang. Ini
ngingetin aku sama masa-masa dulu.
Aku mengangkat
tanganku dan berkata, “Tapi!” Aku membuka halaman berikutnya di buku sketsaku,
menunjukkan bagian selanjutnya. “Setiap kamu dapat Waktu Sentuhan, kamu juga
dapat Waktu Disentuh yang setara!”
“Itu…apa?”
“Yaitu giliran aku
nyentuh kamu.”
Mai terkejut. “Apa?”
Yup, ini rencana
rahasiaku buat mencegah Mai kelewat batas, cara buat ngajarin dia, “Jangan
lakukan pada orang lain apa yang kamu sendiri nggak mau alami.” Ya, ini mirip
kayak ngelatih anjing… meskipun subjeknya sama-sama anak SMA… tapi siapa peduli?
Jujur aja, ini juga
karena waktu dia nyender di pahaku dulu dia malu banget. Dia kayak karakter
pembunuh, jago banget nyerang tapi lemah banget bertahan. Jadi aku rasa kalau
aku nyentuh dia, dia juga bakal malu, dan itu bisa jadi cara buat nge-rem dia.
Dan… aku juga ngerasa, karena kita udah susah payah jadi pacar dan segala,
kayaknya oke juga kalau aku sesekali jadi pihak yang aktif… Rasanya nggak enak
ngomong, “Eh, aku pengen nyentuh kamu…” Tapi kalau udah ada aturannya duluan,
aku bisa berpura-pura bilang, “Yah, mau gimana lagi, udah waktunya nyentuh
kamu! Aturannya bilang begitu!”
Bukan berarti aku
pengen nyentuh dia, ya. Tapi peraturan ya peraturan! Nggak bisa dilanggar!
“Gimana? Mau coba
sekarang?” tawarku.
“S-sekarang? Di
mobil?”
“Ya, jangan ngelakuin
yang nggak bisa dilakukan di mobil aja! Kita punya waktu tiga menit
masing-masing sebelum sampai sekolah. Yuk.”
Setelah aku
ngerecokin dia, akhirnya Mai memberanikan diri. “Baiklah,” katanya. “Ayo
lakukan.”
“Oke. Waktu Sentuhan
dimulai sekarang.”
Aku menghadap ke Mai
dan membuka sedikit kedua lenganku. Mai pelan-pelan menyentuh pipiku dalam
posisi aku yang sepenuhnya nggak melindungi diri.
“Mm…” kataku.
Astaga, ini canggung banget.
Dia membelai pipiku
dengan punggung tangannya.
“Renako…” katanya.
“Y-ya?”
“Aku sayang kamu,
Renako.”
Tangannya bergerak
ke belakang leherku. Uh, aku udah siap buat disentuh, tapi denger dia bisikin
kata-kata manis kayak gitu bener-bener nggak kuduga…
Dia memelukku dan
menyembunyikan wajahnya di dadaku. Aku tetap membuka tangan dan membiarkan dia
melakukan sesukanya. Soalnya, itu yang peraturannya bilang!
“Kamu lembut
banget,” katanya. “Dan wangi banget.”
“Gh…”
A-astaga, ini malu
banget! Yang bikin tambah malu, aku malu padahal aku sendiri yang usulin ini,
jadi aku gigit bibir dan tahan aja. Soalnya, aku bisa ngerasain cinta Mai yang
luar biasa dari ujung jari-jarinya, dan tubuhku mulai berkeringat dingin.
Dia mengelus
punggungku. Membelai kepalaku. Mengusap pipiku. Dia memanjakanku seperti boneka
binatang baru yang dia beli, sampai tiga menit habis dan dia akhirnya
melepaskanku.
Aku harus menarik
napas dulu. “Y-ya, memang begitu caranya…”
Untung banget aku
Cuma nyaranin tiga menit buat awal. Kalau aku sok kuat dan ngasih Mai sepuluh
menit di sesi rehabilitasi penuh sentuhan ini, aku pasti butuh pulang dulu buat
mandi setelahnya.
Aku buru-buru
merapikan rambut, lalu melirik ke arah Mai. “J-jadi, gimana tadi?”
“Ah, ya… Aku senang
akhirnya bisa merasakan sentuhanmu lagi setelah sekian lama. Rasanya
benar-benar menyenangkan,” katanya.
Ekspresi emosional
di wajahnya begitu kuat sampai-sampai dadaku terasa hangat. Ughhh. Tapi di sisi
lain, aku juga nggak bisa menyangkal bahwa aku senang. Jujur aja, rasanya enak
banget disayang-sayang. Aku jadi sadar betapa menyenangkannya, betapa mewahnya,
momen ketika dulu kita ribut soal apakah kita lebih cocok jadi pacar atau teman
biasa. Maksudku, bukan berarti pacar itu lebih tinggi dari teman biasa, ya.
Cuma... emang enak aja punya interaksi fisik begini. Kan? Kan?
Pokoknya.
“Giliranku!” seruku.
“Tentu saja,” kata
Mai. “Aku senang bisa membalas kebahagiaan yang sudah kamu berikan padaku.”
“Kalau begitu,
langsung aja…”
Aku mengatur timer
selama tiga menit. Sekarang, mau ngapain dulu ya, hmm…
Aku meraih pipi Mai.
Kupikir hal sederhana kayak gitu pasti bisa kulakukan. Tapi lalu dia menangkap
tanganku.
“Eh, Mai?!” seruku
terbata-bata.
“Hm? Ada apa?”
“Uh, kamu ngapain?
Bisa tolong lepaskan?!”
“Maaf? Oh, ya.
Benar.”
Dia melepaskan
tanganku. Itu tadi apaan, sih? Tunggu sebentar. Mai kelihatan gugup, kayak anak
kecil yang lagi siap-siap disuntik.
Masa sih… ini
beneran kayak yang kupikir?
Aku mengusap pipi
Mai dengan punggung tanganku, dan dia gemetar sambil mengeluarkan suara kecil.
Ah… Sekilas aku langsung teringat waktu aku menyentuh kulit lembut Kaho-chan di
kamar mandi. Rasanya sama—malu tapi ada sensasi aneh yang bikin jantung
deg-degan.
Pelan-pelan, supaya
nggak merusak rambutnya, aku membelai bagian belakang kepala Mai. Dia
mengatupkan bibir erat-erat, berusaha sekuat mungkin supaya nggak bersuara, dan
tetap diam. Biasanya Mai kelihatan seperti karya seni yang sempurna, tapi saat
wajahnya memerah begini, dia jadi terlihat sangat manusiawi. Eek. Entah kenapa
itu malah bikin aku juga jadi malu. Astaga, nggak mungkin aku bisa tahan sampai
tiga menit penuh!
Tapi jelas aku udah
naik level berkat pengalaman mandi bareng Kaho-chan. Dengan EXP itu, aku jadi
manusia yang lebih kuat! Soalnya, (kalau nggak ngitung Mai) mandi bareng orang
lain itu adalah pengalaman yang benar-benar... ya ampun. Tapi itu berarti
sekarang aku udah setenang mentimun… Ya, setenang mentimun… Oke, nggak juga.
Tapi aku masih bisa tahan, kok!
Aku memeluk dia
erat-erat, menyelubungi kepalanya di dalam pelukanku.
“Mai,” panggilku.
“M-mmm-hmmm…?”
Neo-Renako yang tak
terkalahkan berbisik di telinganya, “Kamu lucu banget, Mai.”
“N-nggak mungkin,”
bantahnya. Dia kelihatan kayak bakal mulai menggeliat dan ribut kapan aja.
Aku menyeringai.
“Kamu lucu, Mai. Lucu banget.”
“Nggak, kamu jauh
lebih imut dari aku…”
“Nggak juga.
Sekarang ini, kamu lucu banget.”
Dan aku benar-benar
serius waktu bilang itu.
Dia juga memelukku,
membiarkanku tenggelam dalam pelukannya. “Kamu benar-benar penggoda ulung,”
gumamnya. “Ah, kamu suka mempermainkan hatiku.”
Aku terkekeh. Kurasa
nggak apa-apa kalau aku sedikit terbawa suasana, setidaknya untuk sekarang.
Nggak ada yang bisa lihat kita di mobil ini. Di pelukan Mai. Rasanya memang
bikin malu dipeluk dia, tapi saat aku bilang “dia,” maksudku bukan si cantik
dan kuat Oozuka Mai. Sekarang ini, dia Cuma cewek remaja yang imut seperti aku.
Rasanya menyenangkan, seolah kami semakin terhubung secara emosional.
“Kamu beneran suka
aku, ya?” tanyaku.
Aku mencolek pipi
Mai secara santai untuk ngingetin kalau waktu tiga menitnya udah habis.
Mai manyun. “Siapa
yang ngajarin kamu ngomong kayak gitu?”
“Uh, itu ciptaan aku
sendiri!”
“Kalau gitu, kamu
juga suka aku banget, kan?” desaknya.
“A-a-aku, ya jelas
suka! Maksudku! Iya, suka kok, tapi kenapa kamu mesti nanya sih? Kan jahat
banget kalau aku nyaranin Waktu Sentuhan padahal aku bahkan nggak suka kamu!”
“Baiklah,” kata Mai.
“Kalau begitu, daripada aku disentuh balik, seharusnya aku bayar kamu aja pakai
uang sebagai ganti waktu yang kupakai buat menyentuhmu. Itu mungkin kesepakatan
yang bagus bagi kita berdua.”
“Kamu beneran segitu
nggak sukanya aku nyentuh kamu?!”
“Gimana bisa aku
benci? Aku Cuma… malu aja…”
“Selamat datang di
klub!” seruku. “Sekarang kamu tahu rasanya gimana.”
Rasanya udah lama
banget sejak terakhir kali kita debat kecil begini. Senyum tiba-tiba muncul di
wajahku tanpa disuruh. Aku dulu suka cewek ini sebagai teman, dan ternyata,
sekarang kita pacaran pun aku masih suka dia sama seperti dulu. Maksudku, ya…
Itu berarti aku nggak punya alasan emosional kuat buat nolak Satsuki-san, dan
itu agak ganggu juga sih. Tapi biasanya juga orang nggak langsung punya pacar
banyak dalam sekali waktu! Aku tahu aku pernah bilang bodo amat sama kata
“normal,” tapi tetap aja! Nggak akan aku biarin terjadi.
Mobil berhenti di
depan gerbang sekolah. Kami sepakat buat bilang ke orang-orang kalau Mai ketemu
aku di jalan dan nawarin tumpangan. Kayaknya cukup masuk akal.
“Terima kasih,
Hanatori-san,” kata Mai ke wanita yang duduk di kursi sopir.
Hanatori-san
membungkuk diam-diam pada Mai, dan aku langsung tersentak.
Tunggu… Kita nggak
sendirian di mobil. Ada sopir juga… dan dia adalah orang yang paling benci sama
aku: Hanatori-san!
Tapi mungkin
semuanya nggak seburuk itu. Hanatori-san kelihatannya sangat sayang sama Mai,
jadi kalau dia tahu kami pacaran, mungkin dia bakal mendukung hubungan kami.
Mai tersenyum
padaku. “Kau tahu, Hanatori-san biasanya kerja dari jam sepuluh pagi sampai
delapan malam.”
“Tak perlu
khawatir,” tambah Hanatori dengan nada aneh. “Saya juga mendapat istirahat dua
jam.”
“Uh, oke,” jawabku
sambil mengangguk.
“Tapi,” lanjut Mai,
“waktu aku bilang hari ini aku mau ke sekolah bareng kamu, Hanatori-san sendiri
yang menawarkan buat nyetirin kami. Kurasa dia cukup menyukaimu.”
“Terima kasih sudah
menerima permintaan saya,” kata Hanatori-san.
Mata kami bertemu di
kaca spion. Tatapannya dingin, kayak aku ini hama yang mau ngerusak bunga
kesayangannya. Nggak, dia sama sekali nggak kelihatan mendukung cinta kami.
Aku tertawa kaku.
“B-benarkah? Wah, aku… tersanjung…”
“Semoga harimu
menyenangkan, Hama-yang-sangat-disaya—Amaori-sama,” kata Hanatori-san.
Tunggu, dia barusan
manggil aku hama, kan?
“Te-terima kasih…”
jawabku.
Huff. Apa susahnya
semesta ngasih aku satu hari normal dan menyenangkan di masa remaja yang
katanya masa paling indah ini?
※※※
Tapi sayangnya,
siapa yang kutemui di lorong saat jam istirahat kalau bukan Takada Himiko-san,
alias Nona Suka Sok Tinggi.
“Wah, ternyata
Amaori-san,” katanya. “Kamu kelihatan jalan-jalan dengan ekspresi muram di
wajahmu, ya?”
“Geh!”
“Dengar-dengar,
kamu dan Oozuka-san datang ke sekolah bersama hari ini,” lanjutnya. “Membuat
penampilan dramatis dengan limusin di depan seluruh murid itu pilihan yang
cukup mencolok, setuju tidak?”
“A-aku
nggak bermaksud begitu, kok,” aku membela diri.
Dia
cuma mengomentari, tapi rasanya kayak aku diserang habis-habisan. Kenapa sih
dia selalu muncul waktu aku lagi sendirian?
Memang
sih, aku dan Mai keluar dari limusinnya bareng dan itu langsung jadi bahan
omongan para siswa lain yang juga baru sampai sekolah. Mereka semua ngelihatin
kami dengan tatapan iri, dan kalau Ashigaya ini semacam akademi cewek-cewek
kaya, pasti udah terdengar teriakan, “Ya ampun, Oozuka-sama dan Amaori-sama
datang bersama!” “Wah, mereka kelihatan akrab ya?” “Iya, Quintet memang
teman-teman yang luar biasa. Kita patut mengagumi mereka.” Padahal aku cuma
koala yang nempel di punggung Mai, tapi tetap saja aku menikmati tatapan
kekaguman itu bersama dia. Itu memberiku semangat untuk bertahan enam bulan
lagi agar rahasia masa laluku sebagai anak pemalu tetap tersembunyi. Tapi
sekarang begini! Haruskah aku langsung kena batunya cuma karena dapat hal bagus
sedikit saja? Pajak untuk jadi populer itu terlalu mahal!
“Jangan
sampai kepalamu jadi besar,” kata Takada-san.
“Eeep.”
Si Nona
Tinggi Hati mendekat waktu aku gemetaran. “Quintet-mu cuma sementara aja
posisinya setara dengan kami. Lagi pula, kalian itu kumpulan pengecut yang
kabur dari pertempuran.”
“K-kami
nggak kabur…”
“Oh?
Dan kamu punya bukti untuk membantahnya, Amaori-san?”
Dia
makin dekat. Cewek ini bikin aku panik!
Kepalaku
langsung blank. Kalau aku dikasih waktu setengah jam, mungkin bisa mikir
jawaban masuk akal, tapi sayangnya realita tidak sebaik itu. Tidak ada ruang
waktu semacam Hyperbolic Time Chamber yang bisa kugunakan.
“Uh,
um, yah. Um. Aku. Yah.”
Si Nona
Tinggi Hati menunjukkan ekspresi bosan karena aku gagal ngomong sepatah kata
pun. “Ha,” ujarnya. “Tinggal tunggu waktunya saja. Sebentar lagi, kita akan
tahu siapa yang benar-benar berkuasa di Ashigaya High.”
Dia
tertawa menghina lalu pergi. Syukurlah. Aku musuh yang terlalu menyedihkan,
jadi dia membiarkanku lolos. Kalau dia sampai nyeret aku ke pojokan sekolah dan
menghujaniku dengan hinaan, hatiku pasti langsung hancur berantakan.
Ya
ampun, apa sih semua ini? Takada-san tuh jahatnya setara sama Satsuki-san, tapi
keduanya beda banget. Intinya, kurasa masalahnya ada di sisi permusuhan atau
tidaknya. Aku memang nggak jago menghadapi hal-hal seperti itu.
Aku
sempoyongan balik ke kelas. Begitu terbebas dari situasi panas tadi, rasa sedih
mulai datang. Ya ampun, aku benar-benar menyedihkan. Padahal kupikir sejak
gabung ke Quintet, aku jadi bisa ngobrol normal sama orang-orang yang
menakutkan. Tapi ternyata enggak juga. Sekali kena serangan langsung, aku balik
lagi ke Titik Nol. Seandainya aku bisa bersikap lebih tenang atau ngehindar
dari situasi itu dengan lebih baik. Kayak, bisa aja aku bilang, “Aku nggak
peduli siapa yang paling keren di angkatan kita,” atau semacamnya.
Aku
memutar ulang kejadian itu berkali-kali di kepalaku, nyari kalimat yang
seharusnya aku ucapkan tadi. Aku tahu ini percuma, tapi aku nggak bisa berhenti
juga.
Saat
aku masuk ke kelas dengan langkah lemas, aku melihat Kaho-chan sendirian.
“Kaho-chaaaan,”
rintihku.
“Hm?
Ada apa, sayang?” tanyanya.
Aku
merosot ke arahnya dan langsung memeluk pinggangnya.
“Duh,
kenapa nih?” katanya. “Ayo, ayo. Ceritain aja apa yang terjadi.”
“Aku
pengen bareng kamu selamanya… Aku nggak akan ninggalin kamu…”
“Hah?
Kok kayak lamaran sih? Jangan-jangan ini lamaran beneran? Sungguhan?”
“Uhh,
kalau kamu mau nganggepnya gitu, boleh aja sih…”
Dia
langsung menepuk dahiku pakai tangan karate. Sakit.
“Nih
orang, baru juga deketin cewek lain, udah nempel ke yang lain. Parah banget.”
“N-nggak,
aku nggak begitu…”
Sebenarnya
ini cuma gaya interaksi biasa antar cewek, dan meskipun nggak ada yang pernah
protes aku meluk dia, tetap saja aku mulai merasa malu. Jadi aku berdiri tegak
lagi.
Kaho-chan
menyilangkan tangan di pinggangnya dan menutup sebelah matanya. “Hmmph,
baiklah,” katanya. “Kamu kelihatan kacau banget, jadi oke deh, cerita aja.”
“Kamu
sahabatku selamanya, Kaho-chan,” kataku.
“Iya,
iya, iya.”
Akhirnya
Kaho-chan setuju dengerin curhatanku pas jam makan siang. Itu mungkin artinya
aku nggak perlu mengulang-ulang kejadian hari ini sambil meratap di kasur nanti
malam. Makasih banget, Kaho-chan.
“Oh
iya, Rena-chin,” katanya. “Dengar-dengar kamu nebeng naik limusinnya Mai-Mai
pagi ini. Aku iri banget, sumpah.”
“Tunggu,
kalau kamu juga marah sama aku, aku bisa mati saat itu juga!”
Hubunganmu
membaik sama satu orang, malah jadi rumit sama yang lain. Sulit banget
menyeimbangkannya.
Oh ya,
aku juga harus nyebut kalau Ajisai-san juga nyerang aku soal datang ke sekolah
bareng Mai. Tapi dia cuma ketawa dan bilang, “Ooh, jadi gitu ya.” Cara dia
ketawa bikin aku yakin dia udah ngerti sesuatu, tapi dia nggak bilang apa-apa
lagi.
Intinya,
baik Ajisai-san maupun Mai nggak ngasih tahu satu sama lain soal permintaan yang
mereka ajukan padaku. Mungkin mereka penasaran juga, tapi kami sengaja atur
seperti itu biar nggak ada saling saing-saingan atau debat soal keadilan.
Padahal sih, aku nggak bisa bayangin Mai dan Ajisai-san sampai debat begituan,
tapi ya udahlah.
“Y-ya,
tadi kebetulan ketemu di jalan, terus dia nawarin tumpangan,” jelasku.
“Oke,”
katanya. “Kedengarannya masuk akal.”
Dia
senyum ceria, dan aku balas dengan senyum kikuk penuh kepalsuan. Aduh, malu
banget!
Kaho-chan
ketawa. “Jadi kamu ketemu si Nona Tinggi Hati, ya?”
“Iya…”
jawabku.
Setelah
selesai makan bareng seluruh kelompok, aku dan Kaho-chan ngobrol di tangga.
Sebenarnya aku agak was-was ninggalin kelas, tapi karena ada Kaho-chan, aku
merasa aman. Selama ada Kaho-chan, aku bisa ke mana saja. Dia tuannya, dan aku
anjing peliharaannya yang setia ngikutin.
“Itu
nyebelin sih,” katanya. “Kalau aku ada di sana, mungkin bisa bikin kalian akur.
Maaf ya, aku nggak ada buat lindungin kamu.”
Aku
ngeluarin suara mengeluh waktu dia garuk daguku. Semua luka batin rasanya mulai
sembuh. Di sisi lain, harga diriku juga rasanya menguap ke udara. Tapi yah,
kamu nggak bisa bikin telur dadar tanpa mecahin telur. Ada yang menang, ada
yang kalah. Benar-benar keseimbangan yang sulit.
“Kenapa
sih dia benci banget sama Quintet?” tanyaku.
“Kamu
bakal nemuin cewek-cewek ambisius kayak dia di mana-mana,” jawab Kaho-chan.
“Menurutku sih, dia harus punya rasa percaya diri gila dulu baru bisa mikir
bisa ngerebut posisi Mai.”
“Iya
juga, sih.”
Karena
Kaho-chan kenal banyak kelompok di sekolah, dia jadi semacam informan buat
Quintet. Kalau ini game, dia tuh NPC yang kasih info gimana perasaan semua love
interest ke kamu.
“Kasihan
juga sih dia,” katanya. “Soalnya peluang dia menang tuh kayak satu banding
seratus juta.”
Lupakan
satu banding sejuta, ini jauh lebih kecil!
“Eh,
aku nggak tau apa-apa soal anak-anak di Kelas B,” kataku. “Ada yang populer
nggak?”
“Ada
sih yang lumayan populer,” katanya. “Cantik. Berisik. Punya tekad kuat.”
Bluh.
Itu tipe cewek yang aku lemah banget ngadepinnya.
Entah
kenapa, waktu Kaho-chan lihat aku cemberut, dia malah senyum senang kayak nemu
hal lucu.
“Kamu
bahkan nggak suka dengar aku ngomongin orang, ya?” tanyanya.
Yah…
Bener juga. Dengerin omongan jelek soal orang yang aku kenal kayak Mai atau
Satsuki-san itu nyakitin banget, tapi bahkan dengerin soal orang asing aja
bikin aku nggak nyaman. Maksudku, bukan karena aku orang suci atau gimana. Tapi
karena setiap kali denger orang ngomongin orang lain, aku langsung mikir ke diriku
sendiri. Kalau ada yang bilang, “Itu orang nggak ngerti situasi banget,” aku
jadi mikir soal kemampuanku baca situasi. Kalau ada yang bilang, “Sok banget
sih itu anak,” aku langsung inget nilai ujianku yang biasa aja dan janji buat
nggak jadi sombong. Gitu deh. Aku jadi nyalahin diri sendiri.
Jadi ya
aku nggak nyaman. Meskipun mereka ngomongin orang yang nggak ada di tempat,
rasanya kayak aku yang disindir. Bukan berarti aku orang baik sih. Mungkin
lebih ke arah egois banget malah.
“Nih,
nih,” kata Kaho-chan. “Aku bakal coba ngomong lebih hati-hati deh. Tapi sumpah,
5déesses itu nyebelin banget.”
Lalu
dia mulai ngenalin satu-satu anggota mereka ke aku...
※※※
Berikut
terjemahan teks novel tersebut ke dalam bahasa Indonesia tanpa penggunaan huruf
tebal maupun miring:
—
“Kelihatannya
kalian mengalami hari yang berat kemarin,” kata Ajisai-san padaku saat makan
siang. Suaranya yang menenangkan seperti air dari pemandian air panas yang
meresap ke dalam jiwaku.
Hari
ini terasa cukup damai, dan kupikir akan tetap begitu untuk sementara waktu.
Tidak ada lagi kesulitan atau kesedihan hidup untukku, hanya perjalanan mulus
selama sisa masa SMA. Itu saja yang dibutuhkan dalam hidup, sungguh.
Dan
sebagai bagian dari itu, saat ini aku sedang duduk di ruang kelas mengobrol
dengan Ajisai-san.
“Iya,”
kataku, “tapi aku agak lega mereka memilih menargetkan Satsuki-san dari semua
orang.”
Kalau
mereka menyerangku, aku mungkin sudah menangis dalam beberapa detik. Tapi kalau
begitu, apakah Kaho-chan dan Satsuki-san akan datang menyelamatkanku? Aku akan
merasa berhutang budi seumur hidup kalau itu terjadi. Aku bakal jadi pesuruh
mereka.
Kaho-chan
bilang para gadis itu menyerang Satsuki-san karena dia sering bertindak sesuka
hatinya. Itu memang benar, tapi menurutku Satsuki-san adalah orang paling buruk
dari Quintet untuk diajak ribut. Paham maksudku?
“Hei,
apa yang akan kamu lakukan kalau mereka memilih menyerangmu?” tanyaku.
“Aku?”
Ajisai-san menatap ke kejauhan, seolah sedang mengikuti awan dengan matanya,
lalu memiringkan kepalanya ke satu sisi. “Kurasa aku bakal coba ajak bicara
dulu. Kalau waktunya saat makan siang, aku pasti sempat, jadi aku bakal tanya
kenapa mereka melakukan ini dan sebagainya.”
“Kalau
mereka nggak mau diajak bicara…?”
“Hmm. Kurasa
aku tetap akan bersabar dan mencoba mendengarkan mereka. Maksudku, mereka bukan
orang asing. Mereka teman sekelas kita.”
Aku
membayangkan sekumpulan gadis mengelilingi Ajisai-san dengan sikap bermusuhan.
Itu pemikiran yang cukup menyedihkan.
“T-tapi
rasanya itu agak berbahaya…” kataku ragu.
“Tenang
saja, tidak apa-apa,” katanya. “Aku sering menghadapi hal seperti ini waktu SMP
dulu.”
Itu
membuatku terkejut. “Sering?!”
“Iya.
Aku pernah jadi penengah dalam beberapa pertengkaran waktu itu.”
Oke,
aku sama sekali tidak bisa membayangkannya. Ajisai-san, jadi penengah?
Maksudnya apa, sih?
“Hei,
waktu SMP… kamu itu, maksudku… tahu kan?”
“Hmm?”
Apa
Ajisai-san dulu… anak liar?! Sekilas, aku membayangkan Ajisai-san dengan rambut
diwarnai pirang, akar rambut aslinya mulai terlihat. Ajisai-san dengan seragam
pendek, rok mini, gantungan ponsel besar di tasnya, menyeringai ke arah kamera:
Ajisai-san si anak nakal. Apa dia juga berubah saat masuk SMA? Gila,
Ajisai-san…
“A-apa
kamu dulu kayak gimana waktu SMP, Ajisai-san?” tanyaku.
Tanpa
menanggapi imajinasiku yang konyol, Ajisai-san tertawa kecil. “Itu rahasia
besar.”
Jadi
dia memang mantan anak nakal?! Ajisai-san! Semuanya jadi masuk akal sekarang…
Bahkan seberapa dekat dia dengan keluarganya—semua orang tahu anak-anak nakal
itu sangat peduli keluarga. Dan itu juga menjelaskan kenapa dia optimis dan
mudah beradaptasi! Dan kenapa dia begitu jujur dan terus terang pada semua
orang. Semua karena dia dulunya gadis nakal!
“Ah,
kurasa kamu membayangkan sesuatu yang agak aneh,” katanya.
“A-a-nggak,
kok,” aku membantah.
Ajisai-san
tertawa. “Aku dulunya ketua OSIS waktu SMP, lho.”
“Oh,
eh… Tunggu, kamu ketua OSIS?!”
Itu mah
puncak kasta SMP! Sekarang kupikir-pikir, aku selalu mengira ketua OSIS itu
seperti takdir—sekali jadi ketua OSIS, selamanya jadi ketua OSIS. Aku nggak
pernah membayangkan seseorang bisa memulai ulang hidup saat masuk SMA dan jadi
siswa biasa.
“Itu
bikin kamu kaget?” tanya Ajisai-san.
“Y-ya…
Tapi maksudku, sekarang kamu bilang begitu, rasanya memang masuk akal.”
Mantan
ketua OSIS-sama… Dulu kamu bagian dari kelompok orang-orang yang jauh di atas
levelku, Ajisai-san…
“Oh,
tapi bukan berarti aku bakal cerewet soal peraturan sekolah atau semacamnya,”
dia menjelaskan.
“Y-ya,
ngerti kok.”
Di SMA
Ashigaya, kustomisasi seragam diperbolehkan sampai batas tertentu—asal masih
dalam batas wajar—dan Ajisai-san pun memakai pita tipis yang bukan bagian dari
seragam standar. Itu terlihat bagus dan sangat imut padanya, tapi juga bukan
sesuatu yang biasa dikenakan ketua OSIS, terutama yang taat aturan. Gaya
santainya itu memang khas Ajisai-san. Wah. Ketua OSIS, ya?
“Kalau
kamu jadi ketua OSIS di sini,” kataku, “seluruh siswa pasti jadi penggemar
beratmu.”
Mereka
bahkan mungkin bakal bikin klub penggemar buat dia. Maksudku, aku sendiri
mungkin akan bergabung. Dan tak lama kemudian, bakal muncul pertarungan
perebutan posisi dalam klub, dan aku akan diancam oleh gadis populer yang
datang setelahku, lalu aku akan menyerahkan posisi ketua klub penggemar
padanya… Nggak lama setelah itu, aku bakal dikeluarkan dari klub dan menyendiri
di rumah…
Bahkan
dalam khayalan liarku, aku nggak punya harapan. Sudah cukup!
Ajisai-san
membuat bentuk hati kecil dengan jari-jarinya. Aww, lucu.
“Kamu
mau jadi penggemarku juga, Rena-chan?” tanyanya.
“Langsung,
dong,” jawabku. “Aku mungkin bahkan akan meniru gayamu dan mencoba menata
rambutku seperti milikmu.”
“Aww,
serius? Itu imut banget,” katanya. “Kamu harus coba, deh.”
Dia
merapatkan tangan di dada dan tersenyum padaku. Kamu yang imut, Ajisai-san,
pikirku. Tapi aku meniru gaya Ajisai-san… Rasanya aku bakal lihat diriku di
cermin, sadar diri, lalu langsung ingin lenyap. Itu kejahatan bagi Amaori
Renako untuk meyakinkan diri bahwa dia adalah Sena Ajisai.
Saat
itu juga, Mai menghampiri kami.
“Kalian
kelihatan seru banget ngobrolnya,” katanya.
“Iya
dong, Mai-chan,” kata Ajisai-san. “Ngomong-ngomong, kamu ikut klub apa waktu
SMP?”
“Aku
sebenarnya ingin ikut sesuatu, tapi kondisi keluargaku nggak memungkinkan,”
jelas Mai. “Tapi karena diwajibkan ikut klub, aku akhirnya diizinkan bergabung
dengan klub sastra tempat Satsuki berada.”
“Aww.
Dulu kalian teman satu klub.”
“Jangan
bilang seperti itu,” kata Satsuki-san yang ikut bergabung. Ah iya, kaiju yang
mengamuk kemarin: Satsukizilla. “Dia cuma datang kalau dia mau, dan nggak
memanfaatkan waktunya dengan baik. Buku-buku yang aku rekomendasikan pun nggak
dia baca.”
“Itu
karena kamu membaca terlalu cepat,” kata Mai. “Aku nggak bisa mengimbangi
kamu.”
“Itu
cuma alasan.”
Ajisai-san
kembali mengarahkannya padaku. “Kalau kamu gimana, Rena-chan? Ikut klub apa
waktu SMP?”
“Hah,
aku?!”
Waduh.
Aku takut pembicaraan akan mengarah ke sana. Ya ampun, apa yang harus aku
lakukan? Oke. Saatnya menggunakan teknik penyamaran: sembunyikan kebenaran,
jangan beri informasi penting, biarkan mereka salah paham.
“Aku…
semacam ikut klub basket,” kataku.
“Wah,
wow. Aku nggak nyangka,” kata Ajisai-san.
“Maksudku,
aku nggak terlalu serius juga. Kamu tahu sendiri gimana rasanya.”
Iya,
aku ikut di hari pertama dan bertahan dalam latihan fisik selama sebulan lebih
sedikit, lalu aku nggak mau datang lagi dan mengajukan pindah klub. Itulah yang
disebut kemampuan komunikasi.
“Wah,
aku jadi lega tahu kamu punya pengalaman basket,” kata Ajisai-san.
“Hah?
Uh, iya, tentu. Punya, kok.”
Aku
mengangguk, otakku penuh tanda tanya. Apa maksudnya, sih? Mungkin soal
pelajaran olahraga?
“Oh
iya, betul sekali,” Mai menimpali. Satsuki-san, sementara itu, tampak bosan dan
kembali ke tempat duduknya.
Serius
deh, ini semua soal apa, sih? Tapi aku segera mengetahuinya saat jam homeroom
berikutnya.
Di
papan tulis tertulis acara olahraga, melibatkan softball dan basket. Semua
siswi di kelas harus memilih salah satunya. Tentu saja, aku ingin memilih
softball, karena tanggung jawab individu jauh lebih sedikit dibandingkan
basket.
Namun,
entah kenapa—namaku sudah tertulis di bawah kategori basket di papan tulis.
Bagaimana ini bisa terjadi?!
Homeroom
berlanjut sementara aku duduk gemetar. Dua anggota komite kelas kami,
Shimizu-kun dan Kaho-chan, berdiri di depan papan tulis dan dengan riang
mengisi nama-nama.
Kaho-chan
terkekeh. “Kita bakal menang, deh, ini!”
Sial!
Kalau saja tadi aku tertawa dan bilang, “Ah, basket berat banget. Aku santai
aja di softball,” mungkin mereka bakal membiarkannya. Soalnya, aku kan Amaori
Renako dari Quintet. Salah satu Gadis Top di Kelas! Tapi…
Para
gadis top di kelas dapat status itu karena imut, pintar bicara, nilai bagus,
modis, dan sebagainya. Itu yang bikin orang lain menghormati mereka dan memberi
status bangsawan. Kalau aku bersikap ogah-ogahan atau memalukan, aku nggak
layak jadi gadis top kelas. Lalu semua orang bakal membenciku, dan aku akan
dikeluarkan dari Quintet! Lagipula, seluruh kelas sekarang berharap padaku,
karena aku bilang aku pernah main basket.
Sejauh
apa aku bisa menggunakan otoritas Quintet-ku? Aku harus cari tahu batas
pastinya. Apa ini batasnya?
Sambil
memperhatikan, anggota tim basket ditentukan. Aku merasa terlalu fokus, tapi di
bawah pengawasanku yang intens, hasilnya ternyata cukup baik. Tiga dari lima
anggota tim berasal dari Quintet: aku, Kaho-chan, dan Satsuki-san.
“Itu
karena nggak ada yang bisa ngalahin Mai-Mai di softball!” seru Kaho-chan.
“Aku akan
berusaha sebaik mungkin,” janji Mai, dan semua siswi yang memilih softball
tampak lega.
Ajisai-san
bertepuk tangan. “Aku nggak heran, Mai-chan.”
Mai
tertawa kecil. “Terima kasih sudah bilang begitu. Aku yakin itu akan memberiku
semangat ekstra. Baiklah. Aku janji akan memimpin Kelas A menuju kemenangan.”
Semua
gadis yang memilih softball menatap Mai seolah mereka sudah jatuh cinta
padanya. Dia memang idola sejati Ashigaya.
“Dan!”
lanjut Kaho-chan, sambil memukul papan tulis, “Bintang kedua kelas kita ada di
tim basket. Masukin Saa-chan ke sini bikin formasi Kelas A jadi paling kuat.”
Secara
pribadi, aku ingin lihat Mai dan Satsuki-san tampil bersama, tapi Satsuki-san
tampaknya menolak. Dan maksudku, aku juga ingin Satsuki-san satu tim denganku!
“Gadis-gadis
di kelas kita keren banget,” gumam Shimizu-kun dengan serius, tangan terlipat.
Anak laki-laki lainnya setuju. (Omong-omong, para cowok bakal main futsal dan
voli.)
“Oke
deh,” kata Kaho-chan, “kita tunjukkan kemampuan kita!” Dia bersorak dan
mengepalkan tangan ke udara. Tampaknya tidak puas dengan reaksiku yang datar,
dia lalu menunjuk langsung padaku. Hah? “Kita tunjukkan kemampuan kita,
Rena-chin!” ulangnya.
Semua
perhatian mengarah padaku. Tunggu, tunggu, tunggu! Panik, aku meniru Kaho-chan
dan mengangkat tinjuku juga. “Hip, hip… hore?” ujarku.
“Uh-huh,
gitu dong!”
Kaho-chan
tersenyum lebar dan memberi jempol, dan seluruh kelas tampak senang juga.
Syukurlah. Sepertinya itu jawaban yang tepat.
Dengan
tim yang sudah ditentukan, kompetisi olahraga antar kelas akan berlangsung dua
minggu lagi. Aku punya waktu sampai saat itu untuk berusaha keras agar tidak
terlalu membebani Kaho-chan dan Satsuki-san!
Aku
nggak pernah menyangka kompetisi ini akan jadi pertempuran yang begitu sulit
dimenangkan. Kupikir semuanya bakal berjalan mulus. Aku sudah cukup puas dengan
pengalaman SMA yang santai sambil pacaran dengan Mai dan Ajisai-san! Tidakkk!
Previous Chapter| List Chapter| Next Chapter
Donasi: Trakteer
Komentar
Tinggalkan Komentar